Work Text:
Tokyo merupakan kota besar. Namun pinggiran Tokyo tidak akan mungkin seramai pusatnya. Kunikida Doppo sudah membulatkan tekad untuk rehat menulis dan pergi ke area pedesaan. Neneknya baru saja pergi. Ia dan sekeluarga mengadakan upacara kremasi beberapa minggu yang lalu. Wanita renta itu meninggalkan sebuah toko permen di dekat sekolah dasar. Dan sekaligus mengisi waktu luang sembari mencari ide buku selanjutnya, Kunikida memutuskan untuk menjaga tempat itu.
Toko neneknya tidak terlalu luas. Ada beberapa rak berisi mainan dan manisan untuk anak-anak, freezer untuk es batangan di depan pintu juga kotak undi mainan kapsul. Lelaki pirang itu sering duduk di sebelah meja telepon dan memperhatikan beberapa anak yang kesal karena kapsul yang keluar berisi hal tidak penting. Terkadang, bila beruntung, mereka bisa mendapatkan figurin aksi Kinmikuman beserta sekutu dan musuhnya.
Apabila tidak banyak orang yang singgah, maka Kunikida akan menutup toko, berjalan ke perpustakaan terdekat untuk meminjam beberapa buku dan membawanya ke toko. Hari-hari repetitif yang terasa damai. Jauh dari tenggat waktu dan tekanan para editor di perusahaan penerbitan.
"Jeli aprikot, es krim drakula, coklat tahi, permen berubah warna," gumam seorang anak laki-laki sembari menunjuk-nunjuk keranjang anyam di atas rak. Tangan kecilnya penuh dengan jajanan. Jika pegangannya longgar sedikit saja, maka bungkusnya akan berjatuhan.
Kunikida beranjak menghampiri, hendak membantu anak itu membawa barang barangnya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada ramah.
Anak berambut hitam tadi mengeratkan pelukan pada bungkus jajan di tangannya. Tanpa menghiraukan Kunikida di samping, ia menunjuk sebuah keranjang di rak paling atas.
"Permen jeruk," serunya seolah sedang memberi kode agar Kunikida mengambilkan sebungkus untuk anak itu.
Belum sempat Kunikida memberikan permennya, laki-laki kecil berkata lagi, "Tiga bungkus."
Baiklah, mungkin anak dengan baret coklat ini adalah maniak makanan manis. Kunikida menaikkan kedua alis heran. "Jangan makan terlalu banyak manisan. Nanti gigimu bisa berlubang," nasehatnya.
Anak itu menoleh, memicing kepada Kunikida. "Ini persediaan tiga hari," sahut anak itu, "dan gigiku tidak akan lubang karena setiap malam Papa akan menyikatnya."
Dia cukup pintar untuk diberi nasehat remeh. "Baiklah. Sekarang biar kuhitung harga semuanya," tawar Kunikida sembari menengadahkan tangan untuk mengambil semua jajan di pelukan anak itu.
"Papa akan membayar semuanya. Aku sudah menulis daftar belanjaku dan memberikannya pada Papa," ucap anak itu dengan nada menggurui.
Kunikida terkekeh. Anak sekecil ini tidak akan terpikir untuk melakukan perencanaan dengan detail. Tapi si pirang mengangguk saja, berharap anak itu bukanlah tukang bohong yang gemar mencuri es batangan saat ia tengah menerima telepon.
Seingat Kunikida melalui perhitungan singkatnya, ada sekitar dua puluh bungkus jajan dalam pelukan anak itu. Ia akan menghitung perkiraan harganya dan menunggu Papa anak itu datang.
"Permisi," ucap seorang pria dengan yukata hijau dari balik pintu. Kunikida mendongak, menyambut kedatangan sosok itu dengan tatapan bertanya-tanya.
Mayoritas pengunjung toko itu adalah anak-anak dari sekolah dasar. Terkadang orang dewasa berkunjung di pagi buta untuk membeli camilan pengusir kantuk. Tapi tidak saat siang bolong. Pria yang melangkah masuk itu menghampiri Kunikida dan menaruh catatan kecil di atas meja telepon.
