Chapter Text
Putar video berikut untuk gambaran lingkup kerja yang digunakan dalam universe FLY (Finding the Lovable You) series ini.
Lewati jika sudah melihat video ini di cerita sebelumnya.
Selamat membaca! [^-^]
*
*
*
*
In A Jam by Naoki Sato - Good Luck!! OST
TERMINAL 1 BANDARA INTERNASIONAL INCHEON, KOREA SELATAN, 8 DESEMBER 2011 11.00 KST
Dua kaca besar saling menjauh begitu sensor pintu menangkap suatu gerakan yang mendekat, menyambut seorang lelaki muda dengan ransel hitam Eastpak dan koper Samsonite besar berwarna kuning lemon yang pasrah dia geret masuk. Sosoknya terbungkus jaket kulit hitam berpadu kain beludru coklat karamel yang mencuat dari bagian dalam di kerah dan kedua pergelangan tangan. Serasi dengan celana chino hitam lurus dan sepatu slip on moka yang menemani langkah lebarnya. Terima kasih yang kesekian kali untuk lini busana IN YOU milik sang mama, Yoo Inna, karena telah memercayai dia sebagai ‘manekin berjalan’.
Walaupun bukan selebritas, penampilannya kerap memancing siapa pun yang dia lewati untuk melirik, mengunci pandangan, bahkan sampai menolehkan kepala. Tak terkecuali beberapa awak kabin maskapai nasional yang berpapasan. Mereka sudah tidak asing dengan pemuda yang sering mampir ke bagian galley (dapur pesawat) ini, sekadar untuk melihat dan menanyakan menu makanan yang ada di penerbangannya sebelum lepas landas.
“Selamat siang, Tuan.”
“Siang. Tolong kursi dekat jendela,” pintanya pada staf konter check-in Korean Air sambil menyerahkan paspor, kartu keanggotaan Morning Calm Premium Club dan lembar tiket elektronik. Kopernya lalu dia taruh di atas sabuk angkut untuk ditimbang.
“Baik, mohon ditunggu.”
Sembari mengistirahatkan siku kiri di tepi meja, matanya mengarah ke antrean yang mengular di depan lima meja sebelah kanan. Pemandangan lazim di bandara besar saat liburan panjang. Beruntung kali ini dia duduk di prestige class (kelas bisnis Korean Air) dan mendapatkan layanan prioritas. Sekali lagi terima kasih untuk Mama Inna atas kado ulang tahunnya yang ke-19. Spontanitas memang kesukaannya, tapi semua ini benar-benar serba dadakan kemarin sore. Cemas pun tidak dapat dia elak karena merasa kurang persiapan.
KILAS BALIK SATU HARI YANG LALU, APARTEMEN CHEONGSOLSU, NAEBALSAN-DONG, SEOUL, 7 DESEMBER 2011 15.00 KST
“Jerman?! Besok?!” pekiknya dalam kebingungan seusai membuka kado pemberian Inna yang berisi tiket pesawat dan ‘Buku Percakapan Bahasa Jerman Untuk Pemula’. “Ma, aku sudah pernah ke Jerman. Ada negara tropis lain yang lebih ingin aku kunjungi.”
“Mama tahu, tapi waktu itu cuma transit dan lanjut ke Islandia, ‘kan?” balas Inna tenang seraya meneguk teh krisan favoritnya.
“Dasar bocah!” timpal Jinhyuk selagi menjitak ringan kepala sang adik. “Lihat sendiri, ‘kan, Ma? Bukannya bersyukur dikasih hati, malah minta jantung.”
“Ya, ya, ya. Terima kasih, Ma,” ucapnya dengan semburat senyum yang dipaksa melintang lebar.
“Sama-sama. Pokoknya nikmati saja liburanmu. Bawa pakaian seperlunya dan…”
Nyonya Besar menjeda kalimatnya sembari mengeluarkan sesuatu dari samping sofa.
“Ini titipan untuk Tante Heesun dan keluarganya. Tolong sampaikan, ya?”
Kedua matanya berputar malas setelah tahu ada udang di balik batu.
“Berarti aku harus menginap di rumah mereka?”
“Semalam cukup, kecuali Tante Heesun memintamu tinggal lebih lama. Uang jajanmu nanti Mama tambah.”
“Besok Kakak juga terbang ke Jerman. Tenang saja,” imbuh Jinhyuk sembari menepuk lutut kanannya.
Dengan ‘bekal dan penjagaan’ yang sedemikian rupa, titah sang mama jelas tak mampu dia tolak. Rasanya bagai dikirim ke medan perang yang sama sekali belum dikuasai. Buku tipis warna hitam-merah-emas di tangan kanannya itu, bahkan kini tampak seperti ular beracun yang siap mengajarkan dia parseltongue Jerman.
“Cara melafalkannya saja aku tidak tahu. Bagaimana bisa aku bicara bahasa Jerman dalam semalam?” keluhnya sambil menggelengkan kepala setiap kali membuka halaman buku itu, selembar demi selembar.
“Kak, Wooseok sebentar lagi datang, ‘kan?” tanya Inna yang ditanggapi Jinhyuk dengan anggukan cepat. “Nanti manfaatkan saja kakak iparmu untuk latihan percakapan. Yang mudah dan sering dipakai dulu seperti kalimat sapaan. Ya, sayang? Semangat!”
KEMBALI KE BANDARA INTERNASIONAL INCHEON
“Tuan Lee Hangyul?”
Suara staf itu tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
“Ya?”
“Ini paspor dan pas naik Anda. Kursi 20A. Masuk ke pesawat pukul 12.30 di gerbang 27. Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Tidak ada, terima kasih.”
“Sama-sama, Tuan Lee. Semoga selamat sampai tujuan.”
Tanpa basa-basi lagi, Hangyul berpindah ke bagian pemeriksaan keamanan yang sama ramainya. Namun berkat tulisan Sky Priority (see end notes) yang tercetak di pas naik, Hangyul bisa melewati pemeriksaan dengan lebih cepat. Kedua kaki Hangyul kemudian menyusuri area terbatas yang dipenuhi toko-toko bebas bea, berbagai macam restoran dan juga kafe. Sayangnya sejauh mata memandang, belum ada yang menarik perhatian.
Sekitar 200 meter berjalan, akhirnya Hangyul sampai di bagian imigrasi. Lagi-lagi dia tidak perlu mengantre lama karena layanan prioritas yang didapatkan. Cukup menyerahkan paspor dan pas naik, lalu mengarahkan wajah ke depan kamera serta meletakkan ibu jari kanan di mesin pemindai.
“Perjalanan pertama ke Jerman, Tuan Lee Hangyul?” tanya si petugas sembari membolak-balik halaman paspor ke-3 Hangyul yang separuhnya sudah dipenuhi cap imigrasi dari berbagai negara.
“Sebenarnya ini yang kedua. Yang pertama hanya transit.”
“Sudah menentukan tanggal kembali?”
“Belum, semoga aku bisa betah di sana,” celetuk Hangyul yang direspon dengan senyum simpul.
“Kalau begitu, selamat berlibur, Tuan Lee.”
“Terima kasih,” balas Hangyul singkat dan dalam satu langkah, kini dirinya sudah melewati batas imajiner negara. Diliriknya jam tangan digital Casio G-Shock perak itu, ternyata belum ada 30 menit berlalu sejak sampai di bandara. Alhasil lantai empat pun dia tuju, tempat KAL (Korean Air) prestige lounge berada.
Sesampainya di ruangan eksklusif itu, Hangyul langsung bergerak ke meja prasmanan. Kebetulan perutnya sudah menangis minta diisi. Kehadirannya disambut oleh deretan salad, potongan buah-buahan dan sup-sup untuk hidangan pembuka. Di meja selanjutnya ada spageti saus Bolognese, nasi goreng, sosis, dan ayam saus mentega untuk hidangan utama. Berbagai pencuci mulut juga disajikan di area yang sama, seperti puding sutra blueberry, aneka kue dan es krim.
Semua begitu menggugah selera, tapi Hangyul hanya mengambil semangkuk bubur labu. Dia letakkan bubur itu di atas piring besar yang sudah diisi sepotong kecil kue red velvet dan satu sendok penuh es krim mint chocolate. Itu makanan-makanan yang belum pernah Hangyul temui setiap datang ke lounge. Segelas bir Max kemudian menyudahi wisata kuliner Hangyul sebelum menempati tempat di sudut favoritnya. Sebuah meja putih panjang dengan 10 kursi bar kayu berlapis bantalan putih yang menawarkan pemandangan langsung ke apron bandara.
Michael Lee @lee_gyul_gyul
"A good starter for an unexpected winter trip.”
Kalimat itu Hangyul tulis bersama unggahan foto makan siangnya di twitter, berlatar belakang sebuah Airbus 340 Korean Air yang tersambung ke garbarata gerbang 28. Dalam 10 detik saja, kirimannya sudah disukai oleh 30 orang dan mendapat 15 komentar.
