Chapter Text
Di balik gemerlap cahaya kota, Ruggie bertemu orang itu lagi.
Yuu.
Ruggie sedang berada dalam perjalanan menuju apartemen kecilnya ketika dia bertemu orang yang tidak dia sangka akan bertemu lagi. Ruggie tidak sengaja bertemu Yuu ketika dia mencoba melewati gang sempit yang biasa dia gunakan untuk memotong jalan. Tetapi Yuu terlihat cukup berbeda dari terakhir kali Ruggie bertemu dengannya di hari kelulusan dia dan Yuu masih kelas tiga di Night Raven College. Selain tubuh Yuu terlihat lebih dewasa dengan rambut jauh lebih panjang, ekspresi wajahnya juga lebih dingin jika dibandingkan ketika mereka masih di sekolah. Yuu pun bukan orang yang selalu tersenyum setiap saat, tetapi tatapan matanya jelas menunjukkan perubahan.
Ruggie memperhatikan Yuu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sekilas, Yuu terlihat seperti pekerja kantoran biasa. Kemeja putih, dasi hitam, jas hitam, rok model span berwarna hitam, serta sepatu pantofel. Yang membedakannya adalah pedang yang berada di tangan kanan, pistol di tangan kiri, dan cipratan darah yang mewarnai tubuhnya.
Yuu menyadari ada keberadaan orang lain yang tidak dia harapkan di tempat tersebut. Setelah menoleh untuk melihat orang yang mengganggu pekerjaannya, tatapan dinginnya berubah menjadi lebih hangat, seakan-akan dia kembali ke dirinya beberapa tahun lalu.
“Bucchi-senpai? Eh, kenapa ada di sini? Ah, apakah senpai ingat aku?” Yuu membombardir Ruggie dengan berbagai pertanyaan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja aku masih ingat kau, Yuu-kun,” jawab Ruggie dengan canggung.
Lebih tepatnya aku tidak bisa melupakanmu, batin Ruggie.
“Ah,” sebelum Yuu melanjutkan pembicaraan, Yuu memindahkan pistol ke tempatnya yang berada di balik roknya dan memasukkan pedangnya ke sarungnya yang terlihat jauh lebih pendek dari pedang itu sendiri. Ruggie tahu pedang itu, pedang yang terlihat seperti pisau biasa jika dimasukkan ke dalam sarungnya dan akan memanjang jika dikeluarkan. Kemudian Yuu mengangkat tangan kanannya, memberikan sinyal kepada rekannya untuk ‘melepaskan’ Ruggie.
“Karena senpai sudah melihatku seperti ini, mari kita berbincang sebentar. Bisakah senpai menungguku di cafe seberang jalan sana? Donat di sana enak, lho! Nanti aku yang traktir,” Yuu meminta Ruggie sambil menunjuk sebuah cafe mungil dan terang di luar gang.
“Baiklah, Yuu-kun,” Ruggie merasa dia tidak bisa pergi meninggalkan Yuu begitu saja sehingga dia menuruti apa kata Yuu. Ditambah, dia memang ingin bertemu dengan Yuu.
Sesampainya di cafe, Ruggie memilih meja di pinggir jendela. Sambil menunggu Yuu, Ruggie merenung dan mengingat masa SMAnya.
Yuu, si murid perempuan satu-satunya yang pernah dimiliki oleh Night Raven College. Seorang gadis biasa tanpa memiliki kekuatan sihir yang datang dari dunia lain. Dia adalah sebuah eksistensi yang istimewa untuk Night Raven College.
Dan juga untuk Ruggie.
“Apakah senpai ingat aku?”
Tentu saja Ruggie selalu mengingat Yuu. Yuu adalah cinta pertamanya. Ruggie tidak pernah berhenti menyukainya sejak mereka masih bersekolah hingga saat ini.
Saat masih di sekolah, Ruggie menyadari perasaannya pada Yuu tetapi memutuskan untuk tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Ruggie selalu berpikir bahwa dirinya tidak akan bisa membuat Yuu bahagia. Di Night Raven College, banyak murid lain yang datang dari keluarga normal, bahkan tidak sedikit yang berasal dari keluarga ningrat dan kerajaan. Ruggie juga tahu bahwa murid-murid tersebut juga banyak yang menaruh hati pada Yuu. Sehingga Ruggie pikir Yuu lebih pantas untuk bersama dengan yang lain, daripada dirinya yang untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri saja masih perlu membanting tulang.
Ditambah, Ruggie pernah mendengar rumor bahwa Yuu menolak semua laki-laki yang menyatakan perasaan padanya karena Yuu memiliki orang yang dia cintai tapi bertepuk sebelah tangan. Mendengar rumor tersebut, Ruggie semakin yakin untuk tidak menyatakan perasaannya. Jika Yuu menolak laki-laki dari keluarga ningrat bahkan kerajaan, apalagi dia yang berasal dari tempat yang kumuh dan keadaan ekonomi jauh di bawah kata layak.
Tetapi, Ruggie tetap tidak bisa melupakan perasaannya pada Yuu. Semasa kuliah dan setelah dia mulai bekerja, entah sudah berapa wanita yang Ruggie tolak bahkan untuk sekedar makan berdua.
“Senpai, maaf lama menunggu,” Yuu akhirnya menyusul Ruggie dan duduk di depannya. Penampilan Yuu berubah dibanding saat Ruggie bertemu dengannya di gang beberapa saat lalu. Saat ini Yuu mengenakan sebuah terusan dengan panjang 3/4 berwarna biru tua dengan motif bintang bertaburan di bagian rok, sweater putih, dan sepatu boot dengan tinggi beberapa inchi di atas mata kaki. Susunan pakaian yang sederhana tetapi terlihat manis dan cocok di Yuu. Darah yang awalnya ada di tubuh Yuu juga seperti sudah dibersihkan karena Ruggie tidak mencium bau darah lagi.
Setelah mereka memesan makanan dan minuman, Yuu menanyakan bagaimana kabar Ruggie. Ruggie pun menceritakan bagaimana kehidupannya setelah dia lulus dari NRC. Dimulai dari bagaimana dia berhasil masuk universitas sihir yang cukup bergengsi atas rekomendasi dari prestasinya memenangkan pidato dengan bahasa hewan. Kemudian lulus dari kuliah, Ruggie mendapat pekerjaan dengan gaji cukup besar sehingga dia berhasil mengubah nasibnya dan neneknya, bahkan membantu "adik-adik"nya untuk mendapat pendidikan yang layak.
Mendengar itu semua, Yuu tersenyum. Yuu juga ikut senang mendengar bahwa Ruggie akhirnya berhasil mengubah kondisi ekonominya.
Melihat Yuu tersenyum, Ruggie balik bertanya dengan wajah serius, "Yuu-kun sendiri bagaimana? Kenapa Yuu-kun ada di tempat seperti itu dengan penampilan seperti tadi?"
Yuu masih tersenyum, tapi kali ini dia menunjukkan senyum sendu.
"Sebelum aku menjelaskannya, aku mau senpai berjanji untuk tidak memberitahu siapapun. Termasuk Grim, Ace, Deuce, Jack-kun, Epel-kun, dan Sebek-kun," Yuu memohon kepada Ruggie.
Sebagai jawaban, Ruggie hanya mengangguk. Kemudian Yuu menceritakan semuanya.
Setelah Yuu lulus dari NRC, dia berpisah jalan dengan Grim. Grim berhasil melanjutkan pendidikan ke universitas sihir bersama Ace. Deuce lanjut ke akademi polisi. Sedangkan yang lain juga melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda-beda.
Yuu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke mana pun karena tidak ada yang mau menerimanya. Tidak ada yang percaya bahwa Yuu adalah lulusan dari NRC, karena yang orang-orang tahu NRC adalah sekolah khusus laki-laki penyihir, sedangkan Yuu adalah kebalikan dari semua itu. Tetapi, teman-teman Yuu tidak ada yang mengetahui ini. Yang mereka tahu adalah kebetulan Yuu tidak memenuhi syarat untuk masuk universitas.
