Work Text:
“The first time you fall in love, it changes you forever and no matter how hard you try, that feeling just never goes away.”
― Nicholas Sparks
PINTU ruangan IGD di Seoul National University Bundang Hospital dibuka dengan tergesa sore ini. Ketukan langkah kaki panjang-panjang menyusul dengan bunyi kain pakaian yang bergemerisik tanda si empunya sedang bergerak dengan cepat.
Adalah Kim Seokjin, mahasiswa magister tahun kedua di SNU Jurusan Teknik Aeronautika, berjalan cepat―hampir berlari kecil―untuk menyusul adiknya yang dikabarkan terjatuh pingsan sesaat setelah sidang tugas akhir.
Ada-ada saja.
Lelaki jangkung berparas rupawan itu menghela napas lega karena pada akhirnya ia menemukan nomor ranjang di urutan kedua dari ujung bangsal IGD tersebut. Kelegaannya tidak berangsur lama, karena setelah tirai kain penyekat yang berwarna hijau itu terbuka, ia harus menahan diri untuk tidak mengumpati adiknya yang membuat jantungnya serasa jatuh ke perut sore ini.
Kim Namjoon terlihat terlentang dengan mata tertutup dan saluran infus yang mengalir dari kantungnya ke punggung telapak tangannya. Lelaki yang lebih muda dua tahun itu terlihat tertidur tenang, tidak peduli jika sudah membuat abangnya berlari tergopoh-gopoh dari gedung teknik kedirgantaraan sampai ke rumah sakit kampus.
“Kau ini kenapa, Joon? Jangan membuatku jantungan begini,” ujarnya sembari berdecak. Ia kemudian mengesampingkan untaian rambut Si Bungsu Kim yang sedikit menutupi mata kirinya dengan lembut.
Kim Seokjin sedang memeriksa kantung infus adiknya ketika satu suara yang sangat familier menembus masuk ke rungunya.
Suara yang mengalun ringan seperti usapan angin yang menyapa kulit pada musim gugur di bawah pohon rindang.
Suara yang masih selalu membuatnya berdebar seperti tujuh tahun ke belakang.
“Seokjinnie?”
*
TUJUH tahun lalu, keduanya bertemu di kediaman keluarga Kim. Jung Hoseok dan Kim Namjoon masih duduk di bangku sekolah menengah atas tahun kedua. Mereka berencana mengerjakan materi presentasi mengenai organ-organ tanaman di atas kertas linen berukuran A0.
Di tengah kesibukan mewarnai bagan tumbuhan, Hoseok tidak menyadari jika Kim Seokjin, abang tertua Namjoon, sudah duduk di belakang dirinya untuk ikut mengamati. Jika tidak ada bunyi pecahan bunyi kuaci dari arah belakangnya, Hoseok tidak akan tahu jika ada manusia pemilik rumah yang duduk manis di balik punggungnya.
Kim Seokjin berbeda dengan adiknya. Anak lelaki yang duduk di tahun terakhir sekolah menengah atas itu tidak terlalu banyak bicara. Jika sedang diam, orang yang tidak mengenalnya akan menyangka Seokjin adalah pribadi yang angkuh, ditunjang dengan parasnya begitu rupawan. Padahal memang bawaannya saja yang selalu dalam mode hemat energi.
Berbeda dengan kepribadian Hoseok yang meletup-letup seperti kembang api, Seokjin tidak begitu menyukai kesenyapan. Maka saati itu, saat Namjoon pamit terbirit-birit menuju ke kamar mandi karena merasa perutnya mulas tiba-tiba, saatu ia menyadari Si Sulung Kim duduk tak jauh darinya, Hoseok mencoba peruntungannya untuk menginisiasi obrolan dengan melontarkan satu pertanyaan ringan. Meminta masuk lebih tepatnya.
Mengenai warna apa yang baiknya diaplikasikan untuk latar belakang gambar utama.
Seokjin sempat berjengit sejenak. Tidak menyangka jika dirinyalah yang tengah diajak berbicara oleh anak lelaki di hadapannya. Sejujurnya ia memperhatikan Hoseok sedari makan siang dari di meja makan. Anak ini banyak berargumen soal pemilihan warna dan tata letak gambar di atas kertas dengan adiknya.
Diam-diam Seokjin mendengus menahan tawa jika sudah mendengar keduanya berdebat dengan keras kepala. Kim Namjoon merupakan anggota keluarga dengan kepala paling batu, maka melihatnya menemukan lawan berargumen dengan seimbang merupakan hiburan tersendiri yang memuaskan hati.
Berniat untuk membantu teman adiknya memilih warna, Seokjin mendapat kesempatan untuk mengamati Jung Hoseok dari dekat. Sudah hampir setahun Namjoon dan Hoseok bersahabat, namun Seokjin belum sempat mengambil waktu untuk menghafal wajah Hoseok seperti apa―kebiasaan ini ia lakukan pada teman-teman Namjoon di sekolah menengah pertama. Maklum, karena waktunya benar-benar tersita untuk mempersiapkan diri mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi.
Saat itu, Seokjin turun dari kursinya untuk turut bersila di lantai dan menghadap ke paparan kertas tugas Namjoon dan Hoseok. Seokjin baru menyadari bahwa Jung Hoseok terlihat luar biasa tampan jika diperhatikan dari samping. Bibirnya terlihat tipis, kedua matanya tajam dan hidup namun juga memancarkan kesan lembut, rambut pendek semi mohawk tidak menutupi ikal bawaannya. Terlihat sangat lembut jika disentuh. Dan hidungnya …
“Hidungmu tajam sekali, seperti perosotan.”
Seokjin melotot. Kaget sendiri dengan apa yang dilakukannya barusan. Ia menepuk dahinya keras sebelum menutup kedua matanya dengan satu telapak tangan, merasa bodoh karena sudah kelepasan mengutarakan isi kepalanya menjadi kalimat nyata―yang parahnya ditujukan langsung pada objeknya. Ia menyadari bahwa anak lelaki yang lebih muda menatapnya terheran-heran dengan pertanyaan hah pelan dan mulut menganga menjadi jawabannya. Wajah Jung Hoseok saat itu sungguh lucu sekali menurutnya.
Pada saat itu, Kim Seokjin tidak berencana untuk jatuh cinta.
*
“SEOKJINNIE?”
Seperti adegan lambat, Seokjin memalingkan wajahnya ke belakang untuk mendapati pemuda berperawakan ramping dengan celana katun berwarna hitam dan kemeja putih sedang tersenyum simpul dan menatap ke arahnya.
“Kau sudah sampai?” lanjut lelaki itu dengan pertanyaan retoris.
“Hose?” Hanya itu kalimat yang dapat Seokjin ucapkan karena kepalanya mendadak kosong untuk membantunya memproses kalimat yang lebih panjang sekarang.
“Jangan diomeli dulu Namjoonnya, bukan lawanmu yang sepadan. Tunggu dia sadar, baru kau bisa maki-maki sepuasnya. Saling maki sebenarnya,” lanjut pemuda itu sembari menyernyih.
Jung Hoseok berjalan mendekat padanya dengan satu tangan yang sedang sibuk melinting kemeja putih di lengan satunya―dengan dua plastik di genggamannya―sampai ke siku.
Menyadari dirinya tertegun sejenak akan nada akrab yang dipakai Hoseok untuk berbicara, Seokjin kembali melemaskan bahunya untuk tidak terlalu tegang.
“Aku tidak tahu jika kau sedang berada di kampus. Maaf jika pesanku mengganggu aktivitasmu hari ini. Padahal seharusnya kau serahkan saja padaku. Saat Si Bajingan ini sadar, akan kubawa ke rumah kediaman Kim sendiri.”
Jung Hoseok memasang wajah menyesal sembari menggaruk tengkuknya grogi. Merasa diri tidak becus menjaga sahabatnya sendiri sehingga harus merepotkan anggota keluarga Namjoon yang mungkin sedang melakukan aktivitas penting lainnya.
Seokjin berdecak tidak setuju. Hoseok selalu mudah merasakan tidak enak hati mengenai hal-hal yang bukan tanggung jawabnya, seperti ini. Seharusnya Seokjinlah yang merasa demikian karena Namjoon adalah keluarganya, yang dititipkan kedua orang tuanya sebelum memutuskan untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan pergi berplesiran keliling dunia menggunakan kapal pesiar sedari enam bulan lalu―bulan madu edisi kesekian, katanya.
Ia menggelengkan kepala, menjelaskan jika itu adalah tugasnya sebagai abang tertua dan ia sama sekali merasa disusahkan, malah sebaliknya. Hoseok hanya memberikan gestur dengan anggukan pelan untuk menyetujui argumennya.
“Aku tidak tahu kau sudah makan atau belum, tapi aku membelikanmu ini. Minuman isotonik, habiskan ketiganya, kau tadi berlari dari kedirgantaraan ke sini bukan? Ini lapis bamkuhen untuk menambah dosis gula harianmu, kalau-kalau kau lupa menyemil hari ini seperti yang lalu-lalu. Ini onigiri isi tuna mayo kesukaanmu, dan ini uh, odeng supaya tenggorokanmu tidak terlalu kering. Lumayan kuah kaldu odeng di kantin rumah sakit ini rasanya enak. Kau harus coba.”
Penjelasan panjang Hoseok saat mengeluarkan isi kantung plastik jajanannya dan menaruhnya di meja samping ranjang Namjoon membuat Seokjin sedikit melongo.
Ceriwis seperti Jung Hoseok yang biasa.
“Terima kasih banyak sudah mengantar Joonie ke mari ya, Hose.”
Setelah membenarkan posisi selimut adiknya sampai menutupi dada, Seokjin memalingkan wajahnya pada lelaki yang berdiri dengan jarak tak lebih dari satu meter di sampingnya untuk membagi sekilas senyum. Sungguh ia tulus mengucapkan maaf pada sahabat karib adiknya selama tujuh tahun itu.
Entah apa jadinya jika kedua orang tua Kim pulang dari masa berliburnya dan menemukan anak bungsunya masuk ke rumah sakit. Seokjin bisa-bisa dicincang habis dengan rentetan omelan mengenai bagaimana ia kurang peduli terhadap adik semata wayangnya semalaman.
Mungkin hanya perasaan Seokjin saja, namun ia yakin jika netranya melihat kedua pipi Jung Hoseok merona ketika ia mengucapkan terima kasih disertai senyuman barusan.
*
ENAM bulan setelah pertemuan Seokjin dan Hoseok di kediaman keluarga Kim, keduanya menjadi semakin dekat. Mereka menjadi sering membahas rencana hidup dalam waktu dekat. Seokjin bercerita bahwa ia tengah menjadikan Teknik Aerodinamika sebagai targetnya di jurusan perkuliahan. Hoseok bercerita bahwa ia berniat mengambil CALS (College of Agriculture and Life Sciences) di SNU bersama dengan Namjoon―jurusannya akan dipikirkan belakangan.
Obrolan kecil seperti itu kerap membuat hati Seokjin terasa hangat.
Entah ilmu dari mana, namun tujuh belas tahun Seokjin mengatakan bahwa Jung Hoseok adalah orang yang tepat.
Seokjin sempat menanyakan pada Namjoon apakah ia keberatan jika kakaknya tertarik pada temannya dan adiknya itu memberikan respons yang positif. Katanya, Hoseok menanyakan hal yang serupa juga tiga hari sebelumnya. Lagi-lagi, berita sekilas yang membuat Seokjin menjalani harinya dengan perasaan berbunga-bunga yang tidak masuk akal.
Tidak menunggu lama, suatu sore di jam istirahat sekolah, Seokjin berjalan ke koridor di mana kelas adiknya berada untuk menemui Hoseok. Langkahnya cepat, khawatir jika pujaan hatinya sudah berpindah lokasi ke arah kantin atau ruangan klubnya.
Seokjin tak sabar ingin segera bertemu dengan adik kelas favoritnya.
Ia menemukan anak lelaki itu bersandar di dekat pintu kelasnya, sedang bercanda dengan teman-teman sekelasnya. Satu earphone tergantung lepas dan satunya lagi terpasang di telinganya. Kemeja putihnya pas membungkus badan reamajanya yang sedang bertumbuh dibalut blazer sekolah untuk musim semi.
Ketika Seokjin mendekat, kerumunan anak lelaki yang mengelilingi Hoseok menyikutnya dan berbisik-bisik dengan kikik geli. Seokjin ingat bagaimana Hoseok mengangguk dihiasi wajah bersemu ketika ia mengajaknya berbicara empat mata dengan malu-malu. Beberapa diantara teman Hoseok terang-terangan bersiul jahil saat keduanya berjalan kikuk menjauhi kerumunan.
