Actions

Work Header

luka tak pernah berbicara

Summary:

Shin Yoosung melihat luka di sepasang mata Yoo Joonghyuk.

Notes:

haiiii! niatnya mau lanjut seri old married couple, tapi juga gatel pengen bikin joongdok dari sudut pandang shin yoosung hahaha. ini kebanyakan headcanon, ceritanya bakal maju-mundur dan ga ada tanda(?), jadi maafkan kalau bikin bingung :") kebiasaan sukanya bikin timeline ngacak, sobs. happy reading!
.
Omniscient Reader’s Viewpoint (c) Sing-Shong.
tidak ada keuntungan komersil macam apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Shin Yoosung melihat luka di sepasang mata Yoo Joonghyuk.

Tidak tahu lebih tepatnya kapan, tapi Shin Yoosung mulai menyadari rutinitas yang pria itu lakukan akhir-akhir ini. Sewaktu senja mulai menjelang dan dia akan berkunjung ke rumah sakit, saat Shin Yoosung mendapat giliran untuk membesuk Kim Dokja di hari yang sama dan siapa sangka kalau orang yang muncul di balik pintu bangsal itu adalah Yoo Joonghyuk.

Sejenak mata mereka saling bertemu, namun tak ada verba yang meluncur dari mulut masing-masing. Shin Yoosung bisa kebingungan mencari topik selain bertanya kabar atau salam sapa kecil, dan Yoo Joonghyuk juga tak pernah memaksakan diri untuk mencari obrolan. Terkadang mereka akan duduk bersisian, terkadang berseberangan terpisah oleh ranjang Kim Dokja, terkadang juga Shin Yoosung sibuk berceloteh panjang lebar sembari menggenggam salah satu tangan Kim Dokja sementara Yoo Joonghyuk memilih berdiri di dekat jendela.

Hari ini Gilyoung-ah mulai berulah lagi; Jihye-unnie habis terpeleset dan nyaris tercebur ke kolam lho; aku dan Sangah-unnie baru saja belanja, lain kali Ahjussi harus ikut bersama kami. Dan di antara setiap tutur kata yang ia ucapkan itu, tak sekali pun Yoo Joonghyuk protes atau merasa terganggu.

Akan ada masa ketika rasa rindu yang menyusup dalam hatinya membuat Shin Yoosung tersiksa. Walau kerap disimpan jauh-jauh dan berusaha lekas ia lupakan, Shin Yoosung tetap kesulitan bertahan. Jadi ia akan menangis sambil mengulang kalimat serupa; Ahjussi … aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Yang ia sendiri pun tak tahu apakah perasaannya bisa menyentuh Kim Dokja.

Lihat bagaimana dulu ia yang disebut sebagai bencana kini benar-benar terlihat seperti manusia seutuhnya. Rapuh dan hancur berkeping-keping. Lihat juga bagaimana ia melakukannya di hadapan Yoo Joonghyuk (padahal selama ini Shin Yoosung berusaha kelihatan baik-baik saja di depan Lee Gilyoung, Yoo Sangah, atau Lee Jihye). Tapi begitu merindu ternyata bisa sangat menyakitkan, Shin Yoosung membuang ego dan membiarkan diri hilang kendali.

Ia juga tidak berharap Yoo Joonghyuk akan memberi kata-kata manis atau penyemangat.

Akan tetapi alih-alih pergi meninggalkan Shin Yoosung seorang diri, pria itu akan duduk di sampingnya dan menunggu. Tidak berusaha membuat tangisnya berhenti, tidak juga bertanya lebih jauh. Shin Yoosung bisa melihat bagaimana kesepuluh jemari itu terkepal erat hingga buku-bukunya memutih, terkulai di sisi tubuh. Shin Yoosung, tanpa perlu berpikir dua kali, bertindak secara impulsif. Ia menitik jari telunjuk dan jari tengah di atas punggung tangan Yoo Joonghyuk, sekilas merasakan goret luka yang telah lama mengering dan meninggalkan bekas permanen. Semata-mata berharap pucat di antara buku-buku jari Yoo Joonghyuk bisa rileks meski sesaat.

Selang sekon kemudian dan tak ada tepisan dari Yoo Joonghyuk, Shin Yoosung mendongak.

Ia sadar bahwa luka di sepasang matanya adalah nyata.

.

