Chapter Text
i.
Kalau Mark ditanya warna apa yang paling dia asosiasikan dengan Donghyuck, dia akan jawab dengan lantang: oranye. Bukan sembarang oranye, tapi oranye yang keemasan; yang warnanya mengingatkan Mark pada menit-menit terakhir di pantai berpasir sebelum matahari tenggelam di balik hamparan air laut.
Mark asosiasikan Donghyuck dengan banyak warna—biru benhur, kalau Donghyuck tersenyum sembunyi-sembunyi setelah dipuji; lembayung, kalau dia sedang melantunkan lagu yang Mark tidak tahu judulnya sembari menutup mata; merah beranang kalau dia tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri, meninggalkan jejak mengkilap saliva di permukaan merah muda yang Mark sering bayangkan untuk dikecup (tentu saja, bayangan itu langsung diusir pergi secepat datangnya). Namun dari semuanya, Mark paling suka oranye.
Oranye adalah tawa Donghyuck tiap dia berhasil menggoda Mark, kerlingan jenaka yang dia kirim untuk Mark dari seberang panggung, setiap nama panggilan konyol yang dia tujukan untuk Mark. Oranye adalah Donghyuck yang memfokuskan atensinya untuk dan hanya untuk Mark. Mark paling suka oranye.
Jadi saat yang lebih muda muncul dari balik pintu salon seketika jadi fokus pandang enam orang yang lain, terbebas dari lembaran-lembaran kertas alumunium yang terlihat aneh di kepalanya, otak Mark seperti kelebihan beban. Hang tiba-tiba.
"Ooo...," Jisung mendekut, tidak ada yang tahu niatnya memuji atau mengejek.
Jeno, di sisi lain, mengungkapkan pikirannya tanpa basa-basi. "Warnanya cocok banget di kamu, Donghyuck-ah,"
"Huh," Donghyuck mendengus tapi matanya ramah. "Makasih loh."
Oranye. Mark berkedip-kedip cepat, mencoba memproses visual yang diterima otaknya.
"Jeruk Jeju." Komentar Renjun pendek diiringi kekehan lirih dari semua orang di ruangan. Yang bersangkutan tidak bisa bicara apa-apa lagi karena detik berikutnya Donghyuck sudah melingkarkan lengan di kepala Renjun—mencekik separuh guyon separuh serius.
Mark masih belum berkedip.
Saat Donghyuck puas menelan pujian (dan godaan) tentang warna rambut barunya dan ruangan sudah tidak lagi diisi jeritan dan tawa, dia mengalihkan pandang ke Mark. Mata besarnya berbinar ingin tahu, seperti dia tengah mengharapkan Mark untuk mengatakan sesuatu.
Sayangnya, Mark sekarang tidak bisa berpikir apa-apa selain oranyeoranyeoranye dan seberapa tampan Donghyuck mengenakan warna itu. Helaian rambut yang sebelumnya hitam mengkilap sekarang sekian rona lebih terang. Warnanya bukan oranye yang menantang, yang membuat silau. Tapi oranye pudar seperti menit-menit terakhir sebelum matahari tenggelam. Seperti Donghyuck, yang hangat tapi lembut.
Jika sebelumnya Mark punya keinginan untuk sisirkan jarinya ke rambut hitam Donghyuck, kali ini dia butuh. Seperti nafasnya bisa berhenti kalau dia tidak lakukan. Jadi dia tanpa berpikir berdiri dari kursi, sengaja menempatkan diri di hadapan Donghyuck. Tangannya meraih surai oranye yang lebih muda untuk dipilin di antara jemari. Donghyuck bergeming.
Tinggi Donghyuck tidak jauh dari Mark tapi tetap saja dia harus mendongakkan dagu sedikit demi bertemu mata. Mengintip di antara helaian bulu mata, Donghyuck berkedip sekali, dua kali. "Bagaimana rambut baruku, Mark Lee?" Ada irama di pertanyaan Donghyuck yang buat jantung Mark melewatkan satu degupan.
Dan bukannya Mark sebelumnya tidak tahu, tapi detik ini kesadaran itu mendadak muncul lagi seperti seember air es yang disiram ke atas kepala. Kalau Mark suka Donghyuck. Sangat, malah. Dan dia suka Donghyuck seperti ini. Yang atensinya hanya untuk Mark. Donghyuck yang oranye.
"Cantik," bisik Mark, seperti dia sedang berbagi rahasia.
Donghyuck mendengus, tapi ada senyum yang dikulum diam-diam.
Kalau anggota Dream yang lain menganggap interaksi itu aneh, mereka tidak bilang apa-apa.
Pada penghujung hari itu, Mark menuliskan "Hari Donghyuck mewarnai rambutnya oranye" sebagai penanda tanggal di jurnal lusuhnya.
ii.
Rumornya menyebar cepat, seperti rumput liar di kebun tak terurus. Separuhnya berisi cuplikan kejadian nyata yang didramatisir dan dibelok-belokkan konteksnya, separuhnya lagi murni kebohongan—fiksi.
Donghyuck, bukan, Haechan adalah pribadi jenaka di hadapan kamera. Terus terang, percaya diri, bahagia. Mark tahu dan terbiasa dengan fakta itu. Tapi tidak dengan orang-orang di luar sana. Terkadang keterusterangan bisa dinilai tak hormat, kepercayaan diri disalahtafsirkan jadi congkak, dan bahagia... Orang yang terlihat bahagia di depan kamera seringnya dianggap palsu. Hal seperti itu sudah dinormalisasi jauh sebelum Mark dan Donghyuck tahu mereka akan hidupi sebagian hari-hari mereka di depan kamera.
"Ja, Haechanie," DJ acara radio yang mereka hadiri menujukan pertanyaan ke Donghyuck. Lewat ekor mata, Mark perhatikan bagaimana Donghyuck berjengit saat namanya disebut. "Sebagai yang paling muda di grup, nih, siapa sih member yang paling kamu takuti?"
Kalau ini Haechan yang sebelumnya, dia akan terkekeh sebelum bilang, "Taeyong!" atau "Doyoung!" atau siapapun yang dia pilih jadi target godaan hari itu. Toh semuanya tahu itu hanya candaan. Tapi Haechan yang sekarang terlihat seperti ingin sembunyi, Mark bisa lihat dari samping kalau Donghyuck menjalin jemari kedua tangannya di bawah meja gelisah.
"Umm...," Terlalu lama, Mark pikir. Donghyuck, well-spoken, quick witted Donghyuck, menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjawab. "Tidak...ada?" Jawabannya keluar seperti pertanyaan.
Mark tersenyum miring, semata-semata sebagai reaksi di depan kamera walaupun kepalanya sekarang penuh rasa marah. Pada siapa, dia tidak tahu. Mungkin pada siapapun yang membuat volume bicara Donghyuck sekian tangga lebih lirih, yang mencuri binar jenaka dari mata Donghyuck, yang membuat Donghyuck tidak berani mengutarakan apapun di depan kamera tanpa melirik anggota lain untuk mencari perlindungan, yang mematikan rasa percaya dirinya.
"Ah... Masa sih tidak ada? Satu orang pun?" Si pembawa acara mengejar, Mark tahu dia hanya berusaha memperpanjang durasi wawancara tapi Donghyuck bergerak gelisah di bangkunya dan jika Mark bisa, dia ingin bilang "Stop. Jangan tanya-tanya Hyuck lagi."
"Umm...," Donghyuck menghindari pandangan dari si DJ. "Soalnya... soalnya... di grup kami, yang paling buruk sifatnya cuma aku." Jawabnya lamat-lamat.
Di hari lain, jawaban itu akan disertai cekikikan dan Doyoung bilang "Itu kamu tahu!" dengan berapi-api. Sayangnya hari ini, nada serius di kalimat Donghyuck membuat semua anggota yang hadir kaget dan tidak nyaman, kalau bisa diukur dari seberapa tertautnya alis Taeyong. "Eiii~" Semuanya menyanggah berbarengan, seperti paduan suara. "Padahal di dunia ini gak ada maknae yang lebih baik dan menurut dari Haechan."
"Kalau aku yang disuruh pilih, bakal langsung kujawab Taeyong-hyung," Doyoung menimpali, mencoba mengalihkan perhatian semua orang dari Donghyuck. Mark berterima kasih dalam hati.
Acara radio berjalan lancar setelahnya, tidak ada yang mengungkit lagi soal jawaban Donghyuck. Pada perjalanan pulang, Mark mengintip dari ekor mata kalau Taeyong menggenggam tangan Donghyuck sekilas, memberikan yang paling muda senyum tanpa suara—penghiburan? Semangat? Mark tidak tahu. Yang dia tahu ada keraguan di bahasa tubuh Donghyuck dan bukan karena tersipu, melainkan takut, rasa bersalah.
Mark rasanya ingin memberikan semua yang dia punya agar Donghyuck tidak lagi merasa begitu.
Sayangnya, Mark tidak punya banyak hal untuk ditawarkan. Yang bisa dia lakukan adalah duduk di kursi makan saat dia melihat Donghyuck juga disana untuk mengambil air. Apartemen mereka sepi, ini sudah jam empat pagi. Ini satu dari sekian kali Mark pilih 'menginap' di dorm lantai lima, cari-cari alasan untuk bisa sedikit saja lebih dekat dengan Donghyuck.
