Work Text:
"Let's take it one more time," kata Bright setelah mendengar suaranya sendiri di mesin pemutar suara.
Produser musik yang sekarang duduk di kursi di hadapannya menoleh ke arah Bright dengan alis kanan terangkat, "kau yakin? Bagiku ini sudah sangat bagus. Memang kau ada sedikit pitch di bagian chorus tadi, tapi take terakhir sudah sempurna semua."
Bright menggigit bibir bawahnya, "Entahlah, seperti ada yang kurang," kata Bright sebelum menggaruk tengkuk belakangnya, "kuyakin tadi bagian bridge-nya terlau rendah".
"Kau ini...." seru produser musik berusia paruh baya itu sembari menghela napas, "melakukan hal dengan sempurna memang benar. Maksudku, banyak musisi yang kupegang berakhir dengan ingin cepat-cepat keluar dari studio rekaman dan pulang sehingga akhirnya harus kugunakan auto tune di sepanjang lagu. Tapi kau," telunjuk pria paruh baya itu mengarah ke muka Bright, "kau malah ingin berlama-lama di sini. Mungkin bila tidak kubilang ini sudah cukup, kau akan menginap disini. Sempurna itu bagus, tapi berlebihan itu jelek. Istirahatkan suaramu".
Bright menyeruput kopi yang rasanya sudah didominasi oleh batu es yang mencair, "I'm a singer. Pekerjaanku adalah menyanyi. That one single thing. Jika diriku tidak memberikan semua yang kubisa di satu hal yang jelas-jelas merupakan peranku di dunia hiburan ini, then I don't deserved to be here".
Produser paruh baya itu melihat Bright dengan mulut ternganga selama tiga detik sebelum terbahak, "my, my.... ternyata benar gosip diluar sana yang mengatakan kau selalu menganggap serius pekerjaanmu. Entah itu hanya featuring atau lagumu sendiri".
"Ada gosip seperti itu tentangku diluaran sana? Bukankan itu hal yang bagus"
"Itu hal yang sangat bagus. Tapi tidak biasa," kata produser musik di hadapan Bright. Kedua tangan yang mulai keriput itu membolak-balikkan lembaran note musik dan lirik yang sudah mulai lecek. "Terutama untuk musisi muda dan sedang naik daun sepertimu. Apa yang ada di kepala sebagian besar dari mereka adalah bagaiman bisa mereka dibayar maksimal dengan melakukan usaha yang minimal. In the end, seperti yang kubilang tadi, auto tune di sepanjang lagu. That's why I rather choose old singer, the legends. They all knew what's a good music is. Dan mereka enak diajak bekerja sama".
"Kuyakin mereka juga tidak masuk ke dalam studio rekaman dengan dagu yang menjunjung tinggi," tambah Bright dengan kekehan.
Produser paruh baya itu mendengus, "nah, itu kau tahu," Pria itu lalu menghembuskan napas panjang, "haaah... apa yang membuat anak-anak bau kencur itu percaya mereka akan bisa lama di dunia hiburan dengan attitude seperti itu?"
Bright mengedikkan bahu, "Well, as long as I'm not doing that kind of things though," Bright sontak menoleh ke arah produser musik itu dengan muka takut-takut, "I'm not, right?"
Lagi-lagi gelegar suara tawa Pria paruh baya itu terdengar, "tenang saja, kau tidak seperti itu. In fact, I like you Bright. Kau serius, dan tujuanmu datang kesini memang ingin membuat musik yang bagus. Bukan hanya sekedar datang, merekam, publish lagu, lalu dibayar". Setelah mengatakan hal itu tiba-tiba raut muka Pria paruh baya itu berubah serius, "tapi ada satu hal yang tak kusuka darimu".
Mata Bright melebar, ia lalu mencondongkan badan bagian atasnya sedikit ke arah Pria di depannya, "oh ya? Kalau begitu maaf. Tapi hal apa itu?"
Pria itu berdeham, "kau malah menjadi orang yang menyuruhku untuk take berulang-ulang. Like seriously, kiddo? That's my job!" Tambah Pria itu. Ia lalu terkekeh ketika melihat raut wajah dan helaan napas lega yang dikeluarkan Bright.
"Astaga, kukira apa," bisik Bright yang lagi-lagi membuat Pria paruh baya itu tertawa.
"Tapi tunggu dulu. 'Kau kira apa?'," Pria paruh baya itu menatap Bright seolah tersinggung, "jangan main-main kau. Dengan kau yang menyuruhku untuk take berulang-ulang, makan malamku jadi sedikit tertunda. I'm sensitive when I'm hungry you know?"
Bright tertawa mendengar perkataan produser musik itu, "baiklah. Kalau begitu makan malam hari ini akan kubelikan. Untuk semua staff yang ada disini juga," kata Bright sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling studio rekaman yang berisi total 10 orang.
Tepat setelah Bright mengatakan itu, raungan senang dari orang-orang yang berada di studio sontak terdengar. Terutama raungan si produser musik yang paling kencang. Bright mau tidak mau kembali tertawa mendengar reaksi itu.
Mungkin Pria itu sudah sangat lapar.
"Is Subway okay?" Tanya Bright lagi.
"More than perfect".
"Tapi tolong take satu kali lagi," kata Bright sambil mengangkat jari telunjuk kanannya dan tolehan kepala ke kanan.
Pria paruh baya itu hanya berkedip datar melihat Bright yang memberinya tatapan 'imut'. "Cih, taktik itu tidak akan berhasil denganku. Kau pikir diriku siapa, Bright? Remaja perempuan belasan tahun yang melihat kau berkedip saja sudah seperti melihat dewa Hermes? Bah! Kalau kau Angelina Jolie baru akan kuberikan reaksi".
Bright mengela napas keras, ia pura-pura kecewa, "Damn! I thought my charm has no boundary. Ternyata tidak berpengaruh kepada Pak tua," kata Bright sambil memberikan produser musik itu cengiran iseng.
"Kau!"
Bright tergelak, "maaf, maaf," ia lalu berdiri dan berjalan ke arah managernya, "P'Foei bisa tolong kau pesankan 10 sandwich Subway? Gunakan kartuku untuk membayar semuanya. Tolong belikan spicy Italian untukku, dan kau pasti pesan yang roasted chicken, kan?" Tanya Bright dan managernya itu mengangguk. "Oke. Roasted chicken, 2 Pepsi ukuran besar, dan anda ingin apa, Pak?" Tanya Bright sembari berbalik untuk melihat ke arah produser musik itu.
"B.L.T. Extra Bacon".
"Kalian semua?" Tanya Bright lagi. Kali ini kepada staff yang ada di studio musik tersebut.
"Oh! Ayo kita pesan paket yang diiklankan Win!" Seru gadis berkemeja merah kepada ke-enam staff lainnya.
"Kau benar!" Kata gadis berambut pendek dengan semangat, "apa nama paketnya? Kalau tidak salah Chicken Teriyaki".
Pria ber-hoodie abu-abu yang sedang sibuk di depan layar komputer mendengus keras, "kalian ini mau makan atau apa? Pilihlah rasa yang kalian ingin makan," kata Pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
Tak lama kemudian Pria itu mengaduh karena terkena jitakan dari gadis yang duduk disebelahnya. "Itu memang rasa yang ingin kami pilih, dasar bodoh. Ditambah Win yang mengiklankan, semakin bertambah nafsu makan kita semua," kata gadis itu dengan sungguh-sungguh.
Bright dapat melihat Pria ber-hoodie abu-abu itu hanya memutar bola matanya.
"Hei! Bila kita membeli paket milik Win kita juga akan dapat Cola dengan botol yang ada gambarnya. And that's only for Subway!" Ucap gadis berambut pendek yang sekarang tengah melihat smartphone miliknya.
Kemungkinan besar ia sedang melihat keuntungan-keuntungan yang akan mereka dapatkan bila membeli paket Win ini.
"Is that the trend nowadays? Kalian mengumpulkan sampah botol kemasan?" Tanya Pria yang terlihat seumuran dengan produser musik Bright. Bright yakin Pria ini adalah orang yang mengurusi MIDI Controller.
"Kalau kalian mengumpulkan untuk nantinya di buang ke tempat sampah mungkin itu normal. But then I found out bila barang-barang itu untuk disimpan? Dasar anak muda jaman sekarang, hobi kalian aneh," kata Pria itu lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau benar, Panhakarn. Anak perempuanku juga sangat suka dengan Win. Di dalam kamarnya penuh dengan barang dengan wajah pria itu. Pernah suatu hari kutemukan bungkus cokelat bekas dengan gambar mukanya. Saat ingin kubuang bungkus cokelatnya, anakku malah memakiku," kata si produser musik itu sebelum tertawa.
"Pak Panhakarn, Pak Nawat, tidak ada yang salah dari fans yang mendukung idola mereka. Bila Win saat ini sedang mengiklankan sandwich Chicken Teriyaki yang memang terlihat sangat enak itu, maka kami para fansnya akan mendukungnya dengan membelinya," kata gadis bartato bunga mawar di lengan kirinya itu dengan sungguh-sungguh.
Bright hanya bisa menganga mendengar ucapan diplomatis tersebut.
Seseorang bila sudah memiliki idola bisa gila seperti ini? Pantas saja selalu ada kejadian aneh saat ia bertemu dengan fans-nya, pikir Bright dalam hati.
Namun lamunan Bright terpecah ketika Nawat dan Panhakarn terbahak. "Baiklah-baiklah, terserah kalian. Pesankan saja yang Tuna untukku," ucap Panhakarn setelah bisa mengatur napasnya. Dan Bright menganguk.
"Jadi apa kalian para gadis semuanya memesan paket Win ini?" Tanya Bright, kali ini kepada semua gadis yang ada di studio tersebut. Pertanyaannya lalu sontak dijawab dengan 'ya!' Kompak dari kelima gadis yang ada disana.
"Veggie Delite untukku, please," seru pria ber-hoodie abu-abu.
"Ew, grass eater," bisik salah satu gadis yang ada disana.
Pria ber-hoodie abu-abu itu lalu memutar kursinya menghadap gadis yang mengejeknya tadi sebelum memberikan dua jari tengah ke arahnya.
Balasannya? Leletan lidah dari si gadis.
Dewasa sekali, pikir Bright sembari menahan dengus tawanya.
"Baiklah, jadi pesanannya adalah 5 paket Win Metawin, satu B.L.T. Extra bacon, satu Tuna, satu Spicy Italian, satu Roasted Chicken, dan satu Veggie Delite," seru Foei yang menyebutkan pesanan mereka. Setelah ia mendapati anggukan dari semua orang yang ada di sana, ia melanjutkan untuk membayar makan malam mereka.
"Oh ya, Bright. Can I ask you a question?" Tanya gadis berkemeja merah kepada Bright.
"Sure, go ahead".
"Bagaimana Win Metawin di kehidupan aslinya? I heard that he is charming and cool, terlepas dari perannya yang kebanyakan menunjukkan kalau ia adalah Pria periang?" Tanya gadis itu.
Bright berdeham, "well, you know—"
"Oh apa kau ingat mengenai wawancara Tay Tawan yang mengatakan bahwa Win sebenarnya keras kepala? Entah kenapa membayangkan Win seperti itu sangatlah seksi. Benarkah itu, Bright?" Tanya gadis bertato bunga mawar kepadanya.
"Tunggu dulu—"
"Tapi bila dilihat dari lingkaran pertemanan Win yang sangat luas, kuyakin dia adalah orang yang baik. I was surprised saat ada berita yang mengabarkan bila mereka mendapati Bilkin dan Win tengah makan malam bersama. I mean, where did they know each other?" Seru gadis bercat rambut ungu dengan menggebu-gebu.
Bright hanya bisa berkedip.
"Kau benar. Kurasa pribadi Win tidak jauh berbeda dari personalitinya di depan kamera. Kuyakin senyum belakang kameranya juga sama-sama indah," ucap gadis yang menjitak pria ber-hoodie abu-abu tadi dengan nada suara kagum. Ia lalu menatap Bright yang sejak tadi mengerutkan dahinya, "kau juga berpikir begitu bukan, Bright? Win adalah seseorang yang ramah. Kalian sebelumnya pernah bertemu, bukan?"
Bright mengerjapkan matanya sembari mengangkat tangan kanannya, "okay, okay, stop right there" kata Bright sebelum menatap kelima gadis yang ada di sana. "Who's this Win again?"
Pertanyaan Bright sontak dijawab dengan 9 pasang mata yang menatapnya seolah-olah ada satu kepala lagi tumbuh dari bahunya.
