Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 9 of pojok faperta
Stats:
Published:
2021-04-03
Words:
1,498
Chapters:
1/1
Kudos:
13
Bookmarks:
1
Hits:
164

yudisium

Summary:

mari intip Naruto ceritain kesan dan pesan wisudawan di yudisium

Work Text:

Tepakan gaduh mengadu alas dengan lantai, dari arah kamar ia tiba di ruang tengah dengan napas terengah. Mencari sosok penghuni lain di apartemen ini untuk menyampaikan sebab dari akibat yang ia lakukan.

"Sasuke!"

"Hn."

"Aku ditunjuk jadi perwakilan wisudawan untuk baca pesan dan kesan di yudisium!"

"That's pretty cool. Selamat, ya."

Lima hari sebelum selebrasi wisuda fakultas alias yudisium, ponsel tak berpelindung milik Naruto memunculkan notifikasi dari nomor tak dikenal. Mengirimkan pesan ke aplikasi obrolnya, berisikan yang intinya telah ia sampaikan pada Sasuke yang tengah santai menonton video asal rekomendasi berdasarkan logaritma akun YouTube-nya.

"Bukan itu masalahnya, ini udah tinggal..." Jemari Naruto dilibatkan dalam menghitung hari menuju hari yudisium. "...Lima hari lagi! Well, empat, lima hari lagi lah. How I can write for something big and special and formal in such a short periode of time?!" Nada meringis. Pundaknya ikut melengkung karena putus asa.

Sasuke memberhentikan video kompilasi pemenang The Voice UK dan memposisikan diri berhadapan dengan lelaki yang hatinya tengah kalang-kabut itu, "Coba kamu cari referensi graduation speech, nanti kan bisa belajar dari situ. Perhatiin juga muatan apa yang disampaikan dalam speech mereka."

Membawa tubuhnya untuk duduk di samping Sasuke, Naruto menjawab dengan lesu, "Iya, tahu. Tapi..." Tak mampu menyelesaikan ucapannya, Naruto mengganti dengan membuang napas keras keras.

Menjadi kekasih yang supportif dan inisiatif, Sasuke lekas mengetik sesuatu di kolom pencarian YouTube. Dengan loading sebentar, sekian puluh ribu video graduation speech muncul. Ia memilih video dengan jumlah penonton terbanyak, merupakan video graduation speech dari Universitas Harvard unggahan CNN.

"Ini nih, coba nonton ini." Sasuke merotasi ponsel menjadi mode landscape dan menonton bersama Naruto.

"Lift off!" Dengan durasi video lima menit lebih sebelas detik, graduation speech lulusan Harvard selesai ditonton, meninggalkan rasa merinding sebadan-badan bagi pasangan remaja tanggung Naruto dan Sasuke. Efek dari penyampaian pidato yang super keren dan kalimat yang menyentuh.

"Hm, bagaimana?"

Sedikit perasaan gundahnya terangkat diganti dengan inpirasi suasana yang ingin ia bangun dalam speechnya nanti. "Coba cari lagi yang lain." Pintanya.

Sasuke memilih video dengan judul 'Beautiful and Moving Graduation Speech 2016'. Dengan tahapan menonton yang sama seperti video sebelumnya, keduanya menjadi salah satu dari sembilan ratus dua puluh satu ribu penonton. Menyerap informasi dari video berdurasi dua belas menit lebih empat detik tersebut.

Namun, masuk menit ketiga, Naruto menyatakan, "Ini wisudaan SMA."

"Iya, tapi ditonton aja. Buat nambah inspirasi."

Layar memunculkan opsi putar ulang, namun tak digubris keduanya. "Dibanding yang pertama, yang ini lebih personal, ya." Naruto berpendapat. Mesin-mesin di otaknya bekerja untuk menyerap dua speech beda keadaan beda penyampaian itu.

"Aku jadi kepikiran mau bikin speech yang aku banget. Maunya yang lucu, gak mau yang sedih sedih."

Rambut hitam Sasuke ikut bergerak kala ia memberi persetujuan. "Bisa aja. Nah, itu kan udah dapet vibes-nya mau gimana, tinggal mikirin deh mau ngomong apa di podium nanti."

Senyum merekah setelah mencuri cium dari bibir sang kekasih, lelaki pirang itu lekas melipir ke kamar. Sedangkan yang di tinggal, merebahkan badan pada sofa dengan bantal menjadi ganjalan tangan. Lewat riwayat tonton, ia kembali memutar The Voice UK 2018.

 

**

 

"This isn't working."

Waktu bergulir, yudisium tinggal H minus dua. Tapi, paragraf kedua belum rampung juga. Asap tipis mengepul dari rongga folikel Uzumaki. Kepala dan badannya terkulai pada meja kayu depan TV seakan ada tumpukan buku Kotler dari jilid pertama sampai akhir dikali lima. Tangan kanannya tak berdaya, tak mampu lagi menggenggam pensil sebagai satu satunya pegangan kala ia menulis kesan pesan wisudawan.

Kedua tangan penghuni lain apartemen jadi tumpuan mug oranye dari dapur ke ruang tengah. Samar-samar uap menggumul melebur dengan udara menghantarkan aroma kakao manis bercampur creamer vanila yang mendayu indera penciuman.

"Hei." Sasuke menyapa, kala keramik kaca bersua dengan meja.

"Hei, babe." Jawab Naruto dengan suara berat tak bersemangat. Buku Kotler imajiner masih belum minggat rupanya.

"Kamu udah selesai?"

"Far from it, babe. Far from it."

Kedua telapak yang masih hangat efek cokelat panas bertemu lapisan terluar kulit wajah si tersayang. Mengunci pandang; mentransfer kesah, gelisah, gundah untuk kemudian ditransformasikan menjadi afirmasi mega dahsyat,

"Just be you. Tulis apa yang emang kamu rasain selama empat tahun kuliah di sana, anggap aja kamu lagi cerita sama orang yang kamu nyaman sambil jalan-jalan ke masa lalu. Itu yang nanti bikin tulisan kamu autentik. Itu yang bikin kamu, ya, kamu."

Afirmasi berganti afeksi. Keduanya ambruk terhanyut pusara arkana cinta. Hangat, mengalahkan minuman cokelat di mug jelek warna oranye. Manis, mengalahkan minuman cokelat di mug jelek warna oranye. Sederhana, mengalahkan riuh pikuk rangkai kata pada kertas yang tak kunjung tamat.

 

Pukul dua dini hari, Naruto terbangun di meja depan TV dengan kertas pensil tergeletak di sisi. Pandangan belum fokusnya mengedar ke sekitar, berhenti kala mendapati pintu kamar terbuka lebar menunjukkan sang kekasih yang terlelap seorang diri di balik selimut motif garis.

Bunyi 'pop!' berulang konstan terdengar ketika tubuh yang merebah di sofa beranjak mengubah arah mata angin. Tangan kanannya ngilu campur kebas akibat tertekuk entah dari kapan.

Ia beranjak setelah darah di tubuhnya mengaliri bagian-bagian tubuh yang sempat minim jamahan dalam kurun waktu beberapa jam ke belakang. Menenteng mug bekas cokelat ke keran pencuci piring, membilas sisa cokelat yang telah mengering untuk kemudian diisi ulang dengan air mineral.

Beberapa waktu kemudian, mug yang telah kosong duduk di sisi kanan berjajar dengan pensil tumpul berasap imajiner di bagian arangnya, kertas banyak coretan di hadapan. Kata-kata magis Uchiha berjam-jam lalu memasok banyak semangat --walaupun sempat jeda istirahat--, buat tangan pemuda Uzumaki bergerilya menuangkan inspirasi yang terbayang di otak sampai titik terakhir ditempa tepat pada pukul tiga lewat empat puluh tujuh pagi.

 

**

 

Satu hari menuju yudisium di apartemen Uzumaki Uchiha pukul 12.54 siang, Sasuke adalah entitas pertama yang muncul di kepala kala Naruto membuka mata.

"Babe, aku udah selesai bikin speech! Kamu dengerin ya!" Katanya kelewat semangat, menimbulkan gerakan-gerakan nirfaedah pada tubuh baru bangunnya dengan tangan siap memegang lembaran kertas banyak coretan manuskrip asli dari pidatonya.

"I'm all ears." Jawab Sasuke setelah menelan potongan dari manisan tomat dingin.

Sepanjang Naruto menumpahkan kata-kata hasil rangkaiannya, Sasuke hanya diam, namun berbanding terbalik dengan kepalanya. Naruto seperti mengajaknya bertamasya ke masa maba, melewati semester dua, tiga, dan seterusnya sampai semester tua. Dibumbui pesan, speech ditutup dengan terima kasih sebagai ucapan.

"Selesai.. gi-- babe! Kenapa kamu nangis?!" Lekas mendekap lelaki yang tengah banjir air mata, Naruto mengelus punggung Sasuke untuk menenangkan.

Dengan hidung yang tersumbat buat sulit bernapas dan mata yang terus menumpahkan cairannya, Sasuke menjawab, "Bagus.. Bagus banget.. Aku serasa diajak ke masa jadi maba. Keren banget." Kemudian ia tersedu lagi.

Bibir Naruto membentuk kurva, matanya meneduh. Dalam hati ia berharap pada Semesta jika ini adalah pertanda baik untuk performanya hari esok. Sasuke --dalam tangis, mengabaikan manisan tomat dinginnya-- meracau perkara masa semester muda, tangan melingkar Naruto tanpa lelah mengelus punggung Uchiha, menanggapi dengan santai racauan sang kekasih sampai tangis itu tak lagi berwujud.

 

**

 

"Kesan dan pesan wisudawan akan disampaikan oleh Uzumaki Naruto, kepadanya dipersilahkan."

Hari yudisium pun tiba. Dominasi warna hijau dengan ragam tanaman hias yang diangkut langsung dari green house fakultas mendekorasi aula Fakultas Pertanian yang merupakan signature color fakultas tersebut. Semua wisudawan mengenakan pakaian formal terbaiknya di balik tunik gombrong toga, kemeja dengan dasi dan jas hitam untuk setelan laki-laki dan dress hias brukat dengan sentuhan manik-manik untuk perempuan. Wajah gadis-gadis itu juga dipoles warna-warna untuk mempercantik penampilan.

Tentu saja, semua bergairah untuk selebrasi kelulusan.

Serangkaian acara resmi telah berlalu, dengan acara inti pindah kuncir dan pemberian Surat Keterangan yudisium pada wisudawan, juga pemberian penghargaan pada wisudawan terbaik. Aburame Shino mendapat predikat Lulusan Terbaik 1 tingkat fakultas, diikuti Hyuuga Hinata, kemudian Uchiha Sasuke. Dan kini tibalah saatnya di penghujung acara.

"Semangat." Bisik Sasuke kala Naruto bangkit dari kursi berlapis bludru di sampingnya.

Dengan jantung yang mengakselerasi adrenalin, teks yang telah diketik rapih digenggam di sisi kiri, tungkai lelaki berrambut pirang tertutup topi toga menepak mantap sepatu pantofel berkulit klimis itu menuju podium. Aksesoris baju toganya kokoh membalut punggung lekuk sempurna dan sleber hijau muda warna khas fakultas budidaya menonjolkan bahu tegap lelaki awal dua puluhan Uzumaki menjadi tampak gagah.

Keheningan tercipta kala Naruto mengedar pandang pada audiens. Di tengah pengedarannya, ia bertemu pandang dengan bola hitam pemuda berselempang Lulusan Terbaik 3, anggukan kecil diberikan tanda isyarat jika ia siap. Menghela napas lamat-lamat dan menghembuskannya perlahan, setelahnya kalimat pembuka ia ucap dengan lantang dan mantap bantuan pengeras suara aula,

 

”…..Indonesia merupakan negara agraris penghasil ragam produk pertanian juga perkebunan. Produk pertanian terbagi menjadi ragam subsektor yaitu subsektor tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, juga jasa pertanian dan perburuan…..

…. Pasti semua teman-teman yang ada di sini akrab dengan penggalan paragraf yang saya baca kan tadi; ya, itu adalah bagian dari pendahuluan –latar belakang skripsi, tugas akhir yang kita kerjakan sebelum resmi dibaiat dengan gelar Sarjana Pertanian.”    []

 

narutozm "...Selebrasi hari ini adalah persinggahan sementara atas jejak langkah yang kita tapak perjuangkan. Setelah ini kita masih harus melangkah, sampai nanti tiba di persimpangan dengan pilihan lanjut S2, bekerja, atau.... menikah. Pun setelah memilih berhaluan kemana, kedua tungkai ini, beralas Nike atau sendal jepit berpeniti, masih tetap --masih harus terus melangkah menjalani pilihan yang dipilih." -- selamat jadi sarjana buat kalian semua yg baca caption ini!! 🌾🌿

Series this work belongs to: