Chapter Text
“Tadaima,” Matsukawa menutup pintu di belakangnya.
Kemudian series of events yang mengikuti selalu seperti ini: Matsukawa menanggalkan sepatu - mengganti dengan slippers abu-abu tua miliknya - mengecek jam di pergelangan tangan - menghambur ke pelukan Hanamaki.
Bagian terakhir adalah yang paling disukainya, tentu saja.
Ia menyadari atmosfer antara tempatnya bekerja—berkabung, kalut, muram, dan gelap — dengan shared apartment miliknya dan Hanamaki terlalu kontras. Tiap kali kakinya melangkah masuk dan berada satu atap kembali dengan Hanamaki, pemandangan yang tadinya hanya tersedia dalam versi grayscale segera berganti menjadi penuh warna. Dipikir-pikir, lucu bagaimana kehadiran satu orang dapat dengan instan me- recharge dirinya. Kalau udara di rumah duka membuat napasnya tercekat dan sesak, menghirup udara yang sama dengan Hanamaki rasanya membebaskan. Lega dan lapang.
Matsukawa bukanlah yang ekspresif dalam menunjukkan perasaannya, tapi ia selalu tahu satu hal, bahwa selalu menyenangkan untuk pulang.
Namun, beberapa hari ini lengkingan nyaring Hanamaki yang selalu menyambutnya pulang, absen. Biasanya belum sempat Matsukawa menyelesaikan ucapan tadaima — Hanamaki sudah siap menyambut di balik pintu dan berteriak, “Issei!” sambil merentangkan kedua tangannya lebar; antusias dan hidup.
Tidak ada agenda menghambur ke pelukan Hanamaki (lagi) hari ini. Belum, lebih tepatnya. Dan ini sudah hari keempat, Matsukawa menghitung.
Ia tahu Hanamaki sudah di dalam karena slippers pink miliknya tidak ada di genkan, dan Matsukawa menangkap pantulan cahaya dari ruang tengah. Maka segera setelah menghidupkan lampu di lorong masuk, Matsukawa mengecek ke dalam, “Hiro?”
Tidak ada jawaban.
Insting Matsukawa berkata Hanamaki bukan sedang ingin bermain petak umpet dengannya seperti yang sudah-sudah, dan muncul (secara tidak mengagetkan) dari balik pintu kamar sambil berseru, “BA!” diikuti senyum usilnya dan gelitik di pinggang Hanamaki sebagai balasan. Mungkinkah Hanamaki diam-diam sedang merencanakan jenis prank baru?
Apartemen ini terlalu sunyi.
Matsukawa mulai merasa jengah. Rasanya seperti ada hal buruk menunggu di ujung sana. Tentu saja perasaan tidak mengenakkan seperti ini bukan yang pertama kalinya. Dan dari yang sebelum-sebelumnya, hanya ada dua kemungkinan yang membuat suasana di dalam rumah berukuran 32 m² ini membuat Matsukawa berdebar-debar (dalam artian buruk): 1) Hanamaki sedang sakit; atau 2) Mereka berdua sedang bertengkar.
Matsukawa segera mengeliminasi kemungkinan nomor dua karena semalam mereka masih sempat menertawakan lelucon lawas di TV dan Iwaizumi dalam balutan kaos dengan ikon alien di bagian tengah—dan kekecilan— milik Oikawa. Suara Hanamaki di telepon tadi siang juga terdengar normal meskipun tidak seceria biasanya.
Apakah ia sakit? Tetapi dalam dua tahunnya tinggal bersama Hanamaki, hanya dua kali Hanamaki pernah sakit. Dan Matsukawa pasti adalah yang pertama mengetahui gelagatnya. Sampai-sampai, setiap kali digoda dengan ledekan semacam, “Jatah sakit tahun ini udah dipake?” oleh Matsukawa, Hanamaki hanya bisa memutar bola mata saking jarangnya Hanamaki sakit, bahkan untuk ukuran sakit receh seperti flu dan tenggorokan gatal.
Lalu apa? Mungkinkah ada kemungkinan ketiga?
Jawabannya hadir dalam bentuk rupa Hanamaki yang sedang duduk membelakangi dirinya di meja makan, dengan tangan tertangkup di depan muka.
What’s the worst that might happen? Matsukawa berpikir keras. “Hiro?” ia mencicit dengan seluruh keberaniannya, mencoba meraih Hanamaki sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban. Maka Matsukawa menepuk pelan pundak Hanamaki dan beralih ke hadapannya untuk membaca air muka Hanamaki dengan lebih jelas.
Tell me you’re just trying to pull another prank, Hiro.
Tetapi alih-alih yang menyambutnya masih Hanamaki yang membisu. Matsukawa sudah cukup pintar untuk membaca Hanamaki tanpa membacanya. Apapun yang ada di hadapannya saat ini bukanlah pertanda baik.
Perutnya mulai tidak nyaman.
Sampai Hanamaki akhirnya membuka suara.
“Issei,”
Matsukawa membuka lebar-lebar kedua telinganya; awas menunggu aba-aba. Atau berita.
“Kayaknya ini semua ga bakal berhasil.” pungkasnya.
Dan tiba-tiba atmosfer familiar rumah duka merayap masuk ke dalam dirinya lagi. Matsukawa bergeming.
