Chapter Text
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu; SaneKana Fanfiction
Dia tahu, mataharinya telah pergi. Perca-perca sinar itu telah menghilang dan meninggalkan kenangan tak berwarna. Serta membakar hati dan pikiran.
-Sun-
Musim dingin, 2020
Sekali lagi, dia mencelupkan satu balok gula ke dalam tehnya.
Pertama, kamu adalah Shinazugawa Kanae
Kedua, kamu adalah—
Ah, dia tidak ingat. Pria yang mengucapkan kalimat itu terlalu banyak bicara, pikirnya. Akan tetapi, ia penasaran. Jika tidak segera tahu jawabannya, ia akan merasa kosong. Seperti masuk ke dalam kotak yang berisi diorama tak berpenghuni. Sendirian dan kesepian.
—sampai mati
"Sampai mati, sampai mati, sampai mati," ulangnya—sembari memperhatikan sekeliling ruangan. Ia meraba gagang cangkir dan menyesap tehnya sedikit demi sedikit. Teh itu terlalu manis hingga berulang kali telunjuknya menyentuh kulit bibir. Karena tanpa sadar enam balok gula larut di dalamnya.
—sampai mati
Api di perapian membuatnya gelisah. Pendar merah seolah ingin menjilat ujung kakinya. Ia kemudian melirik kalender yang terpasang di dinding sebelah pohon cemara imitasi. Sembari menggumam sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan Tuhan. Barangkali karena tidak ingat, jika semalam musim dingin telah dimulai. Pagi ini salju sudah menyambut. Bunyi serangga sudah lama menghilang bersama musim panas yang berlalu. Menu sarapannya tidak hanya daging babi panggang, tetapi beberapa macam kuah sup akan dihidangkan di atas meja.
Tapi, siapa yang akan membuatkanmu sarapan?
Suara itu, pertanyaan itu, kembali muncul tiba-tiba. Ia gemetar dan bergeming cukup lama sebelum menghampiri sepasang sofa yang berwarna merah marun di depan perapian. Pelan, ia menduduki salah satunya dan menyesap teh—yang sebenarnya sudah lama tandas beberapa menit yang lalu. Dahinya mengerut saat menyadari cangkir kosong di tangan kanan. Ia mendesah; menatap ke arah sofa tak berpenghuni di sebelahnya. Kemudian, mendesah lagi. Mengamati ruangan di balik punggungnya beberapa detik. Tidak ada yang datang, tetapi ia merasa menunggu seseorang.
Salju yang turun menjadi pemandangan lain dari balik jendela. Dengan perasaan yang tidak tenang, ia membiarkan cangkir kosongnya menghantam lantai, dan melangkah menuju jendela. Dia masih berpikir, jika seseorang akan hadir atau tiba-tiba melompat dari balik jendela untuk memberinya jawaban. Namun, ia hanya melihat seekor anjing yang berwujud mirip setengah serigala, berkeliaran di halaman rumah. Bulunya putih dan ada sedikit noda darah di kaki kirinya. Ketika kedua mata mereka bertemu, ia ingat, warna putih adalah warna rambut seseorang yang sedang ia tunggu.
Pria yang Nee-san suka itu berambut putih, 'kan?
Dia tersenyum masam. Perutnya mulas saat berusaha mengingat. Namun, sekarang ia tidak merasa segusar beberapa detik yang lalu—saat tidak tahu siapa yang ia tunggu. Batinnya ikut berterima kasih dengan hewan liar di luar sana. Ia akan memberi anjing itu daging babi panggang jika datang kembali. Entah satu atau dua potong mungkin bisa mengenyangkannya. Kemudian, ia memikirkan hal lain. Sebuah nama yang cocok untuk anjing itu. Juga nama lain yang mengganggu pikirannya.
Aku teman SMA-mu. Dulu kita sekelas, Kanae.
Seperti kebiasaan sebelumnya, dia menggigiti kuku kelingking sembari mengingat. Kepalanya menoleh ke sekeliling. Tiap detik membuat degup jantungnya tidak keruan. Ia hampir tumbang bersamaan dengan bunyi jam dinding yang menandakan pukul sembilan pagi.
"Siapa ya—namanya?"
