Actions

Work Header

SEREIN

Summary:

Hoseok masih meringkuk dalam pelukannya saat mengatakan sesuatu yang menurut Seokjin hanya dapat terjadi dalam mimpi siang bolongnya. Sekalinya lelaki yang lebih muda itu menengadah menatapnya, wajahnya merona dan kedua matanya berpendaran lembut seperti semesta.

Semestanya Seokjin.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

 

 

“True love is finding your soulmate in your best friend.”

⸺ Faye Hall

 

 

 

 

 

 

“MMMHHMMM,” Jung Hoseok bergerak.

Di atas sofa ruang tengah apartemen Seokjin, kedua lelaki dewasa terlihat bergelung di atas sofa memakai setelan piama dengan kaus kaki yang berwarna senada, biru muda.

Lelaki yang berpostur lebih kecil menggeliat, lalu semakin mengetatkan pelukannya di sekitar perut lelaki yang berbahu lebar—Kim Seokjin. Satu tangannya memeluk lengan Seokjin. Pipinya bersandar pada ujung bahu Seokjin. Kedua kakinya meringkuk di depan dada.

Jung Hoseok total seperti buntalan trenggiling.

Atau buntalan kesadisan bagi Seokjin, karena sejujurnya, keadaan ini terlalu brutal dan tidak ramah untuk kinerja jantungnya.

“Pindah ke kamar, ya?” ajak Seokjin.

Suaranya ia buat selembut mungkin. Khawatir akan menjadikan manusia di dalam dekapannya kaget dan kehilangan kantuknya.

Itu gawat sih.

Karena artinya Seokjin juga akan kehilangan kehangatan yang melingkupi tubuhnya seperti sekarang.

Hoseok menggeleng sembari membuat suara rengekan yang lucu. Lelaki itu membuat dirinya semakin menjadi buntalan kecil di pelukan Seokjin.

Bayi trenggiling.

Aduh.

Seokjin rasanya ingin menangis.

“Nanti badan lo sakit, Bi …,” lanjut Seokjin masih mencoba. Walau sepertinya usahanya bertolak belakang dengan bahasa tubuhnya.

Lengan Seokjin yang merangkul bahu Hoseok semakin menarik lelaki itu mendekat. Satu lengan lainnya tidak berhenti menepuk-tepuk sisi kaki Hoseok yang tertekuk dalam usaha membuat lelaki itu terbuai dalam kantuk.

“Nggak akan sakit ‘kan ada elo …,” jawab Hoseok dengan suara teredam yang seperti igauan.

“Elo tuh, ya. Bisaa aja jawabnya. Gih merem,” ujar Seokjin setelah mengecup puncak kepala Hoseok—refleks. Lelaki di dalam pelukannya mengeluarkan suara kecil dan beringsut, masih mencoba mendekat—walah sudah tidak memungkinkan karena keduanya sudah terlalu rapat.

Seokjin menyamankan duduknya, membawa Hoseok—yang sepertinya sudah masuk ke alam mimpi—mengikuti gerakan tubuhnya. Ia menghela napas panjang secara perlahan dalam upaya mengatur kerja jantungnya supaya lebih terkondisikan. Kini, kepala Hoseok sudah meluncur bebas dan membuat pipinya menempel pada dada Seokjin.

Bahaya.

Ia tidak mau membuat Hoseok terbangun karena dentuman detak jantungnya yang menggila karena alasan yang konyol.

Jika naksir sahabat sendiri dapat dibilang konyol, tentu saja.

Kim Seokjin dan Jung Hoseok sudah bersahabat sedari empat tahun lalu, kala Hoseok masih di tingkat satu.

Hoseok datang ke acara orientasi jurusan terlambat satu hari karena sakit dan Seokjinlah—sebagai kakak senior baik—yang bertugas membantu Hoseok mengejar materi yang tertinggal.

Keduanya semakin dekat seiring waktu berjalan. Hoseok kerap menanyakan tugas pada Seokjin yang sudah berpengalaman. Seokjin juga beberapa kali meminta bantuan Hoseok mencari diktat atau referensi untuk mengerjakan jurnal.