"Cut! Oke, air hujan berhentilah dahulu. Art, make up! Periksa dan perbaiki yang kurang!" Seruan Champ, sang sutradara, yang meneriakkan instruksi bergema di seluruh set shooting serial tersebut.
Win dapat melihat Clapper bergegas menampilkan clapperboard yang ia pegang ke depan kamera utama sebelum mengetuknya tertutup.
Akhirnya, ucap Win dalam hati.
Tim wardrobe lalu bergegas mendekat ke arahnya dengan sebuah handuk besar sebelum melingkarkan kain panjang itu ke seluruh tubuhnya. Tim Makeup juga bergegas menyeka air yang membasahi wajahnya dengan lembar tisu.
"Kurasa take tadi sudah sempurna," ucap Davika yang ada di sebelah Win. Wanita itu juga sudah diselimuti handuk hitam besar di seluruh tubuhnya. Rambut panjangnya basah kuyup terkena air hujan buatan tadi.
"Kurasa juga begitu, P'," jawab Win. "Adegan marah-marahmu tadi hebat sekali. Tatapan matamu membuatku mengira kau benar membenciku," ucap Win sebelum tertawa.
Davika ikut tertawa mendengar ucapan Win, "well, we do rehearsed a lot for this particular scene. Dan lagi pula kau baru saja ketahuan mengikuti balapan liar lagi. Kakak mana yang tidak marah ketika mengetahui hal itu?" Tambah Davika.
"Oh, bisa kurasakan cinta seorang kakak saat kau menerikkan semua sumpah serapah itu di mukaku," sarkas Win yang lagi-lagi membuat Davika tertawa.
"Win, Davika! Kalian ingin lihat hasilnya?" Panggil Champ kepada mereka berdua.
Win dan Davika lalu berjalan ke arah Champ yang berdiri di depan 6 LCD 14 inch dailies yang menampilkan hasil gambar dari beberapa kamera.
"Ini main camera," kata Champ sembari menunjuk layar berlabel angka 1, "ini kameramu, Win," kali ini Champ menunjuk layar berlabel angka 3, "dan ini kameramu, Davika," kata Champ dengan jari telunjuk kanan mengarah ke layar berlabel angka 6.
"Tolong ulang dari awal," pinta Champ lagi. Win dan Davika lalu mencondongkan badan mereka untuk melihat layar-layar kecil itu lebih baik.
Begitu gambar diputar, saat itu pula Davika dan Win memusatkan seluruh atensi mereka kepada akting yang meraka lakukan tadi.
Emosi mata, bahasa tubuh, level suara, intonasi, ketepatan dialog dengan script. Semua hal itu mereka perhatikan baik-baik. Keseimbangan antara emosi yang mereka berikan, reaksi yang tepat dari setiap dialog yang diucapkan. Bahkan hal-hal kecil seperti dengusan, gigitan di bibir bawah, tepukan frustasi di dada, kerutan dahi, atau reaksi tambahan apapun, akan dipertimbangkan apakah penting reaksi tersebut di dalam adegan ini.
Dan akhirnya setelah 16 menit, scene itu berakhir. Tanpa disadari Win menghembuskan napasnya yang sejak tadi ia tahan.
"Tadi itu sempurna," ucap Champ dari belakang mereka. Dan hal itu membuat Win dan Davika berbalik ke arahnya.
"Benarkah?" Tanya Davika. Ia tersenyum lebar sekali.
"It is P'," jawab Win. "Bahasa tubuh kita sudah match di setiap dialog. Intonasi jelas, emosi terkontrol, tidak ada gerak tubuh yang berlebihan, I really like that shaky voice. Benar-benar menunjukkan betapa marahnya P' padaku".
Setelah mengatakan itu Win tersentak ketika Champ tiba-tiba tertawa.
"As expected from Win Metawin. Kau selalu melihat setiap adegan dengan detail. Tidak hanya aktingmu, tapi partner-mu juga. The reputation ain't lying anyway," tambah Champ lagi. Dan kali ini Davika ikut terkekeh.
Win tersenyum lebar, "oh jelas. I'm not gonna lose from the Goddess Davika. Pria macam apa diriku bila tidak bisa bersanding dengan seorang Davika".
Davika yang mendengar ucapannya hanya memutar bola matanya jengah, "oh shut that crap, Win! Apa kau akan mati hari ini? Tidak biasanya kau berkata-kata manis seperti itu. Jangan mati dulu, shooting kita belum selesai".
"Oke baik, Nona Davika," ucap Win dengan nada yang pura-pura kesal.
Champ yang sejak tadi terkekeh ketika melihat dua pemeran utama series yang sedang dikerjakannya lagi-lagi saling lempar argumen satu sama lain, akhirnya memutuskan untuk melangkah mendekat ke arah mereka berdua.
"Oke, anak-anak," seru Champ sembari menepuk tangan satu kali untuk menarik perhatian dua orang di depannya, "shooting hari ini sampai disini. Namun sebelumnya, DoP apa ada scene yang menurut kalian harus diulang? Atau ada blocking yang salah? Untukku sendiri take yang terakhir sudah sempurna".
Pria berkaus hitam dengan topi Baseball New York Yankee yang merupakan DoP series mereka lalu menggeleng, "semua gambar sudah sempurna. Lighthing sempurna, tidak ada noice, blocking juga sempurna. Semuanya tidak kurang apapun", ucapnya.
Champ lalu tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kru yang ada disana, "and that's a wrap for today everybody. Persiapkan untuk besok! kita mulai sejak jam 11 siang. Art, pastikan apartemen tempat shooting besok dalam keadaan bersih. Wardrobe, jangan sampai insiden cat putih di baju Win seperti tadi terulang kembali. Lighting, besok kita shooting all indoor, pastikan alat kalian lengkap. Dan terakhir, terima kasih semuanya untuk hari ini. Win, Davika, pulanglah dan istirahat. Kita lanjutkan besok. Kerja bagus hari ini untuk kalian semua!" Seru Champ lantang.
Sontak beberapa tepukan tangan dan ucapan 'good job guys!' saling bersautan tepat setelah Champ mengatakan kalimat terakhir. Win pun ikut memberikan beberapa tepukan di punggung kepada beberapa kru yang ada di sekitarnya.
"Sampai jumpa besok, Win! I can't wait to scream at your face again," ucap Davika sebagai salam perpisahan.
Win terkekeh, "sure P', see you tomorrow. Mandilah dengan air hangat dan segera istirahat. Terima kasih untuk hari ini," ucap Pria bergigi kelinci itu dengan lambaian kecil.
Davika membalas senyuman Win dengan senyum cantik miliknya. Win lalu sedikit membungkuk ketika manager Davika juga memberikan salam perpisahan kepadanya sebelum pergi.
Baru saja Win ingin berbalik dan mengikuti managernya ke ruang ganti, langkahnya terhenti ketika Win mendengar namanya dipanggil.
"Ya, P'Champ?" Tanyanya kepada orang yang memanggilnya tadi.
"I have an offer for you from Aof," kata Champ pada Win.
"P'Aof? Tawaran apa?"
"Film. Dia ingin kau mencoba untuk memainkan peran utamanya. Tadi pagi dia mengirimiku pesan untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Ia juga bilang peran ini akan berbeda dengan peran-peran yang sebelumnya pernah kau mainkan. Dan kurasa itu bagus untuk kau jadikan tantangan," jelas Champ.
Win menganggukkan kepalanya, "kapan proses shooting-nya?"
"Enam bulan dari sekarang. Jika kau berminat, Aof akan memberimu naskah untuk proses casting. Jangan tanyakan padaku genre apa film tersebut, karena kau tidak akan mendapat jawaban apapun dariku. Because I also have no idea about the genre. Jadi kusarankan kau hubungi langsung Aof untuk detailnya," jelas Champ lagi.
Win terdiam. Apa ia berminat?
Hell yea!
Aof adalah salah satu sutradara terbaik yang dimiliki negara ini. Kenapa terbaik? Karena ia tak pernah takut mengambil tema cerita yeng berbeda. Dan beberapa film yang dipegang olehnya termasuk ke dalam jajaran film terlaris sepanjang sejarah perfilman Thailand.
Sebenarnya sungguh Win tidak menyangka bila Aof sendiri yang menginginkannya untuk memerankan karakter utama di film yang akan ia kerjakan. Karena bila ditanya apa salah satu mimpinya, Win selalu berkata untuk bekerja di bawah naungan sutradara bernama Aof tersebut.
Dan bila kesempatan emas seperti ini datang secara cuma-cuma, who the hell is he to reject that?
"I'll take it," ucap Win mantap.
Champ terkekeh, "easy there, tiger. Kau yakin tak mau membicarakan hal ini lebih jauh dengan agensi dan managermu? Well, kuyakin mereka akan terima-terima saja jika kau memang berminat. Tapi bicarakan saja dulu".
Win memberikan senyum lebar kepada Champ, "I'm my agency's biggest star, P'Champ. Apa yang membuatmu berpikir mereka akan menolak tawaran dari sutradara paling kondang negeri ini dan pada saat namaku saat ini selalu menjadi trending topic dimana-mana? Bayangkan seberapa besar impact artikel dengan judul 'Aof Noppharnach menggaet Win Metawin sebagai pemeran utama di project film miliknya'? It will be big. Agensiku tak akan menolak calon uang sebanyak itu".
Champ melemparkan kepalanya kebelakang sembari tertawa setelah mendengar perkataan itu, "ya Tuhan, Win. I almost forgot that you have been in this entertainment industry since you're 8 years old. Kau mungkin tahu semua rahasia agensi manapun di negeri ini," ucap Champ setelah ia bisa mengatur tawanya.
Win memberikan cengiran kepada sutradara itu, "umumnya mereka semua sama. Mencari uang sebanyak-banyaknya. Dan kebetulan saja saat ini namaku sedang disebutkan dimana-mana, tentu saja mereka akan memanfaatku".
Champ memberikan anggukan kepada Win, "yeah, I know that. Tapi jangan lupa istirahat, Win".
"Sebisa mungkin akan kulakukan itu P'".
"Kalau begitu baiklah. Akan kuberikan kontak Aof kepada managermu segera. Tapi tolong tetap dengarkan saranku, bicarakan hal ini dulu dengan agensi dan managermu, mengerti?" Ucap Champ sembari menatap serius pada Win.
Win mengerucutkan bibirnya, "oke, oke. Kau terdengar seperti ayahku. It's kinda creepy actually. Want me to call you daddy?" Tanya Win iseng.
"Dasar anak keparat!" Umpat Champ lengkap dengan tangan kanan terangkat yang siap memukul Win.
Win sontak mundur beberapa langkah sembari tertawa, "Maaf, maaf. Oh ya P', kudengar rating kita yang paling bagus weekend ini, tapi ada satu drama di hari Senin yang hampir saja memecahkan rekor kita. Serial apa itu?"
"Bukan karena keseluruhan serial itu sebenarnya, tapi karena Bright Vachirawit muncul sebagai cameo di episode Senin lalu," jelas Champ.
"Oh?"
"Yep. Namun perlu kuakui jika akting Bright bagus juga untuk seoang penyanyi. Mungkin suatu saat akan kutawari dia bermain di serialku. Popularitas dengan kualitas akting yang baik, rating tinggi sudah merupakan lampu hijau. Yang tersisa adalah memilih scriptwriter handal yang akan menghidupkan cerita dengan baik. General public-lah targetnya. Jika mereka suka dengan ceritanya, maka lengkap sudah," jelas Champ.
Win terkekeh, "kau sudah memikirkan hal ini sedemikian rupa P'? Kau bilang popularitasnya sudah tinggi, bukan? Jadi untuk apa kau mencari scripwriter berkualitas yang akan menciptakan cerita yang bagus bila hanya dengan jalan cerita biasa saja rating tinggi sudah terjamin karena Pria ini bermain di series mu?"
Champ menyipitkan matanya ke arah Win, "pertanyaanmu ini untuk mengujiku ya?"
Win memberikan cengiran gigi kelincinya, "maybe I am?"
Champ lalu terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, "karena diriku tidak ingin membuat series 'aji mumpung'. I don't want to just use his popularity to gain viewers. Series yang kutangani harus memiliki cerita yang luar biasa juga".
Mendengar jawaban sutradara itu Win memberikan Pria itu tepuk tangan, "bravo! As expected from P'Champ".
Champ yang melihat reaksi Win mendengus kesal sebelum memberikan jitakan pelan di kepala Pria bergigi kelinci itu, "sudah. Pergi kau, kelinci raksasa! Pergi mandi dengan air hangat dan segeralah istirahat. Besok kita mulai jam 11 siang dan sebaiknya kau tidak telat".
"I never late", ucap Win yang sekarang tengah cemberut sembari mengusap kepala yang terkena jitakan tadi.
Champ terkekeh, "I know that," ucapnya sebelum mengambil botol minumnya di atas meja.
"Tapi P', ada satu hal yang mau kutanyakan," ucap Win.
"Hm?" Tanya Champ yang tengah meneguk airnya.
"Kau bilang Pria bernama Bright ini memiliki popularitas yang tinggi, bukan?"
Champ memberikan anggukan.
"That's weird. I've never heard of him. Siapa sebenarnya Bright ini P'?"
Dan Win ternyata harus kembali menyeka mukanya yang lagi-lagi basah. Namun kali ini air di mukanya berasal dari semburan air minum Champ.
"Kau ingat di hari kau menanyakan siapa itu Win Metawin dan semua orang menatapmu seperti kau orang teraneh di dunia ini?" Tanya Foei.
"Oh diamlah. Mengetahui semua orang itu bukan kewajibanku," ucap Bright sinis.
Foei terkekeh mendengar jawaban kesal Bright, "memang bukan kewajibanmu, tapi pribadimu yang seperti hidup di balik batu akhirnya terungkap".
"Maksudmu, P'?"
"Kau tidak tahu siapa Win Metawin yang notabene adalah seorang aktor cilik yang terkenal dan hingga saat ini nama dan wajahnya ada dimana-mana. Well figures, karena di otakmu hanya ada musik saja. But at that moment I really had a secondhand embarrasment".
"Kalau begitu berarti bukan diriku saja yang hidup di balik batu. Karena orang itu juga tidak mengetahui siapa diriku. Seingatku bukan hanya nama dan wajahnya yang tersebar dimana-mana saat ini," ucap Bright.
"Kau tahu apa artinya apa itu?"
Bright menatap managernya dengan satu alis terangkat.
Foei menjentikkan jarinya, "jodoh!"
Di tiga detik selanjutnya Foei mengeluarkan gelegar tawanya ketika Bright memberinya sodoran jari tengah.
Bagaimana Bright bisa tahu Win tidak mengetahui dirinya?
Karena berita itu ada di mana-mana. Dan Bright juga tahu bila Win tahu ia juga tidak mengenal dirinya.
Semuanya dimulai dari sini.
Drama yang dimainkan oleh Win dan Davika memegang rekor serial dengan rating tertinggi selama penayangannya. Sebagai ucapan terima kasih, seluruh cast utama di serial tersebut beserta dengan sang sutradara menggelar fan event sebagai ajang berterima kasih. Di satu segmen TMI, Champ, sang sutradara, mengatakan bila salah satu hal terkonyol yang pernah terjadi ketika proses shooting serial berlangsung adalah ketika Win bertanya padanya siapa itu Bright. Sontak hal itu menjdi trending topic di mana-mana.
Why?
Karena semua orang mengira sangatlah absurd ada seseorang yang tidak mengetahui Bright Vachirawit.
Namun topik yang panas itu semakin tersulut ketika Nawat, prosuder musik yang pernah bekerja sama dengan Bright, mengatakan jika Bright juga pernah bertanya padanya siapa itu Win Metawin di wawancaranya dengan salah satu media televisi. Jawaban itu Nawat berikan ketika ia diminta menanggapi perihal Win yang tidak mengetahui Bright, lengkap dengan tawa keras yang ia keluarkan sebelum menjawab.
"It just so absurd. Bisa-bisanya kau tidak tahu aktor yang sudah memulai karirnya sejak ia berumur 8 tahun. Ia juga merupakan aktor termuda yang memenangkan best rookie dan best actor di ajang penghargaan film paling bergengsi di negeri ini. Belum lagi film yang dimainkannya pernah masuk ke dalam nominasi Berlin International film festival," jelas Foei.
Bright memutar matanya, "dia juga aneh. Bagaimana bisa ia tidak tahu dengan penyanyi pemegang rekor penjualan album terbanyak sepanjang sejarah negeri ini, penyanyi yang ditunjuk sebagai tamu pembuka ajang olahraga paling bergengsi di Asia, dan penyanyi itu juga bahkan menyanyikan OST untuk dramanya. Bagaimana cara kau menyebutnya tadi? Absurd?" sarkas Bright sembari menatap managernya.
Foei hanya memberikan Bright seringaian, "terlepas dari itu semua, I'm glad that you know each other now".
"And yet I still don't like him," ucap Bright.
Ya. Bright dan Win sudah pernah bertemu.
Setelah dua bulan drama mengenai 'kenal tak kenal' itu berlangsung, banyak fans dari kedua belah pihak menyarankan untuk mereka berdua bertemu satu sama lain.
Karena sebenarnya hal ini sangatlah lucu. Bagaimana dua bintang yang akhir-akhir ini sangat digandrungi orang-orang dengan wajah keduanya terpampang dimana-mana, namun mereka berdua tidak ada yang mengenal satu sama lain.
Dan sepertinya Tuhan berpihak kepada fans mereka. Karena akhirnya Bright dan Win bertemu.
Bright mendapat panggilan wawancara dan photoshoot untuk majalah GQ di hari Selasa yang cerah itu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya tersebut, ia dan managernya hendak kembali ke gedung agensi mereka.
Tanpa Bright sangka, mereka bertemu Win Metawin di lobby gedung penerbit majalah tersebut.
Bright yang pertama kali menyadari Win. Ia terus memerhatikan Pria tinggi itu yang kini berjalan ke arahnya sembari berbicara dengan managernya.
And then that moment happened. Ketika Win akhirnya menghadap ke depan dan matanya bertemu dengan milik Bright.
"Oh?" Bright mendengar Win berucap. Win juga menghentikan langkahnya. Dan itu membuat Bright menghentikan langkahnya juga. Sekarang mereka hanya berjarak lima langkah.
"Awkward," Bright mendengar managernya berbisik. Dan sungguh Bright sangat tergoda untuk menjitak kepala managernya itu.
"Kau pasti Bright Vachirawit!" Seru Win lengkap dengan senyum lebar gigi kelincinya setelah beberapa saat.
"Ya," jawab Bright singkat. Jujur, Bright ingin sekali menjawab lebih panjang. Tapi dia tak pernah ahli dalam menunjukkan first impression yang bagus.
Dan Win sendiri menjadi bingung. Jawaban Pria di depannya kelewat singkat untuk ia jadikan alasan untuk melanjutkan pembicaraan.
Ia harus mengatakan apa sekarang?
Namun Win tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak berkedip beberapa kali ketika di detik selanjutnya, Bright menyapukan pandangannya dari atas kepalanya hingga kaki.
Oh well, would you look at that, pikir Win.
"I'm Bright Vachirawit, senang akhirnya bertemu denganmu, Win Metawin," kata Bright akhirnya sembari menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Win lantas menjawab uluran tangan kanan itu sembari tersenyum, "likewise. Akhirnya kita bisa bertemu".
Setalah mengatakan itu jabatan tangan Bright dan Win terlepas. Namun Win terus memerhatikan wajah Bright dengan intens. Dan itu membuat Bright menaikkan satu alisnya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" akhirnya Bright bertanya ketika Win terus memerhatikan wajahnya dan tidak menunjukkan tanda bahwa ia akan mengatakan sesuatu.
"Wow, Bright. You're hotter than the pictures that I got from google," ucap Win.
Dan Bright hanya bisa tersedak air liurnya sendiri.
"Tapi pertemuan pertama kalian berdua bener-benar layak ditulis ke dalam buku sejarah". Kata-kata Foei mengeluarkan Bright dari lamunannya. "I never know that Win Metawin can be that frank," ucap Foei lagi sebelum terkekeh.
Bright mendengus, "that's why I don't like him,"
Foei meberinya cengiran, "tidak Bright. You just can't get used in being caught off guard. Dan itu adalah pesona tersendiri dari Win Metawin".
Bright menaikkan satu alisnya, "pesona?Bahasamu fancy sekali untuk sekedar mendeskripsikan seseorang P'. Tidak biasanya. Do you like him?" Tanya Bright usil.
Namun cengiran licik Foei semakin lebar, "well, do you?"
Bright tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar ruang rias tersebut, "kau mulai menyakan pertanyaan aneh itu lagi. I have a lover, P'. Kau tahu itu".
Foei menatap Bright dengan senyum kecil, "ya. I know that".
"I'll go grab something to drink, kau mau sesuatu, P'?"
Foei mengerucutkan bibirnya sembari menimbang pilihannya, "something smooth. Latte. Tolong belikan Latte untukku".
"Oke. I'll be right back," ucap Bright sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Langkah penyanyi itu lalu tertuju ke arah elevator yang ada di ujung lorong. Setelah masuk kedalam ruang terbatas yang terbuat dari logam tersebut, Pria itu menekan tombol dengan angka 1 untuk menuju cafetaria.
Bright sangat bersyukur ketika melihat cafe yang ada di areal cafetaria itu lumayan kosong. Ia lalu memesan Espresso untuk ia minum di tempat.
Bright pikir ia akan menikmati kopinya disini terlebih dahulu sebelum kembali ke atas. Setelah kopi dipesan, Bright memilih meja booth yang terletak di pojok ruangan.
Bukan, dia tidak sedang berada di Starbucks. Starbucks terlalu ramai untuk dikunjungi. Dan letak cafe itu berada di luar gedung stasiun TV tempat ia berada sekarang. Lagipula cafe lokal yang ia tengah singgahi sekarang memiliki kopi yang lebih enak dibandingkang cafe asal Amerika itu.
Well, gengsi terkadang membuat seseorang buta bahwa ada yang jauh lebih baik diluar sana.
Pada saat ia tengah sibuk membaca berita di smartphone-nya, pelayan cafe tersebut memberikan kopi pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih, waktu me time Bright dimulai.
Ia masih memiliki waktu sekitar 1 jam lagi sebelum briefing acara talkshow dimana ia akan menjadi guest star-nya akan dimulai. Itu waktu yang lebih dari cukup untuk menikmati secangkir kopi.
Bright kira waktu me time berharganya ini akan ia lewati dengan tenang. Sebelum ia mendengar sebuah suara dari arah belakangnya.
"Hai tampan. Boleh kutemani kau duduk disini?" Kata Pria itu.
Win.
"No," kata Bright datar.
"Aw, kau baik sekali. Terima kasih," ucap Win sebelum duduk di kursi dihadapan Bright.
Bright hanya bisa menghela napas, "sedang apa kau disini? Kau menguntitku?"
Win mendengus, "diriku terlalu terkenal dan sibuk untuk menguntit seseorang. I'm going to guesting at some variety show 2 hours from now".
"Lalu kenapa kau duduk disini? Banyak kursi kosong di belakangmu".
"Tidak mau," jawab Win sebelum berterima kasih kepada pelayan yang mengantar minumannya, "I'm too sexy to drink alone and be seen like a single Man with no lover. I rather sit with another single Man, right?" Ucap Win sembari mengedipkan satu matanya kepada Bright.
"I have a lover," ucap Bright datar.
"Yea, yea, sure," ucap Win sambil lalu sembari sibuk mengaduk whipped cream di minumannya.
"Coba kutebak. Chocolate milk with whipped cream and caramel sauce?" Tanya Bright setelah beberapa saat.
"Hampir tepat! Kau hanya tidak menyabutkan serpihan Oreo-nya," seru Win dengan cengiran gigi kelincinya.
"Apa kau memang berencana terkena sugar rush sebelum bekerja?"
"Apa maksudmu? Ini hanya susu cokelat," sungut Win sebelum meminum minuman manis tersebut.
Gigi Bright terasa ngilu membayangkan betapa manisnya minuman tersebut.
"Dan apakah kau tidak punya pilihan hoodie lain? Kau terlihat seperti kunang-kunang raksasa," ucap Bright lagi.
Win saat ini tengah memakai celana berwarna putih dengan hoodie hijau neon. Bright asumsikan bila hoodie itu adalah pakaian glow in the dark. Karena di penerangan cafe yang remang sekarang, hoodie Win terlihat bercahaya.
"Kata-katamu persis sama seperti apa yang dikatakan P'Eed. Dia juga bilang pakaianku membuat diriku terlihat seperti senter berjalan," ucap Win dengan bibir mengerucut.
Bright terkekeh, "analogi yang bagus dari managermu. Kau memang terlihat seperti senter raksasa berjalan".
"Bisakah kau tidak mengkritikku sekali saja setiap kita bertemu?" Pinta Win.
"Nah, It's fun," ucap Bright sebelum ia tertawa ketika melihat Win yang menyipitkan matanya ke arahnya. "Maaf, maaf. Tadi hanya bercanda. Well, what do you want me to do then?"
"Jadilah kekasihku".
Bright tersedak Espresso yang sedang disesapnya, "berhentilah selalu mengatakan hal itu, Win. You know I have a lover," ucap Bright serius setelah batuknya reda.
"Siapa yang tak tahu kau punya kekasih? Agensimu mengumumkan berita itu kepada dunia tepat 2 bulan lalu. Fansmu bisa saja mempercayai bila kau memang berkencan dengan orang itu. But l already in this industry for 12 years, I know which one is the real dating and which one is the dating that was 'made' by the agency".
Bright menyipitkan matanya, "jadi kau menganggap hubunganku palsu?"
Win menyeruput susu cokelatnya dengan berisik sebelum menjawab, "I'm not. I just said that your relationship was made by your agency".
Bright menggelengkan kepalanya, "ini yang membuatku tidak suka padamu. Bahkan sejak pertemuan pertama lima bulan lalu. Kau selalu mengutarakan apa yang ada di kepalamu tanpa berpikir. Apa kau bangga dengan asumsi bodohmu itu?"
Ouch, that's hurt, pikir Win.
Pria bergigi kelinci itu lalu mendongak menatap langit-langit cafe yang temaram, "asumsi yang bodoh, ya?" Ucap Win dengan suara kecil. Namun Win yakin Bright mendengarnya juga. "Kau mau tahu bagaimana diriku bisa yakin jika hubunganmu dengan kekasihmu sekarang adalah hasil dari buah pikiran agensimu?"
"I really don't want to h—"
"Kekasihmu yang sekarang adalah seseorang yang berkecimpung di dunia akting dan berada di agensi yang sama denganmu. Tapi tidak, kekasihmu bukanlah seorang rookie. Dia sudah melakukan debutnya sejak tujuh tahun lalu. Yang menunjukkan fakta bahwa dia adalah seniormu, karena kau baru memulai debutmu tiga tahun lalu" ucap Win sebelum menatap Bright lekat. "But here's the problem. Bahkan setelah tujuh tahun tersebut, bakat akting dari kekasihmu ini tidaklah terlihat. Agensimu mulai ketar-ketir, karena dia tidak menghasilkan uang. Lalu kenapa agensimu tidak memutus kontrak orang itu saja?" Bright lalu melihat Win yang memberikan senyuman miring, "because they can't. Karena kekasihmu ini adalah seorang anak dari sutradara terkenal di negeri ini. Yang memiliki hubungan pertemanan erat dengan pemilik agensimu. Tapi tenang saja, fakta ini hanya diketahui orang-orang tertentu saja. Termasuk diriku yang sudah lama di dunia hiburan ini. Orang yang mengetahui hal ini bahkan bisa dihitung dengan jari," jelas Win lagi sebelum meminum minuman manisnya.
"Lalu bagiamanakah cara agensimu tetap mendapat keuntungan dari seseorang yang tidak berbakat ini?" Tanya Win lagi setelah beberapa saat. "Ia menggunakanmu untuk menaikkan value namanya," ucap Win lengkap dengan jari telunjuk kanannya mengarah ke wajah Bright.
"Teruskan. Teori konyolmu ini sangat menarik," tantang Bright.
Win memberikan Bright kerucutan bibirnya, "tunggulah sebentar. Berbicara panjang lebar membuatku haus kau tahu," ucap Win sebelum menenggak susu cokelatnya.
"Sampai mana tadi? Oh! Memanfaatkan dirimu. Oke, jadi dengan agensimu mengumumkan hubungan kalian berdua kepada publik, nama kekasihmu ini menjadi trending topic dan nama yang paling banyak orang-orang cari di search engine. Artikel di Media-media bertebaran, wawancara khusus, dan harga foto kalian berdua yang diambil secara 'tak sengaja' dibandrol dengan harga yang fantastis," kata Win sebelum mengeluarkan tawa sinisnya. "Dan begitulah cara agensimu mendapat keuntungan dari orang ini. I'm not gonna say that this is wrong. A bad marketing strategy is also a strategy. Dan tampaknya strategi ini berhasil. Karena sempat kulihat beberapa iklan menampilkan dirinya, dan kudengar-dengar dia menerima tawaran serial. Well, good luck with that I guess," ucap Win lagi sebelum kembali meminum susu cokelatnya.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Bright dengan suara rendah dan tatapan tajam terarah kepada Win.
Tanpa Win sadari ia meneguk air liurnya sendiri melihat tatapan itu, "yep! Jadi berapa persen tingkat ketepatan ceritaku dengan keadaan sebenarnya?" Tanya Win memberanikan diri. Lengkap dengan cengiran.
Bright mengeluarkan dengusan meremehkan, "apa kau tidak berniat untuk menjadi lebih baik dimataku, Win? Karena sejak pertemuan pertama, pandanganku kepadamu selalu sama. Kau selalu terlihat bodoh dimataku".
"Ouch," gumam Win pelan.
"I hope with me saying this, you can stop blabbering your bullshit around. Dan kau tahu apa tentang kekasihku? Kau pikir kau lebih baik darinya? Atau apakah berkat rayuan manis dan senyum cerah palsumu itu yang membuatmu sampai ke posisimu sekarang? Tidakkah kau membicarakan tentang dirimu sendiri ketika kau menyebut kalimat bad marketing?" Ucap Bright bertubi-tubi. Pria itu menarik napas dalam setelah melontarkan berderet kalimat tersebut.
Namun reaksi yang Bright dapatkan adalah Win yang menatapnya kosong.
Fuck! that was too harsh, Bright, umpat Bright dalam hati.
Win lalu memberikan senyuman kecil padanya setelah beberapa saat, "kau membelanya sedemikian rupa? Apa kau benar-benar menyukainya?"
"Dia kekasihku. Mencintainya adalah hal yang wajar".
Win mendesah, "enaknya bisa dicintai sedemikian besar oleh orang tampan. Kapan diriku bisa merasakannya?" Keluh Win dengan bibir mengerucut sembari memutar sedotan plastik di minumannya. "Dan mengenai senyum cerah palsuku itu, I didn't know that someone actually seen that as fake. Karena yang kutahu, sebisa mungkin senyumku selalu kuberikan kepada siapapun entah seberapa lelahnya diriku," ucap Win sebelum mendongak menatap Bright, "tapi jika kau menganggapnya itu palsu, then maybe I'm not trying my best to be sincere. Oh ya! Kau juga mengatakan apa diriku lebih baik dibanding kekasihmu, bukan? Kau bisa memeriksanya sendiri, Bright. Tontonlah serial atau film-film yang kumainkan. Kujamin kau tidak akan menyesal," ucap Win dengan semangat.
Lengkap dengan senyum lebar gigi kelinci itu.
"Dan bila kata-kataku tentang kekasihmu tadi sedikit kasar, I'm sorry," ucap Win dengan tulus.
"I would never watch your movies or series," ucap Bright.
Mendengar itu Win hanya bisa menggigit bibirnya.
"Oh ayolah, kau akan mengetahui seberapa hebatnya aktingku. Biarpun senyumku palsu, filmku pernah bersaing di Berlin!" Seru Win lagi.
Lagi-lagi dengan senyum gigi kelinci cerah itu lagi.
Please stop.
"Why are you doing this?" Tanya Bright dengan suara kecil setelah 30 detik Ia dan Win hanya saling tatap.
"Because I like you," jawab Win tanpa ragu.
And that's it.
Di detik berikutnya Bright bangkit dari kursinya, meninggalkan Espressonya yang masih penuh, dan berjalan ke arah counter untuk mengambil Latte yang sudah ia pesan sebelumnya.
Ia tidak bisa terus berlama-lama dengan Win.
Dengan Latte ditangannya, Bright berjalan dengan cepat ke arah pintu keluar cafe.
"Bright!" Bright mendengar Win memanggil namanya.
And why oh why did Bright stop his steps and look in his direction?
Win di sana, masih duduk di kursi yang sama, tengah menatapnya dengan senyum lembut, "I can't wait to see you free again".
Reaksi Bright?
Dia tak mengatakan apa-apa. Ia hanya berlalu setelah lima detik menatap Win.
Langkahnya cepat menuju elevator. Dahi mengerut, tangan mengepal. Syukurlah tidak ada siapa-siapa di dalam elevator. Bright yakin dia tak bisa mengontrol ekspresinya.
Bright lalu meninju tombol angka 15 dengan kepalan tangannya. Setelah pintu elevator tertutup, Bright mengangkat tangan kanannya untuk mengacak rambutnya sendiri.
"Fuck!" Teriakan Bright bergema di seluruh ruang sempit itu.
"For fuck's sake, Win Metawin," umpatnya lagi.
Bright lalu mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel ke dinding logam yang dingin di belakangnya. Ia lalu mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah atas, "please God, help me with this one".
Win sangatlah lelah hari ini.
Ia baru saja menyelesaikan bagiannya dalam proses shooting di film milik Aof yang terbaru.
Ya, kau benar! win mendapatkan peran utamanya.
Hari ini ia harus memulai shooting sejak jam 3 dini hari, dan setelah Aof mengatakan 'Cut!' sebagai tanda bila bagiannya telah selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Seharusnya saat ini ia sedang berada di tempat tidurnya yang empuk. Beristirahat dengan damai.
Tapi tidak. Agensinya ternyata sudah menjadwalkannya untuk shooting filler produk mie instan tepat setelah proses shooting film tersebut.
Dasar agensi keparat.
Jadi disinilah Win. Di sebuah gedung production house ternama. Untuk shooting filler sebuah produk mie instan dan mencoba dengan dangat keras untuk menikmatinya.
Tapi yang namanya Win Metawin, profesional adalah nama tengahnya.
Shooting filler-nya berjalan dengan lancar. Ia dapat dengan tepat memberikan reaksi yang diinginkan sang produser ketika ia harus berakting untuk menikmati mie instan tersebut.
Walau sebenarnya, sungguh Win ingin muntah ketika ia harus memakan mie dingin tersebut.
Mungkin mereka telah mempersiapkan mie-nya sejak satu jam sebelum kedatangannya.
Tapi syukurlah, semua itu sudah selesai.
Namun lagi-lagi agenda Win untuk cepat-cepat menikmati kasur empuknya masih harus tertunda. Karena ternyata pihak marketing mie-instan yang memperkerjakan Win tersebut meminta P'Eed untuk mengadakan rapat singkat mengenai kontrak kerja diantara mereka.
Kenapa orang-orang masih semangat bekerja di jam 11 malam seperti ini? Pikir Win.
Jadilah Win mengatakan kepada P'Eed bila ia akan mencari tempat untuk tidur sejenak sembari menunggu managernya itu rapat.
Setelah mencari selama 15 menit, Win menemukan tempat yang terlihat seperti taman bermain balita lengkap dengan karpet hijau menyerupai rumput dan satu seluncuran mungil.
Win pikir taman bermain itu terlihat menyedihkan sekali karena hanya dilengkapi dengan satu seluncuran kecil.
Oh well, mungkin karena anak-anak sekarang lebih fokus dengan gadget mereka masing-masing bahkan ketika mereka masih sangatlah kecil. Akan percuma menyediakan banyak wahana ketika mereka lebih fokus menonton Barney di layar kaca kecil mereka.
Tapi yang membuat Win bersorak gembira adalah kumpulan bean bag yang terjejer rapi di pinggir ruangan. Ditambah fakta bila taman bermain itu teletak di ujung lorong lantai 5 gedung production house tersebut, membuatnya berhadapan langsung dengan kaca-kaca besar yang menunjukkan pemandangan kota di malam hari.
Setelah melepas sepatunya, Win lantas mengambil satu bean bag berwarna biru dan meletakkannya di tengah taman bermain. Ia akan menggunakan bean bag itu sebagai bantal.
Win lalu mengeluarkan smartphone-nya dari dalam saku celana sebelum berbaring menghadap pemandangan kota. Lantai 5 yang sepenuhnya kosong, lampu yang temaram, serta pemandangan lampu kota di malam hari yang menenangkan semakin menambah rasa kantuknya.
Biasanya ia akan takut bila hanya sendirian di lantai gedung yang kosong dengan waktu yang menunjukkan pukul 11.27 malam, tapi Win terlalu lelah untuk memikirkan itu semua. Rasa kantuknya jauh melebihi sifat penakutnya.
Dan hal itu dibuktikan dengan Win yang langsung tertidur lelap setelah 3 menit punggungnya menyentuh karpet berwarna hijau tersebut.
Win merasa ia baru terlelap selama lima menit ketika ia harus terbangun karena mendengar suara notifikasi yang nyaring dari smartphone-nya. Dengan mata yang masih terpejam ia meraba-raba sekelilingnya untuk menemukan benda persegi tersebut. Setelah smartphone itu berada di tangannya, Win menatap layar kaca yang menunjukkan pesan dari managernya itu.
Pria bergigi kelinci itu lalu mengeluarkan desahan lelah ketika membaca pesan yang mengatakan bila managernya itu akan selesai sebentar lagi. Sebelum mengunci smartphone-nya kembali, Win melirikkan matanya ke arah waktu yang ditunjukkan disana.
12.18. Ternyata ia sudah tertidur selama hampir satu jam.
Win lalu meletakkan kembali smartphone-nya di karpet disisi kiri badannya. Dan karena ia merasa lehernya sedikit kaku, ia menolehkan kepalanya ke arah kanan untuk setidaknya meregangkan otot lehernya.
Pada saat itulah ia melihat seseorang duduk di sisi kananya.
Sosok itu menatapnya lekat dan tidak mengatakan apa-apa.
Yang terjadi berikutnya adalah seisi lantai 5 gedung tersebut dipenuhi gema lengkingan suara teriakan Win.
"What the fuck? Stop, Win!" Seru sosok itu.
"BRIGHT?!" Lengking Win.
"Yes, it's me. Now stop screaming like a banshee," ucap sosok itu, Bright, kepada Win.
Win hanya bisa kembali menjatuhkan badannya ke arah bean bag di belakangnya dengan lemas. Ia masih bisa mendengar degup jantungnya sendiri yang masih berdetak dengan cepat.
Dan si sialan Bright itu malah terkekeh.
"Tadi harusnya kuambil gambar tampangmu tadi, kau tidak akan percaya betapa konyolnya wajahmu," ucap penyanyi tersebut sebelum kembali tertawa.
Win tidak menjawab ejekan Bright. Ia masih dalam posisinya yang terbaring dengan kedua tangan menutupi matanya. Hingga saat ini Win masih mencoba menenangkan degup jantungnya.
"Hei, Win. Apa kau baik-baik saja? Maaf karena sudah mengagetkanmu tadi," ucap Bright yang mulai khawatir karena Win belum mengatakan apa-apa bahkan setelah 3 menit berlalu.
"Diamlah Bright. Nyawaku tadi sudah setengah jalan menuju surga saking terkejutnya. I'm trying to bring it back," kata Win dengn suara kecil.
Dan itulah yang dilakukan Bright. Terdiam dan terus memerhatikan Win yang mencoba menjemput kembali nyawanya.
Akhirnya setelah dua menit berlalu, Win menurunkan kedua tangannya dari wajahnya untuk menatap Bright.
"Are you okay now?" Tanya Bright.
Win mengangguk, "sedang apa kau disini? Menguntitku?"
Bright mendengus, "bukan kau saja yang punya pekerjaan di tengah malam. I have to shoot a coffee advertisement in here".
"Kopi ya? Beruntungnya. That's exactly what I need right now," ucap Win.
"Kau bukan penikmat kopi, Win."
Win terkekeh, "kau benar. Tak bisa kupercaya kau mengingat fakta itu," kata Win sebelum tatapannya beralih ke arah pemandangan kota.
And then the awkward silence is coming.
Bright terus menatap Win yang biasanya selalu punya banyak hal yang ingin ia sampaikan. Tapi hari ini Win berbeda, ia tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Pria bergigi kelinci itu hanya menatap kosong pemandangan kota di luar sana. Apa Win sebegitu lelahnya?
"Katakanlah sesuatu," ucap Bright akhirnya. Ia tidak tahan melihat Win yang terdiam.
Win lalu menatapnya dengan satu alis terangkat, "maaf?"
"Kau biasanya memiliki banyak hal di dalam otakmu. Dan kau juga biasanya akan menyemburkan semuanya tanpa berpikir," kata Bright.
Win memberikan Bright senyum gigi kelincinya, "kau ini sebenarnya menginginkan apa, Bright? Berhentilah membuatku bingung. Diriku seperti ini karena ingin mencoba untuk terlihat baik dimatamu. Agar diriku tidak terus terlihat bodoh didepanmu karena terus mengatakan apa yang ada di pikiranku. Itu maumu, bukan?"
Checkmate.
Win benar-benar membalikkan semua kata-katanya.
Tapi bukan itu maksud Bright. Tidak pernah seperti itu. Bright juga tidak mengerti kenapa ia bisa mengatakan hal tersebut. Padahal disaat yang sama, ia sangat menikmati semua perkataan Win yang keluar dari kedua bibir indah itu.
Wait, what?
"Kau mau membicarakan apa, Bright? Let's start from there". Kata-kata Win tadi membuyarkan Bright dari pikirannya yang mengejutkan dirinya sendiri.
"Semua serial dan film-mu sudah kulihat," ucap Bright akhirnya
"Oh?" Ujar Win sebelum mengubah posisi terbaringnya menjadi duduk menghadap Bright. "Benarkah? Semuanya?" Tanya Win dengan senyum lebar.
Tanpa Bright sadari ia memberikan Win anggukan kepala dengan senyum kecil.
"Jadi bagaimana menurutmu?"
"Kau aktor yang sangat hebat, Win. Tidak heran namamu dan wajahmu ada dimana-mana sekarang," ucap Bright tulus.
"Yes!" Seru Win lengkap dengan kepalan tangan. "Sudah kubilang kau tidak akan menyesalinya".
Win salah. Bright menyesalinya.
Ia menyesal karena kenapa baru sekarang ia tahu tentang aktor bernama Win Metawin. Ia menyesal karena kenapa baru sekarang ia terjerat ke dalam bakat akting Pria bergigi kelinci itu. Dan Ia menyesal karena kenapa baru sekarang ia mengetahui pesona dari seorang Win Metawin.
Karena semua penyesalannya itu, kini Bright tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Karakter apa yang menjadi favoritmu?" Tanya Win lagi dengan semangat. Lengkap dengan senyum lebar gigi kelincinya.
Ya Tuhan.
Bright berdeham sebelum menjawab, "peranmu yang menjadi pembunuh bayaran di film Opposite. Peran itu yang benar-benar menunjukkan bahwa kau bisa memerankan apa saja dan terlepas dari pandangan orang-orang yang mengatakan kau hanya cocok memerankan karakter protagonis".
Win memberikan Bright senyuman, "kau benar. Peran itu yang menjadikanku seperti apa diriku sekarang. Umurku hanya 15 tahun saat itu, dan peran itu juga yang membuatku mendapatkan penghargaan rookie award termuda di ajang perfilman bergengsi negara ini. Dan mulai saat itu, mereka mulai menawariku peran yang bermacam-macam. Not only as the goody two shoes".
Tangan kanan Win lalu menepuk-nepuk lutut kiri Bright pelan dengan semangat, "lalu, lalu? Peran apa yang menimbulkan kesan paling dalam untukmu? Come on, tell me!" Ucap Win yang masih bersemangat.
Bright terkekeh sebelum menggenggam pergelangan tangan kanan Win yang terus menepuk lututnya, "sabarlah, dasar keras kepala. Sedang kupilih salah satunya," kata Bright sebelum mendongak ke atas, "hmmm... susah bila harus memilih satu. Jadi akan kupilih dua. Satu dari serialmu dan satu dari film-mu, bagaimana?" Tanya Bright sembari menatap Win.
Dan Win menganggung. Masih bersemangat.
"Untuk serialmu kupilih peranmu di bombshell blonde, lalu untuk film-mu kupilih silent scream. Film itu yang masuk nominasi di Berlin, bukan?
Win tersenyum kecil dan mengangguk, "apa kau suka peranku disana karena mengetahui film itu masuk nominasi ajang penghargaan di Berlin?"
Bright menggeleng, "tentu tidak. Itu karena kau.... bagaimana caraku menyampaikannya?" Ucap Bright sembari menggaruk tengkuknya, "kau seperti benar-benar mengalami depresi. Kau membuat siapapun yang menonton mempercayai bila kau tertekan. Bahasa tubuhmu, sorot matamu, gerak-gerikmu, semuanya. I have to admit that I cried so hard di adegan ketika kau menangis di kamar mandi dan memohon bantuan kepada mendiang Ibumu untuk menghentikan rasa sakit yang kau rasakan saat itu. Teriakanmu saat adegan itu sangat memilukan. Seolah itu bukan akting dan kau benar-benar membutuhkan bantuan. Kau membuatku ingin menyelamatkanmu dari semua suara yang ada di pikiranmu pada saat itu," jelas Bright.
"Ditambah kau kurus sekali di film itu, apa kau menggunakan double?" Tanya Bright lagi.
Win menggeleng, "tidak. Itu benar-benar tubuhku. I need to lose 20 KGs for this character. Dan peranku yang satu ini juga menjadi peran yang paling berkesan untukku".
"How so?"
"Well, saat pertama kali kubaca naskahnya, kupikir peran ini akan menjadi tantangan paling berat selama karir aktingku. Selain diriku harus menghilangkan sebegitu banyak berat badanku, I also have to potrayed a character that has an extreme depression. So I did my reasearch. Bagaimana gerak-gerik dan tingkah laku orang yang mengalami depresi, bagaimana cara mereka berpikir, dan sebagainya. Diriku juga sangat berterima kasih kepada mentor akting dan mentor gesture-ku selama proses shooting".
Win lalu terdiam selama beberapa saat, "tapi lalu datang masalah. Sutradara di film itu selalu mengatakan bila aktingku sudah baik dalam menunjukkan karakter seseorang yang depresi. But I don't want good, I want perfect. Karena itu diriku mulai menyisipkan hal-hal pribadi yang pernah membuat pikiranku kacau kedalam karakter yang kuperankan dalam menampilkal rasa depresi. And it worked. Ditambah sutradara yang sangat memuji aktingku. Namun dibalik semua kesempurnaan itu, I'm starting to get the after effect. Sleepless night, menarik diri, dan suara-suara di kepalaku yang kukira tak pernah kembali mulai menggangguku kembali. Bahkan hingga proses shooting berakhir, suara-suara itu masih ada. Dan di titik saat suara itu mulai membuatku kesulitan bernapas, I asked P'Eed to seek for help," jelas Win. Ia memberikan senyum kecil kepada Bright yang sekarang sedang mengusap lembut pergelangan tangan kanan Win yang sejak tadi masih ia genggam.
"So yeah, I went to psychiatrist, beristirahat dari dunia akting selama beberapa bulan, and came back stronger," ucap Win. Sekarang dengan senyum lebarnya.
Dan Bright membalas senyum Win dengan senyum lembutnya, "syukurlah bila kau bisa bangkit lagi sekarang," kata Bright sebelum terkekeh, "kuyakin P'Eed juga mengambil bagian untuk mengomelimu ketika kau berani melakukan hal itu dengan ceroboh".
Win memutar bola matanya, "you have no idea. Kadang diriku merasa P'Eed lebih galak dibanding orang tuaku sendiri".
Win dan Bright tertawa setelahnya.
"Jadi itu yang disebut method acting? Ternyata hal itu bisa sangat berpengaruh ke kehidupan aktor sebenarnya," gumam Bright.
"Yep. Bila kau tak bisa mengontrolnya, hal itu akan menjadi boomerang. Diriku memang memenangkan best actor karena peran itu. Tapi meingat bagaimana caraku mendapatkan penghargaan itu, masih membuatku bergidik sampai sekarang," jelas Win. "Lalu bagaimana dengan serial bombshell blonde, kenapa peran itu sangat berkesan untukmu?" Tanya Win.
"Pertama, kau adalah seorang drag queen. Itu benar-benar tak pernah kusangka. And you nailed it! Kedua, karaktermu yang penuh komedi memberikan bukti lain bila kau bisa memerankan apa saja. Ketiga, ada temanku Tay Tawan disana," jelas Bright.
Win hanya bisa menganga, "bagaimana kau bisa kenal Tay Tawan namun kau tidak mengenal pemeran utamanya, which is me!" Sembur Win.
"Dan bagaimana kau bisa tidak tahu bila yang menyanyikan OST serial itu adalah Bright Vachirawit a.k.a me!" Sembur Bright balik.
"Itu lagumu?"
"Ya Tuhan, Win!"
Win terkekeh, "bercanda. I knew it since P'Champ memberi tahu siapa dirimu. Namamu langsung kucari di internet dan semua lagumu kudengar".
"Wait, what?" Mata Bright membelalak.
"Yep, Bright. I'm the one who knows everything about you first," ucap Win percaya diri.
Sombongnya.
Bright mendengus, "kau membual! Tidak mungkin kau tahu semua laguku".
