Actions

Work Header

Kiss and Make Up

Summary:

Pasangan tersebut memang sering berselisih namun di sisi lain mereka juga mudah berbaikan kembali seperti semula.

Itu semua karena tingkah natural Shouto yang selalu saja berhasil membuat Katsuki luluh.

Notes:

Fanfiksi ini dibuat berdasarkan ide saya sendiri, jika terdapat kesamaan dalam alur, percakapan atau apapun itu merupakan sebuah ketidaksengajaan.

All Characters of Boku No Hero Academia belong to Horikoshi Kohei

Happy reading!

-Kanaya-

Special for bringingjacks! Hope u like it!<3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

A Bakutodo AU

“Kiss and Make Up”

Written by Rumikana

.

.

.

.

Prinsipnya sama dengan Hukum Gauss, hanya saja penggantian variabel yang dipakai harus menyesuaikan dengan...

Baru saja lima menit Shouto menyentuh modul yang ia gunakan untuk belajar, sekarang ia sudah bosan. Andai Katsukinya tidak mengomel barang setitik karena Shouto yang tak sengaja menumpahkan mapo tofu miliknya, mungkin saat ini mereka bisa belajar bersama.

Katsukinya kalau sudah marah sulit untuk dibujuk kecuali jika Shouto dengan senang hati menggodanya entah dengan tampang memelas bak anak kucing yang menginginkan tambahan mangkuk dalam makanannya kepada sang majikan, ataupun mencium Katsuki dengan rakus. Tapi ia tidak bisa. Shouto terlalu pemalu untuk melakukan itu.

Mereka sering berciuman itupun Katsuki yang selalu memulai. Bukan berarti Shouto tidak mau mencium Katsukinya, hanya saja ia tidak bisa? Setiap membayangkan kalau dia ingin memulai duluan, ujung-ujungnya pasti selalu mundur. Mukanya memerah sebelum maju berperang.

Buku itu hanya Shouto biarkan terbuka lalu ditaruh di atas kepalanya sudah seperti atap rumah, “Pusing argh... Katsuki aku butuh kamu.”

Tuk! Tuk! Tuk!

Perhatian Shouto lantas teralih kepada suara ketukan pintu kamarnya, Ia beranjak dari meja belajarnya lalu terkejut mendapati kekasihnya datang ke kamar miliknya, “Katsuki?”

Panggilan Shouto hanya dijawab dengan gumaman, Shouto kembali cemberut. Katsukinya masih marah. Sejujurnya ia tidak tahu harus apa.

“Aku minta maaf...”

“Ya.”

“Kamu belum mau maafin aku ya? Apa aku harus bikinin mapo tofu untuk kamu?”

“HAH BIKIN? NGGA, JANGAN. Bahaya ngebiarinin kamu keliaran di dapur, yang ada bisa kebakar semua.”

“Terus aku harus ngapain supaya kamu mau maafin aku?”

Pipi Shouto tiba-tiba Katsuki tangkup. Kedua manik mereka lantas bertemu. Jantung Shouto jadi berdetak tak karuan akibat pandangan lamat Katsuki. Wajah mereka mulai saling mendekat. Shouto menutup matanya.

Ctak!

Bibir ranum Shouto, disentil oleh kekasihnya, “Mikir apa kamu hah?”

Ish. Aku kira kamu mau cium aku. Bete ah.”

“Besok ulangan, harusnya belajar bukan ciuman. Dasar otak ngeres.”

“Yang mulai nangkup pipi aku siapa coba?”

“Siapa?”

“Ah Katsuki ngeselin!”

Katsuki terkekeh, “Emang.”

“Mama, Aku ga mau pacaran sama Katsuki.” Keluh Shouto.

“Yaudah kita putus aja, aku tinggal jadian sama yang lain, ada Deku, Pipi Bulet.”

“HEH, malah disengaja!!”

“Makanya ngomong yang bener.”

Shouto cemberut, diberi harapan palsu tadi selain menyedihkan, membuat dia malu. Jadi ketahuan deh siapa yang berharap.

“Katsuki nyebelin.”

“Minta dulu yang bener.”

“Minta apa?”

“Cium.”

“Aku ga minta cium?”

“Oh yaudah aku pamit.” Katsuki berniat meninggalkan Shouto namun sang kekasih segera mencegahnya untuk pergi.

“J-jangan!”

Katsuki menurutinya. Mereka masih berdiri saling berhadapan dengan Katsuki yang menunggu Shouto untuk berbicara lagi.

“Jangan tatap aku gitu.”

Katsuki hanya membalas perkataan Shouto dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Katsuki kok kamu diem aja?” Shouto cemberut.

“Ayo ngomong Katsuki.”

Shouto meraih tangan Katsuki lalu menggerakkan jarinya membentuk sebuah huruf di atas telapak tangan lelaki berambut ash blonde tersebut.

“K-A-T-S-U-K-I  J-E-L-E-K  T-A-P-I  A-K-U  S-A-Y-A-N-G.”

Katsuki masih tak bergeming, netranya sedang sibuk memperhatikan tingkah random kekasihnya.

“Katsuki kamu kok ngga mau jawab aku? Kamu masih marah ya? Tuh kan masih marah.”

Shouto mendengus kesal sekaligus sedih, namun raut wajahnya berubah seketika. Ia kembali berpikir dan sibuk dengan dunianya sendiri. Sedang memikirkan bagaimana caranya membuat Katsukinya mau berbicara.

Bergurau? Tidak. Shouto sangat payah yang ada ia bakal ditertawakan lagi.

Lelaki bersurai dwi-warna itu pun mengela napasnya, ia menyerah.

“Katsuki? Maafin aku... Aku bukan pacar yang baik. Aku suka bikin kamu kesel. Aku suka bikin kamu marah. Aku kayaknya ga bisa bikin kamu bahagia. Aku bisanya cuma bikin kamu sedih...” Shouto mulai terisak. “Kita put-hmp...”

Katsuki langsung menyambar bibir Shouto dan mulai melumatnya dengan rakus. Shouto yang terkejut diawal segera memejamkan kedua netra heterokromatiknya lalu membalas ciuman Katsuki sambil terisak.

"Umh.. Katsuki."

Katsuki lantas mendorong Shouto ke belakang pintu yang sudah tertutup tadi. Tangannya mulai meggerayam, menyelinap masuk ke dalam sweater putih Shouto untuk mengelus punggungnya.

Shouto melengguh lagi.

Ciuman mereka pun usai setelah keduanya terengah-engah karna kehabisan stok oksigen.

Katsuki kembali menangkup pipi kekasihnya, “Jangan gemes gitu nanti aku bablas.”

Shouto hanya memasang tampang kebingungannya. Katsuki menyerah terhadap sikap oon kekasihnya.

Ia menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Shouto yang kelewat menggemaskan tadi. Shouto yang cemberut. Shouto yang tadi memainkan jarinya. Shouto yang memohon. Shouto yang berkaca-kaca. Semua perihal Shoutonya pasti tak pernah gagal untuk membuat Katsuki luluh.

Ciuman tadi pun sebenarnya merupakan bentuk pertahanan Katsuki yang sudah runtuh akibat diserang oleh Shoutonya.

“Kamu udah ga marah?” tanya Shouto.

“Menurut kamu?”

“Udah?” Shoutonya terlihat ragu.

“Bego, kalau aku marah, aku ga akan cium kamu.”

“Jadi kalau kamu ga cium aku artinya kamu marah?”

“Ngga gitu juga.”

“Terus gimana?”

Katsuki kembali darah tinggi, “Sho, udah okay? Lanjut belajar lagi. Besok ulangan jangan tanya yang aneh-aneh lagi di luar pelajaran atau aku sentil jidat kamu.”

“Katsuki galak!”

“Biarin.”

Shouto nyengir, Ia senang karena ada Katsukinya yang akan menemaninya belajar. Mereka berdua rupanya sudah melupakan soal mapo tofu yang membuat mereka bersitegang.

Kini kedua manusia tersebut terlihat saling melempar candaan sembari menggerakkan alat tulis mereka. Sesekali berdebat tentang siapa yang benar, sesekali bertanya dan saling memastikan jawaban. Hal-hal kecil berupa menghabiskan waktu bersama, sudah menjadi habitat mereka.

“Katsuki?”

“Hm.”

“Yang dapet jawabannya duluan dan bener, dia menang. Terus yang menang juga berhak dapet ciuman dari yang kalah. Yay or nay?

“Oke. Siapa takut. Siap-siap aja kamu kalah.”

 

END

Notes:

Anyway thanks for reading!♡ Leave a comment, kudos, and check out my other stories if you’d like—any feedback or support is really appreciated!

Series this work belongs to: