Actions

Work Header

I love you but I’m letting go

Summary:

Orang bilang, tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah merelakannya pergi demi meraih kebahagiaannya sendiri.

Benarkah begitu?

Notes:

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

Work Text:

Selama 19 tahun menghirup oksigen, Itadori Yuuji baru pertama kali mengecap manisnya jatuh cinta. Baru pertama kali merasakan sensasi aneh namun candu dimana jantungnya berdegup kencang serta ribuan kupu-kupu yang memenuhi perutnya ketika maniknya menangkap senyum sang terkasih—orang yang ia sukai. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Aneh, tapi menyenangkan, membuatnya candu.

 

Orang itu bernama Gojou Satoru, mahasiswa tingkat akhir, paras tampan namun dibarengi dengan tingkah menyebalkan—tapi justru itulah yang membuat Yuuji jatuh hati. Benar-benar jatuh hingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya bangkit kembali.

 

“Gojou- senpai, aku menyukaimu,” ucap Yuuji suatu ketika, di bawah bunga sakura yang tengah menggugurkan kelopaknya—romantis bak dorama romantis yang ia konsumsi beberapa hari belakangan. 

 

“Aku juga suka Yuuji. Nah, karena kita saling suka, mulai hari ini Yuuji resmi jadi pacarku ya,” balas Satoru ringan—seringan kelopak sakura yang mendarat apik di helai putihnya. Ia bahkan mencuri kecupan pada pipi Yuuji yang diam membatu, tak percaya jika tambatan hatinya membalas perasaannya.

 

Yuuji merasa sangat bahagia, ia sangatlah beruntung ketika Satoru membalas perasaannya, mengubah status mereka dari yang sebelumnya hanya teman dan adik tingkat menjadi sepasang kekasih. Yuuji tentu saja senang bukan kepalang, senyum lebar tak luntur dari wajah manisnya. Saking senangnya ia bahkan mentraktir dua sahabatnya jajan di kafe mewah. 

 

Yuuji bahagia—sangat bahagia. Hari-harinya kini semakin berwarna. Satoru memperlakukannya dengan begitu istimewa. Ia merasa begitu dicintai dengan berbagai perlakuan lembut dan penuh perhatian dari Satoru—meski sifat menyebalkannya masih ada sih , tapi Yuuji tak keberatan, toh itu pesona Satoru.

 

Sebulan, dua bulan, enam bulan, satu tahun. Yuuji terkejut namun juga takjub, tak menyangka bahwa hubungannya dengan Satoru bisa berjalan lama. Orang bilang, cinta pertama selalu berakhir tak bahagia—karena itulah Yuuji terkadang takut. Meski hubungan mereka cukup awet, walaupun mereka tak jarang juga bertengkar—meski tak berselang lama mereka pasti kembali baikan, entah itu Satoru atau Yuuji duluan yang meminta maaf, mereka akan secepat itu melupakan perdebatan panas dan kembali menautkan tangan—tetap saja Yuuji merasa takut. Hal yang wajar bukan? 

 

Yuuji mencintai Satoru, sangat mencintainya. 

 

Bagaimana dengan Satoru sendiri? Apakah ia juga mencintai Yuuji? 

 

Yuuji meragu, ia pikir itu hal yang wajar. Ia pun berusaha mengenyahkan dan berusaha kembali menaruh percaya pada semua yang Satoru berikan padanya. 

 

Tapi matanya tidaklah buta .

 

Aku mencintaimu, Yuuji,” kata-kata manis itu selalu terlempar dari mulutnya. Tiap kecup yang dihadiahkan padanya selalu diiringi dengan bisikan kata cinta. Selalu.

 

Hanya saja, Yuuji tidaklah senaif yang orang bilang. 

 

Kata cinta itu memang terucap dari bibirnya, penuh dengan perasaan. Manis, bagai diselimuti madu, membuat egonya puas begitu kata cinta itu terlontar hanya untuknya. 

 

Tapi sepasang manik biru itu mati. 

 

Biru itu kosong. Tak memancarkan apapun sebagaimana mulutnya melontarkan kata cinta untuknya. 

 

Biru itu monoton. Tak sedikitpun menunjukkan afeksi ketika menatapnya. Biru itu memberinya tatapan seperti apa yang diberikan pada orang lain. Biasa, tak istimewa.

 

Mulanya Yuuji mengabaikan hal itu, mencoba untuk kembali menutup mata. Egonya berbisik bahwa Satoru mungkin memang belum mencintainya sebagaimana ia mencintai Satoru dengan seluruh hatinya, menyuruhnya untuk menunggu hingga tiba waktu dimana Satoru akan jatuh pada lubang yang sama—menemaninya mengecap manisnya cinta.

 

Tapi ia salah. Egonya salah. 

 

Puluhan hari berlalu pun Satoru masih betah berdiri di pinggir lubang. Birunya hanya menatapnya yang semakin tenggelam dalam perasaannya. Sendirian. 

 

“Satoru- san , apa kau mencintaiku?” tanya Yuuji suatu hari ketika keduanya duduk berdampingan menikmati film lawas yang diputar di televisi.

 

“Apa-apaan pertanyaanmu itu. Tentu saja aku cinta Yuuji. Sa—ngat cinta,” ucapnya diselingi nada jenaka serta kecup manis di pelipis. 

 

Meski kata itu terlontar dari bibir Satoru, binar biru itu tak memancarkan apapun. Saat itu, Yuuji hanya bisa tertawa pahit. 

 

Yuuji semakin sadar, bahwa hanya dirinya yang mencinta. Tapi egonya terlalu besar. Ia telah terbiasa bersama dengan Satoru, ia tak ingin melepas Satoru. 

 

Milikku. Milikku. Milikku. 

 

Tidak, Satoru-san bukan milikku. 

 

Ia tersenyum getir. Pigura kayu berisi potretnya dan Satoru ketika merayakan hari jadi pertama mereka berakhir mencium kerasnya tembok, membuat kacanya berceceran di atas dinginnya lantai kayu. 

 

Tingkat tertinggi dalam mencintai adalah melepaskannya demi meraih bahagianya.

 

Relakah ia? 

 

Tidak. 

 

Ia ingin bertahan pada egonya, sampai ingatannya memutar kejadian dimana sepasang biru itu menatap penuh kelembutan—sarat akan perasaan kasih pada sosok itu . Tatapan yang tak pernah dihadiahkan padanya.

 

Ia tak rela bila harus melepas Satoru. 

 

Satoru adalah bahagianya. 

 

Sayangnya ia bukanlah yang Satoru inginkan.

 

Ia ingin egois. Tapi untuk berapa lama lagi ia sanggup bertahan pada egonya? Untuk berapa lama lagi ia akan menahan Satoru demi keserakahannya? Berapa lama lagi? Sampai Satoru sendiri lelah bermain peran?

 

Yuuji kembali menumpahkan air matanya. Menangisi cintanya yang begitu mengenaskan. Baru kali pertama jatuh cinta dan berpikir bahwa ialah makhluk paling beruntung karena memiliki hati Satoru untuknya, tapi yang ada justru kebalikannya.

 

Memang benar apa kata mereka, cinta pertama selalu berakhir tak bahagia. 

 

Ia tak mengerti kenapa ia tak menyadarinya sejak awal. Entah ia yang terlalu dibutakan cinta, atau Satoru yang terlalu pandai bermain peran, Yuuji tak mengerti. Ia berandai-andai, seandainya saja saat itu ia tidak dibutakan oleh cinta dan egonya, akankah sakit yang ia rasakan lebih ringan dari ini? Akankah hatinya tidak sehancur saat ini?

 

Hari demi hari, ia berusaha untuk menekan egonya, dalam diam mengamati sang pujaan hati, menanti apakah sepasang biru itu akan menatapnya sebagaimana ia menatap Satoru. Hingga penantian itu berujung pada keputusasaan, membuatnya belajar melepas Satoru, belajar melepas tautan hangat itu sedikit demi sedikit. 

 

Potret demi potret sudah ia enyahkan, berbagai hadiah dari Satoru yang semula ia perlakukan bak berhala kini tersimpan rapi pada kotak yang ia simpan di bagian terdalam lemarinya. 

 

Mungkin, ia tenggelam dalam asumsinya sendiri, menarik kesimpulan sesuka hati tanpa mendengar kata dari Satoru—meski hanya sepatah kata. Benar, ia egois. Ia tak ingin mendengarnya, tak ingin mendengar bibir yang biasa mengucap cinta itu melontarkan kenyataan yang tersembunyi selama ini. Ia tak sanggup—ia memilih untuk egois, menjadi antagonis dalam hubungan ini. 

 

Ketika tiba saat air matanya kering untuk menangisi cintanya yang kandas, Yuuji akhirnya merelakan Satoru untuk mengejar bahagianya—tanpa ada dirinya di sana. 

 

To: Satoru <3

 

Satoru-san, bisakah kita bertemu di kafe biasanya pukul 7 malam ini? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.



Series this work belongs to: