Actions

Work Header

to the beginning (the ending is waiting)

Summary:

Mereka mengenal dalam angka, saling memeluk dalam duka, dan jatuh cinta di tengah pekerjaan yang penuh luka.

Notes:

for the record, i never watch nor read TUA or BSD, but i'm a huge nerd for superpowers. so, yeah.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: hold your breath and run

Chapter Text

"2611, berbaris yang benar. 1007, menghadap ke depan. 1506, jalan. 0908, jangan menunduk. 2303, ini ruang steril, jadi percuma saja kau menggunakan kekuatanmu."

Orang-orang pemilik nomor yang disebutkan berjengit, sementara mereka terus lanjut berjalan menyusuri koridor beton suram yang di tiap belokannya dijaga oleh tentara berseragam dan bersenjata lengkap.

"Jadi, kapan kalian akan mulai memanggil kami dengan nama asli kami?"

Ketujuh orang lain yang berbaris berjengit saat popor senjata salah satu tentara itu menghantam dahi pemuda yang berani bersuara, disertai dengus kesakitan setelahnya.

"2611, tutup mulutmu. Jadilah anak baik dan mungkin kami akan mempertimbangkan mengizinkanmu memiliki namamu kembali."

"Nama kami milik kami, sekeras apapun kalian berusaha merenggutnya dari kami." Seorang pemuda lain membuka suara, dan lagi-lagi suara hantaman terdengar. Namun yang lain diam-diam mengulum senyum; senang akhirnya ada yang berani menyuarakan apa yang mereka pikirkan.

"1007—"

"Bahkan meski kalian memanggil kami dengan label-label nomor dan memperlakukan kami sebagai tawanan, kami tahu kami tak bersalah dan kami tak berhak berada di sini."

Mereka berhenti di depan pintu logam besar. Salah seorang tentara sudah mengangkat senjatanya untuk menghantam pemuda yang terakhir berbicara, namun terhenti saat pintu terbuka lebar.

Yang sedari tadi memimpin mereka berjalan, seseorang yang kelihatannya adalah pemimpin dari para tentara, akhirnya berbalik badan, ada sesuatu dalam tatapan matanya. "Kalian tidak bersalah, itu memang benar. Tapi soal tidak berhak berada di sini adalah kekeliruan. Kalian sangat berhak berada di sini. Malah, tempat kalian ada di sini."

Pintu logam itu berada untuk menutupi sebuah ruangan luas dengan dinding putih bersih dan pilar-pilar tinggi. Ruangan itu kosong melompong, kecuali sebuah papan tulis hitam, bahkan tak ada atap di atasnya.

Pemimpin tentara itu menggesturkan pada mereka untuk masuk, dan kedelapan pemuda itu berbaris masuk ke dalam ruangan, sama-sama bertanya-tanya untuk apa mereka berada di sana, namun tak berani untuk mengutarakannya.

"Hari ini, peringkat kalian akan ditetapkan." Sang pemimpin tentara menggesturkan ke arah papan hitam berisi nomor-nomor mereka. "Peringkat atas akan mendapatkan lebih banyak privilese dan hak daripada peringkat bawah. Berusahalah untuk mengalahkan satu sama lain. Ini ruangan bebas, kalian bisa kembali menggunakan kekuatan kalian—" Mendengar itu, seorang pemuda jangkung menengadahkan tangan, dan api kemerahan meretih dari telapak tangannya. Dia kemudian mengangguk membenarkan ucapan sang pemimpin tentara.

"Tentu saja, karena kalian semua adalah aset negara, perusakan fatal pada kalian adalah tindak pidana pada negara. Kalau sampai ada salah satu dari kalian yang terbunuh atau mengalami luka tak tersembuhkan di sini, pelakunya akan mendapatkan hukuman mati, tepat di sini juga."

Kalimat itu menghasilkan gidikan dari yang lain.

"Sekarang berdiri membentuk dua barisan, dan lawan kalian adalah orang yang berdiri di samping kalian."

Kedelapan pemuda itu buru-buru membentuk dua barisan yang masing-masing terdiri dari empat orang, masing-masing melirik ke arah orang di sebelahnya dengan sangsi.

"Oh, sebelum aku lupa," Sang pemimpin tentara menoleh pada pemuda pertama yang terkena hantaman popor senjata hari itu. "2611, nama adalah privilese yang akan didapatkan peringkat atas. Berusahalah menjadi yang terbaik dan kau takkan dipanggil dengan nomor lagi."

Mendengar itu, kedelapan pemuda yang di sana mengertakkan gigi. Tentu, cara mereka ditawan dan diperlakukan di sana kadang kala tidak manusiawi dan tidak tertahankan; seperti jatah makan yang mereka dapatkan nyaris tak pernah ada rasanya, mandi merupakan kemewahan yang hanya mereka dapatkan seminggu sekali, dan tidak pernah ada yang mengajak mereka bicara selain untuk menyuruh-nyuruh.

Tapi yang paling tak tertahankan adalah nama panggilan mereka. Saat baru tiba di tempat itu, mereka semua ditato dengan kode batang dan nomor di tengkuk, dan itulah yang sekarang menjadi nama panggilan mereka. Seakan mereka hanya sebatas objek, bukan manusia hidup.

"Berusahalah menjadi yang terbaik dan mungkin kalian bisa kami perlakukan sebagai manusia."

 


 

Hawa panas melingkupi seluruh ruangan yang sejujurnya lebih menyerupai arena pertarungan itu. Separuh karena salah satu orang yang sedang bertarung di sana adalah nomor 0908, seorang penguasa api, dan separuhnya lagi karena hawa pertandingan dari semua yang ada di sana.

Pemuda jangkung nomor 0908 itu sedang melawan seorang pemuda bertubuh tegap bernomor 1210 yang sepertinya tak memiliki kekuatan yang menarik, namun dia tak pernah sedikit pun terkena serangan. Dia selalu bisa menghindar sesaat sebelum serangan itu mengenainya.

"1210 memiliki pendengaran super," Eden—sang pemimpin tentara itu tadi memperkenalkan diri—bergumam pelan sementara keenam pemuda lain memandangi pertarungan yang sedang terjadi. "Dia bisa mendengar serangan itu datang. Dan 0908 tidak baik dalam menyembunyikan suaranya."

Benar saja, saat nomor 0908 menyerang dengan bunga api, pemuda nomor 1210 sudah melompat dan menerjangnya hingga terjatuh, menginjak kedua tangan pemuda itu hingga tak bisa menggerakkannya. Namun kemudian, nomor 1210 melompat minggir seakan terkejut, sementara sol bagian bawah sepatunya meleleh membentuk cap kecil di lantai, hasil dari pemuda nomor 0908 yang membakarnya.

Pemuda nomor 0908 bangkit berdiri, kedua tangannya berisi api berkobar sementara bola-bola api berputar menyeramkan di sekitar tubuhnya.

"Dan, itu dia. Nomor 1210 menyerah pada nomor 0908."

Kedua pemuda lain melangkah maju ke depan, nomor 2303 dan 0304. Mereka sama-sama membungkuk untuk saling menghormati sebelum mengambil posisi siaga saat lonceng berbunyi.

Kejadiannya begitu cepat hingga nyaris tak ada yang bisa mengerti, saat ekspresi wajah pemuda nomor 0304 mendadak terkejut; kelopak matanya melebar dan bola matanya bergerak ke sana-sini seakan dia tahu apa yang akan dilakukan lawannya dan sedang mencari cara untuk melawan, namun sedetik kemudian tatapan matanya kosong dan dia melepaskan segala posisi siaganya.

Eden tersenyum, gumamannya kembali meski tak bisa terdengar yang lain. "Nomor 0304 bisa melihat apa yang terjadi di masa depan, tapi nomor 2303 bisa mengontrol tindakan seseorang dengan masuk ke dalam pikirannya. Dengan kata lain, merasuki. Dari sini saja kita sudah bisa menebak siapa pemenangnya."

Dan mereka melihat pemuda nomor 0304 dibuat bersujud kepada pemuda nomor 2303 yang hanya tersenyum puas.

Dua orang pemuda lagi maju. Si cerewet 2611 dan si pendiam 1506.

Dalam sekejap saja tangan pemuda nomor 1506 berubah, telunjuk dan jari tengahnya mengacung sementara ketiga jari lainnya mengatup, dan dia membuat gerakan seperti menembak.

Dan sebutir peluru benar-benar mendesing keluar.

Dari melihat saja sudah ketahuan kalau dia tak bertujuan untuk melukai nomor 2611, hanya ingin memojokkannya. Pemuda 2611 benar-benar terpojok ke salah satu pilar dan bentuk tangan nomor 1506 berubah lagi, kali ini seluruh tangannya mengepal erat dan dia menghantam bagian pilar di samping kepala lawannya.

Pilar marmer itu retak.

Eden bergumam lagi, "Nomor 1506 bisa membentuk senjata dengan tangannya. Seperti pistol, atau palu godam."

Suara dentaman lagi.

Yang lain menggigit bibir, ngeri pada apa yang akan terjadi, sebelum nomor 2611 yang terpojok tertawa.

Dan dia membuat bentuk tangan yang sama seperti 1506 saat pertama menyerang tadi, peluru dari tangannya mendesing merobek bagian bahu kemeja pemuda 1506 yang terkejut.

"Dan 2611 bisa meniru semua kekuatan lawannya, asalkan dia sudah pernah melihatnya."

