Work Text:
“kok jam segini belum pulang ya mereka?” ruki menggumam ketika ia melirik jam yang ada di pojok kanan atas layar laptopnya. jemarinya pun berhenti mengetikkan kata demi kata laporan yang harus ia kumpulkan malam ini karena ada hal yang lebih penting yang harus ia pikirkan, yaitu adik kembarnya yang sampai sekarang belum menunjukkan batang hidung mereka.
yona, yang sedang membaca jurnal di laptopnya, seketika ikut mengalihkan fokusnya pada kekhawatiran ruki (yang membuatnya jadi agak khawatir juga). “udah coba dichat?”
“hmm.” gumam ruki, sekarang jarinya sibuk mengetik berbagai pertanyaan di ponselnya yang ditujukan kepada adik kembarnya di grup whatsapp mereka. masalahnya, hari ini mereka sudah janji akan makan malam bersama dan ibu sebentar lagi pulang. tidak ada kabar dari kedua adiknya kalau mereka harus terlambat sampai di rumah entah karena alasan apapun, jadi wajar kan kalau ruki khawatir?
“jadi, gimana?”
ruki memasukkan ponselnya ke saku jaket denimnya ketika tidak ada jawaban dari shosei maupun shion. “kita belanja bahan-bahan buat masak makan malam dulu aja,” katanya sambil bangkit untuk mencari kantong belanja kesukaannya. “abis itu kita ke sekolah buat jemput mereka, gimana?” ia menghampiri yona yang sudah siap dengan kunci mobilnya setelah menemukan kantong belanja yang dimaksud.
“kenapa nggak kita jemput mereka dulu terus baru ke supermarket?” saran yona cukup bagus tapi ruki nggak mau mengakui walaupun ia menyetujuinya. lebih banyak pendapat lebih baik, walaupun pendapat sohibnya yang jago masak dan berpengalaman mungkin sudah lebih dari cukup (lagi, ruki nggak mau mengakui terang-terangan).
“yaudah, yuk.”
mereka pun menjalankannya sesuai dengan rencana. pergi ke sekolah, menjemput shosei dan shion, ke supermarket dan membeli bahan-bahan untuk memasak makan malam. mereka menemukan shosei dan shion sedang bermain basket di lapangan dekat sekolah bersama dengan beberapa remaja yang mungkin tinggal di perumahan sekitar, terlalu asyik sampai lupa kalau ada janji makan malam dan abang yang khawatir.
“loh, ada om yona?” adalah hal yang pertama keluar dari mulut shion ketika melihat mereka di pinggir lapangan yang dikelilingi pagar besi tersebut. “abang!” shosei melambaikan tangannya dari tengah lapangan selepas melakukan three-point shooter yang disambut tepukan meriah dari semua yang ada disana. ruki menunjuk mobil yona yang parkir tak jauh di belakang mereka dan menunggu adik kembarnya berpamitan dengan teman-teman mereka di dalam mobil.
“katanya om yona jago masak ya?” tanya shion begitu merangsek masuk ke kursi penumpang. pertanyaannya mengundang gelak tawa dari ruki dan teguran shosei yang masih merasa nggak enak atas panggilan yang diberikan oleh saudara kembarnya itu. “udah dibilangin bukan om, kok ngeyel?”
ruki hanya bisa tertawa geli dan berkata dalam hatinya betapa ia menyayangi kedua adiknya itu. hampir setiap hari selalu saja ada hal yang diributkan tetapi kali ini, ruki tidak bisa berpihak kemanapun karena jika menyangkut yona, sudah pasti ruki lebih setuju untuk membuat sohibnya menderita tetapi shosei sangat menggemaskan. ah, ruki harus bagaimana.
“om, ditanya tuh, kok nggak nyaut?” ruki iseng nyikut lengan yona.
“lo jangan ikutan manggil gue om juga.” lirik yona, berusaha menjaga dirinya agar tetap tenang. masalahnya cengiran di wajah ruki nyebelin banget tapi herannya lagi, nggak cukup nyebelin untuk bikin yona kesel. jadi sebenernya dipanggil om disini bukan masalah buat yona karena dia sudah terbiasa dituakan di berbagai macam situasi yang akhirnya membuat dia bodo amat.
“terus apa dong?” tanya ruki, masih dengan cengiran iseng di wajahnya.
“ya apa kek,” yona berpikir sebentar lalu sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. “abang gitu.” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan menuju ke supermarket terdekat dari apartemen sohibnya itu.
“dih, kok abang? ngaco deh.” ruki nggak terima.
“ngaco dari mana? gue dua tahun lebih tua, lo lupa?”
sejujurnya, ruki beneran lupa kalo yona lebih tua dua tahun darinya karena persahabatan mereka nggak pernah didasari senioritas berhubung yona juga teman satu angkatan. tapi gawat, empat tahun lamanya ruki sudah terlalu nyaman menganggap bahwa mereka seumuran. ia paham bahwa yona hanya bergurau karena buat apa mengungkit perbedaan usia mereka sekarang? tetapi mungkin saja ruki butuh diingatkan akan hal itu.
ketika ruki tersadar dari lamunannya, ketika itu suara mesin mobil tidak lagi terdengar setelah yona mematikannya. mobilnya sudah terparkir dengan lihai di parkiran supermarket yang cukup penuh dan adik kembarnya sedang asyik membicarakan menu makan malam yang mereka inginkan (ternyata yona juga ikutan nimbrung). bisa-bisanya ruki ngelamun.
“kamu tau nggak siapa yang mau masak, dek?” tanya ruki sambil mengambil trolley yang langsung disambar oleh yona. katanya biar dia aja yang dorong. cih. eh tapi kok, ruki yang nggak biasanya sadar akan perlakuan-perlakuan yona, hari ini jadi super peka. duh, konsentrasi ruki, jangan kedistrek terus.
“siapa? om yona ya?” sahut shion yang berjalan beberapa langkah di depan mereka dengan tangan menyilang di belakang kepalanya. shosei geleng-geleng kepala, sudah kehabisan tenaga buat bilangin saudara kembarnya itu.
“hebat loh shion bisa tau! jangan-jangan lo peramal ya?”
“emang ada alasan lain om yona dateng ke rumah kalo bukan buat masakin kita?”
“shion!”
yona tertawa. shosei memang lebih mirip ruki kalau dari segi penampilan tetapi shion, anak itu mewarisi sifat ruki yang yona kenal baik karena terlalu sering ditunjukkan kepadanya. tapi shion ada benarnya, walaupun ada maksud lain, yaitu untuk klarifikasi bahwa yona bukan lah seorang om-om karena kalau memang benar, bukannya makin aneh?--yona memang datang untuk masak.
akhirnya, setelah cukup lama berunding, mereka memutuskan menu makan malam hari ini adalah yakiniku. ruki sudah pernah beberapa kali mencicipi masakan yona yang menjadi satu-satunya hal yang ia akui secara terang-terangan, makanya ia mau repot-repot mengundang sohibnya buat masakin mereka karena ia tau hasilnya tidak akan mengecewakan.
dan ternyata ibu sudah pulang ketika mereka sampai di rumah dan mereka langsung bergegas untuk menyiapkan makan malam. rupanya mereka terlalu lama berselisih mengenai bahan-bahan lain yang bahkan nggak ada hubungannya sama yakiniku. ruki nggak pernah mengira bahwa belanja bahan-bahan untuk makan malam bisa jadi semenyenangkan itu walaupun mereka banyak membuang waktu untuk hal yang nggak penting.
“oh, jadi yona tuh sebenernya kelahiran tahun sembilan lima?” ujar ibu ketika shion kelepasan memanggil yona dengan sebutan ‘om’ saat mereka makan pudding sebagai dessert yang berlanjut ke pembahasan tetang umur (lagi-lagi). tetapi memang itu tujuan yona datang kesini dan hanya ruki yang tau. rencananya benar-benar berjalan dengan lancar.
“betul, tante,” senyum yona sopan sambil menikmati pudding yang menurut ruki paling enak yang pernah ia makan dalam hidupnya. lagi-lagi rekomendasi sohibnya tidak pernah meleset. “saya sempat bekerja dua tahun setelah lulus SMA, setelah itu baru masuk kuliah, makanya bisa seangkatan sama ruki.”
ibunya mengangguk dan meminta shion untuk berhenti memanggil yona dengan sebutan ‘om’ yang harus disayangkan ruki karena kesenangannya menjahili yona. “makasih ya kami sudah dimasakin makan malam.” ujar ibunya dengan senyuman lembut khas keibuan.
“justru saya yang terima kasih karena sudah diundang ke rumah ini.” balas yona dengan tingkat kesopanan yang patut diacungi jempol. satu hal lagi yang tidak ingin ruki akui secara terang-terangan dan kembali membuatnya menyadari, seharian ini ia selalu memperhatikan apapun yang yona lakukan dan ucapkan. apa karena ini pertama kali ia mengundang yona ke rumahnya dan ruki merasa gugup? tapi ruki? gugup?
“diundang? kan situ yang maksa biar diundang.” bisik ruki setengah sinis saat mereka sendirian di dapur untuk mencuci piring dan merapikan peralatan masak yang mereka gunakan. “lagian tumben amat? bisa-bisanya kepikiran buat masakin makan malem keluarga gue.”
“gak adil dong kalo lo doang yang makan masakan gue? sekali-kali adek atau ibu lo gitu.” ucapnya sambil membilas sabun dari peralatan makan yang dicuci oleh ruki.
“jawabannya ideal banget. bilang aja biar shion gak manggil lo om lagi.”
sindiran ruki membuat yona tertawa. “itu juga sih.”
“tapi gue nggak harus manggil lo abang juga, kan…?” ucap ruki hati-hati setelah mereka selesai dengan urusan mencuci piring. keduanya enggan meninggalkan dapur yang dirasa cukup memberikan privasi untuk mereka ngobrol berdua. entah mengapa suasananya membuat ruki gugup dan jantungnya mulai berdegup lebih kencang. rasanya ia ingin kabur tapi kemana? kan ini rumahnya sendiri. jadi untuk saat ini, ruki memutuskan untuk menghadapi apapun itu yang tidak biasanya ia rasakan saat sedang bersama yona. permasalahan perbedaan usia seharusnya nggak membuat ruki jadi salah tingkah begini, ya kan?
yona mengedikkan bahunya, pembawaannya terlihat santai seperti biasanya, bikin ruki berpikir lagi kalau ada yang salah dengan dirinya. “gue nggak maksa. palingan lo bakal manggil gue abang kalo ada maunya doang.”
kalau dipikir-pikir, tidak ada yang berubah dari sikap yona. ia memang perhatian, jadi wajar kan kalau ia berusaha mengambil hati adik sohibnya sendiri? apa hanya ruki yang merasa aneh dengan kehadiran yona hari ini? kalau sampai iyaㅡ
“ruki? itu piring mau lo elap sampe sekering apa?”
“hah?” ruki ngelamun lagi. astaga. gawat. kalau dari yang ruki baca di novel dan segelintir drama yang dia tonton, tanda-tanda seperti ini tuh menunjukkan kalau dia…
“lo gak kenapa-napa, kan? kerjain laporan dulu deh mendingan. ini piring sama gelas gue yang lap.”
ia bahkan sampai lupa dengan laporannya. gila. kok bisa?
“oke, tolong ya, mas?” saking kalutnya, ruki sampai nggak sadar dan langsung bergegas ke ruang tamu untuk melanjutkan laporan yang harus dikumpulkan tengah malam nanti.
“MAS? RUKI, LO BENERAN GAK KENAPA-NAPA KAN?”
sayangnya, pikiran ruki sekarang lagi dipenuhi dengan laporan dengan nilai yang menjadi taruhannya, jadi dia nggak punya kapasitas untuk memikirkan panggilan yang baru saja keluar dari mulutnya untuk yona. tujuan awal yona memang untuk membuat shion berhenti memanggilnya 'om', tapi siapa sangka kalau dia bahkan dapat panggilan baru, terlebih dari ruki. tunggu sampai ruki nyadar, kira-kira dia bakal ngapain, ya?
yang jelas, yona juga nggak ada masalah sih dipanggil ‘mas’.