Win menaikkan satu alisnya, "lagu debutmu berjudul Fire dan termasuk ke dalam mini album dengan nama yang sama. Lalu 7 bulan setelah itu kau mengeluarkan album This Is Me yang sukses menjadi album terlaris di negara ini. Lagu yang paling kusuka dari album itu adalah Shut the F Up! Yang merupakan track nomor enam. Kau juga pernah memiliki featuring project bersama Milli, Hero, dan penyanyi papan atas lainnya. Kau menyanyikan lagu theme song untuk pembukaan Asian Games satu setengah tahun lalu. OST yang kau nyanyikan untuk dramaku berjudul, Look At Me, Peasant!. Ditambah single-single lainnya yang—"
Win tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tangan kanan Bright menutup mulutnya, "baiklah, baiklah. Kau menang. Kau yang tahu segalanya tentangku terlebih dahulu".
Dan saat Bright menurunkan tangannya, cengiran Win terpampang jelas. "Told ya!" Seru Win.
Bright hanya bisa merotasikan matanya jengah, "apa yang sebenarnya memotivasimu untuk mengetahui seorang Bright Vachirawit sejauh itu?"
Win tersenyum kecil padanya, "kau tahu jawabannya. Because I like you".
Bright terdiam.
"Why?"
"Karena kau tulus, Bright. Disaat semua orang terkadang tidak mempedulikan itu. Kau selalu memberikan apa yang terbaik, meskipun hal itu terkadang malah memberimu balasan yang buruk," jawab Win.
"Kata-katamu rancu," tukas Bright.
"Seiring waktu akan kuceritakan apa maksudku".
Bright menggelengkan kepalanya pelan, "baiklah, ayo ganti topik. I always want to ask this. Menurutmu aktor atau aktris yang baik itu seperti apa?"
Win menaikkan satu alisnya, "oh? Apakah ini adalah insight untuk kekasihmu? Bilang padanya bila kursus akting dengan Win Metawin tidaklah murah," canda Win.
Tapi Bright tidak tertawa, ia hanya mengerutkan dahinya, "can we not talk about that? I'm not in the mood".
Win hanya bisa terdiam.
Tidak biasanya.
Tapi ya sudah, Win tidak akan memaksa pula.
"Oke. Jadi untuk menjawab pertanyaaamu itu, menurutku aktor dan aktris yang baik itu adalah mereka yang versatile. Pekerjaan kita adalah untuk menjadi orang lain. Dan menonjolkan karakter yang menjadi peran kita adalah sebuah pekerjaan utama. Kenapa versatile? Dunia hiburan sifatnya singkat. Jika kau terus berada di zona nyamanmu, tanpa kau sadari keesokkan harinya kau bisa saja terlempar dari atensi penonton. Kuambil contoh seorang aktor tampan yang selalu mengambil peran laki-laki tampan nan kaya dan digandrungi para wanita. Apakah di pengalaman pertama popularitasnya akan meledak? Yes! Dan aktor itu mendapat banyak fans pula. Namun bila aktor ini terus mengambil peran yang sama untuk kedepannya, apa kau tidak merasa bosan?" Tanya Win.
Dan Bright yang menyimak sejak tadi mengangguk.
"See? Namun nantinya akan banyak yang berkata, 'biar saja dia terus mengambil peran seperti itu. Ia masih memiliki banyak fans'. Dan di bagian inilah banyak orang yang salah kaprah. Target penonton bukanlah fans, tapi general audience. Karena respon yang mereka berikan adalah murni, dan bukan bias. Jadi untuk menarik perhatian general audience inilah pentingnya versatility. Karena hal itu akan membuat penonton penasaran dengan bagaimana kita membawakan peran kita yang berbeda ini," jelas Win.
"Apa ada lagi?" Tanya Bright.
Win menainkkan jari telunjuk kanannya ke arah mataya, "mata. Aktor atau aktris yang baik bisa dilihat dari seberapa sempurna mata mereka menggambarkan emosi suatu peran. Entah itu saat ia berakting sedih, gelisah, marah, senang, atau yang lainnya. Walau gesture, intonasi suara, dan bahasa tubuhmu sempurna dalam menampilkan suatu emosi, bila matamu mati maka itu semua tidak ada gunanya".
"Wow," gumam Bright, "kau ternyata seorang jenius mengenai hal ini".
Win memberikan cengiran, "apakah sekarang diriku terlihat baik di matamu? Apa diriku sudah tidak bodoh lagi?" Tanya Win.
Bright menggigit bibir bawahnya, "mengenai itu, Maaf. Kata-kataku kemarin sangat kasar, tidak seharusnya kuberbicara seperti itu. I also don't understand how can I say that? Despite the fact that I love hearing you talking".
"What?"
"What?"
Win berkedip beberapa kali, "kau tadi bilang kau suka mendengarkanku berbicara. Apa maksudnya tadi? Apa maksudmu?"
Bright memberikan Win muka datarnya, "I don't understand what are you talking about".
Win mengacak rambutnya dengan kedua tangan, "Bright!"
"Win!"
Win menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
P'Eed.
"Ayo pulang. Oh, hai Bright!" seru P'Eed. Bright membalas sapaan itu dengn sedikit bungkukkan badan.
Win mengerutkan dahinya, "tapi—"
"Pulanglah Win. Kuyakin besok kau kasih punya jadwal shooting film terbarumu itu. Oh, congratulation for that, by the way. Dan lagipula shooting iklanku akan segera dimulai, so I have to go," kata Bright.
Win menatap Bright masih dengan dahi berkerut. Bright tahu Win masih meminta penjelasan kata-katanya tadi. Karena itu Bright berharap untuk Win cepat pulang.
Bright belum siap menjawab pertanyaan itu. Setidaknya tidak sekarang. Dan ia juga masih harus memastikan
"Baiklah kalau begitu. I'll go first, Bright. Good luck untuk pekerjaanmu," ucap Win dengan senyuman.
Win lantas bangkit dari poisisi terduduknya dan meletakkan bean bag yang tadi ia pakai ke tempat semula. Pria bergigi kelinci itu lalu memberikan Bright lambaian kecil sebelum memakai sepatunya kembali dan berbalik pergi.
Bright melihat itu semua sembari menggigit bibir bawahnya.
Come on, Bright! Just do it!
"Win!" Panggil Bright. Dan Win berbalik untuk menatap Bright kembali.
"Hm?" Gumam Win.
"Can I have your number?"
Win membelalakkan matanya selama beberapa saat sebelum tersenyum lembut, "sure".
Dan akhirnya Bright memiliki kontak Win di smartphone-nya. Begitu pula dengan Win yang terlihat sangat senang saat Bright menyimpan nomornya di smartphone-nya.
Win membuatnya berjanji untuk jangan menghiraukan pesannya. Dan Bright membuat Win berjanji untuk mengirimkan pesan yang penting-penting saja. Dan hal itu membuat Pria bergigi kelinci itu mengerucutkan bibirnya.
Setelah melambai dan mengucapkan selamat tinggal untuk yang kedua kalinya, akhirnya sosok Win menghilang dibalik elevator yang membawanya turun.
Dan pada saat itu juga Bright menjatuhkan tubuhnya ke posisi berjongkok.
"Oh, ya Tuhan. Tadi hampir saja," gumam Bright.
Ia merasa bila Win tidak menyadarinya. Bright yakin Win tidak menyadarinya. Karena Win tidak mengatakan hal apa-apa mengenai itu.
Bright juga tidak tahu apa yang memasuki pikirannya saat ia menemukan Win yang tertidur sendirian di area taman bermain tadi. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menghampiri Pria itu dan duduk di sebelah aktor itu.
Dan hal yang paling membuatnya bingung adalah, Bright masih tidak mengerti mengapa ia secara tidak sadar menyapukan tangannya dengan lembut untuk mengusap rambut Win yang menutupi dahinya. Bright hanya ingat bahwa ia melakukan itu ketika melihat wajah tenang Win yang tertidur.
Suara notifikasi di smartphone Win tadi tidak hanya mengejutkan Win. Tapi Bright juga. Suara itu membuatnya sadar dari apa yang tengah ia lakukan.
Beruntunglah Bright, Win sepertinya tidak menyadarinya.
Ya, beruntunglah Bright.
"Tadi kau keren sekali!" Seru Win yang kini menghampiri Bright yang sedang berdiri di depan vending machine.
"Duh, I know," kata Bright sembari membungkuk mengambil kopi kalengan yang tadi dibelinya.
Win yang telah sampai di sebelah Bright hanya merotasikan matanya, "I forgot that you're an overproud prick".
Bright mengangkat satu alisnya, "kau tidak punya kaca dirumah? Karena anehnya diriku kenal dengan aktor yang memiliki sifat yang sama".
"I wonder who is that?" Gumam Win yang sekarang tengah memasukkan lembar uang ke dalam vending machine.
"Kapan giliranmu?" Tanya Bright.
"Aw, apa kau akan melihatku juga? Romantis sekali," kata Win sembari memutar tutup botol milk tea-nya.
"Tidak, bodoh. I'm busy. I'm just starting a conversation. Kenapa berbicara langsung denganmu selalu lebih sulit dibandingkan lewat pesan?" Sungut Bright.
"And I'm just asking. Kenapa berbicara langsung padamu langsung membuatmu berubah menjadi menyebalkan sekali? Semua yang kukatakan selalu salah," sembur Win.
"Haruskah kita saling kirim pesan saja?" Tanya Bright.
"Fine," ucap Win sebelum berlalu melewati Bright dan berjalan ke arah lounge terdekat.
Bright yang melihat Win yang kesal hanya bisa terkekeh. Dia lalu mengikuti Pria berkemeja putih itu.
Semenjak keduanya saling bertukar nomor kontak, Bright dan Win secara rutin mengirim pesan satu sama lain.
Yah, serutin mereka berdua memiliki waktu senggang dari kesibukan masing-masing. Terkadang satu diantara mereka butuh waktu sekitar 6 jam untuk membalas pesan dari satu sama lain.
Tapi mereka berdua mengerti, tentu saja. Mereka bukan seperti remaja labil kelebihan hormon diluar sana yang ketika pesannya tidak dibalas barang 5 menit saja langsung merasa terkhianati.
Pesan yang mereka kirim tidaklah terlalu penting sebenarnya. Seperti Win yang merekomendasikan tempat corndog yang menurutnya enak, atau Bright yang memberikan rekomendasi lagu untuk didengar sebelum tidur. Dan setelah beberapa lama mereka juga mulai menghubungi satu sama lain via telepon.
Memang tidak setiap hari, tapi keduanya selalu memilih satu sama lain bila sedang ingin mengisi waktu luang atau untuk melupakan stress barang sejenak. Karena Bright pikir, Win selalu bisa membuatnya tertawa. Dan untuk Win, Bright selalu bisa menenangkannya.
"Maaf, maaf. Tadi hanya bercanda, I know when your turn is. Dan memang tujuanku untuk melihatmu setelah tadi diriku melihat bagian Tay," ucap Bright yang sekarang duduk di sofa panjang di sebelah Win.
"Masih belum bisa kupercaya kau dekat dengan Tay. Sifat kalian benar-benar berbeda satu sama lain," gumam Win.
"Hey! I'm a good person. Dan orang baik menarik perhatian orang baik juga. Lagipula biarpun seperti ini, I'm a fun person at the party. Jadi tentu saja Tay bisa dekat denganku," tukas Bright.
"Tay memang orang baik, but you? Not so much," sungut Win.
"Terserah kau. Tapi perlu kau akui kau senang berbincang denganku".
Win merotasikan matanya, "duh, how many time do I need to say that I like you? Bukankah alasannya sudah jelas?"
Bright tersenyum lembut, "ya kau benar, seharusnya alasannya sudah jelas. Anyway, Tay itu sebenarnya sangat ceroboh. Sudah tak bisa terhitung berapa banyak barang yang rusak saat ia pegang," ucap Bright sembari terkekeh.
Bright is obviously wants to change the topic.
"I know that, he's also a good kisser," kata Win.
Dan Bright tersedak kopinya yang tengah ia minum.
Tangan kiri Win lalu terangkat untuk menepuk-nepuk punggung Bright yang masih terbatuk.
"Kenapa kau merasa kau harus mengatakan hal itu?" Tanya Bright setelah berhasil mengatur batuknya.
Sebut Win adalah orang yang suka berhayal, tapi nada suara Bright tadi terdengar seperti ia tidak suka saat dirinya mengatakan bila Tay adalah good kisser. Mata Bright pun masih menatapnya tajam.
Tapi Win tidak mau berharap.
Karena itu Pria bergigi kelinci itu mengeluarkan tawa kecil untuk mengurangi ketegangan diantara mereka, "kenapa kau terkejut sekali? Kau menonton bombshell blonde, bukan? Our characters ended up in a relationship, Bright".
Bright lalu mendengus, "I know that, but still. Hal yang tadi kau ucapkan tidaklah penting," ucap Bright sebelum mengalihkan pandangannya.
Win hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari menahan tawa.
Jika kalian bertanya dimana Bright dan Win sekarang, mereka sedang berada di gedung kesenian milik pemerintah. Federasi persatuan film dan musik negara tengah melakukan project dokumenter yang berisi wawancara ekslusif 25 pemusik dan 25 aktor serta aktris papan atas diseluruh negeri. Bright, Win, dan Tay terpilih menjadi bagian dari project ini.
Sebelum jeda makan siang, baru saja Bright menyelesaikan bagiannya. Wawancara mengenai karirnya dan juga mengambil footage yang menunjukkan kemampuannya. Kebanyakan pemusik memilih untuk menunjukkan kemampuan mereka yang sudah diketahui banyak orang, tapi Bright berbeda.
Now, all of his fans knew that Bright can play drums, tapi tak ada yang tahu seberapa bagusnya Bright saat memainkan alat musik itu. Dan hal itulah yang dimanfaatkan Bright untuk memberikan kejutan. And yes! It's fucking worked. Karena Bright membuat semua staff yang mengambil gambarnya dan Win yang datang untuk melihat pertunjukannya mematung karena aksinya.
"Tak kusangka kau memilih Caravan untuk drum solo-mu tadi. That's fucking amazing," ucap Win dengan suara yang sedikit keras.
Bright menoleh ke arah Win sembari tersenyum lebar dan menempelkan jari telunjuk kanannya ke bibir Win. "Jangan keras-keras, Win. Aktor papan atas tak boleh mengumpat seperti itu," kata Bright sebelum terkekeh.
Win lalu mengambil tangan Bright untuk menjauhkannya dari bibirnya, "tapi tadi aksimu gila! Kuyakin kau bisa lihat dari reaksi orang-orang tadi. Ditambah kau tadi sampai berkeringat, seksi sekali!" Ucap Win bersemangat.
"T-thanks," gumam Bight terbata. Fuck.
Win memberikan cengiran lebar, "kau tersipu".
"I'm not," jawab Bright datar. Masih dengan warna merah yang sedikit terlihat ditelinganya.
"Yes, you are".
"Baiklah, baiklah cukup!" Ucap Bright sembari menutup mulut Win. Win terus tertawa bahkan ketika Bright menurunkan tangannya kembali. "Tapi sudah kukira kau juga menonton Whiplash," kata Bright.
Win menatap Bright seolah tersinggung, "of course I watched that movie. Film itu adalah salah satu film terbaik sepanjang masa," kata Win.
"Biar kutebak, kau ingin memainkan peran sebagai Andrew bila kelak kau ditawari film dengan genre yang sama," kata Bright.
"Memainkan Andrew sangat menarik. Tapi bila kita membicarakan tentang tantangan, maka akan kupilih peran Fletcher," jelas Win.
Bright menaikkan alisnya, "kenapa? Bukankan memainkan peran Andrew juga susah? Ia ditampar dan ditekan sedemikian rupa".
"Kau benar. Tapi dalam adegan yang membutuhkan kontak fisik, peran yang harus memberikan kekerasa itulah yang paling berat. Bayangkan hal ini. Saat break makan siang, kau mengobrol tenang dengan co-starmu mengenai kumbang di taman atau apapun itu, tapi disaat sutradara mengatakan action! The next thing you know is you need to beat the shit out of your co-actor untuk membangun emosi yang diinginkan. Percayaah, itu tidak mudah".
Bright mengangguk paham, "I get your point. No wonder Simmons got an Oscar for the best supporting actor".
"Yep. Dan dia sukses membawakan peran sebagai maestro yang kejam. Tak bisa kau bayangkan betapa kubenci karakternya," kata Win sebelum tertawa.
"Kau benci perannya disaat yang sama kau juga mencintai akting aktor tersebut," ucap Bright. Dan Win mengangguk.
Sangat banyak aktor luar biasa diluar sana yang Win kagumi. Dan Win jadikan itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik dari sekarang. Karena ia pikir untuk bertahan di dunia hiburan ini tidaklah cukup dengan menjadi extraordinary. Ia harus menjadi Super extraordinary.
"Kau terlihat baik-baik saja, Bright," ucap Win setelah beberapa saat.
"Maksudmu?"
"Well, I saw the news. About your relationship with your lover. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Win.
Dan Bright terdiam.
Akhir-akhir ini berita yang beredar di media adalah mengenai kerenggangan hubungan Bright dengan kekasihnya setelah 6 bulan menjadi sepasang kekasih. Dan seperti deja vu, muka Bright dan kekasihnya itu terpampang dimana-mana.
Tapi entahlah, Bright tidak peduli dengan itu semua.
"Apa kau senang dengan hal itu?" Tanya Bright.
Win mentapanya tidak percaya, "you really think that I'm that evil? Wow, Bright. Tak bisa kupercaya," ucap Win kecewa.
Dan Bright panik ketika ia merasa sepertinya Win salah menangkap arti pertanyaannya, "tidak, tidak. Tunggu dulu, maaf. I'm not wording that correctly. Bagaimana cara memulainya? Oke begini, berita itu ada dimana-mana. Otomatis semua orang pasti tahu dan membicarakan hal itu. Tapi untukku sendiri, I don't give a fuck about that. Be it whatever they said and in what condition my relationship is. Apa itu membuatku menjadi orang yang jahat? Because I felt nothing".
Win yang akhirnya paham dengan maksud Bright menatap Bright dengan serius, "oke Bright, dengar. I don't want to repeat my belief by saying that you're relationship was made by the agency. Karena kupikir hal itu tidak membuatmu nyaman meskipun diriku hingga kini sangat yakin bila hubunganmu memang hasil pemikiran agensimu. Tapi bila kau memang tidak merasakan apa-apa dengan pemberitaan di luar sana, then so be it."
"Jadi diriku bukan orang jahat?"
"Tergantung. Apa kekasihmu menanyai tentang hal ini dan berusaha untuk memperbaikinya bersama?"
"No".
"Kalau begitu tidak. Kau tidak jahat. Jadi apa alasanmu menanyakan pertanyaan tadi?" Tanya Win sembari menatap Bright tajam.
Bright memainkan jarinya sembari menunduk, "karena semua pemberitaan di luar sana seolah mendukung asumsimu. Dan kau bilang kau menyukaiku, bukan? Bukankah hal ini membuatmu puas?"
Win mengeluarkan napas panjang. Terkadang Bright bisa menjadi orang yang bodoh, "I do like you, Bright. Tapi seperti apa yang kau bilang tadi, keyakinanku masihlah sebuah asumsi. Bisa saja apa yang kuyakini selama ini salah. Bisa saja kau benar-benar mencintai orang itu. Dan bila benar itu terjadi, maka diriku adalah seorang keparat bila merasa bahagia disaat orang yang ia suka tengah mengalami masalah pada hubungannya".
Dan Bright hanya bisa terdiam.
Win once again caught him off guard with what he said.
"Kenapa kau bisa yakin bila hubunganku hanyalah buatan agensi?" Tanya Bright akhirnya.
Win tersenyum kecut, "karena sesuatu seperti itu pernah terjadi padaku".
Bright membelalakkan matanya, "what?"
"Yep. Saat itu umurku baru 18 tahun. And I have a boyfriend at that time. We love each other so much that we think there's nothing aginst us," ucap Win sebelum tersenyum. "Tapi seperti halnya semua selebriti yang namanya sedang menjadi sorotan dimana-mana, hubunganku harus kurahasiakan. Dan disinilah datang pembicaraan mengenai agensiku yang ingin membuat pengumuman mengenai hubungan yang mereka rencanakan antara diriku dengan seorang aktris. Tujuannya sama, untuk memarketkan aktris itu," jelas Win lagi.
Win lalu menunduk ketika ia merasa tangan kanannya digenggam oleh Bright.
Hangat.
Karena rasa hangat itu Win tersenyum, "so I talk about this matter with my boyfriend. I ask him to bear with it for five months, I said to him that we can get through this, that we can handle it together. Dan dia me-iyakakan itu semua. Dan hal itu membuatku bahagia".
"Kami masih mempertahankan hubungan kita. Pesan dan telepon masih rutin kita lakukan. Kita masih bertemu walau hanya seminggu sekali, bahkan kadang sekali selama sebulan. Namun semua intensitas itu lama-lama berkurang. Pesanku tidak ia jawab, teleponku tidak ia angkat. Dan ia selalu memberi alasan sibuk setiap kali kuminta bertemu," jelas Win sembari menatap Bright dengan senyum kecil.
"Dan pada akhirnya kontrak keparat itu hampir berakhir, He asked me to meet him. Malam itu tak pernah kulupakan, dimana ia berkata bila ia tak bisa lagi melakukannya. Bagaimana ia berkata ia tak bisa terus merasa seperti buronan dan terus merahasiakan hubungan kita. Dan bagaimana ia memintaku untuk memberikannya kebebasan dan pergi," ucap Win dengan nada yang pahit.
"And that's what I did. Set him free. Karena untuk apa memperjuangkan seseorang yang tak ingin lagi diperjuangkan," ucap Win sebelum mengeluarkan tawa pahit. "Dan pada akhirnya juga kontrak itu berakhir. Aktris yang menjadi kekasihku mendapatkan kepopulerannya, meskipun kepopuleran itu hanya sementara sebelum ia meredup kembali satu tahun kemudian," kata Win dengan senyum miring, "tapi yang membuatku berfikir bahwa dunia sangat tidak adil pada saat itu adalah, mereka semua mendapatkan apa yang mereka mau, but I need to come home to an empty house. I never felt so alone more than that".
Win lalu menatap Bright dengan senyum lembut, "dan itulah yang membuatku yakin, Bright. Karena metode yang dipakai agensimu sama dengan apa yang agensi lamaku lakukan kepadaku".
"I'm sorry that kind of thing happened to you," ucap Bright.
Win mengibaskan tangannya, "kejadian itu sudah lama sekali. Lagipula sekarang diriku sudah memiliki orang lain yang kusukai," kata Win dengan satu kedipan mata.
Bright merotasikan matanya. Tapi ia tak bisa menahan senyum lebarnya.
"Apa karena hal itu saja yang membuatmu yakin?" Tanya Bright lagi.
"Ada satu lagi, dan ini kartu As-nya. Hal ini juga yang akan menjelaskan kata-kataku yang pernah mengatakan bila kau selalu tulus disaat semua orang tidak memerdulikannya. Dan kau yang selalu berusaha semaksimal mungkin," kata Win.
"Oke, baiklah. Jelaskan".
"Satu setengah bulan setelah pengumuman hubunganmu, that night I was at this Japanese restaurant named Kyoto for dinner with P'Aof. Kau tahu reputasi restoran bernama Kyoto itu bukan?"
Bright mengangguk, "ya. Tempat itu sangat tertutup dan ekslusif sehingga banyak selebriti yang senang berkencan secara diam-diam disana. Banyak juga yang mengadakan rapat," jawab Bright.
"Tepat sekali. So, I need to go the restroom for a while dan saat itulah kulihat kekasihmu itu sedang bercumbu penuh nafsu dengan seseorang di tengah lorong," ucap Win.
Bright menahan tawanya, "apa yang kau lakukan?"
"I cleared my throat and said 'you guys are in the way'. Karena ya Tuhan, mereka sudah membayar mahal untuk menyewa satu bilik di restoran itu tapi mereka malah menggunakan area terbuka untuk menghisap muka satu sama lain. Menjijikkan sekali," kata Win sembari bergidik.
Dan akirnya Bright tidak bisa menahan tawanya.
"Lalu, lalu?" Tanya Bright lagi dengan semangat ketika ia sudah bisa mengatur napasnya.
Win menaikkan satu alisnya, ia bingung kenapa Bright makah tertawa dan bukannya merasa kesal. "Lalu kekasihmu ini melirik ke arahku dan berkata 'hei Win, kenalkan ini kekasihku'. Dan itu membuatku bingung, karena itu kukatakan 'bukankah Bright kekasihmu?' Dan ia hanya menjawab dengan lambaian tangan dan kedipan mata. Jadi hal itulah yang membuatku yakin," jelas Win lagi.
Bright kali ini terkekeh, "that motherfucker. Lalu bagian mana yang menunjukkan kata-katamu yang mengatakan bila diriku tulus disaat yang lain tidak memerdulikannya?"
"Kejadian itulah yang menujukkannya. Ketika kau selalu berusaha dengan keras untuk membuat agensimu senang dengan mengatakan bila kekasihmu ini orang baik dan melengkapi kehidupanmu, orang ini malah tidak mencoba membantumu barang sedikitpun dan malah bersenang-senang sendirian. Kau malah lebih memedulikan karirnya dibandingkan ia sendiri. Kau tulus membantu Bright, disaat ia sendiri bahkan tidak memikirkannya. Kau selalu berusaha semaksimal mungkin. Bahkan ketika apa yang kau dapat malah merugikanmu," jelas Win.
