Work Text:
Memasuki sekolah dasar, Edogawa Ranpo perlu lebih banyak hal yang dimiliki. Mulai dari mendaftar tahun ajaran baru hingga tas sekolah. Fukuzawa terpaksa merawat anak itu sejak kecil karena orangtuanya telah tiada. Pria berambut perak itu berteman baik dengan ayah dan ibu Ranpo sampai menawarkan diri untuk menjaga sang anak daripada mengirimnya ke panti asuhan. Tetapi mengurusi anak tanpa pengalaman memang terasa sangat sulit. Apalagi saat dilakukan seorang diri.
Pagi ini Ranpo bersiap ke sekolah. Fukuzawa sudah membelikannya tas bergambar kucing—entah anak berbaret coklat itu menyukainya atau tidak.
"Papa, di sebelah sekolahku ada toko permen. Aku ingin membeli banyak manisan," ungkap Ranpo sambil membuat gestur lingkaran dengan tangannya.
"Ini daftar yang kuinginkan," ucap anak itu lagi lalu menaruh selembar kertas di tangan Fukuzawa. Ia berkedip singkat sebelum berlari keluar rumah.
Pria berambut perak itu hanya bisa menghela napas pelan. Maksud dari kedipan itu adalah 'tolong bayarkan semua yang ada di daftar ini'. Iya. Ranpo sering melakukan itu sejak melihat gadis yang menggoda seorang pria di opera sabun. Fukuzawa tertidur di depan televisi dan lupa mematikannya—lalu Ranpo menyelinap ke ruang tengah untuk mencuri kesempatan.
Tapi kunjungan Ranpo ke toko permen sepulang sekolah memberinya begitu banyak berkah—terlepas berkurangnya penghasilan untuk membayar manisan anak itu. Ia bertemu dengan lelaki yang menawan. Tambahkan juga sifat pintar dan tegas dalam karakteristik menawan itu.
Dia, sang penjaga toko adalah seorang kutu buku. Fukuzawa tahu karena di sisi meja telepon selalu ada tumpukan buku—yang mungkin berasal dari perpustakaan kota. Saat ia dan Ranpo sedang berseteru tentang makan malam, lelaki itu lewat, menyapa sambil melambaikan tangan.
Fukuzawa langsung terdiam. Ia tidak ingin memberikan kesan buruk lagi setelah mengira lelaki itu menganggap rambut peraknya sebagai uban. Fukuzawa Yukichi sudah terlahir seperti ini. Dan saat bercermin, pria itu merasa cukup tampan dengan rambut perak.
Saat memasukkan Ranpo di sekolah dasar, Fukuzawa sudah berpikir untuk membiarkan Ranpo menghabiskan waktu di toko permen hingga sore. Tapi nyatanya malah ia yang berada di sana bahkan sebelum jam pulang sekolah.
Pria berambut perak itu menyukai kucing—walaupun tidak sebanyak ia menyukai kutu buku penjaga toko permen. Setidaknya dalam satu minggu, Fukuzawa menyempatkan setidaknya tiga hari untuk menghabiskan waktu sambil menunggu Ranpo pulang.
Ia akan membeli beberapa makanan laut kering—mungkin cumi atau ikan—atau mungkin permen bertali sebagai umpan menarik perhatian kucing berbulu putih. Tapi sayangnya usaha itu tidak berbuah. Tidak sepenuhnya.
Fukuzawa mungkin memang tidak berhasil menarik perhatian seekor kucing. Namun ia berhasil menggaet atensi hingga sang penjaga toko tersenyum saat menonton kegagalannya. Sayang, pria itu tidak bisa melihat dengan jelas. Ia terlalu malu.
Bahkan untuk menunjukkan diri dan menanyakan nama.
Ranpo yang berceletuk di tengah malam, saat Fukuzawa tertangkap basah membaca koran dalam kondisi terbalik. “Kunikida Doppo,” ucap anak laki-laki itu sembari sibuk menghabiskan sebatang cokelat. Fukuzawa balas menoleh heran, menatap Ranpo dengan penuh tanya.
“Namanya. Nama penjaga toko permen yang selalu Papa kunjungi sebelum menjemputku di sekolah.”
Fukuzawa hanya ber-oh ria. Anak kecil zaman sekarang sangat gemar ikut campur. Tapi diam-diam ia mengambil pena dan mencatat nama itu. Mungkin saja akan ia perlukan di masa depan.
.
.
.
Musim gugur berlalu dengan cepat. Kini salju telah turun di pinggir Tokyo. Cukup lebat untuk membuat sekolah Ranpo libur. Namun berbanding terbalik dengan kantor surat kabar yang semakin sibuk untuk membahas berita seputar musim dingin. Fukuzawa tidak lagi bisa mengunjungi sosok Kunikida Doppo sesuai keinginannya. Tapi itu merupakan kegiatan wajib bagi Ranpo—dengan stok makanan manis yang sudah tipis.
