Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of the fifth season
Stats:
Published:
2021-04-26
Words:
1,035
Chapters:
1/1
Kudos:
21
Bookmarks:
2
Hits:
291

Minus Tujuh Derajat

Summary:

jeongin memutuskan untuk membelikan sepasang kaus kaki sebagai hadiah ulang tahun seungmin di hari yang dingin.

Work Text:

jeongin merapatkan mantelnya sambil menyusuri jalanan dengan berhati-hati karena genangan air yang membeku membuat jalanan licin. tumpukan salju di kanan dan kiri jalan memutihkan pandangan jeongin. laporan cuaca pagi tadi memberitakan bahwa suhu bisa mencapai minus tujuh derajat hari ini.

“semoga minnie hyung nggak ketiduran lagi,” gumam jeongin. beberapa hari ini seungmin jatuh tertidur dari siang hari, sehingga terkadang dia lupa membukakan pintu untuk jeongin. tentu saja hal itu membuat yang lebih muda kesal.

angin tiba-tiba berhembus sedikit lebih kencang, terpaksa membuat jeongin berhenti sejenak. syal yang dirajutkan seungmin sedikit kurang tebal untuk menghalau fenomena barusan, membuat hembusan dingin menyentuh kuduk jeongin.

jeongin melirik ke sebelah kanan, di mana satu kaca besar menyambut netranya. di balik kaca terdapat satu manekin berpiyama dan pajangan kaus kaki bermotif.

ingatan jeongin langsung terlempar ke beberapa hari lalu, ketika hyunjin tiba-tiba masuk ke apartemen jeongin yang disewa bersama seungmin. hyunjin datang, memberikan hadiah untuk seungmin yang berulang tahun tiga hari lalu. hadiahnya sebuah padding berwarna biru tua. seungmin girang bukan main, seharian itu wajahnya berseri-seri. bahkan ketika hyunjin sudah pulang, seungmin tetap melompat kecil sambil menunjukkan padding barunya pada jeongin.

“tch.” jeongin tak sengaja mendecih. dia tidak pernah suka saat hyunjin tiba-tiba datang dan menyita semua perhatian seungmin. laki-laki kaya itu selalu bisa memenuhi kebutuhan materi seungmin.

sedangkan jeongin, uangnya habis untuk memperbaiki pemanas minggu lalu, membuat dia tidak sempat membeli hadiah apapun untuk seungmin. dia sedikit menyesal karena tidak pernah menabung. ajaibnya saat itu, matanya berbinar terang karena menangkap satu tulisan 'diskon' kecil di ujung rak pajangan.

buru-buru, jeongin melangkahkan diri ke dalam toko pakaian tersebut.

*

“hyung, nggak ketiduran lagi, kan? aku sudah dekat.” jeongin menelepon seungmin sebelum sampai di apartemen.

“langsung masuk saja. hyunjin main ke sini, jadi pintunya nggak aku kunci. okeee?”

jeongin memutar matanya jengah. ah, moodnya yang sudah terbangun di toko yang menggemaskan tadi, mendadak luluh lantah rata dengan tanah. dengan malas jeongin menaiki tangga menuju kamarnya.

“aku pulang!”

langkah terburu menyambut jeongin setelah pintu tertutup. “minnie hyung, jangan lari-lari,” ucapnya.

buk!

tubuh kurus seungmin bertumbuk dengan tubuh jeongin yang masih terbalut mantel. tangan kurus seungmin memeluk erat si kecil kesayangannya.

“lepas, hyung. ini masih basah mantelnya, nanti baju hyung basah juga,” omel jeongin sambil berusaha melepas rengkuhan seungmin, yang malah jadi semakin erat.

“biarin! kamu kok lama? ada apa? kenapa nggak bilang dulu? aku takut ketiduran lagi, jadi aku tungguin dari siang. taunya tadi ada yang ketok, tapi bukan jeongin.” suara nasal seungmin bergema di telinga jeongin. rewel, bawel dan berisik.

tapi jeongin suka.

setelah pelukan seungmin mengendur, jeongin melepaskan tangan-tangan ringkih itu dari badannya. ia melepas mantel dan menggantungnya di gantungan. tangan jeongin digenggam seungmin dan ditarik menuju ruang tengah.

“yo.” ada hyunjin duduk di sofa, mengangkat tangannya untuk menyapa jeongin.