"Ranpo, anak berbaret coklat pergi kemari tadi," ucap pria itu dengan suara berat. Kunikida mendongak, memperhatikan rambut peraknya yang terurai hingga bahu. Gaya pria itu seperti seorang samurai di era Sengoku dengan haori berwarna gelap.
"Aku ingin membayar semua yang ia beli," imbuh sosok yang mungkin adalah 'Papa'.
Kunikida mengangguk, menerima kantung kain biru yang penuh berisi koin. Si pria menunggu, bersandar di tiang ruangan sementara lelaki pirang menghitung jumlah uang.
"Apakah Tuan adalah Papa-nya?" celetuk Kunikida di tengah kegiatannya. Namun yang ia terima hanya dehem pelan, menyiratkan bahwa sosoknya dingin dan tidak sabaran.
Dan lelaki pirang itu memutuskan untuk tidak menanyakan apapun lagi. Tidak perlu menunggu lama hingga ia mengangguk, menyiratkan bahwa isi kantung sudah sesuai dengan daftar belanja yang diberikan.
Manik zamrud Kunikida menatap lamat wajah pria itu—sebenarnya membalas pandangan yang diberikan—namun ekspresi Papa Ranpo menunjukkan hal lain.
"Fukuzawa Yukichi. Warnanya memang perak. Bukan uban," gumamnya pelan sambil melirik rambutnya, "aku belum setua itu."
Kunikida mengangguk pelan, menanggapi trivia yang baru saja terucap dari bibir pria itu. Mungkinkah Papa Ranpo mengira Kunikida tengah memperhatikan rambutnya?
"Dan dia bukan anakku," imbuh pria itu sebelum menghilang dari balik pintu toko.
Lelaki pirang mengerjap pelan seiring punggung si pria menjauh. Kemudian matanya menemukan beberapa koin di pinggiran rak cumi kering. Kunikida beranjak, mengendap-endap keluar toko.
Dedaunan pohon berubah coklat dan kuning pada musim gugur. Di depan bangku, sosok yang memperkenalkan diri sebagai Fukuzawa Yukichi tengah berjongkok, mengulurkan sepotong cumi kering berbumbu pada kucing putih penunggu toko.
Tapi sepertinya sang kucing tidak tergiur kelezatan cumi kering. Beberapa detik menganggurkan Tuan Fukuzawa itu berakhir karena ia belari kabur menjauhi toko.
Kunikida memperhatikan kekecewaan pria itu dengan rasa ingin tertawa bercampur iba. Tuan Fukuzawa tidak berkata apapun. Ia beranjak dan memakan cumi keringnya sendiri sembari berlalu dari toko permen.
.
.
.
Bulan demi bulan berlalu hingga salju tiba. Sekolah diliburkan karena temperatur yang begitu dingin. Tapi tidak dengan toko permen Kunikida. Daripada menetap di rumah keluarga besar, lelaki pirang itu lebih sering menetap di sana, menghabiskan waktu untuk menyelesaikan berbagai buku yang ia pinjam di perpustakaan.
Gedung penuh bacaan itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari toko permen. Kunikida hanya perlu berjalan selama lima belas menit untuk mengembalikan dan meminjam kembali buku koleksi mereka. Lalu ia kembali pada hari-hari repetitif nan damainya.
Siang hari, saat cuaca tidak begitu dingin, toko itu memiliki pengunjung langganan.
"Kunikida-san," sapa seorang anak lelaki. Ia masih setia mengenakan baret coklat. Dengan raut datar, anak itu melambaikan tangan.
Edogawa Ranpo. Kunikida mengakui bahwa Tuan Fukuzawa yang selalu datang untuk membayar belanja bukanlah ayah kandung Ranpo. Tapi ketika mereka pergi bersama—Kunikida pernah berpapasan saat berjalan ke perpustakaan—hubungan mereka seolah hubungan darah. Sangat dekat.
Tapi hal yang membuat lelaki pirang itu terkejut sekarang adalah celengan kucing berukuran besar yang ditaruh di atas meja.
"Papa bilang tidak mau kemari selama beberapa bulan," adu Ranpo, "ini bayaran untuk makanan yang akan kuambil."
Ekspresi bertanya-tanya kini menghiasi wajah Kunikida. "Kenapa?"
Anak itu duduk di sebelah lelaki pirang dan mendengus pelan. "Aku tidak boleh mengatakannya atau tidak akan ada manisan lagi untuk sisa tahun ini." Kemudian Ranpo merogoh saku jaketnya dan mengambil setangkai permen. Ia memasukan makanan manis itu ke dalam mulut dan mengemutnya.
Kunikida menatap kosong pintu toko yang terbuka. Pada siang hari seperti ini, Tuan Fukuzawa selalu berkunjung. Ia membayar belanjaan Ranpo juga membeli sesuatu—apa saja—yang mungkin menarik perhatian kucing penunggu toko.
Seingat Kunikida, pria berambut perak itu membeli permen bertali minggu lalu. Mungkin ia berencana mempermainkan si kucing dari atas. Namun gagal. Kucing itu tak pernah mau mendekat.
"Sangat tsundere," gumam Ranpo singkat.
"Tsundere?" ulang Kunikida dengan nada bingung. Ia paham dengan arti kata itu. Tsundere adalah kepribadian seseorang yang cenderung untuk menyembunyikan perasaannya dan berkata tidak untuk segala hal.
"Ya. Papa sangat tsundere," tegas anak itu seraya mengambil satu kaleng permen dan beranjak pergi.
Kunikida tidak berniat untuk mengantar kepulangan anak itu. Tapi manik zamrudnya menemukan sebuah tas kertas tertinggal di lantai toko. Dengan segera si pirang beranjak untuk menyusul Ranpo kecil. Anak berbaret coklat itu tengah berjongkok di bawah bangku kayu untuk membuat kelinci salju.
"Ranpo-kun, ini milikmu?" tanya Kunikida sambil menyodorkan tas kertas tadi.
Tanpa repot-repot menoleh, Ranpo langsung meralat, "Itu dari Papa, untuk Kunikida-san. Aku disuruh menaruhnya diam-diam."
Lelaki pirang mengambil sesuatu di dalam tas itu. Ada sebuah syal berwarna putih beserta secarik kertas bertuliskan huruf rapi nan indah.
'Agar tetap hangat di tengah hujan salju.'
.
.
.
Pada awal tahun baru, Kunikida memutuskan untuk pergi ke kuil seorang diri. Ia sudah terlalu lama tidak kembali ke rumah. Sulit berpikir untuk menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya saat ia lebih betah berada di toko permen.
Saat berdoa di kuil, lelaki pirang itu melihat banyak keluarga. Baik besar, maupun inti. Ia mendengus pelan. Pemikiran untuk tidak kembali pulang tidak terasa begitu benar. Setidaknya, walaupun hanya sekali, Kunikida perlu berkunjung. Mungkin esok hari, setelah ia mengembalikan semua buku ke perpustakaan.
"Kunikida-san," celetuk suara anak kecil. Ketika yang dipanggil menoleh, ia tidak hanya menemukan Edogawa Ranpo dengan baret coklatnya. Namun juga pria berambut perak bernama Fukuzawa Yukichi, yang beberapa minggu lalu menitip pesan pada Ranpo bahwa tidak ingin bertemu dengan Kunikida selama beberapa bulan.
Dan ini baru satu bulan.
Kunikida memutuskan untuk membungkuk saja, memberi salam. Fukuzawa balas melakukan hal yang sama. Manik kelabunya menatap lekat pada syal putih di leher Kunikida.
"Fukuzawa-san sudah lama memberinya dan aku belum mengucapkan terima kasih. Maafkan aku," sebut lelaki pirang sembari menyentuh kain putih panjang yang ia kenakan.
"Tidak apa, Kunikida-san. Papa juga yang bilang tidak ingin bertemu denganmu. Jadi tidak perlu minta maaf," celetuk Ranpo kemudian memukul tangan Kunikida pelan. Tanpa disadari, anak kecil ini baru saja menjadi juru bicara Fukuzawa.
"B-bukan begitu maksudku, Ranpo—,"
"Apa Kunikida-san memiliki acara setelah kembali dari kuil?" tanya anak berbaret coklat menyerobot giliran bicara.
"Tidak," sahut lelaki pirang.
"Bagus. Ayo makan soba bersama-sama," ajak Ranpo kemudian menarik tangan Kunikida. Raut bingung sekaligus terkejut tergambar jelas di wajah lelaki itu. Namun ia enggan menolak permintaan anak kecil. Fukuzawa mengekor mereka, mengulas senyum ketika melihat keakraban dua orang di depannya.
Soba tahun baru memiliki makna hidup yang panjang. Biasanya orang-orang makan saat malam tahun baru. Namun menyantap semangkuk mie hangat di pagi hari juga bukan sesuatu yang buruk. Kunikida menikmati kuah dashi segar dan tempura lezat di kedai dekat kuil.
Fukuzawa dan Ranpo duduk di depannya. Anak kecil itu sudah mahir memegang sumpitnya sendiri. Ia melahap soba tanpa kesulitan.
Pria berambut perak adalah yang pertama menyudahi sesi makan. Ia duduk dengan tangan terlipat di atas meja, menatap Kunikida dengan sorot janggal.
Atau mungkin sorot tajam?
"K-kau menghabiskan tahun baru seorang diri?" tanya Fukuzawa.
Kunikida menggeleng pelan. Ia mendongak untuk mempertemukan tatap dan menyahut, "Aku akan mengunjungi orangtuaku besok. Toko akan tutup selama beberapa hari. Kalau ingin membeli persediaan makanan manis, kau bisa mengunjungi toko setelah ini, Ranpo."
Penjelasan panjang lebar yang membuat anak berbaret coklat itu terbelalak. "Berapa sisa uangku di celengan?" Ia bertanya panik.
"Tujuh ratus dua puluh yen," jawab Kunikida dengan lancar.
"Untuk sehari di masa liburan tidak akan cukup," gumam Ranpo pada dirinya sendiri, "Aku butuh dua kotak permen jeruk, tiga kaleng permen, sepuluh bungkus cokelat tahi..."
"Aku bisa miskin di awal tahun," ucap Fukuzawa pelan. Ia merogoh kantung koin di dalam pakaian dan menimbang-nimbang isinya.
"Hanya tiga hari, Ranpo-kun. Jangan membeli terlalu banyak. Nanti gigimu berlubang," sebut Kunikida untuk menengahi permasalahan yang muncul.
"Kunikida-san, jangan menceramahiku terus. Kau membuat Papa semakin ingin menjadikanmu kekasihnya."
"A-apa?"
Mendadak meja mereka hening. Sekeliling kedai masih ramai pengunjung. Namun Fukuzawa, Kunikida, dan Ranpo terdiam di tempat. Anak berbaret coklat itu yang membuat atmosfer canggung. Tapi kemudian ia juga yang mencairkannya..
"Aku kelepasan," ucapnya dengan ekspresi datar, "tapi tidak apa-apa. Aku merestui hubungan kalian."
"Ranpo," tegur Fukuzawa. Ketika beralih pada pria berambut perak itu, Kunikida menemukan rona tipis pada pipinya. Anak kecil agak sulit untuk berbohong. Jika yang Ranpo katakan benar, maka artinya Fukuzawa tengah menahan malu sekarang.
