Work Text:
.
.
.
Namanya Takashi Mitsuya, Hakkai sering memanggilnya "Tacchan". Bagi Taiju Shiba, panggilan adiknya ke Mitsuya jelek sekali. Taiju sering mencemoohnya saat mereka masih kanak-kanak. Saat Hakkai pertama kali bertemu Mitsuya, Taiju tidak menyukai anak itu karena dia membuat Hakkai memikirkan hal-hal lembek. Taiju yakin si Mitsuya itu pasti langsung tersungkur dengan satu bogeman mentahnya. Yah, karena badannya yang sekurus itu sih.
Dan—Taiju Shiba tidak pernah menyangka cemoohannya dijawab langsung oleh Tuhan di hari berikutnya.
Saat itu Taiju Shiba masih kelas 5 SD, tubuhnya yg lebih besar dari anak-anak seumurannya bisa membuatnya bergaul dengan remaja SMP. Dan itu membuat Taiju suka sekali meleng ke tempat perkumpulan geng motor sehabis pulang sekolah.
Seperti hari-hari biasanya, Taiju yang sedang berjalan menuju markas geng motor melihat Takashi Mitsuya sedang dikeroyok para remaja SMP. Taiju Shiba berhenti melangkah. Dari jauh bibirnya sudah menyeringai lebar. Pasti si Mitsuya itu akan kalah. Kasihan betul, haruskah ia selamatkan sekarang~? Ah, memikirkan hal itu membuat senyum kemenangan merekah di bibirnya.
Namun sebelum Taiju mengedipkan matanya, para remaja SMP itu sudah babak belur. Meninggalkan Takashi Mitsuya dengan kepalan tangan yang berlumur darah, berdiri sendiri, menang.
Taiju Shiba membelalakkan matanya tidak percaya. Si kurus itu serius bisa berkelahi?!!
"HAHAHAHAHAHA"
"!!!"
Taiju tertawa terbahak-bahak, selain karena terkejut, entah kenapa tawa bahananya keluar begitu saja setelah mengetahui Mitsuya bisa berkelahi. (Ah—sial, aku jadi ingin menantangnya)—adalah apa yang Taiju pikirkan saat itu.
"Ada yang lucu," nadanya dingin, mencemooh, khas sekali saat Mitsuya bertemu dengannya pertama kali, saat Hakkai mengenalkan mereka. "—Shiba Taiju-kun?"
"Tidak, tidak ada yang lucu." Taiju menjawab dengan kepercayaan diri luar biasa, mendekati Mitsuya. Senyumnya masih lebar menyebalkan. "Hanya tidak menyangka si udang kecil sepertimu bisa berkelahi."
Mitsuya tidak menjawab. Ia tahu Taiju hanya ingin memprovokasinya. Mitsuya tahu jika ia meladeni Taiju ia hanya akan membuang tenaganya secara percuma.
"Katakan Mitsuya," Taiju berbisik persis di telinganya. "Mau one on one melawanku?"
Belum sempat Takashi Mitsuya menolak, Taiju meneruskan perkataannya "—yah kecuali, kau ketakutan karena tahu bagaimana kuatnya diriku. Jika begitu, kuterima penolakanmu."
Snap
Seolah saja tali kesabaran Mitsuys putus. Mitsuya langsung menjawab dengan bogeman yang ditangkis oleh Taiju. Di sisi lain, Taiju menunjukkan seringai kepuasan karena berhasil memprovokasi Mitsuya.
Taiju menang. Telak. Tentu saja.
.
.
.
.
Takashi Mitsuya mengkerutkan dahinya saat matanya terbuka dari tidur yang (menyebalkan). Dia mendengar kekehan kecil, merasakan tangan lain yang kekar merengkuh tubuhnya lebih erat.
"Melihatmu bangun sudah dengan wajah cemberut, sungguh manis." Suara serak Taiju Shiba di pagi hari tidak membuat Mitsuya lantas terbuai, yang ada, dirinya makin kesal.
"Aku mimpi saat kita berkelahi, waktu kelas 5 SD."
"HAHAHAHA—HGGG" Mitsuya mencubit dua pipi Taiju begitu saja saat jawaban orang itu malah tawa terbahak-bahak.
"Menyebalkan."
Taiju Shiba menunduk, melihat Mitsuya cemberut, tanpa sehelai pakaian pun, ditambah noktah merah hasil karya Taiju menjalar di setiap leher Mitsuya—menggoda—(Jika Tuhan memang sedang menguji Taiju sekarang, berhasil).
Taiju Shiba membawa dagu Mitsuya untuk mendongak, mata mereka akhirnya bertemu, dan Taiju Shiba tidak bisa untuk tidak mencium rekah bibir itu.
"H-hei!! Apa-apaan aku baru saja bangun!"
Taiju menyeringai, "Good morning kiss?"
"Berhenti mengatakan hal menjijikan! Tidak pantas sekali keluar dari mulutmu." Mitsuya mendorong tubuh Taiju, dengan enggan berdiri menjauh dari ranjang. "Aku harus siap-siap ke butik, bodoh."
Taiju hanya terkekeh. Sekarang dia hanya bisa bersyukur mereka kembali bersama-sama.