Bright lagi-lagi membisu.
Dear God, Win.
"Terima kasih," ucap Bright dengan senyum tulus.
Win menelengkan kepalanya ke kanan, "kenapa kau malah berterima kasih?"
Bright lalu menunduk dan memerhatikan tangannya yang masih menggenggam tangan milik Win, "I just want to say it".
"Kau aneh".
Bright mengedikkan bahunya, "dan seksi".
Win mengangguk setuju, "dan seksi".
Win lalu menepuk pelan tangan Bright untuk menarik perhatian Pria itu, dan Bright pun akhirnya menatapnya, "saat kau menulis lagu, kau dapat inspirasi dari mana? Oh ngomong-nomong selamat atas album barumu. Terima kasih juga karena sudah memberiku album secara cuma-cuma. I've heard all of the songs, and as expected from you, semua lagunya enak".
Bright mengerucutkan bibirnya, "inspirasi ya? Kebanyakan dari kehidupan sehari-hari. Sebagian laguku kuciptakan sebagai jawaban atas komentar aneh yang orang berikan padaku. Lalu tentang orang-orang spesial di kehidupanku. Lalu ada juga yang kuciptakan atas pendapatku tentang apa itu cinta, rindu, sakit hati dan sebagainya."
"Oh? Lalu apa yang menjadi inspirasimu saat menulis Ad-libs? Itu lagu kesukaanku di album ini, by the way".
Bright menggigit bibir bawahnya, "yang itu random. Kuciptakan lagu itu sambil lalu saja".
Win memberinya senyum lebar untuk mengejeknya, "oh? Random ya? Aneh sekali. Coba kuingat-ingat liriknya dahulu...," kata Win sebelum mengerucutkan bibirnya sembari mengingat.
Win lalu menjentikkan jarinya, "lirik 'you came to my life like an ad-libs. Something that wasn't on my Jazz tempo nor my scripts. You break my wall with your charm. And that bunny smile of yours makes me hate to let go that arm'," kata Win sebelum memajukan wajahnya mendekat ke arah Bright. "Lirik tersebut seperti tertuju pada seseorang, Bright. Dan anehnya sepertinya diriku kenal dengan orang ini?"
"Siapa?" Tanya Bright datar.
Win tertawa, "I don't know. You tell me!"
"I don't know what you're talking about".
Win mendengus, "ya sudah kalau kau tak mau mengakuinya".
"Kapan giliranmu dimulai, kenapa lama sekali?" Tanya Bright.
"Usaha pengalihan topik yang jelek sekali, tapi baiklah akan kuladeni. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi," jawab Win
"Kau mau menunjukkan apa? Biasanya apa yang aktor dan aktris tunjukkan di ajang seperti ini?" Tanya Bright.
"Hmmm...," gumam Win, "biasanya kami membaca line paling populer dari peran kami. Atau melakukan demo script reading, but I choose to do monolog".
"Apa yang akan kau katakan?"
"Watch me and you'll find out," kata Win sebelum tersenyum miring.
Bright merotasikan matanya, "I told you I'll watch you. Tapi kau benar-benar tak mau memberiku spoiler?"
Win terkekeh, "nope. Tapi bila yang melakukannya adalah diriku, kau tak akan rugi bila menontonnya".
"Sombongnya".
"Hear yourself when you said that!" Sembur Win.
Dan Bright hanya bisa tertawa lepas.
"But we can't help it right? Maksudmu bukan tanpa alasan nama dan wajah kita ada dimana-mana. Setidaknya kita diketahui banyak orang karena bakat dan karya kita, bukannya kontroversi tidak berguna," kata Bright.
Win menganggukkan kepalanya, "you and me are like.... BTS dan Song Kang yang dimiliki negara ini. Bedanya adalah kemampuan aktingku jauh di atas Song Kang, and you can't dance for shit," ucap Win dengan percaya diri.
Mau tak mau Bright kembali terbahak, dia tak akan pernah terbiasa dengan kecongkakkan Win. "Fuck you!" Ucapnya di sela tawa.
"Yes please," jawab Win dengan cengirnya.
Dan detik berikutnya Bright hanya bisa membeku.
Dasar Pria bajingan, pikir Bright.
One day, for sure, he would die because of Win's bluntness
Lamunan Bright lalu terpecah ketika ia mendengar suara dering smartphone. Dan ternyata itu milik Win, karena Pria bergigi kelinci itu saat ini tengah menempelkan alat komunikasi itu ke telinganya.
"Gikiranku hampir tiba, I need to go. Kau ikut?" Tanya Win setelah mengantongi smartphone-nya. Sorot mata Win yang tertuju pada Bright terlihat berharap.
Bright memberi Win senyuman lembut, "ayo".
Mereka berdua lalu berjalan ke arah salah satu studio yang ada di sana. Ketika Bright dan Win masuk ke dalam ruangan dingin itu, mereka membungkuk beberapa kali untuk menyapa staff yang ada di sana.
Ruangan itu remang, dan telah diatur sedemikian rupa agar menimbulkan kesan gelap. Backdrop hitam, meja besar yang terbuat dari kayu jati, dan kursi kayu bundar tanpa senderan punggung. Hanya itu props yang disediakan disana.
"Win, kita mulai 10 menit lagi," seru sang sutradara kepada Win.
Win mengangguk sebelum menatap ke arah Bright, "watch me, and fall for me".
Tanpa menunggu jawaban Bright, Win berjalan ke arah depan kamera dan duduk di kursi yang ada disana. Bright juga melihat tim makeup mulai memberikan sedikit tepukan bedak atau olesan lip balm kepada Win. Win sendiri tengah menutup matanya untuk tetap fokus.
Bright yang sejak tadi masih terpengaruh dengan kata-kata Win tadi sekarang bergeser untuk berdiri di sebelah kameramen utama.
"Oke semua. Kita mulai dengan demo! Semua tim mohon keluar dari frame!" Seru sang sutradara. Tim makeup lalu bergegas menyingkir.
Win lalu membuka matanya dan lantas berdiri untuk berjalan ke arah meja besar yang ada disana. Win lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan kepala tertunduk.
"Camera set! Clapper!" Seruan sutrada bergema ke seluruh studio.
Clapper bergegas berdiri di depan kamera utama dengan clapperboard di tangannya, "scene 12, take 1, roll 34. Win Metawin's monolog!" Seru clapper yang lalu mengetuk tertututup calapperboard di tangannya sebelum berlari menyingkir.
"Camera rolling! And action!"
Win sontak menggebrak meja kayu itu dengan keras.
Semua orang disana termasuk Bright menahan napas mereka.
Win lalu perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah kamera utama dengan intens. Raut mata tajam, bibir membentuk senyum miring mengintimidasi.
Siapa orang ini? Dia bukan Win! Teriak Bright dalam hati.
"Kalian mau tahu apa itu akting yang baik?" Mulai Win dengan suara pelan. Pria itu mengeluarkan kekehan pelan sebelum menjilat bibir bawahnya.
Bright menelan air liurnya.
"Oh bukan, bukan. Akting yang baik itu bukan sekedar memainkan peranmu. Orang awam yang tidak bisa ber-akting pun bisa melakukan itu," kata Win lagi. Ia sekarang berjalan memutari meja besar itu.
"Di negara ini banyak sekali aktor dan aktris yang memiliki bakat luar biasa dalam dunia akting," Win kini tengah menyandarkan tubuhnya di bagian depan meja kayu jati tersebut. "Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk bertahan disini?"
Tangan kanan Win lalu mengetuk-ngetuk pelan meja kayu yang tengah ia sandari. "Oh no please, don't say it," ucap Win sembari melemparkan kepalanya ke belakang.
Dan Bright bersumpah ia TIDAK berucap secara lantang di kepalanya bila leher Win sangat menggoda saat ini.
Win lalu kembali menatap kamera dengan dahi berkerut, "jangan jawab pertanyaanku dengan 'I will always try my best'. Karena itu sampah dan tak berguna sama sekali," ucap Win tajam.
Win lalu melipat kedua lengannya di depan dada. "Yang kau perlu lakukan adalah be exeptional. Karena yang bisa menyelamatkanmu di dunia ini adalah you can't be extraordinary, you NEED to be super extraordinary," kali ini jari telunjuk kanan Win mengarah ke arah kamera.
Win lalu mendudukkan tubuhnya di atas meja. Kakinya yang menggantung ia goyangkan, kedua tangannya nyaman di atas pahanya. Namun yang berbeda adalah tidak ada lagi wajah tajam Win.
Kini ekpresi Win terbuka dengan senyum lebar sampai kedua matanya menyipit. Win lalu memberikan tawa renyah yang lagi-lagi membuat siapapun yang menontonnya menahan napas.
Inilah Win yang Bight kenal.
Tapi rentang perubahan ekspresi Win tadi hanya berselang beberapa detik. Dan itulah yang membuat Bright bergidik.
Dan ketika Bright menoleh ke arah sutradara, Pria itu tengah menggelengkan kepalanya pelan karena kagum.
"Maaf, maaf," ucap Win sembari melambaikan tangannya. "I'm not trying to scare you, diriku hanya ingin menunjukkan dimana posisimu sekarang," katanya dengan senyum miring.
Win lalu menepuk tangannya sekali, "so, let's start my acting lesson, shall we?" Serunya dengan senyum yang bersemangat.
Dan Bright yakin Win keliru.
Win tidak perlu menyuruh Bright untuk menonton dirinya agar bisa jatuh hati pada Pria bergigi kelinci itu.
Karena tanpa disuruhpun Bright sudah terlanjur jatuh. Sejak awal.
He fell in love with this ad-libs. He fell in love with this unscripted someone.
Dan pada saat ini, Bright jatuh semakin dalam. To the point, he doesn't want to get up.
Breaking news: Penyanyi kondang Bright vachirawit mengakhiri hubungannya setelah 7 bulan bersama. Agensi sudah mengkonfirmasi.
Bright menatap layar TV yang tengah memberitakan berita tentang dirinya.
Ia yakin sekali sekarang namanya tengah trending dimana-mana.
Foei yang berada di ruangan yang sama dengan Bright tersentak ketika mendengar Bright yang tertawa.
Bright lalu mengeluarkan smartphone dari dalam saku celananya untuk menghubungi seseorang.
Seseorang yang Bright yakin kalian sudah tahu siapa.
Tiga nada sambung sebelum koneksinya diterima.
"Halo?" Ucap seseorang di seberang sana.
"Win!" Seru Bright. Dan Foei mengeluarkan tawa keras
Dasar dua sejoli.
"Ya Bright?" Tanya Win yang juga menahan tawanya.
"I'm free now".
"Congratulation!" Seru Win tulus.
"I wanna see you, can I come?" Pinta Bright.
"Mau apa kau?" Tanya Win.
"I want to kiss you. I'm so happy right now," kata Bright lagi.
"Hmmm...." gumam Win untuk menggoda Bright, "tentu saja, datanglah. I'm at my apartement, right now".
"Yes!" Seru Bright yang sekarang melompat seperti anak kecil.
Foei hanya bisa tercengang melihatnya.
"I'm baking chocolate chips," kata Win.
"Perfect! I'll be there in 30 minutes," kata Bright yang sekarang tengah sibuk mebereskan barang-barangnya dengan satu tangan.
"Akan kutunggu. See you, Bright!"
"See you, Win," balas Bright sebelum menutup sambungannya.
"P'Foei, jangan menghubungiku malam ini. I'm bussy," kata Bright yang sekarang tengah memakai ranselnya. Bright lalu berjalan ke arah sofa untuk mengambil tas gitarnya.
"Baiklah. Jangan lupa pengaman!" Seru Foei kepada Bright yang terbirit keluar dari ruangan tersebut.
"Dasar pria kelebihan hormon," gumam Foei sebelum mematikan TV yang ada dihadapannya.
Karena apapun yang diberitakan di TV sekarang tidak ada gunanya untuk Foei.
Ia tahu Bright tidak merasa terpukul barang sedikitpun, seperti apa yang fans-fansnya kira saat ini. Ia juga tahu bila dari awal Bright tidak pernah menaruh rasa kepada kekasihnya, karena itu ia terbahak ketika menemukan akun cocokologi antara Bright dengan kekasihnya.
Dan yang paling penting, ia sangat tahu siapa yang sebenarnya Bright cintai. Dan Pria itu tengah mengejarnya saat ini.
Bright saat ini tengah mengejar ad-libsnya.