Tiba-tiba Ranpo turun dari kursinya dan beranjak dari meja mereka. "Tadi aku janji bertemu dengan Yosano di luar kuil. Aku tidak akan hilang. Sungguh. Kalian berdua di sini saja."
Entah apa yang anak itu katakan benar atau tidak. Yosano yang disebut Ranpo adalah seorang gadis yang bersekolah di dekat toko permen juga. Rambutnya pendek sebahu berhias jepit rambut yang selalu berganti setiap hari. Di tengah belanja manisannya, Ranpo gemar mencuri pandang. Tak jarang anak itu juga merekomendasikan beberapa merk manisan pada gadis itu.
Tapi kembali pada masalah sekarang, Kunikida harus merasakan kecanggungan lebih lama bersama Fukuzawa. Pria ini tidak banyak bicara seperti dirinya ketika dihadapkan pada sesuatu.
"Ranpo mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Maaf bila membuatmu kurang nyaman." Fukuzawa berdehem pelan di sela ucapan. "Sejujurnya, aku belum siap membuat komitmen dengan orang baru."
Kunikida tersenyum di tempatnya. "Membuat komitmen tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku juga kesulitan tentang hal itu. Saat mengunjungi orangtua besok, aku yakin mereka akan bertanya, 'Apakah kau sudah memiliki seorang kekasih sampai tidak pernah pulang?' Dan aku akan menjawab, 'Ya. Aku baru saja bertunangan dengan selusin buku dari perpustakaan.' Sangat menyedihkan."
"K-kau tidak menyedihkan. Memiliki hobi membaca buku bukanlah hal buruk," sahut Fukuzawa dengan agak gugup.
Lelaki pirang menggenggam gelas teh erat-erat sembari mendongak, mempertemukan tatapan. "Terima kasih."
"Kau orang yang baik. Suatu hari, dengan seseorang di luar sana, Fukuzawa-san pasti bisa membuat komitmen itu. Aku yakin."
Apakah ini ucapan yang benar untuk dikatakan?
.
.
.
Pada awal bulan kedua, cuaca sudah tidak sedingin Desember. Tokyo menjadi lebih hangat karena paparan sinar matahari. Salju di depan toko juga berangsur mencair. Setiap senggang, Kunikida biasa membersihkan salju yang menghalangi pintu. Namun karena lapisannya sudah berubah tipis, ia merasa tidak perlu melakukannya lagi.
Ranpo masih sering datang. Tentu saja karena ia membutuhkan asupan manisan untuk menjalani hari. Namun Fukuzawa Yukichi, pria yang selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersama kucing penunggu toko, tidak pernah datang lagi.
Kunikida merasa ada yang janggal. Seakan ia baru saja melakukan sebuah kesalahan yang membuat Fukuzawa ingin menjauhinya.
"Apa kau ingin menemaniku, Kunikida-san?" celetuk Ranpo dalam sebuah kunjungan.
"Untuk apa?" Balasan Kunikida justru menimbulkan ekspresi kusut di wajah Ranpo.
"Tapi jangan katakan apapun pada Papa. Aku tidak ingin dia tahu. Sebagai gantinya, aku akan membantumu untuk lebih dekat dengan Papa. Kalian berdua sama sekali tidak ada kemajuan," cerocos Ranpo panjang lebar.
Kunikida terbelalak. "Tapi aku dan Fukuzawa-san tidak memiliki hubungan apapun."
"Belum," tegas Ranpo sembari melipat kedua tangan.
"Ranpo-kun, aku tidak—,"
"Kunikida-san, apakah kau membenci Papa?"
Lelaki pirang itu mendengus pelan. Kemudian ia menyahut, "Tidak."
"Berarti masih ada kesempatan."
Belum sempat Kunikida protes lagi, Ranpo sudah berdiri di sisi lelaki itu dan berbisik, "Rencanaku adalah minggu depan, saat hari kasih sayang, aku ingin memberi hadiah pada Yosano. Dia suka jeli aprikot. Aku butuh bantuan Kunikida-san untuk menghiasnya karena nilai ketrampilanku sangat buruk."
