Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-02-15
Completed:
2021-03-04
Words:
6,369
Chapters:
6/6
Comments:
41
Kudos:
126
Hits:
1,803

LOVED to LOVE

Summary:

Jeongwon mendapat kesempatan untuk berbicara kepada sahabat-sahabatnya saat perayaan malam natal~

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

"Keputusan apa yang kalian bicarakan?" Jeongwon tidak paham maksud pertanyaan teman-temannya yang diarahkan kepada seokhyeong. Perayaan malam natal mereka diisi dengan obrolan serius kali ini sebelum memulai latihan band. Seokhyeong sedang diinterogasi teman temannya tentang keputusan terhadap wasiat ayahnya. Jeongwon satu satunya yang tidak tahu masalah ini jadi dia bertanya.
"Ini tentang wasiat ayahnya. Mari kita dengarkan dia dan ingat giliranmu berbicara setelah seokhyeong" Ikjun menjawab Jeongwon lalu mengarahkan pandangannya kembali kepada Seokhyeong

"Aku tidak mau membuang waktu ku, aku ingin melakukan apa yang membuatku senang, karna itulah aku ingin bermain band lagi" jeda sesaat. "Kalian kumanfaatkan" kata seokhyeong ditutup dengan tawa kecil khas introvert seokhyeong.

Teman-temannya ikut tertawa dan menggoda seokhyeong yang lagi lagi menunjukkan kepolosannya bahkan diumurnya yang sudah kepala empat.

"Jangan hanya tertawa, sekarang giliran mu!" Perintah ikjun kepada Jeongwon dan perlahan tawa mereka berhenti dan menantikan giliran Jeongwon untuk bicara.

"Aku...... Hmm. Aku..... "Jeongwon menundukkan kepala perlahan mencoba mencari rangkaian kalimat terbaik untuk bercerita kepada sahabatnya.
"Aish, sudah kuduga! Ibumu pasti akan patah hati untuk kesekian kali. Sampaikan itu setelah natal, Jeongwon! Jangan memberinya kado buruk dihari natal. Sungguh kau dan saudaramu membuatku tak habis pikir" junwan melemparkan sumpitnya seolah dia mengerti maksud Jeongwon.

"Andrea, lakukan apa yg kamu suka, dan kamu akan hidup. Aku mendukung apapun keputusanmu" sela Seokhyeong mencoba menetralkan suasana.

Songhwa hanya bisa tersenyum tipis melihat ulah temannya yg berkomentar bahkan sebelum Jeongwon menyampaikan keputusannya.

"Yha!!!! Tunggu sampai Jeongwon bicara baru berkomentar. Sungguh kalian ini!!!" Ikjun belum mau terburu buru menyimpulkan.

Jeongwon mengangkat kepalanya perlahan dan melemparkan senyum kepada teman-temannya.
"Aku tidak akan pergi. Aku suka menjadi dokter. Akhir akhir ini, jawaban doaku mengarah kearah yang berlawanan. Bukankah dokter juga panggilan? Banyak nyawa yang harus kuselamatkan. Aku tau seringkali keinginan untuk menjadi pastor menggebu-gebu saat aku kehilangan pasienku. Sementara saat keadaan baik-baik saja, aku tidak terlalu memikirkannya. Puncaknya, ketika keluarga besar pasien memberiku ucapan terimakasih beberapa bulan lalu, aku merasakan Tuhan sedang tersenyum padaku. Aku merasa sangat dikasihi dan pada saat yang sama aku juga berhasil menunjukkan kasihku kepadaNya dengan menolong pasienku. Aku semakin yakin menjadi dokter adalah jalan yang Dia ijinkan untukku membalas kasihNya, melayaniNya" wajah Jeongwon berseri-seri. Dia bersyukur memiliki teman yang bisa menjadi tempat menceritakan isi hatinya.

"Kami semua tau itu. Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk kau menyadarinya. Kami bangga padamu, Jeongwon. Tetaplah disini dan mari kita selamatkan lebih banyak jiwa" Songwha dengan senyum cerahnya mengulangi kalimat yg disampaikan kepada Jeongwon beberapa waktu lalu.

"Aaahhhhh, kurasa aku orang yang paling bahagia sekarang. Setelah mama Rosa tentunya" jawab ikjun sambil menaruh tangannya di dada. Seperti biasa ikjun sangat pandai melebih-lebihkan keadaan.
"Kerja bagus, Jeongwon-ah! Aku bangga padamu, tapi kau yakin tidak ada alasan lain yang membuatmu tinggal? Walaupun mungkin pengaruhnya kecil?"

"Tentu ada." Jawab Jeongwon dengan sangat yakin.

"Apa?" Kata ikjun sesegera mungkin. Junwan dan Seokhyeong benar benar tidak punya ide lain, hanya menunggu jawaban dari Jeongwon.

"Omma. Dan tentu saja kalian. Aku mulai memahami rasa sakit yang dialami ibuku kalau aku pergi. Dia bahkan menyalahkan dirinya telah salah mendidik anak-anaknya" Jeongwon sedikit tertawa mengingat ibunya yang sebenarnya adalah ibu terbaik baginya dan saudara saudara nya.

"Dan juga kalian. Walaupun menyebalkan, tetap terasa sulit untuk ditinggalkan. Kalian juga bagian dari caraNya mengasihiku, kalian tahu? maaf butuh 20 tahun untuk menyadarinya" Jeongwon tertawa menggoda teman-temannya

"Hft! Cibir jungwan karna merasa geli mendengar pengakuan Jeongwon.

"Jeongwon-ah! Jangan memuji kami seperti itu sebelum kau membelikan kami daging alih alih makan Tteokbokki dengan status konglomeratmu! Belajar jadi chaebol dari sekarang. Mengerti?"

Mereka tertawa mendengarkan nasehat appa seokhyeong dan disambut anggukan semangat dari Jeongwon. "Arassooo... Aku akan belajar hidup normal dari sekarang".

Ikjun masih belum puas dengan cerita Jeongwon. "Kau yakin tidak ada lagi? Bagaimana dengan seseorang atau sesuatu yang mungkin spesial atau semacamnya" Ikjun menyeringai berusaha menyampaikan maksudnya kepada Jeongwon.

Jeongwon yang menyadari tingkah ikjun tiba tiba tersenyum sedikit tersipu. Dia sebenarnya ingin merahasiakan ini tapi Ikjun sepertinya cukup cerdas untuk menginterogasinya. Dia kalah kali ini.

"Uuw! Ada apa dengan senyum itu?" Goda songwha yang sebenarnya sudah tau maksud senyum Jeongwon.

"Sepertinya musim dingin kali ini akan lebih hangat." Sahut ikjun sambil memberikan wajah manis dan imutnya.

Seokhyeong tersenyum tipis. Dan seperti biasa si clueless Junwan tidak tau apa apa.
"Ya,ya,ya apa yang kalian bicarakan?" Junwan bertanya penuh rasa penasaran.

"Kau suka Jang gyeoul, bukan???" Kau tidak bisa berbohong kali ini jeongwon. Aigooo, Sampai kapan kau harus berpura-pura tidak peduli pada putri kesayanganku itu?" Ikjun bertanya penuh kemenangan.

"Jang gyeoul? Aaaa! Masuk akal sekarang kenapa kau membutuhkan residen sementara di rumah sakit kita sebelumnya kau lebih senang bekerja sendiri, Jeongwon. Ternyata ada maksud tersembunyi. Dasar kau " Junwan mengarahkan sumpit nya ke wajah Jeongwon.

Jeongwon masih tersenyum sambil mengaduk makanan diatas mejanya dengan sumpit. "Ne! Aku menyukainya. Tapi sungguh bukan dia alasan terbesarku untuk tinggal. Aku tidak mau memberi dia beban seberat itu. Aku menyukainya karna Dia residen yang rajin, juga pintar, jujur dan polos pada saat yang sama. Pernah suatu kali, dia memintaku membelikan makan malam, dengan suaranya yang dingin dan juga blak-blakan. Tidak ada senyuman. Dia meminta dengan nada bicara yang kaku seperti pembaca berita. Dia benar benar polos tapi juga menggemaskan" senyum Jeongwon lagi lagi tidak dapat disembunyikan.
"Benar kata ikjun. Aku mencoba dingin padanya, aku menolak gagasan menyukai wanita karna mimpi ku menjadi pastor. Tapi semakin menghindar, aku semakin ingin melihatnya, aku tidak tahu kenapa."

"Dan kau menolak undangan makan malamnya dengan berbohong kau akan pergi melihat ibumu ke yangpyeong" lanjut Ikjun menyempurnakan ceritanya

"Bagaimana kau tahu, ikjun?" Jeongwon terkejut
"Kasus pasien pecandu narkoba, usai pertemuan dengan direktur rumah sakit. Aku membelikannya kopi dan tidak sengaja memberi tahu kalau kau kerumahku bermain dengan uju akhir pekan yang sama dengan akhir pekan yang dia maksud untuk makan diluar" Jeongwon masih terkejut dan tiba tiba merasa bersalah.

"Kau harus tau betapa kecewanya dia saat itu. Aku masih ingat persis apa yang dikatakannya. Profesor, kalau dia sampai berbohong, itu artinya aku harus menyerah. Dan dia pergi dengan sakit hati itu meninggalkan ruangan ku. Bahkan dalam berbohong, kau sangat payah, Jeongwon!" Lanjut ikjun.

"Tapi tak perlu khawatir. Kau bukan satu satunya yang berbohong. Masih ingat bunga yang diterimanya? Itu adalah ideku. Supaya kau tersadar kalau kau setidaknya sedikit cemburu dan kurasa aku berhasil" Ikjun menyeringai lagi

"Yha! Lee ikjun! Jeongwon meneriaki temannya yang selalu bertingkah konyol, tapi segera suaranya melembut "Tapi bukankah dia punya pacar? Laki-laki yang menjemputnya setiap hari dengan mobil yang berbeda-beda?" Jeongwon bertanya, kali ini dia tidak lagi membatasi dirinya.

"Itu saudara laki-lakinya. Dia bekerja jadi dealer mobil. Kau tidak perlu kuatir."

"Sungguh? " Jeongwon merasakan semangat yang aneh di dadanya. Ini benar-benar baru bagi keempat sahabatnya. Jeongwon yang belum pernah menjalin hubungan bertingkah seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Sahabatnya senang dan geli disaat bersamaan.

"Dengar jeongwon-ah. Dia masih menyukaimu. Dia mungkin sempat menyerah tapi dia masih menyukaimu. Sekarang giliran mu untuk berjuang. Lakukan apapun untuk mendapatkan hatinya yang murni karna kau dan dia layak untuk itu" ikjun menasehati dengan penuh keyakinan.

Jeongwon mengangguk. Senyum tidak bisa lepas dari wajahnya. "Oke, akan kulakukan, tapi........" Diam sejenak, keempat temannya menoleh kearahnya menunggu kalimat Jeongwon...

"Bagaimana caranya?" Jeongwon dengan kepolosannya

 

"YHA"
"YHA"
"YHA"
"YHA"!!!!

Refleks keempat temannya meneriakinya dengan nada hampir menyerah.