Work Text:
Chandra tidak terlalu menyukai orang asing—dalam konteks orang kulit putih. Pertama, dia pernah direndahkan terang-terangan karena dianggap tidak bisa berbahasa Inggris. Kedua, tentu saja sikap rasisme yang dia terima. Ketiga, karena adiknya Dirga telah ‘direbut’ oleh seorang pria berkebangsaan Belanda sejak satu tahun yang lalu. Padahal Dirga dulu manis sekali, selalu menuruti apa kata Chandra, dan jarang bertengkar dengannya. Tetapi semenjak menjalin hubungan dengan dosen di universitasnya sendiri, Dirga sering pulang lebih malam—entah habis melakukan apa. Tak ayal tentu saja Chandra sebagai kakak khawatir. Mereka hanya hidup berdua, ayah dan ibu sudah meninggal sejak Chandra masih SMA. Terlebih, bagaimana dengan pandangan orang-orang?
Dirinya tak pernah melarang Dirga pacaran, dia membebaskan Dirga melakukan apa saja selama tidak membawa masalah untuk keluarga kecil mereka. Tapi, bukan hanya berpacaran dengan orang asing, orang tersebut adalah dosen mata kuliah yang dia ikuti. Bukan sekali dua kali mereka bertengkar hanya gara-gara ini sampai Chandra sudah lelah sendiri. Alhasil, sejak beberapa bulan lalu, hubungan mereka merenggang—dia dengan dunianya dan Dirga pun begitu.
Sejak kecil, Chandra selalu dibesarkan sebagai kakak yang bertanggung jawab—tidak boleh membawa masalah, menyelesaikan masalah secepat mungkin, dan juga menyayangi Dirga apapun yang terjadi. Sekarang, yang terakhir sudah lalai dia lakukan.
Dan yang pertama ….
Yang pertama ….
Gagal—gagal total, begitu Chandra melihat dua garis merah di semua test pack yang dia pakai sepuluh menit yang lalu.
Dia baru saja membawa masalah ke dalam keluarganya.
Bukan masalah sesederhana pacaran, memecahkan barang, IPK yang turun, atau bertengkar dengan tetangga, namun sebuah kehamilan.
Kehamilan yang tidak pernah dia duga dan inginkan sama sekali.
Dua dari tiga kriteria yang dia terapkan ke dirinya sendiri sudah dia coret di catatan mentalnya. Hanya sisa yang kedua. Mau tak mau, suka tak suka, dia harus menyelesaikan soal ini secepat mungkin.
Chandra tak pernah suka anak kecil—baginya, anak kecil itu merepotkan dan membutuhkan perhatian lebih ketika dia bahkan tak selalu memerhatikan dirinya sendiri. Tak pernah terlintas di benaknya untuk membangun sebuah keluarga. Pria itu tak mau dan tak ingin menikah, apalagi memiliki anak.
Perkenalan Chandra dengan ayah dari janin yang dikandungnya bahkan tak sampai tiga bulan lalu jika dihitung ke belakang. Chandra, yang berusia 24 tahun, akhirnya baru mendapatkan pekerjaan full time pertamanya setelah selama ini hanya bekerja sambilan dan kontrak. Dia diterima di sebuah program tahunan pencarian pekerja di sebuah perusahaan multinasional. Bangga? Tentu saja. Walaupun gaji sebagai pegawai baru belum tinggi, tapi akhirnya dia bisa membantu Dirga membayar uang kuliahnya. Karena dengan itulah, Dirga akan bisa benar-benar fokus kuliah tanpa harus ikut bekerja sambilan.
Ketika sedang sibuk berkutat dengan komputernya, tiba-tiba saja menjelang makan siang sang pria mendapatkan kiriman makanan atas pesanan seseorang. Tidak tahu siapa pengirimnya—tanya ke orang-orang pun hanya mendapatkan jawaban yang nihil—tetapi saat itu Chandra tak terlalu peduli. Sudah lama Chandra tidak makan makanan restoran seperti ini, tak ada ruginya jika menerimanya begitu saja. Kalau dia menggunakan uang pribadi, paling-paling dirinya hanya akan makan di kantin kantor atau angkringan terdekat dari sana.
Sejak hari itu, Chandra selalu mendapat kiriman makan siang sampai-sampai seluruh ruangan memandang iri padanya—bahkan sampai tersebar rumor yang tidak-tidak. Titik terang mulai terlihat mengenai si pelaku, ketika suatu hari, dia tak sengaja menyadari, bahwa tulisan tangan yang selalu diselipkan di atas kotak makan siangnya sama dengan tulisan tangan yang tercatat di atas memo yang ditempel di sisi bawah komputer seorang atasannya. Bukan hanya itu, kertas post it yang digunakan pun sama persis—berbentuk persegi berwarna lilac dengan kartun kepala kelinci di sudut-sudutnya.
Mau bertanya segan, tapi kalau tak ditanya mati penasaran. Saat sang atasan pertama kali menampakkan batang hidungnya, Chandra sempat mengira dirinya akan terkena serangan jantung. Dia berpikir, untuk apa kekasih adiknya bekerja di kantor? Bukankah dia dosen? Apa karena dia lulusan Akuntansi dia sekarang bekerja sebagai staf akuntan di perusahaan yang sama dengannya?
Tapi tentu saja jawabannya bukan. Nama orang itu bahkan bukan Abel. Melainkan Diederik.
Diederik Kneijnsberg. Salah satu perwakilan Belanda yang ditugaskan selama satu tahun ke cabang perusahaannya di Indonesia—perusahaan yang sama dengan tempat Chandra bekerja. Baru ketika dia benar-benar mempelajari perusahaan tersebut dia tahu bahwa ini adalah perusahaan milik keluarga Kneijnsberg yang sama dengan nama yang tersemat di belakang nama sang atasan.
Chandra sudah pernah terang-terangan digoda olehnya. Lebih dari cukup Chandra akui bahwa orang ini benar-benar menyebalkan—berisik, tidak tahu diri, tidak peka, dan selalu mengganggunya dengan chat-chat yang tidak penting. Dan sekarang, kalau ternyata dia adalah orang yang sama dengan yang mengirimkan kotak makan siangnya, Chandra tak tahu harus bersikpa seperti apa. Terlebih karena dia begitu menikmati menu-menu yang dibelikan untuknya.
Butuh berhari-hari Chandra mempersiapkan diri sebelum akhirnya dia menyesal tahu bahwa ya, Diederik adalah si anonim yang mengirimkan makan siang kepadanya selama kurang lebih dua bulan terakhir.
Dengan alasan balas budi, akhirnya di suatu sore, Chandra menerima ajakan Diederik untuk menemaninya pergi minum-minum. Pria itu pikir, ya sudahlah, hanya satu malam ini saja.
Walaupun awalnya dia pikir hanya ikut untuk menemani, pada akhirnya empat gelas bir sukses jatuh mengaliri kerongkongannya malam itu. Seumur-umur, ini pertamanya kalinya Chandra menyecap rasa alkohol. Entah apa yang merasuki dirinya satu purnama lalu; bisa-bisanya dia berpikir Diederik yang selalu membuatnya jengkel, ternyata tidak seburuk yang dia kira.
Sentuhan yang dimulai dari usapan lembut di punggung tangannya berubah menjadi lebih sentuhan yang liar dan jauh lebih panas. Chandra tak tahu apakah itu hanyalah pengaruh alkohol yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya atau sisi omeganya yang begitu menginginkan sosok alfa yang selama ini absen hadir di dalam hidupnya.
Dia lupa, hari itu dia berada di hari terakhir heat-nya.
Bukan hanya itu, dia juga tak tahu bahwa meskipun heat-nya tak datang, tetapi obat yang dia konsumsi di awal periode heat-nya ternyata sudah kadaluarsa sehingga masalah besar ini pun terjadi.
Sekarang, Chandra sedang dalam perjalanan menuju apartemen sang atasan tercinta bersama tiga test pack yang dia simpan di dalam tas ranselnya.
Sreet.
“Wah, pagi banget. Baru jam delapan lho. Andra nggak bilang—”
Tepat setelah Diederik menampakkan diri di balik pintu yang terbuka, tanpa basa-basi Chandra langsung melempar barang bukti ke wajah pria yang lebih tinggi begitu saja. Sekuat mungkin Chandra menahan emosinya. Dia tidak mungkin langsung marah-marah di koridor. Menjadi perhatian penghuni lantai 45 tak ada dalam daftarnya hari ini.
Dia tahu atasannya kadang bersikap kekanakan, namun di sudut kecil hatinya, dia masih ingin percaya bahwa pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu masih punya sisi dewasa yang belum pernah ditunjukkan padanya.
Memohon. Meminta maaf. Hanya itu.
Diederik membisu—sadar bahwa Chandra sedang tak ingin main-main. Kilau di sepasang matanya perlahan meredup. Arah pandangannya jatuh menatap tiga benda yang sekarang berada di sekitar kakinya yang berlapis slipper berwarna hitam. Jemarinya mengambil salah satu yang terjatuh, lalu ditatapnya stik panjang tersebut baik-baik.
Diederik pernah menjalin kasih sebelumnya. Dia tahu benar benda apa yang sedang dia pegang.
“Bos.” Chandra memanggil, menarik Diederik kembali ke dunia nyata. Suaranya tak setinggi biasanya, mungkin karena sibuk menenangkan dadanya yang kini bergemuruh tak menentu. Emosi yang ditahannya sejak mengendari motornya ke sini rasanya ingin dia luapkan dengan cara apapun; teriak, menghajar sesuatu, menangis—apapun.
Tapi tatkala orang yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini malah bergeming dan hanya sibuk memerhatikan test pack di tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Chandra kecil yang tadi duduk berjongkok di sudut hatinya pun mulai pergi dan berjalan menjauh. Pucuk hidungnya gatal, belakang matanya terasa tertusuk oleh jarum-jarum kecil nan transparan.
Diederik memang menyebalkan.
Tapi baru kali ini Chandra memiliki keinginan kuat untuk menghajar pria di hadapannya dan kabur secepatnya dari sana.
Sepasang mata emas itu tak sanggup memandang, dialihkannya pandangan pada tanaman pot yang ditaruh di bawah jendela di ujung koridor sana—dia kurang matahari, daunnya agak layu.
“Andra—”
“Pak Derik, saya ke sini hanya ingin memberi tau soal ini. Saya nggak minta Bapak buat tanggung jawab. Besok saya mau cari rumah sakit,” potong sang bawahan cepat.
Chandra menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan, berharap itu akan bekerja untuk melegakan dadanya yang sekarang terasa sesak, “Untuk aborsi. Saya nggak siap dan nggak mau punya anak, Pak. Saya akan jaga rahasia ini baik-baik, jadi saya mohon jangan pecat saya. Nanti Senin saya akan kembali bekerja seperti biasa.”
Kakinya melangkah mundur, lalu pria itu membungkuk sopan sembari membisikkan dua kata yang entah terdengar oleh Diederik apa tidak, “Saya permisi ….”
Tak mau berlama-lama di sana, dirinya melaju cepat—tak menghiraukan Diederik yang berusaha memanggil dan mengejarnya. Bahkan ketika tangannya ditahan oleh sang atasan pun, Chandra tak acuh dan menghentak genggaman itu dengan kasar. Buru-buru dia memasuki salah satu lift yang kebetulan terbuka.
Pria berambut hitam legam itu menyandarkan kepala pada dinding lift di sampingnya. Tak dia pedulikan seorang wanita yang kini diam-diam meliriknya dari pintu lift. Ketika Chandra mengambil napas banyak-banyak dan bahunya perlahan melemas, dia baru sadar bahwa sedari tadi tubuhnya begitu tegang sampai-sampai lehernya terasa sedikit sakit.
Dilihatnya lagi pergelangan tangan yang tadi sempat digenggam oleh si pria tinggi keturunan darah Belanda itu.
Kotor.
Tanganku kotor.
Keras-keras diusapnya pergelangan tangan tersebut sampai-sampai arlojinya yang terpasang ikut tergesek dan melukai kulitnya.
Pulang. Aku mau pulang ….
Chandra berjanji pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang akan mengetahui hal ini selain dia dan Diederik—siapapun itu, bahkan Dirga. Dia sama sekali tak boleh tahu. Sepulang nanti, Chandra akan memastikan bahwa kotak bungkus test pack yang tadi sempat dibuangnya akan dia bakar sehingga tak meninggalkan bukti. Berdoa saja semoga Dirga masih keluyuran entah ke mana di Sabtu pagi yang cerah ini.
Masih dalam posisi menyandar, dirinya merogoh saku jaket dan mengambil ponselnya dari sana. Panggilan dari Diederik dimatikan, notif chat dari Dirga langsung dia buang. Membuka salah satu situs pencarian popular, jemarinya mengetikkan sesuatu:
[Pencarian: “rumah sakit untuk aborsi omega laki-laki”]
[Sugesti: “rumah sakit terdekat”]
[Tiga ratus ribu hasil pencarian ditemukan]
Chandra tidak terlalu menyukai orang asing—dalam konteks orang kulit putih. Pertama, dia pernah direndahkan terang-terangan karena dianggap tidak bisa berbahasa Inggris. Kedua, tentu saja sikap rasisme yang dia terima. Ketiga, karena adiknya Dirga telah ‘direbut’ oleh seorang pria berkebangsaan Belanda sejak satu tahun yang lalu.
Keempat, karena atasannya sekaligus saudara kembar dari kekasih adiknya sendiri adalah ayah dari janin berusia satu bulan yang sedang dikandungnya saat ini.
The End
