Work Text:
Siang itu, matahari menunjukkan sinarnya dengan amat berani. Air conditioner yang menyala di sebuah ruang kelas dibuat tak bermaslahat sama sekali. Pun mahasiswa-mahasiswa di dalamnya yang ingin segera meluncur keluar dari kelas dan mengguyur kepala di bawah pancuran air dingin. Sayang beribu sayang, Profesor Seo masih mengoceh tak berkesudahan.
“Kebanyakan dari budaya korporasi Maytag Corporation berasal dari filosofi pendirinya, F. L. Maytag dan dari pelajaran yang didapatkannya ketika memulai bisnis tersebut pada awal abad 20. Maytag sendiri berpengaruh langsung terhadap pengembangan Maytag Company dan secara tidak langsung pada filosofi manajemen Maytag Corporation. Ada yang bisa menyebutkan dan menjelaskan apa saja filosofi manajemen Maytag Corporation?” ujar Profesor Seo sembari berjalan mondar-mandir dan mengetukkan penanya di telapak tangan.
Hening. Semua mahasiswa tak berkutik sebab penjelasan Profesor Seo menguap begitu saja di kepala mereka layaknya air yang terkena panas terlalu lama. Otak mereka pun terkena panas terlalu lama. Lima menit berlalu namun masih belum ada yang bisa menjawab pertanyaan Profesor Seo.
“Tidak ada yang mau atau bisa menjawab?” Profesor Seo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kelas, ia dapat melihat asap imajiner membumbung tinggi di atas kepala para mahasiswanya. “Saya tahu kalian sudah telah dan ingin segera keluar dari sini, tetapi setidaknya ada satu dari empat puluh mahasiswa di sini yang menyimak dan mengingat penjelasan saya tadi. Saya akan mengakhiri kelas jika ada yang menjawab.”
Setelah mengatakan hal itu, Profesor Seo duduk di mejanya, lelah berjalan mondar-mandir namun mahasiswanya tidak ada yang mau menjawab.
“Saya ingin mencoba menjawab, Prof.” Seorang mahasiswa bertubuh paling jangkung di kelas itu mengangkat tangan kanannya.
“Silakan. Sebut nama lengkap dan NIM.” ujar Profesor Seo.
“Kim Namjoon. NIM 12808242020.” jawab mahasiswa bernama Kim Namjoon itu.
“Baik. Silakan sebut dan jelaskan filosofi manajemen Maytag Corporation.”
“Ada tujuh filosofi manajemen Maytag Corporation yaitu komitmen terhadap kualitas, perhatian pada karyawan, perhatian pada masyarakat, pandangan terhadap inovasi, promosi dari dalam, dedikasi untuk bekerja keras, dan menekankan kinerja.” jawab Namjoon yang seketika mendapat helaan napas lega dari teman-teman di sekitarnya.
“Hanya menyebutkan saja? Mana penjelasannya?” Ternyata penderitaan belum berakhir bagi mereka.
“Maaf, Prof. Saya agak lupa dengan penjelasannya.” jawab Namjoon dengan takut dan ragu.
“Ada yang bisa menambahkan penjelasannya? Satu saja tidak apa-apa.” Profesor Seo masih belum puas, tetap menginginkan penjelasan. Para mahasiswa yang tadi menghela napas lega, kini kembali merasakan ketegangan, berharap ada salah satu dari mereka yang mau menjelaskan.
“Saya ingin mencoba, Prof. Sebisa saya.” Namjoon kembali mengangkat tangannya. Ia sebenarnya sudah tidak mau pusing-pusing menjawab, namun ini kepalang tanggung dan ia tahu semua mahasiswa di kelasnya kini bergantung padanya.
“Ya, tidak apa-apa. Silakan.” Profesor Seo menyangga dagunya pada telapak tangan, gestur menyimak jawaban Namjoon.
“Filosofi perhatian pada karyawan artinya upah yang diberlakukan perusahaan merupakan yang tertinggi pada industrinya. Lebih tepatnya, F. L. Maytag mengatakan bahwa perusahaan yang baik akan membayar karyawannya dengan lebih baik.” jelas Namjoon.
“Sudah? Itu saja?” tanya Profesor Seo.
“Ya, Prof. Maaf saya hanya mengingat itu.”
“Lebih baik daripada tidak mengingat sama sekali seperti teman-temanmu, Kim.” ujar Profesor Seo penuh sarkasme. Tetapi para mahasiswa terlalu lelah untuk peduli dengan hal itu. “Baiklah, kelas hari ini saya akhiri. Lain kali, simak penjelasan saya baik-baik. Selamat siang.”
Sebelum meninggalkan ruang kelas para mahasiswa bergumam “Terima kasih, Prof.” sembari membungkukkan badan dengan sopan.
Namjoon berjalan keluar dari ruang kelas dengan langkah yang cepat dan sembrono, ia sangat haus dan ingin segera pulang ke rumah untuk mandi. Ia melewati sebuah lorong sempit yang merupakan jalan alternatif tercepat menuju parkiran. Namun, hari itu lorong alternatif tidak berfungsi efektif sebab ia hampir menabrak seorang mahasiswa yang sedang berjongkok di tengah lorong. Kontrol dan refleks tubuh Namjoon sangatlah baik, sebab ia bisa mengerem dan tidak menubrukkan diri pada pemuda yang berjongkok. Tetapi kekesalan tidak bisa ia hindarkan, Namjoon mengambil beberapa langkah ke depan dan mendekat pada pemuda itu.
“Hei, bisakah kau jongkok di tempat lain yang lebih luas dan bukannya memilih tempat seperti lorong sempit ini? Aku hampir saja menabr—" Kekesalan Namjoon seketika lenyap kala ia melihat seekor anjing berjenis poodle di dekapan pemuda itu. “Oh astaga, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau sedang membawa anjing.”
“Tidak, aku yang minta maaf karena menghalangi jalanmu. Kau benar, aku tak seharusnya berjongkok di lorong sempit ini.” Pemuda berkulit putih pucat itu menundukkan kepalanya sembari meminta maaf sebab merasa tak enak hati.
“Oke. Kita saling memaafkan kalau begitu.” Namjoon tersenyum kecil dan ikut berjongkok di sampingnya. Ia kemudian menengok anjing kecil itu dan mendapatinya tengah lemas. “Apakah dia terluka?”
“Kurasa iya, dia terlihat tak berdaya dan mungkin dehidrasi.” jawab pemuda itu dengan raut wajah khawatir.
“Kita bawa ke klinik hewan sekarang. Ikut aku ke parkiran mobil.” putus Namjoon yang langsung berdiri dengan wajah yang khawatir berbaur dengan panik.
Pemuda berkulit pucat itu hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Namjoon hingga ke parkiran.
