Work Text:
A BakuTodo AU
Written by rumikana
“Cat’s Problem”
.
.
.
Langkah kaki pemuda itu sedang terhenti sambil mengamati kucing unik yang ada dalam kandang besi, "Apa kau tertarik? Kalau kau tertarik dan ingin membeli kucing ini kau akan mendapat bonus bola kristal cyan indah ini dengan syarat..."
"Dengan syarat?"
"Kau harus menjaga bola ini agar tidak terjatuh anak muda." Bakugou Katsuki mengangguk dan menerima syarat yang diajukan penjual tersebut—yang sebenarnya tidak ia pedulikan.
Tangan kanannya kini menggenggam bola kristal tersebut dan tangan satunya lagi menggenggam gagang kandang berisi seekor kucing.
Katsuki menatap heran ke arah lelaki tua si penjual hewan, kalau kucing berwarna putih dengan corak merah ini spesial, mengapa harganya sama seperti kucing biasa?
Namun pemikiran itu segera ia tepis, lebih baik ia segera membeli kucing itu selagi uang yang ada di dalam dompetnya memadai. Lagipula kucing ini lucu, ia bisa memamerkannya pada Kirishima—sahabatnya.
Dengan santai ia mengarahkan kakinya untuk pulang menuju apartemennya.
Setelah sampai, kandang kucing itu ia taruh di bawah, tidak lupa menaruh bola kristal itu pada sebuah tempat yang tinggi agar aman.
"Kacchan!” Bunyi pintu yang diketuk secara brutal terdengar. “Kacchan buka pintunya! Kacchan!!!"
"BERISIK SIALAN. KAU KIRA AKU TULI."
Suara dari Midoriya Izuku—si tetangga sebelah apartemennya—yang datang berkunjung sembari membawa sup tofu pedas buatan ibunya.
Pintu terbuka menampilkan pemuda berambut hijau dengan raut wajah sedang menahan sesuatu.
"AKU IZIN MEMAKAI TOILETMU."
Tanpa mendengar penolakan dari Katsuki, ia langsung melesat secepat cahaya menuju kamar kecil yang ada di sana.
Tak sadar bahwa ia baru saja menabrak sebuah lemari buku, untung saja Katsuki segera mengambil sop tofu itu jadi ia tidak melihat jika ada barang yang jatuh.
"Ah leganya..."
Saat membuka pintu kamar mandi Izuku pun menatap ke sekelilingnya dan terkejut karena Katsuki tiba-tiba memanggil namanya.
"DEKU SIALAN! KALAU BARANGKU JATUH TARUH KEMBALI KETEMPATNYA DASAR TAK BERGUNA."
Izuku bergidik untung saja barang milik lelaki itu tidak rusak. Jika iya, bisa-bisa nyawanya terancam. Belum lagi amukan mengerikan Katsuki bisa membuat siapa saja takut dan lari terbirit-birit.
Setelah menaruh barang—yang tidak lain adalah bola kristal tersebut—di atas meja dan meminta maaf karena tak sengaja menjatuhkan barang berkilauan tersebut, Midoriya langsung pergi setelah Katsuki mengusirnya.
Sekadar info, Katsuki saat ini hanya ingin berduaan saja dengan kucing lucu yang baru saja ia beli.
"Oi, bangun." Ucapnya seraya membuka pintu kandang yang sedaritadi menutup.
"Bangun! Dasar kucing pemalas."
Mata kucing itu perlaha terbuka, sedang berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang masuk.
Cantiknya.
Apa dia jantan? Betina? Katsuki tidak peduli.
Baru kali ini ia berkata cantik kepada hewan, bahkan manusia saja jarang ia puji.
"Makan?" Katsuki menyuguhkan wadah yang berisi ikan tuna sisa kemarin makan malamnya. Kucing tersebut mengeong ketakutan dan berlari keluar dari kandang.
Katsuki yang melihat kucing itu kabur lantas mengejarnya.
"Kucing sialan, memangnya aku ini majikan yang menakutkan apa?!"
Ia pun mencari ke seluruh penjuru ruangannya namun tidak menemukan keberadaan kucing cantiknya.
Ia menajamkan pendengarannya.
Meow...
Suara kucing itu terdengar dan Katsuki segera menghampiri sumber suara tersebut. Ia lantas menemukan bahwa kucing tersebut berada di atas lemari yang terbilang cukup tinggi.
"Dasar bodoh, kalau kau bisa naik, kau juga seharusnya bisa turun."
Dirasa bahwa kucingnya berdiam di tempat yang sulit ia jangkau, Katsuki akhirnya mengambil sebuah kursi untuk meraih kucing yang saat ini berada di atas lemari tersebut.
Untung saja kucing itu mau menurut saat Katsuki menggendongnya.
Naas kursi yang saat ini ia pakai untuk menumpu pijakannya mulai bergetar, Katsuki lupa bahwa itu adalah barang tua yang sudah keropos.
Tiba-tiba saja kaki kursi di bagian depan tersebut patah.
Katsuki lantas terjatuh dan mendarat di dekat meja bersama dengan kucing yang ia gendong.
Benturan yang cukup keras tersebut membuat bola kristal yang tadi ia taruh di atas meja tersebut ikut terjatuh mengenai kepalanya.
Pecah berkeping-keping bersamaan dengan kesadarannya yang menghilang.
“Tuan bangun!”
“Aduh bagaimana ini?”
"Tuan tidak bangun. Apa Tuan meninggal?"
"Tidak! Tidak! Aku baru saja memeluknya tadi dan jantungnya masih berdetak!"
"Tapi dia masih belum terbangun."
"Bagaimana caranya agar dia terbangun?"
"Apa aku harus menciumnya seperti yang ada pada dongeng putri salju?"
"Apa itu akan berhasil?"
Katsuki membuka matanya perlahan akibat mendengar ocehan asing yang mengganggu telinganya.
Todoroki Shouto yang melihat bahwa mata Katsuki sudah terbuka lantas mendekatkan mukanya dengan muka manusia berambut pirang di depannya sambil menampilkan raut wajah cemas, "Apa tuan baik-baik saja?"
"OI!!!" Katsuki terkejut dan segera bangun sambil menendang orang asing yang ada di depannya.
Shouto yang terpental akibat tendangan tak manusiawi Katsuki pun merintih kesakitan.
"Aduh."
"Kau siapa!?"
Katsuki yang sudah agak tenang menghampiri orang asing berambut setengah merah dan setengah putih tersebut.
Ia melihat bahwa manusia aneh itu masih telanjang.
Dan berpenis rupanya.
Tunggu??? Mengapa ada orang asing betelanjang di rumahnya!?
"ORANG GILA."
"Sembarangan! Aku bukan orang gila ya! Aku Todoroki Shouto! Orang yang akan menikah denganmu!"
"HAH!? NGOMONG APA KAU BARUSAN?"
"Aku akan menikah denganmu, Tuan."
"JANGAN BERCANDA."
"Aku sedang tidak bercanda, aku sedang serius! Kau bahkan bisa memecahkan bola kristal itu dengan mudah. Para tetua bilang kalau ada orang yang bisa membebaskan aku dari kutuk dengan memecahkan bola kristal itu artinya dia akan menjadi jodohku kelak."
Katsuki memegang kepalanya yang seketika terasa berputar. Kutuk? Jodoh? Bola kristal? Kucing? Semuanya sungguh diluar nalar akal sehat.
Katsuki pasti sedang berhalusinasi.
"Siapa namamu?" Tanya Katsuki sambil memijitkan keningnya.
Shouto yang melihat bahwa jodohnya ini bertanya pada dirinya langsung melonjak kegirangan, "Aku Todoroki Shouto!"
"DASAR GILA! PAKAI BAJUMU DULU SETENGAH SIALAN!"
"Loh memangnya kenapa?? Kan aku bertelanjang hanya di depan jodohku. Apa tuan sekarang sedang tidak ingin mengawiniku?"
Gila.
Jantung Katsuki saat ini rasanya seperti meronta-ronta ingin keluar dari tempatnya, bagaimana tidak?
Shouto yang bertelanjang ini sedang menatapnya dengan lekat sambil memasang tampang polos. Jangan lupa matanya yang berbeda warna nan unik itu seakan menyihir Katsuki.
Ditambah pertanyaan tentang mau atau tidak mengawini Shouto yang barusan dilontarkan.
Membuat Katsuki menampar dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa ini hanyalah sebuah mimpi.
"Betul, aku pasti hanya bermimpi. Ini lucid dream terburuk yang pernah aku alami. Oke aku akan berbaring kembali."
Emosinya ia tahan, tidak mau dicap gila karena berteriak sendiri saat berhalusinasi seperti ini.
"Kau mau tidur kembali? Aku juga ikut!"
"Terserah."
Shouto yang berada di lantai lantas bangun dan mengambil tempat untuk berbaring di sebelah Katsuki.
"Selamat tidur, Tuan. Ku harap saat kau bangun nanti kau ingin mengawiniku langsung."
Katsuki berdaham.
Shouto pun tertidur pulas.
Sedangkan manusia berambut pirang di sebelahnya, masih terjaga. Semua yang tiba-tiba ini membuat Katsuki merasa bahwa ia sudah gila.
Ia bahkan sudah mencoba berkali-kali mencubit dirinya sendiri namun tidak ada tanda-tanda bahwa ini hanya sebuah mimpi.
Tangannya terangkat dan jari-jari tangannya perlahan menyentuh rambut aneh manusia—setengah kucing?—yang menyebut dirinya sebagai Todoroki Shouto.
Rambutnya halus.
“Kawin... Kawin... Aku akan kawin dengan Tuan. Kita akan memiliki anak sepuluh dan hidup bahagia.” Gumam Shouto.
Pujian 'cantik' yang ingin keluar dari mulut Katsuki lantas terhenti diganti dengan matanya yang melotot mendengar ucapan aneh manusia di depannya.
Ini baru beberapa jam berlalu semenjak Shouto berdiam di sini, namun semua ucapan yang dilontarkannya membuat Katsuki ingin memenggal kepalanya saat ini juga.
Kami-sama takdir aneh macam apalagi yang ingin kau siapkan untuk seorang Bakugou Katsuki?
END
