Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Voice 4 Pre-Canon
Stats:
Published:
2021-08-01
Words:
1,299
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
19
Hits:
187

The Forest Fairy

Summary:

Di tahun 1997, Cho Seung Ho mengobrol dengan peri hutan di Pulau Vimo.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tidak ada yang tahu kalau Derek Cho pernah kembali lagi ke Pulau Vimo satu kali sebelum kasus Circus Man. Tahun 1997, pertemuan diplomasi kepolisian Korea Selatan dengan negara bagian California membuat Derek Cho dan adiknya terbang ke Pulau Vimo mengikuti kedua orang tuanya yang ia ragukan pantas disebut orang tua.

Di depan pertemuan bersama para pejabat, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Ibu tirinya merangkul Seung Ah dengan erat, bercanda, membuat Seung Ah sedikit tertawa. Beda dengan Derek yang memasang ekspresi datarnya. Dulu ia merasa keputusan meninggalkan pulau ini adalah keputusan terbaik. Sekarang, berdiri di pulau yang sama yang membuat ibunya tewas, Derek tidak bisa merasakan apa-apa. Di pulau ini, atau di negara sana, sama saja.

“Aargh!”

Derek seharusnya sudah menebak, juga sudah siap, kalau saat kembali ke penginapan, semua akan kembali seperti di LA. Ayah tirinya yang memukuli lengannya dengan sapu lidi, Seung Ah yang bersembunyi di lemari, ibu tirinya yang tidak peduli.

You are a disgrace to this family! Who told you to just point on someone’s face?”

Derek meremas ujung bajunya. Itu bukan masalah besar yang membuatnya pantas dipukuli. Ada serangga di rambut seorang letnan dan dia menunjukkannya pada Seung Ah. Tapi masalah apa yang tidak besar di keluarga ini?

Do you want me to left you rotten on this island? With your rotten of a mother?”

Kalau ibunya busuk, maka orang di hadapannya adalah belatungnya. Derek tidak bisa menahan dirinya. Ia dorong apa saja yang menghalanginya dan berlari meninggalkan penginapan tanpa tujuan, melewati pohon-pohon besar, tidak peduli kakinya menginjak tanah basah, bunga-bunga, atau tulang belulang sisa dekomposisi alam. Derek ingin berlari sampai paru-parunya meledak. Tapi akar besar dari pohon raksasa tidak mengizinkannya.

Bugh.

“Aish,” Derek meringis kesakitan. Ia memeriksa kakinya, tapi lengan kirinya lebih sakit.

“Kamu tidak apa-apa?”

Derek menoleh tajam ke sana ke mari, hanya ada pepohonan besar di sekelilingnya. Intuisinya membuatnya mengambil batu besar yang bisa dicapainya. “Siapa di sana?”

“Aku dengar kamu mengerang. Apa kamu baik-baik saja?”

Derek berbalik sambil menodongkan batu di tangannya, bersiap melempar siapa saja yang muncul. Yang muncul adalah seorang anak perempuan, dari balik pohon besar. Dia memakai dress putih di bawah lutut, juga kain yang menutupi matanya. Aneh.

“Berhenti di sana!” teriak Derek waswas.

Anak perempuan itu mengangguk, “Iya. Apa kamu baik-baik saja?”

“Sss…” Derek menjatuhkan batu di tangannya. Sakit sekali, lengannya. Sejak kembali ke Pulau Vimo, jadi semakin sakit. Ia melihat lengannya, darah sudah tembus ke kaosnya. Derek menjatuhkan dirinya.

Anak perempuan itu meraba-raba udara di depannya sambil berjalan mendekati Derek, membuat Derek memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang. Percuma juga.

“Ah!” Derek meringis saat kaki perempuan itu menabrak kakinya.

Perempuan itu berjongkok di hadapannya sambil memegang telapak kakinya, “Ah… ini keseleo sedikit. Sebentar.”

Derek menatap anak perempuan yang memegang kakinya itu. Kulitnya putih, rambutnya panjang. Dia bersih untuk seseorang yang berjalan di dalam hutan. Mungkin dia bukan manusia?

“Aah!!!”

Derek berteriak kaget sekaligus kesakitan. Anak perempuan itu baru saja melakukan sesuatu pada kakinya.

“Nah. Sudah. Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.”

Derek menggertakkan giginya, rahangnya mengeras. Semua akan baik-baik saja, katanya? Dari sisi mana dia tahu kalau semua akan baik-baik saja? Dari tawa palsu ibu tirinya? Dari senyum ketakutan Seung Ah? Dari ayah tirinya yang membangga-banggakannya di depan semua orang lalu memukulnya di belakang?

Si anak perempuan mendengar anak laki-laki itu meneteskan air mata dan sedikit mendengus, mendudukkan diri dan memegang lututnya, mengusap-usap pelan, “Jangan menangis…”

Kening Derek berkerut, “Dari mana kamu tahu aku menangis? Kamu tidak bisa melihat.”

Anak perempuan itu tersenyum, “Aku bisa mendengar kukumu menggesek batu.”

Derek melihat tangannya di tanah, dia menggesekkan kukunya pada batu secara tak sadar.

“Siapa namamu?” anak perempuan itu bertanya.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Derek menyebutkan namanya, “Seung Ho…”

“Seung Ho… apa kamu dari tempat ini?”

Derek menggeleng. Anak perempuan itu masih tetap tenang menunggu jawaban. Ah, iya. Dia tidak bisa melihat. “Amerika.”

“Kamu dari Amerika? Wah, keren!” dia menjawab antusias, lalu ekspresinya berubah heran, “Lalu kenapa kamu bisa sampai ke sini? Jalan-jalan dengan orang tuamu?”

“Sampah.”

Anak perempuan itu berkerut heran.

“Aku tidak punya orang tua. Yang ada hanya sampah.”

Setelah itu, tidak ada yang berbicara. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Derek mengulang semua memori di mana ia dan Seung Ah hidup sebagai anak-anak. Anak perempuan itu menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada anak laki-laki di hadapannya. Selama itu juga, tangan anak perempuan itu tidak berhenti mengusap-usap lutut Derek.

“Aku tadi mau menawarkanmu buat ikut denganku, tapi aku tinggal di tempat yang menyeramkan,” anak perempuan itu tersenyum.

Derek menatapnya selama beberapa saat sambil memijat lengannya yang sakit, “Aku tidak akan bisa ikut denganmu. Aku punya adik yang harus aku lindungi.”

Anak perempuan itu mengangguk setelah terdiam beberapa saat, “Kalau begitu, kamu pasti pelindung yang hebat buat adikmu. Dia pasti bangga punya kakak sepertimu.”

Derek tersenyum kecil. Kalimat sederhana itu membuat Derek semangat. Dia benar. Selama ini ia berusaha melindungi Seung Ah. Dari banyak orang yang ditemui selama hidupnya, Seung Ah adalah satu-satunya orang yang menatapnya dengan bangga. Derek tidak akan mengecewakan adiknya.

Noona!”

Derek melihat sekelilingnya. Suara anak laki-laki terdengar memanggil dari jauh. Anak perempuan itu menoleh ke kiri, seakan tahu arah datangnya sumber suara.

“Aku harus kembali,” ucapnya sambil berdiri. Derek mengikuti, sambil sedikit meringis memegang lengannya.

“Apa masih sakit?” tanya perempuan itu.

Derek menggeleng, “Lenganku…”

Anak perempuan itu meraba udara dan menemukan tangan Derek. Ia merabanya dari telapak tangan sampai ke tempat Derek terluka. Lengan kaosnya sudah memerah. “Oh, apa ini darah? Tapi tadi sepertinya kamu tersandung dan aku cuma mendengar kakimu yang kena.”

“Ayah tiriku…”

Ada raut sedih yang terpancar dari setengah wajah anak perempuan itu. “Kenapa tidak dilaporkan ke polisi?”

Derek menggeleng, “Dia polisi.”

Ia terlihat tidak percaya lalu menggelengkan kepalanya, “Harus ada orang yang menunjukkan padanya seperti apa polisi yang baik itu…”

Derek tertegun. Lalu anak perempuan itu membuka ikatan kain perban yang menutupi matanya, membuat Derek bisa melihat wajahnya lebih jelas. Jadi dia benar-benar tidak bisa melihat… Dia punya mata yang indah. Bola matanya sangat terang di bawah matahari sore, sayang sekali tidak bisa digunakan untuk melihat hutan ini, yang anehnya terasa indah, bukan menyeramkan.

Perempuan itu melilitkan kain perbannya pada lengan Derek dengan tenang. Derek hanya bisa menatap bolak balik antara anak itu dan lengannya. Anak itu mengakhiri lilitan perbannya pada lengan Derek dengan ikatan yang kencang.

Mereka hanya berdiri terdiam selama beberapa saat. Derek menatap lengannya yang sudah dibalut perban. Anak perempuan itu tampaknya menunggu Derek bicara.

Noona!”

Perempuan itu tertawa kecil, “Sepertinya dia tersesat. Aku harus mencarinya.”

Tidak masuk akal. Bukannya perempuan ini yang harusnya sedang tersesat? Tapi Derek tetap mengangguk, sembari memikirkan jalan mana ke arah penginapan.

“Kalau kamu terus berjalan lurus ke belakangmu, nanti akan kelihatan jalur yang bisa kamu ikuti untuk sampai keluar hutan,” ucap anak itu.

Derek menoleh ke belakang dan saat menoleh ke depan, anak perempuan itu hendak berbalik.

“Tunggu!”

Derek berteriak. Anak itu berhenti dan berbalik lagi menghadapnya. Dia tersenyum, “Bertahan, ya… Seung Ho. Kamu akan jadi orang yang hebat.”

Derek mengangguk, mengucapkan salam perpisahan. “Semoga… kamu menemukan jalan keluar dari tempat tinggalmu yang menyeramkan.”

Perempuan itu tersenyum mendengarnya. Lalu Derek berbalik pergi dan perempuan itu kembali berjalan ke arah suara anak laki-laki yang memanggilnya noona. Jalan Derek semakin cepat mengikuti jalur yang ternyata benar terlihat. Derek baru sadar ia berlari sepanjang jalan keluar hutan.

 


 

Oppa!”

Seung Ah kecil berlari menghampiri Derek.

Oppa dari mana saja? Kenapa tangannya? Ayah sangat marah. Katanya malam ini kita akan pulang ke Amerika.”

Derek menggandeng Seung Ah kembali ke dalam penginapan. Biar saja hari ini ia dipukuli lagi. Untuk saat ini, Derek akan menikmati momennya bersama Seung Ah. Dia sudah memutuskan untuk jadi orang yang kuat agar bisa melindungi Seung Ah.

Oppa dari mana tadi?”

“Hutan…”

“Hutan? Apa yang oppa lakukan di tempat menyeramkan itu?”

Derek berkedip, menatap pintu kamar inap keluarganya. Ia menelan ludah dan menegakkan posturnya, “Mengobrol dengan peri hutan.”

Derek membuka pintu kamarnya.

Notes:

Kang Kwon Joo masuk ke F Children's Hospital tahun 1997, sedangkan Derek Cho diadopsi ke Amerika waktu umurnya 12 tahun, tahun 1995.

Tadinya mau buat alternate ending tapi setelah menonton ending Voice 4, rasanya lebih baik buat bikin alternate pre-canon yang mungkin terjadi antara Kang Kwon Joo dan Derek Cho saat kecil.

Ditunggu feedback-nya! xx

Series this work belongs to: