Work Text:
Usianya dua puluh, namun otaknya dipaksa menerobos jauh ke masa depan.
Semua itu berawal dari kelas kewirausahaan semester lima.
"Sekarang coba kalian tulis gambaran kehidupan kalian di sepuluh tahun yang akan datang. Minimal lima, maksimal sebanyak-banyaknya."
Suara berisik menguak dari tiap-tiap penghuni kelas. Ada yang menggaruk kepala tak tahu mau nulis apa. Ada yang pinjam pulpen ke teman sebelah. Ada yang minta kertas binder karena malas bawa catatan. Ada juga yang langsung sigap menulis lima apa-apa yang akan telah dicapai di sepuluh tahun mendatang.
Semua berawal dari kelas kewirausahaan semester lima.
Urat kepalanya jadi timbul, telapak tangan berkeringat.
Siapa yang matikan pendingin ruangan?
Tidak ada.
Akibat tangan yang basah, pulpennya jadi licin saat menuliskan angka empat.
Tunggu.. sudah nomor empat..?
Pasti ia menulis daftar teman yang membayar kas kelas.
Ah, tapi sayangnya, bukan. Ia melantur. Pasti.
"Nanti saya akan tunjuk tiga mahasiswa untuk jadi perwakilan baca tulisannya, ya."
Ibu, diam dulu.
Tangan aktifnya memainkan pegas pulpen, pasifnya digosok-gosok ke paha.
Nomor lima... Terakhir... Apa ya....
Semua berawal dari kelas kewirausahaan semester lima.
Berbanding terbalik dengan wujud eksternalnya yang tenang, internal dirinya tergopoh-gopoh kala titik terakhir ditancapkan pada ujung kalimat setelah nomor lima. Menembus ruang dan waktu ke sepuluh tahun mendatang sungguh melelahkan.
Detak jantungnya ganti dikejar masa sekarang kala Ibu Dosen menyebut nama beserta marganya arbitrer.
"Uchiha Sasuke, silakan baca apa yang mau dicapai untuk sepuluh tahun ke depan."
Ia bukan peserta The Voice, tapi semua memutar badan demi melihatnya baca tulisan dari kursi belakang. Entah serangga apa yang berbisik lewat telinga, ia berdiri dengan lembar kertas binder minta teman. Jadi satu-satunya pengangan hidup saat itu.
Hirup... Buang....
"Saya, Uchiha Sasuke. Dua puluh tahun. Dan ini adalah saya di sepuluh tahun yang akan datang..."
--
----
------
--------------
"Sedang apa?"
"Mengepak buku, tapi malah menemukan catatan lama."
"Catatan apa?"
Frasa 'tidak penting' terhenti di ujung lidah, berganti jadi, "Anak semester lima."
"Hm? Delapan tahun lalu? Atau sembilan?"
"Sepuluh."
Tawa ringan merambat lewat udara sekitar, validasi mini kalau kerja kalkulasi otaknya buruk. Sebelum kembali berucap, ia menempelkan bibir pada pelipis lawan bicaranya, "Ya sudah, kalau sudah rampung, panggil aku, ya. Aku mengepak perabot dapur."
"Hn."
--
----
------
--------------
Sepuluh tahun kemudian, aku sudah...
- ada di posisi kehidupan yang stabil; secara finansial maupun emosional
- mendapat gelar doktor di bidang pertanian
- bahagia dengan pasangan hidup (sudah menikah!)
- ke suatu tempat (dalam atau luar negeri) dengan keilmuan yang dimiliki
- punya rumah di Bogor yang dibangun atau didesain bersama pasangan
21/9/17
--
----
------
--------------
Semua berawal dari kelas kewirausahaan semester lima.
Tinta biru yang telah berpendar terserap serat kertas ditelan usia menorehkan daftar nomor satu sampai lima. Tulisannya berantakan dikelilingi gambar enigma, representasi kata bosan saat jam pelajaran pada masanya.
Sudut bibirnya menukik ke atas. Dilipatnya kertas binder yang bolongannya tak lagi berfungsi akibat ditarik paksa dari kaitnya. Masuk pada sela saku celana. Ia kembali menata buku --kebanyakan tentang khazanah pertanian-- ke dus karton.
Biaya sewa mobil box pengangkut perabot rumah untuk pindahan memang mahal. Tapi, semua dirasa setimpal kala penunjuk jalan memampangkan tujuan.
"Naruto, keluar tol nanti melipir ke minimarket dulu."
"Oke, babe."
Lingkar perak berkilauan, tersemat pada jari manis keduanya saat jalan panjang minim pohon menghantamkan cahaya siang langsung menembus kaca mobil.
Semua berawal dari kelas kewirausahaan semester lima.
Jemari tangan satunya dibawa melingkar gerakkan perak yang bertahta di jarinya. Pandangannya lurus membelah cakrawala. Oh, Bogor, kami datang... []
do not repost art without permission -- commissioned by dinu5uvi