Kunikida tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Ranpo, walaupun tampak sangat pintar, ia tetap saja memiliki kekurangan. Tapi anak itu tidak segan untuk meminta bantuan, bahkan dengan imbalan.
Tunggu, imbalan?
"Sebagai gantinya, aku akan memberitahu sebuah fakta bahwa Papa sangat menyukai kucing. Bahkan tanpa meminta pendapat ia membelikanku barang-barang yang memiliki gambar kucing," ucap Ranpo kemudian berbalik membelakangi, "seperti tas sekolah ini."
Tas yang berada di punggung Ranpo memang memiliki gambar kucing. Raut wajahnya tampak kesal, membuat senyum terbentuk di bibir Kunikida.
"Jadi berikan saja apapun yang ada kucingnya. Papa akan menerima dengan senang hati," simpul anak itu kemudian mengambil lima bungkus jeli aprikot dan menaruhnya di meja telepon.
"Oh, satu lagi. Papa tidak mau pergi ke toko lagi karena dia sibuk bekerja. Kunikida-san tidak perlu mencemaskan apapun."
"Aku tidak cemas, Ranpo-kun," balas Kunikida dengan nada terusik.
Tapi Ranpo sudah berlari keluar toko, mengabaikan pengelakkan Kunikida Doppo.
.
.
.
Kunikida tidak menolak ide untuk memberikan hadiah. Ia menganggap hal ini sebagai balasan untuk syal putih pada musim dingin kemarin. Tapi melihat haori berwarna hitam dengan bordir kucing putih di tangannya semakin membuat lelaki pirang itu ragu.
"Yang penting ada kucingnya," gumam Kunikida pelan. Sejujurnya, ia ingin memberi hadiah yang berguna. Fukuzawa selalu mengenakan setelan yukata. Jadi memberi pria itu sebuah haori akan lebih berguna dibanding pajangan keramik.
Ia melipat hadiah itu dan menaruhnya dalam sebuah tas kertas baru—yang juga bergambar kucing. Kemudian Kunikida beralih pada hadiah Ranpo. Ia mengikat lima bungkus jeli itu dengan pita merah. Rapi dan cantik.
Semua sudah selesai. Yang belum selesai hanyalah urusan Kunikida dengan perasaannya.
Jika perkataan Ranpo bahwa Fukuzawa ingin menjadikannya seorang kekasih itu benar, maka responsnya di kedai soba bisa terhitung sebagai sebuah penolakan halus. Saat itu ia tidak memberikan jawaban positif maupun negatif. Hanya menyemangati dengan menyebutkan kalimat 'Suatu hari, dengan seseorang di luar sana, Fukuzawa-san pasti bisa membuat komitmen itu'.
"Apakah itu tergolong sebagai penolakan?" Kunikida bertanya pada dirinya sendiri sembari berbaring di atas futon. Ia melirik ke arah jendela. Langit sudah sangat gelap. Dan pikiran ini tidak boleh mengganggu jadwal tidur teraturnya.
Tapi manik zamrud lelaki itu terbuka lagi. Ia berbaring ke samping, memandang pintu toko permen yang sudah tertutup. Apa selain karena pekerjaan, Fukuzawa-san memang tidak ingin kemari untuk menjaga perasaan? Pertanyaan itu terus berputar di benak Kunikida hingga ia tanpa sadar tertidur karena lelah.
.
.
.
Pagi buta di hari kasih sayang, Ranpo berkunjung ke toko permen. "Kunikida-san," ia berbisik pelan, mengira sang penjaga toko belum terjaga. Tapi nyatanya Kunikida Doppo sudah bangun lebih dulu.
"Mana hadiah untuk Yosano?" tagihnya seraya mencari-cari ke setiap sudut ruangan. Kunikida beranjak dari duduknya dan memberikan anak itu kantung kertas berisi lima jeli aprikot berhias pita merah.
"Terima kasih," sahut Ranpo sembari menerima kantung itu.
