Work Text:
Sore hari yang membeku di awal bulan Desember tidak menyurutkan niat Levi untuk datang latihan paduan suara di Gereja desa tempat tinggalnya. Pasalnya, bangunan megah berdinding pualam dengan pilar-pilar yang menjulang itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan rumah kecil kumuh tempat tinggalnya. Kenny terlalu sibuk melakukan entah apa-entah di mana untuk menyalakan perapian usang di ruang utama dan Levi enggan mengeluarkan tenaga untuk mengumpulkan kayu bakar yang masih cukup kering di hutan guna menghangatkan dirinya sendiri dengan durasi paling lama empat jam—usahanya sangat tidak setimpal dengan hasil yang didapat.
Kenny tidak pernah meninggalkan cukup uang bahkan untuk sekadar makan, sehingga kayu bakar kering yang umum dijual selama musim dingin untuk menghangatkan diri saja menjadi barang mewah bagi remaja empat belas tahun berhelai legam tersebut. Begitu berharga, sampai-sampai Levi lebih rela agak kenyang namun sesak napas akibat tidur di bawah tumpukan semua pakaian yang dimilikinya di malam hari ketimbang kelaparan dan tetap kedinginan karena uang yang dimilikinya hanya mampu membeli kayu bakar yang jumlahnya tidak seberapa.
Tidak heran Levi jauh lebih suka berada di Gereja dan selalu mencari-cari alasan untuk lebih lama berada di tempat ibadah tersebut. Kenny tidak pernah mempermasalahkan—atau mungkin tepatnya tidak pernah peduli. Sepertinya selama Levi masih pulang sebelum Kenny sampai di rumah dan tidak membawa masalah tambahan yang membebani pikirannya, Kenny hampir tidak pernah terlalu mengacuhkan Levi.
Levi tidak masalah sama sekali dengan kondisi itu, toh baginya memiliki atap di atas kepala dan tidak perlu terlalu kelaparan karena sebatang kara di jalanan sudah cukup. Bohong kalau Levi tidak rindu pada mendiang ibundanya dan tidak pernah berharap kalau-kalau Kenny bersedia memberikan atensi dan afeksi pengganti barang satu-dua hari, tetapi setelah tahun-tahun berlalu Levi akhirnya terbiasa dengan hanya mengeluarkan potongan gaun tidur ibunya yang masih disimpan baik-baik untuk mengobati rasa rindu. Alasan mengapa Kenny membiarkan Levi hidup di rumahnya meskipun hidupnya jauh dari kata berkecukupan selalu menjadi misteri untuk Levi, namun Levi terlalu takut untuk mencari tahu dan membuatnya kehilangan sedikit rasa nyaman dan aman yang dimilikinya.
Ketika Kuchel dipanggil berpulang menghadap Tuhan nyaris sembilan tahun silam, Levi masih belum mengerti mengapa bangunan bergaya arsitektur gotik dengan menara lonceng di puncaknya itu banyak dikunjungi orang, terutama pada hari-hari dan jam tertentu. Yang ia tahu pada waktu itu orang-orang yang berkunjung ke sana memiliki dua reaksi ketika melihatnya duduk di tangga batu jalan masuk bangunan itu; ada yang memasang wajah iba dan memberinya sedikit uang yang dipakai Levi untuk membeli roti, ada pula yang meludah ke tanah kemudian menggumamkan 'anak pendosa haram' sebelum cepat-cepat pergi.
Meskipun pada awalnya Levi mengaitkan bangunan yang bisa memuat setidaknya lima ratus orang itu dengan sumber pengusir rasa lapar, karena kebiasaannya untuk duduk di depan pintu masuk Gereja, Levi sedikit banyak mencuri pandang dan dengar pemandangan serta suara yang bisa ditangkap inderanya dari celah-celah pintu yang ditutup ketika ibadah berlangsung. Mengapa orang-orang datang ke tempat ini untuk bernyanyi dan saling berjabat tangan? Apakah ada suatu pesta yang diselenggarakan di tempat ini, bagaimana caranya mendapatkan undangan?
Rasa ingin tahu Levi akhirnya terjawab ketika suatu hari seorang anak laki-laki dan pria yang dipanggilnya 'Ayah' menggandeng tangan kurus dan kotor Levi, masuk dan duduk di antara orang-orang berpakaian rapi dan mengalami sendiri ibadah yang disebut sebagai 'misa'. Levi merasa berada di rumah untuk pertama kalinya setelah kehilangan sang ibunda, dan mulai mengikuti lebih banyak misa meskipun diam-diam untuk menghindari tatapan mencemooh dari jemaat Gereja yang lain.
Hal itu terus berlanjut, bahkan ketika Levi bertemu dengan Kenny dan mulai tinggal bersama pria itu. Levi tidak berhenti untuk pergi ke Gereja, kali ini dengan pakaian lebih pantas yang membuatnya lebih diterima. Meskipun belum terlalu paham arti bacaan, nyanyian, serta khotbah dalam rangkaian ibadah selama nyaris sembilan puluh menit tersebut, sepertinya bangunan dengan aroma dupa dan sumbu lilin yang terbakar dan bunyi orgel dan kaca mosaik berwarna-warni itu membawa rasa tenang dan damai yang sempat hilang dari hidup Levi.
Seiring berjalannya waktu, Levi semakin akrab dengan kehidupan orang-orang yang bersama-sama duduk dengannya setiap misa, semakin paham dengan tata cara, ceramah, dan nyanyian sepanjang misa tersebut. Cukup akrab rasanya Levi mengenal rutinitas orang-orang sesama pengunjung Gereja, sampai akhirnya tiga tahun lalu ia bergabung dengan grup berisi anak-anak laki-laki dan pemuda yang menyumbangkan suara mereka setiap misa dilaksanakan.
Levi duduk sambil memandangi deretan not balok yang ditulis tangan oleh pelatih paduan suara Gereja, sesekali mata abu-abu kebiruannya melirik rangkaian daun cemara, mistletoe, dan buah pinus yang dibentuk melingkar dengan tiga lilin ungu dan satu lilin merah tertata indah di sebelah meja altar. Dua lilin ungu lebih pendek dari yang lain, menandakan dua kali misa Adven sudah berlalu dan hari Natal akan tiba kurang dari dua puluh hari lagi. Udara dingin di luar gedung Gereja terasa semakin kering bersamaan dengan turunnya suhu rata-rata harian, membuat tenggorokan Levi butuh waktu lebih lama untuk pemanasan agar menghasilkan suara yang sesuai dengan keinginan sang pelatih. Sesi latihan rutin yang biasanya hanya memakan waktu maksimal dua jam pada musim dingin menjadi setidaknya dua jam.
“Istirahat lima menit,” pelatih paduan suara Levi mengetukkan lembar-lembar partitur lagu ke podium konduktor di depan kursi barisan paduan suara. “Jangan sampai tertidur, aku bicara padamu Johannson, karena latihan misa bersama putra altar akan dimulai. Silencium, atau pita suara kalian akan kacau dan aku tidak akan punya pilihan selain menambah sesi latihan.”
Gerutu kesal kelompok penyanyi dengan rentang usia delapan sampai awal dua puluhan tahun yang kelihatan keberatan karena harus melewati lima menit tanpa mengeluarkan suara, mendapat hardik keras dari pria paruh baya yang menjadi pelatih mereka.
Mungkin lima menit tanpa bersuara dan tanpa melakukan apa-apa adalah hal yang mustahil dilakukan bagi sebagian orang terutama mereka yang terbiasa memperdengarkan suara mereka dengan sengaja. Wajar hampir seluruh anggota paduan suara Gereja masih sesekali mendecakkan bibir kala membolak-balik halaman partitur lagu untuk membuang waktu. Namun lima menit silencium tidak berarti apa-apa untuk Levi yang sudah terlalu terbiasa melewatkan berjam-jam—kadang sampai berhari-hari—sendirian di rumah reyot yang ditinggalinya dan Kenny, tanpa banyak bersuara atau melakukan apapun.
Beberapa menit menjaga agar mulutnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun terlalu mudah, ditambah Levi akan memilih untuk lebih fokus membuat debar jantungnya lebih stabil ketika mendengar latihan paduan suara kali ini akan berbarengan dengan latihan putra altar—sebutan untuk remaja-remaja pria yang melayani Gereja dengan menjadi asisten imam pemimpin ibadah.
Artinya, Levi akan bertemu dengan Erwin.
Sedikit angin dingin masih bisa lolos dari lubang-lubang ventilasi dekat langit-langit Gereja yang tinggi, meskipun sebenarnya Levi merasa cukup hangat ia bisa menggunakan kedinginan sebagai alasan kalau ada yang menanyakan mengapa pipi dan telinganya memerah.
“Levi!”
Seluruh otot tubuh Levi menegang sejenak ketika suara bariton Erwin memanggilnya dari selasar antara deret kursi jemaat, cukup jauh dari barisan tempat duduk paduan suara. Mata biru laut jernih Erwin berbinar-binar ditimpa sinar matahari yang memasuki gedung Gereja dari kaca berwarna yang membentuk mosaik Keluarga Kudus Nazareth. Garis rahang Erwin yang tegas dan pakaiannya yang tergolong sangat rapi dan formal—meskipun akan tertutup jubah putih seragam putra altar—terlihat begitu menawan.
Sosok Erwin membuat Levi teringat kembali pada ayat-ayat Alkitab yang menyebutkan malaikat Tuhan, makhluk suci bersayap dan berwajah terang serta indah, yang entah bagaimana selalu Levi gambarkan sendiri dengan bayangan wajah pemuda pirang tinggi tersebut. Tidak pernah ada gambar atau lukisan yang dianggap sebagai penggambaran akurat dari wujud malaikat, namun kalau malaikat bisa hidup di antara manusia Levi tidak akan ragu untuk menunjuk Erwin sebagai salah satunya.
Lambaian tangan perlahan dipilih Levi sebagai jawaban sapaan Erwin, sebelum remaja berhelai legam itu mengalihkan pandangan kembali pada kertas-kertas di tangannya, yang sebetulnya sudah dihafal dengan baik setelah belasan kali latihan sepanjang dua minggu Adven. Levi hanya tidak ingin menatap Erwin terlalu lama.
Levi tidak membenci Erwin, oh Tuhan, tidak. Tetapi Levi tahu mustahil baginya menatap Erwin tanpa membuatnya berpikir betapa tampan dan gagah namun lembut dan tenteram ekspresi wajah serta gestur remaja pirang enam belas tahun itu. Ada perasaan aneh yang mengganjal dalam hati Levi, sebuah rangsangan batin yang membuat hatinya bahagia ketika membayangkan dirinya sendiri jatuh dalam pelukan kokoh Erwin, atau ketika jarinya menelusur jahitan lengan kemeja pada bahu lebar Erwin, atau membayangkan tangan Erwin mengelus kepala dan pipi Levi halus. Sesekali bahkan terpikir oleh Levi apakah bibir Erwin akan terasa sama hangat dengan nada bicaranya—yang akan ditepis jauh-jauh secepat pikiran itu datang dalam benak Levi.
Perasaan Levi untuk Erwin sangat amat jauh dari rasa benci. Mungkin karena semua rasa benci Levi sudah diberikan untuk dirinya sendiri, manifestasi dari kekecewaan dan kebingungannya karena memiliki perasaan khusus untuk Erwin.
Dengan kesadaran penuh dan bulat, Levi tahu betul perasaannya untuk Erwin tidak benar, tidak umum, tidak wajar, tidak seharusnya. Setidaknya begitu yang dipercayai orang-orang yang menghadiri misa di Gereja. Tertulis dengan begitu jelas di awal kitab suci, pada Kitab Kejadian, Allah mengirim Hawa untuk menjadi pendamping Adam. Tentu sudah semestinya Allah mengirimkan seseorang yang pantas untuk bersanding dengan Erwin. Gadis berambut coklat muda yang datang ke Gereja bersama keluarganya dengan dibalut gaun satin warna terang—Levi tidak ingat apakah namanya Mary atau Marie atau Merry—misalnya. Dan sudah semestinya juga Allah menyiapkan seorang gadis, mungkin satu yang berasal dari jalanan juga, untuk menjadi pendamping Levi kelak. Pendamping yang setara, yang diciptakan dari tulang rusuk Levi.
“Suaramu merdu seperti biasa. Kedengaran seperti kicau burung gereja, tapi jauh lebih bagus,” celetuk Erwin ketika berdiri di sebelah kursi paduan suara, saat giliran wanita pembaca bacaan maju ke podium di sebelah kiri altar untuk melatih kepiawaiannya melantunkan ayat kitab suci.
“Ada setidaknya sepuluh orang yang bernyanyi dalam paduan suara ini,” jawab Levi, berusaha memasang ekspresi sedatar mungkin.
“Aku bisa lihat itu. Tetapi aku juga masih bisa tahu yang mana suaramu di antara belasan orang yang lain.” Erwin menggoyangkan sedikit turibulum, wadah berisi arang dengan rantai logam untuk mendupai altar, membuat sedikit asap wangi dupa menyeruak keluar dari lubang-lubang rongga logam yang sudah kelihatan kusam dimakan usia. “Suaraku sumbang kalau disuruh menyanyi, tapi telingaku cukup baik. Kau harus lebih sering menyanyi di luar paduan suara Gereja.”
“Hm.”
“Bagaimana kalau dengan senandung kecil ketika kita pulang nanti? Jalan ke rumahku melewati rumahmu, kita bisa pulang bersama dan aku bisa mendengar suaramu lebih lama.”
Pipi Levi memanas. Reaksi tidak wajar mengingat Erwin selalu bersikap baik, ramah, dan sopan pada semua orang yang ditemuinya. Pujian Erwin harusnya tidak berarti apa-apa, tetapi Levi juga tidak mau disalahkan karena merasa istimewa. Refleks gerakan kedua tangannya menarik kertas partitur menutupi setengah wajah untuk menyembunyikan ekspresi dari Erwin dan bibirnya menggumam pelan, “Fokus pada latihan, Smith.”
Erwin terkekeh, gelak tawanya bagi Levi terdengar mirip dengan orgel Gereja yang mengiringi paduan suara pada misa-misa besar. “Kuanggap kau tidak keberatan, kalau begitu. Berjalan pulang sendirian ketika matahari sudah nyaris terbenam cukup mengerikan, dan aku yakin kalau kita bersenandung bersama sepanjang jalan pulang kita akan berasa lebih baik. Kalau latihan paduan suara belum selesai setelah kami selesai, aku akan duduk di kursi jemaat, sambil mendengarkan kalian.”
“Terserah, Smith.”
“Aku jadi tidak sabar untuk mendengarkan nyanyianmu lebih seksama setelah latihan putra altar selesai.”
“Tunggu saja di pintu depan. Rambut pirangmu memantulkan sinar matahari, itu mengganggu konsentrasiku.”
Mata biru Erwin melebar, mungkin terkejut mendengar penolakan kasar Levi. Tetapi ekspresinya segera melembut kembali. “Tentu saja. Aku akan menunggumu, Levi.”
Levi tidak begitu yakin akan jawaban dari pertanyaan kapan ia menyadari bahwa ia menyukai Erwin Smith.
Desa yang menjadi tempat tinggal Levi sekarang memang tergolong kawasan permukiman padat penduduk. Kira-kira total ada seribu delapan ratus jiwa yang mendiami area tersebut, kemajuan industri dan kemudahan perkembangan bidang agraria tentu menjadi salah satu alasan mengapa banyak pendatang yang sering memutuskan untuk tinggal menetap.
Melimpahnya sumber daya membuat penduduk desa terus berusaha untuk membuat kehidupan yang lebih baik secara progresif. Desa tempat tinggal Levi hampir bisa dikategorikan sebagai kota kecil, kalau dilihat dari kelengkapan fasilitas dan infrastruktur. Sekolah, tempat berobat, pasar, perkebunan, peternakan, area industri dan pabrik berskala kecil sampai tempat ibadah sudah lebih dari cukup untuk membuat sebagian besar penduduk desa hidup dengan sejahtera. Tapi layaknya daerah-daerah kota yang sedang berkembang pesat, tentu ada area-area di desa tersebut yang sejak awal sudah mendapat reputasi buruk dan menjadi sarang kriminal, perjudian, dan rumah bordil.
Sejauh yang Levi ingat, sepertinya ia lahir dan dibesarkan dengan susah payah oleh sang ibunda sampai ajal Kuchel menjemput di kawasan bereputasi buruk tersebut.
Hidup bersama Kenny juga tidak jauh berbeda, rumah kecil dan kumuh Kenny terletak tepat di perbatasan antara kawasan kumuh tersebut dengan area yang lebih maju, sehingga meskipun tidak hidup berkecukupan setidaknya orang-orang sudah lupa pada Levi kecil yang duduk di tangga batu Gereja dan meminta-minta. Sekarang nama Levi lebih dikenal sebagai salah satu tenor terbaik paduan suara Gereja, atau sebagai harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi 'kaum pendosa'—yang terakhir ini dari jemaat garis keras yang menyumbang banyak-banyak pada pihak Gereja dan berdoa keras-keras saat ibadah berlangsung, namun tidak lebih dari orang-orang yang busuk hati dan memandang diri sendiri lebih suci dari orang lain.
Waktu itu belum terlalu lama dari saat-saat pertemuan Levi dan Kenny. Levi baru pertama kali pergi ke Gereja mengenakan kemeja dengan celana kain tua berwarna pudar—bekas, dibelikan Kenny di lelang barang keluarga yang akan pindah rumah ke kota. Pertama kalinya pula Levi memberanikan diri untuk duduk di bangku jemaat yang agak dekat dengan altar, semata-mata karena ingin mendengar homili imam dengan lebih baik.
Masa-masa dimana orang-orang belum lupa pada anak pelacur yang mati dengan mengenaskan, anak laki-laki yang lebih kelihatan seperti mayat hidup ketimbang manusia. Ketika jemaat elit Gereja masih melihat Levi sebagai hukuman Allah karena dosa ibunya, harga yang pantas dibayar jiwa yang polos untuk dosa yang bukan daripadanya.
Namun tangan hangat Erwin menggenggam jemari kurus Levi begitu erat ketika lagu Bapa Kami dinyanyikan.
Awalnya Levi berusaha menarik tangannya dari genggaman anak laki-laki pirang yang duduk di sebelahnya saat misa. Rasanya aneh ketika orang asing, meskipun sebaya dengannya, tiba-tiba memperlakukan Levi begitu akrab setelah sekian banyak perlakuan buruk yang Levi terima baik secara terang-terangan maupun di belakang punggungnya.
Erwin malah menggenggam tangan Levi lebih erat, dengan tetap fokus melantunkan doa dalam bentuk nyanyian tersebut. Mata birunya menatap lurus ke altar, mengabaikan protes Levi yang masih bersikeras meminta Erwin melepaskan tangannya.
“Lepaskan aku!” geram Levi, menarik tangannya yang tertaut dengan tangan Erwin sekuat tenaga, lalu memposisikan tangan Erwin di depan mulutnya, memberikan ancaman akan menggigit tangan si pirang kalau masih menggandeng tangan yang lebih muda.
“Ayah selalu menggandeng tanganku saat Bapa Kami,” jawab Erwin enteng. “Aku tidak melihat Ayah atau Ibumu menggandeng tanganmu,” Erwin menunjuk pasangan yang duduk di sebelah kiri Levi dengan bibirnya. “Jadi aku mau tunjukkan pada mereka yang seharusnya.”
“Orangtuaku, tidak punya. Meninggal,” ujar Levi cepat.
“Oh,” mata biru Erwin membulat sebentar, lalu meredup. “Maafkan aku.”
“Lepaskan tanganku.”
“Tidak. Saat doa Bapa Kami harus bergandengan,” balas Erwin, keras kepala. “Siapa namamu?”
“Bukan urusanmu.”
“Mulai minggu depan ayo duduk bersebelahan. Kita akan berdoa Bapa Kami bersama-sama. Namaku Erwin, ngomong-ngomong.”
Mungkin perasaan Levi pada Erwin mulai tumbuh sekitar peristiwa tersebut terjadi. Dari sentuhan sederhana berupa jemari yang saling tertaut selama satu setengah menit setiap Minggu pagi—Erwin benar-benar menepati janjinya untuk duduk di sebelah Levi setiap menghadiri misa. Sentuhan sederhana yang bermakna begitu besar untuk Levi, setelah seumur hidupnya yang kala itu baru sekitar enam-tujuh tahun, namun sudah dipenuhi dengan tatapan mencela yang bahkan tidak dipahaminya. Sentuhan singkat namun rutin, yang dalam bawah sadar Levi kaitkan erat dengan sentuhan sayang dari ibunda yang sudah tiada. Bentuk afeksi kecil dari bocah laki-laki asing yang kemudian menjadi teman dekatnya, dan menjadi sosok yang membawa warna baru dalam masa kanak-kanak Levi.
“Levi, minggu depan aku akan terima Komuni Pertama saat misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.”
Levi memiringkan kepalanya, bocah yang kala itu berusia sembilan tahun kadang lupa Erwin dua tahun lebih tua darinya. “Lalu?”
“Setelah itu aku ingin mendaftar menjadi putra altar. Aku mau melayani Tuhan.”
Levi masih belum paham arah pembicaraan Erwin. “Aku juga mau terima Komuni, boleh?”
Tawa halus meluncur mulus dari bibir Erwin. “Dua tahun lagi, ya,” katanya. “Kalau aku jadi putra altar aku akan lebih sering mengikuti misa dari altar, dekat dengan tempat duduk imam,” terang Erwin.
Hati Levi mencelos. “Mengapa Erwin duduk di altar? Mengapa bukan di sebelah Levi lagi? Siapa yang Levi gandeng saat lagu Bapa Kami nanti?”
Erwin melingkarkan lengannya pada bahu Levi. “Maaf, tapi kata Ayah kalau aku sayang pada Tuhan aku harus siap menjadi pelayan-Nya.” Nada bicara Erwin sedikit tercekat, pasti berat juga bagi bocah sebelas tahun itu untuk membiarkan sahabat kecilnya kembali duduk sendirian di bangku jemaat, di antara orang-orang dewasa yang tidak mempedulikan kehadirannya.
“Aku ingin cepat-cepat Komuni Pertama, aku ingin duduk di sebelah Erwin lagi di altar. Aku akan rindu menggandeng tangan Erwin.”
“Mana boleh begitu. Memang pernah lihat putra altar saling bergandengan di altar saat lagu Bapa Kami?”
Levi menggeleng, masih dalam pelukan Erwin.
“Tapi menurutku,” Erwin melepaskan pelukannya dari tubuh kecil Levi. “Levi sepertinya lebih cocok bergabung dengan paduan suara daripada putra altar. Karena suaramu bagus. Seperti kicau burung gereja, tapi lebih bagus.”
Lima tahun sudah berlalu dari hari itu. Sudah selama itu sejak Levi terakhir merasakan hangat tubuh dan sentuhan-sentuhan kecil polos dari Erwin yang membekas dalam benaknya. Sudah selama itu pula Levi merindukan Erwin, meskipun rasanya baru tiga tahun terakhir kerinduan Levi pada Erwin terasa lebih dari sekadar rasa rindu pada sahabat masa kecilnya.
Tiga tahun lamanya Levi merasa bahwa ia menginginkan Erwin untuk melakukan lebih dari apa yang pernah mereka lakukan semasa kecil, tiga tahun yang sama dengan yang dilalui Levi dengan berusaha mati-matian mengembalikan jalan pikirnya untuk melihat Erwin sebagai seorang teman, karena tahu perasaan lebih dari itu adalah perbuatan yang keliru.
Minggu ketiga masa Adven akan segera berlalu, kegiatan Gereja sedikit lebih padat dengan persiapan-persiapan menjelang hari Natal. Meskipun suasana Gereja menjadi lebih riuh dari biasanya, frekuensi latihan paduan suara Levi sedikit berkurang karena ada beberapa hari yang dipakai untuk ibadat tobat dan pengakuan dosa. Kebiasaan yang selalu dilakukan sebelum hari Natal dan Paskah, melambangkan kehidupan pada lembar baru dan ikrar untuk menjadi jemaat Gereja yang lebih baik.
Idealnya, dosa yang sudah pernah diberi absolusi dan pengampunan tidak diakukan kembali pada pengakuan dosa selanjutnya. Hal itu menunjukkan bahwa dosa yang pernah diucapkan di bilik pengakuan dosa benar-benar disesali dan doa 'saya sungguh menyesal atas seluruh dosa-dosa saya, dan berjanji untuk tidak melakukan dosa itu lagi' yang didaraskan tidak menjadi dosa baru berupa ketidakmampuan untuk menjaga janji di hadapan Tuhan.
Sayangnya, pengakuan dosa kali ini akan menjadi pengakuan ketujuh kalinya bagi Levi untuk mengakui dosa yang sama. Meskipun secara terus menerus diingatkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Kasih dalam sesi homili khotbah imam, seandainya bisa, Levi pasti memilih untuk tidak memasuki bilik pengakuan dosa dan berlutut di depan pembatas ruangan berongga-rongga yang menyembunyikan sosok imam yang duduk di sisi lain bilik pengakuan.
“Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir saya lakukan pada masa Prapaskah lalu.”
Tidak ada jawaban dari balik partisi ruangan, seperti biasa.
“Dosa-dosa saya adalah,” kerongkongan Levi tercekat oleh ludah yang diteguknya sendiri. Lidahnya terasa kelu, bibirnya gemetar, seperti seluruh tubuh Levi melarangnya untuk menumpahkan isi hatinya di hadapan imam yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan. “S-Saya,” ucap Levi dengan terbata. “Saya mencintai hamba-Mu, Tuhan. Salah satu putra-Mu yang setia memberikan dirinya untuk menjadi pelayan, saya kira sudah empat tahun ini dia melayani-Mu di altar suci.”
Pandangan Levi kabur. Bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya hampir tidak terbendung lagi. Dadanya sesak. Hatinya sakit. Levi merasa ia sungguh sudah mengecewakan Tuhan, lebih parah lagi ini adalah yang ketujuh kalinya.
“Saya mencintai dia yang berjalan memimpin perarakan imam menuju altar, dengan turibulum atau tongkat salib-Mu di tangan. Saya sungguh sadar perasaan saya keliru, Tuhan. Saya sungguh benci harus kembali pada-Mu dengan dosa yang lagi-lagi sama, pula begitu berat. Saya mencintai dia, saya mencintai hamba dan putra-Mu yang kau pilih sendiri untuk menjadi pelayan altar-Mu yang agung. Saya—”
Tangisan Levi benar-benar pecah dengan pilu, bukan hanya sesenggukan tertahan yang biasa pada enam pengakuan dosa sebelumnya.
“Saya sungguh menerima jika Tuhan sudah kehabisan ampun untuk saya yang begitu keras kepala ini. Saya tidak sanggup lagi, ya Tuhan, tidak saat setiap kali saya melihat, memikirkan, dan bersama dengannya, saya jatuh semakin dalam. Saya mencintainya. Saya sadar bukan cinta kasih seperti ini yang menjadi ajaran-Mu, tidak dengan perasaan yang tidak pantas dan penuh dosa seperti ini. Namun saya putus asa, Tuhan. Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membuang perasaan ini dari hati saya.”
Kedua tangan Levi yang tertangkup dan saling mengait satu sama lain semakin erat tertaut. Tulang-tulang jari tangannya mulai terasa sakit, namun tidak sebanding dengan rasa malu dan cakar semu yang membuat Levi merasa jantungnya dikoyak. Kali ini bukan hanya bibirnya yang bergetar, hampir seluruh tubuh kurus Levi ikut bergetar hebat karena luapan emosi yang menguasainya selama empat menit berlutut di bilik pengakuan.
Levi menarik napas panjang, berusaha mengambil alih kembali kendali dirinya. Butuh tiga kali tarikan napas sebelum akhirnya dengan lemah Levi menutup pengakuannya dengan, “Saya sungguh rela menerima penitensi apapun yang menjadi denda dosa saya. Saya merasa tidak layak untuk kemurahan-Mu, Tuhan, tentang keselamatan dan kehidupan kekal sudah sepenuhnya lenyap dari alasan saya tetap setia pada-Mu. Saya mencintai-Mu, Tuhan, tetapi saya juga mencintai putra altar-Mu.”
Kegiatan persiapan pesta peringatan kelahiran Yesus Kristus di Gereja sudah selesai setidaknya lima belas menit yang lalu. Nyaris semua orang yang tadinya berkumpul di Gereja untuk melakukan latihan dan persiapan terakhir sebelum misa Natal sudah pulang, untuk melanjutkan kesibukan dan semangat untuk menyiapkan hari Natal di rumah masing-masing.
Yah, nyaris semua.
Levi tidak perlu buru-buru pulang. Rumah Kenny kosong dan dingin, karena sejauh yang Levi tahu Kenny tidak percaya pada keberadaan Tuhan—atau mungkin percaya ada kuasa lain yang Maha Dahsyat, tetapi dengan berbagai alasan memutuskan untuk tidak melakukan praktik agama apapun. Suasana Natal di rumah bersama keluarga yang selalu dibicarakan teman-teman satu grup paduan suara tidak pernah bisa dirasakan Levi, sehingga perbincangan yang selalu berakhir kikuk itu tidak pernah lagi terjadi sejak Natal pertama Levi setelah bergabung dengan paduan suara tiga tahun lalu.
Lain halnya jika Levi tetap bertahan pada tempatnya di salah satu bangku jemaat. Samar-samar aroma masakan Natal dari gedung pastoran di belakang Gereja tercium, hidung Levi mengenali aroma kayu manis dan cokelat dan lemak daging yang dipanggang, dengan aroma asap bakaran perapian. Levi hampir berhasil membuat skenario rekaan di mana ia duduk di hadapan santapan Natal ditemani Kuchel dan Kenny, meskipun pada kenyataannya ia cuma remaja piatu tanpa ayah dengan wali tak ber-Tuhan yang duduk sendirian di bangku jemaat berbahan kayu mahoni, di dalam Gereja yang melindunginya dari udara luar yang suhunya lebih rendah dari titik beku air. Levi membuka matanya, membiarkan iris kelabunya berkilat ditimpa cahaya remang-remang lentera.
Setidaknya masih ada tempat bagi Levi merasakan hangat dan damainya Natal di dalam Gereja ini, meskipun Levi harus menikmatinya sendirian dan dengan hanya ditemani lentera kecil yang menyala di atas tabernakel di altar. Paling tidak untuk waktu yang singkat Levi bisa merenung dan sesekali mengucap doa syukur dan harapannya dalam hati ketika satu tahun lagi berkat Tuhan menyertai dirinya. Di tengah lamunan Levi saat memandang detail patung besar Yesus yang disalib dari kejauhan, tiba-tiba terdengar suara pintu sakristi—ruang penyimpanan pakaian dan peralatan Gereja di belakang altar—menutup dan membuyarkan momen khusyuk remaja berhelai legam tersebut.
“Levi? Belum pulang?”
Mata biru laut bertemu lurus dengan mata abu-abu kebiruan, ada sinar khawatir bercampur senang dan heran karena empunya iris warna langit tersebut mengira tidak ada lagi orang yang tersisa di Gereja selain dirinya sendiri.
Levi membeku di kursi yang didudukinya. Sejak pengakuan dosanya tempo hari, entah bagaimana Levi berhasil menghindai Erwin. Dalam hari-hari tersebut Levi merasa Tuhan berkenan untuk sedikit membantunya bertobat, dengan perubahan jadwal latihan paduan suara sehingga Levi dan Erwin tidak sempat berjumpa.
Apakah Tuhan sedang tidur sekarang, sehingga lupa Levi masih membutuhkan-Nya untuk menjauhkannya dari Erwin dan perasaan cinta yang penuh dosa dari Levi untuk remaja pirang enam belas tahun itu?
Erwin berjalan menuruni tiga anak tangga yang membedakan ketinggian altar dengan lantai tempat deretan bangku jemaat diletakkan, usai membungkuk hormat pada tabernakel di kaki patung salib Yesus. Langkah-langkah lebar Erwin membawa tubuh pemuda itu semakin dekat dengan posisi Levi duduk, lengannya bergerak hati-hati untuk melepas jaket untuk dipasangkan pada bahu kurus Levi.
“Mengapa tidak pulang bersama yang lain?” tanya Erwin. “Semakin larut, cuaca makin tidak bisa kita prediksi. Ayo pulang, Levi. Pakai saja jaketku, pakaianmu terlalu tipis untuk menahan dingin di luar.”
Bahu Levi bergerak perlahan untuk melepas jaket Erwin, “Masih ada hal yang harus aku lakukan, pulanglah duluan.” Levi akhirnya dapat memaksa tubuhnya untuk bergerak.
“Mau apa?” Erwin berseru sambil berbalik menyusul Levi yang berjalan cepat menuju kursi paduan suara dekat altar. “Buku partiturmu ada di bangku tadi, apa—”
“Pulanglah, Erwin!”
Hardikan Levi membuat Erwin tersentak, namun tidak menghentikan langkah remaja pirang itu untuk mendekati posisi Levi berdiri dengan hati-hati.
“Bagaimana denganmu? Kau tidak bisa terus berada di sini, Levi. Kalau rumahmu terlalu dingin dan sepi untuk melewatkan hari-hari menjelang Natal sendirian, aku yakin Ayah tidak keberatan kalau kau menginap.”
Tangan Erwin yang disentuhkan pada bahu Levi dipukul menjauh kuat-kuat oleh remaja yang lebih pendek, sementara tangan Levi yang lain terjulur untuk meremat kerah kemeja Erwin kuat-kuat. Erwin memejamkan kedua matanya erat-erat, menyiapkan diri untuk menerima kontak berupa pukulan, tamparan, atau bogem mentah dari Levi atas sikap keras kepalanya.
Namun kontak keras tidak terjadi. Hanya ada napas kasar Levi yang memburu naik-turun, sehingga Erwin berusaha memberanikan diri mengintip dengan membuka matanya sedikit.
Bulir-bulir besar air mata mengalir turun ke pipi Levi. Alih-alih ekspresi marah, wajah Levi lebih menunjukkan ekspresi sedih dan terluka. Erwin membuka kedua matanya cepat-cepat dan nyaris berhasil membuka mulut untuk menanyakan apakah Levi baik-baik saja, namun Erwin dibungkam oleh gerakan tiba-tiba Levi yang memiringkan kepala, memposisikan wajah tepat di depan wajah Erwin, dan menyatukan kedua belah bibir masing-masing.
Untuk hampir lima detik, Levi menempelkan bibir tipisnya yang kering akibat udara musim dingin pada bibir Erwin. Tidak ada lumatan, tidak ada jilatan, murni hanya bibir Levi menempel sempurna pada bibir Erwin.
“Aku sungguh iri pada pasangan yang bisa saling memberikan tanda cinta dan mengucap janji setia mereka di altar ini.” Erwin merasakan genggaman Levi pada kerah kemejanya semakin erat. “Sementara kita tidak akan pernah bisa bersama, tidak ketika perasaanku padamu adalah perbuatan dosa. Erwin, Erwin, aku begitu jauh dari pengampunan Tuhan,” bisik Levi pelan, napasnya yang hangat meniup anak rambut di samping telinga Erwin.
“Tetapi aku mencintaimu, Erwin. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Cintaku sudah membawa petaka untukmu juga—sial, bagaimana bisa Tuhan membiarkan hamba-Nya jatuh dalam dosa kelam seperti ini.... Erwin, aku sungguh minta maaf,” Levi melepaskan kerah kemeja Erwin, mendorong tubuh besar pemuda itu dan bersiap untuk melangkahkan kakinya cepat-cepat menyusuri selasar di antara bangku jemaat.
“Levi!”
Beruntung Erwin masih sempat menggenggam pergelangan tangan Levi sebelum pemuda itu pergi—dan mungkin, siapa yang tahu, tidak akan pernah ditemuinya lagi.
Erwin menarik tubuh Levi yang bergetar ke dalam pelukan hangat, menempatkan wajah Levi pada ceruk lehernya selagi Erwin sendiri menyandarkan dagunya pada bahu Levi yang kaku.
“Deus caritas est,” bisik Erwin lembut pada telinga setengah beku Levi. “Tuhan adalah kasih. Tidak ada perasaan cinta yang lahir dari hal yang buruk, tindakan kotor, atau perbuatan dosa. Karena cinta kasih adalah Tuhan itu sendiri.”
Erwin menangkupkan tangannya pada pipi Levi, menatap bola mata kelabu yang berkilat karena air mata. Ibu jari besar Erwin diusapkan tepat di atas tulang pipi tirus Levi, menyeka bulir air yang hampir menetes dari sana.
“Tidak ada yang salah atau berdosa jika yang kau rasakan adalah perasaan cinta. Dan kalau perasaan cinta yang ada dalam hatimu itu memang untukku, sudah selayaknya aku juga melakukan hal yang sama.”
Petang itu, dengan hanya disaksikan Tuhan, Erwin memberikan bibir Levi kecupan yang halus, suci dan penuh cinta.