“Papa, aku ingin pergi ke toko permen. Temani aku,” mohonnya di suatu pagi.
“Tidak bisa,” sahut Fukuzawa, "aku sibuk."
Ranpo memasang wajah cemberut. Sekolahnya libur jadi tidak ada kesempatan untuk mampir ke toko permen. Ia harus membuat rencana dan pergi sendiri. Benar-benar sendiri karena Fukuzawa sedang banyak pekerjaan.
"Berikan aku uang," minta Ranpo sambil menarik-narik pakaiannya, "yang banyak."
Fukuzawa menghela napas sejenak, beranjak dari kursi, mengambil celengan kucing milik Ranpo, lalu menyodorkan benda itu ke tangannya.
"Pakai uang tabunganmu. Aku akan memberikan celengan yang baru di perjalanan ke kantor nanti.
"Apa Papa juga akan sekalian mengisinya?" tanya Ranpo dengan pandangan berbinar-binar. Pria rambut perak itu hanya tersenyum tipis dan mengusap kepala Ranpo sebagai balasan. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas dalam benak.
"Kapan kau akan pergi ke toko permen, Ranpo?" Ia bertanya sambil menyusun rencana.
"Siang ini."
"Bisakah kau pergi besok saja?"
Ranpo memicingkan mata, menerka-nerka apa yang akan pria itu lakukan dengan kepergiannya ke toko permen.
Tidak pernah sekalipun Edogawa Ranpo berpikir pria pengasuhnya menjadi sosok pemalu. Semalam ia menitipkan tas kertas—yang entah apa isinya—dan berpesan.
"Tinggalkan saja tas ini di toko permen. Jangan katakan apapun pada Kunikida-san. Kalau laki-laki itu bertanya kenapa aku tidak pernah ke sana lagi, jangan katakan apapun juga atau aku tidak akan memberimu uang saku lagi."
Uang saku adalah hal yang sangat penting, terlalu penting untuk Ranpo relakan. Ia tidak punya pilihan selain bertingkah sok misterius seperti yang Fukuzawa suruh.
.
.
.
Tahun berganti dengan timbunan pekerjaan. Fukuzawa ingin sekali mengekor Ranpo dan bertemu dengan Kunikida lagi, setidaknya untuk melihat bagaimana keberadaan syal yang pria itu berikan di awal musim dingin.
Perasaan ini murni penasaran. Bukan sesuatu yang—entahlah. Semakin Fukuzawa mengelaknya, semakin terasa janggal. Baiklah. Ia mengakuinya. Ia mengaku penasaran apakah Kunikida menyukai hadiahnya. Fukuzawa ingin tahu apakah lelaki itu menggunakan syal hadiahnya setiap pagi atau setiap malam. Ia ingin tahu bagaimana Kunikida memperlakukan hadiah musim dinginnya.
Lamunan pria itu terhenti saat Ranpo muncul di depan mata.
"Papa, ayo pergi ke kuil," ajak anak itu dengan nada dan gestur memaksa.
"Baiklah. Besok kita ke kuil," sahut Fukuzawa sambil memegang koran hari ini. Ranpo masih berdiri di depannya, belum beranjak bahkan setelah pria itu mengiyakan permintaan barusan.
"Papa ingin kekasih yang seperti apa?"
Fukuzawa berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ranpo. "Aku ingin seseorang yang tegas dan perhatian, seseorang yang bisa menceramahimu saat membuat kesalahan agar aku tidak perlu melakukan apapun."
"Apa orang itu juga memakai kacamata dan suka meminjam buku di perpustakaan?"
"Lebih baik begitu," sahut pria berambut perak sembari lanjut memperhatikan tinta di atas cetakan kertas.
"Papa," interupsi Ranpo seraya menarik-narik ujung koran.
Fukuzawa menarik napas dalam-dalam, menelan kembali amarah yang hampir lepas karena anak ini terus mengganggunya. Pria itu menurunkan koran dan menatap Ranpo yang sedang tersenyum lebar.
"Apa lagi?" tanyanya jengah.
"Koran Papa terbalik."
.
.
.
Semalam untung saja Ranpo tidak jadi terkena pelampiasan amarah. Fukuzawa hanya mengabaikan anak itu dan menyuruhnya sikat gigi sendiri sebelum tidur. Ranpo agak takut bila berada di kamar mandi seorang diri—karena ia pernah membaca sebuah cerpen horor pada halaman belakang koran. Jadi hukuman itu sudah Fukuzawa rasa sudah cukup untuk memberi tahu bahwa ia sedang marah.
Tapi besok paginya semua kembali seperti biasa dan mereka berdua pergi ke kuil bersama, menyalakan dupa, berdoa, lalu mengambil undian keberuntungan. Dan terakhir, sebelum keduanya menikmati soba tahun baru, Ranpo berteriak menyapa seseorang.
“Kunikida-san!”