Keduanya semakin dekat seiring waktu berjalan. Mungkin karena pembawaan Hoseok yang riang membuat Seokjin tidak sungkan. Mungkin karena perangai Seokjin yang pendiam membuat Hoseok mudah nyaman.

Keduanya semakin dekat seiring waktu berjalan. Hoseok masih kerap mendatangi Seokjin saat jam makan siang, dengan atau tanpa adanya orang lain di dalam gandengan. Sifat Hoseok yang periang membuatnya banyak disukai orang. Ia terlihat kerap bergonta-ganti pacar yang menurut Seokjin adalah wajar. Karena selain baik hati, ia mengakui bahwa Hoseok juga rupawan.

Keduanya semakin dekat seiring waktu berjalan. Menemani Hoseok yang kesepian sehabis putus dengan mantan adalah rutinitas yang tidak Seokjin rencanakan. Yoongi, sepupunya, mengatakannya bodoh untuk menyerahkan diri menjadi tempat sampah gratisan acap kali Hoseok patah hati.

Namun Seokjin tidak merasa seperti itu.

Mendekap Hoseok yang kesepian selalu terasa menjadi kebutuhannya. Rasanya seperti mendapatkan kembali hadiahnya sendiri. Hadiah karena sudah bersabar menunggu sekian minggu atau bulan—Hoseok tidak pernah berpacaran lebih dari tiga bulan. Bagi Seokjin, menunggu Hoseok yang sedang berkencan dengan orang lain rasanya seperti diet. Ia akan bersabar membatasi perasaan dan menutup emosinya di hadapan sahabatnya jika ia sedang bersama dengan seseorang. Ketika mereka akhirnya putus, Seokjin seperti diberi hari khusus cheating di akhir pekan dan momen itu akan selalu ia nantikan.

“Lo nyadar nggak sih, mendem perasaan gini terlalu lama tuh nggak sehat buat lo?”

Seokjin terlalu sering menerima pertanyaan itu. Dari Yoongi paling banyak. Namun ia selalu berpura-pura tuli. Toh selama ini Hoseok selalu kembali padanya.

Walau sebentar.

Seperti sekarang.

“Kadar bucin lo udah nggak ketolong.”

Ia teringat lagi komentar Yoongi yang tanpa emosi. Saking sudah bosannya mengingatkan diri.

Iya, memang.

Habisnya, mau bagaimana lagi?

Terdengar helaan napas yang berembus lebih panjang dan gerakan halus yang berasal dari Hoseok membuat Seokjin kembali ke masa sekarang. Ia dengan sigap mengusap-usap lengan atas Hoseok yang dirangkulnya, dan membelai pipi sahabatnya itu dengan ibu jari lengan satunya.

Perlahan dan hati-hati.

Mencoba membuat Hoseok tertidur lebih lelap lagi.

“Lo tau kalo gue nggak akan bikin lo sakit, tapi tetep aja lo jalan sama yang lain, Bi …,” bisiknya. Tidak akan ada yang dapat mendengar gumaman Seokjin karena ia memang berniat berbicara pada dirinya sendiri.

“Nanti, suatu saat, kalo jalan lo kecepetan, dan lo terlanjur kejauhan, gue bakal sendirian ya, Bi? Kayak kemarin-kemarin ….”

Lagi, Seokjin tidak menunggu jawaban.

Ia menghela napas panjang.

“Kenapa gue harus sesayang ini sama lo sih, Bi? Ribet ‘kan nih, urusannya.” Seokjin menaikkan selimut bulu domba—yang sebelumnya dipakai keduanya untuk menutup kaki setiap keduanya menonton—sampai ke batas bawah dagu Hoseok.

“Mungkin gue udah harus mulai dengerin usulan Yoongi buat nyoba Tinder … sambil pelan-pelan ambil jarak dari lo.” Seokjin kembali mengecup puncak kepala Hoseok. Lebih lama kali ini.

Wow.

Membayangkan harus berjarak dengan Hoseok saja sudah membuatnya ingin menangis. Akhirnya, hanya kekehan sendu yang keluar dari mulutnya.

“Nggak yakin bakal sukses juga sih. Walau gue nanti ketemu orang baru, sekali lo dateng ke gue, gue acak-acakan lagi pasti. Ketarik lagi pasti …,” Seokjin menjeda. Ia berdeham rendah karena tiba-tiba kerongkongannya terasa kering.

“Susah banget, lo gravitasi gue soalnya,” lanjutnya. Suaranya semakin pelan, seperti sedang membagi rahasia pada sesuatu yang tak kasat mata.

Sampai satu suara serak menginterupsi kecamuk dalam kepalanya.

“Ji … jangan install Tinder ….”

Hah?

Pelukan di pinggangnya mengerat lagi.

“Bi? Lo kebangun?”

“Dari tadi juga belum tidur. Merem doang …,”

Mampus.

“Ji, lo degdegan banget. Gue bisa denger jelas.”

Ucapan Hoseok membuat Seokjin gelagapan. Ia dapat merasakan Hoseok tersenyum lebar.

Ia belum siap.

Sungguh.

“Shush, jangan gerak-gerak, gini aja. Mau gini dulu …,”

Gini dulu apa? Gimana? Dipeluk gini? Masalahnya jantung gue apa kabar ini!?

“Gue juga sayang sama lo. Sayang banget.” Hoseok menuturkan pengakuannya dengan perlahan. Mungkin supaya Seokjin dapat mencerna.

Ini pasti bercanda.

“Sayang ampe tolol karena ngerasa sayang sendirian. Jadinya gue nyoba jalan sama orang-orang biar lupa sama lo.”

Seokjin rasanya ingin pingsan.

Susah payah ia menelan ludahnya. Jakunnya naik turun.

Panik.

“Terus … bisa?”

“Sama sekali enggak.”

“Bi—”

“Bobo dulu, yuk? Ngobrolnya besok. Mau dipeluk lo malem ini …,” Hoseok masih meringkuk dalam pelukan Seokjin saat mengatakan ini. Sekalinya menengadah, wajahnya merona dan kedua matanya berpendaran lembut seperti semesta.

Semestanya Seokjin.

Akhirnya keduanya bergerak untuk berbaring bersisian dan menyamankan diri di atas sofa. Hoseok membalikkan badannya, mendekatkan punggungnya pada dada Seokjin, lalu menautkan jemari mereka di depan dadanya sendiri. Dengan posisi ini, dengan kedua kaki mereka yang berlilitan di bawah sana, Seokjin dapat merasakan bagaimana Hoseok sepenuhnya ada dalam rengkuhannya. Seperti sendok kecil.

“Lo juga deg-degan parah, Bi …,” gumam Seokjin sembari menyesap harum rambut Hoseok dalam-dalam. Kemudian mengecupnya di sana.

Kebiasaan.

“Selalu. Cuma buat lo.”

Jawaban Hoseok dalam nada rendah dan jemarinya yang diremas membuat Seokjin tersenyum. Bukan rasa ingin meloncat girang atau rasa ingin menelepon Yoongi lalu berteriak histeris bahwa lelaki yang ia sayangi selama ini memiliki perasaan yang sama dengannya, melainkan rasa tenang yang membuatnya merasa ringan tanpa beban. Membuatnya merasa kalem dan aman.

Seperti bersahabat dengan Hoseok pada umumnya.

Hoseok membalikkan badan dengan cepat untuk mengecup dahi Seokjin lalu kembali memunggunginya.

Ya Tuhan.

Beberapa saat hening, lalu terdengar dengusan dan kikikan dari lelaki di hadapannya. Tak ayal membuat Seokjin terkekeh juga.

Rasanya geli merasakan ini dengan sahabat sendiri.

Malam semakin larut, baik Seokjin maupun Hoseok mati-matian berkonsentrasi untuk tidur. Besok, akan banyak pembicaraan yang perlu digelar dan diulik sampai detail. Sekarang, anggap saja semua hal dapat diselesaikan dengan kecupan dan pelukan.

Malam itu, keduanya bermimpi indah.

 

 

 

*

Notes:

Drabble ini dibuat dalam rangka menyemarakkan proyek donasi untuk ulang tahun Kim Seokjin yang diprakarsai oleh akun CandraKiranaSJ di twitter.
Terima kasih pada Teman-teman panitia untuk kesempatannya.

Huhuhu I love 2Seok so much. >,<

Series this work belongs to: