Work Text:
Sakusa Kiyoomi tidak punya ketakutan—atau mungkin lebih tepatnya, dia selalu menghindari hal-hal yang sekiranya tidak mungkin bisa dia atasi sendirian, termasuk masa depannya sebagai seorang omega. Orang tuanya mewanti-wanti agar dia selalu menjaga diri dan jangan pernah berteman terlalu dekat dengan alfa. Apalagi saat itu sedang marak-maraknya berita kekerasan seksual yang terjadi pada anak sekolahan. Kiyoomi yang menurut orang tuanya penyindiri, takutnya malah jadi korban perundungan dan siapa tahu malah mungkin terjadi hal yang lebih mengerikan daripada itu.
Tapi anak itu selalu menjalani hidupnya dengan baik dan jujur—oh tentu ada sedikit kebohongan di sana-sini jika perlu. Ditambah dia selalu bersama Motoya, sepupunya yang seorang beta. Karena populasi omega berbeda jauh dari beta, di mana omega adalah populasi terkecil di antara alfa-beta-omega, orang-orang juga selalu mengira Kiyoomi adalah seorang beta. Sekalipun ada yang menebaknya bukan beta, biasanya mereka menebak Kiyoomi sebagai seorang alfa karena perawakannya yang besar. Apalagi dia memang selalu memakai scent blocker-nya ke mana-mana.
Ketika dia memutuskan untuk menekuni voli, dia tahu dia akan mulai berhadapan dengan banyak alfa—meskipun populasi alfa juga sedikit, tetapi kebanyakan mereka berkumpul di ekskul olahraga. Beberapa dari mereka memang menyembunyikan baunya, tapi tidak sedikit juga yang menjadi tukang pamer. Karena dia dianugrahi badan yang besar dan gagah, Kiyoomi tidak pernah takut berhadapan dengan siapapun. Apalagi banyak orang yang juga malas berurusan dengan alfa. Kiyoomi terlalu banyak bertemu dengan alfa sok dan brengsek di klub-klub olahraga sampai akhirnya, di camp pelatihan saat dia SMP, seorang alfa berhasil mengubah persepsinya.
Dengan payahnya, Kiyoomi mengalami hal yang menjadi mimpi buruk setiap omega, mendapatkan heat di tengah-tengah tempat penuh alfa. Masa-masa Sekolah Menengah Pertama adalah masa-masa rawan untuk sebagian besar omega karena puber kedua bisa terjadi kapan saja—terutama di tanggal-tanggal sekitar ulang tahun. Kiyoomi sendiri sudah mengalami itu sesaat setelah naik ke kelas delapan, dia juga tidak pernah lupa minum obatnya satu kali pun. Tapi dia tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Padahal dua minggu lalu dia sudah minum obat, pun dia juga membawa cadangan obatnya ke mana-mana kalau-kalau hal seperti ini terjadi. Dicek lagi pun tanggal kadaluarsanya masih jauh.
Saat dirinya sedang pusing bergumul dengan sisi omeganya di kamar mandi itulah, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu biliknya.
“Maaf untuk berkata seperti ini, tapi apa kau butuh bantuan? Baumu—maaf, maksudku, bau feromonmu—begitu kuat sampai ke luar. Kalau kau butuh bantuan, aku akan panggilkan segera. Boleh tahu ini siapa?”
Dari suaranya yang khas, sekali dengar pun Kiyoomi tahu itu Ushijima Wakatoshi. Dia memang telah mengagumi atlet muda ini sejak dulu, namun mau bagaimana pun juga, orang yang berada di balik pintu biliknya ini adalah seorang alfa. Kalau tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan bagaimana? Baru kali ini Kiyoomi merasa ketakutan sekali. Ditambah dia benar-benar sendirian di sini—mau memanggil Motoya pun tak tega, anak itu terlalu lelah berlatih seharian.
“Tenanglah, aku berjanji aku tidak akan melakukan apa-apa. Tapi kalau kau benar-benar takut, aku panggilkan pelatih ya? Atau pengurus tempat ini? Kurasa pengurus tempat ini seorang perempuan beta. Aku tidak tahu apa ada omega lain di antara kita supaya kau bisa merasa lebih nyaman.”
Untunglah bagi Kiyoomi kala itu karena obat supresan yang dia teguk dua puluh menit sebelumnya akhirnya mulai menunjukkan hasilnya. Biasanya, obat supresan yang diminum ketika masa heat telah datang tidak akan mengubah apa-apa, tapi mungkin karena ini heat di luar siklus, obatnya ternyata bekerja. Kiyoomi pikir-pikir lagi, mungkin ini terjadi karena selama tiga harian ini dia terus berada di tempat yang sama dengan banyak alfa dan mencium feromon mereka selama berjam-jam tanpa istirahat; mungkin itulah yang memancing sisi omeganya keluar.
Baru ketika heat-nya mulai menghilang perlahan dan hanya menyisakan temperatur tubuh yang tinggi, Kiyoomi membuka kunci pintu biliknya. Kepalanya mengintip keluar, lalu ditemukannya Wakatoshi berdiri dengan segelas air dingin dan handuk basah di tangan yang satunya di dekat pintu masuk.
“Aku takut kau akan ketakutan, tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Kubawakan air dingin dan handuk basah dingin. Kutaruh di sini ya.”
Anak yang hanya beberapa sentimeter lebih tinggi itu menaruh kedua barang tersebut di atas countertop. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung melangkah keluar setelah memastikan Kiyoomi bisa melihat kedua benda yang dia bawa dengan jelas.
Pemuda berambut ikal panjang itu menunggu beberapa detik sampai akhirnya merasa yakin bahwa Wakatoshi tidak akan kembali lagi, setidaknya dalam waktu dekat. Usai memastikan bahwa dia benar-benar sendiri, Kiyoomi buru-buru meminum air tersebut sampai habis—es-esnya pun bahkan sampai dia kunyah. Merasa suhu tubuhnya mulai menurun sedikit demi sedikit, sisa es yang berada di gelas dia tumpahkan semua ke atas handuk lalu dibungkusnya dengan hati-hati. Setelah itu, handuk tersebut dia pakai untuk mengompres bagian tubuhnya yang terbakar, terutama kepala dan tengkuk belakangnya. Untung heat-nya tadi tidak terlalu parah walau sialnya celananya sudah agak basah.
Dirinya merasa menghabiskan waktu cukup lama di sana. Apalagi berulang kali dia membasahi kepalanya. Makanya, ketika dia berniat mengembalikan gelas dan handuk tersebut, Kiyoomi akui dia terkejut mendapati Wakatoshi berdiri menyandar di sebelah pintu kamar mandi.
“Ushijima-san?”
“Ah, Sakusa. Sudah baikan? Tenang, aku tidak bilang pada siapapun—oh, sudah habis? Mau aku ambilkan lagi? Berikan handuknya padaku.”
“O-oh, anu … terima kasih. Tapi, setelah ini aku mau mandi. Bisa kau menjagaku di sini?”
“Boleh. Kutaruh ini dulu ya.”
“Sekali lagi terima kasih.”
“Oh iya, ngomong-ngomong, ‘Wakatoshi’ juga tidak apa-apa.”
“Kalau begitu … ‘Kiyoomi’.”
Hari itu, persepsi Sakusa Kiyoomi tentang alfa dan Ushijima Wakatoshi mulai berubah. Mereka mulai lebih menikmati camp yang hanya tersisa dua hari itu dengan senang, bahkan mereka selalu berlatih sampai melewati batas latihan formal yang diadakan. Motoya sampai khawatir sebelum akhirnya Kiyoomi menceritakan semuanya.
Hubungan yang awalnya hanya sesama atlet ini pun makin lama makin berkembang. Di Spring Interhigh yang dia ikuti saat kelas satu SMA, pemuda dengan seragam kuning dan hijau neon itu kembali bertemu dengan alfa yang dulu membantunya. Biasanya Kiyoomi hanya akan menatap kagum, namun saat menonton pertandingan Shiratorizawa dari jauh, lalu pandangannya hanya terpaku pada Wakatoshi-kun dan Wakatoshi-kun saja, dia akhirnya menyadari bahwa perasaan kagumnya telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Setelah itu, karena tahun perbedaan tingkat tahun sekolah mereka, Kiyoomi berniat untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, apalagi saat itu Wakatoshi sudah berada di akhir tahun SMA-nya.
Pesan-pesan singkat dikirimkan dengan intens. Untuknya yang tidak terlalu suka berkomunikasi dengan telepon, Sakusa Kiyoomi bisa menghabiskan waktu sampai dua jam hanya untuk mengobrol dengan alfa favoritnya. Perasaan ini memang perasaan yang baru. Awalnya Kiyoomi ragu apa ini akan bertahan atau tidak, apakah ini akan melukainya atau tidak. Namun ternyata, dugaannya tak terbukti benar.
Di akhir tahun SMA-nya, ketika akhirnya dia bisa berada di satu kota yang sama dengan Wakatoshi yang bermain untuk Adlers, pemuda yang lebih tua itu lebih dahulu menembaknya. Betapa senangnya dia sampai-sampai merasa terbang ke langit ketujuh. Belum lagi, kurang lebih lima tahun setelah itu, hanya sesaat sebelum Wakatoshi bertolak ke Polandia, pria itu melamarnya tepat di depan orang tuanya langsung—meskipun pada akhirnya pernikahannya itu sendiri diadakan beberapa tahun setelahnya. Pernikahan tersebut diadakan secara sederhana, sesuai kemauan Kiyoomi yang tak terlalu suka keramaian. Secara hukum dan secara hukum alam, akhirnya Kiyoomi resmi menjadi suami dan omega sah dari Ushijima Wakatoshi—ditandai dengan surat menikah dan luka permanen yang tertoreh di tengkuk sang omega.
Saat bulan-bulan awal pernikahan mereka, sebuah diskusi mengenai anak dan keturunan pernah tercipta. Di usia mereka yang masih muda dan mimpi yang belum semuanya terpenuhi, memiliki anak adalah hal paling terakhir yang mereka pikirkan—terlebih karena sekarang mereka berhubungan jarak jauh. Meskipun sempat terucap janji bahwa Kiyoomi bersedia untuk pensiun dini setelah Olimpiade 2028 di usia 32 tahun. Setelah sepuluh tahun menjadi atlet profesional, katanya dia mungkin sudah akan puas dan akan berhenti dengan lapang dada. Saat itu pasti kondisi mereka berdua juga sudah siap secara mental, fisik, dan finansial untuk benar-benar membangun rumah tangga dengan menambah anggota baru.
Makanya, mereka berdua tak pernah melewatkan obat supresan satu kali pun. Bahkan ketika bertemu dan bercumbu, Wakatoshi hampir selalu memakai pengaman dan Kiyoomi akan langsung minum obat sebelum jatuh terlelap. Sayangnya, setelah pencegahan yang dilakukan selama dua tahun ini berakhir sia-sia karena di hari final pertandingan bola voli Olimpiade 2024, Kiyoomi tiba-tiba saja merasakan kram luar biasa di perutnya hanya beberapa menit sebelum tim nasional menaiki bus untuk menuju tempat pertandingan. Bukan hanya itu saja, dia juga kehilangan kesadaran yang akhirnya membuat Wakatoshi pun mau tak mau ikut absen dalam pertandingan terakhir memperebutkan medali emas.
Awalnya, Kiyoomi pikir ini akibat kelalaiannya tidak menjaga tubuh, apalagi semalam setelah makan, dia dan Wakatoshi sempat berjalan-jalan sebentar ditemani angin musim panas. Namun, analisa dokter di indera pendengarannya bagai petir di siang bolong—begitu tiba-tiba, begitu mendadak, dan sama sekali tidak dia prediksi sebelumnya.
Sakusa Kiyoomi positif mengandung selama delapan minggu. Dia, yang selama ini bercinta dengan aman dan tidak pernah melewatkan jadwal obatnya satu kali pun, mendadak dinyatakan hamil hanya beberapa menit setelah dia terbangun dari pingsannya hari itu.
Sampai akhirnya pesawat yang membawanya pulang ke Jepang mendarat pun, Kiyoomi masih dalam fase syok dan denial. Di Paris, mereka bertanya kepada tiga dokter dan semuanya mengatakan hal yang sama. Sesampainya di Jepang pun, dia dan Wakatoshi langsung pergi ke rumah sakit khusus omega terpercaya di Tokyo dan tentu saja hasil analisa tak berubah. Kemungkinan besar Kiyoomi bisa hamil meskipun tetap meminum supresannya secara teratur hanya ada dua alasan: satu, kesalahan produksi; dan dua, obatnya sudah kadaluarsa. Dan karena Kiyoomi selalu mengecek tanggal obatnya secara teratur, kemungkinan yang terjadi padanya adalah yang pertama. Kedua hal itu bisa menyebabkan macam-macam, salah satunya adalah yang terjadi pada sang atlet; meskipun heat-nya tak datang, proses ovulasi tetap terjadi di dalam rahimnya.
Dan sekarang, pria yang Maret lalu baru berusia 28 tahun itu lebih sering mengurung dirinya sendiri kamar. Seminggu setelah kepulangannya, Kiyoomi lebih memilih menghindari bertemu dengan orang tuanya dan tidur lebih dahulu dari Wakatoshi.
Sama seperti hari ini.
Jarum pendek sudah menunjuk ke arah sepuluh lewat. Tak terhitung sudah berapa kali ayah dan ibunya bolak-balik naik tangga hanya untuk mengetuk pintu dan mendapatkan jawaban angin kosong. Pasalnya, dalam kondisi seperti ini, mood untuk makan pun mana ada. Bayangan dia yang dimarahi oleh official tim masih membekas, rasa-rasanya baru kemarin dia dimarahi habis-habisan, meskipun sebenarnya itu kelalaian dua belah pihak. Tak seharusnya Kiyoomi bisa lulus tes kesehatan terakhir sebelum diberangkatkan ke Paris. Siapapun yang menangani kesehatan para anggota tim juga harus diminta pertanggungjawaban.
Sejujurnya, dia tak terlalu memusingkan hal itu—lebih tepatnya, tidak mau memikirkannya. Wakatoshi bilang official mengeluarkan pernyataan yang setidaknya bisa menenangkan media. Dua hari setelah itu, pelatih Jackal berbicara dengannya dan berujar akan menunggu sampai kondisi Kiyoomi agak baikan untuk diajak berdiskusi.
Sekarang, boro-boro memikirkan hal yang rumit seperti itu, setiap pagi dia harus mengeluarkan makan malamnya sampai air matanya menetes karena otot-otot perutnya perih. Belum lagi dia semakin sensitif terhadap apapun—suara, pergerakan, bahkan bau suaminya sendiri. Dia sama sekali tidak siap. Seharusnya dia akan mengandung beberapa tahun lagi, bukan sekarang. Dia dan Wakatoshi-kun belum menyiapkan apapun.
Seumur-umur, baru sekali ini dirinya merasakan ketakutan yang sama seperti saat dia tiba-tiba memasuki heat-nya di tengah-tengah camp pelatihan saat SMP dulu. Tapi kali ini lebih dari itu. Di dalam perutnya, di dalam rahimnya, ada seorang janin yang sedang tumbuh dan menunggu diberikan kasih sayang.
Bagaimana mungkin Kiyoomi akan menerima hal ini begitu saja? Pernah mencari buku parenting pun tidak. Dan hari ini, Kiyoomi tak ada gairah untuk melakukan apa-apa. Tak perlu ditampik bahwa perutnya memang lapar, tapi sekarang, mau makan apapun, sekalipun itu makanan kesukaannya, tidak dia muntahkan saja sudah syukur. Seharian ini sejak bangun tidur yang baru masuk ke perutnya hanyalah roti sosis dan segelas air putih.
Perut yang masih menampakkan otot hasil kerja kerasnya bertahun-tahun itu dipeluknya erat. Tangannya sesekali meraba walau perasaannya kalut luar biasa. Dokter di sini menyarankan aborsi kalau tidak siap—apalagi aborsi pada perempuan dan laki-laki omega memang legal. Namun, melihat risiko yang akan dia hadapi, Kiyoomi juga tidak sanggup. Kalaupun memang akan dilakukan, batas tenggat waktu untuk melakukan aborsi dengan ‘aman’ hanya tiga minggu lagi mengingat aborsi akan berisiko sangat tinggi jika sudah melewati trimester pertama.
Belum lagi, dia tak tahu mana yang lebih merugikannya; apakah mengurus anak tanpa kesiapan atau aborsi yang bisa saja membahayakan tubuhnya. Kalau dia memilih aborsi, tak ada jaminan nanti dia masih bisa hamil di kemudian hari. Kalau rahimnya malah rusak gara-gara keguguran paksa, tak ada jaminan juga dia masih hidup. Kalau dia memilih mengurus anak, sebenarnya dia dan Wakatoshi masih punya sekitar enam bulan lagi untuk mempersiapkan diri. Ditambah, katanya orang tuanya dan ibu Wakatoshi juga siap membantu kalau-kalau ada yang diperlukan.
Ngomong-ngomong soal enam bulan ini—
—Tok. Tok. Tok.
Lamunannya seketika buyar, kepalanya refleks menoleh pada pintu kamar yang kini terbuka sedikit. Sesosok pria bertubuh besar menjulurkan kepalanya ke dalam, bertanya dengan suara rendah, “Boleh aku masuk?”
Kiyoomi menghela napas lega. Mengangguk mengizinkan, dia juga menggeser posisinya di atas kasur dan menepuk sisi sebelahnya yang kosong. Matanya agak terbelalak melihat menu sarapan yang dibawa oleh Wakatoshi di tangan yang satunya.
“Ibu masak sup krim. Dia juga memotongkanmu stroberi. Katanya, walau hanya beberapa suap, kau harus setidaknya makan,” kata sang suami, sembari meletakkan nampan tersebut di atas meja belajar dan mengambil segelas air putih hangat.
Kiyoomi meminum beberapa teguk, dan mumpung memang perutnya sedang mau diajak berkompromi, dia menerima disuapi sup krim yang dulu sempat menjadi menu sarapan favoritnya.
“Kata pengadilan, pihak yang ingin mengubah nama harus datang langsung minggu depan.”
“Memangnya tidak cukup kalau diwakilkan?”
“Yang ingin mengganti nama, ‘kan bukan aku.” Kiyoomi menyipitkan mata, bibirnya mencebik sebelum akhirnya mengubah ekspresinya dua detik kemudian. Padahal seharusnya tidak sesulit itu, memangnya apa lagi yang harus dibutuhkan?
“Ada dokumen yang harus kau tandatangani,” ujar Wakatoshi seolah-olah mengetahui isi pikiran sang omega. Masih setia menyuapi sesendok demi sesendok sarapan Kiyoomi hari ini, dirinya tersentak kaget ketika tiba-tiba saja Kiyoomi membawa topik yang sudah mereka hindari selama satu mingguan ini.
“Aku sedang memikirkan masa depan kita.” Kiyoomi terdiam sejenak, menunggu reaksi suaminya sampai akhirnya merasa yakin bahwa Wakatoshi tak keberatan mereka membicarakan ini sekarang. “Ini bukan keputusan yang mudah, aku tahu. Kalau aku memutuskan untuk mempertahankan anak ini, berarti kau akan mengambil tawaran Adlers, iya, ‘kan?”
“Ya. Supaya aku bisa tetap di sini bersamamu. Kau, ‘kan akan tinggal di Tokyo selama dua tahun.”
“Apa perwakilan Jackal menghubungimu soal ini?”
“Ada, satu kali. Hanya pembicaraan singkat, mereka bertanya apa kau sudah siap atau belum. Tapi aku bilang ‘belum’. Setelah itu mereka tidak menghubungiku lagi,” Wakatoshi yang sedari tadi sibuk menatap mangkuk sarapannya, mendongak sedikit—menyatukan pandangannya dengan Kiyoomi yang sedari tadi memandanginya, “kau tahu, aku akan selalu berada di pihakmu. Ambil waktu sebanyak yang kau mau. Setelah Olimpiade, ‘kan kita memang ada waktu bersantai sebentar sebelum kembali ke rutinitas yang sebelumnya.”
Untuk sesaat tak ada yang buka suara sama sekali. Samar-samar terdengar suara televisi dari lantai bawah dan suara pintu samping menuju halaman tergeser agak kasar. Pasti itu ayahnya, pikir Kiyoomi. Ibunya tak pernah membuka pintu kaca tersebut dengan cara seperti itu.
“Hinata mengirim foto si kembar ke grup chat. Aku bertanya padanya, bagaimana rasanya hamil dan melahirkan, apalagi itu anak kembar. Apakah itu susah atau tidak, dan sebagainya. Katanya ‘ya tentu saja susah’,” Kiyoomi mengerling melihat reaksi Wakatoshi, lalu menggeser duduknya sedikit agak dekat, “‘tapi itu risiko yang harus aku tanggung karena aku menginginkan anak ini’, begitu. Dia juga lalu bilang kalau aku harus menjaga kesehatanku dan memikirkan keputusanku baik-baik, karena dia pun sama. Mereka dikaruani buah hati hanya dua bulan setelah resmi menikah, kembar pula, siapa yang tidak kaget. Tapi karena memang mereka berencana punya anak, ya mau tak mau rencana yang sudah disusun harus dirombak sedikit.”
Jeda sejenak, “Sama seperti kita, ‘kan? Kita bahkan sudah menikah selama dua tahun.”
“Lalu aku berpikir, sekalipun aku memutuskan untuk tetap mengandung, aku juga akan mengambil cuti yang sama dengan anak itu—dua tahun. Aku baca kontrakku berkali-kali pun memang ada persyaratan yang tertulis kalau-kalau saja aku hamil. Negara ini juga melindungi atlet omega. Tapi pada akhirnya, tetap saja aku takut. Aku mengerti betul tidak semua orang tua pantas mendapatkan anak, kita tak terkecuali. Aku tahu kau sebenarnya senang soal kehamilan ini, tapi aku tak bisa betul-betul senang.”
Dentingan sendok dan mangkuk yang tadi terdengar memenuhi ruangan kini tak lagi bersuara.
Wakatoshi bergeming sesaat, menatap suaminya lekat-lekat sebelum akhirnya kembali menyuapi pria di hadapannya.
“Bukan berarti aku menolak anak ini sepenuhnya juga. Kau juga tahu kita memang menginginkan dia, walau rencana awalnya adalah empat tahun lagi. Tapi kalau soal aborsi … bahkan walaupun dokter menawarkan opsi itu, beliau juga bilang itu tak disarankan, ‘kan. Aku masih ingin menjadi atlet. Dan kalau ternyata itu menghancurkan tubuhku, aku akan menyesal seumur hidup.”
“Lantas apa keputusanmu? Kau tahu sendiri aku tak bisa melakukan apa-apa selain mendukungmu sebagai suami dan alfa sahmu. Pada akhirnya, kau lah yang akan hamil dan melahirkan.”
“Tapi—”
“Dan aku tahu kita yang akan mengurus anak itu bersama. Aku paham. Karena kontrakku dengan Adlers akan berjalan selama tiga tahun, aku akan di sini selama setahun karena kau akan langsung pindah ke Osaka begitu cutimu selesai, ‘kan.”
“Ya. Kau juga bilang akan mengunjungiku kalau ada waktu luang, ‘kan.”
“Betul. Aku bicara pada kedua orang tua kita kalau aku mau mereka mendukungmu sepenuh hati apapun yang terjadi. Kalau pada akhirnya anak itu akan lahir, aku mau mereka benar-benar menepati janji untuk bantu mengurus anak itu karena kita memang kesulitan untuk mengurus anak itu hanya berdua saja—apalagi dengan jarak jauh yang memisahkan kita. Dan mereka sudah berjanji untuk itu, apalagi tahu kalau kau tak terlalu percaya dengan pengasuh.”
“Begitukah?”
“Ya,” Wakatoshi melihat isi mangkuknya, diam-diam tersenyum senang melihat Kiyoomi akhirnya menghabiskan makanannya setelah beberapa hari ini terus memuntahkan isi perutnya setiap makan dan hanya bisa menerima beberapa suap saja. Dia mengambil gelas yang kini kosong dari tangan sang suami. “Sebenarnya, aku juga setuju atas saran dokter. Kupikir, walaupun memang rencana kita bergeser lebih cepat, tidak ada salahnya tetap dijalani. Kita ini atlet, masa atlet kita juga sebentar lagi kadaluarsa. Aku tidak mau di sisa waktu kita yang tak banyak ini kau malah melukai tubuhmu sendiri. Dan kau tahu sendiri, akan ada opportunity cost di setiap situasi, kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.”
Sakusa Kiyoomi menghela napas panjang, tubuhnya beringsut memeluk dan meringkuk di dalam dekapan Wakatoshi yang selalu terasa melindunginya. Dia merasa apapun kekalutan yang sedang dia alami saat itu akan terasa sedikit lebih ringan kalau Wakatoshi merengkuhnya. Mungkin memang pelukan Wakatoshi-kun ajaib, batinnya waktu itu, atau mungkin ini hubungan di antara kami sebagai alfa dan omega.
Wakatoshi sendiri tak mengatakan apa-apa. Dia hanya bergeming dan terus mengusap punggung omeganya yang kali ini terlihat agak ringkih. Dia tahu ini bukan keputusan yang mudah, jadi dia membiarkan Kiyoomi setidaknya untuk saat ini. Suaminya itu selalu melakukan semuanya sesuai rencana sejak dulu, jarang sekali rencananya berakhir gagal karena dia selalu membuat rencana cadangan sampai dua atau tiga.
“Kau tahu,” tubuh yang memeluk sang omega sedikit berjengit, “mungkin aku memang tak ada pilihan lain selain mempertahankan anak ini sejak awal. Toh aku bukannya benci anak-anak.”
Pelukan Kiyoomi melonggar, tatapannya bertemu dengan Wakatoshi yang masih setia tak melepaskan pandangannya dari tadi.
“Wakatoshi-kun, mau menemaniku beli buku parenting?”
The End