Fukuzawa mendadak bisu ketika orang yang anak itu sapa malah berjalan mendekat. Berita baiknya, Kunikida sekarang mengenakan syal yang ia berikan. Berita buruknya, Fukuzawa terlalu gugup untuk mengatakan sesuatu. Sekarang pria itu malah hanya menatap syal putih di leher Kunikida seolah menginginkannya kembali.
“Fukuzawa-san sudah lama memberinya dan aku belum mengucapkan terima kasih. Maafkan aku.” Ekspresi lelaki itu tampak terbebani. Fukuzawa merasa amat bersalah karena semua kata yang harusnya terucap malah tercecer di dalam kepala.
Ranpo mengambil alih situasi, “Tidak apa, Kunikida-san. Papa juga yang bilang tidak ingin bertemu denganmu. Jadi tidak perlu minta maaf.” Ia sangat membantu. Di saat yang sama juga membuat posisi Fukuzawa tersudutkan.
“B-bukan begitu maksudku, Ranpo—,”
Usaha untuk menjelaskannya terpotong karena Ranpo malah bicara lagi. “Apa Kunikida-san memiliki acara setelah kembali dari kuil?”
Tunggu. Apa Ranpo ingin mengajak Kunikida makan soba tahun baru bersama?
“Tidak,” sahut lelaki pirang.
“Bagus. Ayo makan soba bersama-sama.”
Prediksi Fukuzawa benar. Dan ia berjalan di belakang keduanya dengan hati riang. Walaupun tingkah Ranpo sangat menyusahkan, tapi ternyata ia sangat tahu caranya berterima kasih. Fukuzawa agak bersyukur karena itu.
Mungkin tidak juga. Fukuzawa sangat bersyukur. Sangat bersyukur hingga ia menjadi yang tercepat untuk menghabiskan soba di antara mereka bertiga. Ranpo masih berkutat dengan sumpit. Anak itu sudah bisa makan sendiri walaupun waktu yang ia butuhkan cukup lama. Sedangkan, Kunikida Doppo, ia menikmati makanannya dengan tenang, teratur, dan elegan. Fukuzawa bisa berlama-lama memperhatikan tangan itu tanpa merasa bosan.
Tapi kemudian pria itu menghentikan kegiatan memperhatikan tangan Kunikida. Sang empunya sekarang mendongak dan balas menatapnya, bertanya-tanya. Fukuzawa menjadi lebih gugup, jauh lebih gugup dibanding saat berpapasan di depan kuil tadi. Jadi sekarang ia memeras isi kepalanya sendiri dan mencari topik apapun yang bisa dikatakan sekarang.
“K-kau menghabiskan tahun baru seorang diri?” tanya Fukuzawa. Itu pertanyaan bodoh. Jelas-jelas Kunikida pergi ke kuil seorang diri. Kenapa ia masih bertanya lagi?
Tapi lelaki itu, dari sorot matanya, sama sekali tidak menganggap bodoh pertanyaan tadi. Dengan nada antusias, Kunikida membeberkan seluruh rencana tahun barunya pada mereka berdua.
“Aku akan mengunjungi orangtuaku besok. Toko akan tutup selama beberapa hari," balasnya kemudian menoleh pada Ranpo, "kalau ingin membeli persediaan makanan manis, kau bisa mengunjungi toko setelah ini, Ranpo.”
Ekspresi anak itu berubah panik. Ia langsung meninggalkan sumpitnya di atas mangkuk soba dan menatap Kunikida. "Berapa sisa uangku di celengan?"
Yang ditanyai dengan tenang menyahut, "Tujuh ratus dua puluh yen."
"Untuk sehari di masa liburan tidak akan cukup," gumam Ranpo sambil bepikir. Fukuzawa memandangi interaksi mereka berdua, menerka ke mana arah pembicaraan ini.
"Aku butuh dua kotak permen jeruk, tiga kaleng permen, sepuluh bungkus cokelat tahi..."
Yang benar saja. Fukuzawa tahu tingkat toleransi anak itu terhadap manisan sangat tinggi. Tapi ini terlalu berlebihan. "Aku bisa miskin di awal tahun," gerutu pria berambut perak itu sambil meraba kantung koin yang ia bawa.
Kunikida tanpa diduga bangkit bicara. Sembari menatap Ranpo dengan sorot tajam bercampur khawatir, "Hanya tiga hari, Ranpo-kun. Jangan membeli terlalu banyak. Nanti gigimu berlubang."
Fukuzawa tertegun. Ia belum pernah mendengar orang lain menceramahi Ranpo. Anak yang gemar memakai baret coklat itu selalu memasang topeng yang ramah pada semua orang. Terkadang, alih-alih menganggapnya boros, orang di sekitar Fukuzawa akan menyebutnya pintar karena berani menyuarakan apa yang ia inginkan tanpa merengek. Tapi itu sama saja. Keduanya sama-sama bisa membuatnya miskin.
Kunikida Doppo benar-benar berbeda.
"Kunikida-san, jangan menceramahiku terus. Kau membuat Papa semakin ingin menjadikanmu kekasihnya."
Ucapan tadi membuyarkan pikiran Fukuzawa. Ia langsung menatap Ranpo, melempar sorot geram seperti akan marah besar. Tapi tanpa sadar pipinya juga terasa panas. Ranpo benar-benar menyebalkan.
"A-apa?" Kunikida terkejut. Ekspresinya tampak seperti campuran perasaan ragu dan bingung. Kelihatan tidak nyaman.
"Aku kelepasan," gumam anak berbaret coklat. Kemudian ia dengan cepat menambahkan, "Tapi tidak apa-apa. Aku merestui hubungan kalian."
"Ranpo," tegur Fukuzawa. Ia tidak mungkin membiarkan anak itu bicara terus dan membeberkan semua perasaan yang ia pendam. Ranpo harus segera menyudahi kelepasannya.
"Tadi aku janji bertemu dengan Yosano di luar kuil. Aku tidak akan hilang. Sungguh. Kalian berdua di sini saja." Anak itu pergi dengan alibi yang asal. Fukuzawa tahu Yosano, gadis kecil yang disukai Ranpo, tidak ada di luar kuil. Tapi ia menghargai bagaimana anak itu berusaha menyediakan tempat baginya dan Kunikida untuk meluruskan kelepasan tadi.
Dengan segera Fukuzawa membuka obrolan, berusaha mencairkan suasana. "Ranpo mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Maaf bila membuatmu kurang nyaman," ujarnya kemudian berdehem sembari memikirkan ucapan selanjutnya.
"Sejujurnya, aku belum siap membuat komitmen dengan orang baru," cetus pria berambut perak. Sungguh kalimat yang buruk untuk mencairkan suasana.
Sangat buruk hingga Fukuzawa ingin menghilang saja dari hadapan lelaki menawan ini.
Tapi di luar dugaan, Kunikida malah memberi respons hangat. "Membuat komitmen tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku juga kesulitan tentang hal itu. Saat mengunjungi orangtua besok, aku yakin mereka akan bertanya, 'Apakah kau sudah memiliki seorang kekasih sampai tidak pernah pulang?' Dan aku akan menjawab, 'Ya. Aku baru saja bertunangan dengan selusin buku dari perpustakaan.' Sangat menyedihkan."
Ia bicara panjang lebar, mencairkan situasi yang masih membeku dan dingin. Senyumnya membuat pria berambut perak itu terpana, terpaku hanya menatap figur yang begitu tegas dan kuat.
Sedetik kemudian, Fukuzawa mengerjap pelan. Rasa gugup tiba-tiba saja datang ke dalam benaknya. Astaga, apa ia pantas berharap untuk bisa bersanding dengan seorang Kunikida Doppo?
"K-kau tidak menyedihkan. Memiliki hobi membaca buku bukanlah hal buruk," ucapnya gagap. Tapi apa yang terlontar barusan adalah sebuah kebenaran. Kunikida bukan seseorang yang menyedihkan. Dan Fukuzawa sangat menyukai seorang kutu buku, terutama yang berkacamata dan bekerja di toko permen.
Namanya Kunikida Doppo—seseorang yang tengah menggenggam cangkir teh dan membalas tatapan terpana Fukuzawa.
"Terima kasih," sebutnya pelan.
"Kau orang yang baik. Suatu hari, dengan seseorang di luar sana, Fukuzawa-san pasti bisa membuat komitmen itu. Aku yakin."
Fukuzawa juga yakin. Ia hanya butuh banyak waktu untuk mempersiapkan hati, banyak sekali waktu sebelum berani mengungkapkan perasaannya.
.
.
.
Awal tahun masih menjadi momen-momen sibuk. Fukuzawa sudah memantapkan tekad untuk menyatakan perasaan pada Kunikida Doppo. Tapi tidak ada waktu yang tepat untuk melakukannya. Setiap ia ingin menjemput Ranpo dari sekolah, pasti sudah ada tenggat waktu tulisan lain yang harus pria itu kerjakan.
Terkadang Ranpo tampak bingung sendiri melihat betapa sibuknya sang ayah asuh. Tapi ia cukup pintar untuk mengerti. Malahan untuk mendukung pekerjaan Fukuzawa, Ranpo sempat mencetuskan ide pulang sendiri. Ide itu ditolak mentah-mentah karena Fukuzawa khawatir bila terjadi sesuatu. Meskipun Ranpo pintar, ia tetaplah masih anak-anak.
Pria itu memutuskan untuk menjemputnya pulang—dengan catatan Ranpo harus menunggu di depan sekolah. Jadwal untuk membeli permen berganti menjadi sebelum mulai sekolah, bukan lagi sepulang sekolah. Tapi Fukuzawa setuju-setuju saja untuk mengantar Ranpo lebih pagi.
