Work Text:
Kalau bisa melihat, mungkin memandang kosong ke depan adalah deskripsi yang tepat untuk menggambarkan hal yang Kwon Joo lakukan saat ini. Kwon Joo berkedip menimbang jawaban yang tepat untuk disampaikan kepada ayahnya di Seoul. Haruskah ia menjawab kalau ia baik-baik saja? Atau haruskah ia ceritakan kalau tempat ini sunyi dan berisik di saat bersamaan? Ah, tapi bagaimana menjelaskannya?
“Appa…”
“Hmm?”
“Telepon teman appa bergetar.”
Lalu panggilan menjadi sunyi. Kwon Joo mendengar suara langkah kaki dari ujung sambungan, suara gagang pintu yang diputar, kemudian ayahnya memanggil seseorang yang ia sebut kepala unit.
“Kwon Joo, apa masih sering mendengar suara dari jauh?” ayahnya kembali bersuara setelah duduk di kursi. Setidaknya, itu yang Kwon Joo simpulkan dari suara plastik dan karet yang ditekan berat.
“Hmm.”
“Apa masih sering sakit kepalanya?”
“Kalau banyak suara saja.”
“Anak ay—”
Kwon Joo terlonjak kaget, otomatis dilemparnya telepon yang digenggamnya, lalu ia menutup kedua telinga. Suara sirene polisi terdengar begitu keras dari telepon yang sekarang ada di ujung meja. Kwon Joo meraba-raba meja lalu menutup telepon dengan cepat. Lalu, dunia terasa seperti mati lampu, tadinya terang benderang lalu jadi gelap. Tadi sangat bising, sekarang sunyi.
Kwonjoo menarik napasnya lalu mengangkat telepon yang kembali berbunyi, “Maaf, Appa…”
“Kenapa minta maaf? Pasti tadi putri ayah sangat terkejut, ya? Ada mobil patroli yang baru datang,” ayahnya tertawa, tapi Kwon Joo tahu ada rasa bersalah di balik tarikan napas di sela tawa sang ayah.
“Appa…”
“Hmm?”
“Kata dokter di Seoul, bagaimana kemungkinannya aku bisa melihat lagi?”
“Mmm… dokter belum membahas hal itu. Kenapa? Apa matanya juga sakit?”
Kwon Joo menggeleng, “Tidak. Hanya saja… sepertinya kemarin pagi saat membuka mata…” ia melihat sedikit cahaya.
Ayah Kwon Joo terdiam menunggu Kwon Joo melanjutkan, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kwon Joo, nanti saat ayah ke sana, kita bicarakan tentang matamu dengan dokter, ya?”
Kwon Joo mengangguk pelan. Terdengar suara dari jauh. Ayahnya sepertinya dipanggil.
“Kwon Joo, ayah harus patroli sekarang. Sampai jumpa minggu depan, oke?”
“Hmm. Hati-hati, Appa…”
Saat sambungan tertutup, dunia kembali sunyi. Kwon Joo menghela napasnya. Di tempat ini, banyak ruangan yang menggunakan pengedap suara. Kwon Joo tidak tahu ada apa di balik ruangan-ruangan berkedap suara itu. Dia sudah biasa dengan suara angin dan dedaunan yang ramai di luar, sama saja seperti tidak ada suara.
Kesunyian membuatnya frustrasi. Kebisingan juga. Baik hening atau pun ramai, Kwon Joo merasa frustrasi. Ia juga bingung apa yang sebenarnya dia inginkan. Mungkin dia ingin melihat lagi supaya semua suara lebih masuk akal. Atau mungkin dia mau mendengar seperti dulu lagi, biar tidak harus terbangun tengah malam karena suara yang terdengar dari luar hutan.
Clang.
Lagi-lagi Kwon Joo terlonjak kaget. Terdengar suara barang jatuh diikuti ramai anak-anak dari jauh dan seorang wanita yang terdengar marah. Kwon Joo menghela napas. Tempat ini tidak pasti. Tiba-tiba sunyi, tiba-tiba ramai. Kwon Joo butuh kepastian.
Tangan Kwon Joo mulai meraba-raba udara di depannya, berjalan keluar bangunan yang tidak pasti itu, ke mana saja untuk bernapas.
“Noona! Mau ke mana?”
Kwon Joo berhenti tanpa berbalik.