@kucing_nyao Gila! Perasaan baru minggu kemarin pulang dari Macau, sekarang mau pergi lagi?
Balas @lee_gyul_gyul Bilang kalau iri, bos! :p Kali ini benar-benar dadakan dan lebih jauh.
@boraviolett Wherever you go, safe flight and have a nice vacation! ^^
Balas @lee_gyul_gyul Thanks, Boradoori :D You too.
@chiyorose Kak, mau!!! Kelihatannya enak. Bakal diulas di blog, ‘kan?
Balas @lee_gyul_gyul Definitely! Tunggu ya [^____^]v
****
Lima menit sebelum 12.30, Hangyul sudah sampai di depan gerbang 27 yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari lounge. Kursi-kursi di ruang boarding sudah penuh dan beberapa calon penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, terpaksa berdiri menanti gerbang yang akan dibuka sebentar lagi. Hangyul sendiri memilih untuk menepi ke dinding kaca. Dari sana dia bisa melihat burung besi jumbo Boeing 747-400 yang akan membawanya terbang ke Jerman. Di balik jendela kokpitnya, Hangyul juga melihat Jinhyuk yang sudah menempati kursi kopilot dan sibuk berkoordinasi dengan sang captain.
“Perhatian untuk penumpang kelas satu dan kelas bisnis KE905 tujuan Frankfurt, silakan berbaris ke sebelah kiri. Penumpang kelas ekonomi, silakan berbaris dua lajur di sebelah kanan.”
Hangyul beranjak dari posisinya begitu pengumuman digaungkan. Selagi mengatur penumpang lain, beberapa staf diizinkan masuk terlebih dulu sambil mendorong kursi roda para penumpang berkebutuhan khusus. Penumpang kelas satu dan kelas bisnis satu per satu mengikuti di belakang mereka.
“Tuan Lee Hangyul! Selamat datang.”
“Halo, Purser Choi (see end notes). Lama tidak jumpa,” jawab Hangyul seraya menunjukkan pas naiknya.
“Senang bisa melihat Anda lagi. 20A, baik. Silakan ke lantai atas.”
Suasana hati Hangyul kini jauh lebih baik. Dengan derap kaki semangat, dia menapaki anak-anak tangga yang mengantarkannya ke kabin kelas bisnis. Wajah Hangyul pun semakin sumringah begitu pandangannya menangkap sesosok pramugara yang familier di galley.
“Selamat siang, FA Cho Seungyoun.”
“Selamat siang, Hangyul,” balas pria itu ramah meski kedua tangannya sibuk mengeluarkan gelas-gelas dari dalam laci.
“Tumben kau bertugas di sini, biasanya di aft galley (dapur belakang/ekor pesawat).”
Alih-alih menjawab langsung, Seungyoun justru membalikkan tubuh, berjalan mendekati Hangyul dan memamerkan lencana kuning yang tersemat di dada kanan rompinya.
“Assistant purser? Wah… selamat, Kak!”
“Telat. Aku sudah naik jabatan sejak Agustus. Omong-omong, selamat ulang tahun.”
“Telat. Ulang tahunku kemarin,” tukas Hangyul tidak mau kalah. “Anyway, thanks. Menu utama kali ini apa?”
“Yang pasti ada bibimbap. Pilihan lainnya ada steik dan salmon roll,” jelas Seungyoun sembari menuang jus jambu, jus mangga, dan air putih.
“Great! Oh ya, boleh pinjam interkom?”
“Tentu saja. Kalau sudah, tolong duduk di kursimu, ya? Mau welcome drink yang mana?”
“Jus jambu.”
Hangyul lekas menarik gagang interkom begitu Seungyoun meninggalkannya.
“Di sini First Officer Lee Jinhyuk.”
“Adikmu Lee Hangyul sudah ada dek atas, ganti,” lapornya dengan nada suara yang dibuat lebih berat. Jinhyuk hanya bisa menahan tawa di seberang interkom.
“Roger.”
Puas menjahili sang kakak, Hangyul beranjak menuju ‘rumah’-nya yang lega dengan sekat privasi selama 11 jam 30 menit ke depan. Segelas jus jambu dan tisu basah hangat pun sudah menyambutnya di meja samping. 15 menit sebelum lepas landas, suara Purser Choi menggema di seluruh penjuru kabin, pertanda semua penumpang sudah masuk dan pesawat siap untuk taxiing (berjalan) menuju landasan pacu.
Sabuk pengaman saat ini juga sudah melingkari pinggang Hangyul. Sembari bersandar di kursi birunya yang empuk dan bisa diluruskan menjadi tempat tidur, tangan Hangyul sibuk memencet tombol remote. Matanya memindai cepat daftar film dan permainan di monitor. Merasa tak ada yang beda dari penerbangannya terakhir kali, Hangyul menjatuhkan pilihan pada kamera eksternal pesawat yang menghadap ke depan. Lewat situ Hangyul bisa menyaksikan langsung apa yang dilihat Jinhyuk dari dalam kokpit.
“Flight attendants, take off station.”
Captain sudah memberikan aba-aba. Bunyi keempat mesin jet mulai menderu drastis, mendorong pesawat dengan cepat sehingga roda-rodanya terangkat di sepertiga panjang landasan. Sang Ratu Angkasa pun membubung tinggi, membelah gumpalan-gumpalan awan tipis nun jauh di atas sana.
****
Liebesfreud (Love's Joy) of Fritz Kreisler, performed by Kyung Wha Chung
Pesawat mulai mencapai kestabilannya 20 menit setelah lepas landas. Seungyoun dan salah satu pramugari lekas bergerak dengan troli mereka, membagikan menu ringan berupa smoked salmon tartare sebelum serangkaian hidangan makan siang dikeluarkan. Sebagai food blogger khusus katering pesawat, tentu saja Hangyul mendokumentasikan setiap makanan yang tersaji di hadapannya. Jika ada yang sudah pernah diulas sebelumnya, biasanya Hangyul akan mengunggah fotonya saja di twitter dengan penjelasan sederhana. Sementara Hangyul menikmati sajiannya, Seungyoun tidak lupa menaruh daftar menu makanan di penerbangan ini. Sengaja agar bisa dilihat-lihat karena beberapa hidangan memiliki 2 hingga 3 menu opsional.
Sekembalinya Seungyoun 30 menit kemudian, Hangyul mendapati salad udang dan jamur di atas mejanya sebagai hidangan pembuka. Karena Hangyul memilih masakan Barat untuk hidangan utama, Seungyoun juga meletakkan green asparagus cream soup sebagai tambahan. Kali ini Hangyul sedikit memperlambat kunyahan supaya benar-benar bisa menilai rasa dan tekstur makanannya.
Mengabadikan salah satu aspek layanan yang tidak terlupakan dalam sebuah penerbangan, awalnya memang hobi Hangyul semata. Namun begitu dia diterima di Korea University jurusan teknologi biosains makanan, Hangyul merasa perlu menerapkan ilmunya dengan ulasan lebih detail mengenai setiap makanan pesawat yang singgah di lambungnya. Dia juga tidak menyangka bahwa blog pribadinya, inflightmeals.com, akan mendapat banyak tanggapan positif dan kini sudah ada 700 ribu pengguna berlangganan dari seluruh dunia.
Hangyul menyempatkan diri mencatat tiap poin penting dari ulasannya di ponsel ketika Seungyoun tengah menyajikan hidangan utama pilihan Hangyul, steik sapi panggang dengan saus anggur merah yang ditemani brokoli kukus dan kentang seukuran jari berbumbu cuka balsamik. Petualangan lidahnya siang ini pun berakhir dengan keju carre de l’est, mocha pound cake, garlic bread, dan secangkir Lipton green tea Sencha hangat.
Meja lipat Hangyul kini sudah bersih dari sisa-sisa makanan dan ditempati oleh Samsung Premium Series 9 Notebook-nya. Kesepuluh jemari tangan dia renggangkan, bersiap untuk menuangkan segala pemikirannya ke dalam tulisan. Walaupun perut masih terasa penuh, dalam hati Hangyul sudah sangat antusias untuk mencicipi jelajah rasa sore nanti yang tampaknya tidak kalah seru.
TERMINAL 1 BANDARA INTERNASIONAL FRANKFURT, JERMAN, 8 DESEMBER 2011 18.30 CET
“Kak Seungyoun ini memang tampan dan idaman banyak orang ya,” ujar Hangyul menanggapi 5 lembar foto polaroid dirinya dan Seungyoun yang sudah dibubuhi tanda tangan mereka berdua. “Sudah lama tidak membuat kuis di blog dan saat kutanyai orang-orang hadiah apa yang mereka mau, ternyata cukup banyak yang menjawab ingin fotoku dan foto Kak Seungyoun. Padahal profil dia baru satu kali kuunggah di artikel khusus, itu pun singkat.”
Jinhyuk enggan berkomentar banyak. Hanya mendengus ringan sambil tersenyum simpul di samping adiknya, lalu melirik ke kiri-kanan mereka di sepanjang moving walkway.
“Andai Kakak belum menikahi Kak Wooseok, kalian mau tinggal bersama pun akan kurestui-- Aduh! Sakit!” jerit Hangyul menahan jeweran di telinga. Omongannya berhasil memancing kesabaran pilot muda itu.
“Jangan sembarangan kalau bicara. Lagi pula, Seungyoun juga sudah dijodohkan.”
“Benarkah? Sayang sekali! Baru saja aku berniat PDKT lebih jauh dengannya.”
“Dengar, mumpung sekarang kau ada di Jerman, kenapa tidak coba mencari orang sini?”
“Orang-orang bule bukan seleraku.”
“Silakan, tapi sepertinya kau yang jadi selera mereka. Lihat saja,” kata Jinhyuk sembari mengarahkan dagunya sejenak pada seorang pria rambut pirang yang duduk di deretan kursi sebelah kiri mereka. Dia tersenyum dan melambaikan tangan begitu tahu Hangyul memandang ke arahnya.
Secepat kilat Hangyul membuang muka ke sebelah kanan. Namun di moving walkway arah sebaliknya, ada sepasang wanita usia 30-an tahun yang sudah lebih awal mencuri-curi pandang kepadanya dan saling berbisik. Jinhyuk tersenyum lebar melihat ekspresi si bungsu yang hanya merengut dan bergegas pergi meninggalkannya.
Jejeran penumpang yang satu pesawat dengan Hangyul tadi akhirnya terlihat, setia menanti barang bawaan mereka keluar di depan konveyor bagasi. Hangyul sengaja turun dari pesawat paling akhir karena harus menunggu Jinhyuk selesai post-flight briefing. Meski demikian, dari kejauhan Hangyul sudah bisa menemukan kopernya yang ditandai label prioritas dan langsung mengambilnya begitu melintas di depan mata. Kakak beradik ini kemudian beralih ke anjungan kedatangan. Seorang wanita cantik yang awet muda di usia 59 tahun itu, mengangkat tinggi syal hijaunya dan dilambaikan ke arah mereka berdua.
Jinhyuk menyapanya terlebih dulu dan sedikit berbincang-bincang. Menyadari keberadaan Hangyul yang terdiam di belakang kakaknya, wanita itu menolehkan wajahnya dan seketika air muka datar Hangyul tergantikan dengan aura yang lebih bersahabat.
“Guten Abend, Tante… wie geht es dir? (Selamat malam, Tante. Apa kabar?)”
“Abend, Hangyul… es geht mir gut. Und dir? (Selamat malam, Hangyul. Tante baik-baik saja. Kau sendiri?)”
“Es geht mir auch gut. (Aku juga baik-baik saja.)”
“Du sprichst gut deutsch! Schon lange nicht gesehen, du sieht jetzt schöner aus. (Bahasa Jermanmu bagus! Lama tidak jumpa. Kau semakin tampan.)”
Hangyul terhening, coba menerka arti kalimat Heesun barusan.
“Danke…? (Terima kasih?)” jawabnya meragu. “Maaf, Tante. Aku belum tahu banyak soal bahasa Jerman.”
“Tidak apa-apa. Itu sudah lumayan. Nanti kau juga bisa belajar dengan Yohan.”
“Benar juga. Dia tidak ikut kemari?” interupsi Jinhyuk.
“Yohan ada di rumah. Kebetulan tadi Tante ada satu sesi dengan pasien di sekitar bandara, jadi sekalian saja. Jinhyuk ikut ke rumah?”
“Maaf, aku tidak bisa mampir. Ini sudah harus ke hotel karena besok malam kembali ke Korea sebagai kru tambahan. Kakak tinggal sekarang tidak apa-apa, ‘kan?”
Hangyul meresponnya dengan anggukan singkat.
“Aku pamit kalau begitu. Titip Hangyul ya, Tante?”
“Tentu saja. Hati-hati dan salam untuk Inna dan Wooseok.”
Jinhyuk membungkukkan badan sejenak. Tepukan ringan di lengan kanan atas Hangyul juga dia sempatkan sebelum berlalu dari hadapan keduanya.
****
“Kau ada alergi makanan tertentu?” tanya Heesun dari balik setir Volkswagen Beetle kuningnya.
“Tidak ada. Mustahil aku bisa mengulas banyak makanan pesawat kalau punya alergi.”
“Syukurlah. Malam ini Yohan memasak sesuatu, tapi dia tidak bilang persisnya apa.”
“Masak bareng Om Müller?”
“Dia masak sendiri. Oh… Tante belum cerita ya? Om sedang ada proyek konstruksi di Dubai. Baru bisa pulang ke Jerman awal tahun depan.”
“Begitu rupanya.”
“Hangyul sendiri… kapan balik ke Korea?”
“Belum tahu, Tante, soalnya mama membelikan open ticket (see end notes), itu pun tiba-tiba sebagai kado ulang tahun.”
“Ulang tahun? Kapan? Hari ini?”
“Kemarin, Tante. 7 Desember.”
“Alles gute zum Geburstag. (Selamat ulang tahun.)”
“Danke schön. (Terima kasih.)”
“Semoga liburanmu di sini jadi kado yang tidak terlupakan.”
“Amin,” lirihnya dalam sekali tarikan napas.
Perhatian Hangyul segera teralihkan dari mulusnya jalan tol di hadapan mereka ke jendela samping yang berembun cukup tebal. Jari telunjuk dia tempelkan di sana, lalu digerakkan membentuk gambar hati. Hangyul tidak ingin berekspektasi banyak. Bisa tenang melewatkan akhir tahun yang dingin di Jerman saja sudah lebih dari cukup.
****
Setelah 20 menit berkendara, akhirnya Hangyul sampai di Hausen, daerah tempat keluarga Heesun tinggal. Semenjak keluar dari mobil hingga berjalan ke pintu utama, Hangyul tak kuasa membuka mulutnya, mengagumi setiap sudut eksterior einfamilienhaus (rumah tapak untuk satu keluarga) dua lantai plus satu lantai dengan teras atap itu. Desain minimalis yang berwarna monokromatik putih-hitam, berpadu apik dengan taman kecil di sekelilingnya. Terpampang nyata mahakarya dari sentuhan tangan sang arsitek, yang tidak lain adalah suami Heesun sendiri.
“Ayo masuk,” ajak Heesun mempersilakan Hangyul menjejaki lantai kayu rumahnya. “Hasi, bist du noch im Küchen? Unser Gast ist da… komm bitte mal hier! (Sayang, masih di dapur? Tamu kita sudah datang. Coba kemari dulu!)”
“Moment mal! Ich bin fast fertig. (Sebentar! Sedikit lagi!)”
Tubuh Hangyul sebenarnya sudah lelah, tapi suara bariton yang terdengar dari ruangan dalam itu seketika menyegarkannya. Hati mulai bertanya-tanya, sejauh apa perubahan Yohan yang pernah dia temui 4 tahun silam di pernikahan Jinhyuk dan Wooseok.
“Sorry… ich habe gerade die Entenbrust in den Ofen geschoben. In 15 Minuten ist die fertig, (Maaf, dada bebeknya baru masuk ke oven. 15 menit lagi matang,)” ujar Yohan sembari berjalan ke arah mereka dan mengelap kedua tangannya yang basah dengan handuk kering. Sosok tinggi tegapnya yang dibalut celemek jingga, entah kenapa terlihat lucu di mata Hangyul.
“Kein Problem. Vielleicht möchte er sich erst ausruhen. Aber musst du jetzt ihn grüßen. (Tidak apa-apa. Dia juga pasti ingin istirahat dulu. Ayo sapa.)”
Sepasang netra bulat itu kini menatap lurus ke arahnya.
“Halo,” ucapnya sedikit canggung saat mengulurkan tangan kanan yang tanpa pikir panjang, Hangyul sambut dengan cukup solid.
“Halo, lama tidak jumpa.”
“Senang bertemu denganmu.”
Keduanya diam membisu sekitar 5 detik. Sebelum kecanggungan itu semakin menjadi-jadi, Heesun segera menyuruh Yohan kembali melanjutkan aktivitasnya di dapur dan mengantar Hangyul ke kamar tidur tamu di lantai tiga.
****
“Lecker! (Enak!)” puji Hangyul seusai menyuap satu sendok penuh creamy pesto gnocci buatan Yohan. Dia sengaja mengucapkannya dalam bahasa Jerman agar lebih cepat akrab.
“Danke... probier mal auch die Entenbrust, Du wirst nicht bereuen. (Terima kasih. Coba juga dada bebek panggangnya. Kau pasti tidak akan menyesal.)”
Hangyul berhenti mengunyah begitu menyadari tidak ada satu pun kata-kata Yohan yang dia mengerti selain ‘danke’. Kedua matanya coba melempar sinyal SOS kepada Heesun. Paham dengan bantuan yang diminta Hangyul, Heesun lantas mengambil seiris daging dada bebek dan memasukkannya ke mulut. Setelah itu, dia kembali menyuap sesendok gnocci pesto. Semua gerakan Heesun kemudian Hangyul reka ulang persis. Ibu jarinya tak lupa dia arahkan ke Yohan yang sejak tadi cekikikan melihat tingkahnya.
“Kalau kau tidak nyaman berbahasa Jerman, bilang saja. Di sini kau juga bisa pakai bahasa Inggris.”
“Bukan begitu, aku cuma belum terbiasa. Aku senang belajar hal-hal baru.”
Tatapan skeptis seketika dilemparkan Yohan saat merespon pernyataan Hangyul.
“Sudah, sudah. Kenapa jadi tegang begini? Omong-omong, Hangyul ada agenda ke mana besok? Siapa tahu Yohan bisa menemani.”
“Tidak ada, Tante. Belum kupikirkan.”
“Bagaimana kalau keliling di pusat kota? Di sana banyak yang bisa dilihat. Sayang, besok tidak ada acara, ‘kan?”
Gelengan kepala Yohan tanpa sadar mengguratkan senyuman tipis di bibir Hangyul.
“Bagaimana, Hangyul?”
“Boleh, Tante. Besok aku akan membuntuti Yohan ke mana pun seperti anak bebek,” tuturnya sebelum mengambil seiris dada bebek panggang lagi. Ucapan dan perilaku Hangyul yang terkesan sembrono itu, secara tidak langsung memantik rasa penasaran Yohan akan esok harinya yang mungkin akan sedikit berbeda.
Youth's Dream by Jo Young Wook - A Dirty Carnival OST
RÖMERBERG, FRANKFURT, 9 DESEMBER 2011 10.00 CET
Eksplorasi Hangyul bersama Yohan pagi ini dimulai dari kawasan kota tua Frankfurt. Bangunan-bangunan klasik berdiri rapat menghimpit jalan-jalan kecil berbatu bata, memanjakan mata Hangyul yang berbinar-binar begitu keluar dari stasiun bawah tanah. Sebagian menara katedral warna merah bata, juga tampak menyembul di kejauhan.
“Di sini belum apa-apa, ayo!” ajak Yohan karena Hangyul tampak enggan bergerak satu sentimenter pun. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Hangyul menurut saja dan segera menyamakan langkah mereka.
Sekitar 100 meter berjalan, tibalah mereka di sebuah alun-alun. Pemandangannya kontras dengan gedung-gedung pencakar langit di distrik bisnis Kota Frankfurt, seakan mampu membawa Hangyul kembali ke zaman Eropa kuno. Selain kolam air mancur tempat patung dewi keadilan Romawi terpasang dan rumah-rumah kayu 4-5 lantai yang berjajar rapi, ada Römer yang merupakan balai kota sejak tahun 1405. Ketika Hangyul dan Yohan mendekati bangunan itu, orang-orang yang berkerumun di depannya bersorak-sorai sambil bertepuk tangan. Rupanya ada sepasang pengantin baru yang keluar dari dalam sana. Hangyul mengangguk-angguk saat Yohan membisikkannya bahwa lantai satu dan dua bangunan bergaya gotik itu memang dialihfungsikan menjadi aula pernikahan.
Situasi plaza pagi itu bisa dibilang lebih ramai dari biasanya, mengingat Pasar Natal sedang diselenggarakan sebulan penuh sejak November tiap tahunnya. Bukan Hangyul namanya jika dia jalan-jalan tanpa mencicipi makanan. Deretan tenda kuning di dekat gereja gotik kecil Alte Nikolaikirche pun tak luput menjadi sasarannya. Berbagai camilan, kue, dan roti khas yang dijajakan di sana sangat mengundang selera. Jika tidak ingat untuk harus menjaga bentuk badan, mungkin Hangyul sudah kalap. Setelah menimbang-nimbang panjang antrean di beberapa kios, akhirnya Hangyul mengajak Yohan ke salah satu penjual marzipankartoffeln yang lebih sepi.
Selagi menunggu kue berbentuk kentang yang dioven langsung di tempat itu, telinga Hangyul tiba-tiba menangkap suara beberapa lelaki yang bercakap-cakap dengan bahasa ibunya. Begitu menolehkan kepala, ada 5 orang pemuda Korea tengah berjalan santai ke arahnya. Mereka tampak sebaya dengannya.
“Ternyata banyak juga orang Korea di sini. Tapi sepertinya bukan turis."
Perhatian Yohan yang tadinya fokus ke penjual kue, mau tidak mau jadi ikut teralihkan. Sekelompok pemuda itu tertangkap oleh pandangannya. Alih-alih bersikap biasa, Yohan lekas mengambil dua bungkusan kue dan membayarnya. Tangan kiri Hangyul kemudian dia pegang sebelum ditarik menjauh ke arah yang berlawanan.
“Yohan!”
Panggilannya diabaikan. Yohan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
“Hei, Johann Müller, kau kenapa? Jalan ke Eisener Steg bukannya lewat sana?”
Tetap tidak ada jawaban. Dinginnya tangan Yohan sekarang justru semakin terasa dan bahkan mulai menjalar ke tangan Hangyul. Genggaman tangan itu akhirnya dilepas setelah mereka berhenti di depan Kaiserdom Sankt Bartholomäus.
“Ini katedral yang kelihatan dari pintu keluar stasiun, ‘kan?”
“Ya, kita memutar jalan. Lewat sini juga bisa,” jawab Yohan seraya memberikan bungkusan kue, lalu berjalan lagi meninggalkan Hangyul.
“Kau ini sebenarnya ada apa?” tanya Hangyul berusaha mengejar langkah Yohan.
“Aku malas bertemu mereka.”
“Orang-orang Korea itu? Kenapa?”
“Malas saja.”
“Bohong.”
Seketika Yohan menghentikan langkahnya tanpa aba-aba, membuat Hangyul menabrak punggungnya. Ringisan Hangyul langsung menghilang berkat tatapan nanar Yohan.
“Dulu aku satu angkatan dengan mereka di Sekolah Korea Frankfurt. Tapi itu hanya beberapa bulan sebelum aku pindah ke sekolah biasa karena lelah dianggap 'tidak cukup Korea' oleh mereka," papar Yohan menggebu-gebu. Merasa bersalah atas pertanyaannya yang mengorek luka lama, Hangyul lantas meraih tangan kiri Yohan dan menyelipkan hotpack. Keheningan kembali menyeruak seiring sorot mata Yohan yang mulai melunak.
“Ambillah. Tanganku bisa meriang kalau kau pegang lama-lama.”
****
Semilir hembusan angin dingin Sungai Main menghantarkan merdunya irama akordion dan biola milik sepasang musisi jalanan kepada telinga para pejalan kaki di atas Eisener Steg. Jembatan besi berwarna hijau lumut itu, telah cukup lama menjadi saksi bisu pasangan-pasangan yang dimabuk asmara untuk ‘mengunci’ hubungan mereka. Ada berbagai macam bentuk dan warna gembok bertuliskan nama dua sejoli yang menyambut Hangyul dan Yohan di sepanjang sisinya. Hangyul jadi teringat akan Gedung 63 dan Menara Namsan di Seoul yang juga menjadi surga simbolis komitmen itu.
“Kau tidak ingin memasang gembok, mumpung di sini?” tanya Yohan iseng.
“Untuk apa? Lagi pula, belum ada nama lain yang pas untuk kutulis bersama namaku. Kalau pun harus, mungkin aku akan menuliskan namaku dengan nama Inggrisku sendiri, ‘Lee Hangyul loves Michael Lee’. Toh orang-orang sering bilang, ‘Cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain.’ Bukan begitu, Yo--“
Hangyul mendengus jengkel saat tahu dia bagaikan orang gila yang berbicara panjang lebar tentang dirinya sendiri dan dengan dirinya sendiri pula. Alih-alih berjalan di samping Hangyul, Yohan malah berhenti tengah-tengah jembatan, tampak terdistraksi oleh sebuah gembok perak yang sedang dia genggam. Gusar karena merasa dirinya diabaikan, Hangyul bergegas menghampiri Yohan untuk mengomelinya. Namun saat tinggal lima langkah lagi, tangan Yohan beralih dari gembok itu ke ponselnya.
“Hallo, Pa? Was ist los? (Halo, Pa? Ada apa?)”
Niat Hangyul tertunda. Dia tak tega untuk menginterupsi setelah melihat raut wajah Yohan yang sepertinya mendapat panggilan serius.
“Ich gehe jetzt mit Hangyul spazieren. Warte mal. (Aku sedang menemani Hangyul jalan-jalan. Tunggu sebentar.)”
“Dari siapa?”
“Papaku. Aku mau mencari tempat yang agak sepi, mungkin di ujung jembatan sana. Kau lihat-lihat saja dulu sepuasnya, ya?” ujar Yohan terburu-buru. Hangyul bahkan belum sempat menganggukkan kepala apalagi mengiyakan.
Daripada kesal sendiri, lantas Hangyul melirik ke sisi jembatan tempat Yohan tadi mematung. Dia penasaran. Beruntung di antara gembok-gembok itu, hanya ada satu gembok perak yang menggantung di sana. Kaitannya pun sudah berkarat. Tanpa pikir panjang, Hangyul membalikkan sisi gembok yang satunya. Kedua mata membelalak tatkala dua nama yang tidak asing itu terpampang di hadapannya. ‘Johann und Michael, 3. März 2000’ (Johann dan Michael, 3 Maret 2000).
Hangyul memiringkan kepala karena merasa ada yang tidak masuk akal.
"Ah... Mungkin namanya saja yang kebetulan sama," tampik Hangyul dengan senyuman bodohnya sebelum kembali menyusuri sisa jembatan.
"OK, Pa… ich werde es für dich finden. Ich leg auf, OK? Bye. (Baik, Pa. Nanti akan kucarikan. Aku tutup teleponnya.)"
“Kita mau ke mana lagi?” tanya Hangyul begitu Yohan mengakhiri panggilannya.
“Kita ke Main Tower, kau bisa melihat seluruh kota Frankfurt dari atas sana,” jelas Yohan sembari menyebrang ke sisi jalan.
“Bagus! Lalu besoknya?”
“Aku tidak bisa menemanimu.”
“Kenapa?”
“Aku harus kuliah dan kerja paruh waktu.”
“Di Frankfurt?”
“Bukan, di Aachen. Sekitar dua setengah jam dengan kereta cepat.”
"Kau kerja di mana?"
"Frankenberg, perusahaan katering makanan."
"Frankenberg? Sepertinya tidak asing. Aku boleh ikut, ya?” bujuk Hangyul dengan keahlian memelasnya. Tangan kanan Yohan bahkan tahu-tahu sudah dia genggam erat.
“Di sana juga sama saja, aku belum tentu bisa menemanimu jalan-jalan.”
“Tidak apa-apa. Bisa mati gaya kalau aku di sini dengan Tante Heesun. Aku lebih nyaman denganmu karena kita seumuran.”
Yohan menghela napas tipis, sibuk memikirkan alasan apa yang tepat untuk menolak. Di sela-sela pemikiran itu, perhatian Yohan mendadak teralihkan ke tangan kanannya.
“Lepas. Kau bilang tanganku dingin, ‘kan?”
“Itu tadi, sekarang sudah lebih hangat. Aku tidak akan melepasnya sebelum kau mengizinkanku.”
Sekakmat. Semesta pun seolah turut mendukung Hangyul dengan mendatangkan bus wisata kota dua tingkat itu. Tidak ingin orang-orang memandang mereka berdua seperti sepasang kekasih karena bergandengan tangan terus, Yohan mau tidak mau mengizinkan Hangyul ikut ke Aachen.
KERETA CEPAT ICE 14 RUTE FRANKFURT-AACHEN, 10 DESEMBER 2011 14.00 CET
Saking cepat dan halusnya pergerakan si ular besi, tak terasa waktu sudah 30 menit berlalu. Pemandangan sudah mulai konstan dengan sawah yang kering dan perkebunan yang dedaunannya rontok, menyisakan beberapa helai saja. Hangyul mulai memutar otak untuk menghalau kebosanan. Yohan yang duduk di sebelahnya jelas menjadi sasaran empuk.
Sejak berangkat dari Stasiun Sentral Frankfurt, Yohan memang sudah memasang earphone di kedua telinga ketika Hangyul terpaku di sebelah jendela. Novel berjudul The Secret karya Rhonda Byrne pun dia baca untuk menemani perjalanannya. Semua ketenangan itu sangat menjanjikan sebelum Hangyul menepuk pundak kirinya. Tangan kanan dia tempelkan di kuping kiri Yohan, lalu dipindahkan ke kupingnya sendiri. Yohan sedang malas berdebat, sehingga dalam sekejap earphone kanannya dia lepas dan diberikan pada Hangyul.
Dentingan tuts piano yang mengawali lagu (They Long To Be) Close To You milik The Carpenters terdengar begitu merdu di telinga kanan Hangyul. Dirinya mulai terhanyut seiring alunan melodi dan kembali menatap ke jendela. Kereta memasuki terowongan panjang tidak lama setelah itu, memblokade pemandangan luar dengan warna hitam yang memantulkan seisi kabin. Saat-saat itulah Hangyul menyadari sesuatu yang dia lewatkan sejak tiba di Jerman. Ketampanan Yohan.
Sisi kiri wajahnya saja tampak sempurna dengan hidung yang mancung dan bibir yang ranum. Semakin dilihat, semakin menarik. Sebagai anak blasteran, Yohan tidak terlalu bule tapi Hangyul mengakui, gen kedua orang tua Yohan memang bagus. Rasa gatal untuk mengambil kamera mulai menyapa tangan Hangyul, tapi dia coba bersabar. Setidaknya sampai Yohan tertidur lelap.
****
“Johann!” seru seorang gadis dari balik pintu kamarnya saat Yohan dan Hangyul sampai di lantai 3 wohngemeinschaft (apartemen bersama).
“Hallo, Ora, ich bin wieder da, (Halo, Ora, aku kembali,)” ujar Yohan sambil membuka lengannya lebar-lebar untuk menyambut gadis bermata hijau dan berambut coklat itu dalam pelukan singkat.
“Ich dachte, du würdest noch länger in Frankfurt bleiben. (Kukira kau masih akan lama di Frankfurt).”
“Am Anfang ja… aber ich habe einen Job in Würselen bekommt. (Tadinya mau begitu, tapi aku dapat panggilan kerja paruh waktu di Würselen.)”
“Echt? In welcher Firma? (Benarkah? Di perusahan mana?)”
“Frankenberg, und ab morgen. (Di Frankenberg, mulai besok.)”
Percakapan keduanya mengalir begitu saja, sampai-sampai Hangyul merasa keberadaannya ibarat makhluk halus. Kedua matanya bolak-balik antara Yohan dan gadis itu sambil sesekali mengangguk pura-pura mengerti.
“Wer ist er? (Pria ini siapa?)”
“Ah ja sorry, ich habe vergessen ihn vorzustellen. Er ist Lee Hangyul, ein Bekannter von mir, aus Seoul. Er will seinen Urlaub hier verbringen. (Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan dia. Namanya Lee Hangyul, kerabat jauhku dari Seoul. Dia ke sini untuk liburan.)”
“Achso. (Begitu rupanya.) Halo, Lee Hangyul!”
Ekspresi murung Hangyul langsung berubah 180 derajat ketika disapa dengan bahasa aslinya.
“Halo! Panggil saja Hangyul. Kau bisa bahasa Korea?”
“Lumayan. Aku suka lagu-lagu KPop! Omong-omong, namaku Aurora Engelmann. Kau bisa memanggilku Ora.”
“Senang bertemu denganmu, Ora,” ujar Hangyul seraya mengulurkan jabat tangan. Senyumannya semakin melebar karena merasa selamat bisa menemukan orang selain Yohan yang bisa berbahasa Korea. Kemungkinan untuk tinggal lebih lama di Jerman pun semakin besar.
“Er ist süß. (Dia manis.)”
“Nur manchmal. (Kadang-kadang saja.) Hangyul, Ora ini seniorku di kampus. Kami satu jurusan di Fakultas Teknik Mesin RWTH. Dia juga mengatur semua urusan apartemen ini. Jadi, kalau kau butuh bantuan saat aku tidak ada, bilang saja pada Ora.”
“Baiklah. Mohon bantuannya. Mungkin aku akan sangat merepotkan selama di sini.”
“Tidak apa-apa. Johann, ich gehe jetzt. Brauchst du etwas zum Kaufen? (Johann, aku mau keluar. Ada yang mau kau beli?)”
“Kannst du mir shampoo Head & Shoulders kaufen? Ich hatte keine Zeit. (Boleh titip sampo Head & Shoulders? Aku belum sempat beli tadi.)”
“OK... (Baiklah.) Hangyul, aku pergi dulu ya? Sampai nanti.”
“Sampai nanti, Ora.”
Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Hangyul menoleh ke arah pintu kamar Yohan yang sudah dibuka. Kamar berwarna putih itu tampak lega berkat barang-barang Yohan yang tidak banyak dan tertata rapi. Sepasang gorden besar warna merah mempermanis tampilan interiornya yang diisi oleh furnitur monokromatik.
“Aku tidak akan tidur di lantai, ‘kan?” tanya Hangyul saat menempelkan telapak kaki telanjangnya ke lantai kayu yang dingin itu.