Suatu waktu, suatu ketika Shin Yoosung lebih banyak menghabiskan waktu berlatih bersama Yoo Joonghyuk (masa di mana keberadaan Kim Dokja—lagi-lagi—lenyap bagai ditelan bumi), ia menyadari terdapat satu momentum yang tidak luput dalam diri pria itu. Seringkali terjadi pada saat rentang waktu istirahat, saat mereka mengasingkan diri dari keramaian padat khalayak dan memilih hutan dengan jejeran pohon besar juga danau yang jernih. Setelah napas nyaris habis karena kelelahan. Ia biasa mendapati Yoo Joonghyuk berdiri di tepi danau, bergeming dan sesekali kepalanya akan menengadah ke arah langit. Entah itu pagi atau sore, tapi yang lebih menarik perhatian Shin Yoosung adalah sewaktu langit berubah sepekat suspensi hitam dan kerlap-kerlip cantik bertaburan acak. Mungkin Yoo Joonghyuk sedang menebak bintang pertama, ia pikir. Menghitung gugus yang tak akan ada habisnya dalam bentuk milky way.

Atau juga, pikir Shin Yoosung sendu, mungkin Yoo Joonghyuk berusaha menemukan satu-satunya bintang yang selama ini dia cari dan dia panggil walau hasilnya lagi-lagi nihil.  

Suatu waktu, suatu ketika mata Shin Yoosung jatuh memandang punggung Yoo Joonghyuk yang terasa begitu jauh itu, ia seolah melihat satu sosok lagi berdiri tepat di sampingnya.           

Seorang pria berjas putih dan ponsel di satu tangan.

.

Shin Yoosung kehilangan hitungan waktu dan berapa lama lagi ia perlu menanti seseorang yang entah kapan akan kembali. Saat kuncup bunga di musim semi mulai gugur menjadi oranye, lalu suhu panas berganti menjadi titik-titik salju menusuk kulit. Bahkan bau antiseptik di rumah sakit terkadang membuatnya muak.  

Ia nyaris menyerah, nyaris, kalau ternyata waktu akan terus berjalan jika ada orang yang memaksanya untuk tetap bergerak.

Karena itulah saat ia melihat bagaimana pesawat ulang-alik melesat pergi dengan membawa Yoo Joonghyuk selaik lesatan bintang jatuh, perlahan satu per satu harapannya kembali dipupuk.

Shin Yoosung tidak meminta lebih, ia hanya berharap terlalu banyak.

.

Ahjussi, cepat pulang, ya. Bukan cuma aku yang menunggu Ahjussi di sini.”

.

Lagi-lagi ia biarkan tangisnya pecah dan sesak di dada semakin menggerogoti begitu pintu dibuka oleh Han Sooyoung, lembaran kertas bertebaran acak, kemudian sepasang mata yang selalu Shin Yoosung rindukan itu mulai terbuka.

Kim Dokja berhasil menemukan jalan kembali.

.

“Ew, tomat.”

“Makan dengan benar, Kim Dokja. Jangan pilih-pilih.”

“Apa sih, ibuku saja tidak pernah bilang begitu padaku,”

“Makan atau aku jejalkan paksa.”

“Kau mau begitu ke pasien, Yoo Joonghyuk? Kurang ajar.”

Tangan Shin Yoosung terhenti di udara, niat hati ingin membuka lebih lebar pintu di hadapan mendadak urung dan tubuhnya tertegun sejenak. Ia tidak bermaksud ingin menguping, sungguh, tapi rasa geli yang menggelitik perut karena obrolan ringan di antara Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk akan sayang kalau harus dilewatkan.

Rasanya sudah lama sekali, kali terakhir ia mendengar mereka berdebat seperti ini.

“Oh lihat, jam tiga, waktunya terapi.” Kim Dokja mengulas cengir tipis, lalu terkekeh pelan ketika balasan Yoo Joonghyuk berupa dengus kecil dan akhirnya terpaksa mengalah. “Lee Seolhwa pasti sudah menungguku.”

Tanpa sadar, Shin Yoosung menggigit bibir. Diam-diam mengamati bagaimana Kim Dokja berusaha bangkit dari ranjang (kernyit di keningnya cukup menunjukan dia tengah menahan sakit), sebelum kemudian satu tangan lekas terangkat begitu Yoo Joonghyuk beringsut maju.

“Jangan,” larang Kim Dokja, terselip nada tegas. “Aku mau coba jalan sendiri.”

“Kau tahu kakimu—”

“Aku tahu, aku tahu.” Dia mendengus jengkel. “Cuma sampai kursi roda di sana, oke? Tidak jauh. Aku juga tidak sebodoh itu bakal luntang-lantung di lorong dengan keadaan begini.”

Protes masih melintas di raut wajah Yoo Joonghyuk.

“Hei, Joonghyuk-ah, kau percaya padaku, kan?”  

“Terakhir kali aku melakukannya, kau malah pergi terlalu lama.”

Ah. Tangan Shin Yoosung terkepal erat. Luka itu, luka yang pernah ia lihat di sepasang mata Yoo Joonghyuk.