“Silakan masuk.” Namjoon membukakan pintu untuk penumpang di mobilnya.
“Terimakasih.” ujar sang pemuda dengan anjing poodle masih setia berada di dekapannya.
Namjoon segera menyalakan mobil sesaat setelah memastikan pemuda dan anjing poodle itu berada aman di mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Aku tahu sebuah klinik hewan dekat kampus kita.” ujar Namjoon sambil fokus menyetir.
“Ya, aku juga tahu. Dekat dengan kafe Lily kan?” sahut pemuda itu memastikan.
“Yups, benar.” balas Namjoon sekenanya.
Perjalanan terasa hening dan sepi, Namjoon baru menyadari bahwa ia belum tahu siapa nama pemuda yang kini tengah duduk manis dengan anjing poodle di pangkuannya di jok belakang mobilnya.
“Maaf, sepertinya kita belum berkenalan. Aku Namjoon, siapa namamu?” tanya Namjoon sambil melirik pemuda di belakangnya melalui kaca mobil.
“Ah iya. Namaku Yoongi.” jawab pemuda kulit pucat yang bernama Yoongi.
“Salam kenal, Yoongi.” Senyum kecil terbit di sudut bibir Namjoon.
“Salam kenal juga, Namjoon.” jawab Yoongi dengan senyum tipis.
Namjoon beberapa kali terus melirik ke jok belakang melalui kaca mobil, nampak khawatir dan panik. Yoongi menyadari hal itu namun tak berani melisankan pikirannya. Apakah Namjoon mengkhawatirkan dirinya atau anjing poodle di pangkuannya?
“Menurutmu apakah ia akan kuat?” tanya Namjoon tiba-tiba.
“Anjing ini?” Yoongi memastikan.
“Ya, aku sungguh khawatir. Ia terlihat tak berdaya dan matanya dari tadi terpejam.” Namjoon menyuarakan kekhawatirannya sambil sesekali masih melirik lewat kaca mobil.
“Kurasa ia anjing yang kuat. Ia pasti akan selamat. Apakah kliniknya masih jauh?” Benar dugaan Yoongi bahwa Namjoon sangat mengkhawatirkan anjing poodle di pangkuannya.
“Tidak. Sebentar lagi sampai. Maaf aku ikut panik, aku hanya sangat takut jika ia tidak selamat.” ujar Namjoon dengan suara tercekat seraya memandang lurus ke depan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Namjoon, kau oke?” Yoongi dapat mendengar suara Namjoon yang tercekat tadi.
“Aku oke. Terimakasih sudah menemukan dan menyelamatkan dia, Yoongi.” ujar Namjoon.
“It’s not a big deal actually." jawab Yoongi dengan santai dan senyum tipis. Ia memang menyukai binatang dan hatinya mudah tersentuh ketika melihat mereka kesakitan.
Yang membuat Yoongi agak bingung adalah mengapa Namjoon begitu panik, khawatir, dan bahkan emosional terhadap keselamatan anjing yang bahkan baru ia temui kurang dari tiga puluh menit yang lalu?
Yoongi memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya, “Namjoon, maaf jika lancang. Tapi mengapa kau terlihat sangat khawatir dengan anjing yang baru saja kau temui hari ini?”
“Bisa dibilang aku adalah pecinta binatang. Aku ikut komunitas lokal pecinta binatang. Kami sering mengadakan street feeding untuk kucing jalanan dan anjing, mengumpulkan donasi untuk subsidi steril hewan seperti anjing dan kucing, menyelamatkan hewan-hewan yang terluka, menyediakan platform di social media untuk menjadi perantara antara kami dan calon adopter kucing atau anjing.” jelas Namjoon dengan antusias dan bangga.
Yoongi ikut tersenyum bangga dan kagum mendengarnya. Ia merasa begitu beruntung ketika hari ini bertemu dengan Kim Namjoon, lagi.
“Kau pria yang baik." ujar Yoongi dengan tulus.
“Trims. Seseorang di masa kecilku mengajariku untuk selalu berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Termasuk hewan.”
Yoongi bergeming sesaat kala mendengar jawaban itu. Ia menelusuri kembali wajah Namjoon melalui kaca di tengah mobil dan perlahan menyadari betapa familiar wajah itu di ingatan Yoongi. Di sisa perjalanan yang singkat itu, tidak ada yang menyangka bahwa diam-diam Yoongi menatap kagum punggung Kim Namjoon dari jok belakang.
Yoongi yakin ia berhasil mendidik seorang Kim Namjoon dengan begitu baik.
Nenek adalah orang favorit Yoongi dalam hidupnya, bahkan ia menempatkannya pada urutan nomor satu, mengalahkan kedua orang tuanya sendiri. Ayah dan Ibunya terlalu sibuk dengan urusan “orang dewasa” sehingga Yoongi hampir salah paham bahwa Nenek adalah Ibunya. Sebab, Nenek lah yang sedari ia bayi hingga sekarang—berumur empat tahun, mengurusnya penuh kasih sayang.
Sore itu ia merasa sosok Nenek tengah direnggut paksa dari hidupnya. Sepasang suami istri datang ke rumahnya membawa bayi mungil dan menyerahkannya pada Nenek. Sejak saat itu, Nenek selalu fokus mengurus sosok mungil itu. Yoongi merasa terabaikan, ia marah dan kesal dengan bayi mungil yang polos dan tak tahu apa-apa itu.
Nenek yang menyadari bahwa Yoongi cemburu, buru-buru berkata dengan lembut dan sabar. “Nenek masih tetap nenek Yoongi, keberadaan bayi ini tidak mengubah apapun. Ia hanya dititipkan pada Nenek saja, Ayah dan Ibunya akan menjemputnya saat malam tiba.”
Namun Yoongi kecil tetap merengek dan memberengut tak suka. Ia belum paham apa arti dari “dititipkan”. Yang ia tahu, bayi mungil itu merenggut semua perhatian Nenek darinya.
“Nenek!” teriak Yoongi pada suatu siang ketika ia melihat Nenek menimang-nimang bayi itu agar tertidur. “Yoongi tak suka bayi kecil! Buang saja dia!” ujarnya dengan nada kesal disertai rengutan kecil yang menggemaskan.
“Yoongi kecilnya Nenek, bayi kecil dititipkan ke Nenek karena Ayah dan Ibunya sedang bekerja, jadi mereka tidak bisa mengurusnya. Apa kau tidak kasihan dengannya? Menangis sendirian, kelaparan sendirian, dan tidak ada yang memandikannya?” Nenek menjelaskannya sambil tersenyum lembut, mengelus puncak kepala cucunya.
“Bayi kecil sama seperti Yoongi? Ayah dan Ibunya bekerja?” tanya Yoongi dengan polos.
“Iya, benar, Sayang. Itulah mengapa Nenek harus membantu mengurusnya.” jawab Nenek. “Dia akan menemanimu tumbuh besar bersama.”
“Bayi kecil akan menjadi temanku?” tanya Yoongi sambil melirik sosok mungil yang kini mulai tertidur di dekapan sang nenek.
“Ya, Sayang. Bayi kecil akan menjadi teman Yoongi bermain, tidur siang bersama, makan bersama, dan mandi bersama. Bagaimana? Terdengar asik dan menyenangkan bukan?” ujar Nenek sambil mencubit pelan pipi tembam Yoongi.
“Tapi kenapa Nenek tidak pernah menggendong Yoongi lagi? Kenapa selalu bayi kecil?” Yoongi mengerutkan dahinya tak suka.
“Sebab bayi kecil belum bisa berjalan sendiri, tidak seperti kau. Lihatlah dirimu, kau sudah besar dan bisa berjalan dengan kakimu sendiri, Sayang.” jawab Nenek dengan lembut dan sabar.
“Yoongi sudah besar?” tanya Yoongi dengan polos.
“Ya, Yoongi sudah besar. Dan anak yang sudah besar bisa membantu Nenek mengurus bayi yang masih kecil.” Nenek tersenyum lebar pada Yoongi.
“Bayi kecil punya nama atau tidak, Nenek?”
“Punya. Namanya Kim Namjoon. Yoongi bisa memanggilnya Namjoon.”
Satu tahun kemudian, Yoongi kecil mulai bisa menerima keberadaan Kim Namjoon di hidupnya. Hampir sebagian besar waktu Yoongi dihabiskan bersama Namjoon. Lima tahun-Yoongi mulai ikut membantu Nenek mengurus satu tahun-Namjoon.
“Yoongi, apa kau sudah selesai mewarnai buku gambarmu?” tanya Nenek pada suatu sore.
“Sudah, Nenek. Lihat, bagus, 'kan?” Yoongi membentangkan gambaran yang sudah diwarnai dengan berbagai macam warna kepada sang nenek.
“Wah, bagus! Yoongi semakin pintar mewarnai. Besok lagi cobalah untuk tidak mewarnai hingga keluar dari garis ya, Sayang?” ujar Nenek memuji Yoongi dan tak lupa memberi nasihat halus agar hasil mewarnai cucunya lebih meningkat lagi.
“Baik, Nek.” jawab Yoongi.
“Sekarang Nenek minta tolong Yoongi untuk suapi Joonie, boleh?” tanya Nenek.
“Boleh, kemarikan mangkuknya, Nek.” Yoongi mengangguk dengan semangat. Kemudian ia menerima semangkuk nasi lembek yang sudah dicampur dengan sup sayur-sayuran. Nenek pun menaruh Namjoon kecil di kursi khusus untuk makan.
“Nenek tinggal dulu, ya. Terima kasih, Sayang.” Nenek tersenyum sambil mengusap kepala Yonngi sayang.
Yoongi melakukan tugasnya dengan baik, ia menyuapi Namjoon dengan sabar dan telaten. Tidak marah ketika Namjoon melepehkan nasinya akibat mulai bosan.
“Joonie, kenapa dikeluarkan? Sudah kenyang, ya? Atau bosan?” tanya Yoongi yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari Namjoon kecil. “Oke tidak apa-apa. Kau sudah hebat kok, nasinya tinggal sedikit.”
Namjoon kecil mengoceh dan tertawa sembari menendangkan kakinya dengan lucu. Yoongi tak dapat menahan rasa gemasnya, kemudian mencium pipi gembul sang bayi.
“Setelah ini kita latihan berjalan, oke?” Yoongi menoel pipi Namjoon dengan gemas, kemudian menyerahkan mangkuk kotor kepada Nenek di dapur.
“Sebelum latihan berjalan, kita bersihkan dulu mulutmu. Dasar cemong.” canda Yoongi seraya membersihkan area mulut Namjoon dengan tisu basah, sedangkan yang dibersihkan hanya terkikik lucu.
Selanjutnya ia mengangkat Namjoon dari kursi dan mulai menaruhnya dalam posisi berdiri. Yoongi memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari Namjoon dengan tujuan agar Namjoon mau melangkah mendekatinya.
“Kemari, Joonie. Kau pasti bisa!” ujar Yoongi sambil membentangkan tangannya agar Namjoon mau berjalan meraih tangannya.
Namjoon tertawa dan mengangkat tangannya keatas dengan antusias, kemudian batita berumur satu tahun itu mulai melangkahkan kaki-kaki mungilnya dengan ragu. Pijakannya memang belum terlalu kuat, tetapi dengan sering berlatih Yoongi yakin Namjoon tak lama lagi bisa berjalan dengan baik.
Baru beberapa langkah Namjoon berjalan, tiba-tiba ia berhenti dan ragu untuk melangkah lagi. Padahal sedikit lagi ia sampai dan bisa meraih tangan Yoongi.
“Joonie, kenapa berhenti? Ayo, jangan takut jatuh, aku akan menangkapmu dengan cepat sebelum kau terjatuh. Dua langkah lagi dan kau akan meraih tanganku!” seru Yoongi memberi semangat pada Namjoon untuk meneruskan langkahnya.
Namjoon tentu saja belum paham apa yang dikatakan Yoongi, namun melihat ekspresi semangat di wajah Yoongi, entah mengapa batita itu terpacu lalu meneruskan langkahnya dengan lebih pasti. Secara tak terduga, satu langkah sebelum meraih tangan Yoongi, Namjoon kehilangan keseimbangan sebab terlalu bersemangat namun Yoongi begitu tanggap dan langsung menangkap batita itu ke dalam pelukannya.
“Ups! Hampir saja kau jatuh, Joonie. Untung hyung menangkapmu dengan cepat.” seru Yoong. Kini ia mengeratkan pelukannya pada Namjoon dan menghujani pipinya dengan ciuman-ciuman gemas.
Hari-hari Yoongi kala itu dipenuhi dengan tawa dan tangis Namjoon. Tawa sebab Yoongi selalu bisa menghibur Namjoon dengan berbagai ekspresi wajah konyolnya dan tangis sebab Namjoon kelaparan dan terkadang terjatuh kala latihan berjalan. Namun, Yoongi menikmati itu semua dan menganggap Namjoon adalah teman dan adiknya sendiri. Lima tahun-Yoongi tidak mempunyai banyak teman lantaran nenek baru mendaftarkannya masuk ke Taman Kanak-kanak pada usia hampir 6 tahun.
Setiap hari nenek dan Namjoon kecil yang saat itu sudah berusia 2 tahun selalu mengantar dan menjemput Yoongi ke Taman Kanak-kanak. Setiap kali melihat lambaian kecil Namjoon kala berpisah di pagi hari, Yoongi merasa tak rela berpisah dengan batita itu. Pertemuannya dengan teman-teman barunya agaknya cukup membantu mendistraksi pikirannya dari Namjoon kecil. Pulang sekolah adalah momen favoritnya, ia kembali melihat lambaian tangan mungil Namjoon dari seberang jalan bersama Nenek, menjemputnya untuk pulang. Yoongi berlari kecil sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, begitupun Namjoon, lengan kecilnya menggapai tubuh Yoongi dengan susah payah sebab perbedaan ukuran tubuh mereka.
“Hai, Joonie! Hyung sudah pulang!” Yoongi mengecup kening Namjoon penuh afeksi.
“Hyung!” seru Namjoon dengan pengucapan yang masih belum jelas, namun Yoongi tentu saja mengerti.
“Nek, bolehkah kita membeli es krim?” tanya Yoongi pada Nenek di sampingnya.
Nenek mengiyakan permintaan Yoongi dan membelikan dua buah es krim untuk Yoongi dan Namjoon. Mereka menikmatinya dengan wajah yang berbinar ceria, sesekali Yoongi mengusapkan tisudi dekat mulut Namjoon kala menemukan es krim yang belepotan. Nenek diam-diam melihatnya sambil tersenyum, tak menyangka bahwa kini mereka lengket bagai direkatkan dengan lem paling kuat sedangkan dua tahun yang lalu Yoongi protes dan marah pada nenek katas kehadiran bayi kecil diantara mereka, yaitu Namjoon.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, lima tahun sudah Namjoon dititipkan pada Nenek dan menemani Yoongi tumbuh semakin besar. Kedua bocah laki-laki itu semakin sulit dipisahkan, hampir seluruh kegiatan mereka lakukan bersama termasuk mandi bersama dengan selang air, bermain sepeda, menerbangkan layang-layang, dan tidur bersama. Di banyak kesempatan, Namjoon sangat sulit untuk dibujuk pulang bersama orang tuanya tatkala dijemput pulang. Alhasil, Namjoon sering menginap dan tidur bersama Yoongi. Yoongi sama sekali tak keberatan, justru senang sebab itu artinya ia semakin banyak menghabiskan waktu bersama Namjoon dan mempunyai seseorang untuk menemaninya.
Kala Namjoon menginjak kelas 2 SD dan Yoongi menginjak kelas 6 SD, tepat di saat hubungan kedua bocah laki-laki itu sedang erat-eratnya, orangtua Namjoon memutuskan untuk memindahkan putranya ke sebuah sekolah dasar elite yang letaknya nun jauh di tengah kota. Mengakibatkan Namjoon harus berpisah dengan Yoongi secara dramatis dan penuh air mata. Hal yang paling buruk adalah lokasi sekolah Namjoon dan tempat tinggal Yoongi yang berada di desa berjarak amat jauh.
“Hyung, kita masih tetap berteman, 'kan?” tanya Namjoon dengan air mata yang berderai di pipi gembilnya.
“Tentu saja, Joonie. Kau bisa kesini saat weekend atau liburan sekolah dan kita akan bermain bersama seperti biasanya.” Yoongi berusaha lebih tenang, agar Namjoon tidak histeris dan semakin sulit berpisah dengannya. Yoongi selalu ahli dalam menyembunyikan perasaannya, mencoba tetap memasang senyum di bibir sedangkan hatinya sakit tatkala harus berpisah cukup jauh dengan adik kesayangannya.
“Peluk?” pinta Namjoon seraya merentangkan kedua lengannya. Yoongi tanpa ragu segera menyambut pelukan Namjoon. Aroma khas terik matahari dan keringat Namjoon akibat bermain dan berlarian bersamanya akan selalu Yoongi rindukan.
“Jaga diri baik-baik, ya. Carilah teman baru. Jangan nakal. Hyung akan selalu merindukanmu.” bisik Yoongi di telinga Namjoon.
“Hyung juga, jangan menggigiti kuku jari lagi. Kalau aku tidak di sini, siapa yang akan menegur tiap kali kau menggigiti kuku jari?” Suara Namjoon masih sengau dan lirih akibat tangisnya.
Yoongi tertawa kecil, Namjoon hapal betul dengan kebiasaan buruknya. Namjoon selalu menegur kala menemukan Yoongi tengah melamun sembari menggigiti kuku jarinya. Saking jengkelnya, Namjoon pernah berkata, “Aku harap gigi depan Hyung copot semua, supaya tidak bisa menggigit kuku jari lagi!”
“Iya, Hyung akan berusaha untuk mengurangi hal itu.” jawab Yoongi sambil menepuk-nepuk kepala Namjoon dengan halus.
Setelah perpisahan itu, Yoongi merasa kesepian dan nenek memberikannya seekor anak kucing guna menjadi teman untuk Yoongi. Memelihara Kitty—nama anak kucing itu, membuat Yoongi belajar arti menyayangi makhluk Tuhan selain manusia dan tumbuhan, yaitu hewan. Kitty sangat setia dan patuh padanya, menemani Yoongi belajar, bermain dengan bola dan tali, bahkan tidur bersama. Namun, kehadiran Kitty tak dapat mendistraksi perasaan rindunya pada Namjoon. Ia dengan sabar selalu menunggu weekend tiba dan berharap Namjoon datang mengunjunginya. Sayangnya, tiga bulan telah berlalu dan Namjoon belum juga datang bersua dengannya.
Kesabaran Yoongi membuahkan hasil, suara mesin mobil berderu dengan keras kala Yoongi asyik bermain dengan Kitty di halaman rumah. Sosok yang dirindukannya keluar dari pintu mobil dan berlari kencang mengampiri Yoongi.
“Hyung!” teriak Namjoon dari jarak yang masih lumayan jauh dari halaman rumah Yoongi.
“Joonie!” Yoongi meninggalkan Kitty dan berlari menyambut Namjoon. Mereka saling menubrukkan diri dan berakhir dengan berpelukan di atas rumput hijau depan halaman rumah.
“Maaf lama, aku sangat merindukanmu, Hyung!” Namjoon masih belum melepaskan pelukan mereka.
“Tidak apa-apa, Joonie. Hyung lebih merindukanmu.” Yoongi refleks mengecup kening Namjoon. Tiga bulan tidak bertemu membuat Yoongi terkejut akan seberapa cepat Namjoon tumbuh. Namjoon terlihat begitu besar dan tinggi untuk ukuran anak kelas 2 SD. Entahlah, Namjoon yang bongsor atau memang Yoongi yang awet mungil.