Sekolah baru dimulai pukul delapan tapi entah mengapa anak itu sudah keluyuran di pagi buta?
"Kalau Kunikida-san bertanya mengapa aku datang sepagi ini, itu karena Yosano selalu datang sebelum aku," ujar Ranpo sembari memegang tali kantungnya erat-erat. "Nanti hadiah ini akan ketahuan."
"Ketahuan pun tidak masalah. Lagipula kau juga akan memberikannya pada Yosano nanti," balas Kunikida seraya duduk di sebelah meja telepon. Anak berbaret coklat itu menyusul dan duduk di sampingnya.
"Lalu bagaimana dengan hadiah Papa?"
Kunikida menelan ludah sendiri. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Dan masih sama seperti semalam, tinggal urusan perasaannya saja yang belum tuntas.
"Datanglah kemari setelah selesai sekolah. Aku akan menitipkan hadiahnya padamu," papar lelaki pirang. Itu adalah cara teraman agar bebas dari perasaan canggung.
"Tidak mau. Kau harus memberikannya sendiri, Kunikida-san. Jangan tsundere seperti Papa," protes Ranpo sambil melipat kedua tangannya.
"Nanti siang, aku akan menyeret Papa kemari," imbuh anak itu.
Manik zamrud Kunikida terbelalak panik. "Tidak. Tidak usah. Kutitipkan saja padamu. Aku juga tsundere. Jadi biarkan seperti itu," sahut Kunikida.
"Tidak. Kalau semuanya tsundere, bagaimana bisa berkembang? Tunggu saja, Kunikida-san. Siang nanti Papa akan datang."
.
.
.
Siangnya, Kunikida hampir tidak bisa tenang. Belum ada tanda-tanda murid pulang dari sekolah. Tapi tetap saja hatinya tidak karuan. Jika Fukuzawa benar-benar datang, apa yang harus ia lakukan?
Maju dan memberi hadiah. Tentu saja.
Lalu apa yang harus Kunikida katakan? Ia berpikir keras, benar-benar keras hingga suara anak kecil berlarian di depan toko membuatnya buyar.
Sudah jam pulang. Dengan panik, Kunikida berlari keluar toko, mengintip para murid sekolah dasar yang mencoba peruntungan di kotak undi. Lalu matanya menangkap pemandangan tidak asing.
Bukan. Bukan Fukuzawa.
Tapi Ranpo yang tengah berduaan dengan gadis berambut sebahu, agak jauh dari tokonya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Kunikida tahu itu adalah pengantar sebelum Ranpo memberikan jeli aprikot sebagai hadiah.
Si baret coklat sudah mengulurkannya dengan senyum lebar. Tapi yang Kunikida lihat bukan seperti yang ia kira.
Yosano menolaknya.
Dan Ranpo menunduk sepanjang waktu sampai gadis itu berlari pergi.
Kemudian dalam hitungan mundur, satu, dua, tiga, anak itu menangis. Kunikida berlari dan menghampiri Ranpo. Tanpa mengucap kata apapun, ia balas berhambur dan memeluk si pirang sambil masih menangis.
Rencana hari kasih sayang anak itu gagal.
Sepanjang siang, sambil menunggu toko sepi, Ranpo menghabiskan waktu di dalam. Ia membuka jeli aprikot—yang seharusnya berada di tangan Yosano—dan melahapnya satu persatu. Kunikida sesekali melihat ekspresi kecewa Ranpo. Baru tadi pagi ia begitu bersemangat untuk pemberian hadiah itu, namun semuanya berubah drastis karena penolakan.
Kunikida tidak mau menyinggung apapun. Ranpo pasti akan jengkel bila ia mulai memberi nasehat. Jadi dibiarkan saja anak itu berbaring di atas futonnya dan tidur setelah kelima jeli aprikot tadi habis.
"Permisi," interupsi seseorang dari depan toko.
