Fandoms
Recent works
-
Tags
Summary
Park Jongseong mengenal Sunghoon sebagai tukang membersihkan kotoran kuda pada kandang kuda milik ayahnya. Sebagai satu-satunya anak seumuran di mansion besar itu, Park Jongseong mulai menempeli Sunghoon kemana-mana. Mereka berdua menjadi sangat akrab sampai Jongseong harus berpisah dengan Sunghoon untuk melanjutkan sekolah di akademi yang jauh.
Sunghoon merupakan pelayan yang bertugas membersihkan kotoran kuda untuk keluarga Park. Namun, Sunghoon tidak seperti pelayan lainnya, wajahnya selalu tertutup oleh topeng. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajahnya, bahkan Park Jongseong.
"Wajahnya sangat menjijikkan."
"Anda bisa terkena kutukan menatap wajah itu."
"Wajahnya memang seharusnya tidak dilihat oleh siapapun."
"Tuan Park bermurah hati membawa anak itu bekerja di mansion ini."
-
Tags
Summary
“Indah bukan, Park Sunghoon, dia sangat indah, kan? Aku menyukainya.” Itu confession pertama kakak yang aku dengar saat kami sedang camping sekeluarga (dipaksa Papa). Saat itu aku dan kakak sedang berbaring beralaskan tikar tipis langsung di atas bumi, tiduran beratapkan langit penuh bintang yang cantik.
“Park Sunghoon seperti bintang - bintang di langit, seperti pemandangan yang kita lihat saat ini, dia itu indah dan cantik.”
Aku meneguk ludah.
’Aku juga, aku juga menyukai Park Sunghoon.’
Tapi kata ini tidak pernah aku ucapkan ke kakak, sampai akhir tidak pernah.
-
Tags
Summary
Dia selalu datang kepadaku kala ingin menangis
-
Tags
Summary
"Sunghoon, menurut kamu, apa hal yang paling indah di bumi ini?"
"Kamu, Lee Heeseung."
"Ish, apasih. Jawabnya yang bener!"
"Iya, Lee Heeseung."
-
Tags
Summary
“Itu dunia peri.” Kata kakakku berulang-ulang. Nenek masih belum pulang dari perkumpulan warga yang diadakan di balai desa. Hanya ada kami berdua ketika itu.
“Itu sungguh dunia peri, Tae.” tegasnya lagi saat aku bilang dia hanya berhalusinasi.
“Mereka berambut perak dan matanya biru, wajahnya cemerlang, mereka bersinar.” Kakak berkata sambil mengguncang kedua bahuku. Wajahnya menunjukkan ekspresi sungguh-sungguh namun tidak dengan kata yang diucapkannya. Sekali lagi aku menggeleng.
Aku tidak percaya, sampai ketika aku masuk sendiri ke dunia itu.
Dunia peri benar ada.