Nomor 1506 membuat tameng dengan tangannya saat dia ditembaki, dan nomor 2611 menirunya dengan sempurna saat dia dihantam oleh tangan yang membentuk bat.

Pertarungan berakhir saat nomor 2611 yang tertawa terbahak-bahak berhasil memukul tengkuk pemuda 1506 yang langsung berlutut menyerah.

Pertarungan terakhir, pemuda nomor 0711 yang setiap langkahnya membawa awan hitam mendekat, menutupi langit yang terlihat dari ruangan itu. detak jantungnya setara dengan suara gemuruh langit, dan saat dia melirik lawannya pemuda kurus nomor 1007, ada kilat yang muncul.

Eden bergumam pelan sekali sementara pemuda lain yang menonton menyuarakan kekaguman tertahan akan kekuatan nomor 0711, "Pengontrol elemen cuaca, tapi 1007 tak bisa diremehkan."

Hujan turun sementara petir menyambar, sepertinya berusaha menggosongkan nomor 1007 yang selalu menghindar. Suara gemuruh terdengar bersahut-sahutan.

Hingga nomor 1007 berhasil mendekati lawannya dan menepuk pundak lelaki itu.

Mendadak hujan berhenti, awan hitam tersingkir dan matahari kembali bersinar.

Eden tersenyum lagi sementara pemuda-pemuda lain bertanya-tanya kekuatan apa yang dimiliki nomor 1007, "Seorang empath, dia merasakan dan mengontrol perasaan orang yang disentuhnya," gumamnya, sebelum kemudian dia mengeraskan suaranya. "Empat orang yang menang akan menjadi empat teratas, dan yang kalah akan menjadi empat terbawah. Tapi keempat orang dalam dua kategori itu akan diadu lagi untuk mendapatkan peringkat terakhir kalian."

Pertarungan terjadi lagi. Kilat, api, peluru, tatapan kosong, tawa terbahak.

Hingga tinggal dua orang yang belum ditentukan peringkatnya.

Nomor 2611 tentu saja sudah diekspektasikan untuk bisa menang, dia bisa meniru semua kekuatan lawannya; semakin kuat lawannya, semakin kuat ia. Sedangkan nomor 1007 selalu berhasil menepuk pundak atau menyentuh tangan lawannya dan membuat mereka jatuh dalam manipulasi emosinya.

Kedua pemuda itu saling mengelilingi untuk beberapa saat, sebelum nomor 2611 tiba-tiba menjerit keras dan terjatuh ke lantai, melingkarkan tangan di sekeliling tubuhnya sementara dia gemetar hebat.

Pemuda nomor 1007 menunggu hingga ia dinyatakan menang sebelum menghampiri lawannya dan berlutut, menyentuhkan tangannya pelan pada dahi pemuda itu dan mereka semua menyaksikan saat perlahan-lahan nafasnya kembali teratur.

"Apa yang kau lakukan padanya?!" Salah satu dari mereka menjerit, si jangkung yang bisa merasuki orang.

Nomor 1007 baru saja akan menjawab untuk membela diri namun Eden mendahuluinya. "1007 tidak melakukan apa-apa, 2303. 2611 hanya berusaha meniru kekuatannya. Tapi mereka tidak sama. 2611 tidak terbiasa memiliki kekuatan 1007 yang merasakan semua perasaan dari semua orang; perasaan lelah, marah, dan sakit dari kalian. Itu membuatnya kesakitan."

"Selamat, peringkat baru kalian telah ditetapkan," Eden melanjutkan. "Daftar lengkapnya akan dikirim ke kamar kalian masing-masing. Dan jangan menganggap peringkat ini permanen. Setiap minggu akan ada pertarungan seperti ini lagi, dan peringkat akan ditentukan lagi. Berlatihlah dan jaga privilese yang kalian punya."

Kedelapan pemuda itu mengangguk—bahkan nomor 2611, yang dibantu berdiri oleh nomor 1007. Mereka lalu keluar ruangan, kembali menyusuri koridor suram itu dipimpin seorang tentara lain sementara Eden tetap tinggal di sana, menulis beberapa hal di papan tulis hitam yang semenit sebelumnya hanya berisi nomor dan peringkat mereka.

 

Peringkat Minggu Pertama, 10 Juli tahun 2371

 

I. 1007 (Choi San, Empath)

 

II. 2611 (Jung Wooyoung, Copycat)

 

III. 2303 (Jung Yunho, Possession)

 

IV. 0908 (Song Mingi, Pyrokinetic)

---

V. 0711 (Kim Hongjoong, Weather-Control)

 

VI. 1506 (Kang Yeosang, Hand-Weapon)

 

VII. 1210 (Choi Jongho, Super Hearing)

 

VIII. 0304 (Park Seonghwa, Precognition)

 

"Ini akan menjadi menarik."

Notes:

fiuhh, this is hard but worth it, i guess