Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-17
Completed:
2021-08-17
Words:
4,084
Chapters:
3/3
Kudos:
28
Bookmarks:
1
Hits:
551

Merdeka!

Summary:

Hadiah ulang tahun yang ke 76 buat Mas Nes yang terinspirasi oleh fanart cantik ini https://twitter.com/Poffymeelk17/status/1405020498526752770?s=20

Dirgahayu kemerdekaan Indonesia ke 76.

Versi Bahasa Inggris juga sudah saya post.

Selamat baca!

Chapter Text

Merdeka. Indonesia merdeka. Dirga mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut abangnya sepersekian detik yang lalu. Dirga duduk di seberang abangnya di meja makan di rumah kayu mereka. Chandra masih terus mengoceh tentang kejadian seputar proklamasi negeri tercinta mereka ini, tapi hanya dua kata itu yang terus terngiang-ngiang di telinganya, di otaknya. Bibirnya tanpa sadar bergerak sendiri, tanpa suara mengucapkan dua kata itu. Indonesia merdeka.

Malam semakin larut dan Dirga masih tidak dapat tidur. Dia tidak sabar untuk menceritakan berita gembira ini kepada murid-murid di kelasnya besok pagi, tidak sabar untuk membentuk mereka untuk menjadi pemimpin, penjaga dan perawat bumi pertiwi ini.

*****

Dirga terbangun saat merasa bahunya diguncang keras oleh seseorang. Ia membalikkan badan dan melihat abangnya tengah merapikan seragam Heiho nya.

"Sudah mau berangkat, bang? Pagi sekali." ujar Dirga sambil mengucek matanya.

"Pagi? Kau pikir jam berapa ini? Cepat mandi dan berangkat sana." jawab abangnya.

Dirga terdiam sejenak dan buru-buru melompat turun dari tempat tidur. Otaknya berputar cepat. Kalau abangnya yang biasa bangun lebih lambat darinya sudah siap berangkat, berarti memang dirinya yang kesiangan.

Setengah berlari, Dirga pergi ke area sumur di belakang rumah, dimana kamar mandi mereka berada. Dengan segera, ia mengguyur dirinya dengan air dingin dari tempayan besar di pojok kamar mandi dan mengusapkan sabun batang berwarna putih ke seluruh tubuhnya. Dinginnya air dan wangi sabun itu membangunkan inderanya untuk menghadapi hari.

Setelah selesai berpakaian, ia keluar kamar menghampiri meja makan, dimana ibu dan abangnya sedang sarapan. Ibunya langsung berdiri saat melihat sosoknya keluar dari kamar tidur dan mengambil piring kosong dan mengisinya dengan dua centong nasi, sepotong ikan asin dan sepotong telur dadar.

"Mau pakai sambel tidak, Dir?" tanya ibunya.

"Tidak usah, Bu." tukas Dirga setelah menyeruput teh panas yang sudah disediakan Ibunya.

"Jadi, kau hari ini ada cerita baru untuk dibagikan ke murid-muridmu ya, Dir?" Ibu memulai percakapan.

Setelah menelan suapannya, Dirga menjawab, "Iya Bu. Seperti mimpi rasanya mendengar cerita Bang Chandra kemarin."

"Gila memang kalau dipikir-pikir. Hebat pemuda-pemuda di Jawa Barat itu. Bisa mereka memaksa Soekarno mengumumkan kemerdekaan kita," Bang Chandra menimpali disela-sela mulutnya mengunyah sarapannya. "Bukan cuma ke seluruh pulau Jawa ini, tapi ke dunia. Ke dunia!" tambahnya berapi-api.

"Tambah lagi, Chan?" tanya Ibunya saat Chandra menghabiskan gelas teh panasnya.

"Tidak Bu. Sudah cukup. Saya harus segera berangkat." lanjutnya lagi sambil berdiri dari kursi. "Berangkat dulu ya, Dir, Bu."

"Ayo cepat habiskan makanmu. Sudah siang ini." ucapan Ibunya mengagetkan Dirga yang matanya tanpa sadar terpaku ke arah pintu dimana sedetik yang lalu sosok Chandra masih terlihat dan mengabaikan makannya.

Terkejut dengan sentuhan Ibunya di lengannya, Dirga menyuap nasi yang tersisa di piringnya dengan dua suapan besar, menenggak habis tehnya yang sudah mulai dingin dengan dua tegukan besar pula.

"Pelan-pelan." peringati Ibunya.

Dirga hanya tergelak dan segera mengumpulkan piring bekas makan mereka pagi itu untuk dibawanya ke sumur.

"Sudah, biar Ibu saja. Kamu cepat berangkat." Ibunya mengambil paksa tumpukan piring dari tangannya dan mendorongnya halus untuk segera bergegas.

Dirga kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan bergegas mengambil sepeda yang disandarkan di tembok dekat pintu depan. Setelah pamit kepada Ibunya, Dirga segera mengayuh sepeda peninggalan bapaknya itu ke jalan berbatu di luar. Ia melirik ke jam di pergelangan tangannya dan melihat bahwa dia hanya punya sepuluh menit lagi sebelum waktu belajar dimulai.

Dia ingat saat kawan masa kecilnya memberikan barang berharga itu padanya. Sebelumnya, Dirga hanya bisa iri melihat Chandra yang mendapatkan jam saku dari mendiang ayah mereka. Ada masanya dimana Chandra bahkan tidak memperbolehkan Dirga menyentuh benda itu.

Untuk orang-orang pribumi seperti mereka, barang-barang modern seperti jam saku merupakan sebentuk barang mewah yang hanya bisa mereka lihat dipakai oleh para sosok-sosok berkuasa di sekitar mereka, pribumi dan orang Belanda. Sampai suatu hari Dirga mendapatkan jam tangan tersebut, pemberian dari kawan masa kecilnya di hari terakhirnya berada di bumi nusantara ini.