Sampai suatu hari di bulan kedua, anak itu memohon, "Hari ini Papa harus menjemputku di toko permen. Tapi setelah pekerjaan selesai."
"Kenapa?" tanya Fukuzawa bingung. Apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini?
Ketika melihat kalender, pria itu menjadi paham. 14 Februari adalah hari kasih sayang. Mungkin saja Ranpo memiliki agenda untuk menyatakan perasaan pada Yosano. Walau tidak pernah bilang apa-apa, Fukuzawa cukup peka.
"Oke. Kau mau merayakan hari kasih sayang?" goda pria itu dengan pandangan masih terfokus pada koran baru.
"T-tidak."
Kalau balasannya terbata-bata, berarti Ranpo berbohong. Tapi Fukuzawa maklum saja. Mungkin anak itu malu untuk bilang karena ia sendiri bahkan juga tidak berani untuk bicara dengan—
Tunggu. Mengapa pikiran Fukuzawa malah menyindir diri sendiri?
"Pokoknya, pergi saja ke toko permen. Tidak usah mencariku di sekolah," minta anak itu sambil menarik-narik yukatanya.
Fukuzawa tidak berniat untuk menolak. Karena ke toko permen sama saja dengan melihat orang yang ia suka lagi.
"Iya. Iya. Nanti aku ke sana."
.
.
.
Sambil mengatur ekspresi agar tidak terlalu banyak tersenyum saat melihat Kunikida, Fukuzawa Yukichi pergi ke toko permen. Sudah hampir sore ketika ia tiba di sana. Dan pintunya tertutup.
"Permisi," serunya dari luar.
Tidak butuh waktu lama bagi sang penjaga toko untuk keluar dan menyambut. Pria berambut perak terdiam sejenak. Ia sudah lama tidak melihat wajah Kunikida dan siapa sangka jantungnya berdegup cepat.
"Ranpo di sini?" tanya Fukuzawa. Itu pertanyaan yang wajar. Tapi nada yang ia lontarkan terdengar berlebihan, seperti dikejar setan.
"Iya," sahut Kunikida lembut dan pelan, "sesuatu terjadi hari ini. Jadi ia merasa lelah."
Lelaki itu rupanya biasa-biasa saja. Tapi bagian 'sesuatu' yang disebut Kunikida tadi meninggalkan rasa penasaran. Fukuzawa mengernyitkan dahi, menduga sebuah peristiwa besar baru saja terjadi selama ia bekerja.
"Aku akan cerita, tapi berjanjilah kau tidak akan memberitahukannya pada anak itu," balas Kunikida.
Semakin lelaki itu bicara, semakin yakin pula bahwa sesuatu yang terjadi sangatlah besar. Mungkin sebuah masalah yang membuat suara Ranpo tidak terdengar dari dalam toko permen. Ke mana dia?
Fukuzawa segera mengangguk agar Kunikida lekas menceritakan sisanya.
"Dia baru ditolak seorang gadis," sebut lelaki pirang dengan nada berbisik.
Sudah ia duga. Ranpo bukanlah tipe pacar idaman. Ia banyak bicara dan sok tahu.
"Yosano?" tanya Fukuzawa lalu dijawab dengan anggukan. Bila ada di posisi Yosano, ia juga sudah pasti akan menolak pernyataan cinta anak itu.
Tapi satu hal yang Fukuzawa sadari detik setelahnya adalah bahwa sekarang Ranpo tengah berbaring di belakang meja telepon—dengan selimut tebal. Dari jauh matanya tampak sembab karena habis menangis. Mungkin.
Pria itu tersenyum hangat. Kunikida pasti sangat perhatian pada Ranpo sampai merawatnya seperti itu. Ia merasa bahagia.
"Apa kau langsung ingin membawanya pulang?" celetuk lelaki pirang.
Benar juga. Tujuannya kemari adalah untuk menjemput Ranpo. Ia tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama dan melupakan pekerjaannya.
"Harusnya seperti itu," sahut Fukuzawa sembari berjalan masuk. Ia duduk di depan meja telepon, mengulurkan tangan dan mengelus-elus kepala Ranpo. Saat tidur, ia tidak tergoyahkan. Tidak akan bangun sebelum diguyur seember air. Tapi berpikir bahwa Kunikida adalah orang yang menidurkannya, Fukuzawa rasa tidak perlu cepat-cepat membangunkan Ranpo.
"Fukuzawa-san," panggil Kunikida seraya menghampiri. Pandangan pria rambut perak terfokus pada mata hingga tidak menyadari sesuatu tengah berada di tangan si pirang.
"Ini... ucapan terima kasihku atas syal yang kau berikan. S-selamat hari—," sebut lelaki itu kemudian memalingkan wajah, "—kasih sayang."
Apa ini alasan mengapa Ranpo memintanya datang ke toko permen? Karena Kunikida hendak memberinya hadiah?
Tunggu. Hadiah?
Fukuzawa panik. Biasanya dalam situasi ini, ada Ranpo yang akan membantu. Entah menyindir dengan kata-kata atau gestur. Tapi anak itu terlelap sekarang. Tanpa berpikir panjang, Fukuzawa bangkit dan menyambut tangan Kunikida. Ia mengambil tas hadiah yang diulurkan lalu menaruhnya ke sisi Ranpo.
Padahal Kunikida tidak perlu memberikan apapun sebagai balasan syal. Fukuzawa murni memberikannya karena ingin, karena ia tertarik pada lelaki itu. Fukuzawa tidak perlu sebuah balasan. Si pria hanya ingin menunjukkan bahwa ada timbunan rasa sayang yang harus dilepaskan dari dalam hatinya.
Sekarang. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan itu.
"Maafkan aku yang terlalu pengecut," aku pria itu sambil mengusap-usap punggung tangan Kunikida. Jantung Fukuzawa berdegup kencang, yang paling kencang seumur hidupnya.
"Aku terlalu takut ditolak sampai tidak berani mengatakan apapun. Jadi bila harus menemani Ranpo patah hati hari ini, kurasa bukan masalah besar."
Benar. Fukuzawa hanya ingin menyukai Kunikida Doppo. Sekalipun kisah cintanya akan berakhir ditolak seperti Ranpo, bukan masalah baginya. Pria itu hanya harus mengatakannya sekarang atau tidak akan ada kesempatan yang lain.
"Aku menaruh hati padamu," ucapnya sembari menatap manik zamrud Kunikida. Atmosfer di dalam toko permen berubah teduh, sebuah suasana yang menuntut pria itu untuk berbuat lebih.
Lalu dengan mengusir keraguan jauh-jauh dari hati, ia mendaratkan sebuat kecup singkat pada dahi lelaki itu. Tidak peduli bila nanti akan dikatai lancang. Fukuzawa tidak ingin membuang waktu. Ia ingin mengungkapkan semuanya sekarang.
Tapi setelah kecupan tadi, Kunikida bergeming di tempat. Ia tidak menjawab apapun. Ekspresinya tampak begitu terkejut dengan afeksi mendadak barusan.
Fukuzawa menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah mundur. Sepertinya ini terlampau cepat sampai Kunikida tidak dapat merespons.
Pria itu menyingkirkan selimut dari tubuh Ranpo dan menggendong tubuhnya. Ia harus pamit sebelum terjadi sesuatu yang buruk
"Kami harus pulang," sebut Fukuzawa seraya berjalan keluar toko.
Terakhir, sebelum menghilang dari balik pintu, tak lupa ia balas berucap, "Selamat hari kasih sayang."
.
.
.
Ranpo baru bangun setelah matahari terbenam. Itu pun atas paksaan Fukuzawa karena dia harus mandi dan berganti baju. Biasanya Ranpo akan berisik saat mandi. Entah menceritakan harinya di sekolah atau sekadar mengungkapkan jenis makanan manis apa saja yang ingin dia beli. Tapi hari ini sesi mandi mereka hening. Hanya suara air yang mengisi ruangan itu.
Setelah mandi, maka saatnya makan malam. Fukuzawa membeli dua set bento sepulang dari toko permen. Ranpo masih urung bicara. Ia menyumpit tempura dan salad dalam diam.
Sampai pria berambut perak itu jengah.
"Tidak ingin bercerita tentang sekolah?" Fukuzawa bertanya duluan. Ranpo menjawab dengan gelengan kepala.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi," ujar Fukuzawa lagi berusaha sibuk dengan makanannya. Tapi sesekali pria itu tetap melirik Ranpo. Mungkin saja dia berubah pikiran dan ingin bicara sesuatu.
Mereka menyudahi sesi makan malam—masih dalam keheningan— lalu pergi ke ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Di sana Ranpo tidak bicara apapun. Ia sibuk membersihkan sisa-sisa kecil sayuran yang terselip di gigi.
Baru setelah mereka sampai di depan kamar, Ranpo mengucap sebuah kalimat.
"Papa, aku ingin bolos besok." Dan pintunya ditutup sebelum Fukuzawa sempat mengatakan sesuatu.
Patah hati Ranpo pasti sangat amat berat.
Keesokan harinya, Fukuzawa memenuhi permintaan Ranpo untuk membolos. Tapi ia hanya mengizinkannya untuk satu hari. Besoknya lagi, anak itu harus tetap masuk. Ia tidak boleh putus sekolah hanya dengan alasan seremeh patah hati. Lain hari pasti akan ada pengisi hati yang lain. Tidak harus Yosano. Fukuzawa sebenarnya ingin mengatakan semua itu. Tapi ia tidak ingin terlalu banyak menceramahi Ranpo.
Pada tidur selanjutnya, Fukuzawa ikut berbaring di sisi anak itu, memeluknya sepanjang malam. Meskipun Ranpo tidak bicara apapun, dalam lelap ia terisak, menarik pakaian Fukuzawa dan meneteskan air mata.
