Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-19
Words:
2,748
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
26
Bookmarks:
3
Hits:
144

A Flight To Remember

Summary:

Jung Hoseok sangat suka naik pesawat.
Kim Seokjin, penggemar Coldplay garis keras.
Mereka bertemu dalam sebuah perjalanan untuk menikmati konser salah satu grup band terbaik di dunia. Coldplay.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jung Hoseok suka terbang. Naik pesawat terbang, lebih tepatnya.

Sebagai seorang Travel Blogger, ia merasa beruntung karena sangat menikmati bepergian dengan pesawat terbang. Tak terbayang bagaimana nasibnya jika ia membenci moda transportasi tersebut. Hoseok terbiasa pergi seorang diri. Dan salah satu hal yang ia sukai dari setiap perjalanan udara adalah, kejutan tentang siapa orang yang akan duduk di sampingnya.

Dalam satu bulan, setidaknya Hoseok akan naik pesawat dua kali. Pergi, dan pulang. Saat jadwal kegiatannya cukup padat, ia bisa menghabiskan tujuh kali naik pesawat dalam satu bulan. Kebanyakan orang mengganti passport karena habis masa berlakunya. Tidak dengan Hoseok. Ia selalu mengganti passport karena halaman untuk stempel imigrasi sudah habis terisi semua.

Sebagai frequent flyer, Hoseok terbiasa dengan berbagai karakter orang yang duduk di sampingnya. Bukan hanya karakter. Tapi juga penampilan, usia, dan aneka rupa wajah. Meskipun tidak membenci, namun di antara semua daftar, Hoseok paling kurang menyukai duduk di samping pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Ia lebih tahan duduk di samping anak kecil yang rewel ataupun bayi yang menangis tanpa henti. Tapi Hoseok tidak tahan melihat sepasang kekasih yang suka berciuman saat di pesawat. Ia bukan kesal. Ia hanya iri. Karena di antara sekian banyaknya hal yang sudah pernah dilakukan oleh seorang Jung Hoseok, melakukan perjalanan bersama kekasih tercinta tidak termasuk di dalamnya. Dan menurutnya, itu adalah sesuatu yang menyedihkan.

Hoseok sudah sering mendapati pria tampan atau perempuan cantik duduk di sampingnya. Ia sudah terbiasa akan hal itu. Seharusnya. Namun tetap saja, ketika seorang pria datang ke arah barisan kursinya, lalu duduk di sampingnya, Hoseok terpesona dan hampir lupa caranya bernapas.

Pria ini terlihat tinggi, berparas rupawan, memiliki dada yang bidang dengan bahu lebar. Dari aromanya, bisa tercium dengan jelas kalau pria ini menyemprotkan Bvlgari Aqva pada beberapa titik di tubuhnya. Singkatnya: pria ini tampan dan wangi.

“Permisi. Kamu menduduki seat belt saya. Boleh saya minta?”

“Oh, maaf.” Hoseok mengangkat badannya sedikit, lalu menarik tali yang tanpa sadar ia duduki. Kemudian menyerahkannya ke lelaki di sampingnya itu. Semua kegiatan tadi Hoseok lakukan tanpa memalingkan pandangannya dari pria itu sedetik pun. Seperti sedang menyelidiki sesuatu. Hosesok perlu memastikan bahwa pria ini adalah manusia.

“Terima kasih.” Ia tersenyum seraya mengambil tali sabuk pengaman dari tangan Hoseok.

Ralat. Pria ini tampan, wangi, bersuara lembut, dan memiliki senyum menawan.

Jakarta – Bangkok. Penerbangan selama kurang lebih tiga setengah jam akan menjadi sebuah perjalanan yang akan selalu diingat oleh Jung Hoseok.