“Min-ah… aku jalan-jalan sebentar, mau tahu jalan di hutan. Kalau aku belum kembali saat matahari sudah mau terbenam, cari aku. Oke?”
Kwon Joo tidak menunggu jawaban anak laki-laki yang lebih muda darinya itu dan berjalan terus masuk ke dalam hutan, lewat jalur yang diingatnya saat berjalan-jalan bersama Min. Kalau Min ingin mengenal hutan untuk pelariannya dari tempat menyeramkan itu, maka Kwon Joo ingin mengenal hutan untuk mengetes apakah pendengarannya berguna atau hanya sekedar kutukan yang akan membersamainya seumur hidup.
Ia sudah biasa dengan suara ranting retak, burung yang singgah di dedaunan, embun yang menetes dari atas pohon, dan suara-suara serangga. Yang masih sering mengagetkannya adalah suara gagak atau elang-alap yang tiba-tiba seperti sedang mengejarnya.
Bugh.
Kwon Joo berhenti berjalan. Ia mendengar suara jatuh seseorang, anak laki-laki, sepertinya tersandung.
“Kamu tidak apa-apa?” Kwon Joo mencoba bertanya buat memancing jawaban anak itu, jadi dia bisa menemukannya dengan mengikuti suaranya.
Anak laki-laki itu terdengar kaget dan ketakutan, "Siapa di sana?!"
“Aku dengar kamu mengerang. Apa kamu baik-baik saja?” Kwon Joo meraba pohon besar di sampingnya dan berjalan mendekati suara itu.
“Berhenti di sana!”
Kwon Joo menghentikan langkahnya dan mengangguk, “Iya. Apa kamu baik-baik saja?”
Anak itu tidak menjawab, tapi sepertinya dia menjatuhkan sesuatu yang keras, lalu terjatuh ke tanah. Kwon Joo kembali berjalan meraba-raba udara sampai kakinya menabrak sesuatu, kaki anak laki-laki itu. Kwon Joo berjongkok dan memegang telapak kaki si anak laki-laki, “Ah… ini keseleo sedikit. Sebentar.”
Anak laki-laki itu tidak bersuara, tapi dia menggeram. Mungkin dia sedang mencoba mengintimidasi Kwon Joo, atau mungkin dia bukan manusia?
“Aah!!!”
Kwon Joo berkedip saat anak itu berteriak kaget sekaligus kesakitan. Kwon Joo mendengar anak itu menggertakkan giginya setelah ia bilang sudah tidak apa-apa, tapi Kwon Joo tetap diam menunggu anak itu mengatakan sesuatu. Angin sore mulai berhembus pelan. Kata Min, hari ini purnama dan pasang laut, jadi anginnya lumayan kencang.
“Aku bisa mendengar kukumu menggesek batu,” jawab Kwon Joo saat anak laki-laki itu bertanya dari mana dia tahu kalau anak itu sedang menangis. Kwon Joo mendengar sedikit isakan yang keluar dari hidung anak laki-laki itu.
“Siapa namamu?”
“Seung Ho…”
Seung Ho. Nama yang bagus. “Apa kamu dari tempat ini?”
“Amerika,” jawabnya setelah beberapa lama.
Kwon Joo menyunggingkan senyum senang, “Wah, keren!” Dia pernah mendengar ayahnya bicara dengan seorang dokter di Seoul yang merekomendasikan mereka dokter di Amerika yang bisa menyembuhkan Kwon Joo. Tapi, apa yang dilakukan seorang anak laki-laki dari Amerika di hutan pulau terpencil ini? Liburan keluarga?
“Sampah.”
Kening Kwon Joo berkerut.
“Aku tidak punya orang tua. Yang ada hanya sampah.”
Kwon Joo tidak merespons. Setelah itu, tidak ada yang berbicara. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sambil mengusap lutut anak itu, Kwon Joo menerka-nerka apa yang dipikirkan anak ini, juga apa yang terjadi sampai dia bisa ada di hutan ini.
Kwon Joo tidak tahu apa yang terjadi, tapi mungkin anak ini menderita di Amerika. Mungkin kalau dia tinggal di sini… “Aku tadi mau menawarkanmu buat ikut denganku, tapi aku tinggal di tempat yang menyeramkan.”
Selama beberapa saat tidak terdengar suara dari anak itu. “Aku tidak akan bisa ikut denganmu. Aku punya adik yang harus aku lindungi.”