Maka Yuu memutuskan untuk mulai meniti karir dengan mencari pekerjaan. Ketika Yuu mencari pekerjaan, Yuu bertemu masalah baru lagi. Yuu tidak punya identitas resmi di dunia ini. Selain orang-orang tidak mempercayai ijazahnya, mereka juga curiga Yuu adalah imigran gelap karena tidak memiliki identitas resmi dan tanda pengenal. Tabungan Yuu pun semakin menipis.
Yuu jadi tidak punya pilihan untuk kerja serabutan dengan gaji harian dan tinggal di apartemen kecil serta kumuh. Untungnya induk semang apartemen tersebut tidak masalah dengan identitas Yuu asalkan Yuu sanggup membayar uang sewa. Yuu mengambil semua jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan kartu identitas seperti pekerja konstruksi, pengiriman makanan, dan lain-lain hingga akhirnya dia menemukan salah satu pekerjaan bahaya tetapi menghasilkan uang yang cukup besar. Pekerjaan itu adalah kurir dunia bawah, di mana para kriminal berkumpul.
Selama menjadi kurir, Yuu kembali menyamar menjadi laki-laki, seperti yang dia lakukan saat beberapa bulan pertama di NRC. Dengan tubuhnya yang kecil, Yuu bisa bergerak gesit dan tidak disadari oleh orang-orang sehingga keberadaannya mudah disembunyikan. Meskipun begitu, tidak jarang ada orang yang mengincar dirinya untuk mengganggu pekerjaannya. Tetapi apapun halangannya, Yuu selalu berhasil melewatinya. Pekerjaannya sebagai kurir berjalan normal hingga suatu hari Yuu mendapat pesanan yang mengharuskan dirinya untuk melewati rute yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.
Yuu menjadi lebih waspada ketika melewati rute tersebut. Dan benar saja, tiba-tiba Yuu diserang oleh lima orang bertubuh besar sekaligus. Bukan itu saja, kelima orang tersebut juga menggunakan senjata yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan pipa, linggis, belati, pedang, bahkan pistol. Dengan ilmu bela diri yang pernah Yuu pelajari di dunia asalnya ditambah latihan rutin yang diberikan Silver semasa dia di NRC, Yuu berhasil menghindari semua itu dan membalik keadaan. Tidak butuh lama untuk Yuu membuat mereka semua roboh.
Ketika Yuu yakin mereka semua tidak sanggup untuk berdiri dan bersiap untuk menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba seseorang berjas rapi dengan cerutu di mulutnya menghampiri Yuu sambil bertepuk tangan. Yuu kebingungan dengan orang tersebut tapi memutuskan untuk tidak menggubrisnya karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Kau mau ke mana? Tujuan dari kiriman tersebut ada di sini," orang tersebut menghentikan langkah Yuu.
"Siapa namamu? Dan sebutkan alamatmu."
Benar saja, identitas orang tersebut cocok dengan kliennya. Orang tersebut pun mengajak Yuu untuk ke kantornya.
Sesampainya di kantor, Yuu dipersilakan untuk duduk dan melepas topinya yang digunakan untuk menyamar. Yuu menurutinya. Toh, sebenarnya Yuu tidak perlu menyembunyikan jenis kelaminnya, dia melakukannya hanya untuk membuat dirinya merasa aman.
"Sesuai rumor ya, kau adalah murid legendaris NRC sebagai satu-satunya murid perempuan dan tidak memiliki kekuatan sihir," ujar orang tersebut.
Orang tersebut menyatakan bahwa sudah lama dia mengamati Yuu. Dengan kemampuan dan keteguhan diri Yuu untuk menyelesaikan pekerjaannya, Yuu cukup dikenal sebagai kurir terpercaya di dunia bawah.
“Lalu? Buat apa kau sampai mencegatku seperti itu?” Yuu bertanya dengan gamblang pada orang tersebut. Yuu tahu orang tersebut memiliki maksud lain, bukan hanya sekedar basa-basi. Apalagi dia sampai mengamati Yuu dalam kurun waktu yang lama.
Orang tersebut tersenyum, “Bagus, kau sepertinya lebih cerdas daripada yang kuduga. Saya ingin kau bergabung dengan kami.”
‘Kami’ yang dimaksud adalah sebuah grup mafia yang dipimpin orang tersebut. Tentu saja Yuu menyadari bahwa orang yang baru saja menjebak Yuu adalah salah satu bos mafia di dunia bawah.
“Kenapa aku?” tanya Yuu. Kemudian sang bos menjelaskan mengapa dia tertarik untuk merekrut Yuu.
Yuu tidak memiliki identitas resmi di Twisted Wonderland, sehingga secara otomatis Yuu tidak memiliki kewajiban dan hak sebagai manusia. Maka jika Yuu membunuh manusia lain pun tidak akan bisa dihukum karena Yuu sendiri bukan manusia di mata hukum. Hal tersebut akan sangat memudahkan grup mafia untuk menghabisi orang yang mereka incar atau dianggap membahayakan grup mereka.
Namun, keadaan praktis tersebut seperti pisau bermata dua.
Yuu memang tidak akan dihukum jika dia membunuh manusia lain. Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya—Yuu disiksa atau dibunuh—maka pelakunya pun tidak akan bisa dihukum. Karena di mata hukum, Yuu tidak memiliki hak dan kewajiban sebagai manusia. Bisa dibilang, Yuu setara dengan hewan di mata hukum.
Sang bos juga memberikan berbagai keuntungan lain jika Yuu bergabung. Yuu hanya butuh beberapa menit untuk menerima tawaran untuk bergabung.
“Sebentar, Yuu-kun. Bukankah itu berarti kau hanya dianggap sebagai alat oleh mereka?" Ruggie bertanya dengan perasaan yang sangat tidak tenang.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Yuu sambil menyeruput kopinya.
"Lalu… kenapa...?" Ruggie benar-benar kaget setelah mengetahui apa yang dilalui Yuu sejak dia lulus dari NRC hingga saat ini.
"Uang yang kuterima dari bergabung dengan mereka lebih banyak dari menjadi kurir. Lalu, kurir adalah pekerjaan lepas sehingga lebih rawan bahaya. Sedangkan dengan bergabungnya aku dengan mereka, mereka akan melindungiku dan memberi back-up karena aku adalah aset berharga bagi mereka. Selain itu, aku diberi tempat tinggal serta makanan yang layak setiap hari," Yuu menjelaskan alasannya kepada Ruggie, "Ditambah lagi, aku tidak punya siapa-siapa di sini, keluarga maupun kekasih. Meskipun aku memiliki teman, tapi mereka tidak terikat denganku. Singkatnya, aku sebatang kara di dunia ini. Jadi tidak akan menjadi masalah jika tiba-tiba suatu hari aku menghilang dari dunia ini selamanya."
Ruggie semakin kehilangan kata-kata mendengar penjelasan Yuu. Perasaan Ruggie benar-benar berkecamuk. Di dalam hati Ruggie sekarang, terdapat campuran kemarahan, kesedihan, dan keputusasaan.
"Kalau aku bilang, keberadaanmu di dunia ini penting bagiku dan aku mau kau tetap hidup, bagaimana?" ada banyak hal lain yang Ruggie ingin sampaikan tetapi semua itu keluar dari hatinya menjadi pertanyaan tersebut.
Yuu kembali menunjukkan senyum sendu, "Maaf, senpai. Tapi sudah terlambat."
Tiba-tiba saja handphone Yuu menyala. Tanpa perlu membukanya, Yuu tahu apa arti dari sinyal tersebut. Yuu pun beranjak dari tempat duduknya, "Maaf, senpai. Aku harus pergi lagi. Sayang sekali pertemuan kita sangat singkat."
Sebelum Yuu pergi keluar dari cafe, Yuu menuju kasir untuk membayar pesanannya dan Ruggie. Setelah sosok Yuu hilang dari pandangan, Ruggie kembali termenung.
Tepat saat Ruggie beranjak dari tempat duduknya, pelayan cafe memberikan plastik berisi sekotak donat kepada Ruggie, "Ini dari nona tadi. Katanya tolong dibuka setelah tuan sampai rumah."
Ruggie menerima plastik tersebut dan menyadari ada sepotong kertas di sana.
…
Yuu menatap gemerlap kota dari salah satu atap gedung tertinggi di sana.
Silau.
"Baju yang bagus, Yuu. Rasanya ini pertama kalinya aku melihatmu berdandan seperti ini," seorang laki-laki seumuran Yuu muncul dari belakang Yuu.
Yuu hanya membalas dengan sebuah anggukan. Laki-laki itu adalah rekan Yuu yang selalu mengawasi Yuu dari jauh sebagai sniper yang selalu siap untuk menghilangkan siapapun yang mengganggu pekerjaan Yuu. Dia lah yang Yuu berikan sinyal untuk tidak menghabisi Ruggie ketika Ruggie bertemu Yuu setelah Yuu menyelesaikan pekerjaannya.
"Yuu, soal hyena tadi… Kurasa kau masih bisa keluar dari sini. Kau belum tenggelam terlalu jauh di dunia mafia ini," laki-laki itu membuka pembicaraan dengan Yuu.
Yuu menggeleng kepalanya, "Tidak. Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia berhasil mengubah nasibnya. Aku tidak mau mengotorinya."
Yuu menatap tangannya. Tangan yang akhir-akhir ini selalu bersimbah darah orang lain. Kemudian tatapan matanya berpindah dari tangannya ke bulan yang bercahaya dengan terang di langit.
"Malam ini bulannya indah sekali."
…
Sesampainya di rumah, Ruggie duduk di kursi meja makan miliknya. Dia membuka plastik dan kotak donatnya, kemudian membuka kertas yang ada di dalam kantong tersebut. Isinya adalah sebuah pesan dari Yuu.
Dear Bucchi-senpai,
Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu dengan keadaan yang sangat tidak pantas seperti ini. Untungnya aku masih sempat membeli baju baru dan berpenampilan seperti wanita normal di depan matamu. Aku akan menyampaikan semuanya sesingkat mungkin.
Bucchi-senpai, aku menyukaimu. Sangat sangat sangat menyukaimu.
Aku menyadari perasaan ini sejak kita masih bersekolah. Tetapi aku terlalu pengecut, aku tidak berani mengatakannya dulu. Aku tahu senpai selalu bekerja keras untuk merubah nasibmu dan nenekmu. Maka dari itu, aku tidak ingin menjadi beban untukmu.
Tapi aku tidak pernah menyesal jatuh cinta padamu. Aku bersyukur senpai membuatku jatuh cinta seperti ini. Sayang sekali caraku menyampaikannya harus seperti ini.
Jaga diri baik-baik ya, senpai.
Semoga kita tidak bertemu lagi, demi kebaikanmu juga.
Salam,
Yuu
Ruggie menatap kertas tersebut. Terdapat sedikit bercak darah dan jejak air di sana, seakan-akan Yuu menulisnya sambil menangis.
Sungguh ironis, batin Ruggie.
Ruggie selalu melihat Yuu sebagai gadis normal dan dirinya sebagai sampah masyarakat. Tapi sekarang kondisi mereka berbalik. Ruggie akhirnya memiliki kehidupan normal, sedangkan Yuu harus mengotori tangannya untuk sekedar bertahan hidup.
Ruggie mulai berandai-andai. Seandainya dulu dia lebih banyak menatap mata Yuu dan menyadari perasaan Yuu padanya. Seandainya dulu dia tidak peduli pada status sosial di sekolahnya. Seandainya dulu dia memastikan rumor tersebut langsung pada Yuu. Seandainya dulu dia menyatakan perasaannya. Seandainya dulu dia menjadi kekasih Yuu. Seandainya mereka menjadi sepasang suami-istri sehingga secara otomatis nama Yuu akan terdaftar di keluarganya. Seandainya dia tidak membiarkan Yuu hidup sebatang kara.
Dan kata-kata 'seandainya' lainnya.
Perlahan, Ruggie melipat kertas dari Yuu dan menyimpan di dompetnya. Dia ingin menyimpan bagian diri Yuu dekat dengan dirinya.
Ruggie mengambil salah satu donat dari kotak di depannya. Tanpa disadari, sambil mengunyah, air mata Ruggie terus mengalir.
"Donatnya asin."