✈✈

Pada ketinggian 33.000 kaki, ketika pesawat sudah berada pada titik stabil, saat lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah dimatikan, dan awak kabin mulai berjalan untuk membagikan makanan, biasanya di saat itulah percakapan basa-basi dengan penumpang di sebelah mulai dilakukan. Hoseok hapal betul dengan rutinitas ini. Biasanya dia adalah pihak yang diajak bicara. Tapi bagi Jung Hoseok, kali ini bukan hari yang biasa. Maka ia bersedia melakukan hal yang jarang ia lakukan.

“Jadi, urusan pekerjaan atau liburan?” Hoseok bertanya kepada pria di sebelahnya. Mencoba membuka percakapan dengan pertanyaan paling umum. Meskipun yang ditanya sedang fokus pada kindle yang ia pegang.

Memang terkesan kurang sopan mengganggu seseorang yang sedang menikmati bacaannya. Namun di luar dugaan, pria tersebut menoleh ke arah Hoseok sambil tersenyum.

“Liburan. Mau nonton Coldplay sih, lebih tepatnya. Kamu?”

“Kerja. Sambil liburan.” Hoseok menjawab penuh antusias. Tak lupa ia berikan senyum manis di akhir kalimatnya.

“Seru banget!” pria itu lalu meletakkan kindlenya di atas paha. Ia terlihat lebih tertarik berbicara dengan Hoseok daripada melanjutkan bacaannya.

Hoseok mengangguk penuh semangat. Saat matanya berpapasan dengan mata pria di sebelahnya itu, Hoseok menangkap ada kelelahan di matanya. Suaranya terdengar ceria saat ia mengatakan tujuan perjalanannya. Namun ada gurat sedih di wajahnya. Matanya terlihat agak sembab. Seperti ada sisa dari tangis semalam.

“Jung Hoseok.” mengucapkan namanya sambil mengulurkan tangan.

“Kim Seokjin.” meraih tangan Hoseok untuk bersalaman.

“Temen-temen kamu udah nyampe duluan di Bangkok, atau mereka nyusul?”

“Kenapa tiba-tiba nanya temen aku?”

“Kan kamu mau nonton konser. Masa sendirian?”

“Ya nggak mungkin sendirian lah. Aku nonton konser bareng puluhan ribu orang lainnya di Rajamangala. Kamu kira aku sekaya apa sampai bisa minta mereka bikin konser privat buat aku.” Seokjin cekikikan atas lelucon yang dibuatnya sendiri.

Astaga. Hoseok bengong mendengar jawaban Seokjin. Demi Tuhan. Bisa-bisanya pria dengan penampakan paripurna seperti ini memiliki selera humor bapak-bapak yang tentu saja jauh dari kata lucu. Namun anehnya, Hoseok tetap tertawa atas lelucon itu.

“Kerjaan kamu apa sih? Kok asik banget bisa sambil liburan?” Seokjin memilih untuk bertanya lebih banyak sehingga ia tidak perlu bercerita tentang dirinya.

Travel blogger. Kebetulan lagi dapet assignment dari salah satu majalah traveling. Mau ngeliput Songkran. Pas cek tanggal ternyata deketan sama konsernya Coldplay. Jadi ya sekalian aja.”

“Beruntung banget ya masih kebagian tiket.”

“Sebenarnya ini tuh tiket temanku. Tapi dia dapet tugas kantor. Makanya dia jual tiketnya ke aku. Kalau dia nggak dapet tugas mendadak, ya aku nggak akan punya tiketnya. Kadang semesta itu bekerja dengan cara yang misterius ya. Dia mengabulkan doa dengan cara yang semau-maunya aja gitu. Semoga aku nggak dianggap jahat ya.”

“Karena?” Seokjin menatap bingung.

“Bahagia di atas penderitaan orang lain.” jawab Hoseok sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kan bukan salah kamu kalau dia dapet tugas mendadak.” Seokjin mencoba menenangkan.

Namun akibat mimik yang baru saja dibuat oleh Hoseok, secara tidak sadar Seokjin jadi lebih memerhatikan bibir Hoseok. Saking fokusnya, ia bisa melihat ada tahi lalat kecil di atas bibir itu. Menggemaskan, pikir Seokjin. Seketika ia terpesona dan tertarik untuk mengenal lebih jauh lelaki yang duduk di sampingnya itu.

“Sekarang, giliran kamu yang cerita. Kenapa pergi sendirian.”

Seokjin menghela napas. Ia bisa memilih untuk tidak menjawab. Atau mungkin, memberikan jawaban asal. Toh Hoseok tidak mengenalnya. Ia tidak akan tahu apakah Seokjin berkata jujur atau tidak.

Seokjin memilih jujur.

Kim Seokjin. Seorang Editor in Chief salah satu majalah musik terkemuka di dunia. Pecinta konser. Dulu, ia bersama kekasihnya sering pergi ke berbagai negara hanya untuk berburu konser. 7 April adalah hari jadi mereka sebagai kekasih. Maka ketika Coldplay mengumumkan jadwal tur mereka di Asia, Seokjin berinisiatif untuk membeli tiket pertunjukan di Bangkok. Karena tanggalnya bertepatan dengan perayaan hari jadi mereka. Namun siapa sangka, tiga bulan sebelum konser ini terlaksana, mereka putus. Sebuah pertengkaran yang hanya bisa diselesaikan dengan cara mengakhiri hubungan. Jika hubungan itu tetap dijalankan, maka kedua orang yang terlibat di dalamnya akan semakin kesakitan. Sehingga demi hubungan, dan kesehatan mental yang lebih baik, mereka sepakat untuk berpisah.

Seokjin tetap mengajak mantan kekasihnya untuk menonton bersama. Namun ditolak. Ia butuh waktu dan jarak, katanya. Dan Seokjin bisa memahami itu.

Di sinilah Seokjin berada saat ini. Pergi ke Bangkok seorang diri. Kalau bukan Coldplay, mungkin ia sudah merelakan tiketnya hangus dan memilih diam di rumah saja. Tapi, ini Coldplay. Grup band favoritnya. Band yang sudah ia sukai sejak duduk di bangku sekolah. Band yang membuatnya ingin mengenal musik lebih dalam. Band yang menemaninya melewati berbagai kisah hidup. Senang maupun sedih. Bisa dikatakan, Kim Seokjin adalah penggemar Coldplay garis keras.

“Maaf, ya.” Hoseok merasa bersalah setelah mendengar cerita Seokjin. Tapi ia jadi paham asal raut sedih di wajah Seokjin yang ia lihat sebelumnya.

“Untuk?”

“Ya akibat pertanyaan aku tadi, kamu terpaksa ingat lagi kisah sedih kamu.”

“Siapa bilang itu kisah sedih?”

“Jadi, kamu udah move on? Cepet juga.”

Seokjin memilih untuk tidak menjawab.

Belum. Seokjin belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Mereka bersama hampir lima tahun lamanya. Dan itu bukanlah waktu yang singkat. Bagaimana bisa Seokjin melupakan semuanya secepat itu. Ia hanya tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pria yang baru dikenalnya ini.

“Hello, Sir. Would you like rice, sandwich, or pasta?” awak kabin datang menawarkan makanan.

Seokjin merasa lega. Karena paling tidak, ia bisa mengalihkan topik pembicaraan. Tidak perlu lagi membahas soal drama percintaannya yang tragis.

Mereka menikmati makanan sambil membahas hal trivia seputar inflight meal. Hoseok bercerita, ia paling menyukai penerbangan menuju Eropa. Karena biasanya, menu yang ditawarkan lebih melimpah. Sementara menurut Seokjin, semua makanan di pesawat tidak ada yang spesial. Biasa saja. Ia menilai suatu maskapai berdasarkan pilihan wine yang mereka tawarkan sebagai pendamping makanan.

Setelah makanan habis, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing. Seokjin kembali membuka kindlenya. Melanjutkan bacaan yang sempat terhenti tadi. Dan Hoseok, ia mengeluarkan konsol game portable yang biasa ia mainkan untuk menghabiskan waktu di pesawat. Hoseok jarang tidur jika waktu penerbangannya hanya kurang dari empat jam.

✈✈

Hoseok tidak tahu berapa lama waktu yang sudah dihabiskan untuk bermain game. Namun saat menoleh ke sebelah, ia mendapati Kim Seokjin yang sedang tertidur pulas.

Hoseok menatap Seokjin lekat-lekat dari tempat ia duduk. Meneliti setiap inchi wajahnya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Seokjin adalah jenis manusia, yang meskipun sedang tertidur dalam kondisi sekacau apapun, akan tetap terlihat memukau. Seperti yang dialami Hoseok saat ini. Ia melihat Seokjin yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Namun baginya, pria ini tetap terlihat tampan luar biasa. Ia sampai tak bisa menahan senyum menikmati pemandangan ini.

“Excuse me, Sir. Should i get a blanket for your boyfriend?”

Pertanyaan dari awak kabin membuat Hoseok kaget. Semacam tertangkap basah sedang menguntit seseorang.

Hoseok bisa saja berkata bahwa Seokjin bukanlah pacarnya. Bahwa mereka hanyalah dua orang penumpang yang secara kebetulan duduk bersebelahan. Baru mengetahui nama satu sama lain kurang dari dua jam yang lalu.

Tapi buat apa?

“Yes, please. Thank you.” Hoseok memilih untuk menjawab demikian.

Ucapan awak kabin tadi membuat Hoseok termenung. Ia menyukai pemikiran bahwa, mungkin, suatu saat nanti ia dan Seokjin bisa saja menjadi sepasang kekasih. Mereka bisa bertukar nomor telepon, lalu membuat janji bertemu saat keduanya sudah kembali dari perjalanan ini. Seokjin memang berkata bahwa mantan pacarnya adalah seorang pria. Dan Hoseok pun menyukai pria. Itu tidak terbantahkan. Namun bukan berarti Hoseok adalah tipe yang disukai Seokjin. Hal inilah yang membuat nyali Hoseok sedikit menciut.

Beberapa saat kemudian, awak kabin datang membawakan selimut. Hoseok melebarkannya, lalu ia gunakan untuk menutup bagian atas tubuh Seokjin yang terlihat sedikit menggigil. Entah kenapa, Hoseok sangat menyukai pemandangan ini. Melihat Seokjin tidur pulas seperti saat ini memberi kedamaian tersendiri baginya. Membuat hati terasa hangat.

“Thank you, Boyfriend. I Love you.” ucap Seokjin parau seraya membetulkan posisi tidurnya. Matanya masih tertutup. Namun bibirnya membentuk senyum lebar. Senyum jahil yang manis, dan lebar.

Hoseok seketika membeku. Bagaimana ini? Ia berharap semoga tidak ada kecanggungan di antara mereka saat Seokjin sudah bangun dari tidurnya.

✈✈

Kadang-kadang, turbulensi dapat terjadi selama penerbangan.

Turbulensi dapat didefinisikan sebagai perubahan kecepatan yang terjadi dalam waktu singkat berskala kecil, dan terjadi secara acak. Turbulensi inilah yang ditakuti oleh kebanyakan orang saat mereka naik pesawat. Ketika penumpang merasakan guncangan saat berada di ruang tertutup. Tidak dapat menghindar, dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Situasi seperti ini sering menimbulkan kepanikan di dalam pesawat.

Ketika turbulensi terjadi, tanda sabuk pengaman akan menyala. Dan jika terjadi turbulensi dalam level sedang hingga parah, awak pesawat akan membuat pengumuman singkat.

“Ladies and gentlemen. The captain has turned on the fasten seat belt sign. We are now crossing a zone of turbulence. Please return your seats and keep your seat belts fastened. Thank you.”

Hoseok sudah terbiasa dengan tubulensi. Ia tetap tenang melanjutkan aktivitasnya bermain game.

Tapi tidak dengan Kim Seokjin. Ia sangat membenci turbulensi.

Saking takutnya, ia memejamkan mata. Menggunakan tangannya untuk memegang erat sandaran tangan di bagian kanan. Dan secara refleks, tangan kirinya bergerak sendiri mencari keberadaan bahu Hoseok. Lalu dicengkramnya erat-erat.

Hoseok kaget. Ia menoleh ke arah Seokjin dan mendapati pria itu sedang tampak ketakutan. Mata terpejam dengan wajah yang terlihat pucat. Hoseok tidak banyak bicara. Ia meraih tangan Seokjin yang menempel di bahunya, lalu menggenggamnya dengan erat.

Hold me tight. It’s gonna be alright.” Hoseok menggunakan tangan satunya untuk membelai lembut tangan Seokjin yang sedang ia genggam.

Seokjin masih tetap menutup matanya. Namun ketakutan di wajahnya perlahan terlihat memudar.

✈✈

“Ladies and gentlemen. The captain has turned off the fasten seat belt sign. However, we always recommend to keep your seat belt fastened while you are seated.”

Syukurlah. Turbulensi tidak berlangsung lama.

“Kamu mau minum? Biar aku minta ke cabin crew.” Hoseok masih sedikit khawatir akan keadaan Seokjin pasca kejadian tadi.

Yang ditanya hanya menggeleng.

“Seok, maaf ya ngerepotin. Terima kasih bantuannya.”

It’s okay. Kamu takut banget ya sama turbulensi?”

Seokjin mengangguk.

“Aku baru sadar. Selama ini aku nggak pernah pergi sendirian. Makanya kalau ada turbulensi, selalu ada orang di samping aku yang bisa aku pegang. Jadi, maaf ya kalau tadi aku tiba-tiba pegang bahu kamu sekuat tenaga. Kebiasaan soalnya. Sakit kah?”

Hoseok tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa beruntung karena dalam durasi yang cukup singkat, ia bisa melihat berbagai ekspresi wajah dari seorang kim Seokjin. Ia bahkan jadi tahu bahwa kuping Seokjin akan berangsur memerah jika ia sedang tersipu.

“Berarti aku nggak bisa ngajak kamu naik bungee jumping, ya?”

“Eh, maksudnya?”

“Iya. Kan kamu nggak suka guncangan. Jadi aku berasumsi kalau kamu nggak suka hal-hal yang memacu adrenalin semacam itu.”

“Memangnya kamu punya rencana ngajak aku ke mana?”

“New Zealand. Aku punya bucket list pengen road trip naik campervan. Terus mampir Quenstown. Nyobain bungee jumping di sana.”

“Oh, aku tahu tempat itu. Aku bisa temenin kamu. Tapi nggak bungee jumping, ya. Kita naik Navis Swing aja. Jadi kalau aku ketakutan, ada kamu di samping yang bisa aku pegang.”

Sebentar. Kenapa ini terdengar seperti sepasang kekasih yang sedang menyusun rencana perjalanan selanjutnya? Padahal pesawat ini saja masih belum menyentuh daratan.

Hoseok hanya bisa tertawa mendengar ide itu. Bayangan tentang mewujudkan salah satu mimpi besarnya, ditemani oleh seseorang seperti Kim Seokjin nampaknya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Meskipun tentu saja, ketika semesta berkehendak, semua hal memiliki kesempatan untuk terjadi.

“Seok, kamu tinggal di mana nanti?”

“Aku udah booking Airbnb deket Rajamangala. Supaya cukup jalan kaki aja ke stadium pas nanti mau nonton konser. Aku nggak tahan kalau harus rebutan taksi sama orang-orang. Selesai konser pasti akan susah banget dapetin kendaraan di sekitar stadium. Jadi cari yang dekat situ aja. Kamu, di mana?”

