Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-04-25
Completed:
2021-10-19
Words:
3,365
Chapters:
2/2
Comments:
15
Kudos:
144
Bookmarks:
1
Hits:
1,816

Annyeong!

Summary:

Suatu hari di kehidupan pernikahan Ahn Jeongwon dan Jang Gyeoul~

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

La la la lalalala la la la
La lalalala la la la la

Jeongwon menyanyikan lagu In Front of City Hall at The Subway Station dengan riang di suatu pagi yang indah sembari menyiapkan sarapan untuknya dan istrinya. Kamis pagi dan hari libur mereka, kesempatan yang langka bagi suami istri yang sudah menikah sekitar enam bulan itu. Sangat jarang mereka mendapat libur di hari yang sama dan tentu saja tidak ada yang bisa menjamin bahwa tidak akan ada panggilan darurat atau situasi pasien yang tiba-tiba memburuk. 

Jeongwon memakai celemek nya dan menyiapkan bahan bahan untuk membuat sandwich favorit istrinya. Saat dia sedang menggoreng telur, dia terkejut Gyeoul memeluknya dari belakang. 

"Kau mengejutkanku, dr. Jang" Jeongwon bercanda sambil berusaha menoleh kebelakang tapi tidak ada tanggapan Gyeoul.

"Apakah kau melayang kesini? Aku bahkan tidak mendengar langkah kakimu" Jeongwon melanjutkan sambil berusaha tetap fokus pada masakannya. Tapi Gyeoul tetap tidak menjawab, yang ada malah Jeongwon mendengarnya mendengus dan tubuhnya bergetar. Khawatir, Jeongwon mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya menghadap Gyeoul. Dia menunduk untuk berhadapan langsung dengan wajah istrinya dan benar saja air mata Gyeoul mengalir cukup deras walau dia berusaha menyembunyikan suaranya.

"Hei, kenapa menangis?'' Jeongwon bertanya dengan lembut sambil menghapus air matanya.

"Aku tidak menemukanmu saat aku bangun" Gyeoul berusaha berbicara di tengah tangisnya. Kata katanya terpenggal penggal dan ini kali pertama Jeongwon melihatnya menangis seperti anak kecil.

"Ada apa? Apa kau mengalami mimpi buruk?" Jeongwon masih heran dengan sikap Gyeoul yang tiba-tiba, dia semakin khawatir sekarang.

"Bukan itu. Aku hanya sedih kau tidak di sampingku". Walau masih bingung, Jeongwon memeluk tubuh mungil Gyeoul dan mengelus punggungnya, berusaha menenangkan Gyeoul. Pada saat yang sama dia juga menggigit bibirnya agar tidak tertawa karna tingkah Gyeoul yang tidak biasa. "Mungkin dia merindukanku setelah tiga hari terakhir menghabiskan malam dirumah sakit" dia berbicara dalam hati mencoba memahami Gyeoul.

"Sstt. Aku mengerti. Berhenti menangis. Aku disini." Dia menarik diri dari pelukan Gyeoul. Tuhan yang tau betapa penuh nya hati Jeongwon melihat istrinya bertingkah menggemaskan tepat di depan wajahnya. Dia merapikan rambut Gyeoul dan menghapus air mata yang tersisa di pipinya.

"Sekarang ayo duduk, aku hampir selesai menyiapkan sarapan" Jeongwon hendak meraih sandwich yang sedang menunggu untuk diselesaikan ketika Gyeoul memeluknya lagi dengan erat dan itu cukup mengejutkan.

"Tidak mau" jawaban singkat Gyeoul terdengar tegas tapi juga manja disaat yang sama.

"Ne? " Oke, ternyata masalah belum selesai dan ini lebih mengherankan adalah sejak kapan seorang Gyeoulie menolak makanan?

"Aku bilang aku tidak mau makan" Gyeoul berbicara sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Gyeoulah, kau tidak sempat makan semalam dan sudah subuh ketika kau Sampai dirumah, pasti lapar sekarang kan?." Jeongwon bermain-main dengan suaranya, menggunakan metode yang digunakan pada pasien kecilnya. Gyeoul melepaskan tangannya tiba-tiba dan menghentakkan kakinya persis seperti pasien kecil Jeongwon yang menghindari pemeriksaan.

"Aku bilang aku tidak mau makan, Ahn Jeongwon!" Dia meninggikan suaranya dan menaikkan alisnya juga cemberut ke arah Jeongwon.

Jeongwon tercengang kali ini, diam-diam dia berdoa di dalam hati. "Bapa, di sorga. Ini benar-benar baru. Belum pernah terjadi sebelumnya dan aku bingung apa yang harus ku lakukan saat ini. Tolong beri aku petunjuk Mu

Setelah mengucapkan kata "amin" dalam hatinya, Jeongwon menarik nafas dan memutuskan untuk bertanya langsung apa yang Gyeoul inginkan.

"Oke, sekarang beritahu aku apa yang kamu inginkan" Jeongwon berbicara penuh kesabaran.

"Ayo pergi tidur" suara Gyeoul melembut diikuti raut wajahnya.

"Hm?" Jeongwon memiringkan kepalanya.

"Oppa, ayo kita tidur. Aku sangat lelah, aku ingin tidur dan aku ingin kau memelukku." Matanya bertemu mata Jeongwon dan mulai berkaca-kaca benar-benar memohon. Jeongwon untuk ketiga kalinya terkejut pagi ini karna kejujuran istrinya. Jeongwon mengalah, dia tahu Gyeoul sedang lelah dan dia memilih menghindari perdebatan.

"Oke, ayo tidur. Ini hari libur kita. Kita diijinkan bangun lebih lama". Senyum Gyeoul perlahan mekar sementara Jeongwon segera merapikan bahan masakannya, melepaskan celemek nya dan merangkul Gyeoul untuk kembali ke kamar tidur.

Jeongwon menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Gyeoul langsung memeluknya saat mereka menaiki tempat tidur. Jeongwon mengelus kepalanya ringan, ini kebiasaan yang Gyeoul sukai.

"Ada masalah di rumah sakit?" Jeongwon bertanya lembut

"Tidak ada, semua baik" suara Gyeoul berubah ceria sekarang

"Masalah keluarga di Gwangju?" Jeongwon masih penasaran

"Tidak ada, Oppa. Mereka semua baik" Gyeoul menguap setelah menjawab. Dia mulai mengantuk 

"Kalau begitu, masalah denganku? Apa kau merindukanku seburuk itu?" Jeongwon menggodanya.

"Tidak juga" Gyeoul dan kejujurannya

"Jadi?"

"Aku juga tidak tau, Oppa. Aku hanya ingin tidur disampingmu, memelukmu, dan mencium baumu. Itu saja. Ayo tidur sekarang, dan jangan coba coba kabur, arasso?"

"Neee...." Jeongwon tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi tidur yang dia maksud benar-benar tidur?" Jeongwon menertawakan pikirannya sendiri.

oOo

Sudah pukul 09.45 pagi ketika keduanya terbangun. Beruntung tidak ada panggilan dari rumah sakit. Sepertinya hari libur sedang berpihak pada mereka hari ini.

"Selamat pagi, dr. Jang! Tidurmu nyenyak?" Jeongwon mencium lembut kening Gyeoul 

"Sangat nyenyak. Sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini" jawab Gyeoul senang sambil mengencangkan pelukannya. Energinya sepertinya sudah pulih kembali.

"Oppa, pergi mandi. Biar aku yang menyiapkan sarapan" lanjut Gyeoul dengan senyum yang meyakinkan. Jeongwon mengangkat alis dan tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.

Keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing dan berakhir di meja makan. Gyeoul sangat fokus menikmati sandwich nya sampai dia tidak berbicara. Saat gigitan terakhir sandwich nya, Jeongwon akhirnya memulai percakapan.

"Ada yang kamu pikirkan?" Jeongwon tidak tahu sudah berapa kali dia bertanya hari ini.

"Hm? Ah! Ya, maksudku tidak! Tidak ada, oppa" Gyeoul memaksakan senyumnya.

"Kau sama sekali tidak pandai berbohong, Gyeoul. Ceritakan padaku"

"Hmmm. Oppa, saat istirahat makan siang kemarin, aku berjalan-jalan dengan Chu Minha di dekat rumah sakit. Kami melewati Ajumma penjual eomuk. Tapi sayangnya kami terlalu kenyang jadi kami tidak membelinya. Oppa, kau tahu? aromanya sangat menggiurkan, aku bahkan masih ingat sampai sekarang." Gyeoul menelan ludahnya dan Jeongwon hanya bisa tersenyum mendengarnya bercerita.

"Oppa, apakah kau suka makan eomuk?" Mata Gyeoul bersinar menunjukkan betapa inginnya dia memakan eomuk saat ini. Jeongwon mengangguk, langsung mengerti maksud cerita istrinya.

"Mau berjalan-jalan di taman dekat apartemen? Disana juga ada ajumma penjual eomuk" Gyeoul langsung berdiri dan menepuk tangannya.

"Oke, tunggu sebentar, aku mandi. Aku berjanji tidak akan lama" serunya sambil berlari kecil menuju kamar mandi.

"Bukankah dia gadis yang sama dengan yang menangis seperti bayi tadi pagi?" Tanya Jeongwon dalam hati, belum benar benar mengerti apa yang terjadi. 

oOo

Jeongwon menghabiskan tusukan pertama eomuk nya, saat Gyeoul menggigit eomuk ke empatnya. Pipinya tidak dibiarkan mengempis sedetik pun, dipenuhi dengan makanannya. Senyuman tidak lepas dari wajah Gyeoul sepanjang menikmati eomuk nya. Jeongwon dan sang penjual sesekali saling berpandangan keheranan dengan selera makan Gyeoul.

"Gyeoulah. Pelan-pelan. Kita sedang tidak terburu-buru, ini hari libur kita, ingat?" Jeongwon berbicara selembut mungkin takut merusak mood istrinya yang sedang baik. Gyeoul hanya bisa mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya yang membahagiakan. Tidak lama handphone Jeongwon berdering, kondisi salah satu pasiennya memburuk dan dia harus segera ke rumah sakit. 

"Gyeoulah, maafkan aku, Sungjae membutuhkan ku sekarang. Istirahatlah hari ini, aku akan usahakan pulang lebih awal, oke?" Gyeoul langsung cemberut, alisnya mengerut tapi dia juga tidak mungkin menahan Jeongwon. Meski kecewa, dia menganggukkan kepalanya. Jeongwon mencium keningnya dan segera berlari menuju rumah sakit.

"Apakah kalian sudah menikah?" Ajumma penjual menyadarkan Gyeoul dari lamunannya.

"Ne, ajumma. Hampir enam bulan sekarang" Gyeoul menjawab dengan sopan.

"Kalau begitu sepertinya dugaanku benar" jawab ajumha itu sambil tersenyum.

"Maaf? Dugaan apa, Ajumma?" Lanjut Gyeoul penasaran.

"Wajahmu sangat bersinar, anak muda. Ah, tapi jangan percaya orangtua sepertiku, dokter lebih dapat dipercaya sekarang" Gyeoul semakin bingung, ingin menanyakan lebih lanjut tapi teleponnya segera berdering. Panggilan darurat dan dia juga harus kerumah sakit. Dia langsung membayar dan berpamitan, sesaat melupakan maksud perkataan Ajumha penjual eomuk. Sepertinya dokter memang tidak mengenal hari libur.

oOo

Sudah pukul tiga sore saat Gyeoul menyelesaikan operasi daruratnya. Dia ingin beristirahat sebentar diruang panggilan "pasti menyenangkan berbaring sebentar di sofa" pikirnya dalam hati. Saat dia membuka pintu dia menemukan Jeongwon sedang duduk di ujung sofa coklat sambil memainkan handphone nya. Gyeoul masih kesal karna ditinggalkan sendirian pada kencan langka mereka. Gyeoul mengalihkan pandangannya dan melangkah untuk duduk diujung sofa lainnya. Jeongwon jelas merasakan kekesalannya tapi dia tahu Gyeoul tidak bisa diam berlama-lama.

"Kenapa kau di rumah sakit?" Dia bertanya lembut

"Operasi darurat" Gyeoul menjawab dengan nada dingin dan seadanya. Dia mengeluarkan handphone dari sakunya untuk menghindari penrbincangan. Jeongwon tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuan Gyeoul dan merenggangkan tubuhnya.

"Woooaaaa. Ini sangat menyenangkan. Lelahku tiba-tiba hilang. Aku yakin tidak ada obat lelah yang lebih baik dari ini" dia merayu Gyeoul tapi masih diabaikan. Gyeoul semakin asik dengan handphonenya.

"Operasinya lancar?" Dia tidak tahan melihat Gyeoul diam berlama-lama.

"Hm" jawab Gyeoul singkat

"Bagaimana eomuk nya? Apa kau makan sampai kenyang?"

"Hm" lagi lagi jawaban singkat.

"Pasti sangat enak bukan? Mau kesana lagi besok?"

"Hm" oke, saatnya ke pertanyaan utama.

"Masih marah?" 

"Hm" Jeongwon memanfaatkan jawaban singkatnya kali ini

"Maafkan aku"

"Hm" Gyeoul segera sadar, matanya melebar dan mereka berdua saling berpandangan. Tidak lama tawa mereka pun pecah. Seperti biasa, mereka tidak akan bisa bertengkar dalam waktu yang lama.

"Aish. Tolong jaga sikap anda, Ahn Jeongwon" Gyeoul berbicara sambil menusuk ujung hidung Jeongwon dengan jari telunjuknya.

"Yha! Jang Gyeoul. Kita dirumah sakit sekarang dan saya masih profesor anda. Tolong berbicara dengan sopan!" Jeongwon tidak mau kalah.

"Kalau begitu tolong menyingkir dari pangkuan saya, Ahn Jeongwon Gyusonim. Lebih tidak sopan meletakkan kepala anda  dipangkuan bawahan Anda!" Gyeoul tidak akan mungkin kalah dan Jeongwon menyerah. Bahkan pada perdebatan yang tidak serius dia tidak akan bisa menang.

"Aku ingin istirahat sebentar, bangunkan aku saat kau akan pulang. Aku akan ada dirumah saat makan malam" Jeongwon tersenyum menyadari mood istrinya membaik. Gyeoul mengangguk. Dia tiba-tiba merasa bersalah kepada Jeongwon yang sangat sabar menyikapinya dan mood nya yang berubah-ubah sepanjang hari. Sebenarnya, dia sendiri juga bingung dengan perubahan mood nya hari ini. Gyeoul menyisir rambut coklat suaminya yang lembut dengan jarinya dan tiba-tiba teringat perkataan ajumma sebelumnya. Dia meraih handphone nya, memeriksa kalender dan menyadari sudah sepuluh hari berlalu dari jadwal datang bulan rutinnya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin? Apakah terlalu dini untuk mencari tahu? Dia meletakkan handphone nya, ada tempat yang harus ku kunjungi sebelum pulang, pikirnya.

oOo

Jeongwon memasuki apartemen mereka dan menemukan Gyeoul sedang memasak untuk makan malam mereka. Melihat wajah ceria Gyeoul, sepertinya mood nya baik-baik saja. Dia tersenyum saat mata mereka bertemu.

"Pulang lebih awal? Cepat mandi, aku hampir selesai. Aku sudah siapkan pakaian di atas tempat tidur" ini baru Gyeoul yang saya kenal, pikir Jeongwon dalam hati.

"Baik, Bu!" Dia mengganti sepatunya dengan sandal rumah, menuju ke kamar tidur mereka. Dia melihat tumpukan baju dan handuk diatas tempat tidur dan selembar kertas yang terlipat dua di tumpukan teratas. Kertas itu menarik perhatiannya. Dia mengambil kertas itu dan menemukan sarung tangan bayi berwarna biru dengan tulisan "annyeong, appa! 🌿❄️" dipermukaa nya. Hati Jeongwon membengkak, seperti ingin meledak rasanya. Dia membaca dengan teliti tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif dan dia membeku untuk beberapa saat. Tanpa sadar air matanya mengalir. Dia tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan. Setelah merasa agak tenang, dia menyeka air matanya dan ingin berlari menuju istrinya. Saat dia membalikkan badan, dia menemukan Gyeoul sudah berdiri di belakangnya. Gyeoul sudah mengikutinya dari awal tapi Jeongwon sama sekali tidak menyadarinya.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Gyeoul, matanya berkaca-kaca. Sedetik kemudian dia sudah berada di pelukan Jeongwon. Dia memeluknya sangat erat. Keduanya menangis bahagia, sama sekali tidak dapat mendefinisikan perasaan mereka. Jeongwon menarik diri dan mereka berpandangan mereka tertawa sambil menangis. Hanya berpandangan untuk beberapa saat. Mereka membiarkan mata mereka berbicara satu sama lain karna mulut mereka tidak sanggup melakukannya. Setelah puas saling menatap mereka kembali berpelukan. 

"Oppa, maafkan aku" Gyeoul akhirnya berbicara. Dia tahu ini hal benar yang pertama harus dia lakukan.

"Kenapa minta maaf?" Jeongwon mengelus rambutnya tidak tega mendengar permintaan maaf istrinya.

"Aku pasti menyebalkan hari ini. Aku juga bingung dengan diriku sendiri. Rasanya seperti naik roller coaster" Jeongwon tertawa mendengar pengakuannya.

"Tidak apa-apa. Aku suka melihat versimu yang manja dan melekat. Sangat menggemaskan. Sesekali tidak masalah" mereka masih berpelukan saat saling berbicara.

"Bagaimana kalau ini akan terjadi lagi? Tolong katakan padaku kalau kau kesal di kemudian hari" Tanya Gyeoul khawatir. Jeongwon mengelus punggungnya, meyakinkan semua akan baik-baik saja.

"Tidak masalah. Aku akan belajar bagaimana menghadapimu. Aku punya teman spesialis OBGYN, seorang teman yang juga seorang ayah, dan aku bisa membaca buku untuk belajar. Kita bisa belajar bersama-sama" Mendengar itu Gyeoul lebih tenang. Dia seharusnya tidak terlalu khawatir, karena dia memiliki Jeongwon.

"Terimakasih, Gyeoulah!" Suara Jeongwon bergetar, dia kembali menangis. Gyeoul mengangguk dalam pelukannya.

"Aku juga berterima kasih, Oppa. Terimakasih sudah sabar menghadapiku. Aku mencintaimu" balasnya.

"Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu" 

Keduanya merasakan kelegaan dalam hati mereka, tetap berpelukan menikmati tahapan baru dalam hidup mereka sebelum sama sama melangkah kepada tahapan dan pencapaian selanjutnya.~