Actions

Work Header

Miracle in Disguise

Summary:

Bertahun-tahun hidup di dunia, bekerja menjadi pegawai maupun sorcerer, bertemu dengan berbagai macam curse dan orang semacam Gojo tidak membuatnya siap dengan keadaan seperti ini. Benar-benar di luar nalar. Jika tidak ingat harga dirinya mungkin Nanami sudah membenturkan kepala ke tembok terdekat. Dia akan lebih senang untuk menghadapi special grade curse dibandingkan harus mengahdapi Yuuji dan Megumi dalam bentuk balita.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Nanami memijat keningnya. Bertahun-tahun hidup di dunia, bekerja menjadi pegawai maupun sorcerer, bertemu dengan berbagai macam curse dan orang semacam Gojo tidak membuatnya siap dengan keadaan seperti ini. Benar-benar di luar nalar. Jika tidak ingat harga dirinya mungkin Nanami sudah membenturkan kepala ke tembok terdekat.

 

Gojo mengirimkan ketiga murid kelas satu untuk menginvestigasi keanehan di sebuah area dekat stasiun yang sudah lama terbengkalai. Tiga remaja. Seharusnya tiga remaja itu kembali. Bukan dua balita dan satu remaja.

 

Gojo, yang Nanami pikir akal sehatnya sudah benar-benar hilang, bukannya mencari tau apa yang terjadi, malah sibuk memfoto Yuuji dan Megumi— setidaknya versi balita dari mereka, dan sesekali mengerang dramatis, mengatakan betapa lucu kedua muridnya itu.

 

Nanami melihat ke arah Nobara yang hanya memandang Gojo dengan tatapan aneh. Setelah membawa kedua balita itu, Nobara langsung menjauh dan berkata bahwa dia terlalu cantik untuk mengurus dua balita yang sebelumnya adalah teman sekelasnya.

 

Menghela napas, Nanami berterimakasih kepada Nobara karena telah menyelesaikan misi dan membawa kedua temannya dengan selamat, meskipun dalam wujud lain. Nanami menyuruh Nobara untuk beristirahat dan mengatakan bahwa akan segera memberi tahu jika ada perubahan terhadap kedua temannya itu.

 

Nobara sekali lagi melihat ke arah Gojo yang masih sibuk memfoto Megumi dan Yuuji dari berbagai sudut, mengernyitkan dahi, lalu menundukkan kepala, pamit kepada Nanami. Dia pikir, Nanami bisa dipercaya untuk mengurus kedua temannya dan Gojo.

 

Megumi dan Yuuji duduk di sofa, Megumi terlihat bingung dengan tingkah Gojo, sedangkan Yuuji hanya tertawa sambil bertepuk tangan. Senang mendapatkan perhatian dari Gojo.

 

Nanami tidak menyangka akan datang hari dimana dia harus mengurus dua balita— tiga jika menghitung Gojo karena laki-laki itu sama sekali tidak seperti orang dewasa di mata Nanami.

 

“Gojo-san, saya kira kita harus mencari tau informasi mengenai ini semua agar Yuuji dan Megumi dapat kembali seperti semula” Megumi dan Yuuji yang mendengar Nanami berbicara mengalihkan pandangan mereka dari Gojo. Mereka berdua menatap Nanami sebelum akhirnya Yuuji kembali tersenyum dan merentangkan tangannya ke arah Nanami.

 

“Kenapaaa?? Mereka lebih lucu kayak gini tau.” Nanami menggendong Yuuji, sedangkan Gojo menggendong Megumi. Mereka masih memakai seragam yang dililitkan secara asal oleh Nobara.

Megumi menyandarkan kepalanya di bahu Gojo yang saat ini hanya bisa menahan diri untuk tidak berteriak melihat Megumi yang sangat menggemaskan.

 

“Itu tidak adil untuk mereka, Gojo-san. Mereka remaja, bukan balita.” Yuuji berusaha meraih kacamata Nanami yang dengan cepat dihentikan oleh si empunya.

 

“Untuk saat ini kita harus membeli keperluan untuk mereka seperti baju, susu, dan banyak lagi. Mereka tidak mungkin harus terus-terusan memakai baju yang dililit seperti ini.”

 

“Ohoo~ ayo kita belanja baju, Nanami! Nanti kita beli kostum binatang, baju bulu-bulu, selimut, mainan—” Gojo melangkah menuju pintu sambil menggendong Megumi dan terus meracau mengenai barang-barang yang akan dibelinya.

 

Nanami menghela napas, Yuuji yang melihat itu hanya menatap Nanami dan menepuk pipinya, memberikan dukungan kepada Nanami. Ya, dia butuh itu. Dukungan untuk menghadapi Gojo Satoru.

 

Mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan diantar oleh Ijichi. Satoru dengan sangat bersemangat mendatangi setiap toko, sesekali berteriak betapa lucunya Yuuji dan Megumi jika memakai baju yang dipilihnya.

Baru sebentar mereka di sana, tetapi Nanami sudah membawa lebih dari lima kantong belanja yang berisi pakaian dan mainan untuk Yuuji dan Megumi.

 

Yuuji menguap lucu dan mengerjapkan matanya sebelum menyandarkan kepala di bahu Nanami. Megumi sudah tidur lebih dulu di gendongan Gojo.

 

“Gojo-san, sepertinya kita sudah membeli lebih dari cukup mainan dan pakaian untuk mereka. Mereka sudah kelelahan. Barang-barang lain yang belum terbeli bisa kita pesan online atau minta Ijichi untuk membelikan.” Nanami menepuk-nepuk kepala Yuuji yang sudah memejamkan mata.

 

“Hmm oke. Gumi juga udah tidur. Tapi ganti baju mereka dulu ya? Masa tidur pake seragam dililit gitu.” Sebenarnya Nanami tau Gojo hanya ingin cepat-cepat melihat kedua muridnya itu memakai baju-baju bertema binatang yang dibelikannya tapi Nanami juga tidak ingin mereka tidak nyaman saat tidur karena memakai seragam.

 

Mereka mengganti pakaian Yuuji dan Megumi di toilet. Keduanya tidak terbangun selama proses penggantian baju itu. Sepertinya mereka berdua benar-benar kelelahan.

 

Tidak lama, pakaian mereka sudah digantikan dengan onesie bertema anjing untuk Megumi dan beruang untuk Yuuji, lengkap dengan telinga hewan yang ada di tudungnya.

 

Lagi-lagi Gojo menahan teriakannya dan memfoto mereka dari segala arah.

 

Nanami buru-buru menggendong Yuuji dan Megumi di kedua tangannya, lalu pergi meninggalkan Gojo dengan tas-tas belanjaan mereka.

 

“Oi! Nanami!! Jangan curaaaang” Gojo berbisik setengah berteriak sebelum mengambil semua tas belanja dan melangkahkan kaki menyusul Nanami.

 

Perjalanan pulang cenderung hening. Hanya terdengar musik dari radio mobil yang diputar dengan volume kecil menyisakan dengungan konstan dan irama yang tidak bisa Nanami tangkap.

 

Kali ini Megumi tidur di pelukan Nanami, sedangkan Yuuji tidur di pelukan Gojo. Sebenarnya sebelum ini Nanami mencoba memindahkan Megumi kepada Gojo, tapi cengkraman anak itu pada kemejanya sangat kuat dan untuk meminimalisir balita yang menangis karena terbangun, Gojo akhirnya mengambil Yuuji dan membiarkan Megumi dengan Nanami.

 

Sesampainya mereka di apartemen Gojo (Kenapa ke apartemen Gojo? Karena apartemennya masih di kawasan Jujutsu High tentunya.), mereka meminta Ijichi untuk membawakan barang-barang masuk dan menaruh kedua balita itu di tengah kasur dengan bantal di kedua sisi mereka sebagai penjagaan agar mereka tidak terjatuh.

 

Nanami menatap Megumi dan Yuuji lama sebelum mengusap kepala mereka lalu menyusul Gojo yang telah lebih dulu berada di ruang tengah.

 

Gojo sedang memilih barang-barang yang mereka butuhkan di internet karena mereka tidak tau sampai kapan Megumi dan Yuuji akan menjadi balita.

 

Nanami duduk di seberang Gojo dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Belum satu hari tapi rasanya dia sudah menua sepuluh tahun lebih cepat.

 

Menutup mata, tanpa sadar Nanami tertidur.

 

Entah sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara yang familiar dan gelak tawa anak kecil.

 

Saat ingin kembali ke alam mimpi, dia dikagetkan dengan beban yang ada di atas perutnya. Beban itu melompat-lompat kecil membuat Nanami mengerang dan membuka matanya.

 

Saat membuka mata dia disambut oleh Yuuji yang sedang tersenyum lebar, masih dalam bentuk balita dan sedang duduk sambil melompat-lompat kecil di atas perutnya.

 

Oke, sudah cukup. Meskipun Yuuji terlihat berusia 2-3 tahun, tetapi dia balita yang cukup berisi. Nanami mengangkat Yuuji, membenarkan duduknya lalu mendekap balita berambut merah muda itu. “Gimana tidurnya, Yuuji?” Nanami mengelus-elus punggung anak itu. “Nanamin!” Yuuji menjawab dengan sedikit meneriakkan namanya. “Hmm iya. Saya juga.”

 

Nanami bukanlah tipe orang seperti Gojo yang akan mengubah cara bicaranya menjadi diimut-imutkan jika berbicara dengan anak kecil. Menurutnya anak kecil harus diperlakukan seperti orang dewasa. Perbedaan ukuran tidak berarti mereka mempunyai kapasitas intelijensi yang rendah.

 

Dia melihat Gojo yang sedang memangku Megumi di sofa seberang. Gojo terlihat mengoceh panjang lebar entah mengenai apa, sedangkan Megumi kecil hanya memfokuskan pandangannya ke arah televisi.

 

Nanami mengalihkan pandangannya ke arah tv, penasaran dengan apa yang bisa menangkap perhatian balita berambut hitam itu.

 

Ah, pantas saja. Gojo pasti mengganti channel tv menjadi nat geo saat Nanami tertidur.

Megumi terlihat sangat mengagumi binatang-binatang yang muncul di acara itu dan sesekali merentangkan tangannya, mencoba menggapai binatang itu.

 

Lucu sekali, bagaimana Megumi yang biasanya menyembunyikan segala ketertarikannya sekarang dengan sangat terbuka menunjukkan kesukaannya dengan binatang.

 

Bibir Megumi mengerucut dan pipinya digembungkan saat sadar dia tidak akan bisa menggapai binatang yang hanya ada di televisi itu.

 

Gojo menahan tawa. Tangannya gemas ingin mencubit pipi muridnya itu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya. “Gumi, Gumi mau ketemu sama Tuan Singa, Tuan Beruang, sama yang lain gak?”

 

Megumi seketika langsung menolehkan kepalanya menatap mata Gojo yang tertutup kacamata hitam. “Gogo kenal?”

 

Gojo menggigit bibirnya. Ya ampun, Megumi menggemaskan sekali. Dia jadi ingin menggigit pipinya yang bulat itu.

 

“Gak sih, tapi Nanami kenal.” Mendengar perkataan Gojo, Nanami sontak menolehkan kepalanya, mengangkat sebelah alis, menanyakan maksud dari perkataan Gojo.

 

Megumi kini sudah menengok ke arah Nanami, melihat pemuda berambut pirang itu dengan mata hijau besarnya. “Namami, mau.”

 

Nanami tiba-tiba merasa kerongkongannya kering. Dilihat dengan tatapan penuh harap seperti itu oleh anak semenggemaskan Megumi, bahkan dia yang terlihat kaku dan serius bisa luluh juga. Yuuji di pangkuannya asik memainkan kancing kemeja Nanami, tidak menyadari kebimbangan yang sedang di hadapi si pemuda.

 

“Mau apa, Megumi?” Nanami mencoba bertanya kepada Megumi. Berharap dia salah tangkap dan Megumi hanya ingin barang-barang seperti boneka yang berhubungan dengan binatang-binatang itu.

 

“Mau ketemu Tuan Singa sama teman-temannya.” Nanami menghela napas. Gojo sendiri sekarang tidak bisa menahan tawanya. Lucu sekali melihat adik kelasnya yang selalu serius dan terkesan dingin itu tidak berkutik di bawah tatapan Megumi kecil.

 

Baru saja Nanami ingin menjawab Megumi bahwa tidak, dia tidak mengenal Tuan Singa dan teman-temannya, Gojo tiba-tiba menghentikannya. “Nanamiii, gak boleh loh hancurin imajinasi anak-anak.”

 

Sial. Gojo pasti sengaja menjebaknya di situasi seperti ini.

 

Nanami memang tidak menyukai hal-hal yang berbau imajinasi. Dia lebih suka mengatakan fakta dan realita, tapi di sisi lain, dia ingin mempertahankan kepolosan anak-anak ini selama mungkin. Meskipun mereka sebenarnya sudah melewati fase ini dan menjadi remaja, tetapi dia ingin melindungi mereka dari kejamnya dunia selama mungkin. Itu tugasnya sebagai orang dewasa.

 

“Nanti….. coba dihubungin dulu ya Tuan Singa sama teman-temannya. Mungkin kalau sekarang mereka sibuk.” Nanami tidak suka berbohong, tetapi dia lebih tidak suka melihat ekspresi Megumi yang akan hancur jika dia menolak keinginannya.

 

“Janji?” Megumi memandang Nanami curiga. Dia takut Nanami berbohong dan tidak menghubungi Tuan Singa dan teman-temannya.

 

Setelah puas dengan anggukan Nanami, Megumi kembali menonton tv yang sekarang sedang menampilkan hewan lain.

 

Gojo mengangkat Megumi dari pangkuannya dan menaruh balita itu di sofa. Gojo kemudian berjalan ke arah Nanami dan berbisik di telinganya. “Nanti kita bawa aja Megumi sama Yuuji ke kebun binatang buat ketemu Tuan Singa dan teman-temannya.”

 

Gojo mengambil Yuuji dari dekapan Nanami lalu kembali duduk di samping Megumi. Menonton acara yang menampilkan hewan-hewan liar bersama-sama.

 

Nanami kembali menghela napas dan mengusap wajahnya lelah. Dia benar-benar harus segera mencari cara agar Yuuji dan Megumi kembali normal. Dia merasa lebih baik dia menghadapi special grade curse daripada harus menghadapi kedua balita lucu yang tatapannya membuat Nanami tidak berdaya.

 

Baru saja Nanami mengalami panik secara internal memikirkan bagaimana dia harus membawa dua balita dan satu Gojo ke kebun binatang, tiba-tiba dia merasakan aura special grade curse  disusul dengan ketukan beberapa kali di pintu apartemen Gojo.

 

Nanami melihat ke arah Gojo yang sempat menegang sebelum akhirnya kembali rileks dan menyuruh Nanami untuk membukakan pintunya.

 

Nanami mengambil senjatanya yang tergeletak di samping lemari di ruang tengah. Posisi siap melancarkan serangan maupun menangkisnya jika seseorang— atau sesuatu di balik pintu memberikan perlawanan.

 

Nanami membuka pintunya dan langsung dihadapkan dengan special grade curse yang mengaku sebagai kakak dari Itadori Yuuji. Choso.

 

“Mana Yuuji?” Choso menatapnya datar dan dibalas oleh Nanami dengan tidak kalah datar.

 

Ini akan menjadi malam yang panjang.