Untuk kesekian kalinya, Seokjin menggelengkan kepalanya. Namun kali ini diiringi tawa yang cukup keras. Seokjin meluputkan salah satu hal penting pada perjalanan kali ini. Reservasi hotel. Saat ia pergi bersama kekasihnya, mereka selalu berbagi tugas. Seokjin akan memesan tiket pesawat. Sementara kekasihnya yang akan memesan hotel untuk mereka tinggali selama perjalanan. Sang kekasih, yang sekarang sudah berstatus mantan, memiliki standar khusus terhadap fasilitas hotel. Sehingga Seokjin selalu mengalah dan membiarkan kekasihnya melakukan reservasi di hotel mana pun yang ia mau.

Maka, inilah kondisi Seokjin sekarang. Duduk di sebuah pesawat menuju Bangkok. Dengan tiket konser yang sudah aman dia pegang. Namun belum jelas di mana ia akan tinggal.

Terima kasih karena semesta cukup baik mempertemukannya dengan seseorang bernama Jung Hoseok. Yang meskipun sudah menertawainya habis-habisan, namun tetap berbaik hati menawarkan Seokjin untuk berbagi kamar dengannya selama di Bangkok.

Airbnb yang dipesan Hoseok terdiri dari dua kamar. Dan berdasarkan pemeriksaan latar belakang secara singkat melalui percakapan selama lebih dari tiga jam, Hoseok tahu bahwa Seokjin bukanlah orang yang berbahaya. Seokjin pun berpikiran sama. Sehingga mereka memutuskan untuk tinggal bersama selama di Bangkok.

Seokjin bersikeras untuk membayar separuh biaya sewa. Namun ditolak oleh Hoseok. Setelah melalui perdebatan yang sangat singkat, akhirnya disepakati bahwa Seokjin yang akan membayar semua makanan saat kaki mereka sudah menginjak kota Bangkok.

✈✈

“Ladies and gentlemen. As we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you.”

Pengumuman tadi menandakan bahwa pesawat mereka siap untuk mendarat.

“Jadwal perjalanan kita cukup padat juga ya, Seok.”

“Bukannya kamu cuma mau nonton Coldplay, terus balik ke Jakarta?” Hoseok bertanya kebingungan.

“Oh, bukan di Bangkok. Maksudku, setelah dari Bangkok. Kamu masih berminat pergi ke New Zealand bareng aku, kan? Soalnya aku harus ngatur jadwal cuti.”

“Tentu saja!” suara Hoseok terdengar sangat antusias.

“Bagus. Tapi sebelum ke New Zealand, ada tempat di Jakarta yang mau banget aku datengin bareng kamu. Dan aku nggak terima penolakan.”

Mustahil juga bagi Hoseok untuk menolaknya.

Seokjin memerhatikan wajah pemuda di sampingnya lebih dalam. Ia menyadari, saat Hoseok tersenyum antusias seperti ini, bibirnya akan berubah menyerupai bentuk hati. Dan saat pipinya menggembung, akan muncul sepasang lesung pipi yang sangat menggemaskan.

“Flight attendants. Prepare for landing.” terdengar pengumuman dari sang pilot.

Seokjin mengulurkan tangannya. Dan tanpa ragu, Hoseok meraih tangan tersebut, lalu menggenggamnya. Erat. Bukan lagi untuk menenangkan Seokjin yang tampak sedikit ketakutan saat pesawat terasa mulai menurunkan ketinggiannya. Namun lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah nyata.

Perjalanan udara ini akan segera usai. Dalam beberapa saat, pesawat akan menyentuh daratan. Namun perjalanan kisah antara Kim Seokjin dan Jung Hoseok baru saja dimulai. Dan kisah mereka akan dibuka oleh sebuah pertunjukan megah dari salah satu grup band terbaik di dunia. Coldplay.

Notes:

Tulisan ini dibuat untuk merayakan tiga hal:
1. Kolaborasi antara Coldplay dan BTS yang resmi diumumkan.
2. BTS yang kembali diundang untuk hadir di UNGA 2021
3. 2SOEK tercinta yang menyempatkan diri untuk mengunggah foto mereka sebelum take off.

I love the seven of them. But must admit that i have soft spot for these two crackheads in my heart.

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah mampir dan baca cerita ini. Semoga suka ya ☺️💜