“Tenang saja. Kasurku cukup untuk ditiduri dua orang.”
Mata Hangyul berkedip cepat seakan tidak memercayai kalimat yang baru didengarnya, padahal tadi hanya pertanyaan iseng. Dalam hati dia jadi berharap, semoga malam-malamnya di Aachen bisa dilewati dengan nyenyak.
Chiquitita (Good Morning ver.) of ABBA, rearrangement by Senju Akira - Strawberry On The Shortcake OST
KEESOKKAN PAGINYA...
Berbekal informasi dari Ora dan pinjaman sepeda dari Yohan, Hangyul coba menjelajah kota. Atmosfernya terasa lebih tenang dan santai jika dibandingkan dengan Frankfurt. Tata kotanya pun tidak kalah rapi. Suhu udara pagi ini yang berkisar 6 derajat Celsius, tak menggentarkan Hangyul untuk terus mengayuh pedal dan berhenti di beberapa titik guna mengabadikannya di lensa kamera. Yang pertama adalah Ponttor. Benteng tua itu berdiri kokoh menyambut orang-orang yang keluar-masuk Aachen layaknya Namdaemun dan Dongdaemun di Seoul.
Putaran kedua roda selanjutnya membawa Hangyul melewati salah satu kawasan universitas RWTH kebanggaan Jerman. Beberapa bangunan seperti gedung rektorat masih mempertahankan bentuk aslinya, tapi ada juga gedung-gedung yang sudah direnovasi dengan tampilan lebih modern. Sesudah area kampus, Hangyul kemudian berhenti di depan Rathaus atau Balai Kota yang berseberangan dengan Katedral Aachen. Di tengah-tengahnya terhampar sebuah alun-alun cukup luas yang Hangyul yakini sering dijadikan tempat festival. Menggowes lebih ke belakang lagi, Hangyul menemukan gedung Elisenbrunnen yang bergaya neo-klasik. Teather Aachen yang masih dekat dari sana pun tak luput dari pandangan Hangyul.
Semua perjalanannya itu kemudian Hangyul rangkum dalam sebuah artikel khusus. Kesepuluh jemari tangannya menari-nari di atas keyboard sambil sesekali beralih ke bungkus coklat Rittersport rasa peppermint yang dibelinya di supermarket REWE tadi siang. Seusai mengunggah ceritanya di blog kesayangan, mendadak Hangyul teringat akan foto Yohan yang dia ambil dalam perjalanan ke sini. Beruntung Yohan selalu pulang agak malam karena paginya harus kuliah terlebih dulu. Dia jadi bisa bebas tertawa kecil seperti orang gila. Foto itu sengaja Hangyul pindah ke laptopnya mumpung belum ketahuan. Tidak sampai di situ saja, Hangyul juga membuka Cyworld minihompy-nya dan mengunggah foto Yohan di sana.
이한결 @gyulee “Pangeran Tidur”
Puas dengan keterangan yang dibuatnya, Hangyul kembali menutup laman itu dan memandangi kronologi akun twitter-nya.
Michael Lee @lee_gyul_gyul
“Spent a half day by bicycling around Aachen downtown. Do you have any recommendation where I should go tomorrow?”
Kali ini pertanyaannya tidak dijawab secepat biasanya. Baru setelah semua coklatnya habis, salah satu pengikut setianya meninggalkan balasan.
@chiyorose Kak, musim dingin begini enaknya ke jjimjilbang (sauna).
Balas @lee_gyul_gyul Benar juga. Tapi di sini mana ada? :(
Balas @chiyorose Coba ke Carolus Thermen. Kata mama itu semacam tempat berendam.
Balas @lee_gyul_gyul Oh ya benar, pemandian air panas! Noted! Thanks, Chiyo…
Balas @chiyorose Sama-sama, Kak! ^-^
Membayangkan tempatnya saja sudah membuat Hangyul kegirangan. Saking semangatnya bangkit dari kursi, Hangyul tidak sengaja menyenggol tumpukan buku di tepi meja belajar dan menjatuhkan buku sketsa A3 milik Yohan dalam posisi terbuka lebar. Pada halaman yang terbuka itu, terdapat gambar setengah badan seorang pria dari belakang dengan wajah menengok ke kiri. Gambar itu terlihat cukup detail sehingga Hangyul termenung dalam posisi jongkok. Di bawah gambar itu tertulis beberapa kalimat bahasa Jerman yang tentu saja tidak Hangyul mengerti.
Bukannya buku itu lekas ditaruh ke tempat semula, Hangyul justru memotret gambar beserta tulisan itu karena rasa ingin tahunya mulai membuncah. Dia duduk kembali di depan laptop dan coba mencari tahu maknanya. Begitu yang dicari ketemu, Hangyul menghela napas panjang selepas punggungnya dia sandarkan.
Ich denke dein, wenn mir der Sonne Schimmer
Vom Meere strahlt;
Ich denke dein, wenn sich des Mondes Flimmer
In Quellen malt.
(Aku memikirkanmu, saat sinar mentari berkilau
Memancar dari laut
Aku memikirkanmu, saat cahaya rembulan benderang
Terlukis di anak sungai)
Ich sehe dich, wenn auf dem fernen Wege
Der Staub sich hebt;
In tiefer Nacht, wenn auf dem schmalen Stege
Der Wandrer bebt.
(Aku melihatmu, saat di kejauhan
Debu-debu beterbangan.
Di gelap malam, saat di atas jembatan sempit
Para pelancong gemetar)
Ich höre dich, wenn dort mit dumpfem Rauschen
Die Welle steigt.
Im stillen Haine geh ich oft zu lauschen,
Wenn alles schweigt.
(Aku mendengarmu, saat suara berbising
Gelombang naik
Di kesunyian hutan, aku sering mendengarkan
Saat semuanya hening)
Ich bin bei dir, du seist auch noch so ferne,
Du bist mir nah!
Die Sonne sinkt, bald leuchten mir die Sterne.
O wärst du da!
(Aku bersamamu, seberapa jauh pun kau berada
Kau di sampingku!
Matahari tenggelam, bintang-bintang lekas menyinariku
Ah! Andai kau di sini!)
Rupanya kalimat-kalimat itu adalah bait terakhir puisi bertajuk Ich denke dein (Aku Memikirkanmu) karangan Johann Wolfgang von Goethe, penyair terkenal Jerman. Hangyul tidak menyangka Yohan bisa seromantis itu. Di benaknya muncul pertanyaan selanjutnya; siapa pria di sketsa itu? Mau Hangyul lihat dari sudut mana pun, jelas itu bukan dirinya, baik yang sekarang maupun 4 tahun silam.
T's Waltz (Piano ver.) by Senju Akira - Strawberry On The Shortcake OST
PEMANDIAN AIR PANAS CAROLUS THERMEN, AACHEN, 15 DESEMBER 2011 14.00 CET
Warna airnya biru secantik batu pirus dengan lapisan uap nan putih dan tipis. Riak-riak kecilnya saling berlomba untuk merambat ke pinggiran kolam. Di permukaan yang tenang itulah, Hangyul berendam seraya menatap langit-langit. Menikmati kehangatan air yang menyentuh setiap inci kulit tubuhnya dan melemaskan urat-urat saraf yang tegang akhir-akhir ini.
Hangyul sebenarnya masih ingin berlama-lama meski sudah hampir 30 menit di kolam utama dan duduk di ruang sauna sebelumnya 15 menit. Sayangnya semakin siang, suasana tempat pemandian bergaya Romawi kuno itu semakin ramai. Hangyul terpaksa menarik napasnya panjang-panjang sebelum berjalan ke tangga kolam. Hangyul duduk sejenak di kursi lipat, membiarkan buliran-buliran air turun dari atas kepala melewati leher yang jenjang, lalu ke tubuh atletisnya dan berakhir di kedua kaki.
Merasa diri sudah cukup kering, Hangyul beranjak ke ruangan loker yang bisa dijangkau hanya dalam 20 langkah. Selembar handuk putih dia sampirkan menutup kepala selagi kedua tangan sibuk mengambil pakaian dan ranselnya untuk dibawa ke ruang mandi di area yang sama.
“Entschuldigung, (Maaf,)” ujar Hangyul pada seorang pria yang tidak sengaja ditabraknya saat berbalik badan.
“Alles gut. (Tidak apa-apa.)”
Pria yang sudah berpakaian lengkap itu bergegas pergi keluar ruangan sebelum Hangyul sempat bertatapan jelas dengannya. Dia lantas hanya memperhatikan punggung pria itu yang semakin menjauh dan menghilang di balik deretan loker. Sembari mengingat-ingat hal yang familier, Hangyul coba mengejar sosok tadi. Beruntung dirinya masih bisa menemukan pria itu dalam sekejap dan mengikutinya sampai ke kafetaria di lantai dasar.
Dari kejauhan, Hangyul melihat pria itu dihampiri oleh seorang gadis kecil berambut hitam dan berkulit putih pucat. Dia menggendong anak itu ke dalam pelukan. Tak lama kemudian, seorang wanita ikut bergabung dan membawakan sebotol air isotonik. Pintu keluar pemandian menjadi tujuan mereka bertiga setelahnya.
“Tidak mungkin,” gumam Hangyul seraya bersandar di balik tiang. Dahinya yang mengerut dipijat pelan, berharap pikiran buruk yang tiba-tiba muncul bisa lekas hilang dari dalam benak.
****
Secangkir mocaccino hangat Hangyul seruput sedikit demi sedikit selagi duduk di salah satu ujung sofa panjang berwarna kuning. Hujan yang turun sore hari itu memaksa dia berteduh dan menepikan sepeda. Kebetulan di sekitarnya ada sebuah kafe kucing bernama Milou. Sebagai pecinta hewan berbulu itu, tanpa basa-basi lagi Hangyul masuk dan memesan camilan berupa apfelkuchen buatan si pemilik kafe sendiri. Ketika Hangyul hendak melahap suapan pertama pai apel itu, sebuah notifikasi pesan obrolan Cyworld muncul di layar Samsung Galaxy Tab 10.1-nya. Seorang teman dekat rupanya tertarik mengomentari foto Yohan yang dia unggah 4 hari lalu.
히라 @_youngyul sedang aktif
Cium! Cium! Cium!
이한결 @gyulee
You’re kidding me.
히라 @_youngyul
Who is he? Bukan teman sejurusan kita, ‘kan?
이한결 @gyulee
He’s my cousin... Nope, my bro in law’s cousin.
히라 @_youngyul
Still, a distant relative by marriage, not through blood. Tunggu apa lagi? Kalian berdua cocok!
Sebuah bantal sofa Hangyul ambil dan ditempelkan lekat-lekat ke wajah. Gelak tawanya coba dia redam bersama kebingungan soal mana yang jauh lebih lucu. Provokasi teman atau perasaannya sendiri terhadap Yohan yang kalau boleh jujur, sudah meningkat dari tahap kagum ke tahap tertarik.
Di tengah-tengah renungan itu, mendadak kedua paha Hangyul berasa ditindih oleh sesuatu. Begitu bantal dia jauhkan, ternyata Balu sudah mendudukkan diri dengan nyaman di sana. Kucing putih-hitam berjenis campuran mainecoon dan ragdoll itu bahkan menengadahkan kepala dan mengeong satu kali. Tuan Muda minta dielus dan sebagai hamba sahaya, Hangyul hanya bisa menuruti dengan helaan napas panjang.
“Rasanya aku ingin pulang saja.”
RÜTSCHERSTRAßE 90 AACHEN, 23 DESEMBER 2011 11.00 CET
Sinar mentari yang sudah menerpa sisi kanan wajah Yohan hampir 10 menit itu, kian terasa panasnya. Merangsang kedutan di kedua kelopak mata dan buliran keringat untuk meluncur dari anak rambut hitamnya. Tangan kanan dia angkat menutupi wajah, sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa kembali tidur. Namun sekuat-kuatnya tangan menempel, tetap akan terlepas jua. Alhasil Yohan memakai sisa-sisa tenaganya untuk menggulingkan wajah dari kiri ke kanan.
Kedua mata Yohan dalam sekejap terbuka. Dari ekor mata kanannya, Yohan mendapati pucuk hidung dan bibir Hangyul menempel ringan di tulang pipinya. Dirinya kaget bukan kepalang karena selama 14 malam tidur satu kasur, Hangyul selalu bangun lebih awal. Seminggu belakangan suhu memang semakin turun mendekati 0 derajat Celsius, ditambah hujan berintensitas sedang juga menguyur Aachen semalam suntuk. Cuacanya sangat mendukung untuk hibernasi.
Sebelum Hangyul terbangun atau melakukan yang lebih parah lagi seperti memeluknya, Yohan coba menjauhkan wajah pelan-pelan. Tubuh bagian atas juga ikut dia geser untuk memberi jarak aman. Syukurlah pemuda itu masih terlelap kala Yohan menoleh kembali ke arahnya. Senyuman tipis menggantung di bibir Yohan saat melihat keseluruhan fitur wajah Hangyul sejauh satu jengkal. Kedua alis tebalnya membingkai batang hidung nan tinggi dan belah bibir yang menawan. Belum lagi garis mukanya yang cukup tegas, membuat Yohan serasa memandangi patung David buatan Michelangelo. Bahkan selama menemani Hangyul, Yohan menangkap basah beberapa bule yang asyik mengamati ketampanan Hangyul dalam diam. Tidak terkecuali Ora.
“Kau sudah bangun rupanya.”
Lirihan setengah kantuk Hangyul itu menyadarkan Yohan dari lamunannya.
“Baru saja. Sekarang sudah jam 11 lebih,” balas Yohan setelah menyalakan ponselnya.
“Hmm… pantas aku lapar.”
Sementara Hangyul meregangkan tubuh, Yohan beranjak dari kasur untuk membuka gorden. Jalanan tampak sudah kering dari genangan air.
“Hast du Lust auf den Weihnachtsmarkt zu gehen? (Mau ke pasar natal?)”
“Weihnachtsmarkt? (Pasar natal?) Lagi?”
“Memangnya yang di Aachen sudah kau kunjungi?”
“Belum, baru yang di Frankfurt. Apa bedanya?”
“Sebenarnya tidak banyak. Mumpung hari ini cerah dan aku bisa menemanimu.”
****
Suasana Marktplatz, alun-alun kecil tempat diselenggarakannya Pasar Natal Aachen, rupanya sangat padat dan ramai karena ini adalah hari terakhir. Penduduk lokal maupun turis dalam dan luar negeri, datang berbondong-bondong menghabiskan uang untuk berbelanja makanan dan pernak-pernik khas Natal. Di antara kerumunan itulah Hangyul dan Yohan bersusah payah memisahkan diri. Kedua tangan mereka angkat tinggi-tinggi agar aachener printen dan gluhwein yang sudah dibeli tidak hancur tertumbuk.
“Kalau sendirian, aku pasti ogah ke sini,” keluh Hangyul sesampainya mereka di dekat satu kursi tak bertuan depan toko perhiasan. Hangyul yang menemukannya, tapi dia mempersilakan Yohan untuk duduk dan menukar satu gelas kertas di tangannya dengan dua biskuit jahe di tangan Yohan.
Seteguk minuman anggur bercampur rempah-rempah itu saja mampu menghangatkan tubuh Hangyul dan membangkitkan semangatnya lagi. Gigi kelinci Yohan bahkan tak tahan untuk menyapa saking lucunya ekspresi Hangyul yang bisa berubah-ubah layaknya seniman pantomim.
Di sela-sela canda riang keduanya, tiba-tiba seseorang menyenggol bahu kanan Hangyul dengan cukup keras. Biskuit yang baru saja ingin digigit itu tak ayal lepas dari tangan dan terinjak oleh Hangyul sendiri. Gluhwein-nya pun tumpah dan menyiram jaket abu-abu bagian dada si penabrak yang ternyata pemuda Jerman.
“Hei! Vorsichtig! (Hei! Hati-hati!)”
Jangankan meminta maaf pada Hangyul, peringatan Yohan saja dia abaikan dan kembali berlari secepat mungkin. Awalnya Yohan tidak ingin berburuk sangka, tapi seorang wanita yang berada cukup dekat dari mereka justru membenarkan firasatnya dengan teriakan minta tolong.
“Scheiße! (Berengsek!)” umpat Hangyul begitu telat menyadarinya. Tanpa menoleh ke Yohan, Hangyul segera berlari mengejar laki-laki itu. Yohan jadi ikut panik sampai-sampai dia hanya terpikir untuk menaruh gluhwein dan bungkusan biskuitnya di atas kursi.
“Hilfe! (Tolong!)”
“Bitte rufen Sie sofort Polizei. Wir werden den Taschendieb fangen. (Nyonya, cepat panggil polisi. Kami akan mengejar pecopet itu.)”
Seusai menenangkan wanita malang itu, Yohan bergegas lari mengikuti arah perginya Hangyul. Beberapa blok sudah dia lalui, tapi hasilnya nihil. Beruntung saat ingin menyeberangi jalan besar, suara jeritan seorang pria terdengar dari belakang sebuah truk sampah yang terparkir di dekat sana.
“Stop, sorry sorry!”
Napas Yohan yang tersengal-sengal disambut posisi Hangyul yang mengunci leher dan kaki si pencopet dari bawah layaknya pegulat.
“Yohan, pencopetnya ada dua! Pakaian mereka sama persis, tapi tas wanita tadi warnanya merah cabai. Kurasa kau akan menemukannya. Cepat kejar, ke arah sana!”
Selepas mengangguk ringan, Yohan buru-buru menyusuri jalan panjang yang ditunjukkan Hangyul. Dia cukup kesulitan karena terlalu banyak yang lalu-lalang dengan pakaian warna senada komplotan itu. Keinginan untuk menyerah mulai datang. Namun saat tubuhnya hendak disandarkan ke sebuah pohon di taman kosong, Yohan mendapati sosok yang dicari sedang memindahkan isi tas wanita itu ke dalam tasnya sendiri. Langkah senyap segera Yohan ambil ke pojok semak-semak untuk menyergap si pencopet sebelum dia kabur lagi.
*PERINGATAN! Adegan Berbahaya Dengan Sedikit Darah.
“Komm nicht näher! (Jangan mendekat!)”
Bisa dibilang pencopet yang satu ini lebih waspada. Meskipun tersudut, dia sudah menodong Yohan dengan pisau lipatnya.
“Gib es zurück. (Kembalikan.)”
“Hier! (Ini!)”
"Arschloch. (Pecundang.)"
Sesuai dugaan Yohan, tas merah cabai itu sudah dikosongkan sebelum dilempar.
“Gib auf! Polizei wird bald kommen. (Menyerahlah. Polisi akan segera datang.)”
“Halt die Klappe! Ich will dich nicht verletzen! (Tutup mulutmu! Jangan sampai aku melukaimu!)”
Alih-alih mundur, Yohan malah semakin maju sembari memainkan tas wanita itu.
“Schau ma mal, wer wird denn verletzt. (Kita lihat siapa yang akan terluka.)”
"Verdammt! (Sialan!)"
Yohan melempar tas wanita itu ke arah pisau tanpa melepas tali panjangnya, sengaja untuk mengecoh fokus si pencopet. Dan begitu lawan lengah, Yohan menendang kuat-kuat sisi kanan kepalanya dengan kaki kiri. Tetesan darah boleh jadi sudah keluar dari hidungnya setelah tersungkur, tapi semangat lelaki itu untuk meraih pisau yang terlempar rupanya masih membara. Yohan lantas menjauhkan pisau itu dengan kaki kanannya dan sebelum sempat melawan balik, lengan dan kaki kanan pencopet itu Yohan kunci tanpa celah sedikit pun.
*Adegan Berbahaya SELESAI.
“Polizei! Hand hoch! Nicht Bewegen! (Polisi! Angkat tangan! Jangan bergerak!)”
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, wanita itu memberi tahu polisi bahwa Yohan hanya berniat menolongnya. Borgol akhirnya dipasangkan ke tangan si pencopet, lalu dibawa ke kantor polisi untuk diamankan.
“Hier ist Ihre Tasche, aber die Sachen habe ich in diesen schwarzen Taschen gebracht. Können Sie bitte nachsehen, ich hoffe, es ist nichts verloren. (Ini tasmu, Nyonya, tapi isinya sudah dipindahkan ke tas hitam ini. Mohon diperiksa, semoga tidak ada yang hilang.)”
“Vielen Dank. (Terima kasih banyak.)”
Seorang polisi kemudian membawakan wanita itu sebuah boks kayu tak terpakai. Dia mengeluarkan semua isi tas dan menjajarkannya satu per satu di atas boks. Selagi menanti konfirmasi, pandangan Yohan tiba-tiba teralihkan ke seorang gadis kecil berambut hitam dan berkulit putih yang digandeng oleh polisi lain. Saking paniknya, Yohan tidak menyadari kalau wanita itu ternyata sedang bersama putrinya yang mirip seperti karakter Putri Salju.
“Hallo süße, (Halo, manis,)” sapa Yohan sembari membelai pelan kepala anak itu. Iris matanya yang berwarna biru begitu indah untuk dilihat. Mengingatkan Yohan pada seseorang yang belakangan sulit untuk dia temui dan jarang memberi kabar. “Wie heißt du? (Namamu siapa?)”
“Ich heiße Albina. (Namaku Albina.)”
“Albina, ein schöner Name, was bedeutet das? (Albina? Kedengarannya bagus. Artinya apa?)”
“Weise und heilig. Sie wurde im Januar geboren, als sich der Schnee auftürmte, (Putih dan suci. Dia lahir bulan januari saat salju-salju menumpuk,)” jawab wanita itu mengambil alih. “Die Sachen sind noch komplett. Ich danke Ihnen nochmal. Herr... (Semua barangku masih lengkap. Sekali lagi terima kasih, Tuan…)”
“Johann Müller.”
“Danke, Herr Müller. Ich bin Kseniya, (Terima kasih, Tuan Müller. Aku Kseniya,)” imbuhnya sambil mengulurkan jabat tangan.
“Kseniya. Entschuldigung, wenn ich fragen darf, Sind Sie deutscher? (Kseniya? Maaf, kalau aku boleh tanya, apa Anda orang Jerman?)”
“Nein, Ich komme aus Ukraine. Ich lebe seit fünf Jahre in Deutschland und arbeite auch hier seit Albina geboren ist. Hier ist meine Visitenkarte. (Bukan, aku orang Ukraina. Sudah hampir 5 tahun tinggal dan kerja di sini sejak melahirkan Albina. Ini kartu namaku.)”
Tidak ada yang spesial dari kertas putih kecil itu. Hanya tercantum nama lengkap, alamatnya yang berada di Hannover, nomor ponsel, serta profesinya sebagai apoteker. Namun saat Ksenia hendak memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas, selembar foto bercap air Kebun Binatang Hannover tampak menarik perhatian Yohan.
“Ist jemand auf dem Photo ihr Mann? (Apa pria di foto ini suami Anda?)”
Pertanyaan sederhana Yohan itu Kseniya tanggapi dengan senyum simpul.
“Er ist Albinas Vater. (Dia ayahnya Albina.)”
“Yohan!”
Teriakan Hangyul tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka. Yohan yang sebenarnya tengah kebingungan, memilih untuk segera mengembalikan foto itu sebelum bisa dilihat Hangyul.
“Akhirnya tertangkap juga,” celetuk Hangyul sembari melingkarkan lengannya di pundak Yohan, tak peduli Kseniya ada di hadapan mereka.
“Ist er dein Freund? (Dia temanmu?)”
“Ja. Er ist Lee Hangyul. Er ist Koreaner. (Ya, namanya Lee Hangyul. Orang Korea.)”
“Alles klar. (Begitu.) Hello, I’m Kseniya. Thank you very much for helping me.”
“Don’t mention it. I’m Michael Lee.”
Seketika Yohan memandang Hangyul dengan tatapan terkejut. Andai Hangyul tahu Yohan berupaya menahan diri untuk tidak membahasnya lebih lanjut.
Kseniya lekas berpamitan kepada mereka berdua untuk menyelesaikan laporan di kantor polisi dengan menggendong Albina. Sejauh ini Hangyul masih biasa-biasa saja. Namun saat keduanya sudah berlalu dari hadapannya, memori singkat sewaktu di pemandian air panas mendadak muncul di kepala Hangyul. Dia baru menyadari bahwa ibu dan anak itu adalah orang-orang yang pergi bersama si pria misterius. Hangyul terdiam seribu bahasa karena Yohan ada di sana. Hanya sebentar sebelum akhirnya dia merintih kesakitan saat Yohan bergantian merangkul pundaknya.
****
“Kalau tahu bakal seperti ini, aku tidak akan mengajakmu.”
“Sudahlah, ini cuma memar. Namanya juga musibah, siapa yang tahu?” hibur Hangyul seraya menikmati sensasi sejuknya gel Thrombophob yang Yohan oleskan tipis-tipis di bahu kiri belakang. Rasa kantuk pun tanpa sadar mulai menghampiri.
“Oh ya, kau masih mau mampir ke tempat kerjaku? Aku sudah meminta izin ke pengawas. Anggap saja penebusan rasa bersalahku.”
“Tentu saja!”
Awalnya Hangyul menolehkan kepala hanya untuk memastikan Yohan tidak bercanda. Namun siapa sangka jarak antara ujung hidung mereka yang selebar dua jari, juga tidak main-main godaannya. Tujuh detik lamanya pandangan Hangyul dan Yohan saling bertemu, dan berlanjut turun ke bibir masing-masing. Tarikannya tak dapat ditolak. Bibir keduanya melekat sekuat kutub-kutub magnet yang berlawanan.
“Hangyul? Tidur ya?”
Yohan baru selesai mengoleskan gel saat panggilannya tidak lagi direspons Hangyul. Saking lelahnya, pemuda itu tidur dalam posisi duduk di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal. Selimut tebal Yohan lebarkan menutupi tubuh bagian atas Hangyul yang telanjang sebelum merebahkannya pelan-pelan ke posisi yang lebih nyaman. Senyuman tipis yang tergurat di bibir Hangyul sama sekali tidak Yohan curigai. Andai dia tahu yang terjadi di dunia mimpi Hangyul.
CONTINUE TO CHAPTER 2
