Work Text:
.
.
12 tahun, 12 tahun Takashi Mitsuya percaya bahwa hidupnya baik-baik saja. Bahwa ia menjalani hidup dengan baik. Bahwa ia—cukup (sudah) bahagia. Mendengar kabar dari teman-temannya, terlebih dari dua saudara Hakkai Shiba dan Yuzuha Shiba, membuatnya lebih lega dari apapun selama 12 tahun hidup setelah Toman bubar. Mereka hidup secara—normal.
Namun, siapa yang menyangka, hari dimana ia bertemu dengan Taiju Shiba di masa depan akan datang juga.
"Berikan semua setelan yang ada di butik ini."
Takashi Mitsuya menghentikan gerak jemarinya yang berkutat di atas mesin penjahit. Suara ini—tanpa Mitsuya mendongak pun dia tahu milik siapa. Mitsuya diam. Memandangan tangan yang yang menjulur ke arahnya dengan check bernominal tinggi. "Apa yang terjadi jika saya menolak," jeda. Mitsuya menarik sudut bibirnya dari balik wajahnya. Memutuskan bahwa jari-jarinya harus bergerak di atas mesin jahit lagi. "—tuan?"
Mitsuya semakin menarik sudut bibinya saat mendengar decakan tidak sabar dan tidak puas itu. "Kalau begitu buatkan aku setelan paling mahal sekarang juga—"
"Mitsuya." Namanya disebut oleh Taiju tepat setelah Mitsuya mendongak. Mata mereka bertemu. Kuning menyalang itu menatap biru safirnya dengan tegas seolah bisa menusuknya.
Taiju Shiba 12 tahun kemudian tidak banyak berubah. Masih tinggi, masih kekar, masih memiliki aura mengintimidasi, dan ia yakin, masih kuat. Taiju Shiba yang muncul tiba-tiba dihadapannya seolah-olah ingin memberitahu Mitsuya bahwa orang itu juga baik-baik saja. Bahwa orang itu hidup dengan layak. Dan bahwa orang itu memiliki kekuatan (power) dengan berdiri sendiri.
Ia tersenyum. Takashi Mitsuya tersenyum. "Lama sekali."
—Taiju Shiba menjawab dengan menarik tubuh ramping itu ke pelukannya. Satu tangan Taiju memeluk pinggul Mitsuya. Tubuhnya menunduk, mencium rambut Mitsuya yang kini tumbuh panjang. "Maafkan aku."
Takahi Mitsuya sudah cukup menunggunya.
.
.
.