“ada apa? kenapa kesini lagi?” tanya jeongin, tidak kalah dingin dengan cuaca hari ini.

hyunjin menunjuk meja makan dengan dagunya. “bawa makanan untuk kalian. tadi lihat berita katanya bisa sampai minus tujuh derajat, aku jadi kepikiran. seungmin aku ajak makan duluan nggak mau.”

jeongin menoleh ke arah seungmin di sampingnya untuk menanyakan kebenaran dengan bahasa tubuh. seungmin mengangguk ribut tanda setuju. “kita nungguin jeongin pulang. karena sekarang udah ada jeongin, mari makan! ayooo!” seungmin heboh mengajak dua laki-laki lain ke meja makan.

“aku pulang aja, minnie. makanannya kalian habiskan, ya. kalau bisa, buat nanti malam juga.” hyunjin berkata.

jeongin menoleh cepat. “kenapa gitu?” tanyanya, padahal dalam hati agak girang.

seungmin menghampiri hyunjin dan menarik lengan bajunya. “hyunjin makan di sini juga, dong?” pinta seungmin.

hyunjin mengusap tengkuknya canggung. dia tahu kalau jeongin tidak terlalu suka padanya. hyunjin mengerti kalau terkadang jeongin iri karena hyunjin lebih kaya darinya dan bisa menuruti mau seungmin, yang jeongin sendiri sering tidak mampu wujudkan.

ketika mata hyunjin bertemu dengan milik jeongin, jeongin berkata, “turutin si bayi,” dan hyunjin menurut. mereka makan malam bersama.

*

“oiya, hyung.” jeongin berdiri dari kursi makan menuju sofa tempat tasnya ditaruh, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“selamat ulang tahun, maaf aku baru bisa kasih sekarang,” katanya setelah duduk kembali, mengulurkan sesuatu tadi ke hadapan seungmin.

seungmin mengambil barang itu. dua gulung kaus kaki dengan motif bintang-bintang yang dibungkus kantung jaring transparan.

“maaf aku cuma bisa kasih itu. aku sedang cari pekerjaan lain dan aku akan menabung lagi. nanti—”

belum selesai jeongin berbicara, suara kayu yang tergeret terdengar keras. asalnya dari seungmin yang tiba-tiba berdiri, menghampiri, dan memeluk jeongin erat, menenggelamkan kepala yang lebih muda di dada rapuhnya.

“maaf,” isak seungmin. jeongin masih membeku, bahkan setelah isakan dan tarikan ingus seungmin terdengar.

“maaf, aku banyak merepotkan,” kata seungmin. “maaf aku nggak bantu banyak. jeongin jangan minta maaf karena aku yang banyak salah.”

dan barulah jeongin membalas pelukan seungmin dengan melingkarkan tangannya di pinggang kurus si seungmin. tangannya mengusap punggung seungmin pelan. “hyung nggak salah,” lirihnya.

“hyunjin sering ke sini karena dia mau bantu aku bikin kerajinan buat dijual. jangan marah sama hyunjin, ya? aku cuma mau bantu jeongin supaya jeongin nggak perlu kerja setiap hari dari pagi sampai malam. apalagi ini musim dingin, pasti dingin sekali kan minus tujuh itu? aku selalu khawatir sama jeongin, takut jeongin kenapa-napa.”

jeongin mengeratkan pelukannya, mengisyaratkan seungmin untuk berhenti bicara atau tangisnya ikut pecah. ada hyunjin di sini, jeongin malu.

“aku nggak minta kado barang lagi karena jeongin dan apa yang udah dilakuin jeongin buat aku itu lebih dari cukup.” seungmin berkata lagi.

jeongin mengangguk di dekapan seungmin, berusaha kuat menahan air matanya.

selang beberapa menit, seungmin melepaskan pelukannya, menatap wajah jeongin lekat-lekat.

“tapi aku suka hadiahnya! lucu banget kayak aku! aku bakal pakai tiap hari.” walaupun pipinya dibasahi air mata, senyuman seungmin masih bisa terpasang begitu lebarnya.

“makasih, ya, jeongin.” tangan seungmin bergerak untuk menangkup pipi jeongin dan ditariknya wajah sang kekasih untuk mendekat. bibir tipis seungmin mengecup singkat bibir jeongin. “mwah.”

jeongin terkikik. pertama kali dalam sebulan terakhir, senyumnya terpasang dengan ringan. bebannya bagaikan diangkat dan dibuang seungmin ke luar jendela, bergumul dengan bintang kecil yang bertengger di langit musim dingin. semua lelahnya memang selalu terbayar karena semua itu dilakukan untuk seungmin, dan seungmin tidak pernah gagal menghargai jeongin.

hyunjin ikut berdiri untuk menarik sahabatnya dan kekasih sang sahabat ke pelukan. “jadi teletabis. berpelukaaaaan~!”

dan pada akhirnya, minus tujuh derajat tidak bisa menembus dinding hangat yang dibangun dengan balutan kasih dan sayang yang pekat.

 


 

Series this work belongs to: