Actions

Work Header

Limerence

Summary:

Tawaran pekerjaan dari Park Jimin mengubah hidup Kim Taehyung lewat cara yang tidak terduga.

Notes:

Prompt:

buat jungkook, terserah antara idol, aktor, model, atau lainnya. lalu sm minta scene dimana taehyung cemburu dan sebaliknya juga hehe

---

Hello. Finally my first prompt of KVfesta is hereeee.
Sudah lama sekali sejak aku menulis Taekook, semoga masih belum kehilangan sentuhan, hehe.
Semoga kalian suka!

Penuh cinta,
Penulis.

Work Text:

/ ˈ lim ə r ə ns/

the state of being infatuated or obsessed with another person

 

 


 

 

 

PROLOGUE : A (Not-So) Unfortunate Accident

 

 

2018

 

Jadi begini kira-kira kondisi saat ini: Satu, sekarang pukul lima pagi. Dua, kamar dan wangi bergamot berpadu kayu-kayuan yang menempel di selimut yang Taehyung pakai terasa asing. Tiga, ia berada dalam keadaan telanjang bulat dengan beberapa kissmark terpampang acak di dada dan mungkin saja leher. Empat, ada seorang laki-laki bertubuh kekar tertidur membelakanginya, dengan tato mengintip lewat bahunya yang tidak tertutup selimut, rambut hitam ikal yang berantakan, dan suara dengkuran halus. Jelas bukan laki-laki yang akan ia tiduri dalam keadaan sadar.

Belum sempat menyortir pertanyaan-pertanyaan yang silang-sengkarut di dalam kepala, Taehyung memutuskan ia harus keluar dari sini. Setelah memastikan bahwa laki-laki itu masih tenggelam dalam lelap, Taehyung memunguti pakaiannya yang tersebar di atas lantai. Beberapa kancing kemejanya terlepas, berceceran di atas karpet berbulu warna abu-abu yang melapisi bagian bawah ranjang. Taehyung putuskan untuk tidak ambil pusing. Buru-buru ia tutupi tubuh telanjangnya dengan pakaian yang tak lagi rapi, meletakkan beberapa lembar uang di atas nakas, lantas berjalan cepat meninggalkan kamar.

Ingatan soal tadi malam terasa pudar di dalam kepala Taehyung yang masih berputar-putar. Dari memorinya yang sedikit kabur, Taehyung ingat ia mengikuti Jimin datang ke sebuah kelab malam, minum beberapa gelas cocktail , berdansa, ditinggalkan oleh Jimin, lalu seorang laki-laki datang ke arahnya. Taehyung masih ingat rasa panas di pinggangnya sewaktu lelaki itu menariknya mendekat. Ia masih ingat bagaimana ia berpikir berkali-kali bahwa lelaki itu tampan dan menarik. Ia ingat deru napas mereka beradu di keremangan lampu hotel yang bahkan tidak Taehyung ingat namanya. Ia ingat rasa manis sewaktu lidah laki-laki itu membelitnya rakus. Lalu semua buram.

 

 


 

 

ACT ONE : The Job

 

 

Kalau diminta menjelaskan soal dirinya sendiri, Taehyung akan otomatis berkata kalau ia adalah orang yang hidup untuk hari ini. Ia tidak hidup di masa lalu, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mencemaskan masa depan. Mendiang ayahnya selalu mengingatkan Taehyung untuk mengerahkan segala potensi dan upaya terbaiknya untuk hal-hal yang sedang berlangsung. Tiga bulan kemudian, ayah meninggal. Dan Taehyung harus membawa bingkai foto milik ayah dengan perasaan gamang sewaktu mengantar peti matinya ke rumah duka.

Kini, sewaktu Taehyung mengingat kembali hari itu, barangkali ayah sedang berusaha mempersiapkan Taehyung menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang menyedihkan. Agar anak lelakinya kelak tidak berlarut-larut menangisi kepergiannya. Agar segala sesuatu yang sudah terlewat tidak terus masuk dalam kamus penyesalan Taehyung. Sebab bukankah manusia selalu punya batas selebar apa tangannya bisa memeluk?

Langsung mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah adalah sebuah privilese yang Taehyung dapatkan berkat sahabatnya, Park Jimin. Teman-temannya yang lain masih berisik di chat room angkatan, mengeluh soal satu lagi e-mail penolakan setelah belasan penolakan-penolakan di hari yang lain. Sebut saja Minho, yang berakhir menurunkan ego dengan menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan periklanan milik orang tuanya setelah bertahun-tahun gembar-gembor ingin mandiri. Atau Hyungsik, yang pada akhirnya memutuskan untuk membuka usaha penyewaan alat-alat mendaki setelah ditolak sana-sini oleh berbagai perusahaan IT.

Dua bulan setelah wisuda, masih dengan euforia kelulusan menggantung di udara, Jimin menghubungi Taehyung. Teman sekolahnya yang lulus lebih dulu setelah menunda mendaftar wajib militer itu meminta Taehyung menggantikannya selama ia menjalankan tugas sebagai tentara angkatan darat.

Seingat Taehyung, Jimin bekerja sebagai seorang perias. Pekerjaan yang sama sekali tidak punya korelasi dengan empat tahun pendidikannya sebagai mahasiswa Teknik Informatika. Gaji lumayan, fasilitas yang baik, teman-teman sekantor yang ramah, dan akses transportasi yang mudah adalah segelintir kelebihan yang diiming-imingi Jimin pada Taehyung dalam satu setengah jam percakapan telepon mereka. Bumbu bagi alasan-alasan mengapa Taehyung tidak boleh menolak tawaran itu andai kata ia belum gila.

“Serius, kamu tidak akan menyesal. Ini kesempatan bagus, Taehyung. Aku tahu kalau kamu masih menyimpan sertifikat kursus rias yang pernah kita ikuti di SMA. Itu saja sudah cukup, kok.”

Taehyung menarik napas pendek. “Tapi tetap saja dong, Jimin. Masa’ aku tiba-tiba datang ke sana dan bilang kalau kamu minta aku gantikan? Memangnya kamu siapa? Presiden direktur? Main tunjuk-tunjuk pengganti seenak hati.”

Jimin terkekeh. “Justru itu. Mereka sudah mencoba cari pengganti, tapi sayangnya tidak ada yang cocok. Akhirnya mereka minta rekomendasi dariku, jadi kuserahkan saja nama kamu,” Jimin menerangkan dengan sabar. “Sudah, santai saja. Mereka sudah tahu track record kamu dariku, kok. Kamu tinggal datang ke sana, satu bulan probation , lalu semua selesai! Kalau hasilnya bagus, kamu bisa langsung tanda tangan kontrak satu tahun penuh.”

Taehyung akui, tawaran Jimin betul-betul menggoda. Tapi Taehyung masih enggan melepaskan sedikit egonya yang tersisa untuk mengejar kursi di perusahaan-perusahaan besar sebagai IT officer . Ia masih tidak mau melepas enam tahun delapan bulan masa kuliahnya untuk bekerja sebagai penata rias (yang rupanya bisa didapatkan lewat sertifikat kursus tiga bulan saja).

“Kalau mengikuti terus idealisme, kapan bisa dapat kerjanya, Taehyung?” Ibu menceramahi Taehyung sewaktu mereka makan malam bersama. “Coba kamu ingat-ingat lagi ada berapa orang teman kamu yang berhasil masuk perusahaan besar? Atau perusahaan kecil? Atau justru harus menerima realita dan bekerja di bidang lain yang tidak sesuai sama sekali dengan jurusan kuliah kalian?”

Taehyung menggigit bibirnya. “Tapi memangnya Ibu tidak merasa sayang sudah membiayai kuliahku mahal-mahal tapi aku malah jadi perias?”