"Tidurlah, Ranpo," sebut pria berambut perak itu sembari mengelus-elus punggung. Ia sudah benar-benar terbang ke alam mimpi. Bisikan sekalipun tidak mengusik mata yang terpejam.
Fukuzawa tersenyum hangat, mengingat-ingat pengungkapan perasaan mendadaknya kemarin. Kunikida tidak bicara apapun. Malahan lelaki itu hanya bergeming di tempat saja.
Apa mungkin Kunikida Doppo menolaknya? Fukuzawa tahu ia tidak mengharapkan imbalan. Tapi jika ditolak dan patah hati seperti Ranpo yang sedang tidur, rasanya akan tetap sakit.
"Jangan terlalu larut dalam patah hati, anakku," bisiknya sambil mengusap puncak kepala Ranpo, "biar aku saja yang patah hati."
.
.
.
Bolos untuk sesekali bukanlah hal besar. Tapi di hari kedua setelah patah hati ini Ranpo yang seharusnya masuk sekolah malah jatuh sakit. Ia demam, menolak untuk makan apapun. Fukuzawa sampai lelah untuk membujuk anak itu. Terakhir ia sempat memakan setengah sendok makan bubur, tapi kemudian muntah. Setelah itu Ranpo tidak mau makan apa-apa lagi.
Fukuzawa sudah menghubungi kepala sekolah pagi ini, jadi urusan bolos tidak lagi menjadi masalah. Sekarang pria itu harus memfokuskan diri membujuk Ranpo makan.
"Muntah atau tidak, kau harus tetap makan," ujar Fukuzawa masih membawa semangkuk bubur, menyendok sedikit, lalu menyodorkannya ke depan mulut Ranpo.
"Makan."
"Tidak enak. Aku mau yang manis tapi menelan ludah saja rasanya sudah pahit," keluh anak itu sambil cemberut.
Fukuzawa mendengus pelan di tempatnya. "Itu karena kau sakit," balas si pria sambil menyodorkan sesendok bubur lagi ke depan mulut Ranpo, "makanya makan sesuatu agar cepat sembuh."
Ranpo menerima suapan itu dengan setengah hati. Rongga mulutnya terasa panas dan tidak enak untuk makan apapun. Ia benci sakit.
Suara bel menginterupsi makan siang. Fukuzawa menaruh mangkuk dan sendok di atas meja lalu berjalan menghampiri pintu. Ketika menggeser, ia menemukan seseorang tengah berdiri di depan rumah, penjaga toko permen yang ia kecup dahinya dua hari yang lalu.
"Permisi, Fukuzawa-san," sapa Kunikida Doppo, "maaf bila kami menggangu."
Tidak. Tidak akan pernah menganggu.
"Yosano-chan mengajakku kemari untuk menjenguk Ranpo," sebut si pirang. Di bawah, Fukuzawa melihat seorang gadis kecil mengintip dari balik pintu. Ekspresinya menunjukkan rasa khawatir.
Mengejutkan. Fukuzawa pikir setelah menolak pernyataan cinta, anak itu tidak akan peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Ranpo. Tapi yang ia lihat sekarang adalah perhatian yang manis. Di tangan Yosano ada sebungkus makanan manis. Anak kecil mungkin kurang tahu saat sakit lidah tidak dapat mencecap dengan baik. Tapi yang Yosano pikirkan saat membawa makanan manis itu adalah bahwa mereka makanan kesukaan Ranpo.
"Papa Ranpo, apa Ranpo di dalam?" tanya gadis kecil itu sembari menarik-narik pelan yukata.
"Dia di dalam. Masuklah," sambut Fukuzawa mempersilakan Yosano melangkah masuk. Kunikida juga ikut berjalan ke dalam rumah, mengekor di belakang gadis itu.
Ranpo yang semua berbaring lemah, bangun karena kedatangan gadis yang disukainya. Padahal Yosano juga yang membuat anak itu bersedih sampai sakit.
"Ranpo," sebut si gadis seraya duduk di pinggir ranjang, "kenapa Ranpo tidak masuk sekolah?"
Kedua mata lelaki kecil itu membulat sempurna. Sambil masih menatap Yosano, ia berkaca-kaca. "A-aku sedang sakit. Kenapa Yosano di sini? Kamu tidak sekolah juga?"
Sebagai balasan gadis itu tersenyum. Ia meraih tangan Ranpo dan mengelus-elusnya. "Aku sudah pulang dari sekolah. Kunikida-san yang mengantarku ke sini."
Sejenak hening selama setelah mereka berbasa-basi. Fukuzawa dan Kunikida mengintip dari balik pintu, memperhatikan betapa lucunya interaksi dua bocah itu.
"Ranpo," Yosano yang memulai pembicaraan lagi, "maaf aku menolak jeli aprikot kemarin." Ia menundukkan kepala sementara Ranpo tiba-tiba terisak. Laki-laki itu pasti mengingat betapa sakitnya ditolak.
"J-jangan menangis, Ranpo," tahan Yosano sambil mengguncang pundak teman satu sekolahnya itu, "aku ingin bilang kalau ibuku belum mengizinkan aku pacaran."
"Aku baru boleh melakukannya besok saat sudah besar. Kalau sekarang masih belum boleh."
Fukuzawa mati-matian berusaha menahan tawa dari balik pintu. Pikiran Ranpo memang terlalu besar untuk anak sekecil dirinya.
"Kalau sudah besar nanti, aku pasti mau menjadi pacarmu."
Ketiga orang selain Yosano di dalam rumah itu tertegun atas pernyataan tadi. Ranpo, karena ia tahu dirinya tidak benar-benar mengalami penolakan. Lalu Fukuzawa dan Kunikida, karena anak sekecil Yosano bisa mengatakan perasaan semudah itu.
Kunikida menutup pintu kamar dan bersandar di sisi pintu. Ia urung menatap Fukuzawa—mungkin karena mengingat pernyataan cinta dua hali yang lalu. Astaga, Fukuzawa juga malu mengingatnya. Pria itu ikut mundur, mengusap-usap tengkuk sendiri sebelum bicara, "Ingin kubuatkan teh?"
Hanya itu yang bisa terlintas di dalam kepala. Fukuzawa sebenarnya juga bingung dengan diri sendiri. Mengapa mendengar pengungkapan perasaan anak kecil membuat hati pria itu terketuk? Apa ia sedang mengharapkan hal yang sama dari Kunikida?
"Tidak usah. Kami hanya mampir sebentar. Aku berjanji mengantar Yosano pulang sebelum sore," tolak si pirang.
Di tengah percakapan canggung itu, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Yosano kecil berjalan keluar dengan raut senang. "Kunikida-san, ayo pulang. Ibuku pasti sudah khawatir."
Dengan senyum lembut, Kunikida mengiyakan. Lelaki itu meraih tangan Yosano dan menggandengnya keluar rumah. Fukuzawa mengekor di belakang, menghantar kepergian mereka berdua.
"Kami harus pulang," pamit Kunikida sembari berbalik badan. Manik zamrudnya menatap Fukuzawa lurus-lurus.
"Papa Ranpo," celetuk Yosano, "suruh Ranpo makan yang banyak agar dia cepat sembuh." Gadis itu ternyata sangat perhatian. Ranpo tidak pernah cerita bahwa ia menyukai seseorang yang amat manis.
"Aku sudah menyuruhnya makan banyak dari tadi pagi. Terima kasih," balas Fukuzawa kemudian beralih lagi pada lelaki pirang pujaan hatinya. Kunjungan mereka sungguh singkat. Pria rambut perak itu ingin sekali menahan jika tidak ingat bahwa ada Yosano yang perlu diantar pulang dengan selamat.
"Yosano-chan, bisa tunggu di sini sebentar?" tanya Kunikida tiba-tiba. Gadis itu mengangguk setuju dan membiarkan si pirang masuk kembali ke rumah—sambil menarik tangan Fukuzawa.
Mereka berjalan hingga ruang tamu. Kunikida mengedarkan pandang ke sekitar, seolah sedang memastikan sesuatu. Dan hal yang dilakukan lelaki itu setelahnya membuat Fukuzawa bergeming, berdiri diam sampai Kunikida tidak lagi terlihat di pekarangan karena sudah pulang bersama Yosano.
Ia dikecup. Di bagian pipi. Lalu Kunikida dengan malu-malu berbisik, "Sampai jumpa lain waktu."
Ternyata seperti ini rasanya dikecup oleh orang yang disukai. Sejenak, Fukuzawa seolah berhenti memikirkan apapun. Pria itu baru sadar beberapa menit kemudian. Lalu segera berlari keluar rumah. Tapi si pemberi kecupan tentu saja sudah tidak terlihat lagi.
Di sela penyesalan karena tak sanggup berkata apapun, Fukuzawa menemukan sebuah tas kertas bergambar kucing di balik pintu. Ia membuka isinya dan menemukan sebuah haori dengan bordir kucing putih, jus lobak pereda demam, dan sebuah surat panjang.
Fukuzawa membuka surat itu, membaca isinya di teras rumah.
'Ini barangmu yang tertinggal di toko permen. Aku ingin mengatakannya tempo hari tapi sayangnya tak sanggup. Aku membeli jus lobak di jalan. Rasanya manis karena ditambah madu. Berikan pada Ranpo agar cepat sembuh.
Terakhir, untuk menjawab pernyataan Fukuzawa-san saat itu, aku tidak yakin bisa mengungkapkannya hanya lewat surat. Kupikir melakukan sesuatu secara langsung akan jauh lebih baik. Jadi, jika aku melakukan sesuatu padamu sebelum memberikan bingkisan ini, anggaplah aku siap untuk membuat komitmen denganmu.'
.
.
.
The End