Kwon Joo tersenyum tipis. Anak ini punya seseorang yang harus dilindungi. Dia datang ke hutan ini dengan marah, tapi dia tetap harus kembali untuk melindungi adiknya. “Kalau begitu, kamu pasti pelindung yang hebat buat adikmu. Dia pasti bangga punya kakak sepertimu.”
Anak laki-laki itu tidak menjawab, tapi Kwon Joo rasa aman kalau dia tersenyum. Jadi Kwon Joo tersenyum. Tidak mendengar reaksi dari anak laki-laki itu, sepertinya dia juga sedang tersenyum. Melindungi seseorang, memberikan rasa aman untuk seseorang. Kwon Joo suka perasaan ini.
“Noona!”
Kwon Joo menoleh ke arah Min berteriak memanggilnya, “Aku harus kembali.”
Kwon Joo berdiri. Anak itu juga, tapi ia kembali meringis kesakitan. Kening Kwon Joo kembali berkerut, “Apa masih sakit?”
“Lenganku…”
Kwon Joo meraba udara mencari tangan anak itu. Saat dia menemukannya ia raba dari telapak tangan sampai ke atas, sedikit di bawah bahu, seperti ada air yang menembus kaos laki-laki itu, “Oh, apa ini darah? Tapi tadi sepertinya kamu tersandung dan aku cuma mendengar kakimu yang kena."
“Ayah tiriku…”
Ah… Kwon Joo sedikit menghela napasnya. Ia mengerti apa yang terjadi pada anak laki-laki ini, kenapa dia ke hutan ini.
“Dia polisi.”
Kwon Joo mendengus tidak percaya mendengar laki-laki itu menjawab pertanyaannya. Ia mulai mencari ujung lilitan perban yang menutupi matanya, “Harus ada orang yang menunjukkan padanya seperti apa polisi yang baik itu…”
Ia melilitkan perbannya pada lengan anak laki-laki itu. Angin sore semakin berhembus. Setelah memastikan balutannya pas, ia mengikat perban itu dengan kencang. Lalu mereka hanya terdiam selama beberapa saat. Ia menunggu anak laki-laki itu bicara.
“Noona!”
Kwon Joo tertawa kecil, “Sepertinya dia tersesat. Aku harus mencarinya.”
Kwon Joo menunggu anak laki-laki itu meresponsnya, tapi sepertinya tidak akan direspons. “Kalau kamu terus berjalan lurus ke belakangmu, nanti akan kelihatan jalur yang bisa kamu ikuti untuk sampai keluar hutan.”
Lalu Kwon Joo berbalik pergi.
“Tunggu!”
Langkah Kwon Joo terhenti, lalu ia berbalik kembali pada anak laki-laki itu. Seung Ho. Kwon Joo baru ingat lagi kalau namanya Seung Ho.
“Bertahan, ya… Seung Ho. Kamu akan jadi orang yang hebat.”
Setelah beberapa lama terdiam, Seung Ho menjawab, “Terima kasih. Semoga… kamu menemukan jalan keluar dari hutan ini.”
Kwon Joo tersenyum mendengarnya. Lalu ia mendengar Seung Ho berbalik dan berjalan dengan cepat. Kwon Joo pun ikut berjalan. Sebelum berbelok arah, Kwon Joo kembali menoleh pada tempat pertemuannya dengan Seung Ho tadi. Samar-samar, ia melihat sekelebat bayangan berlari menuju jalur yang tadi ditunjuknya.
“Noona! Dari mana saja? Kenapa perbannya tidak ada?”
Kwon Joo tersenyum. Mungkin pendengaran yang dimilikinya tidak sepenuhnya sebuah kutukan. Mungkin ada yang bisa dia lakukan dengan pendengarannya ini. Mungkin dia bisa menolong orang lain seperti ia menolong Seung Ho tadi.
“Mengobrol.”
“Mengobrol? Dengan siapa? Memang siapa lagi yang ada di hutan?”
“Manusia serigala.”
“Hah? Noona, kenapa menyeramkan sekali?” Min menggandeng tangan Kwon Joo kembali ke tempat yang menyeramkan itu.
“Noona, tempat ini benar-benar menyeramkan. Ayo kita kabur dari sini.”
“Hmm,” Kwon Joo mengangguk.