Sang pemilik baru saja memperbaiki posisi tidur Ranpo dan menyelimutinya. Ia beranjak dan menghampiri siapapun yang sedang berada di depan pintu.
Kali ini benar-benar Fukuzawa, Fukuzawa Yukichi. Kunikida mengerjap pelan karena terkejut. Sepertinya alasan kedatangan pria itu adalah untuk mencari keberadaan anak yang tertidur di atas futonnya.
"Ranpo di sini?" tanya Fukuzawa dengan nada sedikit panik.
"Iya," sahut Kunikida sambil meremas jarinya sendiri di depan perut, "sesuatu terjadi hari ini. Jadi ia merasa lelah."
Fukuzawa mengernyitkan dahi, mempertanyakan sesuatu yang dimaksud Kunikida. Lelaki pirang itu mendengus pelan sebelum menjelaskan lebih lanjut.
"Aku akan cerita, tapi berjanjilah kau tidak akan memberitahukannya pada anak itu," ujar Kunikida dibalas dengan sebuah angguk setuju.
"Dia baru ditolak seorang gadis."
Fukuzawa mengangguk-angguk kecil. "Yosano?"
Ganti Kunikida yang mengangguk. Pria berambut perak itu tersenyum hangat sembari menatap ekspresi Kunikida. Mungkin ia merasa senang karena ada seseorang yang memperhatikan Ranpo selain dirinya. Mungkin.
"Apa kau langsung ingin membawanya pulang?" Tanpa berpikir dua kali, pertanyaan itu lolos dari bibir Kunikida. Ia tidak berniat mengusir, serius. Tapi ia juga tidak berpikir untuk memaksa Fukuzawa Yukichi tinggal lebih lama.
"Harusnya seperti itu," sahut pria berambut perak seraya berjalan masuk dan menghampiri Ranpo. Ia duduk di sisi meja telepon dan mengelus kepala anak itu.
Kunikida menarik napas dalam-dalam. Kalau ada saat yang tepat untuk memberi sebuah hadiah balasan, inilah saatnya. Tidak ada siapapun yang akan melihat. Bahkan Ranpo, sang pencetus ide sedang terlelap.
"Fukuzawa-san," sebut Kunikida sambil berjalan ke sisi tiang. Ia mengambil tas kertas bergambar kucing yang berada di lantai dan memberikannya pada pria itu. "Ini... ucapan terima kasihku atas syal yang kau berikan. S-selamat hari—," jeda sejenak karena Kunikida tidak mampu bicara sambil melihat mata Fukuzawa, "—kasih sayang."
Pria berambut perak itu tidak hanya meraih tas kertas, namun juga bangkit dan memegang pergelangan tangan Kunikida. Rasanya jantung si pirang hampir lepas karena terkejut dengan respons Fukuzawa.
"Maafkan aku yang terlalu pengecut" ucap pria itu sambil mengusap punggung tangan Kunikida. "Aku terlalu takut ditolak sampai tidak berani mengatakan apapun. Jadi bila harus menemani Ranpo patah hati hari ini, kurasa bukan masalah besar."
Lelaki pirang menatap Fukuzawa lekat-lekat, menunggunya selesai bicara. Tapi degupnya tetap saja tidak karuan. Kunikida sedikit banyak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Tapi ia tidak bisa membantu dirinya sendiri untuk tetap tenang.
"Aku menaruh hati padamu," sebut Fukuzawa sebelum mengecup dahi Kunikida singkat. Lelaki itu mematung setelahnya, tidak dapat memberikan respons apapun sampai Ranpo sudah berada dalam gendongan Fukuzawa.
"Kami harus pulang," pamitnya sembari berjalan keluar toko.
"Selamat hari kasih sayang juga." Kunikida mendengar suara pelan sebelum pintu toko ditutup kembali.
Pada akhirnya, hadiah haori dengan bordir kucing tidak sampai pada tangan sang penerima. Perasaan Kunikida juga masih belum tergambar dengan jelas.
.
.
.
To be continued