Kim Seokjin dan Jung Hoseok saling menyatakan perasaannya di bawah pohon ginko. Dengan ucapan yang terbata, wajah yang merona, dan kedua jari kelingking yang bertaut, keduanya memutuskan untuk bersama. Tersemat juga janji untuk saling melamar saat keduanya sudah sukses nanti dan cukup dewasa.
Kegiatan berpacaran mereka tidak banyak menghabiskan waktu atau uang. Biasanya diisi dengan belajar bersama dengan Namjoon yang gemar merecoki keduanya. Beberapa kali mereka membuat video iseng untuk diunggah di portal YouTube bersama untuk bersenang-senang merekam agenda mukbang karena keduanya sangat senang makan dan mengonsumsi camilan.
Beberapa kali juga mereka melakukan Boyfriends Make Up karena keduanya selalu tergoda mencontoh riasan dari beauty vlogger ternama pada masanya. Kim Seokjin akan diam-diam meminjam set rias ibunya ketika kamar orangtuanya kosong karena sedang ditinggal ke luar kota. Begitu pula Hoseok yang kerap diomeli kakak perempuannya saat ketahuan jika set eye shadow-nya hilang beberapa hari dan kembali dalam bentuk yang sudah pecah tidak karuan.
Semuanya berjalan manis tanpa ada keributan yang berarti.
Keduanya berpisah karena alasan yang klasik. Seokjin yang ingin fokus ke CSAT (College Scholastic Ability Test), juga Hoseok yang menerima permintaan itu karena ia pun sudah mulai kewalahan dengan tugas aneka pelajaran yang semakin berat. Tidak ada lagi waktu berbincang hangat sepulang sekolah. Tidak ada lagi momen mencuri waktu berciuman di dalam bilik toilet atau di janitor sekolah. Tidak ada lagi waktu menghabiskan baterai ponsel tiap malam untuk mengobrol panjang lebar.
Tidak ada masalah sebenarnya. Tidak ada orang ketiga, apalagi. Keduanya hanya sedang dalam proses menjadi manusia dewasa. Hanya dua anak muda yang belum bisa membagi waktu dan sedang sama-sama belajar untuk menentukan prioritas hidup.
Itu saja.
*
“HOSE, apa kau sedang memiliki kekasih saat ini?”
Pertanyaan Seokjin di suatu sore yang tanpa basa basi tak ayal membuat Jung Hoseok sedikit tersedak espresso-nya sendiri. Keduanya sedang berada di Starbucks yang berada di seberang gerbang kampus utara. Hasil janjian dengan malu-malu saat Hoseok datang menjenguk Namjoon dan berakhir duduk berdua di meja makan untuk mengobrol ringan diiringi pipi yang tersipu.
Sebelumnya, Namjoon meledek terang-terangan saat melihat abang dan sahabatnya bertemu di kamarnya lalu saling bertukar sapa dengan bahasa tubuh yang rikuh. Ia mengusir keduanya untuk segera membawa atmosfer Cinta Lama Bersemi Kembali ke luar dari ruangannya dengan dalih ia ingin beristirahat dan enggan menonton roman picisan mengenai resolusi cinta berulang yang tak terselesaikan di depan mata.
Agak kurang ajar jika diingat-ingat, memang.
“Tidak ada. Kau sendiri?” Hoseok menjawab tanpa menatap Seokjin. Pemuda itu fokus pada cangkirnya sendiri yang terlihat begitu menarik dibanding wujud di hadapannya yang menanti jawab.
“Tidak ada siapa-siapa juga. Aku ingin memastikan jika tidak ada yang marah kalau kau kuajak menikmati secangkir kopi kembali. Di minggu depan, misalnya?” Seokjin bertanya seraya menaikkan cangkir cappuccino-nya mendekat ke bibirnya. Kedua matanya menatap Hoseok lekat enggan melepas. Ingin merekam baik-baik sekecil apa pun efek yang diberikan oleh pertanyaannya barusan pada lelaki di depannya dalam kepala.
Seokjin dapat melihat lelaki yang duduk di sebrangnya menaikkan sedikit kedua alisnya, berdeham sekilas seraya menggumamkan oh wow perlahan kemudian tersenyum ke arahnya. Semua gerakan itu seperti slow motion dalam pandangan Seokjin.
Indah sekali―jangan sampai Namjoon tahu, jangan sampai Seokjin kelepasan membicarakan isi kepalanya seperti tempo hari atau ia akan habis dimaki-maki.
“Tidak ada yang marah, tenang saja. Hanya aku ingin mengajukan keberatan untuk permintan kencanmu di minggu depan, Seokjinnie.” Dengan tenang Hoseok menyesap kopinya kembali. Menikmati wajah lelaki berbahu bidang di hadapannya yang bergestur siap siaga namun juga kentara penuh minat untuk mendengar kalimat selanjutnya. Jangan lupakan rona merah jambu yang menjalari telinganya akibat kata kencan yang Hoseok ucapkan dengan kasual.
“Minggu depan terlalu lama buatku,” Hoseok berkata seraya mengetukkan ujung sendok di pinggir tatakan gelasnya. Seperti sedang mengulur waktu atau memilih kata yang tepat untuk disampaikan, Seokjin tidak tahu. Yang ia tahu, segala yang diucapkan Hoseok tertangkap seperti lagu yang masuk ke telinganya dan Seokjin bersedia untuk menunggu sampai kapan pun untuk mendengarnya dalam waktu lama―jangan sampai Namjoon tahu.
Astaga jangan sampai Namjoon tahu. Karena Kim Seokjin terlanjur bermulut besar berkali waktu, mengatakan bahwa ia tak pernah percaya pada kekuatan cinta pertama dan semacamnya itu. Memang tidak pernah ada seseorang yang merajah perasaan selain Jung Hoseok dalam hidupnya karena ia sepatutnya merasa bahwa Jung Hoseok tidak pernah ada gantinya.
“Bisakah kita memajukannya ke akhir minggu ini?” Kalimat selanjutnya dari Hoseok ini membuat Seokjin yang mendapat giliran hampir tersedak kopinya sendiri.
“Maaf?” tanya Seokjin memastikan. Ia berdeham menahan rasa ingin batuk yang lebih keras dan berisiko membuatnya tampak tidak elegan.
“Hanya jika kau tidak keberatan, tentu. Jangan dijadikan sebagai paksaan. Kau harus merevisi tesismu, aku mengerti. Hanya saja, aku memiliki pertimbangan sendiri.” Diamnya Seokjin yang menanti dengan pandangan yang berkilat antusias menjadi petunjuk untuk Hoseok melanjutkan kalimatnya kembali.
“Seokjin, aku tidak sesabar itu. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi enam tahun tanpamu tidak mampu menghilangkan rasa yang dulu pernah aku miliki padamu. Maka jika aku diberikan kesempatan lagi untuk bisa lebih dekat denganmu, aku ingin melakukannya sesegera mungkin,” jelas Hoseok. Ia melipat kedua tangannya di meja dengan tubuh yang condong ke depan, memastikan jika ucapannya dapat ditangkap Seokjin dengan baik. Sekaligus menikmati ekspresi tertegun kakak tingkatnya yang terlihat bagai pemandangan menarik.
“Aku sama denganmu, tenang saja. Kau sama sekali tidak sendirian.” Seokjin melakukan gerakan tubuh yang serupa. Membuat lelaki di hadapannya mengulum senyumnya supaya tidak tersungging terlalu lebar. Kentara bahagia.
“Begitukah?” Pertanyaan Hoseok dijawab Seokjin dengan ya. Kontras dengan gesturnya yang menggelengkan kepala tak percaya sembari terkekeh.
“Kau selalu membuatku seperti anak lelaki umur belasan yang sedang dimabuk cinta, Hose. Berdebar tiap bertatapan denganmu, memekik seraya menendang guling di atas ranjang ketika mendapatkan pesan darimu, merindu berlebihan sesaat setelah bertemu … dan lainnya―astaga mengatakan ini membuatku sangat malu.” Seokjin menangkupkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangannya. Sudah dipastikan wajah, telinga, sampai lehernya berwarna merah jambu tua.
Jung Hoseok tergelak dengan suara yang lebih terdengar seperti dawai harpa. Ia pasrah ketika jemari Hoseok menggapai telapak tangannya untuk tidak lagi menutupi wajahnya. Untuk kemudian digenggam dengan lembut di atas meja di samping cangkir kopi yang sudah tidak sepanas beberapa saat lalu. Kalimat Hoseok selanjutnya membuat Seokjin percaya bahwa ada satu target masa depannya yang sudah tidak lagi harus dikejar secara terburu.
“Hey, jangan khawatir. Mulai saat ini, akan ada aku menemanimu.”
*