Tetapi tak ada tanggapan lebih dari Kim Dokja. Alih-alih dia mengulurkan tangan ke arah nakas, sengaja dijadikan sebagai tumpuan sekaligus penopang untuk beban tubuhnya sendiri. Usai menarik napas sepanjang mungkin, Kim Dokja memulainya dari posisi berdiri sampai keseimbangan tetap utuh, lalu berlanjut satu kaki mencoba mengambil tapak-tapak kecil.

Shin Yoosung sengaja tidak melihat bagaimana wajah Kim Dokja saat ini, ia sengaja fokus pada pergerakan kaki pria itu. Semula satu langkah, bertambah di angka dua, mencapai di langkah tiga dan tangan yang bertumpu pada nakas mulai terlepas saat langkah keempat. Di langkah lima pergerakannya agak melambat, tapi berhasil dilakukan. Enam, tujuh, delapan—

—menyentuh sembilan dan sebelum jemari meraih kursi roda, keseimbangan Kim Dokja hilang.

Shin Yoosung memekik kecil, yang tepat pada saat itu pula Yoo Joonghyuk gesit menangkap tubuh Kim Dokja tanpa ragu. Ada ringis samar ketika hidung Kim Dokja membentur dada Yoo Joonghyuk cukup keras, dilanjut dengan decak sebal meski bibirnya tidak lekas meluncurkan kata-kata protes. Kim Dokja bahkan membiarkan saja ketika Yoo Joonghyuk mengambil alih dan membantunya duduk di atas kursi roda.

“Bertambah dua langkah dari yang kemarin,” sahut Yoo Joonghyuk tanpa diminta, berlutut di hadapan Kim Dokja untuk memastikan telapak kaki pria itu tidak menggantung dan berada di sandaran kaki. “Ada kemajuan.”

“Tapi lambat.”

Yoo Joonghyuk mendongak. “Proses, Kim Dokja. Dan proses hari ini juga lebih baik dari kemarin.”

Trims.”

“Kalau mood-mu sedang tidak bagus, aku bisa minta Lee Seo—”

“Sembarangan, mood-ku sedang bagus, sangat bagus.” Tangan dikibaskan asal, berpindah ke puncak kepala Yoo Joonghyuk lalu rambut sengaja diacak. Kim Dokja seakan masa bodoh dengan tatapan tajam yang langsung dilayangkan (karena toh, tidak ada tepisan atau penolakan dari Yoo Joonghyuk sendiri). “Mau mengantarku?”        

“Apa bayarannya?”

“Dih, pamrih.” Bola mata berotasi malas. “Tapi baiklah… satu ciuman, mungkin?”

Shin Yoosung mencelos.

Jeda beberapa detik, Yoo Joonghyuk bangkit lalu meletakkan kedua tangan di sisi kanan dan kiri Kim Dokja, setelah itu menunduk hingga pucuk hidung mereka nyaris bersentuhan dan—

—kepala Shin Yoosung berpaling cepat.

.

“Eh? Yoosung-ah, dari tadi kau di sini?”

Pipi dan kuping Shin Yoosung terasa panas, tapi ia lekas berkilah. “Baru saja kok, Ahjussi. Jadwal terapi?”

Kim Dokja mengangguk, senyum simpul terulas. “Kau ikut, kan?”

"Pasti.”

Meskipun sudah berusaha menahan diri, tetapi Shin Yoosung tetap tidak bisa untuk tidak melirik ke arah Yoo Joonghyuk. Ia cukup terkejut ketika Yoo Joonghyuk sudah menatapnya lebih dulu, canggung itu muncul saat mata mereka saling bertemu.

Namun, alih-alih kilas beberapa menit lalu yang terbayang dalam benaknya, kepingan memori Shin Yoosung berkelana pada masa mereka berbagi hening saat membesuk Kim Dokja. Ketika Shin Yoosung menangis dan Yoo Joonghyuk sama sekali tidak protes, tidak juga meninggalkannya seorang diri.

Ketika Yoo Joonghyuk bergeming di tepi danau dan punggungnya terlihat sangat jauh.

“Ada apa?”

Suara Yoo Joonghyuk menyentuh senar kesadaran Shin Yoosung, ia menggeleng cepat lalu mengulas cengir lebar. “Bukan apa-apa.”

.

Shin Yoosung melihat luka di sepasang mata Yoo Joonghyuk.

Tapi seperti waktu yang terus berjalan dari satu musim ke musim lain, luka di matanya pun perlahan-lahan mampu terkikis.              

Notes:

... kenapa jatuhnya jadi kayak sinetron apa banget ;;;;A;;;;

sama curhat dikit saya masih asdfghjkl soalnya ga sempet bikin ff ultah kdj februari kemarin heuheu, tapi saya gambar fanart x'D/yhaaa. shameless promotion kalo berkenan mau mampir bisa ke twitter @catkukuu. selebihnya, terima kasiiiih sudah mampir!