Chapter Text
Angin malam berhembus pelan ketika Chayoung membuka pintu yang menghubungkan langsung antara kamarnya dan balkon. Dia menengadah melihat bintang-bintang bertaburan di langit hitam pekat, deburan ombak terdengar pelan dari kejauhan.
Chayoung menyeret kakinya dengan malas menuju pagar tepian balkon yang tersambung dari ujung ke ujung kamarnya, ruang studi dan kamar Vincenzo. Wanita itu meregangkan lengannya dan menguap lebar-lebar sebelum menyenderkan tubuhnya ke pagar balkon, mata masih menatap langit Pagliuzza yang indah.
Saat ini jam dua malam dan dia terbangun mendadak dan tak bisa tidur lagi, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan ruangannya dan mencari angin di balkon. Biasanya Chayoung tidur berkelonan dengan Vincenzo jika tidak di kamarnya, ya di kamar Vincenzo, bergantian tiap beberapa malam. Di siang hari kadang mereka menghabiskan waktu di ruang studinya, berbaring berpelukan di atas sofa lebar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan, menonton program tv lokal yang kebanyakan Chayoung tidak paham membahas tentang apa (Vincenzo biasanya menerjemahkan dengan suara lembut dari balik telinganya).
“Sudah kubilang, kan, kamu bisa lihat bintang-bintang secara jelas di Pagliuzza,” Vincenzo tiba-tiba muncul di belakang Chayoung membuat wanita itu melompat kaget.
“Duh, jangan suka bikin kaget gitu dong. Dilarang menyelinap diam-diam dari belakangku!” Chayoung melancarkan protes dan memberi ultimatum walau dia membiarkan Vincenzo melingkarkan kedua lengan di tubuhnya dan memberi ruang pada pria itu untuk membenamkan wajahnya di lekukan lehernya.
“Bukannya kamu suka?” pria itu berdalih membuat Chayoung memutar kedua bola matanya tak percaya.
“Bukan di situasi yang seperti ini.”
“Hmmm,” Vincenzo bergumam, “di situasi kasur, berarti? Patut diingat untuk referensi selanjutnya.”
“Kayak kamu ga ngelakuin itu di setiap malam,” seloroh Chayoung tak percaya. Vincenzo terkekeh.
“Kenapa jam segini belum tidur? Tidak bisa tidur?” tanya Vincenzo pelan, ujung hidungnya bersentuhan dengan rahang Chayoung dan menghirupnya lembut.
“Ga juga, tadi sih sudah tidur. Tiba-tiba terbangun dan ga bisa tidur lagi,” jawab Chayoung.
“Kenapa? Karena tidak ada aku?” pria itu berujar canda dan membuat Chayoung memukul pelan lengannya.
“Dih. Aku bukan wanita manja yang ga bisa tidur tanpa seseorang disampingku.”
Vincenzo berdecak, “Hatiku hancur mendengarnya. Padahal kuharap kamu bilang karena kangen diriku.”
“Aku tidak semanja itu ya!” Chayoung memrotes sembari berusaha melepas lengan Vincenzo karena sudah mulai kesal padanya, namun pria itu mempererat pelukannya. Chayoung mendengus menyerah.
“Karena pekerjaanku sudah kelar, kita ke kamarku, ya?” dia memberikan usulan.
“Tuh lihat siapa yang sebenarnya ga bisa tidur tanpa orang di samping, heh?” wanita itu mengolok.
“Aku, memangnya kenapa?” Vincenzo menantang.
“Hadeh…” Chayoung mendengus dan tertawa.
“Jadi? Ke kamar?” Vincenzo mengulang tawarannya lagi.
“Nanti saja, masih mau menikmati angin jam dua malam. Di dalam terlalu panas.”
“Kamarku lebih dingin,” Vincenzo bersikeras.
“Ya, Vincenzo Cassano!” Chayoung berseru.
“Ya, Nyonya Cassano?” Vincenzo malah menggoda Chayoung yang sudah setengah mengamuk. Wanita itu memutuskan mencubit lengan Vincenzo keras-keras, pria itu mengaduh.
“Kamu kenapa sih?” Chayoung bertanya kesal. “Kerjaanmu bikin ga waras?” ujarnya sambil melepas paksa lengan Vincenzo dan memutar balik tubuhnya menghadap pria itu.
“Bingo?” Vincenzo menjawab tak yakin.
Chayoung menghela napas dan menatap prihatin. Dia mengangkat kedua tangannya dan kemudian menyisir rambut Vincenzo yang setengah kacau dan berhenti untuk menelungkup tulang pipi pria itu. Kedua jempol Chayoung kemudian perlahan memijat tulang alis Vincenzo. “Kalau ada yang bisa kubantu?”
“Hmm…” Vincenzo bergumam, mempertimbangkan tawaran Chayoung, meletakkan kedua tangannya di pagar balkon, mengunci wanita itu dari kedua sisi. “Perseteruan ladang zaitun keluarga Cassano ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Lebih gampang kalau aku bisa pakai cara mafia tapi ini keluargaku.”
“Bisa kulihat seperti apa jadi aku bisa bantu?” tawar Chayoung, kini melingkarkan tangannya di leher Vincenzo.
“Besok saja, sekarang kamu bisa bantu aku dengan cara lain,” pria itu kemudian tersenyum penuh maksud.
Chayoung mendengus tak habis pikir tapi pada akhirnya dia merentangkan lengannya, “sini peluk.”
Vincenzo tanpa pikir panjang menimbun dirinya di pelukan wanita yang posturnya lebih kecil itu, memeluknya untuk beberapa menit sebelum tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Chayoung memekik terkejut awalnya tapi pada akhirnya melingkarkan tangan dan kakinya di tubuh Vincenzo. Pria itu menengadah menatap wajah wanita itu yang kemudian menelungkupkan tangannya di wajah Vincenzo dan menciumnya dalam dan lembut. “Semoga itu membuat semangatmu terisi.”
“Hanya 1 persen,” dalih Vincenzo.
Chayoung menyeringai, “kita bisa buat jadi 100 persen tapi yakin kamarmu lebih dingin?”
“Kujamin. Tapi walaupun tidak dingin toh kita sudah tidak pakai pakaian.”
“ Ya !!” Chayoung berdecak kesal.
“Oke.. oke.. Akan kubuka pintu dan jendelanya juga, gimana?”
“Terserah,” jawab pelan Chayoung. Dan keduanya terkekeh.
“Baiklah, mari kita tidur!”
