Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of LOVE (zine)
Stats:
Published:
2021-06-14
Words:
2,450
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
13
Bookmarks:
1
Hits:
371

Retrouvaille

Summary:

Saat bersentuhan dengan air lalu memejamkan mata, tiba-tiba kesadarannya direnggut. Itu terjadi di luar kuasanya. Ia merasa ditarik menuju ruang hampa━kegelapan pekat menyesaki semua inderanya hingga rasanya seperti tercekik. Kemudian tubuhnya ditarik lagi, jatuh hingga ke dasar. Sangat menakutkan. Hampir seperti kematian.

Notes:

Retrouvaille:
(n.) the joy of meeting of finding someone again
after a long separation; rediscovery.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Shinobu tak bisa memahaminya. Saat bersentuhan dengan air lalu memejamkan mata, tiba-tiba kesadarannya direnggut. Itu terjadi di luar kuasanya. Ia merasa ditarik menuju ruang hampa━kegelapan pekat menyesaki semua inderanya hingga rasanya seperti tercekik. Kemudian tubuhnya ditarik lagi, jatuh hingga ke dasar. Sangat menakutkan. Hampir seperti kematian.

Akan tetapi, berikutnya terjadi dalam hitungan detik. Tiba-tiba ruangan itu mengerjap. Seperti ada yang menyalakan saklar. Cahaya menaunginya sejauh mata memandang. Tetapi tak berlangsung lama hingga ruangan itu diselimuti kabut putih yang perlahan memenuhi udara. Kabut itu tidak berbau, hanya terasa dingin. Tiba-tiba ia menyadari dirinya sedang terduduk di atas genangan air. Ia memukulkan tangannya ke air hanya untuk menemukan sensasi dingin yang sangat menggigit. 

Ketika mengerjapkan mata, ia melihat siluet punggung seorang pria. Ia tidak bisa memastikan apapun sebab kejadiannya berlangsung sangat cepat; ada suara-suara memanggil namanya. Gema suara itu terdengar pelan namun jelas. Berulang seperti bisikan yang rusak.

Kochou-Shinobu-Kochou-Shinobu

Siapa?

Ia ingin memastikan apakah itu semacam halusinasi atau apa pun, tetapi gagal karena suaranya tercekat. Kemudian, ia mendengar bunyi klik dan semua kembali dalam sekejap. Ia tersentak ketika membuka mata. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya berselimut air dingin dalam bathtub. Dinding kamar mandi membalas tatapannya kosong.

Rasanya seperti kembali dari pengalaman spiritual aneh.

Mulanya ia mengira itu karena faktor lelah akibat kegiatan sekolah.

Hingga kemudian, pengalaman itu kembali dalam bentuk mimpi. Dan semua terasa nyata, sebab ketika bangun ia masih bisa mengingat detailnya secara sempurna; kabut air yang dingin, suara jernih yang membisikkan namanya━seolah suara itu berasal dari jurang kerinduan yang sangat dalam.

Lalu siluet itu … Ia ingat rupa punggung tegap itu, tampak merana dalam kesepiannya sendiri. Entah bagaimana, sesuatu dalam diri sosok itu terasa familier di matanya.

Dan pengalaman itu mengingatkannya akan sesuatu. Seolah ada bagian dari dunia yang seharusnya diketahui, tetapi itu hilang darinya.

*

Shinobu merasa kacau saat berhadapan dengan Tomioka-sensei pada jam olahraga, lalu teringat mimpi aneh itu.

Ia sudah merasa cukup gila memikirkan mimpi itu, kemudian yakin dirinya benar-benar gila saat mengira Tomioka-sensei berhubungan erat dengan mimpinya. Namun, ia sendiri masih tidak mengerti. Apa maksudnya? Dan mengapa harus guru itu?

Tomioka-sensei … yang sejak pertemuan mereka enam bulan lalu━sama seperti pandangan (hampir) seluruh murid Kimetsu ketika mereka menatap tongkat pukulnya, meringis membayangkan benda keras itu melayang tepat di punggung, atau bahu, atau lengan. 

Tetapi ia yakin tongkat Sensei tak akan pernah mencapainya. Aura dingin milik tangan besi itu justru membuatnya tertarik━tapi seharusnya bukan dengan takaran ketertarikan yang seperti ini.

Mungkin mimpi itu berhubungan dengan reinkarnasi atau semacamnya. Akhirnya hanya itu kesimpulannya. Sementara ia berjuang meyakinkan diri sendiri, meski masih belum mengerti juga mengapa setiap mimpi itu berputar dalam benaknya, wajah Tomioka-lah yang muncul setelahnya.

Shinobu ingin sekali membuang pikiran itu, namun setiap kali niatnya menguat, kabut air itu menariknya kembali; ia dibawa menjelajahi mimpi lagi.

*

“Nee-san? Kau tahu sesuatu tentang reinkarnasi?”

Pertanyaan itu meluncur ketika Shinobu berkutat dengan busa sabun dan piring di wastafel.

Kanae, yang tengah menuangkan sisa sayuran dari mangkuk lalu menghangatkannya dalam panci, terdiam ketika ia mengamati punggung adiknya itu dengan tatapan tertegun.

Gadis yang lebih tua menjawab dengan ragu-ragu, “Ya. Singkatnya seperti kelahiran kembali. Itu terjadi karena sesuatu yang belum terselesaikan di masa lalu. Seolah kita dibawa hidup kembali untuk menebusnya.”

“Terdengar mudah ya?”

“Sama sekali tidak, Shinobu-chan. Bagaimana bila dalam kehidupan selanjutnya kita tidak membawa memori apa pun dari masa silam, padahal itu dibutuhkan untuk penebusan masalah kita?”

“Kau benar-benar mempercayainya, ya, Nee-san?”

“Oh, kau bertanya karena tidak percaya?” Kanae bergerak ke sisi Shinobu, meremas bahunya lembut. “Ada apa, Shinobu-chan? Mau berbagi cerita?”

Shinobu menggeleng tak yakin. “Tidak, aku percaya, tapi …”

Gadis yang lebih muda itu menoleh, menemukan tatapan hangat dari mata sang kakak, tertuju untuknya dengan cara yang masih sama. Dadanya bergetar oleh perasaan hangat. Tatapan itu … ia merasa pernah melihatnya di suatu ruang dan waktu yang berlainan.

“Tidak apa, Nee-san. Aku hanya ingin bertanya.”

“Yakin tidak ada yang lain?”

“Ya. Setelah mendengar darimu, aku jadi benar-benar percaya.”

“Kau bisa berbagi cerita denganku kapan pun, Shinobu sayang.”

“Kau memang baik, Nee-san. Terima kasih.”

*

Kemarin, entah mimpi yang keberapa. Tetapi Shinobu membawa ingatan itu pada jam pelajaran olahraga lagi.

Kejadian hari itu berlangsung di luar prediksi. Kelas olahraga dan Tomioka-sensei berdiri di depan lapangan dengan instruksi penuh omong kosong, dipatuhi oleh murid-murid yang berlomba dengan peluh mereka untuk menghindari pukulan tongkatnya.

Kali ini tujuan mereka adalah berlari menuju garis finish .

Shinobu bisa mendengar sorak-sorai teman-temannya berdering di telinga ketika langkah kakinya saling berlomba. Tiba-tiba dunia berputar dan ketika sadar ia merasakan nyeri menghantam lutut. Tulang keringnya berdenyut sakit. Ia tersandung dan jatuh.

Shinobu berusaha bangkit dan mencoba menopang beban tubuhnya dengan satu kaki. Ia hampir tidak percaya kekhawatiran yang ditampakkan oleh Tomioka-sensei ketika memeriksanya. Guru itu bersikeras membawanya ke UKS. Bahkan Sensei tak segan mengikatkan sapu tangannya di lutut untuk menahan pendarahannya.

Shinobu bisa merasakan puluhan pasang mata yang terbelalak dan raut wajah tertarik yang ditampakkan teman-temannya ketika Tomioka-sensei mengangkatnya.

Jantungnya berdebar keras merasakan lengan kokoh itu terselip di bawah paha dan menopang bahunya dalam sekali gendong.

Mungkin sebagai guru, Tomioka-sensei menaruh kekhawatiran khusus karena muridnya terluka.

Tetapi kemudian itu semua berlintasan. Kabut air, siluet punggung, dan suara-suara.

Semua usahanya gagal ketika ia mencoba memberontak agar diturunkan. Tomioka-sensei bahkan lebih keras kepala menahannya demikian hingga mereka memasuki ruang kesehatan. 

*

“Tomioka-sensei. Ya ampun, tadi itu berlebihan! Kenapa mesti menggendongku? Padahal aku bisa jalan sendiri.”

Tidak ada yang mengira, si guru galak yang hobi mengintimidasi murid dengan tongkat pemukulnya yang menyakitkan itu, akan bergerak menolong muridnya seperti ini. Terlebih murid perempuan. Oh, kalau itu murni khawatiran seorang guru, semoga saja tidak ada gosip apa pun yang tersebar karenanya.

Guru itu tampak mengerti isi pikirannya. “Aku benci membiarkan muridku yang terluka menanggung beban sendiri. Itu sudah kebiasaanku. Aku akan menolong siapapun yang terluka, entah itu kamu atau yang lain.”

Shinobu menekan tepi perban yang mengikat lututnya dengan jari-jemari. 

“Mungkin sesudah ini aku akan dibenci oleh para gadis karena sudah jatuh ke pelukanmu,” Shinobu tertawa tanpa humor.

Giyuu mengedikkan bahu. “Mana ucapan terima kasihmu?”

Shinobu memandangi nakas di samping ranjang. Sapu tangan putih yang ternoda merah gelap itu teronggok di atas nampan besi.

Shinobu tersenyum samar. “Ya, ya. Akan kubilang terima kasih saat mengembalikan sapu tangan nanti.”

*

Shinobu bermimpi lagi, tetapi ada yang berbeda. Kali ini sosok misterius dalam kabut itu memutar punggung. Seolah waktu melambat ketika akhirnya sosok itu menghadapkan wajah sepenuhnya. Menatap langsung ke arah matanya.

Shinobu tercengang. Kabut memburamkan pandangan tetapi wajah itu dapat dikenalinya begitu mudah. Sangat jelas dan terang.

Tomioka-sensei.

Ada tatapan kosong, lalu tetes air mata jatuh berlinang.

Seketika, jantungnya berdenyut sakit.

*

Shinobu sangat yakin, sementara keberaniannya sudah terkumpul ketika ia menyeret paksa guru olahraganya ini menuju halaman belakang sekolah. Di bawah rindang pohon, mereka berhadapan; Tomioka sebagai pihak yang diinterogasi.

Ingatan Shinobu masih sejelas tadi malam. Yang tidak disangka adalah jawaban yang langsung didengarnya. Seyakin itu.

“Ya, aku tahu itu. Reinkarnasi,” kata Tomioka. “Dan aku tahu kaulah orangnya.”

Shinobu tertegun. Ia mengerjapkan mata.

“Apa??? Selama ini Anda bermimpi duluan dan sudah mengetahuinya tapi tidak mengatakan apa pun?”

Jelas Tomioka-sensei tidak berbohong. Shinobu dapat mengenali kejujuran itu di matanya━dia juga tidak tampak terkejut, meski sebelumnya sempat melempar tatapan bingung━seolah ini adalah penghujung seribu tahun penantiannya.

Pria yang lebih tua itu menjawab dengan anggukan. “Ya. Tapi awalnya itu bukan mimpi.”

“Bukan mimpi?”

Tomioka menggeleng. Tiba-tiba wajahnya berubah dengan ekspresi lembut dan tatapannya sendu.

Shinobu tak luput mencermati mata biru itu ketika menatap lurus ke belakang melewati bahunya.

“Apakah itu sama seperti saat aku tak sengaja mengantuk saat berendam dalam bathtub ?”

Ketika Shinobu menoleh mengikuti arah pandang gurunya, ia melihat kupu-kupu, melayang rendah melintasi rumpun bunga violet di sisi pohon. Kupu-kupu itu memiliki sayap biru keunguan yang berkilau di bawah sinar matahari.

Pandangan Shinobu kembali ke wajah gurunya.

Lelaki itu mengangguk. “Itu seperti medium, Shinobu. Seperti air yang mengantarkanmu memasuki mimpi itu. Medium yang kumiliki adalah kupu-kupu.”

Shinobu menoleh lagi. Kupu-kupu itu hinggap di salah satu kelopak bunga.

“Anda mendapat bayangan itu saat melihat kupu-kupu?”

“Ya. Itu dulu saat aku seusiamu. Awalnya aku berusaha mengabaikannya.”

“Tapi bayangan ku terus datang menghantui Anda?”

Tomioka mengangguk. “Kau lihat kupu-kupu itu? Mulanya aku sangat kesal karena dia selalu terlihat di mana-mana. Dan sensasi mengambang dalam dunia bayangan itu terus mengikutiku setiap aku melihatnya berada di dekatku.”

“Kapan tepatnya Anda yakin kalau aku adalah orangnya?”

“Sama sepertimu. Mimpi saat tidur nyenyak.”

Gejolak rasa sakit tiba-tiba menghantam dadanya. Shinobu bahkan belum memperoleh ingatannya kembali, tapi pria ini, mungkin saja sudah menemukan memorinya secara utuh. Kakinya gemetar. Ia menundukkan kepala, berusaha menghindari kontak mata.

“Jadi, kenapa Anda tidak mengatakan apa pun, bahkan saat menolongku kemarin?”

Tangan Shinobu terjalin di belakang punggung. Ada sapu tangan putih yang terlipat di antara jari-jemarinya.

Terdengar helaan napas kasar sebelum pria itu berkata, “Aku tidak tahu bagaimana caranya, Shinobu. Sebab itu adalah rasa sakit. Kamu juga merasakannya bukan? Saat potongan demi potongan ingatanmu kembali, itu semua datang seiring rasa sakit.”

Tomioka-sensei sudah berbohong.

Tetapi bahkan Shinobu kehilangan kata-katanya sendiri ketika ia mengulurkan sapu tangan kepada gurunya tanpa mengangkat kepala━masih enggan melakukan kontak mata.

“Terima kasih sapu tangannya, Sensei.”

Setelah sapu tangan itu berpindah tangan, Shinobu memaksa kakinya berlari pergi.

*

Kemudian ingatan itu menghampirinya sepotong demi sepotong. Bukan seperti air yang mengalir tenang dari tempat yang rendah, melainkan berwujud gemuruh badai, atau arus sungai yang sangat deras; menghantam segala sisi. Menghantamnya dengan rasa sakit yang luar biasa.

Ia ingat seluruhnya; nichirin, bunga wisteria, pasukan pembasmi …. Berlanjut ke hal-hal yang spesifik; iblis, darah, pembantaian, kematian, kesedihan, kesendirian, dan kepalsuan. Lalu ada babak baru di mana ia bertemu dengan wajah-wajah baru, menjadi pilar pasukan━dan menjadi dekat dengan seseorang. Kilas balik itu kadang berupa cahaya senja dalam secangkir teh matcha, atau selarik senyum di atas mangkuk salmon daikon, atau juga malam berhias kerlip kupu-kupu, hingga pelukan hangat yang teriring janji rahasia. Kemudian, memorinya melompat menuju sesuatu yang tampak seperti lubang hitam; dipenuhi kegelapan. Ada tawa hinaan yang menjijikkan, lalu rasa sakit, amarah, darah, darah, darah, dan kematian ....

Shinobu menjerit, tetapi jeritan frustrasinya tertahan dalam diam. Seluruh kegelapan memorinya tersimpan rapat.

Ia membolos di jam pelajaran olahraga dengan cara menyelinap ke UKS.

Fakta bahwa Tomioka- sensei adalah penyandang predikat guru paling galak sejagat Kimetsu Gakuen , tidak menciutkan nyali. Keengganan bertemu muka dengan guru itu jauh lebih besar. Ia menunggu peringatan hukuman yang mungkin akan dijatuhkan padanya, namun  hingga dua minggu berturut-turut, ia masih aman bersembunyi.

Apakah Tomioka-sensei paham mengapa aku menghindarinya?

Shinobu menarik napas lelah ketika ia berbaring dalam bilik ruang kesehatan. Ia hanya memejamkan mata tanpa niat tidur.

Cukup waktu tidurnya menjadi mimpi buruk panjang yang membawa memori masa lalunya yang menyakitkan. Harus ada sesuatu yang dilakukan agar lepas dari jerat kepedihan ini atau ia akan mati karenanya.

Tapi ia tidak boleh mati sebelum melunasi apa pun itu hutang masa lalunya di dunia ini.

Tetapi hutang yang seperti apa? Shinobu bahkan belum mengingatnya secara spesifik.

*

Terhitung minggu ketiga semenjak Shinobu tidak lagi hadir di jam pelajaran olahraga.

Hari ini kelasnya mengadakan karyawisata singkat mengunjungi kebun botani terbesar di wilayah mereka.

Shinobu begitu bersemangat mengikuti karyawisata. Ada beberapa spesies tumbuhan dan bunga langka yang sangat ingin ditelitinya. Terlalu tenggelam dalam riset dan pengumpulan data membuatnya terlena. Ketika sadar, ia sudah terpisah dari rombongan.

Shinobu tengah berjalan-jalan di kanopi pohon wisteria ketika tersadar dirinya tersesat sendirian.

Kelopak bunga wisteria itu bergerombol menjuntai indah di atas kepala. Ada nostalgia aneh bergelora dalam hatinya ketika angin bertiup mengayunkan dahan dan kelopak bunga. Ini adalah aroma dari masa lalu.

Shinobu berputar-putar, merentangkan tangan dengan gembira. Kenapa mereka tidak mengatakan padanya ada tempat seindah ini?

Akan tetapi, ketika ia hendak mengalihkan pikirannya ke masa kini━berniat mencari teman-temannya untuk bergabung bersama mereka, langkahnya terhenti. Tomioka-sensei berdiri menatapnya, sama terkejut seperti dirinya.

Satu detik berjalan lambat. Shinobu ingin berbalik arah, tetapi malah memutuskan untuk melangkah ke depan.

*

“Maaf, mengganggu waktumu.” Dengan canggung, Tomioka membuka obrolan. “Sepertinya kita terpisah dari yang lain.”

Shinobu bahkan tidak tahu bagaimana guru olahraga itu bisa berada di sini, di waktu yang seharusnya menjadi jam karyawisata mereka.

Sekarang, hanya satu yang mengusiknya. Ia ingin mencari tahu.

“Berapa tahun Anda menahan rasa sakit itu? Seorang diri?” Shinobu bertanya.

“Delapan tahun, mungkin?” Tomioka menjawab. Dan cerita itu mengalir cepat.

“Aku yakin pasti akan menemukanmu, sejak mengenali wajahmu dalam mimpi itu. Maka aku terus menunggu. Tapi saat upacara siswa baru itu, tidak terpikir bahwa ini adalah cara kita bertemu. Melihat orang dari masa laluku akan jadi muridku.”

“Pasti itu jauh lebih menyakitkan, bukan?” komentar Shinobu.

“Ya. Itu memang menyakitkan. Tapi kau tak perlu cemas, Shinobu. Sebab memori itu akan kembali padamu satu-persatu.”

Kemudian ada hening yang canggung. Shinobu cukup lega bahwa Sensei belum mengatakan apapun soal hukuman karena membolos.

Tiba-tiba perhatian mereka berdua tersita oleh seekor kupu-kupu yang melayang tinggi sebelum hinggap di kelopak bunga. Shinobu mengenali corak sayap kupu-kupu itu dalam warna biru keunguan. Sama seperti kemarin.

“Aku sudah ingat hampir semuanya, Sensei.”

“Benarkah?”

“Benar,” Shinobu menjawab. “Aku tahu dengan apa kita terhubung, dan aku ingat janji yang kurahasiakan dari Anda. Karena janji itu terkubur hingga kematianku tanpa ada kesempatan untuk mengatakannya.”

“Kalau begitu, ini waktumu?”

Shinobu tertegun ketika ia memberanikan diri menatap matanya. Sensasi itu sama seperti saat dalam dunia kabut air.

Itu adalah sepasang biru jernih yang menyimpan kedalaman lautan. Mata yang mencari jalan untuk menembus jendela matanya.

Hujan nostalgia menyergap secepat ia mengenalinya. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika ia membalas tatapan itu dengan sebuah pemahaman.

“Pasukan pembasmi iblis. Anda ingat, Sensei?”

Tomioka mengangguk lemah. “Kita berdua adalah pilar mereka.”

“Aku mengemban misi khusus membunuh iblis bulan itu …”

“Kau merencanakan itu tanpa bicara denganku.”

Shinobu terkejut. Mereka sama-sama ingat seolah kejadiannya baru kemarin, dan bukan setengah abad yang lalu.

“Maaf, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang perlu kita bicarakan bersama.”

“Sekarang, apa kau ingin menceritakannya?”

Ada tiga puluh detik keheningan yang penuh pertimbangan. “Yang ingin kuceritakan adalah bahwa aku benar-benar menyesal, Tomioka - san.

Shinobu tertegun dirinya berani mengucap panggilan itu (bukan Sensei lagi). Untuk sesaat ia khawatir gurunya akan marah. Tetapi kemudian jawabannya adalah perwujudan semua penantiannya.

“Kalau begitu, maukah kau memperbaikinya?”

“Aku ingin. Tapi aku khawatir tidak bisa menepatinya lagi.”

“Itu cukup mudah. Hanya … tetaplah berada di sini, Kochou.

Shinobu mengenali panggilan itu. Jadi ketika ia menemukan kerinduan itu tercermin di mata birunya yang jernih, ia benar-benar ingin jatuh dalam pelukan gurunya.

Ia mengangguk. Atau ia yakin dirinya mengangguk. Sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk sekadar menyuarakan: ‘Ya, mungkin aku bisa berjanji.’ Kemudian ada hentakan lembut. Lalu kehangatan lain menempel di bibirnya. Ada aroma mint dan rasa manis yang membuatnya meleleh; mengisi penuh perasaannya. Shinobu tidak butuh mengangkat tumitnya sebab lelaki itu yang menundukkan kepala untuknya.

Shinobu ingin bertahan dalam genggaman momen ini; menikmatinya. Irama seindah kepak sayap kupu-kupu yang menari bersama ayunan kelopak bunga. Sebab Tomioka adalah semua air matanya; dunianya yang pernah hilang itu. Kini setelah menemukannya, ia berjanji tidak akan pernah melepaskannya.

Notes:

Note: Ini adalah potongan fanfiksi persembahan untuk Fanzine Giyushino & Sanekana yang dibuat tahun lalu.
@gysnb_snkn_zine

Series this work belongs to: