Actions

Work Header

among the stars

Summary:

Kali ini, ia berhadapan langsung dengannya. Chifuyu merasa sesuatu yang panas merambat di wajahnya saat satu tangannya terulur untuk memberikan kopi kepada lelaki itu.

”... Minumlah,” katanya, tersenyum singkat sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Setidaknya agar kau merasa hangat.”

Butuh beberapa lama hingga akhirnya tangan lelaki itu terangkat (Chifuyu sedikit melotot ketika mengetahui telapak tangannya lebih besar dari miliknya), mengambil kopi yang ada di genggamannya.

”... Terimakasih.”

Pelan sekali. Hampir disamarkan oleh suara hujan, namun Chifuyu masih bisa mendengarnya.

Singkatnya, Keisuke adalah bintang; dan Chifuyu ingin sekali menggapainya.

Namun ia terlalu jauh.

Notes:

Pertama-tama terimakasih kepada Tuhan YME (anjrot sudah macam pidato sj) karena bisa menyelesaikan fanfic yg luar biasa panjang ini... Ga nyangka juga bisa ampe +10k, jadi moga kalian ga bosen bacanya ya :')

Fanfiction ini didedikasikan untuk Tokrev Fanwriter Week, hari kedua dengan prompt angst: sickness. Happy reading.

All characters are belong to Ken Wakui. I just own the idea.

Biar ga bosen >>>

Work Text:


 

Pertama kali Chifuyu bertemu dengannya adalah saat hujan deras di minimarket.

Shift malam adalah pekerjaan tersulit bagi lelaki bersurai pirang itu, karena ada banyak tantangan yang akan menghampirinya selama menjalaninya. Mulai dari rasa kantuk yang mendera, pelanggan yang tidak sopan, dan masih banyak lagi. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya dengan inilah seorang Chifuyu Matsuno masih bisa bertahan hidup sendirian di kota besar seperti Tokyo—karena tidak ada lagi pekerjaan yang mau menerima bocah SMA selain tempat ini.

Sembari menopang dagu, iris birunya memperhatikan tetes hujan yang turun di balik kaca jendela. Deras sekali. Kilat menyambar cepat diikuti suara guntur yang menggema di telinganya. Mobil dan motor tampak berlalu-lalang di jalanan, berlomba-lomba agar cepat sampai ke tujuan. Chifuyu menghela napas, mengatur seragamnya, kemudian mengerutkan dahi.

Siluet tubuh seseorang mengalihkan seluruh atensinya. Ia berjongkok di depan minimarket, tidak peduli meskipun hujan mengguyur dan mungkin membasahi pakaiannya. Chifuyu bingung, sedang apa dia disana? Apa dia seorang gelandangan? Mengapa tidak berteduh di tempat lain?

Ada banyak pertanyaan yang terbersit di benaknya, namun Chifuyu memilih diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan sosok itu begitu asing baginya. Bagaimana jika ternyata dia seorang teroris atau anggota sebuah organisasi kejahatan? Jika benar, maka itu akan menjawab pakaian serba hitamnya dan sikap anehnya semalaman. Bagaimana jika saat ia menyapanya, sosok asing itu justru menculiknya? Itu mimpi buruk. Chifuyu tidak ingin namanya masuk di televisi sebagai seorang korban penculikan dan menyebabkan orangtuanya histeris.

Pada akhirnya, di tengah hujan, Chifuyu hanya duduk diam—sembari memperhatikan si tudung hitam yang masih setia di tempatnya hingga beberapa jam.

 


 

Hari berikutnya, Chifuyu kembali menemukan sosok asing itu.

Masih di tempat yang sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Ia berjongkok, memeluk kedua lututnya, melindungi diri dari gelapnya malam. Tidak hujan seperti beberapa hari yang lalu, namun udaranya sangat dingin hingga rasanya Chifuyu ingin pulang; bergelung dalam selimut dengan segelas susu hangat.

Pikirannya bercabang. Apa dia tidak kedinginan terus berada disana selama beberapa jam? Apa dia tidak lapar? Chifuyu melirik ramen cup di genggamannya, kemudian beralih pada orang itu. Apakah aroma ramen ini tercium hingga ke luar? Bagaimana jika dia menjadi lapar karena aroma makanan ini?

Sejenak rasa kemanusiaannya muncul. Chifuyu ingin sekali mengobrol dengannya. Mungkin saja dia selama ini hanya salah sangka, bukan? Bisa jadi dia ternyata anak seusianya yang bernasib lebih buruk darinya, seseorang yang tidak punya tempat tinggal atau nomaden.

Maka dari itu, Chifuyu memutuskan untuk mengambil sebuah ramen lain.

Ia beranjak dari tempatnya, pergi ke belakang untuk menyeduhnya. Chifuyu menaburkan satu-persatu bumbunya, kemudian menuangkan air hangat ke dalam cup. Lelaki itu menyambar sumpit di dekatnya, lalu perlahan kembali sembari membawa benda di tangannya.

“Permisi—”

Chifuyu tertegun.

Dia tidak ada.

Lelaki itu membuka pintu minimarket, memandangi tempat terakhir sosok asing itu berjongkok, kemudian celingak-celinguk ke segala arah. Namun ia tidak menemukan apapun seperti perawakan seseorang ataupun sebuah tudung hitam.

Pada akhirnya, dalam keheningan, Chifuyu menyeruput mi miliknya—dengan sebuah ramen cup lain yang tidak tersentuh.

 


 

Hujan.

Memandangi ponselnya, Chifuyu terkekeh membaca pesan-pesan yang dikirim oleh teman-teman kelasnya. Beberapa diantara mereka ada yang mengeluh perihal tugas yang amat banyak, ada yang membuat guyonan, hingga makian untuk guru mereka sendiri. Ia sendiri tidak banyak bergabung, hanya mengirimkan beberapa stiker dan emotikon jempol.

Kling

“Ah, selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?” sapa Chifuyu setelah seorang kakek tua memasuki minimarket. Ponsel ia letakkan kembali di meja, melayani pelanggan yang masuk dengan baik.

“Oh, itu,” Kakek itu mengetuk dagunya menggunakan jari, tampak kebingungan. “Apa... Kau punya tisu?”

Tersenyum, Chifuyu mengangguk. “Tentu saja, Kakek. Mau berapa?”

“Satu....”

Mempertahankan senyum cerah di wajahnya, Chifuyu membungkuk sopan setelah sang kakek menyerahkan beberapa lembar yen dan keluar dari minimarket, membuka payungnya lalu melangkah di tengah derasnya hujan. Lelaki itu menghela napas, hendak meraih ponselnya lagi—namun sesuatu menghentikan niatnya.

Dia lagi.

Chifuyu mengamatinya. Sosok itu datang beberapa detik setelah kepergian pelanggan terakhirnya, berjongkok di depan minimarket. Kedua tangannya terangkat, melakukan sesuatu yang ia yakini sebagai gerakan menggosok. Ia menggosok tangannya, lalu memeluk lututnya dan tenggelam dalam keheningan.

Terjawab sudah satu pertanyaannya, apakah orang itu kedinginan atau tidak.

Teringat insiden ramen cupnya beberapa waktu yang lalu, apakah kali ini kalau Chifuyu melakukan hal yang sama, orang itu akan kembali menghilang? Tapi tunggu, memangnya dia tahu jika Chifuyu ingin menghampirinya?

Lelaki pirang itu larut dalam pemikirannya, hingga sesuatu terbersit di kepalanya dan Chifuyu menarik napas dalam-dalam—membuka mulutnya dan bersuara.

“Hei!”

Sosok itu bergeming.

Apa suaranya teredam kaca? Atau derasnya hujan dan guntur meredam suaranya? Chifuyu kebingungan, namun ia memanggilnya sekali lagi.

“Hei, kau!”

Chifuyu menahan napas saat tudung hitam itu berputar, menampilkan sepasang mata kelam yang kini menatapnya lurus.

Jika gravitasi bisa menarik sebuah benda supaya benda tersebut tidak melayang, jadi apakah ini rasanya sebagai benda itu? Lelaki itu sama sekali tidak mengerti, namun ia seakan ditarik ke dalam kedua matanya. Sosok asing—yang ternyata seorang lelaki—itu masih menatapnya lekat, seakan hujan di luar sudah tidak menarik lagi baginya. Chifuyu menelan ludah, berusaha mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba terasa cepat.

“Kau...,” Ada jeda agak lama sebelum Chifuyu akhirnya melanjutkan, “Kau tidak dingin di luar? Ehm, maksudku, disana hujan sedangkan kau terus... Ehm, duduk disana selama beberapa jam....”

Lelaki itu masih diam, dan rasa malu menggerayangi Chifuyu bak kecepatan cahaya.

“T-Tunggu disitu!”

Chifuyu buru-buru beranjak dari posisinya, menyambar sebuah gelas dan menekan tombol pada mesin kopi otomatis yang ada di minimarket tersebut. Sesekali matanya bergerak mengintip eksistensi si lelaki asing, dan untunglah ia masih di tempat yang sama—balas memperhatikannya. Tergopoh-gopoh, Chifuyu membawa kopi hangat di tangannya, membuka pintu.

Kali ini, ia berhadapan langsung dengannya. Chifuyu merasa sesuatu yang panas merambat di wajahnya saat satu tangannya terulur untuk memberikan kopi kepada lelaki itu.

”... Minumlah,” katanya, tersenyum singkat sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Setidaknya agar kau merasa hangat.”

Butuh beberapa lama hingga akhirnya tangan lelaki itu terangkat (Chifuyu sedikit melotot ketika mengetahui telapak tangannya lebih besar dari miliknya), mengambil kopi yang ada di genggaman Chifuyu.

”... Terimakasih.”

Pelan sekali. Hampir disamarkan oleh suara hujan, namun Chifuyu masih bisa mendengarnya.

“Iya.” ujar lelaki pirang tersebut, mengadahkan tangannya sejenak, sebelum akhirnya menariknya kembali. “Ehm, kau harus segera pulang. Hujannya semakin deras.”

Hanya mengangguk. Lelaki itu tidak bersuara lagi sampai Chifuyu kembali masuk ke minimarket, duduk di kursinya seraya kembali memperhatikan gelagatnya.

(Chifuyu pulang saat langit mulai terang, tersenyum pada seorang pegawai lain yang baru sampai—lalu mengedarkan pandangannya pada sebuah objek di sebelah kanannya. Sebuah cup kopi.

Satu tangan Chifuyu terulur, mengambil dan kemudian menggoyangkannya.

Ringan. Senyum tipis terukir di bibir tipisnya, senang karena ternyata ia meminumnya.)

 


 

Chifuyu saat itu sedang asyik bertukar pesan dengan salah satu teman kelasnya (namanya Takemichi) ketika pintu terbuka, menampilkan sosok tinggi seseorang yang masuk ke dalam minimarket.

“Oh, selamat malam—”

Netra Chifuyu membulat, mengenali lelaki di depannya dari perpaduan jins dan jaket hitamnya (yang jangan-jangan tidak pernah diganti) serta sepasang bola mata berwarna abu-abu yang menatapnya lurus.

Beberapa minggu menghabiskan malam bersamanya, ini adalah kali pertama lelaki itu masuk ke minimarket. Chifuyu terkaget karena ternyata dia cukup tinggi—di luar ekspektasi tentunya, karena ia mengira lelaki itu hanya lebih tinggi satu sampai dua senti. Mereka menghabiskan beberapa menit terdiam satu sama lain, hingga akhirnya Chifuyu berdeham.

“Maaf... Kau mau beli apa?”

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia terlihat memperhatikan setiap sisi minimarket, hingga kedua matanya berhenti dan tertuju pada sebuah benda.

“Kopi.” ujarnya, pelan. “Apa aku bisa meminumnya lagi?”

“Oh, tentu saja.” Chifuyu mengangguk, menunjuk mesin di seberang dengan telunjuknya. “Kau bisa mengambilnya sendiri.”

”... Baiklah.”

Hening. Chifuyu bisa mendengar jika gerimis mulai turun. Semuanya seperti biasa, kilat yang menyambar dengan guntur yang menggelegar—namun kali ini, ia tidak sendirian. Manik birunya bergerak, di mana kini seseorang yang akhir-akhir ini menjadi bahan pikirannya berdiri.

Lelaki itu menyeruput kopi. Chifuyu mengamatinya. Satu tangan menggenggam gelas plastik tersebut, sedangkan satu tangan lainnya terbenam pada saku jinsnya. Kepalanya sedikit terangkat, iris kelamnya terpaku pada tetes air hujan yang berjatuhan dari langit. Dengan posisinya yang seperti itu, Chifuyu bisa melihat dengan jelas rahang lelaki tersebut. Garisnya tajam, tegas, dan maskulin. Butuh beberapa lama bagi Chifuyu untuk berhenti meliriknya, sembari menggelengkan kepala untuk menghapus hawa panas yang mendadak mengelilingi wajahnya.

Apa-apaan dia?! Memalukan. Chifuyu tidak mau lagi melihatnya diam-diam. Ia kini terlihat seperti seorang penguntit.

“Akhir-akhir ini hujan.”

Chifuyu terkesiap. Lelaki itu masih berdiri di tempatnya. “Ramalan cuacanya bohong. Katanya malam ini bintang akan terlihat. Padahal aku ingin melihat mereka.” gumamnya, kemudian beralih pada dirinya. “Menurutmu apa hujannya akan berlangsung lama?”

“Oh, ehm... Aku tidak terlalu tahu, sih.” jawabnya kikuk. “Tapi kalau aku tebak, hujannya akan lama.”

Suasana kembali sunyi. Lelaki itu tetap bergeming, sedangkan Chifuyu berusaha mengontrol jantungnya. Ketika mulut Chifuyu terbuka—hendak bersuara, ia terlebih dahulu bergerak, menghampirinya sembari merogoh sesuatu dalam saku celananya.

“Berapa?” tanyanya.

“Limaratus,” balas Chifuyu, mengambil beberapa lembar uang yang diberikan lelaki itu.

Ia hendak memberikan kembaliannya, namun sebuah suara tiba-tiba menginterupsi mereka.

”... Maaf,” Lelaki itu (sebagai sumber suara) menunduk malu, “Aku belum makan, jadi perutku berbunyi. Aku benar-benar minta maaf, sebaiknya aku segera—”

Chifuyu merapatkan bibirnya, susah payah menahan kekehan dari sana, namun gagal. Lelaki itu tergelak, kemudian ikut menunjuk perutnya.

“Aku juga belum makan,” katanya. “Mau makan ramen?”

Hujan membuat malam itu menjadi super dingin, namun entah mengapa, Chifuyu merasa hangat. Menyeruput kuah ramennya, ia melirik lelaki di depannya yang juga melahap makanan instan tersebut dengan rakus. Bibirnya membentuk senyum, kembali memakan ramen miliknya dengan cepat.

Kenapa, ya?

Mengapa Chifuyu sebahagia ini?

“Hei,”

Manik birunya terangkat, balas menatap lelaki di depannya dengan rasa ingin tahu yang terlihat jelas.

“Aku belum mengetahui namamu sama sekali.”

“Oh, iya, ya,” Chifuyu mengulum sumpitnya, lagi-lagi berusaha menghalau hawa hangat yang ingin memenuhi wajahnya. “Ah—oke. Aku Chifuyu. Chifuyu Matsuno.”

“Keisuke Baji.”

Baji.

“Senang bertemu denganmu, Chifuyu.”

Orang asing ini sekarang sudah punya nama. Baji.

“Aku juga, Baji-san.

 


 

Baji ternyata lebih tua darinya.

Chifuyu baru mengetahuinya setelah beberapa hari mengobrol dengan lelaki itu setiap malam. Dia setingkat diatas dirinya, sehingga harusnya lelaki itu belajar untuk ujian kelulusan. Namun faktanya, Baji memutuskan untuk berhenti sekolah. Chifuyu tidak tahu alasan pasti mengapa ia melakukannya, karena Baji tidak memberinya kesempatan. Ia akan mengganti topik, sehingga Chifuyu mau tidak mau harus mengikutinya.

Ia tinggal sendirian. Baji bilang, ia mengontrak sebuah kontrakan kecil. Tentu saja, uang sakunya yang pas-pasan menjadi faktor mengapa lelaki itu memilih kontrakan ketimbang sebuah apartemen. Kontrakan tersebut cukup terpencil, terletak jauh dari distrik—serta cukup sepi karena hanya diisi oleh lansia, beberapa keluarga, dan anak-anak kecil. Untuk sejenak Chifuyu begitu penasaran dengan tempat tinggalnya, membayangkan bagaimana mengunjunginya kelak.

Di siang hari, Baji akan menjadi pramusaji di sebuah kedai makan. Tentu saja karena lelaki itu tidak bersekolah lagi, ia tidak harus pusing-pusing memikirkan pekerjaan sekolah yang membuat kepala ingin pecah. Kedai itu berada tidak terlalu jauh dari sekolahnya, sehingga Chifuyu mencoba melihat dengan mata kepalanya sendiri.

(“Mau ke mana, 'sih?” Takemichi, teman sekelas sekaligus teman sebangkunya, mengerutkan dahi dengan raut bingung yang kentara. “Akhir-akhir ini kau selalu sibuk, ya? Bertemu siapa, tuh? Pacar?”

“Berisik.”)

Benar-benar seperti penguntit. Chifuyu merutuki rasa keingintahuannya yang besar ini.

Namun pada akhirnya—kakinya tetap melangkah, berhenti pada jarak beberapa meter, kemudian diam sembari memperhatikan. Bagaimana lelaki itu begitu ceria melayani pelanggan, bagaimana ia melangkah, bagaimana mereka tertawa karena guyonan yang dikeluarkan lelaki tinggi tersebut, serta bagaimana senyum di bibir itu merekah dengan indah.

Untung saja sejauh ini Baji tidak mengetahui aksi stalkingnya, ataupun melihat semburat merah yang kini menghiasi hampir seluruh pipinya.

Di malam harinya, Baji mengumpulkan barang bekas. Chifuyu sedikit khawatir karena lelaki itu tampaknya juga memiliki manajemen waktu yang buruk sepertinya, namun ia selalu menggeleng sembari mengatakan jika ia menikmatinya. Di daerah tempat tinggalnya, ada sebuah usaha yang membutuhkan barang-barang tersebut, sehingga Baji bersedia menjadi salah satu bawahannya. Ia akan mengumpulkan apapun yang bisa didapatkan di jalanan; seperti koran, botol air mineral, atau semacamnya. Akhir-akhir ini Baji menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, sehingga ia berteduh di depan minimarket tempat Chifuyu bekerja—menikmati hujan yang turun, sekaligus menarik perhatian si pirang bermata biru.

“Chifuyu.”

Itu Baji, melambai dari kaca jendela. Chifuyu meliriknya, memberi kembalian pada seorang siswa di hadapannya lalu membalas sapaan itu dengan senyum kecil.

Satu lagi, Baji ternyata berambut panjang. Chifuyu akan mengejeknya sebagai Rapunzel, yang menyebabkan lelaki tersebut balas protes karena apa yang disebutkan olehnya itu terlalu hiperbola. Helai hitamnya tampak halus, berkilat kecokelatan ketika diterpa sinar lampu. Terkadang Baji mengucirnya, persis seperti yang ia lihat di kedai. Ketika tertawa, lelaki itu terlihat begitu atraktif. Gigi taringnya akan mencuat dari belah bibirnya, sehingga Chifuyu merasa perutnya seperti diremas-remas.

Kenapa?

Chifuyu merasakan jantungnya berdegup kencang. Kenapa dia seperti ini?

Kali ini Baji menenteng sebuah karung. Melewati segerombolan siswa yang baru selesai berbelanja, senyum lelaki itu mengembang—membuat Chifuyu kembali berusaha mengontrol ritme jantungnya.

“Hari ini ramai?”

Menggeleng, Chifuyu merebahkan punggungnya pada kursi yang didudukinya. “Tidak terlalu, tapi aku rasanya ingin pulang.”

Baji terkekeh, mendekat pada lelaki bersurai pirang tersebut. Satu tangannya bertumpu pada tiang besi yang ada di depan kasir, setengah menyandarkan tubuhnya pada metal dingin itu. “Jangan begitu. Harus semangat. Kalau tidak bekerja, tidak dapat uang, 'kan?”

“Yah, begitulah.” Menghela napas, Chifuyu meregangkan tangannya, kemudian menunjuk karung yang masih setia di genggaman Baji. “Omong-omong, kau baru mau bekerja?”

“Iya. Lihat? Masih ringan.”

“Hati-hati, Baji-san. Aku dengar dari berita ramalan cuaca, hujan akan sering mengguyur kota. Kau harus selalu membawa payung, supaya tidak basah kuyup.”

“Kalau aku bilang padamu jika aku tidak memilikinya, apa kau mempercayainya?”

Chifuyu melotot, “Eh? Memangnya begitu?”

“Tentu saja.” Baji tersenyum, menatap lurus ke arah jalanan yang dilalui oleh beberapa kendaraan. “Kurasa itu tidak terlalu penting, jadi aku tidak memilikinya. Kalau hujan ya tinggal berlari ke emperan terdekat.”

“Yang benar saja?!” Ia tidak terima. “Mana bisa begitu! Kau harus menyediakan setidaknya satu payung! Bagaimana jika tidak ada tempat berteduh? Kau akan sakit, Baji-san!”

“Basah, ya habis itu mandi, 'kan?”

“Aku serius!”

Sekian kalinya dalam hari ini, Chifuyu mendengar gelak tawa Baji. Tawa lelaki itu mengalun merdu memenuhi minimarket, membuat suasana hening di sekitarnya pecah dalam sekejap.

Kalau tawa ini diputar secara on-loop, mungkin Chifuyu akan dengan senang hati mendengarnya.

“Tenang saja,” Tatapan itu kini beralih padanya. “Aku sudah terbiasa dengan semua itu.”

”... Baiklah.”

Deg.

Deg.

Pendingin ruangan mungkin menyebabkan ujung jemari Chifuyu membeku bak es, namun tubuhnya terasa membara.

“Terimakasih.”

“Iya?”

“Terimakasih sudah mencemaskanku, Chifuyu.”

Satu tangan menepuk surai blonde Chifuyu lembut, kemudian mengusaknya perlahan.

Deg.

“Aku pergi dulu, ya? Nanti aku kembali kalau selesai lebih cepat.”

”... Oke.”

“See you.”

Punggung itu menjauh, meninggalkan Chifuyu yang terdiam—berharap jika Baji tidak mendengar degupan jantungnya yang menggila.

Tangannya terangkat, menyentuh di mana terakhir kali telapak besar itu mendarat di pucuk kepalanya.

Hangat.

 


 

Baji tidak kembali lagi.

Chifuyu bingung, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif. Mungkin saja lelaki itu selesai terlalu malam sehingga ia tidak bisa datang ke minimarket. Memungut barang bekas itu begitu melelahkan, apalagi bagi seorang Baji yang bekerja dari siang ke malam. Mungkin saja ia terlalu lelah, hingga akhirnya memutuskan untuk langsung pulang dan tidur pulas.

Tapi....

Baiklah. Lain kali ia harus mengajak Baji untuk bertukar nomor telepon.

“Salam kenal, aku Hakkai Shiba.”

Lelaki itu bersorak dalam hati. Bosnya mengatakan jika Chifuyu memiliki satu rekan baru, dan malam ini ia melihatnya secara langsung. Namanya Hakkai. Rambutnya berwarna ungu, dengan potongan cepak dan sedikit ukiran melingkar, serta bekas luka di bibirnya—sempat membuat Chifuyu berpikir jika orang ini mantan preman. Tubuhnya menjulang, membuat ia sedikit iri karena ia tidak sepertinya.

“Aku Chifuyu Matsuno.”

“Ehm... Kau anak sekolah, ya?”

“Oh, iya...,” Chifuyu bertanya dengan hati-hati, “Apa kau juga masih siswa sekolah?”

Di luar dugaan, Hakkai tersenyum lebar—tampak begitu senang setelah mengetahui bahwa Chifuyu juga masih bersekolah. “Wah, benarkah? Aku sekolah di SMU Touman! Baru tingkat pertama sih, hehe. Tapi aku akan berjuang supaya bisa mendapat nilai tinggi!”

“Eh, begitu? Aku juga bersekolah di SMU Touman. Aku tingkat dua.”

“Oh, tingkat dua? Wah, kau ternyata senpaiku!”

Hakkai ternyata tidak seburuk yang ia kira. Diam-diam, Chifuyu meminta maaf pada lelaki itu karena sempat mengatainya mantan preman. Dia baik sekali. Katanya dia membantu kakak perempuannya, usaha laundrynya sepi akhir-akhir ini sehingga Hakkai memutuskan untuk ikut bekerja supaya kebutuhan keluarga mereka tercukupi.

“Omong-omong,” tanya Chifuyu di sela obrolan mereka. “Bibirmu kenapa?”

“Oh, ini?” Hakkai menunjuknya dengan semangat. “Waktu SMP aku melindungi kakakku yang diganggu teman sekelasnya. Kak Yuzuha sudah banyak melindungiku, jadi sudah seharusnya aku juga melakukan hal yang sama! Aku memukul mereka, lalu salah satu diantaranya menggores bibirku dengan pisau. Tapi tenang saja, ini luka kecil! Tidak seberapa dengan mereka yang masuk rumah sakit setelah kupukul.”

Chifuyu menarik permintaan maafnya. Anak ini sungguhan mantan preman.

“Baiklah! Jadi, ayo bekerja?”

Seperti biasa, minimarket selalu tidak terlalu ramai pada malam hari. Hakkai sesekali bersiul sembari mengetuk-ngetuk meja, lalu berdiri saat pelanggan masuk. Chifuyu tersenyum pada mereka, sambil sesekali melirik ke luar.

Baji tidak datang.

“Hei, Kak Matsu! Di mana letak bilik detergen? Aku mencarinya tapi terlalu banyak barang!”

“O-Oh, sebentar.”

Baji benar-benar tidak datang. Detik berganti menit, menit berganti jam, dan Chifuyu tidak menemukan eksistensi Baji di manapun. Rasa cemas memenuhi dirinya, namun lagi-lagi, Chifuyu berusaha tetap yakin.

Mungkin dia terlambat. Harusnya begitu.

Namun, hingga shiftnya selesai dan Chifuyu bergegas pulang di pagi buta—sosok Baji sama sekali tidak terlihat.

 


 

Hari ini Baji tidak datang.

Untuk yang kesekian dalam hari ini, Chifuyu mendesah frustrasi. Bola matanya sama sekali tidak lepas dari pojok di mana Baji biasanya berjongkok, namun batang hidungnya sama sekali tidak nampak. Apa yang terjadi? Tangannya terangkat untuk mengacak surai pirangnya kasar. Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa dia tidak datang lagi? Sebenarnya ada apa—

“Kak Matsu?”

”... Ya?”

“Itu, kau salah memberikan kembalian.”

“Oh.”

Hakkai mengerutkan dahi, menanyakan apa yang menyebabkan Chifuyu tidak bersemangat bekerja hari ini. Namun Chifuyu hanya menggeleng, berusaha meyakinkan rekannya tersebut.

Kemudian hening.

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat tigapuluh sembilan. Chifuyu memutuskan untuk meninggalkan meja kasir, meminta Hakkai untuk bertukar posisi dengannya selama beberapa saat. Lelaki itu melangkah menjauh, memilih merapikan barang untuk melupakan sosok Baji beserta kekhawatiran tak berujungnya. Cukup Chifuyu, cukup. Kau harus bekerja. Kalau terlalu banyak memikirkan lelaki itu, dia bisa gila.

Kling

“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?”

Ada jeda ketika pintu terbuka dan Hakkai bersuara. Aktivitas Chifuyu yang sedang menaruh sabun terhenti, kemudian menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas.

“Ehm, maaf... Apa Chifuyu Matsuno hari ini tidak bekerja?”

Deg.

“B-Baji-san!”

Chifuyu refleks berlari untuk menghampiri asal suara.

Baji. Lelaki itu datang.

Pertama melihatnya, tubuh lelaki itu menegang. Baji malam ini... Tampak kacau. Jaketnya tampak lebih kumal dari biasanya, dengan beberapa jejak pasir disana. Wajah lelaki itu dipenuhi luka lebam, serta plester yang tidak menempel sempurna disana. Baji hanya tersenyum lebar saat mengetahui ke mana arah mata Chifuyu memandang. Lelaki itu mengangkat satu lengannya santai, menyapa si pirang yang masih menatapnya lekat.

“Hei, Chifuyu.”

Tanpa ba-bi-bu, Chifuyu mengangkat tungkainya—menghampiri Baji dengan cepat.

“Apa yang terjadi padamu, Baji-san?!” sahutnya panik. “Kenapa banyak luka di wajahmu?! Lalu—astaga, kenapa ada di tangan juga?!”

“Haha, hanya masalah pekerjaan. Lagipula ini sudah kuobati dan tidak sakit—”

“Kenapa plesternya tidak tertempel dengan benar, hah?! Ini harus diganti yang baru! Hakkai, beri aku plester dan alkohol! Juga kapas.”

Hakkai di seberang melongo, “Aku?”

“Ya iya! Cepatlah!”

“Di mana?! Aku masih baru disini dan aku tidak tahu di mana letak alat-alat begituan—”

“Cepat, Hakkai!”

“Aduh, di mana?!”

“Hei, Chifuyu, aku tidak—”

“Duduk!”

Baji tidak bisa berkutik lagi saat Chifuyu menyeretnya, memaksanya untuk duduk dan diam.

Tidak ada yang bersuara lagi setelah itu. Perdebatan sudah berakhir dengan Hakkai yang dimarahi dan Chifuyu yang tergopoh-gopoh sembari membawa kotak P3K. Baji masih diam, memperhatikan Chifuyu yang mencabut plester kotor di wajahnya, kemudian menuangkan alkohol pada kapas di tangannya.

“Kenapa kau bisa dipukuli?” buka Chifuyu setelah beberapa menit berlalu.

Baji terkesiap, membuka mulut, “Aku juga tidak mengerti,” katanya sedikit meringis saat alkohol menyentuh luka lebamnya. “Aku saat itu hanya sedang melakukan pekerjaanku, lalu sekelompok orang datang sambil memarahiku karena aku memasuki wilayah kekuasaan mereka.”

“Orang yang sama sepertimu?”

”... Kurasa.” Baji memejamkan mata saat jemari Chifuyu menempelkan plester pertama. “Aku membela diri, tapi akhirnya satu pukulan melesat di perutku. Setelah itu, mereka memukuliku bertubi-tubi.”

Chifuyu kembali cemas, “Kau tidak melawannya?”

“Hei, tentu saja aku pukul balik. Mereka payah sekali. Luka lebam di wajah mereka lebih parah dari milikku, mereka harus tahu jika berurusan dengan Keisuke Baji adalah sebuah kesalahan besar.”

“Tetap saja, Baji-san! Kau tidak boleh begini lagi! Mungkin saja hari ini mereka payah bagimu, lalu bagaimana selanjutnya? Bagaimana jika mereka membawa senjata tajam? Kau akan terluka parah! Lalu bagaimana jika tidak ada yang menemukanmu saat terluka?! Itu sangat berbahaya, Baji-san. Tolong jangan mengulanginya lagi. Kau akan membahayakan dirimu sendiri dan itu benar-benar buruk.”

Bibir Chifuyu terkatup rapat. Ia mengingat-ingat apa yang ia katakan tadi, tidak ada yang salah, bukan? Lelaki itu bingung, karena iris Baji kini memandanginya lekat.

Kedua mata itu tampak menyiratkan sesuatu. Chifuyu sesekali mencoba menatap balik, namun semakin ia melihatnya, tubuhnya semakin panas. Apa? Kenapa Baji menatapnya seperti itu? Jemari Chifuyu sedikit bergetar saat ia menempelkan plester terakhir di hidung Baji, dan saat itu terjadi, ia menahan napas.

Dari sini, Baji terlihat sangat indah. Alisnya tebal dan tampak tegas, dengan sepasang mata elang yang sekarang terlihat sempurna. Chifuyu bisa melihat pori-pori yang ada di pipi lelaki itu. Dadanya berdentum, merasa jika waktu di sekitarnya berhenti.

Perasaan ini lagi... Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?

“Chifuyu, apa sudah selesai?”

“Eh! O-Oh, sudah.”

Chifuyu buru-buru kembali ke tempatnya, berdeham untuk menghilangkan kegugupannya (Ia bisa mendengar suara gelak tertahan dari sebelahnya, namun Chifuyu memasang wajah batu). Baji membetulkan letak plesternya, kemudian kembali memandangi lelaki di depannya sembari tersenyum tipis.

“Terimakasih.”

Mengangguk, lelaki yang lebih muda itu merapikan kotak P3Knya.

Oke... Setidaknya sekarang Baji terlihat lebih baik dari beberapa menit sebelumnya.

(Malam itu, untuk pertama kalinya, Chifuyu ingin mengubur dirinya dalam-dalam.

“Aku melihat bunga-bunga imajiner di sekelilingmu, Kak Matsu. Pasti karena—

“Jangan keras-keras, bodoh! Baji-san masih ada disini!“)

 


 

“Chifuyuuu! Sudah selesai tugas kalkulus?”

Ia segera menyerahkan buku yang baru saja ingin dia masukkan ke tas miliknya pada sosok Takemichi yang menatapnya semangat empat lima.

Yosha! Thank you so much my best friend!”

“Ya. Pergi sana, hus-hus.”

“Buru-buru sekali. Mau bertemu siapa 'sih sebenarnya? Pasti pacar, 'kan?! Jelas benar, matamu terlihat berbunga-bunga—”

Chifuyu segera menyumpal mulut temannya tersebut dengan kertas, lalu mengangkat tungkainya tanpa mengindahkan erangan kesal dari lelaki berambut jabrik itu.

Matahari bersinar terik. Menutup matanya dengan telapak tangan, senyum mengembang di bibir Chifuyu. Sekolah hari ini pulang lebih cepat, sehingga Chifuyu menggerakkan kaki-kakinya dengan semangat, tidak sabar untuk mengunjungi kedai udon yang akhir-akhir ini masuk ke daftar tempat favorit lelaki itu.

Apa, sih. Chifuyu menggeleng keras.

Kedai itu ramai sekali. Kepala Chifuyu menyembul dari balik tiang papan penunjuk jalan yang berdiri beberapa meter di depan bangunan tersebut. Beberapa pegawai tampak berlalu-lalang melayani para pelanggan, namun Chifuyu sama sekali belum menangkap eksistensi Keisuke Baji. Tidak ada si lelaki tinggi dengan high ponytail dan kain putih yang terikat di kepalanya. Mana dia? Chifuyu menatap kedai itu sedih, masih berusaha mencoba menemukan Baji. Namun ia tidak berhasil.

Chifuyu merogoh ponselnya—kemudian sadar. Baji tidak punya nomor telepon. Jangankan nomor, ponsel saja lelaki itu tidak memilikinya. Baji bilang, dia bisanya menelepon dari telepon umum yang terletak tidak jauh dari area kontrakan. Lelaki itu menghela napas. Sayang sekali, padahal Chifuyu pernah membayangkan bagaimana rasanya bertukar pesan dengan lelaki itu.

Wajah Baji kembali berlintas di kepalanya, dan sekali lagi Chifuyu menggeleng keras.

Ia kembali fokus pada kedai di seberang, namun tetap saja, tidak ada Baji. Artinya Baji tidak bekerja hari ini. Chifuyu menendang kerikil di tanah yang kini dipijakinya, lalu memutuskan untuk pulang saja. Tidur beberapa jam sebelum berangkat bekerja kedengarannya sangat bagus—

“Chifuyu?”

Manik birunya membola.

Baji kini berdiri di hadapannya. Kucir kuda dan kain putih di kepalanya, kemeja kecokelatan dengan apron merah masih terikat di pinggangnya, serta beberapa kantung belanjaan yang tergantung di masing-masing tangannya. Lelaki itu tersenyum miring, menunjukkan gigi taringnya seraya berujar antusias, “Wah, ternyata memang Chifuyu.”

Yang ditanya mati kutu.

“Eh, ehm, ah—h-halo, Baji-san.” Halo, Baji. Aku sedang menguntitmu. Chifuyu mengatakannya dalam hati, namun lelaki itu tidak mungkin mengatakannya secara gamblang.

“Baru pulang sekolah?” tanyanya, meneliti seragam dan tas sekolah yang dikenakan Chifuyu.

Lelaki itu mengangguk kaku. “Iya. Aku pulang cepat.” ujarnya sembari melirik ke arah trotoar di bawahnya. “Kebetulan lewat disini.”

“Sekolahmu di SMU Touman?” Baji mengedarkan pandangan ke arah bangunan besar beberapa meter di belakangnya.

Mengangguk lagi, Chifuyu melirik, di mana beberapa siswa sepantarannya juga keluar dari arah gedung besar itu.

“Itu sekolahku juga, lho.”

“Benarkah?”

Terkekeh, Baji menunjuknya. “Iya. Sekolah lama, untuk lebih spesifik.”

“Oh, begitu....”

“Omong-omong, kau lapar?” Lelaki bersurai panjang itu bertanya dengan semangat, kemudian menatap ke arah kedai di belakang Chifuyu. “Mau mampir ke kedai? Udon disana enak. Harganya juga pas untuk kantong anak sekolahan.”

“Eh, maaf, tapi aku tidak suka udon....” tolak Chifuyu halus, sedikit merasa bersalah. “Aku benar-benar minta maaf, Baji-san.

“Sayang sekali.” ucap Baji, terlihat sedih. “Padahal enak... Ah, bagaimana dengan peyoung yakisoba?”

Peyoung....”

“Kau suka peyoung yakisoba?”

Baji bersinar dikelilingi matahari. Kali ini, jantung Chifuyu masih berdegup kencang—namun, rasanya menenangkan dan ia menyukai perasaan ini.

Nyaman.

“Aku tidak pernah memakannya, tapi aku ingin mencobanya.”

Tangan Baji terangkat, menjentikkan jarinya dengan senyum yang merekah. “Bagus! Aku tahu di mana tempat yang enak. Peyoung yakisoba enak, lho, Chifuyu. Aku yakin kau akan menyukainya. Baiklah, kita akan makan... Oh iya, aku masih harus bekerja. Apa kau mau menunggu? Hari ini bosku bilang ingin menutupnya lebih awal sih, karena putrinya baru pulang dari Sapporo... Tidak apa-apa?”

Chifuyu mengangguk mantap.

Maka setelah kedai ditutup dan Baji datang dengan jaket hitamnya—mereka berdua berjalan bersama. Awalnya Baji mengusulkan untuk menaiki bus karena dari kedai udon ke tujuan mereka lumayan jauh, namun lelaki pirang itu menggeleng. Pada akhirnya, kedua adam tersebut melangkah, melewati toko-toko dan para pejalan kaki lain yang juga berada di sekitar mereka.

Aneh sekali. Tujuan mereka masih jauh namun Chifuyu sama sekali tidak merasa lelah. Baji akan mengajaknya bicara sepanjang jalan, sembari menunjuk hal random apa saja yang terlihat di depan mata mereka. Misalnya anjing yang berjalan bersama majikannya, ibu yang mendorong kereta bayinya, balon yang terbang, gadis-gadis yang bergerombol sembari cekikikan, atau hal lainnya.

Tokyo memang penuh warna—namun bagi Chifuyu Matsuno hari ini, ternyata ada banyak warna lain yang belum ia lihat.

Dan kali ini semuanya terlihat jelas di kedua matanya, dengan Baji di sisinya.

“Kau buka bumbunya, aku akan mengaduknya.”

“Baiklah.”

Mereka kini duduk di sebuah bangku kosong yang terletak beberapa meter dari minimarket tempat Baji membeli sebungkus peyoung yakisoba (bukan minimarket tempat Chifuyu bekerja). Chifuyu merobek plastik yang membungkus bumbunya, kemudian lelaki itu menuangkannya pada tempat yang telah disediakan. Baji mengaduk mi di tangannya, bersenandung dengan wajah ceria.

“Kau tahu? Aku selalu membelinya setiap hari. Mudah dibuat, sangat enak, dan tentu saja harganya bersahabat.”

Chifuyu tersenyum maklum, memperhatikan Baji yang masih meratakan bumbu. “Aku tahu kau sangat menyukainya, tapi lain kali jangan terlalu banyak makan makanan instan begini, Baji-san. Tidak sehat untuk tubuhmu.”

“Tenang saja. Buktinya aku sehat-sehat saja, bukan?”

“Tetap saja, Baji-san....”

Aroma makanan menguar di sekitar mereka. Chifuyu mengamati Baji yang menggerakkan sumpit di tangannya dengan lincah, membagi peyoung yakisoba yang baru saja diletakkan di meja menjadi dua bagian.

“Ini milikmu,” Baji memberikan sepasang sumpit kepada Chifuyu. “Ayo makan.”

Senyum terukir di bibir Chifuyu, kemudian mulai mencobanya.

Satu suapan. Enak.

“Bagaimana?”

”... Enak.” Chifuyu menyeruput mi miliknya, kemudian menyodorkan dua jempolnya pada Baji. “Enak sekali, Baji-san! Benar-benar lezat!”

Tawa mengalun dari bibir yang lebih tua, “Benarkah? Syukurlah kau menyukainya, Chifuyu.”

“Tentu!” Chifuyu kembali memakan peyoung miliknya, kemudian menunjuk peyoung milik Baji. “Makanlah punyamu.”

Baji mengangguk.

Chifuyu mengangkat kepalanya, bingung mengapa sumpit Baji masih belum menyentuh mi di depannya.

“Baji-san? Ada apa?”

”... Tidak.” Baji berdeham. “Tidak apa-apa. Hanya...,”

“Hanya?”

“Kau lucu.”

Wajah Chifuyu mendadak memerah.

“Uhuk—”

“Chifuyu?! Astaga—sebentar. Tidak ada minum disini—tunggu disitu—”

Baji buru-buru kembali ke minimarket untul membeli sebotol air mineral. Ketika ia kembali, Chifuyu segera menyambar gelas yang diberikan lelaki itu, lalu meneguk air tersebut kilat.

Apa-apaan, apa-apaan—

“Bagaimana? Sudah lebih baik?” tanyanya, sembari menepuk punggung lelaki pirang di sebelahnya beberapa kali.

“I-Iya.” Chifuyu menjauhkan wajahnya, tidak mau Baji melihat rona merah disana. “Aku hanya tersedak. Tidak apa-apa, Baji-san.

“Kau malu karena aku bilang lucu?”

“H-Hah?! T-Tidak!” Chifuyu makin memerah. “Aku tidak malu! J-Jangan sembarangan!”

Baji tersenyum jenaka, memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Chifuyu lebih jelas seraya menaikkan satu alisnya, “Serius? Lihat wajahmu sekarang.”

Chifuyu menyeruput minya dengan ganas.

“Hei, kau nanti akan tersedak lagi, lho.”

“Hi-hak!” (Tidak!)

Baji tertawa keras.

Menggigit sumpitnya, Chifuyu menatap lelaki di depannya yang masih tergelak.

Sedetik kemudian, ia juga ikut tertawa.

 


 

“Kak Matsu, tolong angkat teleponnya! Aku sedang mengangkat dus!”

“Iya, sebentar!”

Meletakkan botol samponya, Chifuyu bergegas. Lelaki itu meraih gagang telepon, kemudian mendekatkan benda tersebut ke telinganya. “Halo, selamat malam?”

”... Hai, Chifuyu.”

Sejenak, rona merah memenuhi pipinya.

“Baji-san?”

Gelak tawa terdengar di seberang sana. “Iya, ini aku.” Suara itu berhenti selama beberapa detik, kemudian lelaki itu kembali bersuara. “Aku mencoba nomor telepon minimarketmu... Ternyata benar-benar tersambung. Aku sekarang mendengar suaramu.”

Chifuyu berdeham, sedikit mendelik pada Hakkai yang mengejeknya dari kejauhan. “Kau mau berangkat kerja?”

“Tidak. Hari ini aku tidak bekerja.”

“Oh, ya? Kenapa?”

“Libur.”

“Libur?” Chifuyu menaikkan satu alisnya, sedikit tidak yakin—namun lelaki itu memilih untuk menepisnya. “Enak sekali. Kau bisa tidur cepat, sedangkan aku masih harus bekerja sampai pagi.”

“Tidak juga. Aku akan menunggu.”

“Menunggu?”

“Menunggumu.”

Tercekat, Chifuyu berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar gugup. “H-Hah—ahahaha, tidak usah repot-repot begitu, Baji-san. Aku pulang pagi-pagi sekali, kau akan membuang-buang waktu. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat—”

“Sampai jumpa disana, Chifuyu.”

“Tapi—”

Telepon dimatikan.

Baji benar-benar datang beberapa menit kemudian. Chifuyu masih berusaha mempertahankan raut wajahnya supaya tetap terlihat biasa saja, tidak mempedulikan tatapan intens dari lelaki berambut panjang di depannya ataupun siulan menggoda dari Hakkai.

Bocah menyebalkan ini... Chifuyu mendesah lelah, menahan diri supaya tidak menendang si rambut cepak yang kini berdeham, meninggalkan kedua lelaki itu sembari menyeringai lebar.

Semoga Baji-san tidak terlalu mempedulikannya....

Chifuyu memperhatikan Baji yang kini mendekati Hakkai, menawarkan diri untuk membantu lelaki itu. Semakin lama matanya melihat, perlahan ia menyadari satu hal.

Pendingin ruangan menyala... Namun mengapa punggungnya terlihat lembab?

“Baji-san, kau berkeringat.”

“Oh?” Lelaki itu tertawa, namun entah mengapa, Chifuyu tidak menemukan hal lucu dari kalimat yang ia sebutkan barusan. “Tidak apa-apa, Chifuyu. Sekarang apa lagi yang harus kubantu?”

“Kurasa kau sebaiknya pulang saja.” Chifuyu terdiam, mengamati wajah Baji sekali lagi, hingga akhirnya melanjutkan, “Wajahmu... Sedikit pucat.”

Baji menyentuh pipinya, kemudian membalas dengan kedua matanya yang sedikit membola. “Pucat? Yang benar? Disini ada cermin? Aku ingin melihatnya secara langsung.”

“Baji-san.

“Chifuyu.”

Senyum itu. Selalu begini. Chifuyu selalu lemah dengan kurva simetris yang mengembang dari dua belah bibir itu. Baji pintar mengganti topik, dan ini adalah salah satu contohnya. Chifuyu tidak bisa berkutik saat lelaki itu kini menatapnya, mendaratkan telapak tangannya pada helai kuningnya.

“Mau ikut denganku?”

“Ya?” Ia terkesiap, kebingungan. “Ke mana?”

“Mengunjungi teman.”

 


 

Hakkai dengan senang hati menggantikan Chifuyu malam itu. Lelaki itu melambai gembira saat ia keluar dari minimarket, meneriaki kedua pasangan di depannya dengan banyak macam seperti 'Semangat!' atau 'Jangan apa-apakan dia, Kak Baji!' dan semacamnya. Chifuyu menyodorkan kepalan tangannya sebagai balasan, sedangkan Baji hanya terkekeh dengan satu jempol yang teracung.

Tanah terasa lembab. Ini pasti karena hujan yang sempat turun beberapa jam yang lalu. Kepala Chifuyu terangkat, mengamati bulan yang bersinar redup. Samar-samar bintang terlihat dari balik awan yang menutupi mereka, menemani sepanjang perjalanan.

Seketika ia kembali teringat. Teman? Otak Chifuyu bekerja lebih keras, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Baji mengajaknya untuk menemui seorang teman? Siapa, ya? Iris birunya melirik keatas, di mana sosok Baji di sebelahnya tampak tenang—melangkah dengan dua tangan yang dimasukkan ke saku.

“Oh iya, bagaimana sekolah?”

Chifuyu terkesiap, buru-buru memalingkan wajah. “Lancar, kok. Yah, walau banyak tugas. Tapi aku selalu mengerjakannya di sekolah atau langsung saat pulang, jadi setidaknya saat bekerja aku tidak mengerjakannya lagi.”

Baji mangut, lalu mengadahkan kepala. “Pasti rasanya menyenangkan, ya.”

“Ya?”

“Sekolah.”

Sesaat Chifuyu mendengar nada sedih terselip disana.

“Mengobrol dengan teman, tidur di kelas, makan di kantin. Rasanya benar-benar seru apalagi sambil mengganggu—” Lelaki itu menghela napas panjang, lalu meregangkan tangannya. “Aduh, aku jadi tidak sengaja membuka kartu.”

Chifuyu tersenyum, “Bukan anak teladan, ya?”

Terkekeh, Baji mengangguk. “Seorang berandalan kecil.”

“Teman-temanmu pasti sangat merindukanmu.”

Tidak ada balasan. Chifuyu tersenyum, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, “Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kau sayangi, pasti akan begitu membuat kau merindukannya, bukan? Entah bagaimana kabarnya, apa yang sedang mereka lakukan, apa semuanya baik-baik saja—rasanya ingin sekali bertemu lagi dengan mereka.” ujarnya, melirik Baji. “Kalian masih sering bertemu?”

Senyum Chifuyu memudar. Baji disana hanya tersenyum sembari mendengarkan, namun jauh disana—kedua manik abu-abunya tampak sendu. Senyum yang dikeluarkan lelaki itu tampak menyedihkan, membuat Chifuyu merutuki mulutnya yang terlalu lancang.

“Baji-san, a-aku minta maaf, aku tidak akan menanyakannya lagi—”

“Aku tidak pernah bertemu dengan mereka.”

Bibir Chifuyu terkatup rapat.

“Tidak apa-apa,” Lelaki itu tertawa, sedikit memacu kakinya—sehingga kini ia berada beberapa langkah di depan Chifuyu. “Lagipula aku juga tidak berniat bertemu dengan mereka. Mana mau mereka melihatku.”

“Apa? K-Kenapa?”

“Takut.”

“Takut?” Chifuyu tidak mengerti. “Kenapa mereka takut padamu? 'Kan kau tidak terlihat menyeramkan—”

“Lewat sini.”

Sebelum Chifuyu sempat melanjutkan perkataannya, jemari Baji membungkus pergelangan tangannya dengan sempurna, menariknya memasuki sebuah gang.

Disini gelap. Chifuyu memperhatikan sekeliling. Lampu jalan menyorot mereka, namun sinarnya redup dan sesekali berkedip. Sisanya hanya beberapa lampu dari rumah-rumah yang menerangi jalanan ini. Baji masih menarik tangannya (Chifuyu harap ia tidak mendengar degupan jantungnya yang menggila dalam keheningan itu), hingga kini mereka berhenti di sekitaran semak-semak.

”... Baji-san?” panggil Chifuyu, “Kita sudah sampai?”

“Sudah. Tunggulah sebentar, oke? Temanku akan datang sebentar lagi.”

Mengerutkan dahi, Chifuyu sama sekali tidak tahu apa-apa saat genggaman Baji terlepas dan kini lelaki itu berjalan mendekat ke semak-semak tersebut. Langkahnya hati-hati, membuat Chifuyu menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, dan kedua mata Chifuyu memicing.

Sosis.

“Ed!”

Baji kini bersimpuh, membuka kulit sosis itu lalu berteriak sekali lagi. “Edward!”

Edward?

“Ed, ya ampun. Kau tidak mau sosis?” Baji mengerang, menggoyang-goyangkan sosis di tangannya. “Apa kau malu karena ada tamu yang datang ke wilayah kita?”

“Meow.”

Pertanyaan Chifuyu terjawab saat sesosok hewan keluar dari semak-semak itu, menghampiri Baji dan menyebabkan gelak pelan menguar dari bibirnya.

“Halo, Edward. Katakan halo pada tamu kita?”

“Meow.”

Seekor kucing. Bulunya berwarna kecokelatan, dengan sepasang mata berwarna biru. Kucing itu memakan sosisnya dengan lahap, sesekali menatap Chifuyu sambil mengeong.

“Ini temanku, Chifuyu. Namanya Edward Baji. Keren, bukan? Hei, sapa dia!”

“Meow,” Edward mengeong lagi.

“H-Hai.”

Chifuyu mendekat—bersimpuh di sebelah Baji yang sedang memberi makan kucing cokelat itu. Jemari Chifuyu terangkat menuju ke arah kepala kucing tersebut, takut-takut hendak menyentuhnya.

“Tidak apa-apa. Ed jinak, kok. Dia suka dielus.”

“A-Ah, benarkah?”

“Mhm. Tunggu sebentar, aku punya satu sosis lagi.”

Baji merogoh saku jaketnya, kemudian menyerahkan sepotong sosis baru. Chifuyu menerimanya, merasakan tatapan mata kucing itu tertuju padanya. Ia membuka sosis tersebut dengan sedikit kaku, kemudian mengarahkannya pada mulut kucing itu.

“Mau?”

Kucing itu melahapnya cepat.

Baji tertawa. “Lihat! Aku bilang apa.”

Senyum lebar menghiasi wajah Chifuyu, yang selanjutnya diikuti dengan tawa lembut dari bibirnya. “Edward lucu sekali.”

Chifuyu kali ini dengan yakin mendaratkan telapak tangannya pada pucuk kepala sang kucing—dan di luar dugaan, kucing itu mengeong senang, membuat senyumnya melebar.

“Baji-san, dia suka elusan dariku—”

Ia menoleh, menemukan Baji yang ternyata tidak memandangi kucing di depannya—melainkan lurus menatap kedua matanya.

“Baji-san?”

Tangan Baji terulur. Chifuyu kira ia akan mengelus Edward, namun kenyataannya, telapak tangan itu membungkus satu pipinya. Ia menarik napas, merasa jika udara di sekitarnya mendadak menjadi sedikit. Lelaki itu meremas celananya, seketika mematung saat merasakan sebuah jempol mengusap wajahnya—serta tatapan itu. Tatapan yang sanggup membuat Chifuyu lemas.

“Chifuyu.”

“I-Iya?”

“Terimakasih.”

“Terimakasih?” Chifuyu kebingungan. “T-Tapi untuk apa?”

“Setidaknya sekarang aku tahu jika hidupku ternyata masih berarti.”

Edward berpindah pada Baji, membuat sentuhan itu terlepas. Lelaki itu mengangkat sang kucing, kemudian mengecup hidung hewan tersebut.

“Terimakasih banyak, Chifuyu.”

Chifuyu tidak mengerti mengapa Baji terus berterimakasih padanya—namun dari sepasang mata itu, ia paham satu hal.

Baji selalu kesepian.

Lelaki itu telah melalui banyak hal dalam hidupnya. Ia tidak tahu, dan sepertinya Baji juga tidak ingin memberitahunya. Namun, meskipun menyakitkan, ia selalu menjalani hari dengan senyuman cerah. Sesuatu yang membuat Chifuyu begitu kagum sekaligus bangga padanya.

Malam itu, Baji tampak indah diantara bintang. Ia terlihat tidak nyata bagi Chifuyu, kehadirannya layaknya titik terang dalam sebuah kegelapan tak berujung. Senyum itu menyaingi rembulan. Chifuyu merasakannya lagi. Hatinya menghangat. Jantungnya berpacu lembut. Hal yang hanya dirasakannya ketika bersama lelaki itu.

Satu hal yang pasti, dan mulai hari itu, ia membenarkannya.

Chifuyu jatuh cinta pada Baji.

 


 

“Aku sebenarnya diusir.”

Tangan Chifuyu yang hendak mengambil peyoung di depannya terhenti.

Tokyo dilanda hujan. Baji awalnya hanya mengajak Chifuyu keluar sebentar untuk mencari udara segar, namun ternyata semesta sepertinya ingin mereka berdua menghabiskan waktu lebih lama. Mereka berteduh tepat di depan sebuah ruko tak berpenghuni, dengan sepiring peyoung yakisoba yang telah dibagi menjadi dua bagian.

Baji memeluk kedua lututnya. Matanya lurus memandang ke arah tetes hujan yang menghujani kota. Chifuyu menelan ludah, bertanya hati-hati untuk memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik. “D-Diusir?”

“Iya.”

“Kenapa diusir?! Orangtua macam apa yang tega mengusir anaknya sendiri?” ucap Chifuyu dengan emosi yang berapi-api, “Kenapa mereka sejahat itu padamu, Baji-san?!”

“Jangan emosi begitu,” Baji tertawa pelan, mengusak surai Chifuyu—menyebabkan erangan keluar dari bibir yang lebih kecil. “Mereka hanya ingin aku jadi lebih mandiri.”

“Memangnya harus sampai diusir?! Keterlaluan sekali.”

“Jangan merengut begitu, 'kan yang diusir aku.”

“Aku... Aku hanya tidak terima!”

“Tidak apa-apa.” Baji mengunyah mi di mulutnya, lalu menelannya. “Makan sana.”

Chifuyu mendengus.

“Lalu... Sekarang mereka di mana?”

Baji mengedikkan bahu. “Entahlah. Yang jelas mereka tidak tinggal disini.”

“Jadi di mana?”

“Di mana saja yang bukan Tokyo.”

Baji dihadiahi Chifuyu pukulan.

“Dipikir-pikir keluargaku jahat sekali, ya. Mereka benar-benar mendepakku dari rumah tanpa persiapan sedikitpun. Aku hanya pergi dengan uang dan pakaian seadanya. Aku hampir saja mati di kota ini karena kelaparan dan kekurangan uang. Yah, untung saja aku masih bisa bertahan. Kau pikir saja, mana ada anak seusiaku yang tidak punya ponsel?” Lelaki itu memijat pelipisnya, menggeleng kepala. “Menurutmu apa aku sudah seperti pemain drama?”

Chifuyu meliriknya, “Kalau kau dicasting untuk serial televisi, sepertinya kau akan langsung diterima.”

Baji membulatkan matanya lucu, “Seriusan kau, Chifuyu? Kalau begitu aku mau berjalan-jalan di sekitaran stasiun televisi, ah. Siapa tahu ada sutradara yang lewat lalu merekrutmu.”

“Memangnya ada yang mau?”

“Tentu saja. Aku kan TRI.”

”... TRI?”

“Tampan, Rupawan, dan Idaman.”

“Ahahaha, ada-ada saja!”

Tawa mengalun keras diantara lebatnya hujan yang mengguyur ibukota. Entah sampai kapan.

Kali ini, mereka hanya termenung sembari memperhatikan hujan. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Chifuyu meringis menatap rentetan pesan dari Hakkai yang protes karena mereka begitu lama. Lelaki itu hanya meminta maaf sembari meyakinkan rekannya tersebut jika mereka sebentar lagi akan pulang.

(“Jangan terlalu lama, dong! Ya aku sebenarnya tidak apa-apa ditinggal, tapi bagaimana kalau bos tiba-tiba datang? Aku tidak bisa membayangkan kalau dia tahu salah satu pegawainya ternyata tidak bekerja, melainkan asyik pac—hei, Chifuyu, aku mau baca juga!”

Diam-diam Chifuyu mengetik pesan untuknya: Aku akan menggunting rambutmu ketika sampai nanti.)

“Kira-kira sampai kapan kita disini?” Chifuyu membuka percakapan, masih setia mengamati hujan di depannya beserta kendaraan yang sesekali lewat. “Hah, harusnya aku bawa payung.”

“Hakkai masih marah?” tanya Baji pelan.

“Dia sebenarnya tidak marah, kok. Hanya takut kalau bos tiba-tiba datang.”

”... Bagus.”

Chifuyu mengerutkan dahi.

Terdengar serak.

“Tapi sebenarnya bos jarang datang." katanya, memilih untuk tetap melanjutkan. "Selain itu, dia juga selalu memberi kabar jika ia mau berkunjung.”

Tidak ada balasan.

Chifuyu diam, kemudian ia menoleh. “Baji-san?”

Baji membenamkan wajahnya di balik lipatan tangannya. Tudung jaket lelaki itu tampak turun, menampilkan kucir kudanya yang sedikit kendur.

“Baji-san? Kau tidur?”

Chifuyu menepuk pundaknya pelan—namun ia sadar.

Tubuhnya bergetar.

“Baji-san?” Sekali lagi, Chifuyu memanggil lelaki itu. “B-Baji-san, ada apa? Kenapa—”

Ia kaget. Baji tiba-tiba terjatuh kearahnya, memejamkan matanya erat sembari menggigil.

“Baji-san!” pekiknya panik, menggunakan pahanya untuk menopang kepala lelaki itu. “Baji-san, kau bisa mendengarku?! Ya Tuhan—”

Chifuyu takut. Pertama kali dalam hidupnya, ia begitu ketakutan dan ingin menangis. Tangannya merogoh saku celananya dengan bergetar, susah payah menahan air yang menggenang di pelupuk matanya. Telepon medis... Nomor rumah sakit... Jemarinya menekan tombol power benda pipih itu dengan gemetaran, memasukkan tiga digit angka pada panggilan darurat—namun sebuah tangan menghentikannya.

“Ja-a-jangan—”

“Baji-san?” Chifuyu menghapus air matanya. “Baji-san, aku harus menelepon ambulans—”

“Tidak.” potongnya pelan. Baji mengatur napasnya yang tersengal, kemudian kembali bersuara dengan serak. “H-Hakka—”

“H-Hakkai?”

“Ya...,” Ia merapatkan jaketnya, masih menahan Chifuyu yang ingin memanggil ambulans. “H-Haa-kkai... Ja-Jang-an... am-ambu-lans.”

“Baji-san! Kau menggigil hebat! Kita harus—”

“Chifuyu,” Lelaki itu tersenyum. “T-Tidak apaa—” Ia mengatakannya dalam sekali tarikan napas. “P-Pang-panggil H-Hakkai.”

Mengalah. Chifuyu segera menelepon Hakkai.

“Tolong—” Napas Chifuyu tercekat. Satu bulir air lolos dari matanya. “Tolong aku, Hakkai. Tolong—Baji-san—”

Jemari Baji membungkus jari-jarinya, seakan berusaha meyakinkan lelaki itu jika dia baik-baik saja. Chifuyu ingin sekali mempercayainya. Ia balas menggenggamnya, berusaha memastikan jika apa yang ingin disampaikan lelaki itu benar.

Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.

 


 

Demam tinggi.

Chifuyu mengusap hidungnya yang memerah. Baji bersikeras untuk tidak mau dibawa ke rumah sakit. Ia jelas menentang, karena keadaannya saat itu benar-benar mengkhawatirkan. Tubuhnya terus menggigil dengan keringat yang mengucur di tengah dinginnya malam. Hakkai juga menyarankan hal yang sama saat pertama kali melihatnya, namun Baji tetap tidak mau menuruti mereka. Pada akhirnya, dengan bersusah payah, mereka berdua membawa Baji ke rumah Hakkai (karena merupakan tempat terdekat dari posisi mereka saat itu) dan kini lelaki itu tertidur di ranjang milik rekannya tersebut.

“Matsuno?” panggil seorang gadis dari ambang pintu. “Aku memasak lebih. Kau mau makan dulu? Hakkai pergi duluan tadi, katanya dia meninggalkan minimarket dan lupa menguncinya.”

Chifuyu menolak halus, “Aku sudah kenyang, Yuzuha-san.” katanya, masih menatap Baji. “Aku akan tetap disini.”

Yuzuha tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Chifuyu tidak mau mendengarkannya.

Melihat Baji di depannya dengan kondisi yang seperti ini... Benar-benar menyakitkan. Kenapa Baji bisa sampai sakit begini? Lelaki itu hampir ingin menangis—namun ia segera menahannya. Chifuyu tidak menyukainya. Ia tidak suka melihat Baji yang sakit. Ia lebih memilih Baji mengganggunya dibandingkan terlelap seperti ini.

Jemarinya bergetar, dan lagi-lagi ia menangis.

“Baji-san....”

Ia memejamkan mata, berdoa kepada Tuhan—supaya besok, Baji bisa tersenyum lebar seperti biasanya.

 


 

Baji menginap di rumah Hakkai selama beberapa hari.

Selama berada disana, Chifuyu selalu mengunjunginya hampir setiap hari. Lelaki itu sebenarnya sudah bangun sehari setelah kejadian malam tersebut, berniat langsung pulang saja karena tidak ingin merepotkan. Namun Chifuyu menahan lengannya, melotot sembari memaksa Baji kembali ke kasurnya. Ia mengerang protes, tapi Chifuyu pura-pura tidak mendengar apapun. Hal itu membuat Yuzuha tertawa geli, sedangkan Hakkai menghela napas—tidak tahan tidur di sofa karena Baji menginvasi kamarnya.

“Chifuyu, aku baik-baik saja. Aku ingin pulang, boleh, ya?”

“Tidur.”

Baji cemberut.

Chifuyu fokus dengan buku pelajarannya. Hari ini, sepulang sekolah ia bergegas menuju rumah Hakkai untuk melihat keadaan Baji. Kini ia duduk bersila di sebelah kiri lelaki tinggi itu, berusaha mengerjakan soal matematika dengan Baji yang menyandarkan punggungnya ke dashboard seraya sesekali mengajaknya mengobrol.

“Serius sekali.” komentar Baji, kini asyik mengamati wajah Chifuyu yang masih berkutat pada tugasnya. “Tentang apa?”

“Matematika.”

“Aduh, pelajaran membosankan.” ujarnya, beralih mengamati rentetan angka yang tertulis pada buku di kasurnya. “Masih banyak, ya?”

“Tinggal satu soal lagi. Setelah ini selesai.”

Lelaki itu tidak bersuara lagi. Chifuyu masih menggores beberapa digit angka pada lembar kertas di bukunya. Ia menghela napas, merasa pusing mendadak karena apa yang ia tulis, hingga kegiatannya diinterupsi oleh sebuah tangan yang menyentuh pipinya—mengusap lingkaran hitam yang terlihat jelas di bawah matanya.

“A-Apa—” Semburat merah muncul di pipi Chifuyu, hampir menjatuhkan pensilnya.

Baji memandanginya. “Kau kurang tidur. Harusnya kau yang sekarang tidur, bukan aku.”

“Tidak, kok.” sanggahnya. “Ini memang permanen. Lagipula aku tidak mengantuk, tugasku masih belum selesai dan setelah ini kau harus makan, jadi aku—”

Ucapan Chifuyu terputus. Buku dan pensil di tangannya ditarik, ditutup paksa oleh lelaki berambut hitam itu. Ia ingin protes, namun Baji tidak membiarkannya. Kepala Chifuyu terdorong ke bawah, hingga pipinya kini membentur ranjang di depannya, serta sebuah tangan yang kini mengusap rambutnya perlahan.

“Tidur, Chifuyu. Kau kelelahan.”

“Aku sama sekali tidak—”

“Matamu mengantuk.”

“Aku tidak—”

“Aku tidak akan ke mana-mana. Janji.”

Chifuyu merasa dadanya tiba-tiba sesak.

“Baji-san.

“Hm?”

”... Kau sungguh berjanji?”

“Iya.”

“Tetap disini.”

Baji tidak menjawab. Tangannya masih mengusap kepala yang lebih muda, sedikit demi sedikit membuat kelopak mata Chifuyu memberat.

“Hm,” Terdengar seperti bisikan. “Aku tetap disini.”

Chifuyu memutar posisinya. Kedua manik birunya kini balas menatap sepasang iris kelam yang sedari tadi mengamatinya, menyunggingkan sebuah senyum tipis sambil masih mengusap pucuk kepalanya. Apa ini efek rasa kantuk yang menghampirinya? Mengapa....

Mengapa Baji terlihat begitu rapuh di matanya?

“Jangan pergi.” lirih Chifuyu tiba-tiba, memejamkan matanya. “Jangan pergi, Baji-san.

“Iya.”

Suara Baji menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum jatuh ke dalam mimpi. “Aku tidak akan pergi.”

 


 

Chifuyu bekerja dengan rasa gelisah dan khawatir yang menghantuinya.

Hakkai bilang, Baji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya tadi sore. Chifuyu tidak sempat untuk menemuinya karena remedial yang harus ia kerjakan. Lelaki pirang itu memejamkan matanya, frustrasi karena Baji yang begitu keras kepala. Dia masih belum benar-benar sehat, tapi mengapa—astaga. Chifuyu lain kali harus menanyakan alamat tempat tinggal Baji. Ia harus memastikan sendiri bagaimana keadaannya.

Sesekali netra birunya melirik ke arah kaca. Baji tidak datang. Apa jangan-jangan lelaki itu malah bekerja? Chifuyu semakin khawatir. Akhir-akhir ini cuaca tidak menentu, bagaimana jika ia kehujanan di tengah pekerjaannya? Siapa yang akan membantunya? Di mana Baji akan berteduh? Apa dia akan baik-baik saja?

Demi Tuhan.

“Hakkai... Menurutmu apakah hari ini hujan?”

Menopang dagu, lelaki itu mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi hari ini cuacanya bagus.”

”... Kalau hujan, apa Baji-san baik-baik saja?”

“Dia pasti baik-baik saja. Aku yakin.”

Chifuyu mendesah panjang, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Lelaki itu mengamati satu-persatu barang yang ada, kemudian matanya menangkap sesuatu.

Maka setelah menyuruh Hakkai untuk menggantikan tempatnya, lelaki itu berdiri di luar minimarket. Kepalanya celingak-celinguk, berharap ia bisa melihat sosok Baji menghampirinya dengan wajah cerianya. Sembari menyandarkan punggungnya ke kaca, Chifuyu memainkan sepatunya—hingga akhirnya lelaki itu berhenti dan ia mengadahkan kepala. Memandangi langit.

Langitnya cerah.

Rembulan bersinar terang dengan bintang-bintang yang bertaburan di sekelilingnya. Chifuyu memandanginya lekat, tiba-tiba teringat dengan senyum Baji yang sama indahnya seperti apa yang ia lihat sekarang.

Apa Baji-san juga menyukainya?

Ia terus menunggu.

Namun Baji tetap tidak datang.

“Hei, Kak Matsu.”

Chifuyu terkesiap. Ia menoleh, memandangi Hakkai yang menatapnya prihatin. “Sudah hampir larut. Biasanya jam-jam sekarang dia sudah pulang, 'kan?”

“Dia pasti datang.”

“Yakin? Tapi Kak Baji masih tidak terlihat.”

Berujar tenang, iris aquanya lurus mengarah ke jalanan. “Baji-san akan datang.”

Matanya berat sekali. Chifuyu memutuskan untuk merosotkan tubuhnya, memeluk kedua kakinya sembari menenggelamkan kepala di celah lengannya. Dia pasti datang. Chifuyu yakin. Yang harus ia lakukan sekarang adalah tetap menunggu. Memejamkan mata, Chifuyu masih tetap pada posisinya, sambil mendengar suara-suara di sekitarnya.

Deru mesin, langkah kaki, suara beberapa orang yang sedang bercengkrama, alunan musik klasik, derap kaki seseorang yang berlari menuju ke arahnya—

Kepala Chifuyu refleks terangkat.

Seseorang berlari. Lelaki itu segera bangkit, memandanginya hingga kini terpampang jelas di penglihatannya.

“Chifuyu!”

Baji. Baji benar-benar datang.

“Chifuyu!” panggil Baji lagi, kini berada di depannya sembari mengatur napas. “Hah... Aku baru selesai... Lalu aku buru-buru kesini... Omong-omong kau kenapa—”

Chifuyu tidak menjawab. Lelaki itu menghambur ke arah Baji, melingkarkan kedua lengannya pada leher yang lebih tinggi.

Ia tidak mengerti. Ada sebuah perasaan lega saat Baji kini disisinya, saat ia bisa memastikan sendiri kehangatan lelaki itu dalam pelukannya. Ada kelegaan tersendiri saat mendengar suara Baji di telinganya, saat merasakan sentuhan Baji pada punggungnya, dan saat telapak tangan itu mengelus surai blondenya. Chifuyu tidak mengerti. Ia tidak mengerti darimana datangnya rasa asing yang menghantuinya akhir-akhir ini.

Ia takut.

Chifuyu sangat takut.

“Baji-san,” Lelaki itu berujar serak, “Aku kira—a-aku kira sesuatu terjadi padamu. Aku pikir—”

“Aku masih disini, 'kan?”

Dia benar. Baji masih disini.

“Sshh, tidak apa-apa.”

Chifuyu jarang menangis. Terakhir kalinya ia menangis sesenggukan adalah saat kematian neneknya beberapa tahun yang lalu. Kematian itu begitu menakutkan. Ia tahu jika satu-persatu orang yang dia sayangi akan meninggalkannya, namun jujur, ia belum siap. Chifuyu belum siap kehilangan mereka. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka.

Hari ini—dalam hangatnya rengkuhan Baji dan usapan lembut di kepalanya, Chifuyu terisak. Ia menangis layaknya seorang anak kecil, menumpahkan semua perasaannya yang ia pendam sendirian, semua yang ia rasakan sejak pertama kali menyaksikan Baji yang begitu tersiksa di depan matanya.

Chifuyu tidak mau.

Chifuyu tidak mau kehilangan Baji.

 


 

Beberapa hari kemudian, Baji datang lebih awal. Chifuyu hampir ingin mengomelinya, namun niatnya terurungkan saat menyadari wajah lelaki itu lebih cerah dari hari-hari biasanya—dengan sebuah payung yang terbuka di genggamannya, padahal malam itu tidak turun hujan sama sekali.

Payung pemberiannya malam itu.

“Aduh, tolong jangan bawa Kak Matsu terus dong. Dia kan juga harus menjalankan kewajibannya sebagai pekerja disini. Kalau begini terus, aku mau minta naik gaji pada bos—a-aduh, sakit! Aku 'kan tidak menyebut pac—Kak Matsu!”

“Bohong! Kau mau lihat anaknya bos kita, 'kan?! Yang namanya Mitsuya Mitsuya itu!”

“Hei, jangan menyebar hoax begitu! Taka-chan itu pelanggan setianya Kak Yuzuha! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya!”

“Kau kira aku tidak lihat wajah merahmu saat dia datang, hah?!”

“M-Mana ada! Sudahlah, pergi sana! Aku mau kerja! Hus!”

Chifuyu terkekeh, begitupula dengan Baji yang menyimak pertengkaran kekanakan mereka.

Baji tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi hari ini. Lelaki itu hanya menariknya, menggenggam tangannya erat sembari menunggu bus tiba. Jantung Chifuyu rasanya seperti ingin keluar dari tubuhnya. Kepalanya terangkat, berniat melirik lelaki itu—namun ternyata Baji juga meliriknya. Chifuyu segera memalingkan wajah, berharap hawa panas di sekitarnya bukan dari pipinya yang merona.

“Kau kedinginan?”

“E-Eh,” Chifuyu menggeleng pelan. “Tidak.”

“Baiklah.”

Baji kini melepaskan jaketnya, dan hal tersebut membuat manik Chifuyu membola.

“Baji-san! Kenapa—”

“Ini.”

Duh. Merah muda pada kedua pipi Chifuyu semakin pekat. “Serius, aku tidak kedinginan! A-Aku pakai lengan panjang, jadi sama saja dengan jaketmu. Lagipula kau lebih butuh itu dariku, kau baru sembuh—”

Terpotong. Baji sudah memberikannya pada Chifuyu, membuat lelaki itu tidak bisa berkutik lagi terutama saat manik hitamnya sudah menatapnya dengan sedikit serius.

“Aku tidak terima penolakan.”

“Hah... Baiklah.”

Bus sampai, dan Chifuyu pasrah saat Baji kembali menarik tangannya.

Ini perasaannya saja... Atau Baji terlihat lebih tampan hari ini? Sepanjang perjalanan, kedua mata Chifuyu tidak bisa lepas dari sosok lelaki itu. Rambut hitamnya dikucir, melambai-lambai ditiup angin yang berhembus dari kaca jendela bus. Ia bersenandung, mengamati jalanan seraya menumpukan kepalanya pada satu tangan yang bertumpu pada jendela. Satu tangannya yang lain menggenggam tangan Chifuyu, menyalurkan kehangatan diantara dinginnya malam.

Jantung... Tolong diam dulu.

Chifuyu menunduk. Aroma Baji mengelilinginya, membuat kepalanya terasa pening—namun ia menyukainya.

“Kita tidak menemui Edward?”

“Tidak.” jawabnya. “Tapi aku jamin yang ini lebih menyenangkan.”

“Begitu?”

“Tentu saja.”

Chifuyu menemukan jawabannya ketika ini mereka berdua berdiri di depan sebuah gerbang—dengan puluhan orang bergerombolan di sekitar mereka, memenuhi tempat itu dengan hiruk-pikuk khas kota. Manik birunya beralih pada sebuah bianglala yang berputar, serta teriakan-teriakan histeris dari beberapa orang disana. Begitu indah, karena dia tidak pernah sama sekali mengunjunginya selama tinggal di Tokyo.

”... Pasar malam?”

“Yaa!” Baji berseru riang, menunjuk komedi putar yang berada tidak jauh dari mereka. “Lihat itu! Keren, 'kan? Aku tidak sengaja melihatnya waktu memungut koran disana. Tempat ini baru dibuka, dan katanya ada promo besar! Ayo.”

“Kau yakin, Baji-san? Disini terlalu ramai... Kau juga akan kelelahan—”

“Ayo, Chifuyu!”

Sekali lagi, Baji menggenggam tangannya. Senyum lelaki itu begitu indah di mata Chifuyu, dan ia tidak ingin merusaknya.

Disini sangat menyenangkan. Sudah lama Chifuyu tidak mengunjungi pasar malam. Baji juga tampaknya sama. Mereka berdua mengelilingi tempat itu dengan antusias. Chifuyu menertawakan Baji yang selalu gagal menembak papan yang ada di depannya, lalu akan dibalas lelaki itu dengan tawa yang lebih keras saat Chifuyu mual sehabis menaiki wahana kora-kora. Setelah itu Baji akan dihadiahi pukulan, namun lelaki tersebut tidak mempermasalahkannya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, merasa jika semesta saat ini sangat baik pada mereka.

“Baji-san.”

Baji menoleh, menemukan Chifuyu yang sedang memegang ponselnya—diikuti flash dari benda pipih itu.

“Hei Chifuyu! Kau memotretku, ya?!”

“Yah, ketahuan.” Yang ditanya menunjukkan cengiran kuda. “Harusnya aku mematikan lampunya.”

“Aku bahkan belum siap!”

Baji merebut ponsel Chifuyu paksa (menyebabkan erangan protesnya terdengar). Akhirnya, lelaki itu menarik tudung jaket yang dikenakan Chifuyu, kemudian memposisikan ponselnya.

“Cheese.”

Click!

“Baji-saaan!”

“Lucu, kok, Chifuyu.” Baji menunjuk foto mereka. “Lihat, mirip kucing. Astaga—aku akhirnya sadar. Ternyata selama ini Ed mirip denganmu.”

“Mana ada aku mirip kucing?!”

“Ada.”

Baji mengangkat helai kuning lelaki di depannya dengan kedua tangannya, membentuknya seperti tanduk.

“Nih.” katanya, kemudian tertawa. “Catfuyu.”

Chifuyu melongo, hingga akhirnya ia sadar apa yang ingin lelaki itu lakukan dan kembali memukulnya.

“Baji-san!”

“A-Aduh—ampun, hei Catfuyu, tolong jangan cakar aku—aaah hahaha, iya-iya!”

Pada akhirnya, kini Baji dan Chifuyu berjalan berdampingan. Senyum Chifuyu mengembang, memandangi beberapa anak kecil yang berlarian dengan kincir angin di tangan mereka. Baji tampak asyik dengan ponsel milik Chifuyu, melihat-lihat foto yang barusan mereka ambil.

“Baji-san, terimakasih, ya.” buka Chifuyu, masih dengan senyuman. “Aku tidak menyangka kau mau repot-repot membawaku kemari... Padahal cukup jauh dan juga memakan biaya banyak.”

“Tidak apa-apa! Lagipula aku sudah memperhitungkan segalanya. Kau sudah terlalu banyak berbuat baik padaku, dan tampaknya kau juga sedang sakit kepala karena sekolah—jadi aku ingin membuatmu setidaknya tersenyum hari ini.”

Rona merah kembali menghiasi wajah lelaki berambut pirang tersebut.

Mereka tidak banyak berbicara lagi. Chifuyu berusaha mengontrol detak jantungnya, sedangkan Baji menatap lurus ke depan. Lama sekali mereka berdua seperti itu, hingga Baji berhenti.

”... Baji-san?”

“Hei, Chifuyu.”

Lelaki itu menoleh, mendapati dua netra Baji lurus menatapnya penuh makna.

“Aku pernah membayangkan,” ujarnya, “Bagaimana hidupku kedepannya. Ketika aku membayangkannya, aku melihat ada jurang yang dalam ada di hadapanku. Aku memandanginya, hingga akhirnya aku paham. Hidupku hanya suatu hal yang sia-sia. Hidupku adalah sebuah kesalahan, sampai aku berpikir—sebenarnya aku hidup untuk apa? Padahal semua orang membuangku, tapi mengapa aku masih disini? Aku selalu memikirkannya, apapun yang kulakukan. Dari aku bekerja, makan, beristirahat—sebenarnya untuk apa aku melakukan semua ini?”

Chifuyu ingin sekali mengatakan jika yang dikatakannya itu tidak benar. Baji sangat berharga. Baji begitu berarti baginya. Ia hampir saja mengeluarkan suara, namun lelaki itu jauh lebih dulu melanjutkan apa yang hendak ia katakan.

“Hari itu hujan. Aku memutuskan untuk berteduh. Minimarket itu sepi sekali. Aku hanya melihat beberapa orang yang datang kesana. Saat itu aku bingung sekali, apa lagi yang harus kulakukan? Aku muak sekali dengan kehidupanku. Aku lelah. Aku ingin semua ini segera berakhir. Hari itu adalah hari di mana aku benar-benar putus asa—tapi kau tahu?”

Baji tersenyum. “Seseorang memanggilku. Kukira aku hanya berhalusinasi, tapi ternyata itu sungguhan. Dia sekali lagi memanggilku, bertanya apakah aku kedinginan atau tidak. Akhirnya dia datang, memberiku segelas kopi dengan wajah yang lucu bagiku. Kopinya hangat, sehangat senyum miliknya.”

Chifuyu hampir ingin menangis—tapi ia buru-buru menahannya.

“Sekarang aku paham, Chifuyu.” lanjutnya, masih lurus menatapnya. “Aku akhirnya tahu apa alasanku untuk hidup. Aku akhirnya mengetahui apa tujuanku tetap makan, tidur, dan bertahan di tengah kota ini.”

”... Untuk apa?”

“Untuk selalu melihat wajahmu.”

Refleksi cahaya dari pasar malam di belakangnya membuat Baji beribu-ribu kali lipat menawan di matanya. Senyum itu begitu tulus, mungkin senyum paling indah yang pernah ia lihat dari lelaki itu. Matanya bersinar—berbeda dengan saat pertama kali ia bertemu dengannya. Jika dulu tampak kosong dan gelap, sekarang terlihat hidup.

Dan sekali lagi, Chifuyu jatuh cinta.

“Aku ingin terus hidup untuk pergi ke tempatmu dan menemuimu. Aku ingin terus hidup untuk menggenggam tanganmu dan mengajakmu mengelilingi seluruh dunia. Aku ingin terus hidup untuk melihat senyumanmu. Aku ingin terus hidup—”

Baji tampak berkaca-kaca, “Untuk menjadi salah satu alasan kebahagiaanmu.”

Chifuyu tidak ingin menangis. Dia tidak mau—namun tubuhnya mengkhianatinya. Air mata itu tetap lolos, mengalir membentuk anak sungai di wajahnya.

“Baji-san....”

“Chifuyu, dunia ini memang kejam, tapi berjanjilah—jangan lupa selalu tersenyum, ya? Karena aku menyukai itu.”

“Baji-san...,” lirihnya. “Baji-san, aku—”

Menyukaimu.

“Aku—aku sangat—”

Aku sangat menyukaimu.

“Aku—”

Aku mencintaimu.

Baji mendekat. Kedua tangannya terulur, membungkus wajah Chifuyu dengan lembut. Chifuyu memejamkan mata, merasakan bagaimana lelaki itu menyentuh wajahnya layaknya dirinya begitu berharga; layaknya dirinya adalah seluruh dunianya. Satu jarinya mengusap anak sungai yang mengalir di pipi si pirang, dan saat Chifuyu membuka mata—wajah Baji sangat dekat padanya.

Begitu dekat. Napas mereka beradu. Lelaki itu terengah-engah, hidung mereka bersentuhan. Chifuyu kembali memejamkan mata erat, meletakkan tangannya pada pundak yang lebih tinggi.

Deg.

Deg.

Deg.

Tunggu.

Chifuyu mengernyit. Pundak Baji menegang. Ia tidak merasakan kelembutan yang sebelumnya ia rasakan dari kedua telapak tangannya. Tangan itu sekarang lebih dingin dan berkeringat. Kelopak matanya terbuka, berhadapan langsung dengan sepasang mata Baji yang memandanginya....

Ketakutan.

”... Baji-san?”

Baji segera menjauh. Chifuyu bingung karena lelaki itu tampak panik, meremas rambutnya dengan kasar.

“Apa... Apa yang tadi hampir kulakukan—”

“Baji-san? Ada apa? Apa ada yang sakit lagi? Baji—”

“Jangan mendekat!”

Chifuyu berhenti.

“T-Tidak... Chifuyu, maaf—” Baji terlihat semakin panik. “Maaf, aku—aku tidak bermaksud—”

“Aku tidak mengerti, Baji-san—”

“Aku tidak bisa—maaf—maaf!”

Chifuyu mendekat, hendak menyentuh pundaknya—namun Baji menepisnya. Lelaki itu berlari, mengabaikan teriakan Chifuyu yang terus memanggilnya. Chifuyu berusaha mengejarnya, akan tetapi gagal. Ia menghilang, meninggalkannya sendirian di tengah keramaian.

Apa yang terjadi?

Malam ini, ia kembali dengan menaiki bus. Namun yang berbeda, tidak ada kehangatan dari seseorang di sebelahnya.

Kursi di sebelahnya terasa dingin. Chifuyu terdiam, memeluk jaket milik Baji yang tidak sempat ia kembalikan kepada sang pemilik.

Baji meninggalkan pertanyaan-pertanyaan besar untuknya.

 


 

Sejak hari itu, Baji tidak pernah lagi datang ke minimarket.

Chifuyu merasa frustrasi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa yang membuatnya begitu panik malam itu? Ini tidak seperti biasanya. Baji tidak bisa ia temukan di manapun. Lelaki itu tidak ada di kedai udon. Lelaki itu tidak terlihat di sekitar jalan. Baji benar-benar hilang, dan hal tersebut membuat Chifuyu sangat khawatir.

Jujur, ia seperti sengaja menghilang.

Tapi... Kenapa?

Mengapa Baji berbuat demikian? Setelah apa yang dikatakannya padanya... Rasanya tidak masuk akal. Ada sesuatu yang janggal, tapi Chifuyu tidak tahu. Chifuyu tidak bisa mengetahuinya.

Peyoung yakisoba di depannya tersisa setengah. Chifuyu membeli satu dalam perjalanan menuju minimarket, lalu membuka bumbu—mengaduknya, dan setelah itu membaginya menjadi dua bagian. Lelaki itu memakan bagian pertama, lalu berhenti saat ia melihat bagian kedua.

Kalau sudah begini, harusnya Baji-san akan memakannya, 'kan?

Irisnya berpendar ke luar. Hujan mengguyur kota. Seketika dia teringat Baji, pasti lelaki itu sedang bekerja sembari memakai payungnya. Setelah selesai, Baji pasti akan kemari untuk memakan peyoung di depannya bersama-sama.

Chifuyu memandangi makanan di depannya.

Kemudian ia menunggu.

Sekali lagi.

Namun hingga Chifuyu selesai dan dia pulang ke rumah bersama Hakkai, peyoung yakisoba itu tetap sama.

 


 

Kesekian kalinya, Takemichi menggoyangkan pundak Chifuyu. Yang dipanggil terkesiap, kemudian memandangi lelaki di sebelahnya dengan bingung.

“Oh, Takemichi?”

“Aku terus-terusan memanggilmu, tapi kau tidak membalas.” ucapnya, mengerutkan dahi. “Semua sudah pulang, tapi kau malah melamun. Apa ada masalah?”

Ah.

Tersenyum singkat, Chifuyu merapikan peralatannya, lalu beranjak dari bangkunya. “Aku baik-baik saja, hanya... Sedang banyak pikiran.”

“Serius? Kau terlihat lemas beberapa hari ini, apa ada sesuatu hal buruk yang menimpamu? Biasanya kau selalu buru-buru pulang dengan wajah cerah, tapi sekarang malah tidak lagi.” ucap Takemichi, menatapnya dengan mata memicing. “Kau sungguh baik-baik saja? Apa... Kau... Habis putus?”

Chifuyu memukul lengannya. “Aku tidak punya pacar, bodoh!”

“Kau tidak bisa menipuku dengan wajah kasmaran dan balon-balon shoujo di sekitarmu itu! Yah, walau sekarang tidak ada.”

Tidak ingin semakin berdebat, Chifuyu memutuskan untuk menginjak kaki sobatnya tersebut dan meninggalkan kelas dengan helaan napas panjang dari bibirnya.

Di tangannya, sebuah paper bag bergoyang kesana kemari.

Ia tidak bisa terus begini. Melangkahkan kakinya, Chifuyu segera bergegas. Sampai hari ini, Baji tidak pernah datang lagi. Lelaki itu benar-benar membuatnya pusing, dan hari ini, dia tidak tahan. Rencananya, Chifuyu akan pergi ke kedai udon tempat Baji bekerja untuk menanyakan lelaki itu. Kalau bisa, ia juga akan meminta alamatnya. Chifuyu kesal sekaligus khawatir padanya. Apa yang dia lakukan? Apa dirinya membuat kesalahan? Tapi apa?

Kakinya berhenti. Chifuyu berdiri beberapa meter dari lokasi kedai tersebut. Kedua matanya menyipit, mencoba mencari sosok lelaki tinggi dengan ponytail tinggi yang mungkin saja ada disana.

Sayangnya tidak.

Baji tidak ada disana, sehingga Chifuyu memutuskan untuk berlari.

Kedai itu ramai sekali. Pertama memasukinya, ia disambut dengan aroma udon yang menyebar ke segala penjuru. Chifuyu berdiri dengan linglung, mendadak tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Terlalu banyak orang. Siapa yang harus kutanya? Lelaki itu terus melangkah, hingga ia tidak sengaja menabrak seseorang.

“Aduh!”

“Ah, maafkan aku!” ucap Chifuyu panik, “Maafkan aku, aku tidak tahu kau ada di belakangku! Astaga, maaf!”

”... Ah, tidak apa-apa.” ucap orang asing di depannya (seorang lelaki, mengenakan kemeja cokelat dan apron merah seperti Baji). “Oh, kesulitan mencari tempat duduk? Aku akan mengantar—”

“Tidak!” sanggah Chifuyu cepat. “Aku... Ehm, aku ingin menanyakan sesuatu.”

Lelaki itu mengangkat alis. “Oh? Ingin menanyakan apa?”

“Apa kau... Mengenal Baji-san? Ehm, maksudku Baji. Keisuke Baji. Dia bekerja disini, sama sepertimu. Rambutnya panjang, dikucir kuda....”

“Oh! Maksudmu Baji-kun, ya?”

“Iya!” Chifuyu mengangguk antusias. “Kau mengenalnya? Ah, apa kau tahu dia di mana sekarang? Atau kenapa dia tidak bekerja?”

“Oh... Yang kudengar dari bos, dia mengambil cuti. Aku tidak tahu apa alasannya, karena bos sendiri juga tidak memberitahu.” katanya, kemudian mengingat-ingat. “Sudah seminggu lebih kalau tidak salah, mungkin sudah mau dua minggu.”

Ia menunduk lesu. “Sampai kapan?”

“Wah, kalau itu aku tidak tahu.”

“K-Kalau begitu, apa kau tahu di mana Baji tinggal? Kalau tidak ada alamat, cukup areanya saja.”

“Aku tahu. Dia tinggal disini...,”

Setelah menghapalnya dalam-dalam, Chifuyu segera melangkahkan kakinya.

Dari kedai itu, ia harus menaiki bus. Perjalanannya cukup lama, sehingga kaki-kakinya bergerak dengan tidak sabaran. Sesekali Chifuyu melirik paper bag di pangkuannya, mengintip isinya. Jaket milik Baji yang sudah ia cuci bersih. Ketika bertemu nanti, ia harus mengembalikannya.

Chifuyu sampai di sebuah perempatan. Disini sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar, dengan penampilan kumal. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah telepon umum. Ia memandanginya lama, menyadari jika telepon itulah yang Baji gunakan untuk meneleponnya.

“Ah! Maaf.”

Seorang anak menatapnya dari atas ke bawah. Teman-temannya meringkuk di belakang si anak yang paling depan, menatapnya takut-takut.

“I-Iya,” katanya, memilin bajunya. “Ada apa?”

“Kau mengenal Keisuke Baji? Rambutnya panjang, sering mengenakan jaket hitam. Apa hari ini kau melihatnya?”

“Tidak...,” jawabnya pelan. “Aku tidak melihatnya beberapa hari ini.”

Chifuyu seketika lemas.

“A-Apa dia tidak pulang? Atau apa kau melihatnya di rumahnya?”

“Rumah Kak Keisuke tertutup.” sahut anak lain di belakang. “Lampunya masih menyala sampai sekarang. Berarti Kak Keisuke tidak ada.”

“K-Kalau begitu apa kau tahu ke mana dia sering pergi? Maksudku selain bekerja? Oh, kau tahu usaha daur ulang disini? Pokoknya yang mengurus barang bekas disini. Dia bekerja untuk mereka—”

“Kak...,”

Chifuyu berhenti.

“Itu—Kak Keisuke.”

Lelaki itu refleks berbalik, menemukan sepasang mata lain yang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat terbaca.

“Kak Keisuke! Ada yang mencari Kakak!”

“Baji-san,” Chifuyu menghela napas lega, tersenyum. “Kau ke mana saja—”

“Ayo, anak-anak.”

Baji melewatinya, mengajak anak-anak tersebut untuk masuk.

“Baji-san!” Ada apa? Chifuyu berusaha menahan Baji, akan tetapi tenaga lelaki itu jauh lebih kuat. “Baji-san! Jangan mengabaikanku! Aku datang kemari untuk—”

“Pergi.”

Ia terdiam.

“Hei, Baji-san, aku tidak mengerti.” ujarnya, tidak mempedulikan apa yang terakhir ia dengar. “Hari itu kita masih tertawa bersama, menghabiskan waktu dengan bahagia, tapi kau tiba-tiba meninggalkanku—lalu saat aku kemari, kau malah menyuruhku pergi. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku—Apa aku berbuat suatu kesalahan? Kalau memang begitu katakan saja, aku minta maaf—”

“Kaito, ajak teman-temanmu.”

“Baik, Kak.”

Anak-anak itu berjalan menjauhi mereka. Chifuyu masih terengah-engah, berharap Baji kini menatapnya lalu tersenyum seperti biasa. Tapi lelaki itu bergeming; ia berdiam diri di tempatnya, memunggunginya.

”... Baji-san, sebenarnya—”

“Chifuyu, kurasa sebaiknya mulai hari ini, kita jangan bertemu lagi.”

Dadanya mencelos.

“K-Kenapa?” Suaranya tercekat, merasakan dadanya berdentum dengan menyakitkan. “Hei, aku tidak suka ya kalau kau menipuku seperti ini. Bercandaanmu sekarang terlalu berlebihan—”

“Aku serius, Chifuyu. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku akan pergi dari kehidupanmu, dan aku harap kau juga melakukan hal yang sama—”

“Aku juga serius!”

Bergetar, ia meremas seragamnya, menggenggam paper bag di tangannya dengan kuat. “Kau membuatku bingung, Baji-san. Rasanya baru kemarin—baru kemarin kau menggenggam tanganku, berkata padaku jika aku adalah alasan kau mau bertahan hidup. Kemarin kau bilang jika kau bersyukur karena kehadiranku dalam hidupmu—tapi sekarang kau malah menyuruhku pergi? Lucu sekali. Benar-benar konyol.” Chifuyu menghapus air matanya kasar. “Jadi apa semua yang kau bilang waktu itu? Omong kosong?”

“Kau tidak mengerti, Chifuyu.” ujarnya pelan. “Kau tidak akan pernah mengerti—”

“Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau sama sekali tidak pernah mengatakannya padaku?!”

Chifuyu berteriak, “Kalau kau terus menyembunyikan segala hal padaku, bagaimana aku bisa tahu?! Kau selalu menutupi banyak hal dariku. Kau datang, lalu pergi dengan memberiku banyak pertanyaan—aku tidak mengerti, Baji-san! Kalau terus begini—”

“Kumohon, Chifuyu!”

Isaknya semakin menjadi. Manik birunya menatap Baji yang masih memunggunginya nanar.

“Tolong,” lirihnya. “Kumohon, Chifuyu. Tolong pergilah.”

“Kau bilang kau ingin aku tersenyum, 'kan?”

Chifuyu mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Bagaimana aku bisa tersenyum, sedangkan kau adalah alasannya? Jika kau pergi—” Lidahnya kelu. “Bagaimana aku bisa bahagia?”

Baji tidak menjawab.

Apa-apaan ini? Apa ini mimpi buruk? Jika benar, Chifuyu tidak mau terlalu lama disini. Jika sekarang adalah mimpi buruk, ia ingin bangun detik ini juga. Semuanya terlalu menyakitkan. Rasanya seperti terbang begitu tinggi, lalu dihempaskan begitu saja karena tidak berguna. Jika Baji menginginkannya, lalu untuk apa perlakuannya selama ini padanya? Jika sejak awal tidak berniat menetap, lalu mengapa ia menjebaknya dengan rasa nyaman dan kebahagiaan semu ini?

”... Pergilah, Chifuyu.”

“Kau pernah berpikir mengapa aku sangat peduli padamu?”

Chifuyu menunggu, namun Baji tak kunjung menjawab.

“Kau begitu berharga bagiku, Baji-san. Kau adalah orang yang kukagumi. Kau benar-benar berarti untukku dan aku... Aku... Aku sangat menyukaimu.” ujarnya. “Aku begitu menyukaimu.”

“Jangan menyukaiku, Chifuyu.”

Suaranya terdengar pelan. “Jangan... Karena aku tidak akan bisa membalasnya.”

Air mata mengalir deras di wajahnya.

Mengapa, Baji-san?

Aku tidak mengerti—mengapa?

Ia mangut. Chifuyu membersihkan wajahnya, memandangi Baji disana dengan senyum hambar. “Baiklah. Aku akan melakukannya.” ucapnya. “Aku akan pergi. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Aku akan melakukannya, sesuai yang kau inginkan.”

Baji mengangguk. “Iya.”

Kau berjanji padaku. Apa kau ingat?

“Ini jaketmu, sudah kucuci. Kuletakkan di tanah saja, ya? Kau pasti tidak mau melihat wajahku, jadi ambillah saat aku sudah menghilang.”

Sekarang, kau melanggarnya.

“Iya.”

”... Oke.”

Akhirnya seperti ini.

“Aku pergi.”

Chifuyu berbalik, meninggalkan Baji dengan rasa sesak dan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Langkahnya semakin cepat—hingga akhirnya ia berlari. Chifuyu berlari sampai napasnya tersengal dan lututnya sakit.

Terlalu menyakitkan.

Hari itu cerah, namun Chifuyu terisak keras. Ia menangis, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang memandanginya keheranan.

Kali ini, Baji tidak akan menghampirinya. Ia tidak akan datang untuk merengkuhnya—membawa dirinya dalam dekapan hangat itu, menghapus air matanya, atau mengucapkan kata-kata penenang untuknya. Tidak akan ada lagi Baji yang menggenggam tangannya. Tidak akan ada lagi sosok lelaki tinggi yang selalu mewarnai hari Chifuyu dengan senyum indahnya.

Ia tidak akan pernah datang lagi.

 


 

Hari-hari Chifuyu berlangsung seperti biasa.

Di pagi hari ia bersekolah, kemudian pulang dan istirahat sejenak, lalu berangkat kerja dari malam sampai pagi-pagi buta, berputar bak roda. Ujian kenaikan semakin dekat, sehingga jadwalnya jadi berantakan. Terkadang sambil bekerja ia akan membaca buku, mengerjakan soal, sambil sesekali menguap karena kurang tidur.

(Hakkai selalu setia menjadi murid privatnya. Lelaki itu menanyakan beberapa hal padanya, dan Chifuyu akan mencoba membantunya—kalau dia tahu juga, 'sih.

“Kak Chifuyu.” Ia tidak memanggilnya dengan 'Kak Matsu' lagi, “Menurutmu kalau aku naik kelas nanti langsung menikah saja bagaimana?”

Keesokan harinya Yuzuha tiba-tiba memberinya ceramah gratis, dan Hakkai tidak perlu menanyakan lagi siapa pelakunya.)

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Cuaca berubah-ubah dengan tidak pasti. Chifuyu mengerang, mengapa akhir-akhir ini hujan harus turun. Terkadang karena hujan, dia harus berangkat ataupun pulang dengan sepatu yang basah atau terkena cipratan air. Benar-benar merepotkan. Ia harus susah payah mencari spot yang tepat untuk menjemur seragamnya agar masih bisa dipakai esok harinya.

Seperti hari ini. Chifuyu menopang dagu, mengamati hujan yang turun dari kaca jendela. Samar-samar ia mendengar senandung dari lelaki berambut cepak di kejauhan, duduk di sebelahnya sembari membawa dua nampan.

Peyoung yakisoba hangat di hari yang dingin mencekam~ Nah, ini punyamu dan ini punyaku.” Hakkai menarik kursi di sebelah Chifuyu, kemudian mulai menyantap makanannya. “Itadakimasuuu!”

Chifuyu mengucapkan terimakasih, mengambil sumpitnya dan mengaduk peyoung di hadapannya. Lelaki itu memutarnya, lalu memisahkannya—membagi makanan itu menjadi setengah.

Hakkai mengerutkan dahi, mencolek lengan Chifuyu yang mulai menyeruput minya. “Lho? Kenapa diatur jadi dua begitu? Mau disisakan untuk dini hari?”

Lelaki itu terdiam.

“Oh, iya.” Tawanya terdengar hambar, “Dasar bodoh. Aku lupa, ahahaha.”

”... Ahahaha, seperti Kak Baji, ya.”

Sesaat peyoung yakisoba di depannya tidak terasa enak lagi.

“Ahahahaha, sepertinya aku salah membeli makanan. Makan saja, deh.”

Baji, ya?

Diam-diam, Chifuyu kembali melirik ke arah jendela.

Tidak ada.

Tersenyum pahit, ia lanjut memakan makanannya.

Sudah lama sekali. Sudah lama ia tidak melihat ataupun mendengar kabar Baji. Apa lelaki itu baik-baik saja? Sedang apa dia sekarang? Chifuyu berpikir, apa dia kehujanan? Hah, entahlah. Ia sama sekali tidak mengetahuinya. Baji benar-benar menghilang dari hidupnya, seperti yang Chifuyu juga lakukan. Ia tidak mencarinya lagi. Ia hanya melewati kedai udon itu tanpa sesekali mengintipnya lagi. Chifuyu mengikutinya seperti apa yang Baji inginkan, harusnya dia senang, 'kan?

Baji pasti sangat senang....

Namun jauh dalam dirinya, ia sangat merindukannya. Ia merindukan lelaki itu. Meskipun Baji kini mungkin tidak mau melihatnya lagi, tapi Chifuyu ingin sekali melihatnya. Tidak apa-apa meskipun hanya satu kali—setidaknya, ia bisa memastikan jika dia baik-baik saja.

“Hei, Hakkai. Kira-kira Baji-san sedang apa sekarang?”

Yang ditanya diam. Butuh waktu agak lama baginya untuk menjawab, “Hm... Memikirkanmu?”

“Mana mungkin.” ujar Chifuyu pelan. “Dia membenciku.”

”... Kurasa dia punya alasan tertentu? Yah, karena semua itu terlalu tiba-tiba.”

Chifuyu diam. Kalau dipikir memang benar, semuanya terlalu mendadak. Ia belum siap dengan kenyataan menyakitkan ini, namun pada akhirnya ia dipaksa untuk menghadapinya. Baji yang datang, lalu pergi begitu saja. Baji yang membuatnya menjadi orang paling bahagia, sekaligus orang yang menyedihkan. Baji yang ia cintai, sekaligus orang yang juga ia benci.

Rasanya seperti mimpi.

“Mungkin kau harus menemuinya sekali-sekali, Kak Chifuyu.” ucap Hakkai, ikut memperhatikan hujan bersamanya. “Mungkin saja dia juga merindukanmu seperti yang kau rasakan sekarang.

Haha. Chifuyu tertawa paksa.

“Entahlah.”

Baji tentu tidak akan mau melihatnya lagi.

Dalam bunga tidurnya, ia bermimpi Baji ada di sisinya, merengkuhnya hangat dengan senyum di bibirnya. Lelaki itu mengecup dahinya lembut, membisikkan kata cinta yang membuat hatinya tenang.

Chifuyu terbangun, lalu menangis.

Lagi-lagi. Ia tidak bisa.

Ia merindukannya.

 


 

“Totalnya 1.500 yen.

“Terimakasih.”

Chifuyu menghela napas, melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut dengan gontai. Menenteng kantung plastik dan payung yang belum terbuka, lelaki itu merogoh ponselnya, mencari sebuah nama dan menekannya.

“Mana sih... Mana—oh, halo Hina. Takemichi ada? Bagaimana belajar bersamanya?”

Kedua maniknya memperhatikan tetes hujan yang terus turun dari atas. Untung saja dia membawa payung. Ramalan cuaca di koran mengatakan jika hari ini cerah, namun awan mendung yang menutupi langit sejak pagi menyangkalnya. Gerimis sudah turun saat Chifuyu memasuki toko untuk membeli beberapa cemilan untuk belajar nanti, dan kini saat ia selesai, hujan sudah mengguyur kota.

Ujian semakin dekat. Kehidupannya semakin kacau. Ia bahkan sempat jatuh sakit karena kesibukan yang terus melanda, tapi untung saja tidak terlalu parah. Chifuyu tentu tidak punya banyak uang untuk membeli obat-obatan, sehingga ia benar-benar harus menjaga kesehatannya. Waktu itu saja ia jadi menumpang di kediaman Hakkai (atas paksaannya juga), dengan Yuzuha yang merawatnya.

“Halo, ibu? Aku baru dari toko.”

Melangkah, Chifuyu membaur bersama pejalan kaki lain yang ikut melangkah di dekatnya. Lelaki itu membawa kantung plastiknya, sedikit bergidik saat mendengar suara guntur dari kejauhan.

“Disini hujan, Chifuyu! Di Tokyo hujan?”

“Iya,” jawabnya pendek. “Lumayan deras.”

“Astaga! Kau sekarang berjalan di tengah hujan?! Berteduh dulu! Nanti tubuhmu basah.”

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Chifuyu...,” Suara ibunya melembut. “Ibu sangat merindukanmu.”

“Iya....” Chifuyu tersenyum tipis. “Aku juga.”

”... Sayang?

“Ya, Bu?”

“Apa terjadi sesuatu? Suaramu lemas sekali, apa ada masalah?”

Chifuyu menggigit bibirnya.

“Chifuyu, ibu sudah bilang, 'kan? Kalau ada masalah disana, kau bisa ceritakan pada ibu. Ibu sebisa mungkin akan membantu. Anak ibu tidak boleh sedih, harus tersenyum.”

Jangan lupa untuk selalu tersenyum, ya?

Sial. Kedua matanya mendadak memanas.

”... Chifuyu?”

“Oh,” Ia berdeham, mengatur suaranya agar tetap sama seperti tadi. “Aku tidak apa-apa, kok. Ibu jangan khawatir padaku, oke? Ah, Bu, aku sudah sampai di rumah temanku. Aku matikan, ya? Kutelepon lagi kalau sudah selesai belajar.”

Setelah mendengar ibunya mengucapkan sampai jumpa, Chifuyu segera memutuskan panggilan dengan mempercepat langkahnya.

Baji saja tidak akan peduli padanya, kenapa dia terus-terusan memikirkan lelaki itu? Mungkin saja dia sudah pergi dari kota ini, 'kan? Berhenti memikirkannya! Lupakan dia! Dia sangat jahat! Dia begitu jahat padamu, Chifuyu Matsuno!

Aku ingin hidup untuk menggenggam tanganmu dan mengajakmu mengelilingi seluruh dunia.

Pembohong. Baji tidak ada disisinya, tidak akan menggenggam tangannya dengan kehangatan itu.

Satu bulir lolos dari pelupuk matanya, dan ia menghapusnya cepat.

Drrttt

Langkahnya terhenti. Chifuyu kembali menghapus air mata lainnya yang turun, kemudian merogoh sakunya kasar—menggeser layar ponselnya ke kanan tanpa melihat ID callernya. “Apa?”

“Kak Chifuyu!”

“Apa, Hakkai? Aku tidak punya waktu jika ini tidak penting.”

“Kak Chifuyu! Aku dapat telepon dari Kak Inui—”

“Apa, sih?!”

“Dia bilang ada seseorang berdiri di depan minimarket, katanya terus memanggil namamu!”

Lelaki itu diam.

“Ada seseorang hujan-hujanan di depan minimarket kita, meneriaki namamu padahal hujannya deras sekali! Kak Inui bilang pakaiannya gelap-gelap, dan ciri-cirinya persis seperti—”

“Biarkan saja.”

“Kak? Kau serius?! Apa sebaiknya kau tidak—”

“Aku tidak peduli!”

Napasnya tersengal. “Lagipula dia menyuruhku untuk tidak menemuinya lagi! Kenapa sekarang dia jadi mencariku?! Aku tidak mau pergi. Aku tidak peduli—”

“Dia kacau sekali, Kak Chifuyu! Kak Inui bilang padaku kalau—”

“Aku tidak mau, Hakkai!”

“Kak Baji tampak sekarat.”

Berputar arah, Chifuyu berlari.

Dari sini ke minimarket tempatnya bekerja lumayan jauh, namun kakinya seakan mati rasa. Jantungnya berdegup kencang, adrenalin memenuhi dirinya. Sekarat? Maksudnya apa? Apa Baji tidak menjaga tubuhnya? Kenapa mereka mengatakan begitu? Tidak peduli pada orang-orang yang melihatnya bingung, Chifuyu terus memacu langkahnya.

Mengapa Baji kembali mencarinya? Dia yang bilang jika dia ingin dirinya pergi, bukan? Lalu mengapa—

Belokan terakhir. Chifuyu berlari hingga dadanya sakit, lalu terhenti. Merasakan sesuatu membuncah di hatinya.

Beberapa meter di depannya, seseorang berdiri. Tubuhnya basah kuyup, tidak peduli hujan terus mengguyurnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri—terus memanggil-manggil sebuah nama yang membuat jantungnya serasa terhenti. Sebuah nama yang membuat kakinya terangkat, perlahan-lahan mendekati orang itu.

“Chifuyu!”

Baji tidak menyadari kehadirannya.

“Chifuyu!”

Chifuyu sangat merindukannya.

“Chifuyu!”

Ia benar-benar di hadapannya.

“Baji-san.”

Lelaki itu berhenti berteriak. Kepalanya menoleh, kini memandanginya. Kedua manik hitam itu lurus tertuju pada manik birunya, dan Chifuyu merasa dadanya dihantam sesuatu yang tak kasat mata.

Baji sangat pucat. Kantung mata yang tebal mencoreng wajah tampannya, dan ia terlihat sangat kurus—seperti seluruh berat tubuhnya disedot dalam sekejap. Tubuh tegap yang tampak nyaman itu kini terlihat sangat rapuh, benar-benar rapuh; seakan jika Chifuyu sentuh sedikit saja, ia akan retak.

“Chifuyu...,” lirihnya. “Chifuyu—”

“Baji-san!” Chifuyu menghambur ke arahnya, menangkap tubuh tingginya tepat sebelum ia benar-benar jatuh ke tanah. “Baji—mengapa—” Ia tidak bisa menahan air matanya. “Kenapa sampai jadi begini? Apa yang terjadi padamu?”

“Chifuyu...,”

Kedua tangan Baji menangkup wajahnya, memandangi lelaki itu dengan senyum kecil di bibir pucatnya. “Chifuyu... Aku bisa melihatmu lagi—aku bisa menyentuhmu lagi.”

“Ayo ke dalam, Baji-san. Kau basah kuyup,” Chifuyu kesusahan mempertahankan payungnya dan menahan tubuh Baji yang memberat. “Kita harus mengeringkan tubuhmu dulu sebelum bicara—”

“Aku tidak mau pergi dari sini, Chifuyu.”

“Iya, tapi kau harus mengeringkan—”

“Bagaimana jika setelah ini aku tidak bisa melihatmu lagi?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Baji-san. Sekarang ayo masuk dan—”

“Aku masih ingin bersama denganmu.”

Payungnya terjatuh. Chifuyu terdorong ke depan, di mana kini kedua lengan Baji membungkus tubuhnya erat—membuat dirinya kini ikut basah karena hujan.

“Baji-san!”

“Chifuyu.”

Aneh. Kenapa dadanya semakin sesak? Kedua tangannya mendekap Baji, merasakan deru napas lelaki itu yang menggelitik lehernya.

“Kalau aku benar-benar pergi, tolong jangan menangis seperti ini, ya?”

“A-Aku tidak tahu,” ucapnya terbata-bata. “Aku sama sekali tidak paham apa yang sedari tadi ingin kau beritahu padaku—kita harus berteduh.”

“Harus selalu bahagia...,”

“Tolong dengarkan aku!”

“Karena Chifuyu adalah matahari.”

Baji pingsan. Chifuyu berseru panik, tangisnya pecah seraya berusaha memanggil bantuan. Beberapa orang yang lewat segera menghampirinya, serta Inui dan satu rekannya lagi yang tanggap memanggil ambulans tepat saat lelaki itu tumbang.

“Tolong!”

Isakannya semakin menjadi. “Tolong—hiks—tolong Baji-san—”

Perasaan itu kembali menghantuinya.

Chifuyu takut.

 


 

Apa ini mimpi?

Bukan.

Ia tidak bermimpi.

Semua rasa sakit ini adalah kenyataan. Udara dingin yang menusuk tulang, kekosongan yang memenuhi jiwanya, stiap sentuhannya, suaranya, serta tatapan itu—mereka nyata. Ia masih bisa merasakan kehangatan yang sempat menyentuhnya, kehangatan yang tetap terasa meskipun hujan membasahinya.

Chifuyu tidak bermimpi, tapi yang ia dengar tadi—

“HIV-AIDS.”

Kenapa rasanya ia seperti bermimpi?

“Dia sudah dirawat di rumah sakit ini sejak sebulan yang lalu, tapi hari ini dia memaksa untuk pulang—padahal keadaannya semakin buruk. Yang dia sebut hanya nama seseorang, dan kami tidak bisa mencegahnya.”

Alasan mengapa Baji menutupi banyak hal darinya selama ini, alasan mengapa Baji terlihat selalu pucat, alasan mengapa Baji meninggalkannya, serta alasan mengapa Baji harus berada di tempat mengerikan ini—

“Sampai kapan... Sampai kapan dia bisa bertahan?”

“Sudah terlalu parah. Dia tidak akan bertahan lebih lama lagi.”

Ia tidak punya tenaga untuk menangis. Sudah terlalu banyak air mata yang ia keluarkan hari ini, dan rasanya ia tidak sanggup. Chifuyu tidak tahu bagaimana menjalani hari esok, melihat Baji yang terbaring di dalam sana. Ia tidak tahu apakah dia bisa atau tidak—Chifuyu tidak tahu, dan semakin memikirkannya, hatinya semakin sakit.

Takdir benar-benar mempermainkannya.

Disaat ia merasa jika dirinya adalah orang paling bahagia di dunia, semesta menghancurkannya, menjatuhkannya dan kini membuatnya sebagai orang paling menyedihkan di dunia.

Sakit sekali. Sangat menyakitkan.

Berjalan dengan lunglai, Chifuyu meraih knop pintu dengan gemetaran. Ia menghela napas, hingga akhirnya menekannya—membuka pintu tersebut dan detik itu juga, rasa pahit itu kembali lagi.

Baji terlihat damai. Ia terbaring di depannya, dengan tabung oksigen yang membungkus wajahnya. Dadanya naik turun dengan teratur, membuat semua rasa sesak yang sedari tadi ia rasakan berkumpul pada sebuah titik, kini menjadi satu dan akhirnya Chifuyu kembali menangis.

“Baji-san,” bisiknya, meraih satu tangan Baji. “Baji-san...,”

Chifuyu punya banyak permintaan. Tapi satu saja, satu saja yang ia harap Tuhan mau mendengarnya.

Hiduplah.

Teruslah hidup, Baji-san.

Kumohon....

 


 

Ketika Chifuyu memasuki ruangan Baji hari ini, ia disambut dengan sepasang mata yang menatapnya lekat.

”... Halo.”

Ia menutup pintu, lalu mendekat, menarik kursi di sebelah Baji dan duduk disana. “Aku membawa buah-buahan. Kukupas, ya?”

Baji terdiam, mengamati gerak-gerik Chifuyu yang pergi mencuci sebuah apel di tangannya, kemudian kembali dan mulai mengupas kulitnya.

“Apa kau baru bangun, Baji-san?” Matanya beralih, menemukan lelaki itu mengangguk pelan—masih memperhatikan Chifuyu yang sedang mengupas buah. “Ah, oke... Sebentar lagi akan selesai.”

Tidak ada bersuara lagi. Chifuyu fokus dengan buah di tangannya, dan Baji hanya berdiam diri, larut dalam pikirannya sendiri.

“Kau sudah tahu, ya?”

Terdengar serak. Chifuyu tidak segera menjawab, meletakkan apel yang sudah ia potong, lalu balas menatap lelaki di sana yang sibuk memandangi langit-langit.

”... Iya.”

Ia menunduk, “Mereka bilang padaku,” katanya. “Kata mereka, kau adalah pasien tetap di rumah sakit ini. Mereka bilang, pertama kali mengetahuinya, orangtuamu sangat marah. Mereka meninggalkanmu disini, lalu sejak saat itu mereka tidak pernah lagi mengunjungimu. Kau sendirian di tempat ini, dan akhirnya kau keluar.”

Baji tersenyum miris.

“Menyedihkan, ya?” ujarnya. “Dibuang oleh keluargamu sendiri.”

“Waktu itu kau bohong.”

“Karena aku tidak mau membuatmu semakin khawatir.”

Chifuyu mengepalkan tangannya.

“Maaf.”

“Akan kumaafkan, tapi kau harus sembuh.”

“Chifuyu, aku tidak bisa berjanji untuk itu—”

“Harus bisa, Baji-san. Kau harus berjanji padaku.”

Matanya memanas. Chifuyu menggenggam tangan Baji kuat-kuat, susah-payah agar ia tidak terdengar gemetar. “Kau pasti bisa. A-Aku yakin. Kau harus sembuh, lalu setelah itu...,” Ia terbata-bata, “Setelah itu... Kita... Kita akan berjalan bersama lagi. Kita... Kita akan makan peyoung yakisoba, dibagi dua seperti biasa bukan? Kau harus sembuh. Kau akan sembuh. Berjanjilah padaku.”

Lama sekali Baji menjawabnya. Chifuyu menggigit bibirnya, memejamkan matanya erat. Air mata yang sudah sejak tadi berusaha ia tahan, akhirnya jatuh. Ia tidak bisa, Chifuyu tidak bisa.

Ia belum siap. Ia tidak mau kehilangan Baji. Ia masih ingin lelaki itu bersamanya.

Jemari milik Baji terangkat, menghapus air matanya yang terus turun. Kelopak mata Chifuyu terbuka, menatap Baji yang tersenyum seraya mengusap wajahnya.

“Kita akan mengelus Edward,” ucapnya dengan nada pilu. “Kita akan duduk berdampingan sambil melihat bintang,” Genggamannya pada tangan Baji mengerat. “Jadi, berjanji padaku, ya?”

“Iya,” Baji akhirnya bersuara, tersenyum lembut padanya. “Aku janji.”

“Benar, ya?”

“Iya, Catfuyu.

“Jangan panggil aku begitu!”

“Kenapa? Bukannya kau seperti kucing?”

“Tidak!”

“Lihat kucingku, dia menangis sesenggukan. Mau kupeluk?”

“Tidak mau!”

“Lho, dia tersenyum sekarang. Little Catfuyu, katakan halo padaku?”

“Pergi dariku!”

“Ahahaha—”

Chifuyu terdiam, memandangi Baji yang tertawa pelan.

Kumohon, teruslah seperti ini.

 


 

Baji kini lebih sehat dari kemarin-kemarin.

Lelaki itu tidak sering duduk di kasur seperti biasanya. Wajahnya lebih segar, meskipun tubuhnya masih kurus—bahkan semakin kurus. Baji sudah bisa berjalan-jalan berkeliling rumah sakit, bahkan keluar untuk membeli peyoung yakisoba. Tentu saja tanpa izin, sehingga Chifuyu harus mengomelinya hampir seharian dan hanya dibalas dengan cengiran.

Chifuyu sekarang hampir jarang pulang ke rumahnya. Sehabis sekolah, ia buru-buru mendatangi rumah sakit, di mana Baji akan menyambutnya dengan pelukan. Ia sempat menyuruhnya pulang, namun Chifuyu tidak menurutinya. Bahkan ia juga hampir saja tidak mau pergi kerja kalau saja Baji memaksanya. Lelaki itu akan pergi dengan ogah-ogahan, sesekali melirik Baji yang melambai padanya.

“Kau akan sakit kalau terus-terusan begini,” ucap Baji pada suatu hari, sembari mengusap kepala Chifuyu yang bersandar di dadanya. Tubuhnya setengah menyandar pada ranjang lelaki berambut hitam itu, dengan satu tangan yang melingkar pada perut yang lebih besar.

“Yang penting aku selalu melihatmu.” balasnya pendek, memejamkan mata.

Kekehan menguar darinya, dan Chifuyu menemukan tempat ternyaman selain rumahnya.

“Kau mengunjungi Edward hari ini?” tanya Baji, mengamati Chifuyu yang sedang mengaduk peyoung yakisoba (dengan ogah-ogahan, karena sejujurnya ia tidak mengizinkan Baji mengonsumsi makanan ini). “Apa dia merindukanku?”

“Iya. Dia benci padamu.”

“Lho, kenapa begitu?”

“Karena kau tidak pernah mendengarkanku!” Chifuyu menunjuk nampan di tangannya. “Aku sudah melarangmu untuk terlalu sering memakannya! Harusnya kau makan makanan lain yang lebih bergizi!”

Baji cemberut, “Tapi bukannya kau juga makan?”

“Aku tidak peduli! Pokoknya besok makan sup yang Kak Yuzuha titipkan. Terlalu banyak makan mi akan membuat perutmu cacingan. Kau mau banyak cacing pita mengerubungi tubuhmu, lalu memakan ususmu dan membuatmu cepat mati? Dengar, ya. Aku tidak mau sakit perut nanti.”

“Lagipula aku akan mati, untuk apa repot-repot—”

Sebuah sumpit dengan mi yang terlilit mengelilinginya membungkam mulut Baji.

“Makan!”

Senyum bodoh mengembang di bibir lelaki itu, memakan peyoungnya dengan khidmat.

Chifuyu pernah berpikir, sampai kapan ini akan berlangsung? Sampai kapan Baji akan bertahan? Ia tidak tahu. Entah bulan ini, minggu ini, atau bahkan besok—ia bisa saja kehilangannya detik ini juga. Bagaimana jika besok Baji tidak tersenyum padanya lagi? Bagaimana jika sekarang adalah terakhir kalinya ia mendengar tawa itu? Bagaimana harinya besok? Apakah Baji akan bangun dari tidurnya besok?

Besok.

Besok.

Chifuyu tidak tahu. Semakin memikirkannya, ia semakin takut. Waktu terus berputar, menimbulkan sebuah pertanyaan selalu terbersit di benaknya, setiap detik, setiap saat.

Apakah esok hari ia bisa menggapainya?

“Kau ingat hari itu?”

Kepalanya terangkat. Baji di depannya menatapnya sayang, tersenyum hangat.

“Malam itu, ketika wajahku mendekat, hidung kita bersentuhan... Kau tahu apa yang ingin kulakukan?”

Chifuyu merasa wajahnya merona, mengangguk malu.

“Aku ingin menciummu. Kau saat itu sangat bersinar di mataku... Sehingga aku membayangkan, bagaimana rasanya meraihmu? Apa saat aku menciummu, letupan-letupan di perutku akan berhenti?”

Baji masih menatapnya. “Aku ingin sekali, tapi saat aku hampir melakukannya—aku sadar sesuatu.”

Chifuyu mendengarkannya.

“Kalau aku menciummu, aku akan melakukan sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kalau aku menciummu, aku takut aku akan melewati batas... Lalu kau akan ikut sakit sepertiku—kau akan dijauhi, dicemooh, bernasib sama sepertiku.” katanya, pelan. “Kau akan sedih, dan aku tidak mau itu terjadi, Chifuyu. Aku ingin kau bahagia. Aku pikir, kau akan bahagia dengan kepergianku dari hidupmu. Kau tetap aman, jauh dari hal berbahaya—berbeda ketika aku bersamamu. Aku tidak ingin itu terjadi. Kau segalanya bagiku, Chifuyu. Aku tidak bisa—”

Ketika Baji ingin mengangkat kepalanya, sepasang tangan membungkus kedua pipinya—lalu ia merasakan sesuatu yang lembab menyentuh dahinya. Iris kelamnya membola, kemudian sentuhan itu terlepas, digantikan dengan hangatnya kedua mata Chifuyu Matsuno; tersenyum manis, salah satu alasan mengapa Keisuke Baji ingin terus hidup.

“Baji-san,” panggilnya, matanya tampak berair. “Kau juga segalanya untukku. Hari itu, saat kau pergi dariku, aku merasa sesuatu menghilang dari hidupku. Aku kira itu hanya sesaat, tapi ternyata kau sungguhan pergi. Aku takut—aku takut sekali. Aku takut kau meninggalkanku,” Tangannya kini menggenggam jemari Baji, mengusapnya. “Sekarang kau disini. Aku menggapaimu, Baji-san. Aku tidak akan melepaskannya lagi. Jadi kumohon... Kumohon, tetaplah disisiku. Jangan pergi.”

Baji menariknya dalam pelukan.

Meremas kemeja yang dikenakan lelaki itu, Chifuyu memejamkan mata. Ia menghirup aroma Baji sebanyak-banyaknya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup keras.

“Aku akan selalu disisimu,” bisiknya. “Jangan takut.”

Chifuyu ingin sekali mempercayainya.

“Aku janji.”

 


 

“Kau tahu, Baji-san?”

Suatu hari, di siang hari yang cerah, Chifuyu bertanya pada Baji yang terlelap.

“Ketika pertama kali melihatmu, aku seperti melihat matahari.” ujarnya. “Kau terlalu bersinar. Apakah aku juga begitu di matamu? Kalau iya, kita sama.” Chifuyu terkekeh, mengusap satu tangan Baji yang bebas. “Kita sama-sama memiliki sebuah matahari.”

Air mata menggenang di matanya, namun Chifuyu tidak menghiraukannya.

“Semalam aku mengunjungi Edward. Dia sangat merindukanmu,” monolognya. “Kami duduk bersama, dengan dia di pangkuanku sambil memandangi langit. Bulannya kemarin penuh, tahu. Sayang sekali kau tidak ada. Bisa-bisa Ed jadi lebih sayang padaku, lho. Kau mau kucing kesayanganmu itu kuculik?”

Baji tidak menjawabnya.

”... Saat aku melihat langit, aku terus membayangkan wajahmu. Entah kau tersenyum, cemberut, tertawa, atau membentuk wajah bodoh, pokoknya aku terus membayangkannya. Lalu kau tahu, apa yang kudapat, Baji-san?”

Chifuyu menarik napas.

“Ternyata kau lebih mirip bintang.”

Ia tersenyum pahit.

“Meskipun tidak dipedulikan, mereka selalu bersinar.” Suaranya perlahan-lahan bergetar. “Tidak peduli awan menutupi, ataupun hujan badai yang turun, bahkan angin topanpun—mereka selalu bersinar. Sekalipun cahayanya tidak seterang matahari ataupun seindah bulan; mereka akan tetap tinggal disana, menyinari bumi dengan cahaya mereka tersendiri. Dan mereka... Sepertimu.”

Chifuyu tidak bisa menahan tangisnya lagi.

“Kalau mereka tidak ada, langit tidak akan secantik biasanya. Langit itu akan tampak kosong, seperti ada sesuatu yang kurang. Mereka akan tidak sempurna tanpa bintang di sekeliling mereka. Aku... Adalah langit itu.”

Angin berhembus dari jendela, meniup helai-helai kuningnya dan beberapa helai hitam Baji yang tertidur di ranjangnya.

“Kau mengerti sampai disini, Baji-san?”

Chifuyu menunduk, mendengar bunyi beep dari mesin di belakangnya yang berbunyi teratur—dengan rasa sakit yang makin lama makin membuncah di dadanya.

“Aku merindukanmu.”

Ia meremas telapak tangan Baji.

“Aku sangaaaat merindukanmu.”

Satu isakan lolos dari bibirnya.

“Bangun, Baji-san. Kau bilang kau menyukai senyumanku, 'kan? Aku akan banyak tersenyum untukmu saat kau membuka mata nanti, jadi cepat bangun, oke? Ini sebuah janji.”

Sekali lagi, ia memohon pada Tuhan.

“Aku akan menunggumu.”

 


 

Malam itu, setelah mendapat telepon dari nomor tak dikenal, Chifuyu tergopoh-gopoh memanggil taksi. Ia mengabaikan buku pelajarannya di meja, ataupun teriakan Hakkai yang memanggilnya.

Baji sudah bangun.

Kaki-kaki panjangnya berjalan dengan tidak sabaran, jarinya menekan tombol lift dengan kasar. Perasaannya sekarang campur aduk, dengan bahagia, lega, dan ketakutan yang mendominasi. Di pikiran Chifuyu hanyalah melihat Baji yang tersenyum padanya, mengusap wajahnya lembut, sembari mengucapkan sapaan hangat dengan suara beratnya.

Ketika ia membuka pintu ruangan Baji, Chifuyu disambut dengan bunyi alarm mesin pendeteksi detak jantung yang terpasang di tubuh ringkihnya. Kelopak matanya tampak terpejam, namun terbuka setelah mendengar suara papan panjang yang tertutup tersebut, memandangi Chifuyu yang melangkah mendekat kearahnya.

“Chi... Fuyu,” ujarnya serak. “Halo.”

“Jangan terlalu banyak bicara.” Lelaki blonde itu memposisikan dirinya di sebelahnya, tersenyum manis. “Kau baru bangun, jadi harus banyak mengumpulkan tenaga dulu. Besok mau makan peyoung yakisoba, kan?” ujarnya. “Aku akan menunjukkan Ed padamu. Fotonya baru semalam. Dia semakin berisi, lho.”

Chifuyu mengulurkan tangannya, mengusap helai hitam Baji. Satu tangannya menggenggam tangan Baji yang tertusuk infus, menggali kehangatan yang tersisa disana.

“Kita akan melihatnya bersama-sama nanti. Tunggu kau sembuh dulu, ya?”

Tangan Baji yang bebas terangkat. Ia tampak susah payah menggerakkannya, hingga Chifuyu berinisiatif untuk memajukan kepalanya, lalu menarik telapak tangan itu lembut. Tangan itu kini mendarat sempurna di wajahnya, membungkus sebelah pipinya dengan hangat.

“Chifuyu.” panggilnya lagi, terdengar sangat pelan.

“Iya, Baji-san.” jawabnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku disini. Aku mendengarkan.”

“Maaf....”

“Tidak perlu meminta maaf. Tidak apa-apa. Aku disini, Baji-san. Tidak perlu mengatakannya.”

“Aku tidak bisa membantumu menjaga Ed....”

Chifuyu menggeleng. “Tidak apa-apa. Kita akan menjaganya bersama suatu hari nanti.”

“Aku tidak tahu—”

Baji ingin menangis. Chifuyu tetap memasang senyumnya, menyengir lebar untuk membuat lelaki itu bahagia. “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”

“Besok...,” gumamnya. “Besok aku berulangtahun.”

Chifuyu refleks melihat jam yang terletak di atas nakas ruangan Baji. Pukul sebelas lewat empatpuluh delapan.

“Sayang sekali aku tidak membawa hadiah.” ucapnya. “Harusnya kau memberitahuku lebih awal, jadi setidaknya aku bisa membeli kue.”

“Tetap disini.”

“Iya.” Ia mengangguk cepat. “Kita akan merayakannya bersama-sama. Kita tunggu sampai jam duabelas, oke?”

Baji masih menatapnya lekat. Jempolnya bergerak kaku, hingga akhirnya pelan-pelan jarinya terangkat—mengusap mata Chifuyu yang berair. Ia tertawa, kemudian menghapusnya sendiri dengan punggung tangannya.

“Hanya kelilipan,” ujarnya, berbohong. “Aku tidak menangis, kok. Jangan cemaskan aku.”

“Tolong—”

“Iya, Baji-san?”

“Tolong... Tolong jangan menangis.”

Tawanya semakin keras. Chifuyu menggeleng, mengabaikan matanya yang kembali berair. “Apa, 'sih. Aku tidak menangis. Lihat senyum lebarku, masa ada air matanya?”

“Chi.. Fuyu...,”

Beep. Beep. Beep. Beep.

Sembari menunggu, jemarinya semakin bergetar. Kini Baji yang menggenggamnya erat, menatapnya lekat dengan senyum tipis di balik masker oksigennya. Chifuyu balas memandanginya.

Dia belum siap.

Sama sekali belum.

“Aku selalu mendengarkanmu, Baji-san.

“Bintang...,” ujarnya. “Kalau kau ingin melihatku... Lihat langit... Disana ada aku... Aku... Diantara bintang.”

Mengangguk, Chifuyu terus mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan selalu melihatnya.”

“Aku akan menjagamu... Dari sana... Aku berjanji.”

Beep. Beep. Beep.

“Iya. Aku mengerti.”

“Saat hujan turun... Aku akan bersamamu... Kita akan duduk di bawah minimarket... Dengan peyoung yakisoba... Sambil melihat hujan... Bersama-sama.”

“Lalu kita akan kembali ke pasar malam itu.” lanjut Chifuyu. “Setelah itu kita akan mencari tempat lain yang belum dikunjungi. Saat mendapatkannya nanti, kita harus jadi yang paling pertama sampai.”

“Aku akan... Menggenggam tanganmu... Aku akan... Selalu disana.”

“Kau berjanji?” bisiknya. “Kau berjanji padaku, Baji-san?”

Beep. Beep.

“Iya.” Ia tersenyum. “Selalu.”

Chifuyu ingin sekali berteriak. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, melampiaskan semua rasa sesak yang ia rasakan detik ini. Benar-benar menyakitkan. Inikah rasanya? Inikah rasanya saat kau tahu jika kau akan menjumpai akhirnya? Inikah rasanya saat bersiap harus melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup? Inikah rasanya saat harus melepas seluruh dunianya?

Pukul sebelas lewat limapuluh delapan. Chifuyu tersenyum, bersenandung pelan.

“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun.”

Sekali ini saja, ia ingin membuat Baji bahagia.

“Selamat ulang tahun, Baji-san—”

“Keisuke.”

Baji menatapnya penuh harap. “Panggil aku Keisuke.”

”... Keisuke.” ujarnya beberapa saat kemudian. Nama itu terasa pahit di lidahnya, namun Chifuyu terus memanggilnya. “Keisuke. Keisuke. Keisuke.”

Senyumnya melebar.

“Selamat ulang tahun, Keisuke.”

Sedikit lagi.

“Chifuyu.”

Genggamannya mengerat.

“Aku mencintaimu.”

Chifuyu menggigit bibirnya.

“Aku juga.” Suaranya bergetar. “Aku juga sangat mencintaimu.”

Baji tersenyum lebar, hingga kedua matanya melengkung bak bulan sabit.

Beep.

 


 

Namanya Kazutora Hanemiya.

Dia tetangga sekaligus teman Keisuke. Lelaki itu adalah orang pertama yang berkenalan dengannya di masa-masa sulitnya, mencoba membantunya hingga akhirnya mereka menjadi sahabat karib. Mereka sama-sama bekerja sebagai pemungut barang bekas, juga sering menghabiskan waktu bersama—sebelum akhirnya Keisuke mengenal Chifuyu. Merasa dicampakkan, memang. Namun ia menyadarinya saat melihat wajah berbunga-bunga dari si lelaki berambut hitam.

Meninggalkan peyoung yakisobanya yang asyik dimakan oleh Edward (ia akan menghukum kucing nakal itu nanti), Chifuyu membuka pintu. Disana, lelaki itu tersenyum seraya membawa sebuah dus berukuran sedang.

“Selamat pagi, Chifuyu.” sapanya. “Aku membawa ini.”

”... Itu apa, Kazutora-kun?”

Kazutora mengeluarkan cengiran lebar. “Isinya beberapa jilid komik dan DVD player film. Tadinya Pehyan mengusulkan untuk membawanya ke tukang loak, tapi aku pura-pura tidak dengar. Ada beberapa yang sudah diberikan kepada anak-anak di daerah kami. Yang ini sudah dikemas dan dimasukkan dalam kotak terpisah, jadi kupikir kuberikan saja untukmu.”

“Terimakasih banyak.” Chifuyu membungkuk sopan. “Ehm, Kazutora, apa filmnya bagus?”

“Aku kurang tahu, 'sih, karena aku hampir tidak pernah menonton semuanya. Tapi yang kulihat dari judul dan posternya, kelihatannya banyak film romantis. Ada film horor dan kartun juga. Hitung-hitung boleh untuk mengisi waktu luangmu. Liburan sudah dimulai, 'kan?”

“Benar sekali.” Chifuyu terkekeh, lalu mengambil alih kardus dalam genggaman Kazutora. “Sekali lagi terimakasih ya, Kazutora. Titip salam untuk Kaito dan teman-temannya!"

Lelaki itu mengacungkan jempol.

Menutup pintu flatnya, Chifuyu kembali ke sofanya dengan senandung di bibirnya. Edward bergelung di pangkuannya, mengamati sang tuan yang membuka dus itu dengan semangat, memilah-milah mana yang akan dia buka terlebih dahulu.

Chifuyu harap film-film tersebut berakhir bahagia, karena dia tidak suka yang sedih-sedih.

 


 

Untuk Chifuyu.

Kalau kau sudah membaca catatan ini, artinya aku sudah pergi. Kalau sudah begitu, tolong jangan membacanya sambil menangis, ya? Nanti kau jadi jelek. Kalau jelek, mana mau aku bermain dengan Catfuyu lagi—iya-iya, kertasnya jangan diremas, oke?

Ada banyak hal yang masih kusesali. Aku belum sempat membahagiakan orangtuaku. Aku belum sempat mengucapkan salam perpisahan pada Kakek, Kak Shinichiro, Manjiro, serta Emma. Aku belum berpamitan pada ibu. Menurutku kalau ibu melihatku dari atas sana, apakah dia akan sedih? Apakah dia akan merasa bersalah karena menyadari apa yang dia rasakan saat itu kini dialami putranya juga?

Aku ingin berterimakasih atas semua kebaikan yang telah kau lakukan padaku. Terimakasih karena telah memberikan kopi itu padaku. Terimakasih karena telah memarahiku. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku. Terimakasih karena kau telah merawatku. Terimakasih karena telah kembali. Terimakasih untuk tetap disisiku, hingga saat-saat terakhir aku di dunia ini.

Terimakasih karena telah menjadi matahariku, Chifuyu.

Aku juga ingin meminta maaf. Maaf karena hadir dalam kehidupanmu. Maaf karena telah mengubah keseharianmu. Maaf karena telah menyakitimu. Maaf karena membuatmu menangis akibat ulahku. Maaf karena selalu membuatmu khawatir. Maaf karena telah meninggalkanmu. Maaf karena aku tidak bisa menepati janji-janji yang kau buat denganku. Aku benar-benar minta maaf.

Meskipun aku menyesali banyak hal, tapi aku tidak pernah menyesali pertemuan kita. Pertemuan itu memang singkat, tapi aku sangat bahagia. Aku bisa melihatmu tersenyum, mendengar tawamu, menggenggam tanganmu, dan melihat indahnya dunia bersamamu. Aku tidak pernah menyesalinya, karena ketika bersamamu, aku akan menjadi laki-laki paling bahagia di seluruh semesta.

Kau juga, bukan?

Sejujurnya masih banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi ini saja sudah banyak sekali. Aku harap kau tidak mengantuk, ya? Aku saja bisa menahan kantukku, jadi kau juga harus bisa sepertiku. Mengerti?

Tolong jaga Ed baik-baik. Temanku itu bukan pemilih, kok. Dia memakan segalanya. Sosis, roti, peyoung, udon, semuanya dia makan, jadi kau tidak perlu kerepotan. Kalau dia membuatmu marah, mau mengusirnya tidak apa-apa. Tapi kau harus siap dengan rumahmu yang tiba-tiba dihantui olehku, hahaha.

Aku semakin mengantuk. Sudah dulu, ya? Jaga dirimu. Jangan terlalu lelah. Istirahat yang banyak, matamu itu sudah seperti panda, aku jadi takut. Lalu jangan sering-sering belajar, nanti kau jadi lebih pintar dariku.

Satu lagi, sering-seringlah tersenyum! Aku mau kau datang mengunjungiku dengan senyum lebar, biar matahari jadi merasa tersaingi olehmu.

See you, Chifuyu. Aku mencintaimu.

Dari Keisuke.