“Tidak, dong,” ibu menjawab kalem. “Bukannya Ibu pernah bilang, kalau ilmu itu, apa pun bentuknya, akan selalu baik untuk dipelajari? Siapa tahu nanti, entah kapan, kamu akan membutuhkannya."

Setelah bicara berdua dengan ibu, tanpa merasa perlu berpikir ulang, Taehyung putuskan untuk datang dan mencoba. Esok harinya, ia bangun pagi-pagi, sarapan, mampir ke kedai kopi, dan sampai di gedung HYBE Entertainment dua puluh menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan dengan segelas americano hangat yang uapnya masih mengepul. Berulang kali Taehyung coba menenangkan diri, berusaha meredakan debar jantung yang mendadak seperti berlarian dengan waktu. Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia kembali diingatkan bahwa tempat Jimin bekerja bukanlah agensi kecil yang tidak punya prospek sama sekali. Gedung pencakar langit di hadapannya ini sudah cukup jadi bukti.

'Bisa, bisa. Kamu pasti bisa, Kim Taehyung ,' rapalnya dalam hati seolah sedang mengucap mantra.

“Kim Taehyung?” Seorang perempuan cantik berkulit pucat menyapa Taehyung yang duduk sendirian di lobi utama. Rambutnya yang diikat kepang ia sampirkan di bahu, mempertegas aura elegan yang entah bagaimana beresonansi dari keberadaannya sendiri. “Lama menunggu?”

Taehyung menggeleng. “Ah, tidak, kok. Baru duduk sebentar. Dengan Bae Joohyun- ssi ?”

Perempuan itu mengangguk. “Panggil Joohyun saja, atau Kak Jooohyun kalau mau. Salam kenal,” tukasnya, mengulurkan sebelah tangan yang kemudian Taehyung sambut hangat. “Kita langsung ke atas saja, ya? Kenalan dengan yang lain. Sebelum mulai make up , kamu harus kenal dulu dengan artis yang kamu tangani agar tidak terlalu canggung.”

Buru-buru Taehyung mengambil tas punggung yang ia tinggalkan bersandar pada sofa, lantas mengekori langkah kecil kaki-kaki Joohyun yang berjalan satu langkah di depannya. “Kalau boleh tahu, aku nanti handle artis yang mana ya, Kak?”

“Jimin memangnya tidak memberi tahu kamu?” Joohyun bertanya, yang dibalas Taehyung dengan gelengan kepala. “Kamu nanti handle Namjoon Direwolves, ya. Kim Namjoon. Tahu, kan?”

Taehyung menelan ludah. Pikirnya ia akan menangani artis rookie yang baru debut. Atau mungkin model biasa yang hanya butuh dirias untuk foto produk saja. Kalau beruntung, Taehyung mungkin bisa menangani model-model yang menghadiri fashion week atau aktor yang berperan sebagai pemeran pembantu.

Tapi Direwolves? Bisa-bisanya Jimin menangani band besar macam itu dan Taehyung tidak pernah tahu? Rasa-rasanya, pertanyaan yang tadi meluncur bebas dari bibir tipis Joohyun terdengar kurang tepat di situasi ini. Persoalannya di sini adalah: siapa pula penduduk Korea yang tidak kenal Direwolves? 



 

Mampus.

“Hei, Gguk, kamu tidak apa-apa?”

Mampus dua kali.

Laki-laki yang dipanggil ‘Gguk’ itu melirik sebentar pada Namjoon yang bertanya, lantas memberi anggukan sebagai jawaban. Taehyung masih menunduk, masih menggenggam lipstik yang beberapa detik lalu sukses menodai kostum panggung milik Jeongguk yang sialnya berwarna putih. Laki-laki di hadapannya belum bergerak, masih berada pada posisi di mana Taehyung menabraknya tadi, lantas meninggalkan jejak berwarna merah muda lebar pada fabrik pakaiannya.

“Ya ampun Taehyung, kenapa ceroboh sekali, sih?” Stylist Park Sooyoung menghela napas kasar. Taehyung hanya menunduk sambil berulang kali berkata maaf.

“Sudahlah, tidak masalah. Membuat kesalahan itu wajar,” suara Jeongguk, yang ternyata jauh lebih dalam dan jauh lebih menyenangkan ketimbang yang pernah Taehyung dengar di lagu-lagu Direwolves atau wawancara mereka, menyela. “Aku tinggal ganti pakaian saja, kok. Ada baju lain, kan?”

Sooyoung mengangguk, lantas memberi sinyal pada Jeongguk agar laki-laki itu mengikutinya ke bagian kostum. Taehyung masih menunduk, masih bergumul dengan rasa bersalah dan ketidakpuasan atas dirinya sendiri. Mati-matian ia coba menahan tangis, menolak menjadi si anak baru cengeng yang tidak becus bekerja. Barangkali lantaran melihat keadaan Taehyung yang tampak terpukul, Jeongguk menepuk ringan bahu laki-laki itu. Berniat mengurangi sedikit rasa bersalahnya.

“Sudah, aku tidak apa-apa. Kamu sudah bekerja keras,” katanya, matanya yang sehitam jelaga menatap Taehyung dengan tatapan teduh yang anehnya familier. Seolah laki-laki itu mengenal Taehyung.

Aneh sekali, kan? Masa’ iya artis terkenal seperti Jeongguk Direwolves mengenal nobody seperti Taehyung?

Tidak membuang waktu, Jeongguk bergegas mengikuti Sooyoung tanpa merasa perlu mendengar ucapan terima kasih Taehyung yang terlantun pelan sekali. Berkali-kali Taehyung melirik pada Jeongguk, didasari oleh rasa bersalah di dalam hati, dan memperhatikan bagaimana lelaki itu berganti baju dengan begitu santai di depan banyak sekali orang berlalu-lalang. Taehyung menelan ludah sewaktu ia tangkap gambar-gambar permanen yang ada pada lengan kanan Jeongguk—memenuhi kulitnya dari bahu sampai ke pergelangan tangan—sebelum kemudian berpikir bahwa rasa-rasanya ia pernah melihat gambar-gambar itu; tapi di mana?

Ah, mungkin di internet , pikirnya.

 

 


 

 

ACT TWO : You, and Thousands of Stars Above Tokyo That Night

 

 

2019

 

“Hai,” adalah sapaan yang Jeon Jeongguk pilih sewaktu ketidaksengajaan membawa Taehyung berpapasan dengan laki-laki itu di lift yang kosong pukul sembilan malam. 

Kalau Taehyung tidak salah ingat, ia berada dua lantai di bawah Jeon Jeongguk dan anggota Direwolves yang lain. Selama dua hari menginap di hotel ini, tidak satu kali pun ia pernah secara tidak sengaja bertemu mereka di luar jadwal. Hal yang Taehyung cukup syukuri mengingat kesalahannya pada Jeon Jeongguk dua bulan yang lalu membuatnya kesulitan mengusir rasa canggung setiap kali mereka bertatap mata. Lagi pula, Jeon Jeongguk punya semacam aura yang sedikit menyeramkan. Sewaktu Taehyung berkeluh-kesah pada Jimin mengenai ini, sahabatnya itu hanya tertawa dan berkata, ‘Itu namanya karisma, bodoh,’ padanya. Apa pun itu, aura itu mencegah Taehyung mendekat dan mendorongnya untuk terus menjaga jarak.

Dan seisi dunia tampaknya sedang iseng padanya malam ini.

“H-Hai …” Taehyung membalas canggung. Suaranya terdengar seperti cicit tikus kecil di hadapan seekor singa. Ia menggigiti bibir, menimbang-nimbang soal haruskah ia masuk ke dalam lift dan menghabiskan beberapa menit di ruang tertutup dengan laki-laki paling ia hindari, atau kembali ke kamar seperti seorang pengecut tidak sopan dan memberi Jeongguk sinyal yang jelas kalau ia ingin menjauhi laki-laki itu.

Tangan Jeongguk menahan pintu lift menutup. Lewat tatapan matanya yang malam itu terlihat jauh lebih menyeramkan (percayalah, ini hanya sugesti Taehyung yang ketakutan), ia mengirim pertanyaan nonverbal soal kapan Taehyung akan naik alih-alih diam membeku di depan pintu seperti orang linglung.

“Te-t-terima kasih,” kata Taehyung susah payah, lantas melangkah masuk ke dalam lift dengan hati yang berat dan keringat yang mulai muncul di leher dan pelipis.

“Kamu mau ke mana?” Jeongguk bertanya. Tangannya memberi gestur seolah mempersilakan Taehyung menekan sendiri tombol lantai yang ia tuju. Taehyung menelan ludah, lantas menekan angka satu.

“Sama denganmu, kok,” balas Taehyung, tidak lagi tergagap meski suaranya masih terdengar seperti orang sakit tenggorokan.

“Bukan begitu maksudku,” Jeongguk terkekeh di ujung kalimat. “Ini sudah malam. Kamu keluar dengan pakaian rapi, jadi kamu pasti punya tujuan.”

“Oh,” Taehyung bergumam. Matanya melirik pada bayangan Jeongguk yang memantul di dinding lift, terpaku pada deretan giginya yang tampak sewaktu ia tersenyum lebar ke arah Taehyung. “Aku mau ... jalan-jalan ke Sungai Sumida.”

“Sendirian saja?”

Taehyung mengangguk.

Suara Jeongguk kemudian terdengar riang. “Aku ikut, boleh?”



 

Taehyung tidak mengerti kenapa ia menganggukkan kepala. Ia tidak mengerti dari mana datangnya persetujuan itu sewaktu otaknya bahkan belum berhasil memproses pertanyaan Jeongguk. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa melalui jalanan ramai Tokyo dengan seorang selebriti berjalan bersisian dengannya, lalu menaiki kereta bersama dari Ginza ke Senju. Tentu saja Jeongguk menggunakan masker, topi, dan kaca mata bundar besar sebagai alat penyamaran. Tapi bahkan sekalipun Taehyung adalah orang paling awam, ia bisa tahu kalau laki-laki yang berjalan dengan hoodie hitam dan celana jin sobek-sobek ini adalah seorang artis.

Tidak ada terlalu banyak orang berjalan kaki di pinggiran sungai sewaktu Jeongguk dan Taehyung tiba. Barisan bunga sakura yang sesekali gugur memberi warna yang cantik pada nyala lampu malam Tokyo yang tidak pernah redup. Taehyung bisa merasakan pelan-pelan kegugupannya luruh oleh rasa tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup sebanyak mungkin aroma malam dan mendengar sebaik mungkin bunyi gerisik daun dan gemercik air ditiup angin. Untuk beberapa waktu yang tenang dan singkat itu, ia lupa bahwa Jeon Jeongguk berdiri di sampingnya sambil menatap dengan takjub.

“Kamu kelihatan tidak nyaman sejak kita datang ke sini.” Jeongguk membuka percakapan. Ia sedang memandang lurus pada permukaan sungai sewaktu Taehyung mencuri lirik.

“Ini adalah tur pertamaku,” Taehyung menjawab. Matanya terpaku pada nyala lampu di seberang. Rambutnya berkibar sedikit tertiup angin, tapi Taehyung tampak tidak mau ambil pusing membereskan helaian yang berantakan. “Aku rasa aku sedikit gugup. Tentu saja aku gugup, ini konser besar! Sebelum ini, mana pernah aku bermimpi akan berkeliling Asia untuk jadi seorang penata rias. Direwolves, pula.”

“Kamu melakukannya dengan baik,” kata Jeongguk setelah beberapa detik tidak membalas. “Kamu kelihatan gugup, tapi kamu bisa beradaptasi dengan cepat.”

Taehyung menoleh, menemukan bahwa laki-laki yang maskernya sudah melorot ke dagu itu sedang memandang ke arahnya dengan tatapan teduh. Taehyung tidak pernah berada sedekat ini dengan Jeongguk. Di bawah lampu jalan yang menyala terang, ia bisa melihat kalau mata Jeongguk sangat hitam dan besar. Seperti Bambi. Laki-laki itu punya sihir aneh yang membuat Taehyung terasa seperti ditelanjangi. Seolah Jeongguk bisa melihat segalanya; segalanya yang Taehyung coba pendam di dalam hati.

“Yah, pada akhirnya kita selalu punya pengalaman pertama, kan?” Taehyung membalas setelah beberapa kali berdeham gugup.

Jeongguk terkekeh, tapi tidak membalas.

“Sebenarnya datang dan melihat Sungai Sumida sudah masuk dalam rencanaku sejak kuliah. Aku dan Bogum punya banyak bucket list , omong-omong. Seperti mencicipi street food di Thailand atau makan malam romantis di Sky Tree. Kurasa kedatanganku ke sini sekarang lebih mirip seperti ucapan selamat tinggal,” Taehyung menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya dengan keras seperti sedang membuang beban. “Yah, tidak kusangka kami akan putus juga,” lanjutnya lagi sambil tertawa.

“Maaf karena kamu datang ke sini bersamaku sekarang,” Jeongguk berujar, dibumbui nada jenaka yang Taehyung tahu tidak bermaksud mengejeknya sama sekali. Jeongguk selalu begitu; selalu baik dan pengertian sejak pertama kali mereka bertemu.

Taehyung tertawa lagi. Ia menoleh pada Jeongguk dengan kedua mata yang menyipit dan berkata dengan tenang. “Tidak masalah. Itu sudah lama sekali. Lagi pula, kurasa aku tidak bisa meminta teman berjalan-jalan yang lebih baik, bukan begitu?”

Mata Jeongguk sedikit lebar lantaran terkejut. Laki-laki itu berdeham satu kali sebelum menjawab, “Ya, kurasa aku ini teman perjalanan yang cukup baik.”

 

 


 

 

ACT THREE : We’re Human After All

 

 

Sewaktu kembang api meledak di atas Tokyo Dome pukul sepuluh malam, Taehyung menangkap punggung Jeongguk mendekati ujung panggung. Tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti laki-laki itu, penasaran pada alasan kenapa Jeongguk berdiri sendiri di sudut ini alih-alih mengikuti anggota-anggota lain mengganti pakaian dan bersiap pulang ke hotel. Kaus putih yang Jeongguk pakai terlihat sempurna melekat di badan, menempel pada kulit lantaran banjir oleh keringat. Taehyung menahan napas saat kepalanya dengan kurang ajar memuji betapa proporsional dan bidang tubuh laki-laki yang dua tahun lebih tua darinya itu.

“Sedang apa?” Taehyung bertanya. Ia bisa melihat bahu Jeongguk sedikit berjengit terkejut. “Maaf, aku membuatmu kaget, ya?”

Jeongguk tidak menjawab. Alih-alih bicara, laki-laki itu mendongak menatap taburan kembang api di langit malam Tokyo, diikuti sorak-sorai penonton konser yang masih belum beranjak dari tempat mereka semula. Taehyung membiarkan Jeongguk larut dalam pikirannya sendiri, memberi ruang bagi laki-laki itu memikirkan apa pun yang hendak ia pikirkan.

Lalu air mata turun. Satu tetes, dua tetes, hingga tanpa sadar sudah menganak-sungai di pipi Jeongguk.

Ah, Taehyung sempat mendengar ini sewaktu membantu Namjoon membersihkan riasannya tadi. Soal Jeongguk yang tampak kecewa setelah membuat kesalahan di atas panggung. Salah nada, kalau Taehyung tak salah dengar. Beberapa kali Namjoon meminta Hoseok atau Seokjin untuk bicara pada Jeongguk setelah konser selesai; memastikan kalau dia tak larut dalam sedih berkepanjangan.

“Tidak apa-apa,” Taehyung berkata lembut. Tangannya menepuk-nepuk bahu Jeongguk yang bergetar. “Kamu sudah bekerja keras hari ini, Jeongguk.”

“Ah, bodoh sekali,” Jeongguk bergumam, yang ditujukan pada dirinya sendiri.

“Kamu tetap keren sekali, tadi. Kamu pernah bilang padaku, kan, sewaktu aku tidak sengaja mengotori pakaianmu dengan lipstik? Kamu bilang, ‘membuat kesalahan itu wajar’ . Tidak apa-apa. Kamu bisa lebih baik di lain waktu.”

Jeongguk mendongak, kembali memandang pada kembang api yang masih terus meledak di udara. Taehyung bisa melihat wajahnya bersinar di bawah cahaya warna-warni. “Mungkin saja ada dari mereka yang baru datang hari ini, lalu tidak akan pernah lagi punya kesempatan untuk datang di lain hari,” Jeongguk menggigit bibir. Ia menoleh ke arah Taehyung dengan sorot mata terluka. “Aku baru saja membuat mereka kecewa.”

Lalu entah mendapat dorongan dari mana, Taehyung mengangkat tangan. Ibu jarinya mengusap air mata di wajah Jeongguk dengan lembut dan pelan. “Mereka tidak akan pernah kecewa,” kata Taehyung. 

Jeongguk memejamkan mata, tampak menikmati usapan yang Taehyung berikan di permukaan pipinya yang baru saja basah oleh tangis. Sorak-sorai di Tokyo Dome bergema dengan nyaring, tapi kedua laki-laki itu seolah sedang terperangkap dalam hening. Seolah tempat mereka berdiri dan udara yang mengelilingi mereka baru saja memisahkan diri dari realita.

Malam itu di sudut panggung, hanya ada mereka berdua.

 

 


 

 

ACT FOUR : Your Eyes Tell

 

 

Taehyung terbangun oleh getar ponsel yang berkali-kali mengganggu mimpi tenangnya. Ia menggapai-gapai ke ruang kosong di samping bantal, mencari benda pipih yang sejak tadi diganggu oleh belasan pesan. Matanya yang masih rapat oleh kantuk menangkap angka-angka pada layar yang menyala; masih pukul setengah tujuh pagi. Masih terlalu dini untuk memulai akhir pekannya yang jarang diisi senggang. Ah, siapa pun itu yang mengganggu waktu libur Taehyung yang langka sebaiknya bersiap menerima kemarahannya.

 

Jeon Jeongguk (That Vocalist)

Hei

Maaf mengganggu pagi-pagi

Aku mau mengirimkan sesuatu

Kalau kau senggang

Dengarkan rekaman ini, ya

Beri tahu aku pendapatmu, oke?

Aku butuh masukan

Not that the others doesn’t have one

Ah

Pokoknya begitu

Ini dia

[demo-11]

Beri tahu aku pendapatmu

Yang paling jujur

Jangan merasa tidak enak dan kemukakan saja, oke?

Terima kasih

Selamat pagi, Kim Taehyung

P.S. Aku tahu kau masih tidur

 

Oh, Jeon Jeongguk.

Tunggu ... apa?

Jeon Jeongguk?

Melompat bangun, Taehyung menggosok-gosok kedua matanya berkali-kali. Ah, Jeongguk pasti lagi-lagi terbangun semalaman untuk menulis lagu; seperti apa yang laki-laki itu ceritakan pada Taehyung dalam pesan-pesan singkat mereka yang sebagian besar berisi hal-hal tidak penting. Tapi untuk mengirimkan demo lagu di pagi hari adalah hal yang baru bagi Taehyung. Terlebih lagi, dia? Kim Taehyung? Yang memetik senar gitar saja tidak pernah?

Atau barangkali memang itulah yang Jeongguk butuhkan. Sebuah pendapat dari orang yang seratus persen asing di hadapan musik. Apa pun alasannya, Taehyung pikir tidak ada salahnya mencoba.

Why do all the tears just

Keep overflowing like this

Hey, stay by my side

And laugh

Suara Jeongguk terdengar serak membuka lagu diikuti dentingan piano. Taehyung tanpa sadar menahan napas. Berkali-kali ia mendengar Jeongguk bernyanyi di atas panggung, bermandikan peluh, dengan kesungguhan di kedua matanya yang kadang memicing serius. Berkali-kali Taehyung mengatakan pada dirinya sendiri bahwa popularitas yang didapat Jeon Jeongguk adalah harga yang sangat murah di hadapan nyanyian laki-laki itu; di hadapan bakatnya yang seolah tidak mengenal cukup.

Lagu berhenti, dan Taehyung mengulangnya kembali. Terus begitu sampai tanpa sadar ia mulai bisa ikut bersenandung bersama Jeongguk dalam rekaman suara. Ah, ia harus memuji Jeongguk untuk lagu yang satu ini.

Ibu jari Taehyung menari di atas layar ponsel, mencari satu kontak yang sejak tadi bercokol dalam kepala. Jeon Jeongguk (That Vocalist) adalah nama yang ia pilih sewaktu Jeongguk memintanya menyimpan nomor laki-laki itu. Nama yang Jeongguk protes sebab katanya terlalu formal, tapi tetap Taehyung pertahankan karena— yah, ia memang keras kepala saja .

“Halo?” Suara Jeongguk terdengar serak di ujung sambungan. Jeongguk terdengar mengantuk, dan Taehyung mendadak merasa bersalah karena sudah menelepon alih-alih membiarkan laki-laki itu beristirahat.

“Taehyung?” Jeongguk memanggil lagi, menarik Taehyung kembali dari lamunannya yang singkat.

“Ah, iya. Aku sudah dengar lagu yang kamu kirim.”

Jeongguk berdeham dua kali. “Menurut kamu bagaimana?”

Taehyung entah kenapa mendapat dorongan untuk terkekeh. Jeongguk terdengar gugup, atau mungkin itu hanya telinga Taehyung saja yang salah menafsirkan informasi. “Kamu yakin mau minta pendapatku? Aku ini tidak ahli soal musik, lho.”

“HYBE sudah membayar produser terkenal untuk mencerca demo yang kubuat. Aku perlu pendapat dari orang yang tidak ahli seperti kamu.”

“Terima kasih sudah menegaskan,” Taehyung mendengus. “Menurutku lagu kamu bagus. Tidak keras seperti lagu-lagu kalian yang biasanya, ya?”

“Kurasa memang yang ini agak berbeda,” kata Jeongguk. “Kamu suka?”

“Sejak kenal Direwolves, tidak pernah ada satu pun lagu kalian yang aku tidak suka.”

Jeongguk tertawa. “Senang punya penggemar yang bisa diandalkan seperti kamu.”

“Senang mendengar pujian dari The One and Only Jeon Jeongguk . Aku sampai bisa mendengar penggemar-penggemarmu yang lain berteriak karena iri.” Jeongguk tertawa lagi mendengar ejekan Taehyung yang sekilas terdengar seperti sarkasme.

“Kamu tidak ke kantor hari ini?” tanya Jeongguk. Taehyung bisa membayangkan laki-laki itu sedang menggigiti kuku di seberang sambungan.

“Kurasa tidak,” jawab Taehyung. “Kamu yang paling tahu Kak Namjoon ada jadwal atau tidak, kan?”

“Ah, ya. Dia sedang diam di halaman belakang sambil menyirami tanaman.”

“Kenapa? Kamu sudah rindu padaku?”

Jeda dua detik sebelum Jeongguk dengan suara seraknya menjawab. “Bohong kalau kujawab tidak.”

Taehyung menahan napas. Semburat-semburat merah dengan cepat merambat menaiki pipi. Hanya ada suara napasnya dan napas Jeongguk gantian terdengar dari telepon yang masih tersambung.

“Ah ...” Taehyung mengacak rambut depannya, salah tingkah. “Aku tutup dulu, ya? Aku harus ... uh ... menyirami bonsaiku.”

“... Iya.” Jeongguk terdengar sama salah tingkahnya. Dilihat dari bagaimana laki-laki itu tidak protes sekalipun ia tahu Taehyung tidak punya bonsai.

“Selamat tidur, Jeongguk.”

“Selamat pagi, Taehyung.”

Lalu sambungan mati, dan Taehyung menghabiskan hampir satu jam berguling-guling di atas ranjang dengan kaki terus menendang-nendang selimut.

 

 


 

 

ACT FIVE : The Price of Trust

 

 

‘... tertangkap baru saja keluar dari sebuah apartemen mahal yang diketahui merupakan tempat tinggal mantan pacarnya, Cha Eunwoo. Sampai saat ini, agensi dari Direwolves Jeongguk maupun Cha Eunwoo masih belum memberi keterangan.’

“Sudah berapa hari?” Jimin bertanya, suaranya timbul tenggelam.

Taehyung menggigiti bibirnya.

“Tae?”

“Lima hari ... mungkin?”

Jimin menarik napas panjang. “Selebriti dan skandal sudah bukan hal yang aneh lagi, Tae. Kamu harus mulai membiasakan diri mulai sekarang. Lagi pula, ini cuma mantan pacar saja. Kim Namjoon bahkan pernah digosipkan membayar seorang pelacur sewaktu dia menginap di hotel bersama kakak perempuannya.”

Suara Jimin bersahutan dengan teriakan dari para tentara yang sedang latihan. Taehyung perlu konsentrasi ekstra untuk menangkap apa yang hendak sahabatnya itu bicarakan, hanya untuk menemukan bahwa rasa tak nyaman dalam hatinya masih terus menggemuk oleh amarah. Ia tahu dari mana datangnya kekesalan ini. Taehyung hanya enggan mengakui kalau ia cemburu pada Cha Eunwoo dan waktu tiga bulan yang laki-laki itu habiskan sebagai kekasih Jeongguk.

“Ingat, kamu ini cuma penata rias.”

Ah, Jimin tidak perlu repot-repot bicara begitu untuk mengembalikan Taehyung ke tempatnya berada. Taehyung terus mengingat fakta yang satu itu, kok. Ia tahu di mana tempatnya dan di mana Jeongguk berdiri. Tidak perlu memperjelas hal itu sebab fakta yang dipertegas hanya membuatnya merasa semakin buruk.

“Aku tahu, kok. Kamu tidak perlu terus-terusan bicara begitu.”

Jimin mendengus di seberang sambungan. “Siapa tahu kamu lupa.”

“Tinggal setahun di militer membuat kamu makin menyebalkan, ya, Jimin?” Taehyung membalas. Nadanya terang-terangan menunjukkan rasa jengkel.

“Terima kasih atas pujiannya,” balas Jimin, diikuti oleh tawa kencang yang untuk kali ini betul-betul Taehyung benci.

Percakapan berlanjut. Diisi oleh pertanyaan-pertanyaan soal Taehyung dan pekerjaannya yang berjalan dengan lancar di luar dugaan. Diikuti oleh cerita-cerita menarik Jimin di tempatnya bertugas; pertanyaan-pertanyaan sederhana soal bagaimana keluarga Jimin, kegiatan sehari-hari Ibu Taehyung, dan hal-hal kecil yang mereka lewatkan selama keduanya berjauhan. Lima belas menit mengobrol, sambungan terputus sebab Jimin diminta menghadap atasannya dalam dua menit.

Kembali pada kamar tidurnya yang sempit dan ranjang milik Taehyung yang seprainya belum sempat ia ganti, Taehyung diingatkan pada foto-foto yang ia temukan di media sosial. Jeongguk dan Eunwoo, tertutup oleh hoodie , masker, dan topi. Keduanya berjalan bersisian di basemen gedung apartemen mewah di bilangan Gangnam sebelum masuk ke dalam Audi hitam yang asing di mata Taehyung. Barangkali pergi kencan, atau makan malam, atau melakukan apa pun yang sungguh tidak ingin Taehyung ketahui tapi tidak bisa berhenti ia pikirkan.

Perkembangan hubungan Taehyung dan Jeongguk sudah sampai pada pertukaran kabar yang rutin dan keluhan-keluhan kecil soal bagaimana hari-hari mereka berjalan. Taehyung tidak mau jadi besar kepala, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap. Sikap-sikap Jeongguk belakangan ini membuatnya merasa istimewa. Taehyung tahu ia dan Jeongguk tidak berada dalam level yang sama untuk bisa bersanding. Hanya saja, untuk satu kali ini saja, Taehyung tidak mau peduli.

Ponsel Taehyung berdering lagi. Awalnya ia pikir, mungkin saja itu Jimin, yang rupanya dikerjai teman-teman di baraknya seperti bagaimana rekan satu barak Taehyung kerap berbohong padanya soal panggilan dari atasan. Atau mungkin itu Joohyun, yang berjanji akan memberi Taehyung jadwal terbaru Direwolves dalam dua hari ini. Atau mungkin teman-teman sekolahnya yang masih berisik di group chat angkatan.

Tapi bukan. Nama yang muncul di layar itu adalah orang yang sudah mati-matian Taehyung hindari selama lima hari terakhir.

Jeon Jeongguk (That Vocalist)

Untuk yang entah kesekian kalinya, Taehyung memutuskan untuk tidak mengangkat. Dering ponselnya terus berbunyi, dan Taehyung masih bersikap pura-pura tuli sampai suaranya berhenti dan layarnya meredup kembali.

Ah, mungkin nanti. Ia harus mematikan dulu harapannya sebelum bisa bicara dengan Jeongguk lagi.



 

“Jeongguk sering uring-uringan belakangan ini,” kata Namjoon sewaktu Taehyung membubuhi bagian atas kelopak matanya dengan eye shadow berwarna abu-abu gelap. Ia duduk dengan tenang di atas kursi, abai pada gerakan tangan Taehyung yang baru saja berhenti. “Aku rasa kamu tahu alasannya. Iya tidak, Taehyung?”

“Aku tidak mengerti Kakak bicara apa.” Taehyung mencoba mengelak, kembali menyapu permukaan kulit Namjoon dengan kuas makeup kecil yang dipakainya untuk merapikan riasan.

“Kalian ini. Kalau mau berselisih, ya berselisih dalam diam saja, dong. Jangan membuatku jadi ikut-ikutan canggung.”

Taehyung mendengus. “Aku, kan, tidak melakukan apa-apa.”

Kelopak mata Namjoon terbuka. Iris matanya yang terlihat lebih hitam sore itu menatap Taehyung dengan tajam. “Susah sekali diberi tahu,” cibirnya. “Yah, tapi aku sudah memperkirakan ini, sih.”

“Kakak bicara apa, sih?” Taehyung susah payah menahan agar nadanya tidak terdengar jengkel. Meski tentu saja sia-sia sebab Namjoon bisa menangkap rasa kesalnya dengan baik.

