Actions

Work Header

opia

Summary:

Ratusan skenario berputar di kepalaku. Mengingat-ngingat berbagai adegan ala sinetron opera sabun yang di dalamnya terdapat ratusan kali pertemuan penuh kebetulan, menyisakan tanda tanya dan dialog klise “wah dunia ini sempit ya?”

Tapi hidup memang kadang se-klise itu. Karena di sana lah Ia, berdiri di puncak tangga dengan celana pendek dan kaos kebesaran. Rambut pirangnya yang panjang sebahu diikat sembarang, menyisakan beberapa helai di telinga. Wajahnya yang masih sama indahnya, masih putih tanpa cela, kini dihiasi dengan kerutan di dahi.

“Kenma, kenalin ini Tsukishima, tutor kamu."

---

Inspired by Normal People (2020)

Notes:

Please check poppy's amazing art here. and here's the playlist. Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

opia

n. the ambiguous intensity of looking someone in the eye, which can feel simultaneously invasive and vulnerable—their pupils glittering, bottomless and opaque—as if you were peering through a hole in the door of a house, able to tell that there’s someone standing there, but unable to tell if you’re looking in or looking out.

(The Dictionary of Obscure Sorrows)

 

Aku melihat Kenma pertama kali saat lelaki itu menendang meja begitu keras hingga buku-buku di atasnya jatuh berserakan di lantai.

Mataku —dan juga 20 orang lainnya di ruangan itu— melebar karena terkejut. Hening menyelimuti hingga teriakan marah Terushima menggelegar seantero kelas.

“Brengsek, apa maumu hah?” sahutnya penuh amarah seraya mendorong Kenma kasar hingga Ia terhuyung ke belakang beberapa langkah.

Tanganku reflek terjulur entah mengapa, yang langsung kutarik kembali begitu sadar. Seumur hidup aku hanya ingin hidup tanpa masalah, dan ikut campur dalam perkelahian pada hari pertama di tahun terakhir sekolah jelas bertentangan dengan prinsipku.

Tapi jangan tanya mengapa mataku tak bisa lepas dari sosok langsing yang sekarang berjalan melewati Terushima seakan Ia tidak ada. Sosok yang dengan santainya duduk di pojok belakang kelas, memasang earphone di telinga dan mengabaikan semua orang, asyik di dunianya sendiri.

Merasa diabaikan, Terushima jelas makin berang. Ia beringsut maju menghampiri Kenma sampai suara Pak Takeda, wali kelas kami, terdengar dari pintu kelas.

“Selamat pagi, anak-anak! Eh, ada apa ini? Kok ada ramai-ramai?”

Terushima menoleh cepat, tampak ragu sesaat sebelum akhirnya kembali ke bangkunya dengan berdecak kesal. Atmosfer kelas pun mencair, dan murid-murid lainnya mulai kembali ke bangku masing-masing.

Pak Takeda meletakkan buku-bukunya di meja guru lalu menangkupkan kedua tangannya dengan antusias. “Sebelumnya, bapak mau ucapkan selamat karena kalian telah mencapai tahun terakhir. Di tahun ketiga ini, bapak ingin mengingatkan bahwa…”

Entah Pak Takeda sedang bicara apa, aku tidak mendengarkan lanjutannya karena fokus dengan pemandangan di hadapanku.

Kenma —duduk di belakang, persis di samping jendela— sedang tersenyum kecil. Bulu matanya lentik menyapu tulang pipinya yang tinggi, dan bias matahari pagi jam setengah delapan menembus helai rambutnya yang memanjang sampai dagu, meninggalkan garis-garis bayangan di kulit wajahnya yang tanpa cela.

Sampai matanya yang berwarna kuning emas menghujam tepat di milikku — tajam dan penuh presisi.

Hanya sebentar saja, tapi aku bisa merasakan ratusan pertanyaan dan prejudis mengungkungku di tempat, merasakan dinding sekitar diriku luruh di bawah tatapannya. Sosok diriku yang sok tidak peduli dan tidak ingin mencari masalah hilang menguap, hanya menyisakan Kei Tsukishima yang pengecut.

Hanya sebentar saja, tapi aku bisa melihat dengan jelas rona yang tadinya menyebar di pipi Kenma kini surut tak bersisa.

Mungkin hanya ilusi semata, pikirku takjub.

Karena rasanya tidak mungkin jika manusia itu —yang tampak begitu hangat lalu berubah menjadi sedingin es dalam hitungan detik— terlihat begitu indah di mataku.

 

***

 

Aku melangkah masuk, mataku awas mengamati ruang tamu luas itu.

Napasku tertahan sejenak, menikmati pemandangan yang terhampar. Dinding sebelah kanan hampir seluruhnya dilapisi kaca, di mana sinar matahari sore dari barat masuk dan membentuk bayangan yang bergerak layaknya tarian cahaya di permukaan lantai keramik. Perabotannya tak banyak, hanya ada sofa putih besar di tengah ruangan, televisi layar datar dan lemari besar berisi pajangan dan pernak-pernik yang walaupun berukuran kecil, aku bisa menebak harganya mungkin setara uang SPPku selama tiga bulan.

“Terima kasih sudah bersedia untuk menjadi tutor anak saya ya, Tsukishima,” sapa perempuan setengah baya yang mengundangku masuk.

Aku menoleh cepat, teralihkan. “Dengan senang hati, Bu,” jawabku sopan. 

Wanita itu tersenyum ramah. “Tsukishima duduk dulu saja ya, biar saya panggilkan dulu anak saya. Kenma!” serunya sambil berlalu.

Aku tersenyum lalu duduk di sofa. Terdiam sejenak.

Sebentar.

Kenma!?

Ratusan skenario berputar di kepalaku. Mengingat-ngingat berbagai adegan ala sinetron opera sabun yang di dalamnya terdapat ratusan kali pertemuan penuh kebetulan, menyisakan tanda tanya dan dialog klise “wah dunia ini sempit ya?

Tapi hidup memang kadang se-klise itu. Karena di sana lah Ia, berdiri di puncak tangga dengan celana pendek dan kaos kebesaran. Rambut pirangnya yang panjang sebahu diikat sembarang, menyisakan beberapa helai di telinga. Wajahnya yang masih sama indahnya, masih putih tanpa cela, kini dihiasi dengan kerutan di dahi. Aku bisa merasakan sepertinya ekspresiku juga sama herannya.

“Kenma, kenalin ini Tsukishima, tutor kamu,” jelas Ibunya. Entah mengapa ada keanehan yang terpancar di antara pasangan ibu dan anak ini. Mereka terkesan berjarak.

Namun ada hal yang lebih penting yang menarik perhatianku, fakta bahwa aku akan menjadi tutor Kenma Kozume menggedor-gedor kesadaranku. Aku bisa merasakan titik-titik keringat bermunculan di belakang leher, tak peduli dengan dinginnya suhu ruangan ber-AC. Di otakku muncul berbagai macam kemungkinan, probabilitas akan raibnya pertemanan dan rasa aman yang sudah kubangun susah payah selama dua tahun bersekolah.

Di antara semua orang yang bisa kuajari, kenapa mesti Kenma?

“Sekarang kamu ajak Tsukishima ke kamarmu ya, Ibu mau siapkan snack untuk kalian,” kata sang Ibu sambil berjalan menuju ruangan lain. 

Selama satu menit tidak ada yang bergerak.

Sampai akhirnya sudut bibir Kenma terangkat. Ia mendengus kecil lalu menganggukkan kepalanya ke arahku, mengisyaratkan agar aku mengikutinya naik ke lantai dua.

Kamar Kenma cukup luas dan rapi rupanya, dengan tempat tidur di pojok sebelah kanan dan meja dengan PC rakitan yang aku tahu betul canggih bukan main terletak di sebelahnya, persis menghadap jendela. Di tengah ruangan terhampar karpet bulu berwarna krem, dengan meja bundar lesehan dan beberapa bantal duduk.

Kenma menutup pintu di belakangku, lalu duduk di karpet seraya bersandar di sisi tempat tidur. Matanya menatapku tajam, menunggu.

Sumpah, aku tidak tidak tahu bagaimana memulainya.

Lalu tiba-tiba Ia tersenyum. “Santai saja,” ujarnya pelan. Tangannya menepuk-nepuk karpet di sampingnya, menyuruhku duduk.

Aku berdeham, menghampiri meja lalu duduk di sampingnya. 

“Kamu pasti kaget,” ujarnya pelan. Suaranya halus dan ringan seperti genta angin. Sangat menyenangkan.

“Ya, sedikit,” ujarku mengakuinya. Tanganku mengambil beberapa buku pelajaran dari tas. “Kenapa kamu butuh tutor? Setahuku nilaimu sempurna,” tanyaku penasaran.

Ia mulai membuka-buka buku catatan yang bertumpuk di meja. Jari halusnya memain-mainkan tutup pulpen. “Kecuali fisika. Aku benci menghitung hal yang ku tak tahu apa gunanya,” cibirnya.

Mau tak mau aku tertawa. Siapa sangka ternyata Kozume Kenma yang tak pernah berinteraksi dengan siapapun di sekolah ternyata seperti ini aslinya? Ia terasa jauh lebih manusiawi, tidak seperti patung es tak terusik — imaji sosoknya yang terus kudengar bahkan sejak dua tahun lalu saat aku belum sekelas dengannya.

“Kenma? Sombong dia orangnya. Wajar sih, anak orang kaya.”

“Aku pernah sekelas sama dia, dan dia ngajak debat guru lalu pergi begitu aja dari kelas. Emang nggak ada sopan-sopannya.”

“Dia gak pernah sekalipun senyum. Pantes aja sih nggak punya temen.”

Suara-suara mereka berpendar di kepalaku, tapi mataku tak bisa lama-lama lepas dari lekukan bibir Kenma yang mencebik, di saat Ia asyik melihat-lihat catatan yang kubuat seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.

Lalu tiba-tiba Ia menengadah, memandangku tepat di bola mata lalu tersenyum.

Mungkin memang senyum secantik ini bukan untuk diberikan ke sembarang orang, pikirku kurang ajar. 

Dan di dalam hati aku merasa lega dan sedikit bangga, entah mengapa.

 

***

 

“Kozume, apakah ada yang sebegitu menariknya di luar, sampai-sampai kamu tidak memperhatikan saya?”

Aku menengadahkan kepala terlalu cepat begitu mendengar nama Kenma dipanggil. Di hadapanku, Ibu Saeko sedang berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Bibirnya membentuk senyuman manis, walaupun matanya tampak sebaliknya — menatap tajam seseorang di belakang yang kutahu betul siapa.

Pelan-pelan aku menengok ke belakang, menatap Kenma yang dengan gilanya sedang memandang balik Bu Saeko dengan tatapan dinginnya.

“Iya, sepertinya,” jawab Kenma, luar biasa tenang. Suara Kenma tidak pernah lantang, tapi entah mengapa mampu membuat siapapun bergidik. Dapat kulihat dengan jelas senyum Bu Saeko mulai goyah, tidak mengira bahwa Ia akan dijawab balik oleh muridnya sendiri.

“Oh, saya tidak sangka Kozume Kenma ternyata seperti ini ya orangnya. Kamu mau sok keren? Sok menantang guru di depan teman-temanmu?” desis Bu Saeko, masih tersenyum, walaupun jauh dari kesan ramah. Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Bisik-bisik murid sekelas pun mulai terdengar seiring dengan atmosfer yang semakin menegang. Ada yang menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala, hingga terang-terangan memandang Kenma dengan tatapan sinis. 

“Yak! Ada yang bikin ulah lagi, kawan-kawan,” seru Terushima dari bangkunya, mengompori keadaan.

Aku pun jadi ikutan bertanya-tanya, serius deh, ada apa sih dengan orang ini? Apa tidak bisa sehari saja dia tidak membuat masalah?

“Ya itu juga kalau Ibu pantas dianggap sebagai guru,” jawab Kenma tenang.

Fix, Kozume Kenma memang sudah gila.

Aku bisa mendengar seluruh murid di kelas terkesiap. Tidak lagi subtil, kini seluruh mata tertuju pada Kenma. Bahkan Tadashi, murid kalem yang duduk pas di depan Kenma, kini sudah membalikkan tubuh sepenuhnya, menghadap Kenma dengan mata terbuka lebar, menatap teman sekelasnya itu tidak percaya.

“Keluar kamu dari kelas saya! Saya tunggu di ruang kepala sekolah setelah ini!” bentak Bu Saeko nyaris histeris. 

Kenma memejamkan mata, mengernyit seakan Ia diserang sakit kepala tiba-tiba. Tapi setelahnya Ia hanya menghela napas, membereskan buku-buku dan pulpen di atas meja lalu dimasukkannya ke dalam tas. Ia berdiri dan melangkah pelan tapi pasti menuju pintu kelas, melewati Bu Saeko yang sudah gemetar karena amarah.

Ia keluar tanpa suara, begitu saja.

Tangan Bu Saeko yang mengepal erat di samping tubuhnya perlahan mengendur. Ia menghembuskan napas dengan keras lalu perlahan menyandarkan tubuhnya di meja guru, tersenyum sinis seraya menggelengkan kepala. Raut kesal dan tidak percaya mewarnai parasnya layaknya orang yang baru saja menyaksikan kejadian tak terduga. 

Memang. Lagian siapa yang menduga Kenma dengan beraninya melawan Bu Saeko? Guru paling killer di sekolah?

Guru yang terkenal luar biasa tegas dan galak kini hanya bisa menunduk dan sedikit terguncang, tampak berusaha keras menguasai emosi dan menenangkan diri, seiring suasana kelas yang mulai mencair. Aku pun bisa merasakan kepalan tanganku melemas, menyisakan bekas merah karena tanpa sadar aku memegang pulpen terlalu erat hingga rasanya kebas.

Kelas kini ramai dengan ujaran kekesalan dan cibiran. Ucapan-ucapan bernada sinis dan heran menggema seantero kelas sampai suara ketukan kencang terdengar dari papan tulis.

“Diam!” perintah Bu Saeko. Ekspresinya sekarang tampak lebih tenang. “Saya akan melanjutkan pelajaran tadi.”

“Kenma memang rada psycho orangnya, Bu,” celetuk Terushima. “Ke semua orang juga begitu—” 

“Kamu mau ikutan ke ruang kepala sekolah juga, Terushima?” sergah Bu Saeko. Raut tenangnya kini berubah, gusar dan jengkel. Sepertinya Ia tipe orang yang benci diingatkan kepada hal-hal yang tidak menyenangkan, bahkan jika hal tersebut baru saja terjadi.

“Eh, nggak, Bu!” ucapnya panik. Tangannya yang tadi dengan santai Ia kaitkan di belakang kepala segera Ia letakkan di atas meja, seiring punggungnya menegak dan duduk tegap layaknya murid nakal yang kena setrap.

Dan kelas pun berlanjut dengan residu ketegangan yang tidak benar-benar hilang — lambat dan menyesakkan.

 

***

 

Kantin ramai seperti biasa, dengan suara decitan bangku atau meja kayu yang digeser di atas lantai semen, obrolan dan celotehan murid-murid yang terdengar seakan berdengung di belakang kepalaku, serta teriakan sekumpulan adik kelas —sepertinya kelas dua— yang entah sedang membahas tentang apa hingga sebegitu hebohnya. Di sekelilingku juga sama saja; Terushima dan Futakuchi sedang membicarakan rencana modifikasi mobilnya yang entah masih bisa diubah lagi atau tidak karena menurutku sudah tidak karuan bentuknya.

Mungkin ada puluhan atau bahkan ratusan orang di tempat ini, tetapi bagaikan magnet, mataku tetap saja kembali lagi dan lagi pada satu sosok yang kini duduk di pojokan kantin, menempati meja dua orang untuk dirinya sendiri. Dengan konsol gim di tangan dan kemasan susu kotak rasa stroberi di atas meja, Kenma tampak seperti anak kelas tujuh, bukan murid kelas dua belas yang baru saja melawan guru.

“Tsukki, nanti lihat PR fisika ya!” ucap Terushima tiba-tiba seraya merangkulkan tangannya di bahuku.

Aku menoleh cepat. “Oh, ya,” jawabku tergesa, tak ingin Terushima tahu apa atau siapa yang sedang kuperhatikan. Tapi ternyata aku tak cukup cepat, karena sekarang Ia menoleh, mengikuti arah pandangku barusan dan mendecak kesal. 

Hampir dua tahun aku berteman dengan Terushima, memang tak cukup dekat tapi mudah saja memahaminya. Terlalu mudah malah, hingga aku bertanya-tanya mengapa hampir separuh dari isi sekolah ini memuja sosoknya karena di mataku dia biasa saja. Terushima itu layaknya buku yang terbuka; apa yang ada di otaknya langsung Ia keluarkan tanpa pikir panjang, dan ekspresinya begitu mudah terbaca. Seperti saat ini; senyum sinis terbentuk di bibirnya dan kilau di matanya cemerlang — ekspresi standar Terushima saat menemukan “mainan” baru.

“Kozume! Sofa ruang kepala sekolah sebegitu empuknya ya sampai kau betah di sana?” serunya cukup kencang, hingga membuat lebih dari penghuni lima meja sekitar menoleh penasaran, menatap si empu suara dan sasarannya. Menanti, menunggu reaksi.

Tetapi yang ditunggu sepertinya tidak datang juga, karena Kenma masih fokus menatap layar dan memainkan konsol. Ekspresinya tenang seakan tak mendengar apa-apa. Entah karena Ia terlalu asyik bermain, atau memang niat mengabaikan Terushima begitu saja. Jika iya, upayanya tentu berhasil, karena di sampingku Terushima kini menegang, alisnya berkerut gusar.

“Terima kasih ya, gara-gara kau mood Saeko jadi buruk sepanjang kelas. Puas sudah merusak hari banyak orang?” tambahnya sengit dengan suara yang jauh lebih keras.

Suara dengungan makin terdengar seantero kantin, kini dengan kata-kata “Kozume”, “Terushima”, dan “biasalah” yang santer menggema. Leher-leher mulai menoleh, mata melebar penuh rasa penasaran dan penantian. Namun Kenma masih bergeming dan tenang tak terganggu, layaknya ada dinding tak kasat mata yang membatasi dirinya dengan orang lain. 

Tetapi sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu sering memperhatikan Kenma hingga entah mengapa aku bisa menangkap kerutan kecil di antara alisnya yang melengkung rendah. Tangannya yang sedang memainkan konsol pun sedikit gemetar, dengan garis-garis urat yang samar terlihat seakan Ia menggenggamnya terlalu kencang.

Lagi, sesuatu bergerak di dalam diriku, dorongan untuk bangkit dari bangku dan menghampiri Kenma. Menariknya dari tatapan orang-orang dan membawanya pergi.

Hari ini aku aneh sekali.

 

***

 

“Kamu baru pulang,” ucapku, seraya memandang Kenma yang tampak kuyup. Ia tampak payah sekali, dengan baju seragam menempel, menampakkan jelas tubuh kecilnya yang sedang gemetar kedinginan. “Maaf aku masuk kamarmu tanpa izin, Ibumu menyuruhku menunggumu di sini.”

“Tidak apa-apa,” ucapnya. Suaranya rendah dan sedikit serak. Ia berjongkok, melepaskan tas di bahu dan membaliknya pelan hingga isinya berhamburan di lantai; kunci, dompet, susu kemasan kotak rasa stroberi. Ada juga handphone dan konsol gim yang aman terlindung di dalam kantong plastik bening, kontras dengan keadaan buku-buku pelajaran yang basah dan lembab.

Tawa kecil lolos dari mulutku, yang langsung kusamarkan dengan deham agar tidak ketahuan.

Ia bangkit, lalu melepas kancing seragamnya satu-persatu, melepas seragamnya hingga jatuh ke bawah. Mataku melebar. Kulit telanjangnya benar-benar putih bersih seperti susu.

Aku benci sekali film romantis, apalagi adegan klise di mana sang tokoh utama memandang pasangannya lalu semua bergerak lebih lambat — slow motion , istilahnya — seakan poros bumi bersedia berotasi sedikit lebih lama demi sepasang manusia yang bahkan di akhir cerita belum tentu bahagia. Aku benci karena menurutku imaji itu terlalu muluk. Tolonglah, waktu itu terbatas dan dunia tetap tergesa-gesa, tidak sebegitu murah hatinya bersedia menyempatkan diri demi memberi kita kemewahan untuk aktivitas remeh-temeh seperti terpesona .

Tapi anggap saja sekarang aku kena karma, karena sumpah, di hadapanku Kenma dan juga segala hal yang bergerak di sekitarnya seperti bergerak lebih lambat; rambut lembabnya yang mulai kering berayun pelan dan tersampir dengan anggun di bahunya yang putih telanjang. Jarinya yang kurus dan panjang menyapu leher, mengibaskan tetesan air yang kini mengalir satu-satu melewati tulang punggung hingga ke lekukan pinggang dan hilang di balik celana. Sinar matahari sore yang mengintip malu-malu lewat tirai jendela seakan sengaja membalut tubuhnya, membentuk garis lurus dan membelah kulit indah itu menjadi dua warna. Bahkan debu-debu halus yang disorot cahaya di sekitar tubuhnya tampak beterbangan dengan pelan, bergerak dengan teratur bagaikan tarian antariksa.

Jari-jari itu kini sampai ke pinggul, merambat perlahan ke kancing dan resleting bagian depan...

Sampai tiba-tiba Kenma menoleh, mata emasnya menatapku tajam pas di bola mata. Alisnya terangkat sebelah.

“Mau lihatin sampai kapan? Aku mau buka celana.”

Panas menyebar di seluruh tubuhku. Aku langsung memalingkan muka, menatap buku catatan fisika yang tiba-tiba terlihat seratus kali jauh lebih menarik sekarang. Tanganku menyambar pulpen, pura-pura menulis apapun itu yang ada di kepala.

Suara kekehan kecil terdengar, diikuti suara pintu kamar mandi dibuka dan ditutup.

Sialan.

Aku menghembuskan napas. Mataku memfokuskan diri, dan sesuatu di dalam diriku menggelegak lagi — karena kini tampak jelas di hadapanku buku catatan yang barusan kucoret-coret dengan asal sudah membentuk satu kata: Kenma.

Kuletakkan kedua tangan di kepala dan mengerang tanpa suara.

Kei Tsukishima, kau barusan kerasukan apa?

 

***

 

“Ini kenapa susah banget, sih?” gerutu Kenma. Ia mengerang, menempelkan pipinya di meja. Beberapa helai rambut emasnya berjatuhan menutupi muka, namun masih terlihat jelas bibirnya mengerut kesal. 

Aku terkekeh pelan, “Pelan-pelan aja ngerjainnya. Kalau kamu buru-buru nanti bingung sendiri masukin rumusnya,” ucapku seraya menjulurkan tangan ke arah buku tulis, bermaksud untuk melihat progresnya. Tanpa sengaja buku jariku menyentuh rambutnya. Halus bagai bulu.

“Ini loh, nilai V₁ sama V₂ bisa kamu masukkan ke sini, terus…,” penjelasanku terhenti, karena aku bisa merasakan tatapan Kenma tajam menusukku. Kutatap balik matanya, namun tak sampai dua detik aku rasanya sudah ingin memalingkan muka. “Kenapa?” 

Kenma hanya terdiam, memandangiku dengan matanya yang lebar dan jernih.

“Kamu berpura-pura,” ucapnya pelan.

Aku menoleh cepat dan dahiku mengerut, bingung. “Berpura-pura apa?”

“Berpura-pura sama seperti teman-temanmu padahal kamu berbeda,” lanjutnya kalem. Tak ada nada menghina, tak ada nuansa merendahkan. Kenma berkata seperti itu layaknya sedang memberi tahu ramalan cuaca.

Tapi itu mengejutkanku, dan aku mulai merasa tak nyaman, merasa terbaca.

“Aku tidak berpura-pura. Mungkin aku memang seperti mereka,” sergahku, tak bisa menutupi sedikit nada defensif yang terlepas begitu saja.

Ia tak menjawab. Masih memandangiku, dan aku hanya bisa mencuri pandang sebentar-bentar, menantikan reaksinya.

“Terus kenapa kamu mau mengajariku? Kenapa kamu... mau berbicara denganku?” tanyanya. Suaranya jauh lebih lirih sekarang, seakan Ia sedang bersusah payah untuk sekedar berkata-kata. Ada kilatan yang membias di matanya - entah malu, entah luka - membuatku mengutuk dalam hati; mengeja rasa bersalah yang muncul akan kemungkinan bahwa sedikit-banyak aku turut andil dalam apapun ini yang Ia rasakan sekarang.

Aku dan teman-temanku, tepatnya.

Lidahku kelu, tak bisa menjawab apa-apa dan Kenma sepertinya memahaminya. Ia mengangkat kepalanya dari meja lalu meregangkan kedua tangannya ke atas seraya memejamkan mata. Erangan meluncur dari bibirnya.

“Boleh tanya sesuatu?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Tanya saja.”

“Tadi kenapa kamu melawan Bu Saeko?”

Lama Ia hanya terdiam, sampai aku mulai khawatir pertanyaanku terlalu kurang ajar.

“Kamu tidak perlu-”

“Entahlah,” memotong keraguanku. “Aku hanya tidak suka caranya mengatur-atur murid. Tak jarang aku melihat anak sekolah kita dibuat menangis sakit hati oleh perkataannya. Dan… aku hanya tak ingin diperlakukan seperti itu.” Pandangannya menerawang.

“Seperti apa?” tanyaku heran.

“Yaa… seperti kita ada di barak militer,” jawabnya kalem.

Tawa kecil terlepas begitu saja dari mulutku. “Tapi kita kan di sekolah. Dan menurutku wajar saja jika ada guru yang seperti itu. Toh itu kan memang tugasnya mengatur-atur murid.”

“Begitukah menurutmu? Aku pikir tugas guru ya mengajar, bukan menyuruh-nyuruh murid dan sok pasang badan tapi lalu menuntut minta dihormati,” gerutunya.

Aku menatapnya takjub. “Kamu sebegitu bencinya ya sama Bu Saeko?”

“Tidak juga sih. Kata ‘benci’ itu tidak tepat, terlalu intens. Lebih kepada… tidak suka mungkin? Banyak juga hal lain yang aku tidak suka, tidak cuma dia, dan sialnya aku tidak pandai berpura-pura.” Ia menghela napas. “Ibuku bilang aku seperti halaman buku yang dibaca terlalu sering hingga jilidnya selalu terbuka; apa saja yang ada di otakku pasti kuutarakan, atau kutunjukkan.”

Ada sengatan yang kurasakan saat Ia mengatakan itu. Nadanya normal tanpa tendensi, sehingga aku yakin Ia hanya berbicara apa adanya. Tapi buku yang terbuka? Justru kebalikannya; Kenma itu bagaikan enigma  setiap langkah dan perbuatannya selalu mengundang tanya. Tentu Ia tidak tahu betapa belakangan ini aku nyaris frustasi karena terus-terusan berusaha menebak apa yang ada di dalam kepalanya. 

“Coba saja aku jadi kamu, mungkin hidupku akan lebih mudah,” tambahnya pelan.

Aku? Mudah?

“Apa maksudmu?” tanyaku segera, berusaha keras meredam rasa kaget dan penasaranku yang begitu ketara.

“Hmm… Kamu tampan, pintar, populer, dan disukai banyak orang. Bahkan Terushima,” jelasnya, wajahnya sedikit masam saat menyebut nama orang yang selalu mengganggunya itu. “Kamu jarang berbuat salah, dan orang-orang melihatmu murni karena kagum atau bangga, bukan karena kamu aneh atau pembuat masalah.”

Kuabaikan perasaan aneh di perutku saat Ia menyebutku tampan (walau rasanya aku ingin berteriak agar Kenma seharusnya melihat dirinya sendiri di depan cermin) dan fokus pada perkataannya, yang membuatku ingin entah ingin meringis entah ingin tertawa. Karena orang yang Kenma puji barusan bukan aku, melainkan persona yang kubangun mati-matian sampai mungkin aku nyaris lupa bahwa aku berpura-pura.

Tetapi ucapannya seakan dengan mudahnya menarikku kembali ke bumi; menjatuhkanku di depan cermin besar di mana sosok Kei Tsukishima yang pengecut dan tukang cari aman memandangku dari balik kaca.

Ya, Kei Tsukishima yang selalu ingin menyenangkan orang-orang di sekitarnya, yang benci konflik, yang memilih mengalah daripada dimusuhi, yang setiap hari berlatih tersenyum manis demi menutupi pahitnya lidah yang sebenarnya sudah ingin mencaci setengah mati.

Aku baru sadar, aku dan Kenma begitu berbeda. 

Aku mendengus. “Baru saja kamu bilang aku berpura-pura, mungkin memang benar begitu,” ucapku pelan. Aku bisa mendengar nadaku yang getir terlepas begitu saja. Entah mengapa, di depan Kenma kendali diri yang selama ini kubanggakan menguap entah ke mana.

Mata Kenma melebar, lalu alisnya mengerut, panik. “Aku minta maaf! Sungguh aku tidak berniat menyinggungmu atau apa. Aku tadi hanya… hanya… Ah aku benci diriku sendiri,” keluhnya seraya menutupi wajah dengan tangannya.

Loh, aku kan tidak bermaksud menyalahkannya?

Kujulurkan tangan - walaupun ragu sesaat - dan memberanikan diri menyentuh tangannya, dengan lembut menarik jari-jarinya yang menutupi muka. Ia takut-takut menatapku, wajahnya sarat penyesalan dan permintaan maaf, ekspresi yang - sepanjang sepengetahuanku - tidak pernah Ia tampakkan ke orang lain.

Lagi, rasa puas melanda diriku, entah apa maksudnya.

“Maaf,” ujarnya pelan.

“Untuk apa? Kamu hanya berbicara apa adanya,” jawabku. “Toh jarang-jarang aku diobservasi seperti ini. Aku jadi tahu kenapa orang-orang suka sekali mencoba tes-tes kepribadian di internet, terlepas itu akurat atau tidak. Rasanya oke juga ternyata,” ucapku sambil tersenyum miring, meyakinkannya.

Bisa kulihat senyum Kenma perlahan kembali, dan raut lega menyapu wajahnya. Kurasakan jempolnya mengusap punggung tanganku, membuatku tersadar bahwa aku ternyata aku masih menggenggam tangannya. Wajahku menghangat, berusaha menarik tanganku tetapi bisa kurasakan Ia menahannya.

Ia menunduk, memandangi tangan kami yang sekarang saling tertaut di atas meja. “Aku tidak ingin kamu marah.”

“Aku tidak marah,” sangkalku secepat kilat.

Ia tersenyum, walaupun ekspresinya masih terlihat sedih dan tatapannya juga tak beranjak menghadapku. “Aku tahu kamu mungkin membenciku dan menganggapku aneh seperti orang-orang, tapi… aku bersyukur karena kamu satu-satunya orang yang mau berbicara denganku.”

Ah, hatiku sakit sekali untuk Kenma.

“Aku tidak pernah membencimu,” ucapku seraya mengeratkan genggaman, menyelipkan jari-jariku di sela-sela miliknya dan merasakan tangannya gemetar di bawah sentuhanku. Lama kami hanya terdiam, menikmati hangat yang terpancar melalui kulit masing-masing.

“Kei... Aku menyukaimu, tahu,” ucap Kenma. “Sudah sejak lama.”

Efek kata-kata Kenma mengguncang bagai godam. Rasanya isi perutku seperti jungkir balik, membuatku pusing dan kewalahan tiba-tiba. Jantungku pun seakan berdetak tiga kali lebih cepat, selintas membuatku berpikir apa jangan-jangan aku punya penyakit yang tidak terdeteksi. Jari-jari kami yang bertaut kini diwarnai semburat merah yang kuyakin sudah menyebar sampai ke seluruh tubuh. Samar kulihat tangannya gemetar, seperti tadi saat di kantin sekolah.

Tapi kali ini bukan antipati, melainkan antisipasi.

Kulepaskan tanganku dari genggamannya, menyapukan tanganku di telapak, pergelangan tangan, dan perlahan naik hingga ke lengannya - membiarkan seluruh saraf di ujung jariku menikmati kelembutan sehalus sutra yang selama ini hanya bisa kunikmati dengan mataku. Kuberanikan diri dengan pelan-pelan mengangkat kepala, menyentuh rahangnya yang terpahat sempurna, memandunya untuk menghadapku.

Dan aku disambut oleh sepasang mata yang entah sudah berapa kali kupandangi tetapi efeknya masih sama; mengurungku di tempat, tak bisa ke mana-mana. Warna mata Kenma bagai emas yang mencair; mengundangku untuk menyelam di dalamnya.

Kenma melepas kacamataku dan meletakkannya di meja. Satu kecupan, dua, tiga, dan entah berapa kali lagi sampai kepalaku rasanya ringan. Kulitku meremang, merasa panas dan dingin sekaligus. 

Lalu aku pun membiarkan diriku jatuh dan tenggelam. Tak ingin lagi muncul ke permukaan.

 

And don't mind my nerve, you can call it fiction

But I like being submerged in your contradictions, dear

'Cause here we are…

(Jason Mraz - Beautiful Mess)

 

***

 

“Kulitmu pucat sekali,” ucapku kepada Kenma, seraya menggambar garis lurus horizontal imajiner di tulang belikatnya dengan jariku sampai ke bahu, menggambar pola-pola tak beraturan di sepanjang lengannya. 

Ia bergidik di pelukanku, entah karena perbuatan jariku atau napasku yang berhembus langsung ke belakang lehernya.

"Punyamu juga pucat,” jawabnya pelan.

Kugerakkan lengan kiriku yang menjadi bantal kepalanya, menggesernya perlahan. Ia bangkit, namun dengan cepat aku mengatur posisi menjadi telentang, menahannya lalu memandunya perlahan untuk kembali ke pelukanku. Ia membalikkan badan, menghadapku sekarang, lalu meletakkan kepalanya di dadaku yang telajang, tangannya tersampir di perut dan pinggangku.

“Kita seperti lautan ya,” gumamnya. Aku mengerutkan dahi, tak mengerti apa maksudnya.

Ia meraih tanganku lalu mengangkatnya hingga tangan kami yang tertaut kini ada terlihat dalam pandanganku, lalu seketika aku mengerti apa maksudnya.

Kulitku yang terang disandingkan dengan kulitnya yang lebih pucat lagi, membentuk gradasi sewarna pasir pinggir pantai.

Kami lalu terdiam dan merasa nyaman dalam keheningan; diisi hanya dengan tarikan napas kami masing-masing dan suara hembusan angin dari pendingin ruangan.

"Selain belajar, apa yang kamu suka lakukan?" tanya Kenma, memecahkan keheningan.

"Aku tidak suka belajar," sangkalku. Ia mengabaikannya dan menunggu jawabanku. Aku berpikir sejenak, mengabsen satu-satu hobi yang selalu kucoba tetapi selalu berakhir kutinggalkan karena bosan. Tapi ada satu yang membuatku tertarik sampai sekarang. "Hmmm... sepertinya buku," jawabku singkat.

Kenma mengangkat kepalanya dari dadaku, memandangiku dengan matanya yang besar. "Aku tahu kamu pintar tapi aku tidak pernah tahu bahwa ternyata kamu menyukai buku." Ia lalu memusatkan perhatiannya di dadaku yang telanjang, dengan pelan menggambar pola tak beraturan. "Kamu terlalu... cool untuk jadi seorang kutu buku."

Aku terkekeh karena pilihan katanya. "Istilah 'cool' tidak cocok denganku, Kenma."

"Serius, kamu seperti tokoh-tokoh lelaki di cerita remaja; tenang dan tidak pernah kehilangan kendali. Tidak seperti teman-temanmu, kamu tidak pernah menyakiti orang lain. Aku rasa tidak ada orang yang bisa menemukan alasan untuk membencimu."

Aku mendengus, dapat kurasakan ujung bibirku tersungging sinis.

"Itu karena aku tidak pernah berbicara sama sekali. Aku tidak seberani kamu yang selalu mengutarakan pendapatnya." Aku menghela napas. "Aku tidak seperti kamu yang tampaknya selalu tahu apa yang ingin kamu sampaikan."

"Tapi pasti kamu mengerti apa yang kamu rasakan, kan?" tanyanya.

"Tidak juga."

Alisnya yang indah melengkung naik. "Lalu bagaimana kamu bisa tahu apa yang kamu inginkan?"

Aku menonggakkan kepala, menatap langit-langit kamar Kenma yang dicat putih.

"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kuinginkan."

Rasanya aku tidak pantas berada di samping Kenma.

 

***

 

Suara dentuman musik terdengar nyaring di seantero ruangan, membuatku mengernyit beberapa kali saat beat lagu sampai di bagian yang terlalu heboh. Tanganku memegang gelas berisi mocktail yang kuambil dari pitcher, menyesapnya sedikit dan merasakan dinginnya es dan soda meluncur ke tenggorokan. Sebenarnya aku malas sekali datang ke acara pesta dan sejenisnya, tapi sayangnya dua makhluk di depanku tidak membiarkanku mangkir kali ini.

“Ayolah, Kei, sedikit aja,” pinta sang raja pesta di sampingku, untuk entah yang kesekian kalinya malam ini, menggoyang-goyangkan gelas berisi minuman beralkohol di depan mukaku. Kupejamkan mata, berusaha menenangkan diri.

“Aku menyetir, Teru, dan kalau aku ikut minum entah siapa yang akan membawa kalian pergi dari sini nanti saat berjalan lurus pun tidak bisa,” jawabku, juga entah sudah yang keberapa kali.

“Malaikat kita ini memang beda level, Teru, biarkan saja lah,” seloroh Futakuchi sambil tertawa kencang. Kurasakan alisku berdenyut, nadanya entah mengapa membuatku kesal. 

Di sekelilingku murid-murid sekolah masih asyik berpesta; ada yang berdansa dengan heboh, ada yang berkali-kali meneguk minuman entah apa, ada yang asyik mengobrol, atau bahkan beberapa dengan berani membuat ‘sesi’ sendiri di pojokan ruangan.

“Eh, itu Kenma nggak sih?” tanya Futakuchi.

Aku menoleh begitu cepat hingga samar-samar aku bisa mendengar leherku berderak. Kenma? Untuk apa dia di sini?

Pesta semestinya adalah tempat terakhir yang akan didatangi Kenma, tapi di sana lah Ia, berdiri dengan celana jeans dan hoodie kebesaran, celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.

Sampai matanya menemukanku, dan bisa kulihat senyumnya tersungging. Langkahnya pasti menghampiriku.

Panik merayap di punggungku, merambat sampai ke kaki yang mati-matian rasanya ingin pergi dari sini saat ini juga. Kenma tidak seharusnya menghampiriku, tidak saat aku sedang bersama Terushima.

“Kei…,” panggil Kenma. Aku bisa merasakan Terushima dan Futakuchi menatap kami heran, bertanya-tanya.

Kuabaikan tatapan mereka. “Ada apa?” tanyaku ke Kenma, masih menunduk, menatap gelas yang kupegang. Aku sadar betul nadaku lebih dingin daripada biasanya, karena dari sudut mata aku bisa melihat Kenma sedikit terkejut.

“Kei? Sejak kapan kalian akrab?” tanya Terushima. Pertanyaannya mungkin untuk kami berdua, tapi bisa kurasakan tatapan tajamnya menusukku. 

Musik masih berdentum, tapi di antara kami tidak ada yang bicara.

Lalu aku dengar Kenma mendengus, seperti tertawa. Kuangkat kepala, dan sepasang mata berwarna emas itu masih memandangku. Masih mengurungku. Tapi ada yang lain kali ini.

“Harusnya aku sudah menduganya,” ucap Kenma pelan. Lirih dan sarat penyesalan.

Kenma berbalik, pergi begitu saja. Aku tertegun.

Tanpa sadar aku sudah mengejarnya, mengabaikan teriakan Terushima dan Futakuchi di belakangku. Susah payah aku berusaha menggapai tangannya di antara lalu-lalang orang-orang di lantai dansa tapi tak juga berhasil.

Aku nyaris menyerah saat kami tiba di pintu depan yang tidak terlalu ramai. Aku mempercepat langkah, mengejar Kenma yang sekarang sudah melewati pekarangan. Kugapai tangannya, merasakan hatiku mencelos saat Kenma dengan kasar menolak tanganku.

“Ken, tunggu dulu! Kamu mestinya tahu betul kenapa orang-orang di sekolah tidak boleh tahu tentang kita. Apalagi Terushima. Aku hanya ingin melindungi kamu!” seruku.

Ia berbalik badan dan tubuhku menegang, siap untuk menerima amarahnya. Tapi begitu aku melihat wajahnya, napasku tercekat karena alih-alih amarah, aku mendapati wajahnya terpilin seperti menahan sakit. Matanya berkaca-kaca, luka di mana-mana.

“Melindungiku?” Ia tertawa histeris. “Satu-satunya yang ingin kamu lindungi adalah dirimu sendiri, Kei!”

Ucapannya menyengatku.

“Bilang saja kamu tidak mau orang-orang menghubung-hubungkan dirimu denganku! Bilang saja kamu takut segala hal yang sudah kamu bangun hancur begitu orang-orang tahu bahwa kita berhubungan dekat. Bilang saja kamu malu akan diriku,” ucapannya tajam dan mengiris-ngiris.

“Bukan begitu, Ken-”

“Sudahlah, Kei. Aku lelah sekali,” bisiknya seraya mengusap basah di pipi yang makin deras. “Aku mungkin memang menyukaimu, tapi aku tidak layak diperlakukan seperti ini.”

Ya Tuhan, aku sudah menyakiti Kenma sebegitu rupa.

Dan saat Kenma lari begitu saja meninggalkanku di tanah lapang, hatiku serasa mati dan hampa.

 

***

 

Ini sudah entah gelas yang keberapa kali. Tubuhku rasanya ringan tapi juga berat di saat yang bersamaan. 

“Whoaa gila, Tsukki! Ayo satu lagi, satu lagi!” seru Futakuchi di sampingku. Di balik kabut yang menutupi pandanganku dapat kulihat bibirnya membentuk cengiran lebar. Kontras di samping Futakuchi, Terushima tampak sedikit gusar.

“Sejak kapan kau dekat dengan Kenma?” tanyanya tiba-tiba. Aku mungkin sudah melayang tinggi entah sampai mana tapi masih bisa kutangkap nada jengkel di suaranya.

Aku mendesis, mana pantas manusia ini untuk bahkan sekedar mengucapkan nama Kenma.

“Bukan urusanmu,” sergahku kasar. Baik Terushima dan Futakuchi terkesiap kaget. Ia beringsut mendekatiku, ekspresinya tampak kesal menahan amarah.

“Ada apa sih denganmu?” tanyanya. “Hati-hati dalam memilih teman, Tsukki. Aku tidak tahu sudah berapa kali kamu main dengan Kenma tapi bisa kulihat kamu mulai ketularan ketidak-normalannya.”

Yak, kesabaranku habis.

Kudorong tubuhnya hingga Ia terhuyung ke belakang. “Tahu apa kamu soal normal, hah?” serbuku. “Pikirmu kamu orang baik? Disenangi banyak orang membuatmu merasa punya hak untuk asal mengecap orang normal atau tidak normal? Merasa hebat dengan memperlakukan orang lain seenaknya?”

Terushima jelas kaget, tetapi kini senyumnya tersungging, sinis dan pahit. “Oh, Kei Tsukishima sekarang sok jadi jagoan hah? Sok jadi pelindung mereka yang lemah dan butuh kasih sayang?” ejeknya. “Kau juga sama saja, sialan! Sana ngaca! Jika kau sebegitu inginnya melindungi Kenma kenapa kau selama ini diam saja? Kamu bahkan tidak mengundangnya ke sini, dan nyaris kencing di tempat saat dia menghampirimu,” selorohnya.

Setiap perkataannya ibarat serpihan kaca, menusuk hati dan harga diriku. Kesadaran menghantamku; betapa aku ingin menertawai diriku sendiri yang selama ini sok menganggap dia bajingan padahal aku sama brengseknya.

Terushima masih terus menghajarku dengan kata-katanya. “Apa kamu berbicara dengannya di sekolah? Berbicara dengannya di depan kita semua? Kau bahkan tidak menyapanya!” serunya sambil mendorongku. Kakiku yang sudah lemas hampir tidak bisa menahan beban tubuhku yang terhuyung ke arah meja. 

Dan dengan satu kalimat terakhir, Terushima menghabisiku:

“Aku mungkin brengsek, Tsukki, tapi setidaknya aku tidak munafik sepertimu!”

 

***

 

The number you are calling-

Aku mematikan telepon, mengetuk simbol hijau lalu menelpon kembali, entah sudah yang keberapa kali. Aku duduk di pekarangan depan lokasi pesta, dan rasanya masih terbayang jelas pertengkaran yang kualami dengan Kenma seakan itu terjadi baru kemarin, bukan satu minggu yang lalu.

Kenma bagai lenyap begitu saja ditelan bumi.

Ia tidak lagi pergi ke sekolah, kuhubungi berkali-kali pun juga tidak diangkat. Aku datangi rumahnya hampir setiap hari tapi pagarnya terkunci dan tidak ada orang yang keluar walaupun aku sudah memencet bel berulang-ulang. 

Dan ada rasa lain; nyeri yang berkepanjangan, kekosongan yang memakan ruang terlalu besar, terlalu menyakitkan, yang aku tahu betul hanya bisa diisi oleh sosok Kenma di sampingku. Tapi rasa bersalah juga menggerogotiku, menjeratku seakan ada gumpalan di kerongkongan yang tak bisa juga kukeluarkan, mengganggu hari-hariku dengan pahitnya penyesalan dan rasa benci terhadap diri sendiri.

Dering telepon berhenti, tapi tidak ada suara operator.

Aku nyaris berteriak saat kulihat layar menampakkan waktu yang berjalan. Kenma mengangkat teleponku!

“Kenma! Kenma, kamu di mana? Kamu tidak masuk kelas, aku ke rumahmu juga sepertinya tidak ada orang. Aku khawatir!” serbuku.

Kenma tidak bersuara, hanya ada gemerisik kertas dan suara samar kendaraan lalu lalang.

Aku memaki diriku sendiri. Jelas saja Ia tidak mau bicara.

“Kenma… Aku…,” tenggorokanku tercekat. “Aku minta maaf. Aku tahu aku sangat brengsek memperlakukanmu seperti itu. Aku pengecut, Kenma. Aku pengecut dan sangat munafik, dan aku sangat memahami jika kamu membenciku sekarang. Tapi…”

Air mataku sudah mengalir deras. Tumpah ruah bersama seluruh topeng yang selama ini kupasang dan dinding yang kubangun. Betapa bodohnya aku dulu menganggap Ia adalah sosok yang aneh dan rumit, padahal Kenma adalah sosok yang paling kuat, paling berani, dan paling baik yang pernah kukenal. Dan sebaliknya, di hadapan Kenma aku hanyalah entitas yang lemah, rapuh, dan menyedihkan. 

Betapa bodohnya aku yang baru menyadari, bahwa selama ini bukan Kenma yang terkurung di dalam dunianya.

Melainkan aku yang terjebak dalam kepura-puraan seumur hidupku.

“Tapi aku merindukanmu, Kenma. Aku rindu suaramu, aku rindu mendengar tawamu, dan aku tidak bisa berbicara dengan orang lain seperti aku berbicara dengan kamu. Aku tidak berharap kamu memaafkanku saat ini juga, tetapi... aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat menyesal. Aku sangat menyesal menyia-nyiakan kehadiranmu dan tidak menjawab perasaanmu. Aku sangat menyesal sudah menyakitimu. Aku juga menyukaimu, Kenma. Sangat...”

Sedu-sedanku terdengar keras sehingga menarik perhatian orang-orang tapi aku tidak peduli. Dadaku rasanya sakit sekali. 

Suara helaan napas terdengar dari speaker telepon dan aku bisa merasakan mataku melebar penuh harap. Sial, ternyata aku merindukan Kenma sebegininya.

“Kei…,” bisiknya, pelan sekali.

“Ya, Kenma?” jawabku. Suaraku serak tak berbentuk.

“Apakah kamu mau ke pantai bersamaku?”

 

-- FIN --

Notes:

Thank you for reading! Let's interact with me here.