Work Text:
Sosok itu tak berubah dari apa yang terpatri dalam memori. Wajah itu masih sama, tampan dan manis. Senyum itu pun masih sama, sehangat mentari pagi—menghangatkan hatinya hanya dengan menatapnya dari jauh.
Itadori Yuuji masih sama dengan apa yang terkubur dalam kotak memori seorang Gojou Satoru.
Sudah sangat lama sejak ia melihat sosok Yuuji—5 tahun? Atau lebih? Entahlah Satoru tak begitu ingat. Hanya saja setelah Yuuji mengakhiri hubungan mereka di masa lalu, ia tak pernah lagi melihat rambut merah muda itu. Bahkan di area kampus pun ia tak pernah melihatnya—Yuuji benar-benar lenyap hilang ditelan bumi, dan ia pun tak ada niatan sedikitpun untuk mencari kemana pemuda manis itu pergi.
Mungkin Yuuji sudah muak padanya dan memilih untuk tak melihat wajahnya lagi.
Pemikiran itu yang membuatnya tak mencari Yuuji, meski hatinya terkadang merindu, ia lebih memilih untuk abai. Bukan hal sulit untuknya.
Hingga tiba suatu ketika ia tak sengaja bertemu—ralat, melihat Yuuji di salah satu bakery langganan teman kerjanya. Ia yang tadinya ingin masuk ke dalam begitu melihat siluet sang teman dari balik kaca tiba-tiba membeku ketika melihat sang teman berbincang akrab dengan pemuda berambut merah muda yang terlampau familiar untuknya—Yuuji.
Satoru tadinya ingin tetap masuk dan bersikap sok akrab seperti ia yang biasanya—menyebalkan dan seenaknya, jika saja memori akan kandasnya hubungan antara ia dan Yuuji tak mampir tanpa permisi dalam benaknya.
“Satoru-san, aku ingin hubungan kita berhenti sampai disini. Aku tak ingin lagi egois, aku tahu Satoru-san tak mencintaiku. Aku tahu… karena itu, aku ingin Satoru-san berhenti membohongiku—membohongi dirimu sendiri. Maafkan aku jika selama ini aku begitu egois. Terima kasih untuk semua yang telah Satoru-san lakukan untukku. Sekarang, carilah bahagiamu sendiri.”
Perkataan itu selalu menghantuinya. Malam sebelum ia terlelap, suara lembut Yuuji terngiang, senyum lebar namun menyimpan luka itu terbayang sempurna tanpa satu hal pun yang luput dari memorinya. Menyebalkan.
Tapi tak semenyebalkan dirinya yang hanya bisa diam termenung seperti orang bodoh, menerima tanpa menahan Yuuji untuk bertahan barang sekejap. Tak semenyebalkan dirinya yang awalnya mengira bahwa ia tak ada rasa, namun bulan kemudian ia merindu setengah mati.
Menggelikan.
Dan itulah yang membuatnya bertahan di sini, berdiri di trotoar seberang bakery tempat Yuuji bekerja. Memandang lekat sang mantan kekasih tercinta yang bekerja melayani pelanggan dengan senyum manisnya yang khas—membuatnya ikut tersenyum kecil ketika birunya menatap indahnya lengkung bibir pada wajah manis sang terkasih.
Hari demi hari, ia selalu bertahan pada posisinya. Tak berminat untuk singgah barang sejenak. Ia belum siap, takut jika berbuat bodoh yang berujung pada kehilangan. Meski hati merindu setengah mati, meski ia merindu hangatnya tautan tangan antara mereka berdua, Satoru akan menahannya. Ia akan bertahan sampai ia siap. Sampai ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia rasakan adalah cinta—benar-benar cinta, bukan hanya sekedar rasa nyaman yang dulu sempat diartikan sebagai cinta. Ia tak ingin jatuh pada lubang yang sama.
Satoru sudah berubah menjadi lebih baik—pikirnya.
Sayangnya rencana tinggal rencana, ketika musim gugur berganti musim dingin, Yuuji secara mengejutkan berdiri di hadapannya. Tubuhnya yang hanya dibalut dengan sweater berwarna cream dan apron berwarna merah tua berdiri di hadapannya. Bibir itu menyunggingkan senyum tipis, sepasang tangan itu menangkup wajahnya yang beku.
“Satoru- san , sampai kapan kau akan berdiri dibawah guyuran salju? Lihat, wajahmu sampai membeku begini.”
Dan dengan itu, berakhir rutinitas bodoh seorang Gojou Satoru.
Berganti dengan rutinitas baru yaitu datang mampir ke bakery —yang ternyata milik Yuuji—untuk menyantap sepotong tres leches atau beberapa keping speculas ditemani secangkir coklat hangat dan tentu saja dilengkapi dengan obrolan ringan dengan Yuuji.
Satoru tahu, sebenarnya Yuuji tak menyediakan layanan dine in, ia begitu beruntung—tak tahu diri—sebab pemuda manis itu membiarkannya bersantap disitu.
Kembali bertemu dengan Yuuji, mengobrol ringan dengannya, membuat Satoru begitu bahagia. Hanya dengan itu, ia merasa hatinya sehangat mentari musim panas. Dunianya terasa utuh untuknya meski ia sadar bahwa seharusnya ia tak boleh menaruh harapan lebih pada apa yang sekarang terjalin.
Tapi, salahkah jika ia berharap?
Salahkah jika ia ingin kembali pada masa itu? Masa dimana ia memiliki Yuuji disisinya, menjadi kekasihnya dan menghujani pemuda manis itu dengan cinta yang dulu tak mampu ia berikan.
Satoru ingin kembali.
Ia ingin Yuuji.
Karena hanya Yuuji yang mampu membuatnya begitu lengkap.
Bagai keping puzzle yang memang tercipta untuk mengisi ruang kosong dalam hatinya.
Satoru yakin, sangat yakin bahwa perasaan ini adalah cinta. Ia mencintai Yuuji, sangat mencintainya hingga ia merasa sebentar lagi dirinya bisa gila.
Diperparah dengan seringnya Satoru bertemu dengan Yuuji, hasratnya untuk kembali memboyong Yuuji menjadi kekasih hati semakin tak tertolong. Ketika tangannya tak sengaja bersentuhan, Satoru harus mati-matian diri agar tak menarik tubuh itu dalam pelukan dan menghujaninya dengan kecupan.
Orang-orang yang mengenal Satoru mungkin akan tertawa jika melihat bagaimana kalut dan galaunya dirinya. Sebab sangat jelas bahwa Satoru bukanlah orang yang seperti itu, bukan tipe orang yang akan menahan diri.
Tapi kembali lagi, semua ini demi Yuuji.
Jika ia ingin kembali, maka ia akan melakukannya dengan benar .
Yang sayangnya, stock kesabaran Satoru tidaklah sebanyak itu. Ketika ia menyadari bahwa sang mantan kekasih hatinya menarik begitu banyak perhatian dari orang-orang rupawan nan mapan, Satoru tidak bisa untuk bersabar.
Mungkin benar adanya bahwa benaknya masih meragu. Sudah pantaskah ia untuk kembali mendapatkan cinta Yuuji? Andai kata mereka pada akhirnya kembali bersama, sanggupkah ia membuat Yuuji percaya pada cintanya? Sanggupkah ia melakukannya?
Sanggup atau tidak, Satoru memilih melangkah maju. Masalah nanti akan dipikirkan nanti, sekarang saatnya menyakinkan diri untuk maju merebut kembali hati kekasih yang sempat terlepas dari pelukan.
Ya atau tidak sama sekali.
Ia bertaruh pada keberuntungannya.
Jika ia diterima, sudah pasti ia akan segera memboyongkan Yuuji ke pelaminan, jika ia ditolak, ya Satoru akan tetap memboyong Yuuji ke pelaminan, hanya saja tidak segera dan akan memakan waktu sedikit lebih lama.
Pada intinya, Satoru akan mendapatkan Yuuji untuknya.
Hanya Yuuji yang bisa melengkapinya.
Hanya Yuuji yang diinginkan oleh hatinya.
Hanya Yuuji, ialah satu-satunya yang didambakan oleh Satoru.
Berbekal bunga mawar merah sejumlah 5 tangkai— ew, cheesy —yang disembunyikan secara apik di balik punggung, Satoru datang berkunjung ke bakery milik Yuuji ketika sang pemilik hampir saja menutup penutup kaca pada jendela toko.
Ia mengulum senyum ketika melihat Yuuji memiringkan kepalanya bingung. Ia mengabaikan pertanyaan Yuuji yang menanyakan mengapa ia baru datang larut malam saat bakery nya sudah tutup.
Satoru tentu tak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia menyodorkan—mendorong—buket mawar itu pada Yuuji. Bibirnya mengulas senyum tampan, tangannya yang memang dari sananya tidak beradab sudah seenaknya menyamankan posisi di pinggang ramping Yuuji sementara tangan satunya menyusup di antara helai rambut pemuda manis itu, menghapus jarak antara keduanya.
Agresif.
Binar biru dari balik kacamata hitam menatap penuh puja pada sepasang manik madu yang menatapnya penuh keterkejutan, juga rona merah yang menghiasi pipi hingga ujung telinga. Duh, terlalu menggemaskan.
Satoru berucap, tepat di depan bibir Yuuji.
“Aku mencintaimu, Yuuji. Aku tahu jika kau masih meragu, tapi aku ingin kau memberiku kesempatan untuk menunjukkan bahwa cintaku untukmu nyata adanya, tak hanya sekedar ucapan belaka. Maukah kau memberiku kesempatan itu? Yah, walaupun tidak sekarang tidak apa-apa sih, tapi kalau bisa secepatnya. Aku tidak memaksamu lho, Yuuji—sedikit memaksa sih sebenarnya.”
Ketika bulir air mata turun dari sepasang manik madu itu dibarengi dengan pukulan menyakitkan pada ulu hatinya, Satoru tidak pernah merasa sebahagia ini, tak pernah merasa bahwa dunianya selengkap ini.
Sebab bibir itu memberikannya izin—kesempatan untuknya membuktikan cintanya.
Yah, sebenarnya daripada pukulan di ulu hati Satoru lebih senang jika Yuuji menghadiahkannya kecupan di bibir.