“Sebentar lagi dia sampai ke sini,” kata Namjoon, sebelum bangkit dan menyisir poni depannya dengan gestur sok keren dibuat-buat. “Bicarakan dengan baik, ya. Jangan membuatku pusing lagi. Oke?”

Jeon Jeongguk sampai di ruang rias sewaktu pemotretan solo Namjoon sudah berjalan dua puluhan menit. Ia muncul dengan kemeja flanel kotak-kotak yang tampak kusut, rambut yang mencuat di sana-sini, serta napas terengah-engah sehabis berlari. Joohyun memandangnya dengan satu alis terangkat sewaktu laki-laki itu nyaris membanting pintu menutup. Perempuan cantik yang berusia empat tahun lebih tua dari Taehyung itu menatap dirinya dan Jeongguk secara bergantian sebelum meminta semua orang keluar. Taehyung menunduk dalam-dalam, merasa bahwa ia baru saja menjadi bagian dari skandal yang harus disembunyikan.

“Kamu di sini.”

Suara Jeongguk terdengar di sela hela napasnya yang terburu-buru. Napas Taehyung terasa tercekat oleh setiap langkah yang Jeongguk bawa mendekatinya. Menipisnya jarak membuat Taehyung punya keleluasaan untuk memperhatikan perubahan-perubahan kecil dari Jeongguk. Seperti bagaimana kantong matanya jadi lebih hitam, bagaimana kerutan halus di wajahnya terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya, juga bagaimana pipinya tampak lebih tirus.

Ah, sudah berapa lama Taehyung tak mengacuhkan Jeongguk untuknya tidak menyadari perubahan-perubahan itu?

“Dengarkan dulu,” Jeongguk berkata setelah menelan ludah. Napasnya perlahan-lahan kembali menemukan ritme teratur. Kedua tangannya memegang bahu Taehyung, memastikan laki-laki itu tidak lari seperti yang ia lakukan beberapa hari terakhir. “Aku dan Eunwoo adalah teman. Memang pernah lebih dari itu, tapi itu sudah cerita lama.”

“Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku, kok,” Taehyung menggigit bibir. “Aku tidak apa-apa.”

“Tidak bisa. Kamu harus tahu. Aku mau kamu tahu kalau aku tidak punya hubungan apa pun dengan Eunwoo selain teman.” Jari Jeongguk menyisir bagian depan rambutnya yang berantakan, mempertontonkan rasa frustrasinya terang-terangan. “Lagi pula hari itu kami tidak hanya berdua. Ada Yugyeom dan Mingyu juga. Aku bisa menunjukkan foto yang kami ambil setelahnya. Aku bersumpah aku ke sana hanya untuk menjemput Eunwoo saja karena apartemen kami satu arah.”

Ada kecamuk emosi yang tumpang-tindih di hati Taehyung sewaktu ia dengarkan penjelasan Jeongguk. Ada semacam rasa lega, sebab barangkali di luar dugaannya, ia sudah menunggu-nunggu penjelasan ini sejak berhari-hari yang lalu. Di sisi lain, ada keraguan menyusup masuk. Memotori tanya soal: memangnya dia siapa?

“Aku percaya kamu, kok, Jeongguk,” kata Taehyung. Tangannya menyentuh lembut lengan Jeongguk yang terlihat tegang. Ia coba pasang senyum di wajah, berupaya menunjukkan pada Jeongguk bahwa kekhawatirannya tidak perlu diperpanjang.

Jeongguk menatap Taehyung dengan sorot tidak percaya, masih belum mengendurkan cengkeraman tangannya di kedua bahu.

“Aku serius. Aku tidak apa-apa,” kata Taehyung. “Tapi terima kasih karena sudah menjelaskan, ya? Nah, sekarang kenapa kamu tidak duduk dulu sambil menunggu Kak Namjoon? Kamu pasti capek.”

Sorot mata Jeongguk menunjukkan bahwa ia masih ragu; bahwa laki-laki itu masih punya dugaan bahwa Taehyung tidak betul-betul baik-baik saja. Tapi Taehyung dengan sabar terus berkata bahwa ia tidak masalah, dan berterima kasih pada Jeongguk yang mau mencoba menjelaskan keadaan. Mau tidak mau, Jeongguk mengalah. Ia menghempaskan tubuh di atas kursi yang tadi diduduki Namjoon, memandang Taehyung yang salah tingkah lewat pantulan kaca dan tertawa.

Saat itu Jeongguk berpikir soal betapa menyenangkannya andai saja ia bisa memandang wajah tersipu itu untuk waktu yang lama.

“Jeongguk?” Taehyung memanggil, ia berdiri memunggungi Jeongguk. “Aku suka kamu.”

Jeongguk melotot. Kepalanya menoleh dengan cepat sampai ia pikir lehernya bisa saja patah sewaktu-waktu. Taehyung sedang menyembunyikan wajah di kedua telapak tangan sewaktu laki-laki di belakangnya bangkit berdiri. Dalam hatinya ia berkali-kali merutuki mulutnya yang tidak bisa berhenti bicara. Tanpa tedeng aling-aling, dan dengan kesadaran seratus persen, ia baru saja menyatakan perasaannya, bukan? Pada Jeon Jeongguk? The Jeon Jeongguk?

“Taehyung.”

Suara Jeongguk terdengar berat, dan lembut, dan menenangkan, dan merdu sekali. Taehyung selalu merasa jadi manusia paling berharga kalau mendengar cara Jeongguk bicara padanya. Berulang kali ia katakan pada dirinya sendiri bahwa barangkali ia adalah orang paling beruntung di dunia ini karena Jeon Jeongguk bicara dengan sangat halus padanya.

“Taehyung,” Jeongguk memanggil lagi. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Taehyung. Pelan dan tidak memaksa. “Lihat aku dulu, sini.”

“Tidak mau.”

Jeongguk terkekeh. “Sini, lihat dulu.”

“Malu, Jeongguk.”

Jeongguk tertawa renyah. “Serius deh, Taehyung,” Jeongguk berkata di sela-sela tawanya yang masih berderai. “Kenapa kamu selalu mendahului aku, sih?”

 

 


 

 

ACT SIX : A River of Feelings

 

 

JANGAN DIBALAS

Hai, Taehyung

Aku harap kamu belum ganti nomor.

Bagaimana kabarmu?

Maaf mendadak, tapi apa kita bisa bertemu akhir minggu ini?

Aku tunggu balasan kamu.

 

Tidak ada yang berubah dari hubungan Taehyung dan Jeongguk setelah pengakuan cinta yang mendadak itu. Mereka berdua bersikap seperti biasa. Jeongguk masih kadang iseng dan perhatian. Dan Taehyung masih terus-terusan tersipu setiap kali Jeongguk memperlakukannya dengan istimewa. Joohyun menatap Taehyung dengan pandangan awas, seolah berusaha memperingatinya untuk tidak bersikap berlebihan.

Terkadang Taehyung berpikir barangkali semua ini hanya produk dari mimpinya. Barangkali akan ada saat di mana ia bangun dan menemukan bahwa dirinya hanya seorang lulusan Teknik Informatika yang masih pengangguran. Taehyung masih perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan hanya lamunan siang hari, dan bahwa Jeon Jeongguk memang benar-benar menatapnya dengan ketertarikan yang nyata.

“Padahal aku sudah berniat mau bilang suka lebih dulu.”

“Kamu yakin tidak sedang iseng?” Taehyung bertanya sewaktu Direwolves menunggu giliran tampil di ruang ganti. Namjoon sedang ditangani Yerim menata rambut.

Jeon Jeongguk, dengan turtleneck hitam dan jaket kulit warna senada duduk dengan tenang di kursi rias. Matanya tertutup rapat sewaktu Taehyung membubuhkan eye shadow cokelat tua pada kelopaknya yang cantik. “Kamu sudah sembilan kali bertanya.”

“Kamu menghitung?”

Jeongguk mengangkat bahu. “Hanya sedang berlebihan saja,” jawabnya iseng.

Taehyung berdecak.

“Aku suka kamu,” kata Jeongguk tiba-tiba. Suaranya pelan sekali. Hanya cukup untuk terdengar Taehyung seorang. “Aku suka kamu, Kim Taehyung. Akan aku katakan terus sampai kamu bosan.”

Taehyung menahan napas. Tidak perlu bercermin untuk tahu kalau wajahnya sudah memerah sampai ke leher. Yerim melirik padanya dengan pandangan malas. Barangkali bosan melihat reaksi Taehyung yang terus-menerus sama setiap kali ia berhadapan dengan Jeongguk.

“Diam, kamu.”

Jeongguk tergelak. Tawanya terdengar merdu dan cukup keras untuk membuat orang-orang melirik ke arah mereka berdua. Hoseok terkekeh di seberang ruangan, diikuti Seokjin sebelum keduanya berbisik-bisik dan asyik pada percakapan yang hanya mereka berdua mengerti. Yoongi masih tertidur, barangkali habis bergadang menulis lagu tadi malam. Jeongguk berkali-kali berkata bahwa bergadang atau tidak, Yoongi akan selalu tertidur. Tapi Taehyung lebih suka menganggap Yoongi habis bekerja ketimbang berpikir kalau tidur adalah salah satu dari hobinya.

“Jeongguk,” Taehyung memanggil lagi. Tangannya dengan cekatan merapikan pinggiran eye shadow dengan kuas. Susah payah ia abaikan tatapan menggoda yang Sooyoung dan Jihoon kirimkan diikuti kedipan mata genit sesekali. “Kamu ingat Bogum, tidak?”

“Mantan pacarmu yang tidak jadi menemani kamu main ke Sumida?”

“Iya, yang itu.” Taehyung menggigit bibir. Tangannya berhenti menyapukan eye shadow setelah dinilainya rapi. “Dia mengirim pesan padaku tadi pagi. Minta bertemu. Sepertinya penting, mengingat dia tidak ada basa-basi lebih dulu dan langsung mengajak.”

Jeongguk membuka mata. Tatapannya yang menghujani Taehyung tampak dingin dan tajam. Taehyung menangkap ketidaksukaan pada kedua mata itu, yang membuatnya senang sekaligus cemas. “Mau apa dia?” tanyanya. Taehyung sedikit bergidik.

“Kalau aku tahu, aku sudah bilang padamu,” jawabnya, berusaha mempertahankan ketenangan sebisa mungkin.

Jeongguk mendorong dinding pipinya dengan lidah. Sebuah gestur sederhana yang ia buat sewaktu tidak menyukai sesuatu. Taehyung menangkap dengan cepat perubahan suasana hati Jeongguk dan memutuskan untuk tidak memperpanjang bahasan.

“Aku tidak mau kamu pergi, tapi aku tidak mau melarang.”

Taehyung tersenyum simpul. “Jangan ambigu begitu.”

Ujung-ujung jemari Jeongguk yang dingin menyentuh punggung tangan Taehyung; merayap di permukaan kulitnya sebelum membawa tangan itu dalam genggaman. “Aku tidak mau kamu pergi, Taehyung,” kata Jeongguk dengan suara rendah seolah sedang memohon. “Atau kamu bisa pergi, tapi harus aku temani.”

“Bercandamu menyeramkan, deh. Aku tidak mau masuk headline Dispath.”

“Makanya, jangan pergi.”

Aduh, aduh. Taehyung sudah pernah bilang belum, kalau mata Jeongguk yang berbinar-binar dan menatapnya sayu sudah resmi masuk dalam daftar hal-hal yang membuatnya lemah? Sebab bagaimana bisa Taehyung bersikap tegas kalau Jeon Jeongguk yang itu , yang biasa terlihat garang dan penuh wibawa di atas panggung, mendadak menjadi seperti anak anjing kecil yang minta dimanjakan?

Pada akhirnya Taehyung hanya menghela napas, membalas genggaman Jeongguk dengan hangat sebelum berbisik malu-malu. “Ya sudah kalau kamu tidak izinkan. Nanti aku tolak permintaannya.”

Lalu Jeongguk tersenyum, lebar sekali sampai kedua matanya menyipit. Taehyung sampai bisa membayangkan telinga dan ekor anjing imajiner menempel pada laki-laki yang dua tahun lebih tua darinya itu sedang mengibas-ngibas di udara. Ia terkekeh, meremas pelan tangan Jeongguk sebelum melepaskan genggaman tangannya untuk membalas pesan Bogum yang sejak pagi total ia abaikan.

 

JANGAN DIBALAS

Ah, ya sudah kalau kamu tidak bisa datang.

Aku mau mengirim undangan

[picture]

[link]

Kalau kamu berkenan, datang ke pernikahanku ya, Taehyung.

Dan aku minta maaf untuk segala hal yang terjadi di masa lalu.

 

 


 

 

ACT SEVEN : To Love and To Be Loved

 

 

Jeongguk muncul di depan rumah Taehyung pada Sabtu malam dengan masker hitam, kacamata bulat dan topi yang menutupi hampir seluruh wajah. Ibu sudah tidur dengan lelap di kamarnya yang gelap. Audi biru tua yang Jeongguk kendarai sampai ke rumah Taehyung masih menyala, tanda bahwa ia tidak berniat datang bertamu melainkan datang untuk membawa Taehyung pergi entah ke mana.

Seoul masih ramai sekalipun jam di ponsel sudah memasang angka sebelas. Orang-orang masih berlalu-lalang di pedestrian, beberapa menunggu lampu merah untuk mulai menyeberang. Taehyung memperhatikan aktivitas malam Seoul lewat kaca jendela ditemani Like Real People Do dari Hozier terputar dari radio mobil. Sesekali Jeongguk akan bersenandung mengikuti lagu, dan Taehyung tidak pernah gagal tersenyum setiap kali itu terjadi.

“Kamu mau bawa aku ke mana?” Taehyung bertanya, kembali memandang adimarga dan redup lampu jalan di depan mata.

“Sungai Han,” kata Jeongguk.

“Kamu mau bawa aku ke Sungai Han tengah malam begini? Yang benar saja.”

Jeongguk terkekeh. “Kamu harus lihat pemandangannya kalau malam. Bagus sekali dan tidak terlalu ramai. Aku tahu tempat yang agak sepi.”

“Haruskah aku takut kamu melakukan hal-hal mesum di sana?”

Tawa Jeongguk berderai-derai. “Imajinasi kamu benar-benar tidak bisa dikalahkan, ya?” katanya di sela-sela tawa. “Lagi pula buat apa aku melakukan itu di pinggir sungai kalau kita bisa melakukannya di tempat yang lebih baik?”

Taehyung bisa merasakan pipinya panas lantaran malu. “Duh, Jeongguk!”

“Ada yang harus aku akui pada kamu, dan melakukannya sambil makan ramyun instan dari toko kelontong di samping Sungai Han terdengar sempurna.”

Jeongguk benar-benar melakukan itu. Ia meminta Taehyung untuk membeli dua cup ramyun yang sudah diseduh dan dua botol air mineral dingin di toko kelontong dekat sungai (karena melakukannya sendiri akan sangat berisiko— he’s Direwolves’ Jeongguk , after all ), dan memarkirkan mobilnya di area parkir tersedia beberapa ratus meter dari pinggiran sungai. Seperti yang Jeongguk bilang, pukul sebelas tiga puluh sewaktu mereka sampai, area itu sudah sepi. Hanya ada satu-dua pasangan berlalu-lalang, membuat Jeongguk tidak perlu repot-repot menyembunyikan diri seperti seorang buronan polisi.

“Minggu depan pernikahan mantan pacarmu, kan?” Jeongguk bertanya. Tangannya meletakkan mangkuk ramyun yang sudah kosong di atas undakan tangga yang mereka duduki.

Taehyung mengangguk, masih disibukkan dengan mi miliknya yang belum habis.

“Aku ikut, ya?”

Taehyung terbatuk seketika; terkejut mendapati permintaan Jeongguk yang tiba-tiba. Ia menoleh cepat, memandang Jeongguk dengan tatapan tidak percaya. Di kepalanya berputar-putar penghakiman semacam: Jeongguk mungkin sudah gila, atau ia yang mendadak bisa berhalusinasi.

“Aku ikut. Boleh, tidak?”

“Kamu gila, ya?”

Jeongguk mendengus. “Terakhir aku cek, aku masih waras dan baik-baik saja.”

“Tidak, maksudku bukan itu.” Tangan Taehyung terangkat ke udara, memberi gestur agar Jeongguk berhenti bicara. “Kamu tidak lupa, kan, kalau wajahmu itu ada di mana-mana? Di bus yang aku naiki, di papan iklan, bahkan di televisi?”

“Tidak perlu mengingatkan kalau aku se-terkenal itu. Aku sudah tahu.”

Taehyung berdecak sebal. “Maksudku, apa kata orang kalau kamu datang ke pernikahan mantan pacarku, bersamaku, Jeongguk? Lagi pula nanti semua orang bertanya-tanya aku siapa sampai bisa menyeretmu datang ke pernikahan orang.”

“Pacar?”

Jeda, panjang sekali. Taehyung sempurna melupakan ramyun miliknya yang mungkin sudah mengembang setelah diabaikan cukup lama. Matanya membulat lebar, menunjukkan betapa kaget laki-laki itu mendengar jawaban Jeongguk yang tidak ia duga. Jeongguk sendiri, di sisi lain, masih sabar menunggu Taehyung mencerna situasi. Ia membuka kaleng kopinya sambil memandang permukaan sungai yang mengalir tenang.

“Jangan bercanda.” Suara Taehyung terdengar galak. Kontras dengan wajahnya yang sudah sewarna tomat matang.

“Aku tidak bercanda. Aku sedang bertanya, kamu mau atau tidak kalau kuakui sebagai pacar?”

Taehyung menggigit bibir. “Kamu serius? Di sini? Tanpa ada bunga, atau hadiah? Kamu bahkan tidak berlutut di depanku dan malah asyik minum kopi?”

Kedua sudut bibir Jeongguk tertarik membentuk seringai. “Kamu ingat tidak, Octagon, Gangnam, Agustus dua ribu delapan belas? Kamu datang dengan kaus abu-abu, jaket kulit hitam dan skinny jeans hitam. Rambutmu sedikit lebih panjang, lebih keriting, dan kamu ikat kuda.”

“Kamu—“

“Kamu minum sendirian di meja bar, mengeluh karena Jimin meninggalkanmu  dan asyik di lantai dansa dengan orang yang kuingat sebagai Hoseok. Kami datang untuk menonton Yoongi yang malam itu kebetulan sedang jadi DJ. Aku mendatangi kamu dan mengajakmu bicara, tapi kamu naik ke pangkuanku dan berkata kalau aku tampan.”

“Tunggu!” Taehyung membekap mulut Jeongguk dengan tangan kanannya, tidak membiarkan mulut itu mengeluarkan lebih banyak kata. Kepalanya berantakan oleh informasi tiba-tiba yang Jeongguk berikan tanpa aba-aba. “Kenapa kamu bisa tahu?”

Jeongguk terkekeh. Iseng, laki-laki itu menjilat telapak tangan Taehyung yang menutupi mulutnya, membuat orang yang namanya disebut belakangan buru-buru menarik tangan dengan wajah memerah; entah karena malu atau marah. “Kamu tidak berhenti hanya dengan memuji saja, Taehyung.”

“Tunggu, tunggu! Jadi kamu--?”

Jeongguk menganggukkan kepala. Senyum di wajahnya entah bagaimana tampak angkuh dan jenaka di waktu yang sama. “Iya. Laki-laki yang kamu tinggalkan di kamar hotel dengan dua ratus ribu won di atas nakas.”

Taehyung berteriak, refleks. Sepasang pejalan kaki menoleh padanya dengan pandangan khawatir sebelum Taehyung buru-buru berkata pada mereka bahwa ia tidak apa-apa. Lantas ia tenggelamkan wajah pada kedua lutut, mengabaikan tawa Jeongguk dan rasa malu yang seharusnya sudah ia miliki sejak mereka pertama kali bertemu. Tentu saja. Bagaimana bisa Taehyung lupa pada gambar tato laki-laki itu—yang jadi pembuka pagi harinya yang mengejutkan. Gambar yang sama dengan yang pernah ia lihat terpampang di bahu Jeongguk. Lalu pertanyaan paling pentingnya: sejak kapan Jeongguk sadar?

“Taehyung?” Jeongguk memanggil. Tawanya sudah berhenti meski sesekali lelaki itu masih terkekeh-kekeh kecil. “Jadi bagaimana? Kamu mau tidak, kalau kujawab ‘pacar’ tiap kali ada yang bertanya status kita?”

“Tidak ada cokelat dan bunga?” tanya Taehyung. Nadanya lebih terdengar seperti merajuk. “Tidak berlutut di depanku?”

“Aku bisa saja melakukan itu kalau kamu mau. Tidak sekarang, dan tidak di sini. Tapi masalah memberi hubungan kita label, itu lain soal. Aku merasa kalau tidak segera, aku bisa saja kehilangan timing yang tepat. Kalau soal kamu, aku tidak berani ambil risiko itu.”

“Risiko kehilangan timing ?”

“Dan kehilangan kesempatan untuk menyebut Kim Taehyung yang lucu dan pengertian sebagai ‘milikku’.”

Taehyung memukul Jeongguk dengan satu tangan. Kepalanya masih sembunyi di balik telapak yang satu lagi, masih enggan memandang Jeongguk sebab malu. “Siapa yang ajari kamu gombal begitu, sih?” keluhnya, meski tidak betul-betul mengeluh.

“Jadi, jawabannya?”

Jeongguk sebetulnya tidak perlu bertanya. Sebab Taehyung pikir, he wears his heart on his sleeve. Tapi barangkali, ada banyak hal di dunia ini yang butuh penegasan; butuh pengakuan. Toh, kalau saja Taehyung berdiri di posisi Jeongguk saat ini, ia tentu akan butuh jawaban.

Jadi itulah yang Taehyung berikan.

“Mau.”

Senyum Jeongguk mengembang lebar sekali. Taehyung bisa melihat mata Jeongguk menyala oleh semangat dan rasa bahagia. Membuatnya mau tak mau berpikir bahwa menghabiskan seumur hidup memandangi tawa semacam itu rasanya adalah ide terbaik yang pernah Taehyung punya.

“Ah, sumpah,” Jeongguk menyumpah di tengah-tengah cengiran lebarnya. “Taehyung, aku betul-betul mau cium kamu, sekarang. Boleh, tidak?”

Ah, benar-benar. Ia betul-betul tidak perlu bertanya, karena Taehyung benar-benar tidak akan menolak.

 

 


 

 

F I N.