"Belum tidur?" Sapa Mark, mendudukkan diri di samping yang lebih muda.
Yang ditegur mendongak dari gelasnya. "Mmmh," Donghyuck menelan satu tegukan air lagi dan Mark harus berusaha memalingkan mata dari jakun Donghyuck yang naik-turun di tengah leher jenjangnya. "Sejak kapan aku tidur jam segini."
"Well, yeah, tapi biasanya kamu gak tidur karena main game." Pancingnya.
Donghyuck mengedikkan bahu tanpa menjawab. Sebagian hati Mark patah di dalam dada karena dia merasa Donghyuck tidak akan pernah percaya dia sebesar dia percaya yang lebih muda. Donghyuck tidak akan cerita. Tapi bukan Mark namanya kalau dia tidak berusaha.
"Banyak pikiran?"
Donghyuck mendengus pahit. Mungkin dia pikir Mark sedang mengolok-oloknya. Sebagian hati Mark yang lain ketakutan karena dia merasa Donghyuck tidak akan pernah tahu seberapa besar dia sayang dan peduli padanya.
"Apa menurutmu aku orang baik, hyung?"
Mark hampir tersedak udara kosong, tidak menyangka kalimat itu yang keluar.
"Hyung pernah bilang hyung tidak suka aku."
"Itu dulu, Hyuck. Dan aku tidak serius." Sebersit rasa bersalah hinggap di dada. Itu hanya kalimat yang Mark ucapkan secara impulsif saat mereka sedang bertengkar. Mana dia tahu Donghyuck akan mengingatnya sampai tiga tahun yang akan datang.
Donghyuck menggumam lirih, telunjuknya mengitari dinding gelas kaca. Dia terlihat... sedih. Mark tidak bisa berhenti berpikir kalau dia penyebabnya.
"Kalau sekarang-,"
"Aku suka kamu, Hyuck." Ujarnya cepat di tengah keputusasaan untuk please, say the right words for once.
Donghyuck membelalakkan mata, dua belah bibir merah mudanya terbuka kaget dan Mark... Mark tidak merencanakan ini semua. Tidak berencana bilang suka. Tidak berencana untuk ditolak di tengah dapur pada dini hari. Jadi dia melakukan hal yang biasa dia lakukan kalau itu menyangkut Donghyuck: dia lari.
"Maksudku... ya. Ya, Hyuck, kamu orang baik dan kami semua suka kamu dan kalau ada orang di luar sana yang bilang sebaliknya, mereka gak tahu apa-apa, oke? Mereka cuma proyeksikan masalah mereka ke kamu."
Donghyuck mengatupkan bibir menjadi garis rata. "Oh." Ujarnya. Pandangannya turun ke gelas yang hampir kosong. Mark tidak bisa mengusir perasaan kalau kalimatnya barusan membuat Donghyuck kecewa.
"Lihat," Mark meraih sebelah bahu Donghyuck perlahan, seperti takut Donghyuck bisa pecah kalau dia tidak hati-hati. "Lihat aku."
Saat Donghyuck menoleh, matanya berkilau basah dan hati Mark mencelos dalam dada.
Tanpa tahu siapa yang bergerak lebih dulu, tiba-tiba Mark punya Donghyuck dalam rengkuhan. Pelukan itu canggung, karena separuh bokong Mark masih menempel di kursi dan lututnya bertabrakan dengan lutut Donghyuck dan kaos tidurnya basah karena... oh God, apa Donghyuck menangis?
"You're a good person, Hyuck-ah. Seberapa banyak pun komentar di internet yang bilang sebaliknya, mereka gak akan mengubah fakta kalau kamu orang baik. Mereka gak akan mengurangi rasa terima kasihku karena punya kamu."
Donghyuck menangis makin keras. Mark salah tingkah.
Mark tidak menghitung berapa menit mereka berpelukan. Kepalanya kebas sejak kali pertama lengan Donghyuck melingkar di lehernya dan yang lebih muda membenamkan wajahnya di dada Mark.
Saat pelukannya lepas, Donghyuck punya bekas air mata di pipi, hidungnya merah dan Mark kesemutan di kaki kiri karena posisi mereka barusan. Tak tahu siapa yang mulai, mereka berdua mulai tertawa. Awalnya hanya kekehan ringan tapi lama-lama berkembang jadi murni tawa yang hampir buat Mark sesak napas. Donghyuk terlihat seperti dia merasa lebih baik, Mark memberanikan diri untuk berpikir kehadirannya membantu menghibur Donghyuck.
Rasanya aneh sekali kalau dipikir, mereka baru saja menangisi ucapan sembarang orang dari internet yang opininya tidak berarti sama sekali. Mengingatnya membuat Mark merasa konyol. Sepertinya Donghyuck juga begitu.
Mark baru sadar Donghyuck menatapnya lekat-lekat saat tawanya sudah mereda. Yang lebih muda tersenyum kecil sebelum bilang, "Memang, hyung."
"Hm?" Mark mengangkat alis, sisa tawa membuat sudut bibirnya masih terangkat ke atas.
"Kamu memang punya aku."
Kalau Mark ditanya soal apa yang terjadi di hari keempat belas musim semi 2018, dia akan bilang itu hari dimana Donghyuck menangis di pelukannya, hari dimana Donghyuck membuatnya merasa dia punya kesempatan.
iii.
Sejak tahu mimpinya sebagai penyanyi akan segera terwujud saat hari debutnya diumumkan, Mark sudah langsung punya mimpi baru. Dikenal orang lewat karyanya. Keliling dunia untuk konser.
Sekarang mimpi itu juga terwujud, sudah terwujud sejak sebulan lalu, tapi kesadaran tentang hal itu baru datang sekarang. Mark baru merasa kalau mimpinya terwujud sekarang, setelah empat negara dan tujuh konser, setelah Donghyuck kembali.
Di bawah lampu sorot yang membutakan, Donghyuck terlihat bersinar.
Punggungnya tegak di atas kursi, sebelah kakinya yang sudah hampir pulih diistirahatkan di atas undakan kecil khusus. Donghyuck menggenggam erat mikrofon di tangan seperti dia merindukan benda silver berkilau itu. Matanya terpejam saat bibirnya melantunkan nada. Mark tidak bisa berpaling.
"Selamat malam. Saya Haechan." Gemuruh tepuk tangan menyambut perkenalannya, ada secercah rasa bangga yang meletup di dada Mark saat sadar kalau bukan hanya dia yang menantikan Donghyuck kembali ke panggung. "Senang bisa kembali."
"Senang punya kamu disini," Gumam Mark. Baru sadar kalau suaranya tertangkap mikrofon saat anggota yang lain menoleh ke arahnya. Donghyuck tersenyum menggoda, seperti tahu Mark tidak maksudkan gumaman itu untuk didengar siapapun.
Ketika lagu selanjutnya diputar dan Donghyuck dipapah kembali ke kursinya, Mark memejamkan mata, mengambil napas panjang. This is it, pikirnya, this is right. Mark tidak sadar seberapa besar dia merindukan Donghyuck sampai cowok itu kembali di sisi, seberapa penting Haechan dalam dinamik performance mereka sebagai grup. Punya Donghyuck di atas panggung bersamanya terasa benar.
Mark membuka mata. Lampu sorot dari seberang panggung menyilaukan. Mark melewatkan dua baris lirik rap-nya karena Donghyuck, punggung tegak di kursinya bernyanyi seperti ia merindu, lebih menyilaukan dari sumber cahaya apapun. Terlalu terang Mark hampir yakin dia bisa buta kalau melihat Donghyuck terlalu lama.
Tetap saja, dia tidak bisa berpaling.
.
"Aku kangen ini," celetuk Donghyuck saat mereka sudah kembali ke hotel.
"Hm?" Mark menyahut dari pintu kamar mandi, baru selesai menghapus riasan dan mencuci muka. Sebenarnya bisa dia lakukan di kamar hotelnya sendiri tapi hari ini Mark ingin melihat Donghyuck selama yang dia bisa, menggunakan alasan kalau stok kapasnya habis. Hari ini, lebih dari hari-hari saat Donghyuck tidak ada, Mark merindukan Donghyuck.
"Aku kangen manggung," Donghyuck memencet remote TV sembarangan, sekedar menjaga tangannya agar tetap sibuk. "Walaupun sama-sama bernyanyi, rasanya beda kalau di panggung."
Mark manggut-manggut setuju, alisnya bertaut karena ada satu pikiran yang tiba-tiba melintas setelah mendengar perkataan Donghyuck. "Rasanya beda kalau ada kamu."
Donghyuck mendongak dari layar televisi. Untuk sepersekian detik yang terasa lama, dia terlihat seperti menunggu sesuatu. Tapi saat sadar Mark tidak akan melanjutkan kalimatnya, Donghyuck menyeringai. "Masa iya?" Godanya, mengerling jenaka.
Mark mendengus, meraih tisu di nakas untuk keringkan muka. Dia tahu Donghyuck hanya menggoda tapi Mark sedang tidak mood memberikan reaksi yang dia tahu Donghyuck harapkan. Karena kalau ada yang dia pelajari selama dua bulan Donghyuck absen, Mark seharusnya mengucapkan semua yang ingin dia ucapkan selagi Donghyuck masih di sisinya. Sebelum dia pergi lagi.
Aku kangen kamu, Mark pikir. "Keliling dunia baru terasa seru kalau ada kamu," Mark bilang keras-keras.
Sekilas, Donghyuck diam. Menatap wajah telanjang Mark lekat-lekat sebelum mengulum senyum. Mark menghembuskan nafas keras-keras, salah tingkah.
"Hm. Aku kangen kamu juga, Mark-hyung."
Sedetik. Dua detik.
Mark tertawa. Suaranya memantul nyaring di dinding kamar hotel Donghyuck. Mark tertawa. Karena dia bahagia. Karena dia pikir, how great it is, untuk bisa punya satu orang yang bisa tahu isi pikirannya walaupun yang dia ucapkan berbeda. How great it is, to have his loved one here with him, walaupun yang dicintai masih belum tahu kalau Mark cinta.
Yang lebih tua menghempaskan punggungnya ke kasur, hiraukan lirikan sinis Donghyuck yang tidak rela bantalnya dicuri.
"Mau tidur disini?"
"Mhm," Mark memeluk bantal, senyumnya tidak bisa ditahan. "Tidak bisa nego." Tambahnya lagi, antisipasi kalau Donghyuck berniat mengusirnya pergi.
Donghyuck tidak menjawab. Alih-alih, cowok berkulit tan itu mengecilkan volume TV dan ikut merebahkan badan, hati-hati agar kakinya tidak salah posisi, cukup dekat karena lengan kirinya menempel pada lengan kanan Mark.
Mereka tidak akan bisa tidur. Donghyuck, karena dia tidak biasa tidur sebelum tengah malam. Mark, karena ada satu kalimat yang tersangkut di tenggorokan.
Dua, tiga jeda waktu. Mark berdehem. Donghyuck bergeming di posisinya, menunggu, tahu kalau Mark dari tadi ingin bicara sesuatu. Donghyuck selalu tahu. Kadang itu membuat Mark merasa takut. Tapi tidak malam ini.
"Meraih mimpi terasa lebih benar kalau bareng kamu." Bisiknya, seperti dia sedang membagi rahasia.
Donghyuck tidak menjawab tapi dia tersenyum dengan mata tertutup. Wajahnya menghadap langit-langit. "Aku tahu." Donghyuck melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Mark tanpa suara.
Kalau ditanya soal tur dunia pertamanya, Mark akan jawab ini mimpinya sejak debut. Mark akan jawab mimpinya baru terasa terwujud saat Donghyuck ada disana bersamanya.
iv.
Pada malam sebelum ulang tahunnya yang ke-22, Mark berbaring tanpa tenaga di ranjang dorm Koreanya. Dia baru saja pulang dari serangkaian panjang kegiatan promosi di Amerika bersama grup barunya, hibrid dari grup-grup cowok terbaik di SM, katanya. And it's been fun, abang-abang barunya memperlakukan Mark dengan baik. Tapi terkadang di saat seperti ini, di malam-malam seperti ini, saat Mark hanya bisa berguling di ranjangnya sendirian sementara notifikasi grup chat Dream terus bergemuruh penuh selca dan ocehan tentang panggung mereka di belahan dunia lain, Mark berharap dia bisa ada disana bersama mereka.
Mark berharap dia bisa bersama Donghyuck sekarang.
Grup chat Dream masih berbunyi sahut-sahutan. Sejak dulu, Mark tidak pernah habis pikir kenapa adik-adiknya doyan sekali mengetik pesan padahal mereka bisa saling bicara langsung.
Satu lagi notifikasi masuk. Kali ini datangnya dari chat room pribadi.
'Mati karena jet lag atau sedang malas buka grup?'
Donghyuck.
Mark tersenyum jerih di bawah remang lampu tidur. Jarinya bergerak sendiri mengetikkan jawaban. For some reasons Mark himself didn't know, matanya panas saat melihat nama Donghyuck di layar ponselnya. Dia suntuk. Dia lelah. Dia iri. Mark saat ini adalah campuran dari semua emosi negatif yang minggu-minggu terakhir ini dia pendam sendiri. Tapi yang paling dominan dari semuanya adalah-
'Sedang kangen kamu'
Mungkin ini pengaruh penerbangan LA-Seoul yang membuat kepalanya jungkir-balik, mungkin ini kelelahan yang terasa meremukkan badan sampai Mark kehilangan filter, mungkin juga Mark merindu sebegitu beratnya dia merasa bisa meledak kalau tidak diungkapkan.
Jawaban Donghyuck tidak datang hingga delapan menit kemudian, saat Mark sudah memutuskan bahwa tidur adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.
.
Mark terbangun tanpa alarm enam jam kemudian. Dari jendela yang lupa ditutup tirainya, matahari masih malu-malu. Mark mengerang. Matanya panas, kepalanya berat. Pesan berisi ucapan selamat ulang tahun menumpuk di tab notifikasi. Mark tidak acuhkan, belum punya cukup energi untuk sekedar bilang terima kasih. Mark duduk melamun di kasur sampai menit kedua puluh. Sampai satu notifikasi muncul lagi di ponsel. Yang mengirim pesan punya foto profil wajah Mark sendiri, ekspresi terjeleknya yang pernah tertangkap kamera.
Mark tanpa sadar terkekeh kecil. Donghyuck.
'Hyung', pesan dari Donghyuck bilang.
'Aku di lantai sepuluh. Coba keluar sebentar'
Mark mengernyitkan alis. Dia baru saja ingin mengingatkan Donghyuck kalau sandinya tidak berubah dan dia bisa masuk sendiri, sebelum pesan dari Donghyuck masuk lagi.
'Anu'
'Di dalam ada yang lain...'
Mark membuka pintu kamar. Dorm lantai sepuluh sepi dengan pengecualian Jungwoo yang entah melakukan apa di dapur.
Terburu-buru, Mark ketikkan 'Sebentar' dan berusaha menyelinap lewat ruang tengah sesunyi mungkin. Setidaknya sesunyi yang dia bisa dengan jantung yang seperti mau meledak di dada.
Dari apapun yang Mark pikir dia akan temui, dia tidak terbayang akan bertemu Donghyuck yang seperti ini. Wajah polos tanpa make-up, kantung hitam menggelayuti wajah cantiknya, bibir kering dan mata berkaca-kaca. Apa Donghyuck menangis?
"Donghyuck-ah...," Mark memulai saat mereka sudah berdiri berhadapan. Donghyuck terlihat lelah. Kesadaran bahwa tentu saja Mark bukan satu-satunya yang lelah di antara mereka berdua membuat hati Mark mencelos sekali lagi.
"Hei," Yang lebih muda menyapa, suaranya serak dan parau. Mark berjengit mendengarnya. "Selamat ulang tahun?" Kalimatnya terdengar seperti pertanyaan.
Mark tidak bisa menahan kekehan. Kontras dengan personanya di depan kamera, Donghyuck tidak pernah pandai menangani situasi yang cenderung cheesy begini.
"Yeah," Mark, masih belum sepenuhnya berfungsi setelah bangun tidur, meraih telapak Donghyuck di antara tangannya. Dingin. "Jam berapa pesawatmu sampai?"
Donghyuck mengedikkan bahu. "Barusan. Tadinya yang lain menawarkan buat menginap di dorm Dream saja tapi kemudian aku ingat kalau aku juga kangen kamu."
"Umm," Mark mengangguk. Teringat pesan yang dia kirim di tengah kekalutan semalam dan menggeleng-geleng sendiri. Well, this is embarrassing. Donghyuck pasti tidak akan berhenti menggodanya karena ini.
Donghyuck meremas tangan Mark balik, efektif membuat yang lebih tinggi menatapnya tepat di mata. Dari dekat begini, Mark hampir yakin mata Donghyuck baru saja basah. Dalam hati, sebagian diri Mark yang penuh harapan, bertanya-tanya apakah bukan hanya dia yang merindu sampai sakit.
"Donghyuck-ah...,"
"Aku bawa hadiah?" Donghyuck melepaskan genggaman dan merogoh kantung jaketnya sebelum Mark sempat bilang apa-apa.
Kotak yang diserahkan Donghyuck tidak dibungkus apa-apa. Lapisannya kain beludru. Dan ketika Mark buka, isinya pin berbentuk matahari.
"Biar aku ingat kamu terus?" Kekeh Mark, suaranya setingkat lebih berat karena masih berbalut sisa tidur semalam. Mark mengangkat pinnya di antara ibu jari dan telunjuk dan berpikir, Donghyuck.
"Aku juga rindu." Ulang Donghyuck, intonasinya lebih serius dan dia menatap Mark seperti dia mengharapkan sesuatu.
"Yeah, kamu sudah bilang tadi." Mark mengernyitkan alis kebingungan, berharap dia punya sedikit saja clue tentang apa yang Donghyuck ingin dengar darinya.
Yang lebih muda menghembuskan nafas panjang. Pandangannya turun ke matahari di tangan Mark. "Itu harus dipasang di tas, tidak boleh dilepas. Good luck charm." Katanya. Dia lebih terdengar seperti Donghyuck yang biasa sekarang.
"Dan aku mau traktiran samgyupsal hari ini!" Tambah Donghyuck lagi, berjalan melewati Mark ke arah pintu.
"Bukannya kamu harusnya istirahat dulu?"
"Uh-um. Ini aku mau tidur." Donghyuck mengetikkan kata sandi, Mark baru sadar jaket yang dia pakai adalah jaket Mark yang sudah dua minggu Mark kira hilang.
"Di kamarku?!"
Donghyuck menyeringai. Dia mengedipkan sebelah mata sebelum hilang di balik pintu dorm. "Hyung boleh gabung kalau mau."
Berdiri sendirian di koridor apartemen dengan matahari di tangan, Mark jatuh lagi. Tiap kali lebih dalam dari kali sebelumnya.
Kalau diminta melabeli ulang tahun ke-22nya, Mark akan bilang itu hari dimana dia sadar sesuatu. It was the day Mark learned that love does not have to be returned to be brilliant. Bertepuk sebelah tangan pun Mark rela, kalau itu Donghyuck.
v.
Hari yang Mark beri tanda spesial di jurnalnya berjalan seperti biasa, minus Donghyuck yang seperti tidak dalam mood baik. Mark bertanya-tanya apakah dia penyebabnya.
Donghyuck banyak diam hari ini, Mark perhatikan. Dia mengkerut di kursi paling ujung saat mereka makan di restoran bersama 127, masih kelahi main-main dengan Doyoung tapi tidak sedikit pun menggoda Mark seperti biasanya. It feels weird. Mark feels weird.
Memainkan mi kuahnya tanpa nafsu, Mark mencoba dengarkan apa yang Doyoung dan Donghyuck bicarakan. Hanya hal trivial. Soal sandal rumah Donghyuck yang terus-terusan dipinjam tanpa bilang oleh Doyoung. Mark membayangkan Doyoung tinggal di satu space yang sama dengan Donghyuck, bertemu Donghyuck dan wajah bantalnya di pagi hari, masak ramen bersama tengah malam, dan punya privilege untuk pakai barang-barangnya tanpa izin. Betapa beruntung.
"Tapi kamu 'kan biasanya gak pakai sandal rumah." Mark menyahut tiba-tiba. Donghyuck dan Doyoung berhenti sejenak, kebingungan, tidak sadar kalau sejak tadi Mark mendengarkan.
"Oh? Oh, betul!" seru Doyoung, mengakhiri hening yang datang tiba-tiba. "Daripada gak terpakai, lebih baik hyung yang gunakan!" tambahnya lagi, kembali mengalihkan atensinya ke Donghyuck.
Donghyuck tidak langsung menjawab. Dia memandang Mark lekat-lekat untuk sekian waktu, terlihat seperti dia punya banyak hal untuk diucapkan tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Detik selanjutnya, yang lebih muda sudah kembali bertengkar dengan Doyoung. Lagi. ("Tidak kupakai bukan berarti semua orang langsung boleh pakai!").
Mark kembali ke mangkuknya, tidak habis pikir mengapa urusan sandal harus dibahas sampai sebegitunya sampai Donghyuck seolah lupa ada Mark disini, siap diajak bicara, diejek, diganggu, digelayuti, apapun, yang penting perhatian Donghyuck jatuh padanya.
Dari ekor mata, Mark bisa lihat kelahinya Donghyuck dan Doyoung sudah berubah fisikal. Yang lebih tua dengan berapi-api mencubiti sisi perut Donghyuck, membuatnya menjerit dan hampir menjatuhkan sumpit dari meja. Mark memalingkan muka.
Mark merasa bodoh. Itu hanya Doyoung. Tapi Mark tidak suka berbagi Donghyuck, sekalipun itu hanya dengan Doyoung.
Kamu tidak bisa membagi yang bukan punyamu, Mark, suara kecil dari sudut dirinya yang ketakutan bilang.
Mark menghela napas. Donghyuck masih tidak meliriknya. Mark minum sisa kuah di mangkuknya dalam diam.
Saat makan malam besar mereka selesai dan Donghyuck setuju untuk membiarkan Doyoung pakai sandalnya, Mark terburu-buru masuk mobil, kesempatan terakhir untuk bisa punya Donghyuck untuk dirinya sendiri sebelum mereka pisah di elevator. Donghyuck duduk di kursi tengah sebelah kiri, seperti yang Mark kira. Separuh melompat, Mark mendudukkan dirinya di sisi kanan.
Donghyuck menoleh sebentar, mengangkat satu alis saat sadar itu Mark lalu kembali menunduk ke ponselnya.
"Ah, padahal aku mau duduk disitu." Doyoung melongok dari pintu mobil, menatap lurus ke Mark.
"Oh?" Mark menimbang, Doyoung masih punya banyak waktu untuk bersama Donghyuck bahkan setelah mereka sampai apartemen.
"Gak apa, aku di belakang saja." Tambah Doyoung lagi saat Mark tidak menjawab.
"Jangan, hyung. Biar aku yang pindah."
"Apa gak apa-apa?" Tanya Doyoung memastikan.
Mark mengangguk, menggumamkan 'it's okay' lirih sambil berpikir bahwa ketamakannya untuk memiliki Donghyuck tidak seharusnya menghentikannya bertingkah sopan.
Donghyuck memutar badan dari kursinya. Dia menatap Mark sepersekian detik lebih lama, lagi-lagi terlihat seperti dia punya sesuatu untuk diucapkan. Tapi apapun itu yang Donghyuck ingin bilang, terpotong oleh erangan Doyoung, "Argh, Lee Donghyuck~"
Donghyuck mengernyit, tersinggung. "Halo? Yang minta duduk di sebelahku kan hyung sendiri. Jangan pura-pura tidak suka!"
Pertengkaran mereka dimulai lagi bahkan saat anggota lain datang, hingga mobil sudah lewat separuh jalan, dan baru berhenti saat Doyoung ketiduran.
'Hyung terlalu baik,' notifikasi dari layar ponsel Mark terdengar nyaring di mobil yang akhirnya berubah sepi.
'Kenapa harus lewat chat, Hyuck?', balasnya.
'Tidak mau yang lain dengar.'
'Oh.'
'Kenapa tadi pindah tempat duduk?'
Mark mendongak. Dari tempatnya duduk, dia hanya bisa lihat belakang kepala Donghyuck dan sedikit sisi wajahnya. Walaupun bingung kenapa mereka bicara soal tempat duduk lewat chat secara rahasia-rahasiaan, Mark tetap balas apa adanya.
'Karena hyung bilang mau duduk disitu?'
'Tapi hyung kan juga mau duduk disitu'
Mark mengernyitkan alis, makin bingung. 'Aku gak keberatan duduk di belakang, Hyuck. Kenapa kita membahas ini?'
'Kalau aku yang minta tukar, apa hyung bakal tetap mau pindah?'
'Uhh... ya? Tentu saja?'
'Apa hyung memperlakukan semua orang begini?'
'Huh?'
'Hyung selalu baik sama semua orang, apa hyung juga perhatikan apakah tiap orang pakai sandal rumah atau tidak?'
'Donghyuck-ah, bicaramu seram.'
Suara ketikan ponsel Donghyuck terdengar sampai kursi belakang. Mark mengernyitkan alis melihat jarinya yang bergerak agresif. What is going on?
'Atau hanya aku saja? Kalau aku cemburu karena hyung begitu ke semua orang, bagaimana?'
Mark tersedak udara kosong saat membaca pesan Donghyuck. Jaehyun, terkantuk-kantuk di sampingnya, menyipitkan mata. Mark refleks sembunyikan layarnya di balik telapak. Jaehyun mengacungkan jari. "Ssst."
Membisikkan 'sorry', Mark coba abaikan rasa hangat yang seperti mau meledak-ledak di dada.
'Ah, memangnya kamu cemburu?'
Dari kursi belakang, terdengar Donghyuck menghela nafas frustasi. Mark bertanya-tanya apakah dia salah bicara.
'Makanya,' Donghyuck berpindah posisi duduk, jarinya yang tidak mengetik sibuk terkepal-kepal di atas paha. Rasanya Mark ingin meledak. 'Bolehkah kalau aku cemburu?'
"Hah?" Tanpa sadar Mark mengucapkannya keras-keras. Donghyuck menoleh ke belakang, alisnya tertaut dan bibirnya maju. Dia terlihat frustrasi.
'Apa hyung bakal kasih aku hak untuk cemburu?'
.
Dua tahun.
Dua tahun sejak Mark sadar dia suka Donghyuck. Dua tahun mengira-ngira apakah Donghyuck menyukai Mark balik atau tidak.
Kalau dua tahunnya itu harus diakhiri lewat chat di aplikasi gratisan, di dalam mobil yang terjebak lampu merah dan diwarnai sayup-sayup suara dengkuran, Mark pikir dia tidak punya wewenang untuk komplain.
.
'Hyung, ayo berhenti kejar-kejaran.'
───── FIN ─────