Suara Kitty yang mengeong menginterupsi acara temu-kangen antar dua bocah itu. Namjoon terduduk dan menoleh ke sumber suara.
“Hyung, sejak kapan kau punya kucing?” tanya Namjoon.
“Sejak kau pergi dari sini. Nenek memberikannya sebagai teman untukku.” jawab Yoongi sambil berdiri dan menghampiri Kitty.
“Aku digantikan oleh seekor kucing?” ujar Namjoon merasa terkhianati.
“Astaga, tidak, Joonie. Kau tidak akan tergantikan oleh siapapun.” Yoongi terkekeh kala melihat Namjoon merengut tidak suka.
“Hyung, kata Ibu tidak boleh memelihara hewan, apalagi kucing.” ucap Namjoon yang menjaga jarak ketika Yoongi mulai mendekat pada Kitty dan mengelusnya.
“Loh, kenapa? Apa yang salah dengan hewan dan kucing?” Yoongi mengerutkan dahinya.
“Bulu kucing membuat alergi dan virus. Hewan peliharaan juga merepotkan manusia.” sahut Namjoon.
Yoongi kaget, dari mana Namjoon mendapat semua itu? Tiga bulan berpisah darinya membuat Namjoon mendapatkan persepsi berbeda dari orang di sekitarnya.
“Joonie, kau tidak boleh berkata seperti itu. Hewan juga ciptaan Tuhan, mereka juga makhluk Tuhan seperti kita, manusia, dan tumbuhan. Kata siapa hewan peliharaan merepotkan? Kalau kau menyayangi mereka, mereka juga akan menyayangi kita. Mereka akan setia dan patuh dengan kita.” jelas Yoongi dengan sabar dan lembut.
“Benarkah?” Namjoon masih meragukan jawaban Yoongi.
“Contohnya kucing ini, Namanya Kitty. Hyung merawat dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Dia membalasnya dengan selalu menemani hyung belajar, tidur, bermain bersama, dan menghibur hyung.” Yoongi mengusap-usap leher Kitty dan membuat kucing itu semakin manja dengannya.
Namjoon masih berdiam tak menjawab.
“Tidak percaya?” Yoongi bertanya dengan retoris. Kemudian ia mengajak Namjoon bermain dengan Kitty, mulai dari bermain dengan bola, tali, hingga kejar-kejaran. Selain itu Yoongi juga mengajak Namjoon memberi makan dan memandikan Kitty.
Hari itu Yoongi benar-benar menunjukkan pada Namjoon bahwa hewan peliharaan bukanlah makhluk yang merepotkan manusia. Mereka justru bermanfaat banyak bagi manusia jika sungguh-sungguh disayangi dan dirawat. Pembelajaran hari itu mencapai titik di mana Kitty bahkan lebih clingy dan manja dengan Namjoon dibanding dengan Yoongi. Setelah diulik, ternyata Namjoon memang belum pernah berinteraksi dengan hewan peliharaan sehingga tidak percaya bahwa hewan peliharaan bisa sebegini menghibur dan menyenangkan.
Yoongi tersenyum lebar di teras rumah kala menyaksikan Namjoon tertawa ceria seraya bermain dengan Kitty di atas rumput hijau. Bocah itu terlalu asyik hingga mengabaikan entitas Yoongi yang memanggilnya untuk makan siang bersama.
“Bagaimana? Hewan peliharaan cukup menyenangkan bukan?” tanya Yoongi seraya mengambilkan lauk di piring Namjoon. Sedangkan bocah laki-laki yang ditanyai justru sibuk bermain dengan Kitty di pangkuannya.
“Hyung, bolehkah aku membawa pulang Kitty?” Namjoon meminta izin dengan mata memelas yang selalu membuat Yoongi lemah.
“Tidak. Orang tuamu saja tidak suka hewan peliharaan. Nanti Kitty pasti akan terlantar.” Yoongi menyodorkan sepiring nasi dengan berbagai macam lauk kesukaan Namjoon. “Makan dulu.”
“Tapi aku mau bermain dengan Kitty, Hyung.” Namjoon mulai merengek.
“Kalau kau mau bermain dengan Kitty, tinggal kesini saja.” ujar Yoongi.
“Tapi 'kan jauh!” Namjoon semakin merengut kesal.
“Sudahlah. Sekarang kau makan dulu. Oke?” Yoongi mengambil Kitty dari pangkuan Namjoon dan menyuruh bocah itu untuk segera menyantap makan siangnya.
Sebelum matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, orangtua Namjoon datang dan menjemput Namjoon pulang. Tak jauh berbeda dari perpisahan pertama mereka tiga bulan yang lalu, Namjoon menangis di pelukan Yoongi. Tak rela berpisah dengan hyung kesayangannya serta sahabat barunya, Kitty. Kali ini Yoongi merasa semakin egois, ia hanya ingin Namjoon untuk dirinya sendiri, tinggal bersamanya seperti dahulu kala. Yoongi merasa Namjoon adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya sendiri dan sulit sekali untuk menghilangkan perasaan itu.
Bulan berganti menjadi tahun, intensitas pertemuan Namjoon dan Yoongi semakin berkurang akibat Yoongi yang sibuk adaptasi dengan sekolah menengah pertama dan Namjoon yang mulai mengikuti les privat sepulang sekolah. Pada liburan akhir semester, Namjoon menyempatkan diri untuk mengunjungi Yoongi. Yang membuat Yoongi terperangah kaget kala itu adalah Namjoon datang dengan seekor kucing di pelukannya.
“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Yoongi ketika mereka duduk di rumput hijau halaman rumah Yoongi.
“Aku melihatnya terluka di pinggir jalan ketika pulang sekolah. Aku kasihan padanya, jadi kubawa dia pulang.” jawab Namjoon sambil mengelus leher si kucing.
“Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka mengizinkan?” Yoongi mengernyitkan dahinya heran. Bukannya orangtua Namjoon tidak suka hewan?
“Hyung, sebenarnya mereka tidak benci atau tidak suka dengan hewan. Mereka hanya khawatir jika aku punya hewan peliharaan sewaktu kecil dan takut aku belum bisa merawatnya. Tapi, sekarang aku sudah besar, Hyung. Aku tahu cara merawat mereka, Ayah dan Ibu mulai mempercayaiku. Buktinya kucing ini sekarang sehat dan gendut, padahal ketika aku menemukannya ia kurus dan terluka.” jelas Namjoon panjang lebar sambil tersenyum puas.
Hati Yoongi menghangat seketika kala mendengar penuturan Namjoon, ia tersenyum bangga sebab merasa berhasil mengajarkan sesuatu yang baik pada Namjoon, yaitu untuk selalu menyayangi binatang. Secara refleks Yoongi mengelus kepala Namjoon dan mencium keningnya.
“Hyung! Berhenti menciumku. Aku sudah besar, sudah kelas 1 SMP dan kau sudah kelas 2 SMA.” Namjoon menghindar dan merengut kesal akan tindakan Yoongi. Yoongi hanya tertawa geli mendengarnya. Bocah kecil ini sudah kenal rasa malu rupanya.
“Kau masih tetap Joonie adik kecil kesayanganku.” ujar Yoongi dengan gemas.
“Adik kecil? Lihatlah, Hyung.” Namjoon berdiri dengan percaya diri. “Tubuhku bahkan jauh lebih besar dan tinggi dibanding dengan kau.”
“Tidak peduli seberapa besar tubuhmu dan berapapun usiamu, kau tetap adik kecil kesayangan Hyung. Tidak ada yang bisa mengubah fakta itu.” Yoongi berujar dengan santai disertai senyum penuh afeksi.
Namjoon pura-pura mendengus kesal. Namun di lubuk hatinya yang terdalam ia begitu bahagia lantaran bertahun-tahun telah berlalu dan mereka jarang bersua tetapi Yoongi masih menganggapnya sebagai adik kesayangannya. Meskipun mereka tidak mempunyai ikatan darah setetes pun.
“Hyung, sebentar lagi kau kuliah. Mau mendaftar dimana?” tanya Namjoon.
“Belum tahu. Perusahaan milik Ayah dan Ibuku bangkrut. Nenek juga tidak punya cukup uang. Mungkin sesudah lulus aku akan bekerja mengumpulkan uang dahulu.” jawab Yoongi. Matanya menatap lurus pada pemandangan sawah hijau di depan halaman rumahnya.
“Tak apa. Nanti kita akan jadi teman kuliah satu angkatan.” sahut Namjoon dengan nada yang mencoba menghibur.
“Selisih usia kita 4 tahun, yakin kau bisa menjadi teman seangkatanku?” Yoongi terkekeh kecil.
“Yakin, asalkan Hyung mau menungguku.” Namjoon tersenyum lebar.
Seiring waktu berlalu, intensitas pertemuan keduanya semakin jarang. Bahkan dalam satu tahun ini mereka hanya bertemu satu kali di liburan semester. Yoongi sibuk mempersiapkan ujian akhir kelulusan dan Namjoon semakin sibuk mengikuti les privat sebab sebentar lagi ia akan menginjak kelas 3 SMP. Tahun-tahun selanjutnya menjadi yang terburuk, keduanya sama sekali tidak bertemu. Orangtua Namjoon sangat terobsesi untuk memasukkan Namjoon di salah satu sekolah menengah terbaik dan terfavorit di kota mereka. Yoongi yang sudah lulus SMA pun mulai mencari pekerjaan yang sekiranya bisa dilakukan oleh lulusan SMA.
Tujuh tahun telah dilewati Namjoon dan Yoongi tanpa berjumpa dengan masing-masing.
“Yoongi?” Tepukan di bahu kanannya membuat lelaki yang dipanggil Yoongi itu kembali ke realita setelah berpendar pada kilas balik masa lalunya.
“Ah ya. Maaf, Namjoon.” ujar Yoongi dengan canggung.
“Kita sudah sampai di klinik hewan. Ayo keluar.” Namjoon membantu membukakan pintu mobil.
Mereka segera memasuki klinik dan menyerahkan anjing poodle itu untuk ditangani oleh dokter hewan yang bertugas saat itu. Yoongi dan Namjoon menunggu sambil duduk bersisian di kursi depan klinik yang disediakan untuk pemilik hewan.
“Nam—”
“Yoon—”
“Kau dulu.” Namjoon membiarkan Yoongi untuk berbicara terlebih dahulu.
“Nama margamu… apakah Kim?” Yoongi sudah tak dapat menahan dirinya lebih lama lagi. Ia ingin mengatakan pada Namjoon bahwa ia adalah hyungnya, Yoongi hyung kesayangannya dan Namjoon adalah adik kecil kesayangannya, Joonie kesayangannya.
“Ya. Bagaimana kau tahu?” Namjoon mengerutkan dahi terkejut, sebab rasanya ini baru pertemuan pertama mereka. Bagaimana Yoongi bisa mengetahui nama marganya?
“Oh astaga, dugaanku benar. Kau Joonie.” Yoongi tersenyum lega dan secara impulsif mengelus kepala Namjoon dengan lembut, gestur yang selalu ia lakukan kala mereka kecil dahulu.
Namjoon semakin mengerutkan dahi bingung, ia mencoba mengingat-ingat lagi sosok yang kini membelai kepalanya itu. Dan satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya Joonie adalah …
Yoongi hyung!
“Hyung!” seru Namjoon begitu memorinya mengenali kembali sosok di depannya. Ia meraih tubuh Yoongi yang jauh lebih kecil darinya ke dalam pelukan erat.
“Sudah ingat aku siapa?” Yoongi tertawa menggoda sembari membalas pelukan Namjoon yang terlalu erat, ia hampir kesulitan bernapas.
“Maaf, kau terlihat asing dan familier di saat yang sama, Hyung. Tadi aku sempat mencoba mengingat-ingat. Tetapi kepalaku terlalu pusing dan rasanya mau meledak gara-gara dibantai Profesor Seo. Maaf tidak mengenalimu.” Namjoon mengistirahatkan kepalanya di bahu Yoongi dan memejamkan matanya. Rasanya begitu lega dan damai tatkala bersua kembali dengan salah satu orang yang paling dirindukan Namjoon di hidupnya.
“Hei, tidak apa-apa. Santai saja. Aku tahu kau pasti lelah. Maaf merepotkanmu karena harus mengantar ke klinik.” Yoongi masih belum melepaskan pelukan Namjoon, membiarkan pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu dan ceruk lehernya.
“Tidak repot dan lelah sama sekali kalau bayarannya adalah bertemu kembali denganmu, Hyung. Aku sangat merindukanmu hingga rasanya sebentar lagi aku akan gila.” Namjoon semakin menguburkan kepalanya di ceruk leher Yoongi. Hembusan napas Namjoon yang menderu begitu hangat di lehernya membuat sesuatu di dalam diri Yoongi berdesir hebat.
“Aku juga merindukanmu, Joonie. Adik kecil kesayangan Hyung.” Yoongi terus mengelus kepala Namjoon penuh rasa sayang.
“Hyung, serius? Kau masih melihatku hanya sebagai adik kecilmu?” Namjoon melepaskan diri dari pelukan Yoongi. Hal itu entah kenapa membuat Yoongi merasa kosong dan hampa. Ia masih ingin memeluk Namjoon dalam waktu yang lama.
“Ada yang salah dengan hal itu? Hanya? Memangnya kau ingin aku melihatmu sebagai apa?” tanya Yoongi bingung.
“Lihat aku sebagai laki-laki dewasa, sebagai orang yang meny—” kalimat Namjoon terpotong oleh seorang dokter yang datang menghampiri mereka.
“Maaf, dengan pemilik anjing poodle cokelat tadi?” tanya dokter itu.
“Ya benar. Ada apa, Dok?” Yoongi mengalihkan atensinya pada sang dokter.
“Anjing ini harus menjalani rawat inap. Jadi, saya akan mengabari Anda lagi jika sudah ada kemajuan.” jelas sang dokter.
“Ah baik, Dok. Terima kasih.”
Setelah mengurus semua administrasi dan meninggalkan kontak di klinik hewan itu, Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk mampir di kafe Lily, sebuah kafe kecil dekat dengan klinik.
“Hyung, aku belum selesai bicara tadi.” ujar Namjoon setelah menyeruput segelas lemon squash.
“Ya, lanjutkan saja.” Yoongi menjawab dengan santai, segelas americano dingin tersaji di depannya.
“Tolong lihat aku sebagai laki-laki dewasa, sebagai orang yang menyukaimu, Hyung. Jangan lari dan menghindariku, tolong.” Jemari Namjoon bergerak ke depan dan menyentuh milik Yoongi. Sentuhan elektrik yang membuat Yoongi terkesiap kaget. Apa maksud semua ini? Mengapa Namjoon begitu tiba-tiba mengatakan hal yang sulit dicerna akal sehat Yoongi?
Jangan lari dan menghindar? Bukankah Namjoon yang selama tujuh tahun ini pergi dan perlahan menghilang dari hidup Yoongi?
“Kau bicara apa? Aku sama sekali tak mengerti. K-kau menyukaiku? Jangan lari dan menghindar, memangnya siapa yang lari dan menghindar? Bukankah itu kau?” Yoongi bertubi-tubi melayangkan pertanyaan yang mengganggu di otaknya.
“Hyung,” Namjoon menatap lekat-lekat netra jernih Yoongi. “Kau menerima surat itu, 'kan?” Raut wajah Namjoon berubah menjadi lebih pucat dan panik.
“Surat apa?” Yoongi semakin tak mengerti dengan situasi ini.
“Tujuh tahun yang lalu, aku mengirim surat ke desa. Aku ingin mengatakannya langsung padamu tapi aku tidak punya keberanian yang cukup, lagipula Ibu selalu mengurungku untuk belajar dan les privat sepulang sekolah. Tidak ada waktu untuk mengunjungimu, Hyung.” Mata Namjoon mulai digenangi air mata di kedua pelupuknya.
“Tidak, aku tidak pernah menerima surat itu.” Yoongi menggeleng, ia semakin khawatir dan penasaran sebab Namjoon mulai berkaca-kaca.
“Oh sial, surat itu tidak sampai.” Namjoon menundukkan kepalanya lesu.
“Apa isi suratnya?”
“Itu … adalah surat cinta dariku. Jangan tertawa, aku tahu ini konyol dan mungkin hanya perasaan semu atau cinta monyet belaka. Tapi saat itu aku begitu menyukai dan mengagumi kau, Hyung. Bukan sebagai kakak dan teman, tapi sebagai sesama laki-laki. Aku tahu ini salah, tak seharusnya aku menaruh perasaan padamu. Kau sendiri selalu menganggapku sebagai adikmu. Maaf, Hyung.” Namjoon semakin membenamkan wajahnya ke bawah, menutupnya dengan kedua telapak tangan.
Yoongi tak tahu harus berkata apa, ia terdiam dan membeku mendengar pernyataan Namjoon barusan. Ia mencoba mengingat-ingat lagi apakah ia pernah menerima surat, tapi memorinya tak menemukan dan mengingat hal itu sama sekali. Mungkin kesalahan teknis membuat surat itu tidak bisa sampai ke desa tempat Yoongi tinggal. Namun, itu bukan hal yang paling penting sekarang, karena, apa yang barusan Namjoon katakan? Pemuda itu baru saja mengaku memiliki perasaan lebih dari sekedar teman dan kakak-adik terhadap Yoongi, perasaan cinta romantis dan non-platonis. Yoongi harus menjawab apa?
“Hyung,” panggil Namjoon, memecah keheningan yang terasa amat menyiksa diantara mereka.
“Sejak kapan?” Yoongi akhirnya mengeluarkan suara.
“Apanya yang sejak kapan?” Namjoon tak mengerti.
“Kau, suka padaku lebih dari sekedar teman dan kakak. Sejak kapan?” Yoongi mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk, menatap dengan intens kedua netra Namjoon yang masih berkaca-kaca.
“Entahlah. I fell in love with you and I’m still falling in love with you, Hyung. I don’t know how, I don’t know when, I don’t know where … but I did.” Namjoon menggenggam kedua tangan Yoongi yang berada di atas meja.
“Joonie …” Yoongi mengeja nama Namjoon dengan susah payah. Lidahnya kelu, sudah begitu lama sejak terakhir ia memanggil pemuda itu dengan nama panggilan kesayangannya.
“Ya, Hyung?” jawab Namjoon dengan sorot mata penuh harap akan terbalasnya perasaan cintanya.
“Aku tidak tahu ini perasaan apa, sejak kau mulai pindah ke sekolah dasar di kota, ada rasa tak rela untuk berpisah denganmu. Meski aku sendiri sering berkata dan mencoba menenangkan kau bahwa kita tetap bisa bertemu, jauh di lubuk hatiku, aku marah dan sulit menerima kenyataan itu. Bahwa kita akan berpisah. Aku—” Yoongi tercekat kala ingin melanjutkan kalimatnya.
“Hyung, pelan-pelan. Kita punya banyak waktu dan aku tak pergi kemana pun. Aku di sini, bersamamu.” Namjoon semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.
“Aku egois. Aku ingin kau hanya untukku seorang, tinggal bersamaku, bermain bersamaku, tidur bersamaku, selama mungkin. Aku tidak mau membagi kau dengan orang lain. Aku ingin kau menjadi milikku.” Yoongi mengatakannya dengan bergetar dan sedikit terisak. Semua emosi yang ia tahan selama ini tumpah ruah begitu saja. Ia tak peduli lagi, ia ingin egois satu kali ini saja. Sebab, terakhir kali ia menahan egonya, ia kehilangan Namjoon.
Keduanya kini nampak sangat rapuh dan sentimental, Namjoon menjadi orang yang berdiri pertama kali dan menghampiri Yoongi untuk memeluknya sekali lagi. Ia tak peduli jika semua pengunjung kafe melihat mereka.
“Hyung, aku milikmu. Dulu, sekarang, dan nanti. Aku milikmu seorang. Kalau kau menyebut ini sebagai perasaan egois. Aku pun sama, aku egois ingin memilikimu untukku seorang.” Namjoon membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Yoongi, masih mendekapnya dengan erat. Tubuh mungil Yoongi nyaris tenggelam dalam tinggi dan kekarnya tubuh Namjoon.
“Joon, aku masih sangat ingin memelukmu seperti ini. Tapi, kurasa orang-orang mulai menatap kita dengan tatapan aneh.” ujar Yoongi menyuarakan kekhawatiran dan ketidaknyamanannya. Ia bukan tipe orang yang nyaman dengan public display of affection alias pamer kemesraan di ruang publik.
Tawa Namjoon pecah dengan ringan, ia perlahan melepaskan pelukan eratnya, meskipun rasanya masih ingin berlama-lama mendekap hyung mungilnya. Mereka kembali duduk dan dipisahkan oleh meja kecil diantaranya, kemudian lanjut mengobrol sembari sesekali menyeruput minuman dan mencomot kentang goreng. Rasanya seperti kembali pada masa kecil mereka yang penuh kehangatan akan keberadaan dan kehadiran satu sama lain. Keduanya tak mau menukar hal ini dengan apapun lagi.
Suara telepon menginterupsi konversasi Yoongi dan Namjoon, pemuda yang lebih tua pun mengangkatnya.
“Ya, halo? Oh, tunggu sebentar.” Yoongi menahan ponselnya dan menjauhkan dari mulutnya. “Joon, dokter hewan tadi menanyakan nama anjing poodle yang kita selamatkan. Katanya harus punya identitas, setidaknya nama. Kau ada usulan nama?”
Namjoon nampak berpikir sebentar, “Bagaimana kalau Holly?”
Tanpa menjawab pertanyaan Namjoon, Yoongi buru-buru mengatakan pada sang dokter hewan, “Nama dia Holly, Dok. Ya, sama-sama, Dok. Terima kasih juga.” Telepon berakhir.
“Nama yang bagus.” ujar Yoongi dengan senyum manisnya.
“Padahal aku hanya sembarang mengucapkan.” Namjoon terkekeh kecil.
“Still, good.” timpal Yoongi.
Percakapan seru yang tadi sempat terhenti kini kembali dilanjutkan. Hal yang disadari Namjoon selama mengobrol dengan Yoongi adalah pemuda itu masih melakukan kebiasaan lamanya. Menggigiti kuku jarinya. Namjoon gemas ingin mengingatkan bahwa Yoongi harus segera menghentikan kebiasaan buruk itu.
“Hyung, kau masih melakukan kebiasaan burukmu. Menggigit kuku jari.” Ucapan Namjoon menghentikan aktivitas menggigiti jari yang tengah asik dilakukan Yoongi tanpa sadar.
“Oh? Aku tidak sadar ketika melakukannya.” Yoongi buru-buru menurunkan jarinya dari mulut.
“Daripada menggigit kuku, bagaimana jika mulutmu digunakan untuk menggigit sesuatu yang lain, Hyung?” Namjoon menyunggingkan senyum miring.
“Contohnya?” tanya Yoongi dengan polos.
“Bibirku.” jawab Namjoon dengan percaya diri, senyum miring di sudut bibirnya semakin tersungging tinggi.
“Kau—dari mana kau belajar berkata seperti itu?” Yoongi terpaku kaget. Joonie kecilnya, adik kesayangannya, kini baru saja melempar sebuah godaan sensual padanya.
“C’mon, aku sudah dewasa, hyung. Jangan lihat aku sebagai bocah kecil polos yang menurut dengan semua perkataanmu.”
Yoongi menghela napas kasar, sulit baginya untuk melakukan hal itu meskipun dari segi fisik Namjoon memang jauh lebih besar dan tinggi daripada dirinya.
“Okay. Aku akan mencobanya.” ujar Yoongi.
“Nah, bagus. Ayo sekarang kita pulang. Aku mulai bosan di sini.”
Yoongi tak menyangka jika keinginan Namjoon untuk segera pergi dari kafe tersebut adalah karena ingin memojokkan tubuh mungil Yoongi di jok mobil. Yoongi merasa kecil di bawah naungan Namjoon, jantungnya berdegup kencang kala Namjoon mempersempit jarak keduanya yang memang sudah sesak di dalam mobil yang tak begitu luas itu. Namjoon menangkup kedua sisi pipi Yoongi, menatapnya dalam-dalam.
“Hyung,” Napas hangat Namjoon menyapu wajah Yoongi. “I breathe you.” Tanpa menunggu reaksi dan balasan dari Yoongi, Namjoon mempertemukan bibirnya dengan bibir Yoongi dalam sebuah kecupan kecil yang terkesan malu-malu.
Perasaan euforia mendadak bergulung naik dari dasar perut Yoongi. Kalau kata orang-orang, perutnya sedang dihinggapi ribuan kupu-kupu. Untuk sesaat, Yoongi hanya berdiam, masih mencoba mencerna apa yang baru saja Namjoon lakukan dan katakana padanya.
“Jangan diam saja, Hyung. Balas.” Namjoon menuntut sebab tidak adanya reaksi dari Yoongi.
Yoongi tak tahu Namjoon menuntutnya untuk membalas apa, perbuatannya atau perkataannya. Akan tetapi lidah Yoongi terlalu kelu untuk mengucapkan satu silabel, maka pagutan bibir menjadi balasannya. Rasanya seperti menemukan candu bak nikotin kala keduanya melebur bersama dalam percumbuan intens itu. Kebutuhan akan oksigen lah yang memaksa keduanya mengakhiri pagutan. Napas saling terengah-engah layaknya baru saja menyelesaikan lari marathon beratus-ratus meter.
“Apa maksudnya, Joonie? I breathe you?” Yoongi menegakkan posisi duduknya setelah tadi bersandar dengan mengenaskan akibat himpitan dari Namjoon.
“I breathe you. It means I want to consume you; to make you part of myself. It sounds like something a lover would say.” jelas Namjoon dengan tatapan tak berkedip sedetik pun. Sibuk memandang wajah putih pucat Yoongi yang kini sangat kontras dengan semu merah di kedua pipi dan telinganya.
“I breathe you, too.” jawab Yoongi, kembali meraih Namjoon dalam ciuman yang lebih dalam dan menuntut.
Sore itu, di dalam mobil yang terparkir di depan kafe, dua sosok pemuda yang akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir—tengah berpagutan bibir dengan sinting seolah keduanya ingin merenggut inti sari kehidupan masing-masing, mengonsumsi dan membuat satu sama lain menjadi bagian dari diri mereka.
END
