Actions

Work Header

Define Perfect

Summary:

Mahito itu terlalu berantakan untuk Nanami Kento yang perfeksionis.

Notes:

Fic for @/tdorkiz (Twitter)

Work Text:

Nanami Kento itu orangnya perfeksionis. Dia tidak suka ketidakteraturan; harus bangun pukul 4 pagi dan tidur pukul 10 malam, makan 3 kali sehari saat pagi, siang, dan malam, mengerjakan tugasnya begitu diberi, membuang sampahnya setiap hari Selasa dan Sabtu, dan masih banyak lagi. Kento terbiasa membuat to-do list, mencatat semua kegiatan lengkap dengan waktunya.

Intinya Kento benci dengan semua yang berhubungan dengan ketidakteraturan.

Kata Gojo Satoru, kakak tingkatnya yang luar biasa jenius namun sangat menyebalkan itu, Kento harus belajar untuk lebih rileks dan tidak menganggap semua hal dengan serius karena itu penyebab utama penuaan dini. Kata Satoru juga, dia itu terlalu ketat dan kuno—seperti ayah Satoru yang masih memakai pakaian tradisional di rumah.

Tentu Kento tidak mengindahkan perkataan si marga Gojo itu. Untuk apa?, pikirnya. Karena Satoru itu berada di urutan pertama di daftar ‘orang yang paling Kento hindari’. Makanya Kento tidak ambil pusing omongan pemuda itu. Lain halnya jika yang menuturkan adalah Geto Suguru, kakak tingkatnya yang merupakan sahabat Satoru, namun sangat ia hormati karena menurutnya, Suguru itu bijak dan jauh lebih normal dari Satoru.

Mungkin kalau kata-kata tersebut keluar dari mulut Suguru, maka dia akan mulai mempertimbangkan semua hal dalam hidupnya.

21 tahun hidup dengan sempurna—menurut standarnya—, kemudian semua itu berubah karena kehadiran satu orang di hidupnya.

Mahito. Iya, itu saja, tanpa nama keluarga. Lelaki itu hadir di hidupnya seperti torpedo yang diluncurkan tanpa aba-aba dari sang kapten—alias sebuah kesalahan yang anehnya harus Kento tanggung.

Dengan tubuh kurus dan semampai, kaki jenjang, rambut abu-abu sebahu, dan perangai jenakanya, Mahito memasuki hidupnya yang sudah rapi dan teratur dengan langkah kaki ringannya, menghancurkan ketenangan hidupnya dalam sekejap mata.

Tidak, itu bukan kiasan. Oh, Kento sangat berharap kalau itu memang kiasan. Namun faktanya bukan, itu kejadian asli. Hari pertama Mahito menginjakkan kaki di apartemennya, yang surai abu-abu itu datang sambil menyeret koper super besarnya dan tidak sengaja menyenggol vas bunga favorit Kento, membuatnya terjun bebas ke lantai dengan suara ‘prang!’ yang memekakkan telinga.

Detik itu juga Kento menyesal sudah memasang iklan di internet untuk mencari teman sekamar.

Apa boleh buat, Kento itu mahasiswa semester akhir yang sedang butuh uang. Kiriman dari orang tuanya memang banyak, namun dia harus menyisihkan beberapa untuk tabungannya. Belum lagi apartemen yang disewakan oleh orang tuanya itu punya dua kamar, ‘kan sayang kalau dibiarkan kosong.

Maka dengan keputusan bulat, Kento mencari teman sekamar, housemate, di internet. Waktu Kento lihat resumenya, Mahito ini terlihat seperti orang biasa-biasa saja. Sering kerja paruh waktu makanya dia akan jarang berada di rumah. Sempurna. Kento tidak harus sering melihat orang asing di apartemennya.

Namun sebulan Kento tinggal dengan Mahito, rasanya dia hampir kehilangan akal sehatnya.

Kento yang biasa tidur pukul 10 malam dan bangun pukul 4 pagi sekarang berubah jadwal menjadi tidak menentu. Mahito itu jam kerjanya sangat aneh. Kadang jam 2 pagi baru pulang, membuat kegaduhan di ruang tamu yang otomatis membangunkan Kento. Saat dicek, ternyata Mahito tersandung kursi, membuatnya jatuh. Alasannya karena gelap, dia nggak kelihatan jalan. Ok, masuk akal. Tapi kalau Mahito sudah membangunkannya 7 kali di bulan ini pada dini hari, apa itu masih masuk akal?

Akhirnya Kento terjaga sampai matahari terbit.

Pernah juga Kento baru bangun, sedangkan si surai abu-abu itu baru saja pulang kerja. Raut wajahnya amat kelelahan, namun dia masih sempat menyunggingkan senyum kecil ke arahnya sebelum masuk ke kamarnya dengan langkah terseok-seok.

Oh, Mahito juga pernah bawa kucing liar ke apartemennya, membuat bantal di sofa ruang tamunya rusak karena dicakar-cakar oleh kucing yang dibawa si surai perak itu. Mahito sudah minta maaf berulang kali, menawarinya untuk mengganti bantal tersebut. Namun melihat Mahito harus kerja sekaligus kuliah dengan jadwal melelahkan seperti itu, Kento jadi tidak tega.

Itu dia kenapa Kento bilang dia hampir kehilangan akal sehatnya. Dia membiarkan hidup idealnya yang tertata ini jadi hancur berantakan demi si surai abu-abu ini.

Seperti sekarang, Mahito sedang mengerjakan tugasnya di ruang tamu sambil menopang dagunya dengan terantuk-antuk. Wajar saja, lelaki itu baru saja sampai rumah jam 5 pagi, tidur sejam, kemudian bangun untuk mengerjakan tugasnya.

Kento mengobservasi Mahito dari dapurnya selagi menunggu mesin kopinya selesai berproses. Menggunakan kaos oblong dan celana jogger, dengan rambut abu-abunya yang diikat tinggi ke atas, sedikit berantakan, namun tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.

Ah, iya, apa Kento lupa menyebutkan kalau Mahito itu luar biasa cantik? Fitur wajahnya itu nyaris sempurna, begitu lembut walaupun ada sedikit kejenakaan di balik senyumnya. Oh, apalagi matanya. Kento bersumpah bahwa matanya begitu indah. Yang sebelah kanan berwarna abu-abu, sedangkan yang kiri berwarna biru tua. Heterochromia. Mahito sempat cerita kalau dia dapat julukan ‘monster’ semasa kecilnya karena matanya ini.

Kento berpikir sebaliknya. Menurutnya, manik mata Mahito itu selayaknya lukisan sederhana yang berisikan lautan biru dengan langit berawan mendung. Terkesan suram untuk sebagian orang, namun sangat menenangkan baginya. Kemudian lukisan indah ini dipajang di museum untuk Kento pandangi dengan tatapan penuh kagum.

Ya, mungkin netra si surai abu-abu yang membuat Kento hilang akal. Sekali lihat, semua pedoman hidup yang dia pegang selama ini seketika tidak berarti apa-apa.

Kento meletakkan gelas kopi ke atas meja Mahito. Yang surai perak menengadahkan kepalanya, menatapnya dengan bingung. “Hm?”

“Kopi. Biar nggak ngantuk.”

Kento bersumpah dia tidak memiliki sisi lembut untuk Mahito. Maksudnya, lelaki ini bahkan bukan teman, hanya orang asing yang kebetulan tinggal satu atap dengannya. Namun tetap saja hati nuraninya goyah ketika melihat wajah pucat dan kelelahan lelaki surai perak ini.

Orang cantik tidak seharusnya terlihat super letih dan lemas seperti itu.

Oke, mungkin Kento punya sisi lembut untuk Mahito. Sedikit. Karena sekarang kakinya kembali melangkah ke dapur untuk membuat dua porsi nasi goreng dengan telur mata sapi.

Saat Kento meletakkan piringnya ke depan Mahito, lelaki itu kembali menatapnya kebingungan. Heran, kenapa Mahito reaksinya terkejut begitu, sih, setiap Kento berbuat baik? Memangnya dia sedingin itu, ya, selama ini?

“Buat gue?”

“Mn.” balasnya singkat.

Mahito menggigit bibir bawahnya, ujung bibirnya terangkat. Bagus, Mahito sudah tersenyum. Baru saja Kento beranjak untuk kembali ke dapur, mau makan disana, tapi netra hazelnya menangkap ekspresi Mahito yang menatap telur mata sapinya dengan berkedip-kedip.

“Nggak suka telur setengah mateng?” tanya Kento tiba-tiba yang membuat Mahito terperanjat dan ketawa canggung.

“Nggak pernah makan yang setengah mateng gini, tapi suka, kok. Makasih, ya, Kento.”

Mungkin ada sesuatu di senyuman si surai perak itu, atau Kento memang sudah hilang kewarasannya, karena sekarang dia merebut piring Mahito dan membawanya ke dapur untuk memasak telurnya lebih matang lagi. Mahito mengikutinya dari belakang. “Eh, nggak usah, Ken…”

Mahito berdiri canggung di sebelahnya, menunggu telur ceploknya matang. Setelah itu Kento kembali mengarahkan piringnya ke Mahito.

“Kento… Maaf ngerepotin…” Bingung merespon, Kento cuma menggumam dan duduk di kursi tinggi yang berada di meja bar dekat dapurnya.

Bukannya kembali ke ruang tamu, sekarang Mahito ikut duduk di sebelahnya sambil tersenyum. “Mau makan bareng,”

Sebenarnya Kento benci makan bersama orang lain, tapi mana bisa Kento menolak ketika Mahito berujar sambil tersenyum secerah itu?

Maka Kento hanya bisa mengiyakan

Sepanjang sarapan, Mahito selalu mengajaknya mengobrol, bercerita tentang rekan kerjanya yang baik hati di kios bunga, atau rekan kerjanya yang ketus di restoran cepat saji. Ternyata Mahito punya 4 kerja paruh waktu di tempat yang berbeda-beda. Waktu ditanya kenapa bisa banyak begitu, katanya Mahito butuh uang banyak.

Kento jadi merasa bersalah saat Mahito dulu mengomelinya ketika yang surai perak itu meletakkan barangnya dengan asal sampai berserakan di apartemennya. Kerja paruh waktu sepadat itu, belum lagi jadwal kuliahnya—Mahito itu terlalu banyak bekerja.

Tapi tetap saja Kento kagum dengan Mahito yang masih bisa menceritakan hari-harinya dengan senyuman lebar di wajahnya sesekali menyelipkan lelucon.

“Gue dulu pernah telat masuk kelas ‘kan, terus gue minta maaf ke gurunya,” bagaimana bisa Kento berakhir mendengarkan cerita masa lalu Mahito? Tidak tahu. Tapi dia menikmatinya. “Terus itu guru Bahasa Inggris emang killer banget ‘kan. Dia nanyain gue pake wajah galak, ‘why did you come late? gitu seinget gue. Lo tau gue jawab apa?”

Kento menggelengkan kepalanya. Kemudian secercah senyuman jahil merekah di wajah manisnya.

Come to my shy late.

Hampir saja Kento menyemburkan kopi hitamnya karena terkejut dengan pernyataan Mahito. Sedangkan yang surai perak itu tertawa terbahak-bahak, matanya membentuk bulan sabit. Cantik.

“Artinya apaan?” tanya Kento sambil berdeham. Astaga, sadar Ken, berhenti berpikiran kalau Mahito cantik setiap saat dia melakukan sesuatu!

“Saya malu datang terlambat, hehe.” cengirnya, lagi-lagi menunjukkan mata bulan sabitnya dan senyum lebarnya.

Hari itu, perasaan bahagia dan berbunga-bunga yang terakhir kali Kento rasakan saat SMP tiba-tiba muncul di hatinya.

•••

Sudah memasuki bulan keenam tinggal bersama Mahito, sekarang Kento bingung apakah dia ingin menikahinya atau mengusirnya dari tempatnya.

Alasan menikahinya mungkin sudah jelas, Kento selalu lemah jika berhadapan dengan fitur cantik nan lembut si surai perak. Namun fakta kalau Mahito merusak tatanan hidupnya ini tidak bisa dielak.

Kapan terakhir kali Kento tidur sesuai jadwalnya dulu? Lupa. Dia tak jarang terjaga karena menunggu Mahito kembali. Kadang dia begadang demi membantu Mahito mengerjakan tugasnya, atau sebatas menemani lelaki itu nonton serial barat yang cheesy di Netflix.

Kapan terakhir kali Kento terlambat menghadiri kelasnya? Kemarin. Seorang Nanami Kento yang jadwal absensinya selalu sempurna dari SMA, baru saja kemarin terlambat 15 menit. Karena siapa? Tentu saja karena Mahito yang demam sepulang kerja tadi pagi. Menanggalkan sisi perfeksionisnya, Kento buru-buru ke apotek terdekat, memasak bubur, menyiapkan kompres dan lain-lain.

Jadwal hari-harinya yang selama ini selalu ia ikuti selayaknya pedoman hidup sekarang perlahan mulai ia tinggalkan karena Mahito orangnya selalu spontan dan serba mendadak—tidak terduga.

Maka dari itu di suatu malam, saat Mahito baru saja pulang dari kerja paruh waktunya, Kento berniat untuk mengajaknya diskusi masalah ini. Dia merasa ada yang salah dengan hidupnya.

“Kento! Masih bangun? Mau nonton Stranger Things, nggak?” tawar Mahito sambil melepas tas ransel lusuhnya. Kento membuat catatan mental untuk membelikan Mahito tas baru untuk hadiah natal nanti.

“Gue mau diskusiin sesuatu.”

Sekarang disinilah mereka, berduaan di ruang tamu dengan suasana sedikit canggung. Pasalnya Kento menggunakan nada sedikit tegas, membuat Mahito gugup. Apa kehadirannya selama ini membuatnya tidak nyaman?

“Lo tau ‘kan gue ini orangnya strict banget sama diri sendiri?” Mahito mengangguk. Mengingat-ingat Kento saat awal kenal orangnya time-oriented sekali sampai punya jadwal sehari-hari. “Tapi sekarang nggak.”

Mahito mengerjapkan matanya berulang kali, apa ada hubungannya sama dia?

“Dan itu semua semenjak lo tinggal disini.”

Ah, ternyata ada.

“Lo tiap hari pulang tengah malem atau nggak pagi banget, jam tidur gue yang semula jam 10 malem dan bangun jam 4 pagi berubah karena lo yang kadang berisik di dapur atau di ruang tamu.”

Mahito menundukkan kepalanya, merasa bersalah.

“Jadwal kerja lo yang berantakan itu juga bikin kesehatan lo menurun. Pada akhirnya lo sakit dan gue harus ngerawat lo.”

Mahito ingin mengelak, dia ‘kan nggak menyuruh Kento untuk merawatnya? Namun dia kembali bungkam. Tidak mungkin juga orang sebaik Kento membiarkannya mati membusuk.

“Barang-barang lo berserakan di apart ini. Bahkan baju kita sampai ketuker ‘kan? Contohnya itu sweater yang lo pake sekarang punya gue.”

Mahito melirik ke bawah, kemudian menghela napas. Iya, ini sweater desainer yang harganya mungkin tiga kali lipat dari gajinya di kios bunga. Dia sengaja, kok, pakai sweater Kento karena harumnya wangi. Kalau dia tidur di kelas, dia bisa mencium wangi khas lelaki itu—serasa dipeluk.

“Lo juga selalu lupa jadwal buang sampah, akhirnya selalu gue yang buang sampah lo.”

Mahito merengut, Kento benar. Dia itu pelupa, makanya teman sekamarnya dulu mengusirnya. Ah, mungkin Kento juga begitu.

Mendongakkan kepala, netra kelabu dan biru Mahito bertemu dengan netra hazel milik Kento. Alis yang surai perak menukik, ujung bibirnya turun ke bawah. Oh tidak, Mahito sedih.

“Maaf…” cicitnya.

Kento menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar, nampak jengkel dan terganggu. Mahito jadi semakin merasa bersalah. Wajar, Kento itu sangat baik kepadanya selama ini, mungkin kesabarannya telah habis. Sampai 6 bulan saja Mahito sudah beruntung sekali.

“Lo bisa cari housemate baru, kok. Gue besok keluar dari sini. Maaf, ya, Kento… Gue nggak sadar kalau udah ngusik hidup lo. Makasih udah bertahan 6 bulan tinggal sama gue, lo yang paling lama sumpah. Yang lainnya 3 bulan aja udah nggak tahan. Udah gitu sewanya murah, padahal tempatnya bagus. Makasih ya, Ken…”

Kento mengerjapkan matanya cepat. Mahito berhenti tinggal disini? Ketika Kento sudah merasa nyaman dengan rutinitas barunya untuk mengurusi Mahito yang ceroboh? Tidak ada jadwal nonton serial barat menggelikan lagi? Tidak ada membuat dua porsi masakan? Tidak ada yang ia tunggu saat malam maupun pagi?

Tidak, Kento tidak mau.

“Bukan. Maksudnya gue mau lo tanggung jawab.”

Mahito memiringkan kepalanya bingung. “Gimana?”

Berdeham, Kento menyandarkan bahunya ke sofa. “Tinggal sama gue disini terus? Nggak perlu bayar sewa lagi, tapi lo keluar dari salah satu kerja paruh waktu lo. Eh, dua aja kalau bisa.”

Melongo, Mahito mengerjapkan mata berulang kali, tidak percaya. Ekspektasinya si surai pirang ini akan mengusirnya, atau setidaknya mengancamnya untuk merubah perilakunya kalau mau tinggal lama disini.

Tapi Kento malah memintanya untuk tidak membayar sewa…? Dan apa? Tinggal disini terus sama Kento?

Mahito terdiam untuk waktu yang lama, Kento mulai khawatir, terlebih saat air mata leleh dari ujung matanya. Yang surai pirang langsung menghampiri Mahito, memegang bahunya. “Kenapa nangis? Gue ada salah omong, ya? Maaf, gue gak bermaksud nyinggung lo…”

Terisak, Mahito menggeleng cepat.

“Serius lo mau gue disini? Sama lo? Lo gak ngusir gue kayak yang lainnya?”

Bagaimana Kento punya hati untuk mengusir Mahito kalau lelaki itu punya paras begitu cantik? Menangis seperti ini saja membuat hatinya mencelos. Seperti vas kaca, begitu rapuh namun indah disaat yang bersamaan. Belum lagi Mahito itu seperti sinar mentari di hidupnya yang kelabu ini.

Gila apa kalau Kento melepaskan Mahito?

“Orang apa yang mau ngelepas lo?” tanya Kento sangsi.

“Orang waras biasanya milih buat gak tinggal sama gue lama-lama. Orang tua gue dulu juga gitu.”

Merengkuh tubuh ringkih Mahito, Kento mengelus surai perak itu, menyisir jemari di selipan rambutnya.

“Kalau gitu gue nggak waras.”

Seumur hidupnya, baru kali ini ada orang yang menginginkan kehadiran Mahito. Tidak ada satu orang pun yang senang dengan kehadirannya, bahkan keluarganya. Makanya Mahito menghapus marganya, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, membayar biaya pendidikan maupun hidupnya seorang diri.

Kemudian hadirlah Nanami Kento. Bagi Mahito, Kento itu hidupnya lurus dan tertata. Dari keluarga yang mumpuni, nilai sempurna, baik hati pula. Kadang dia kasihan Kento harus terseret ke kehidupannya yang berantakan ini.

Namun disitulah keduanya saling melengkapi satu sama lain—saling menemukan ‘rumah’ mereka. Bagi Kento, Mahito itu hangat selayaknya matahari di pagi hari. Sedangkan bagi Mahito, Kento itu teduh selayaknya berlindung di bawah pohon yang rindang.

Bersama Mahito, Kento belajar untuk tertawa lebih bebas.

Bersama Kento, Mahito belajar untuk beristirahat setelah hari panjangnya.

Di pelukan Kento lah Mahito ingin memejamkan matanya dan melepas seluruh penatnya, seperti sekarang ini.

“Iya, gue mau, Ken.” bisik Mahito. Kento tersenyum lega.

Saat Mahito melepas pelukannya, dia mengecup pipi Kento sekilas, terbawa suasana. Yang dicium terhenyak, kemudian memandang Mahito yang sedang menyembunyikan wajahnya dengan salah tingkah.

Sorry lancang! Kebawa suasana!” alibinya.

Kento meraih tangan Mahito, menariknya agar lepas dari wajahnya. Tangan Kento yang satunya bergerak untuk mengangkat dagu Mahito, kemudian menyatukan bibir keduanya dan membiarkannya melebur dalam cumbuan hangat.

Ah, ini terasa benar.

Nanami Kento itu orangnya perfeksionis. Dia tidak suka ketidakteraturan. Namun untuk Mahito, dia tidak masalah jika hidupnya berantakan dan tidak terduga. Toh hidupnya akan tetap sempurna selama Mahito berada di sisinya.

When you said you looked a mess,

I whispered underneath my breath

But you heard it, darling, you look perfect tonight

Ed Sheeran – Perfect