Dengan perasaan tidak nyaman, ia melangkah menuju satu ruangan bertuliskan "perpustakaan". Jemarinya bergetar menyentuh daun pintu. Ia tidak tahu kenapa memilih ruangan ini. Barangkali yang terdekat dari sisi jendela, tempat ia berdiri. Kemudian, ia mendadak gusar. Rasa takut itu bagaikan candu di saat ia butuh jawaban.
Apa yang sedang menungguku di balik pintu ini?
Apa jawabannya tersembunyi di dalam laci-laci?
Suara anjing menyalak dari balik jendela. Dia tersentak dan buru-buru menekan daun pintu. Tanpa sadar, ia masuk ke dalam ruang yang diisi dengan rak buku. Aroma kayu manis dan pinus menyambut rongga hidung. Chandelier serupa kembang api menggantung di tengah ruangan dengan sangat indah. Perasaannya menghangat. Bibirnya yang sudah berkerut melengkung ke atas. Untuk beberapa saat, ia mengagumi tempat itu. Membiarkan perasaan senang menjalar melalui nadinya. Deretan figura-figura yang menempel di setiap sisi dinding menambah keramain dan membuatnya menyusun adegan-adegan yang hilang dari ingatan.
"Namaku Kanae," gumamnya. Jemarinya meraba setiap wajah yang terpasang di figura satu per satu. "Aku ingat. Kanae."
Wajah adiknya masih ia ingat dengan jelas. Kemudian, wajah orang tuanya yang sudah meninggal sejak lama. Ada anjing putih yang ia temui di luar jendela beberapa menit yang lalu. Juga wajah seseorang yang membuat hatinya seperti dilubangi saat kedua matanya memperhatikan dengan saksama. Dengan gaun pernikahan yang mereka kenakan, bukankah keduanya adalah sepasang suami istri? Seperti Adam dan Hawa.
Aku akan selalu mencintaimu, Kanae. Sampai kamu yang meminta untuk berhenti melakukannya.
Dia ingat. Pria itu adalah suaminya, Shinazugawa Sanemi. Mereka menjulukinya si Anjing Putih, Pengawal Kochou Kanae Yang Paling Setia. Suaranya yang paling keras di antara teman sekelas yang lain. Akan tetapi, paling jago dengan mata pelajaran Matematika. Saat SMA malu-malu mengajaknya mengobrol. Wajahnya akan memerah hingga ke telinga jika Kanae menyapa. Kemudian, salah tingkah menendang kerikil sambil menggaruk tengkuk. Setelah masuk di bangku kuliah, ia dan Sanemi menjadi dekat. Mungkin karena anjing putih yang hampir mati tenggelam di sungai. Tanpa aba-aba, Sanemi terjun dan menyelamatkan anjing itu. Kanae menangis hingga menelan ingusnya sendiri, membuat Sanemi bersimpati dan memeluknya. Dalam rinai hujan sore hari, bau tanah di akhir musim panas, mereka berbagi cinta lewat bibir yang menyatu. Saling mengikat sumpah di musim semi lima tahun setelahnya.
Kanae akan memasak makan malam untuk suaminya. Nasi putih hangat, salmon panggang, ohagi kacang merah, dan lainnya. Semua akan tersedia dengan menu yang berbeda setiap hari. Bekal dan sarapan dibuat bersama. Seringnya, Sanemi yang akan menghias bekal mereka dengan wortel atau sosis yang dibentuk seperti bunga mawar. Dan Kanae akan meniup tengkuk Sanemi. Menggodanya sembari melumuri pipinya dengan saus dan mentega, kemudian berkata: Aku tidak bisa memasak seenak buatanmu. Setelah itu, suaminya akan tersenyum dan membalas: Apakah kamu bisa mengingat tiga rahasia dariku seumur hidup? Karena ini melebihi rasa enak masakanku, Kanae. Ia mengangguk setuju dan Sanemi melanjutkan: Pertama, kamu adalah Shinazugawa Kanae. Kedua, kamu adalah istriku. Ketiga, aku mencintaimu sampai mati.
"Aku akan mencintaimu sampai mati."
Dia tahu, mataharinya tidak akan kembali. Dia tahu, ia menua. Dia tahu, ia tidak bisa mengingat (lagi dan lagi).
The End
