Work Text:
Satu per satu kain dilucuti, dan Naib sama sekali tidak menampak ekspresi. Diam-diam melirik burung hantu di samping kiri, oh, dia sedang sibuk sendiri.
Tangan yang dingin mencoba meraba, dia tersadar. “Naib, kau masih di sana?”
Naib, sang terpanggil, menatap tangan itu. “Masih.”
Tangan itu milik Eli, dan dia hanya ingin membersihkan diri.
Eli belum lama ini kehilangan penglihatan. Pelanggaran sumpahnya kepada dewa membuat mereka marah dan menghukumnya. Eli dipaksa mengalami kebutaan sampai dosanya terbayar. Entah oleh apa. Dan bila sekali lagi dia melanggar ketetapan dewa, selanjutnya bukan cuma matanya yang akan dirampas.
Laki-laki di depan Naib, Eli itu, bertubuh kurus, berwajah tenang, namun gelisah. Bukan hanya karena dia belum lama ini mengalami musibah, tapi juga karena dia merasa gundah.
Bisakah, bolehkah, seseorang membantunya? Tak akan murkakah para dewa melihatnya disangga seseorang?
“Tentu saja kau boleh bergantung padaku,” jawab Naib tanpa diminta. Padahal Eli tidak mengatakan apa-apa. Padahal Eli sama sekali tidak bersuara. Tetapi dia—
“Juga teman-teman yang lain, semua pasti mau membantumu. Seperti yang para wanita lakukan pada Helena.”
Ah, tentu saja demikian. Apa yang dia pikirkan? Eli merasa berdosa dengan mengharap hanya Naib yang akan melihat seluruh dirinya. Hanya Naib yang dia ingin bergantung.
Semua bilang Naib sangat keras dan menakutkan, dia selalu tampak marah. Tapi Naib tidak begitu kepadanya. Sehingga apa yang membuncah di dada Eli bukanlah rasa takut. Dia bahagia. Berada di dekat Naib, dia bahagia.
Bunyi ctik, ctik, dari gunting kuku sedikit memberikan latar belakang. Baik Naib maupun Eli sama-sama tidak bersuara. Naib berusaha sehati-hati mungkin agar dia tidak memotong kuku Eli terlalu dalam, yang akan membuat jari Eli terluka.
Pertama kuku jari tangan, kemudian jari kaki. Naib sangat sabar menghitung antara kuku dengan jari yang sekiranya tak akan melukai Eli. Pemilik tubuh tak ingin menginterupsi, dia hanya ingin menikmati kasar tangan Naib menggamit lembut anggota tubuhnya.
Selesai itu, Naib menuntunnya ke wastafel, menaikkan dagunya pelan-pelan. Rambut-rambut tipis di dagu Eli dicukur hati-hati. Tangan Naib begitu ahli memegang pisau. Eli menahan rahangnya untuk membuka. Membayang, bagaimana Naib dapat seahli itu.
Oh, benar. Martha sang Koordinator pernah bilang Naib adalah tentara Gurkha. Mereka ahli dalam memainkan senjata. Pisau, golok, bukanlah masalah.
Sedikit pun Eli tak merasa takut Naib akan menggunakan pisau cukur itu untuk menggorok lehernya. Terbesit, namun tidak takut. Mengapa?
Tangan Naib yang memegang dagunya memang kasar, tapi tidak memaksa. Pisau yang mengikis setiap helai di wajahnya tidak membuat kulitnya terluka. Mengapa Naib begitu palamarta?
Setelah itu wajah Eli dibersihkan, Naib membantunya mengambilkan sikat gigi, Eli meminta untuk membersihkan mulutnya sendiri.
Naib memahami, dia menunggu.
Kemudian Eli mencoba meraih Naib kembali, dia merasa sedikit kedinginan. Atasan pakaiannya sudah tidak lagi ada, hanya celana panjang yang masih terpasang. Badan Eli begitu kurus tanpa lemak dan daging berlebih. Seperti kurang satu gram lagi, dia akan terlihat macam anak kurang gizi.
Naib tidak begitu, badannya memang lebih pendek, setengah kepala lebih rendah daripada Eli. Tapi dia terlatih. Lengannya punya otot yang bagus dan perutnya berbentuk. Eli tak pernah melihatnya, Naib pun, tidak punya keinginan memperlihatkannya.
“Maaf,” dia berkata agar pria muda tidak terkejut. Naib membuka celana panjang Eli pelan-pelan. Begitu hati-hati agar tak membuat Eli ketakutan. Entahlah, mantan tentara hanya tak ingin terjadi hal yang tidak perlu saat dia berusaha membantu teman yang sedang kesulitan.
Dalam diam Naib merasa lega, sekaligus iri. Kulit Eli sangat bersih dan tidak punya cacat, seperti sebuah boneka yang baru saja dibeli oleh para saudagar. Tidak seperti miliknya yang banyak dihias garis-garis dan lubang. Bekas sayat dan tembakan. Saat Eli hidup dalam damai, nyawa Naib terancam tiap detiknya.
Mencoba menguatkan hati, Eli merasakan tangan Naib menyentuh kain terakhir yang masih melekat di badan. Penutup kemaluan. Wajahnya berganti gelisah, setelah Naib begitu lembut membersihkan dirinya yang tak bisa apa-apa. Mungkinkah Naib akan tertawa?
“Tak usah malu, aku sudah terbiasa.”
Seperti itu dapat menenangkan dada Eli yang mendentum-dentum. Naib berkata jujur, tes kesehatan militer kerajaan Inggris menempatkan mereka semua dalam kondisi tanpa busana. Naib pun, dalam medan perang, selalu menemukan mayat-mayat yang telanjang karena pakaian mereka dilucuti, atau dibakar. Tahanan perang yang dihukum, semuanya tanpa sehelai benang pun.
Tak suatu apa dia lewatkan, dia malah merasa kasihan.
Mata Eli berwarna biru, terang seperti langit dengan bintang-bintang yang berkilauan. Sebuah tanda melintang yang aneh terpatri di bawah matanya, menandakan indranya tersebut telah terenggut. Sekarang alis yang berdiam di atas mata itu sedang menampakkan raut gelisah.
Maka, semua yang menghalangi di tubuh Eli dilepas sudah. Naib menuntunnya ke bak mandi dengan air hangat yang sudah dia siapkan. Mantan tentara menggamit lembut tangannya, membujuknya meraba air sebelum tubuhnya masuk ke dalam bak mandi.
“Um, sudah pas.”
Lalu Naib mengambil kursi, menyuruh Eli duduk, sebelum menyiduk segayung air untuk membasahi badan Eli. Dia mengguyurnya dari kepala sampai kaki. Eli hanya terdiam, membiarkan Naib membersihkan badannya sesukanya.
Ada sebotol sampo di rak, Naib menuang isinya sedikit ke tangannya. Dia mencuci rambut Eli yang sewarna kusen jendela. Kecoklatan, berbau seperti burung hantunya. Naib menggosok perlahan kulit kepala Eli, membersihkannya. Kemudian dia beralih ke sabun mandi yang terletak di samping sampo.
Naib begitu telaten, dia tidak melewatkan sela-sela sekecil apa pun, termasuk daun telinga Eli. Seluruh leher dan punggung sudah dibersihkan. Waktunya berpindah posisi ke bagian depan.
Eli tidak melihat, namun dia tahu Naib pasti sedang berada di hadapannya. Diam-diam menghela napas, Naib mengambil tangan si peramal, membersihkan sela-sela jari dan lanjut ke lengan. Ke bawah lengan, dada, perut, kemudian—
Mata hijau rawa melirik ke wajah yang semerah tomat. “Y-yang itu biar kubersihkan sendiri saja!”
“Oke,” sahut Naib singkat. Dia menyerahkan sabun mandi ke tangan Eli yang segera memutar badan, membiarkannya membersihkan dirinya sendiri. Pria semuda Eli masih malu-malu menunjukkan dirinya. Ah, Naib jadi merasa dirinya tua.
Selagi Naib menunggu, ternyata Eli sudah membersihkan bagian kakinya. Dia meraba-raba, mencari-cari Naib yang terdiam. Mantan tentara segera mengambil jarinya, menunjukkan dirinya ada, sembari tangan satunya meraih gayung berisi air.
Air hangat mengguyur kepala Eli yang berbusa, dia menggelinjang. Naib menyiduk, mengguyur, begitu terus berulang-ulang hingga tubuh Eli bersih sempurna. Tak berapa lama, Naib mengambilkan Eli handuk untuk mengeringkan badannya.
Keluar dari kamar mandi, Naib membantu memakaikan baju. Permainan sudah selesai hari ini, tinggal menunggu esok. Walau keduanya tak begitu yakin dengan sistem waktu di manor yang tampak tidak beraturan.
Baju tidur Eli berupa piyama yang nyaman. Naib memakaikannya dengan hati-hati seperti seorang ayah yang memakaikan baju untuk anak kecilnya. Juga tak lupa dia memasangkan penutup mata Eli, seperti yang dimintanya.
“Naib, terima kasih,” Eli berujar, dia tersenyum kepada Naib yang duduk di sampingnya. Burung hantu kecil kembali dalam dekap, Naib tidak segera menjawab.
Dia malah mengusap kepala Eli yang ditutup helai kain putih, sebelum berdiri untuk beranjak dari ruang pribadi si Peramal. “Kau boleh memanggilku kalau butuh bantuan. Aku akan kembali ke kamarku.”
Begitu saja, kemudian pintu tertutup. Eli merebahkan diri ke kasurnya sambil memeluk burung hantunya erat.
“Kalau begini jantungku tidak kuat!”
Dan pintu terbuka lagi, Eli terperanjat. Naib di sana, tanpa emosi berarti sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. “Aku akan datang lagi besok jam lima pagi. Cepatlah tidur.”
Eli mengangguk-angguk, itu rutinitas mereka saat pagi. Naib akan datang setiap pagi dan memandikan El seperti yang dia lakukan tadi. Lebih mudah dilakukan oleh Naib, karena kamar mereka bersebelahan. “Um, iya! Selamat malam, Naib!”
Naib tak lekas menutup pintu. “Malam.”
Oh, andai Eli tahu seberapa merah kulit mukanya sekarang.
