Actions

Work Header

winter field

Summary:

seungmin ingin melupakan mimpi yang terpaksa dikubur dan kembali ke padang bunga penuh kasih sayang jeongin.

Notes:

inspired by Dandelions by Ruth B. x Winter Falls by Stray Kids.

setiap part itu alurnya maju-mundur, ya. jadi beda timeline begitu. hehe. enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

0.

seungmin duduk di sofa, memeluk kedua lututnya sambil menatap meja makan.

napas dihela berkali-kali, tandakan pikirannya yang sedang lelah.

“kaki sialan,” ucapnya sedih. mau menangis pun sudah lelah juga. tiada guna, hanya memperburuk keadaan keluarga kecilnya.

sudah hampir 5 bulan berlalu sejak kecelakaan tergelincir di lapangan, tapi kaki seungmin bagaikan menolak bekerja sama untuk segera sembuh. mondar-mandir ke dokter untuk cek rutin sama sekali tidak membuahkan hasil. malah, dia jadi malu sendiri. kata dokter, belum juga bisa melakukan pekerjaan berat, belum bisa membantu jeongin mengumpulkan uang untuk hidup keduanya.

suara angin mendorong jendela, membuat bingkainya berderit. dari mata seungmin yang entah masih punya semangat atau sudah tidak, bayangan salju yang turun dengan derasnya mulai terlihat.

di hari yang sedingin ini, jeongin sedang bekerja keras. jaketnya masih dipakai kah? ruangannya hangat kah? sup yang dibeli pagi tadi masih enak kah? berbagai pikiran tentang jeongin berputar di kepalanya.

kemudian seungmin ingat, dulu dia pernah ada di padang bunga.

 

i.

perasaannya untuk jeongin bak kelopak bunga yang tadinya satu, ditiup jadi seribu. semakin disadari, semakin besar, dan semakin banyak, dan semakin indah.

“kenapa kok kamu panggil aku minnie?” tanya seungmin ketika jeongin, si adik kelas kapten tim sepakbola, memanggilnya untuk duduk di tepi lapangan.

jeongin tertawa lebar sambil menggeleng. “lucu aja minnie. cocok kok sama hyung,” katanya. ”gemoy.”

seungmin tersipu. hei, cuma begitu padahal.

mungkin, mungkin seungmin suka dengan bagaimana jeongin memanggil namanya, menyesuaikan diri dengannya, memperlakukannya, dan memandangnya.

“aku panggil kamu innie kalau gitu,” kata seungmin.

jeongin tersenyum, cubit pipi seungmin. “boleh.”

setelah itu, jeongin berlari kembali ke lapangan, memainkan game yang sempat tertunda karena ada beberapa murid dipanggil guru bk. seungmin tetap duduk di tempatnya, perhatikan bagaimana kaki jeongin berlari dan tendang bola. bagaimana rambut hitamnya memantul di setiap langkah riang dan memecah kala jeongin menoleh dan lambaikan tangan ke arah seungmin. bagaimana definisi kebahagiaan itu ada di satu sosok tubuh anak sma.

mata seungmin yang bulat dan berbinar, rekam sosok jeongin yang berlari di bawah teriknya matahari.

 

ii.

jangan ketiduran lagi. 10 menit lagi shift-ku selesai. aku beli taiyaki muehehe.

kira-kira apa yang akan dirasakan hati besar jeongin ketika dia tahu bahwa seungmin banyak tidur karena dia sudah lelah bangun?

jangan beli kebanyakan. aku nggak lapar.

kira-kira apa yang akan dirasakan hati besar jeongin ketika dia tahu seungmin enggan memasukkan apapun ke mulut saat dia tidak ada.

jeongin tak lagi membalas. mungkin dia sedang membereskan kedai (kalau tidak salah hari ini jadwalnya ke kedai. besok baru ke rumah yang belum jadi satu lagi).

ah, jeongin benar-benar bekerja keras untuk menopang hidupnya.

“kaki sialan,” ucap seungmin sedih, lagi.

kini cengkeraman dieratkan pada kulit betisnya. ia tanamkan kuku-kukunya di sana, buat berkas kemerahan. kaus kaki berpola bintang pun gagal hangatkan kaki pemilik yang sedang dihembus angin keraguan.

“coba aku—“

“—lebih berguna.”

kemudian tangisnya pecah.

boleh, tidak, sekali saja seungmin tidak pikirkan soal mimpinya yang terpaksa terkubur?

boleh, tidak, sekali saja. sekali saja seungmin tidak diingatkan soal kejadian tergelincir yang buat dia tidak bisa bermain baseball lagi?

dan, boleh, tidak? boleh tidak, seungmin mengulang hidupnya dari awal lagi?

semua pasti lebih mudah kalau saja seungmin bisa dengan mudah melepaskan mimpinya. kalau saja dia bisa dengan mudah melupakan seluruh perjuangannya, latihan yang dilalui, semangat yang diberikan jeongin, patahan waktu yang sebisa mungkin dia habiskan untuk berlari di lapangan.

kalau saja dia bisa dengan mudah melupakan semua itu dan lanjutkan hidupnya dengan kaki yang pincang. mungkin dia tidak akan semenderita ini.

 

iii.

“gila, aku tuh, ya. tiap liat kamu bawaannya seneng terus,” kata seungmin di bawah pohon cemara yang daunnya tertumpuk salju. keduanya sedang duduk bersandar di batangnya.

jeongin tertawa. “masa? kayaknya hyung lebih seneng kalau dapet jersey baru,” katanya.

“hahaha,” dari perut seungmin, keluar kupu-kupu banyak, “tau aja. tapi kan yang itu beda!”

ini hari lain di bulan desember, sekitar delapan bulan setelah kelulusan seungmin dari sma. hidupnya, seungmin, jeongin, semuanya masih sempurna. masih ada untuk satu sama lain, masih saling menguatkan dan memberi motivasi.

“gimana kalau kita tinggal bareng?” tawar jeongin, di hari di mana keduanya memandang salju pertama. 

seungmin lihat senyuman itu, mata itu, lesung pipit, dan segala-galanya. dunianya sudah ada di depan mata, meminta seungmin untuk jadi miliknya. tidak ada lagi yang bisa seungmin harapkan selain bayangan hidup bersama jeongin. dia mengangguk riang, tanggapi doanya setiap malam yang akhirnya dikabulkan.

mereka berdua hanyalah sepasang anak laki-laki yang saling menemukan arti cinta, yang sama-sama belajar apa itu selamanya lewat tatapan mata.

 

iv.

di hari yang dingin bagi kedua hati yang hangat, jeongin menangis juga.

dia buka pintu sendiri setelah sampai di apartemen kecil yang disewa berdua, temukan seungmin sedang duduk meringkuk di sofa ruang tengah.

wajahnya terbenam ke antara lutut, badannya bergoyang naik turun mengikuti irama isak tangis yang menyesakkan.

tangannya melingkari badan seungmin, berikat hangat berlebih.

“nggak apa-apa,” katanya, “nggak apa-apa.”

“aku minta maaf buat semuanya,” kata seungmin di sela tangisnya.

hati besar jeongin akhirnya memberitahu bahwa rasanya sakit.

dia rasakan sakit yang amat sangat sakit kala seungmin meminta maaf untuk hal-hal yang tidak bisa mereka atur.

hati besar jeongin akhirnya berkata bahwa dengar seungmin yang banyak tidur dan sedikit makan membuat sekujur tubuhnya ikut merasakan derita.

tidak, jeongin tidak berusaha keras untuk itu. kalau pada akhirnya yang seungmin rasakan hanya kesedihan, tentu jeongin tidak mau.

tangannya mengelus punggung seungmin. “aku tunggu kok, hyung. aku tunggu.”

seungmin angkat wajahnya untuk kemudian dipindah ke ceruk leher jeongin. lengan yang sebelumnya dipakai untuk memeluk sisa-sisa diri sendiri, kemudian melingkar di tubuh jeongin. 

bunga-bunga yang dulu mekar di padang tempat seungmin berdiri sempat mati, kemudian sekarang perlahan-lahan tumbuh lagi.

Notes:

terima kasih sudah baca dan apresiasi, ya! kalau mau kirim salam bisa ke curiouscat.me/frasamerah hehe have a nice day!

Series this work belongs to: