Work Text:
Kendati sudah lulus, kadang ada saja printilan yang masih harus diurus. Ingin daftar sekolah lagi lewat jalur beasiswa, misalnya, harus minta surat rekomendasi dari dosen pembimbing dan/atau legalisir ijazah dari kampus. Kalau daftar sekolahnya ke luar negeri, ijazah yang sudah diterjemah oleh penerjemah tersumpah, tentu harus dilegalisir kampus lagi.
Bolak-balik kampus, setidaknya itu yang dilakukan Sasuke dua bulan terakhir ini. Ia ingin melanjutkan studi ke luar negeri; negara mana saja yang buka pendaftaran di tahun ini dan dapat memenuhi persyaratan akan dia jajal, rencananya. Selain meminta legalisir atas berkas baru dan surat rekomendasi pembimbing, ujian TOEFL pun ia ikuti untuk memperbaharui skor. Omong-omong, itu baru untuk berkas utamanya. Masih ada proposal penelitian dan esai motivasi yang juga perlu waktu khusyuk dalam pembuatannya.
Sekadar informasi, Sasuke bukan fresh graduate. Dia sudah di wisuda dua tahun lalu. Sejak saat itu, ia isi hari-harinya dengan bekerja sebagai product specialist (atau, bahasa sederhananya, penanganan pascapanen) di retail buah dan sayur online bersama sang pacar. Dirasa tabungan dari penghasilan bulanannya sudah mantap, ia pun mengupayakan untuk memenuhi keinginan melanjutkan studi tahun ini.
"Boleh kuliah lagi, tapi Bapak 'nggak mau tanggung. Kamu biaya sendiri." Adalah ucapan tegas Fugaku di meja makan malam tempo hari sepekan setelah yudisium. "Atau, kamu daftar pegawai negeri, biar nanti bisa disekolahin dari sana." Tanpa pikir dua kali, Sasuke memilih opsi pertama.
Saat ini, Sasuke kembali ke almamaternya untuk memperkaya referensi dalam proses penyelesaian calon tesisnya di perpustakaan Fakultas Pertanian, di alma mater strata satunya. Dalam waktu dekat ini, ia membidik Australia sebagai negara tujuan lanjut studinya setelah bulan kemarin ia mengajukan beasiswa ke salah satu universitas di Jepang. Agak gambling, tapi Sasuke mendaftar dua konsentrasi berbeda untuk--sejauh ini--dua beasiswa yang ia tuju: ke Jepang mengambil filsafat pertanian, sedangkan Australia, ekonomi pertanian. Untungnya, fakultas tengah liburan semester, jadi tak banyak sivitas kampus yang berlalu lalang. Di perpustakaan pun, hanya ada ia dan pegawai perpustakaan.
Pukul 12.00 siang, tari jemari pada papan ketik Sasuke terhenti karena ditegur pegawai perpustakaan, "Waktu istirahat, silakan keluar."
"Kalau saya di sini saja, apa boleh? Sebentar lagi ketikan saya selesai." Tawar Sasuke.
"Boleh saja, tapi pintu saya kunci dan baru dibuka lagi selesai istirahat. Ya, sekitar jam 12.30 atau 12.45, mungkin."
"Tidak apa, saya di sini saja."
"Oke."
Pegawai perpustakaan pergi, disusul derit pintu ditutup dan gemerincing kunci menyegel pintu. Sasuke menghempas napas. Otot-otot direnggangkan ia membuat bebunyian antar sendi yang kaku. Botol minum pun diraihnya, tak sadar jika ia begitu haus setelah menandaskan setengah isi botol.
Software Ms Word yang tersaji di-minimaze, beralih menekan dua kali pada ikon Chrome. Beberapa detik menunggu, Sasuke menekan huruf Y pada search bar, lalu menekan panah bawah sampai tiba pada situs Yahoo mail, kemudian menekan Enter. Sasuke tak pernah log out akun-akun dari laptopnya, jadi ia tak repot mengetik ulang email dan kata sandi akunnya. Namun, hal buruknya, ia kadang lupa kata sandi mana yang tepat untuk akun mana. Kursor panah pun berubah jadi lingkaran penuh yang berputar. Beberapa detik selanjutnya, kotak masuk email pun tersaji pada layar, menampilkan beberapa pesan telah dibaca--permintaan koneksi di LinkedIn, juga belum dibaca--pemberitahuan lowongan kerja yang sesuai preferensi dari Linkedin. Namun, pesan teratas, baru saja masuk hari ini pukul 11.58, membuat Sasuke nyaris lompat dari kursinya.
Itu adalah pesan pemberitahuan aplikasi beasiswanya ke Jepang!
Sasuke menenangkan diri, menstabilkan tempo jantung, juga mengatur napas agar konstan. Dengan tangan yang keringat tipis dan suhu ruangan jadi terasa dingin karena dia sendiri yang melepas kalor, Sasuke mengarahkan kursor pada email teratas tersebut lalu menekan pesannya.
- - -
Notification of the First Round Selection Results
Dear, Uchiha Sasuke
Your application for the scholarship has been carefully reviewed by the Admissions Committee. We regret to inform you that we have decided not to proceed with your application to the second-round selection for the Fall semester.
We wish nothing but success may align to your way.
With kindness regard,
University Scholarship Corporation.
- - -
Sasuke menghirup napas dalam-dalam hingga aroma apel dingin menusuk pangkal hidung, baru dihempasnya perlahan. Dengan pandang pada layar laptop, membaca ulang berkali-kali tiap rentetan kata pada badan email, tangannya dibuat menjelajah untuk mencari ponsel. Setelah ponsel di tangan, baru melepas pandangannya untuk beralih pada layar ponsel, mencari secercah nama lalu menekan lambang telpon. Dalam tiga deringan, seseorang di seberang mengangkat sapa.
"Halo, ada apa, babe?"
"Aku ditolak."
Yang di seberang tak menangkap. "...gimana? Maksudnya ditolak apa, yang?"
"Beasiswa. Ditolak."
Baru yang di seberang telpon paham. "Ya, ampun. Yang beasiswa ke Jepang, ya? Aku turut sedih, yang. Tapi, kamu jangan sedih lama-lama, ya. Sekarang istirahat dulu deh, nanti baru garap rencana proposal lagi. Ya? Ya? Aku kirimin makanan, ya?"
Ugh. Pacar Sasuke itu memang words of affirmation banget, tapi Sasuke suka. Mungkin bertahun-tahun bersama membuat bahasa cinta tak hanya spesifik satu saja, tapi jadi lengkap kelima-limanya. Pun bahasa cinta pasangan, akan jadi bahasa cinta kita juga. Dan kalau dilihat-lihat Sasuke yang semula tak berekspresi jadi melembut dan tersenyum tipis--padahal aplikasi ia baru ditolak dan masih terpajang di layar laptop--adalah tandanya, jelas ia tak keberatan akan hal itu.
"Iya, yang beasiswa ke Jepang," Sasuke menyetujui dan kembali berucap, "Aku udah duga, sih, sebelumnya. Proposal filsafatku belum tajam dan masih banyak bingung saat pembuatannya. Jadi, hm, apa tuh istilahnya..."
"Istilah apa, babe?"
"Itu, kaget tapi nggak kaget."
"Shock but not surprise?"
"Nah, itu. Shock but not surprise."
Yang di seberang terbahak renyah, energinya menular hingga menghangatkan perpustakaan yang dingin.
"Walaupun begitu," yang di seberang, setelah tawanya reda, berkata, "kamu udah berusaha, babe. Semangat, ya, untuk aplikasi beasiswa selanjutnya. Aku tahu perjuangan kamu, nanti, pasti bakal terbayarkan dengan apapun keputusan di masa depan. Dan yang terpenting, kamu terima dengan lapang dada keputusan itu karena itu adalah buah dari usaha kamu."
Sasuke terdiam dalam kehangatan. Oh, Sasuke cinta lelakinya.
Setelah tak menemukan leksikon yang tepat, dua kata ini pun jadi pilihan. Kendati demikian, ketulusan membalut tiap ejaannya. "Makasih, ya." Kamu tahu, 'kan, kalau aku cinta kamu?
Yang mana tak kalah dibalas hangat, "Sama-sama, yang." Kamu nggak perlu repot bilang, sayang. Keempat inderamu mengatakan semuanya.
Hening lagi tak sampai hati untuk mengganggu si pasangan kekasih walau lewat ponsel genggam, karena Sasuke memegang kendali, mengganti suara melakolis jadi pragmatis. "Kalau begitu, pesenin Chatime vanilla milk tea topping coffee jelly less sugar, ya," kata Sasuke. Tangan yang tak memegang ponsel dibawa untuk menutup situs Yahoo mail dan beralih membuka aplikasi streaming lagu. Siap menancapkan headset saat pacarnya di seberang menjawab, "Siap! Ditunggu, ya!"
"Hn."
"Kamu mau aku temenin dulu? Masih lima belas menit lagi sih, sebelum aku balik ke gudang." Pacarnya berada di tempat kerja, omong-omong.
Sasuke menggeleng kepala, "Nggak usah, Chatime-nya aja." Sang kekasih terkekeh di seberang sana. Sasuke tak ambil pusing malah mengalihkan pembahasan. "Oh, iya, kamu udah makan siang?"
"Belum, kamu telpon pas aku baru buka bekel."
"Yaudah kamu makan. Aku matiin, ya, telponnya."
"Oke deh. Makasih, ya, udah kasih tahu aku. Dan semangat buat kamu. Kamu tahu aku bakal di samping kamu terus, 'kan?"
"Hn. Udah dulu, ya. Sampai nanti."
"Bye, dove," ucap sang kekasih ditambah suara percik kecupan yang Sasuke yakin bahwa lelaki itu mencium ponselnya sendiri. Kendati demikian, Sasuke jadi tertawa kecil dan geleng-geleng kepala sendiri.
Nggak bisa terbayang, aku tanpa Naruto, bakal gimana...
Lima menit kemudian, penjaga perpustakaan datang. Wajahnya begitu senang, bisa jadi karena perut kenyang. Dua puluh menit kemudian, Chatime yang dikirim kan Naruto lewat ojek online juga tiba. Setelah minuman dingin kiriman habis tak tersisa, yaitu satu jam kemudian, Sasuke berkemas pulang. Tak sabar sendiri untuk bertemu Naruto-nya. [ ]
