Actions

Work Header

Dancing With Your Ghost

Summary:

Tiga hari pertama merupakan saat mematikan bagi pasangan yang ditinggalkan.

Begitu pula dengan Team.

Notes:

Cerita ini merupakan bagian dari #WinTeamWeek2021
Ini merupakan kali pertamaku mengikuti event ini. Semoga sih bisa berpartisipasi sampai hari terakhir.

Prompt: Ghost

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Semua sangat sulit pada detik pertama.  Memori membayangi.  Kenangan menghantui.  Team kesulitan untuk menyesuaikan diri. 

 

Dua jam selepas kepergian Win, Team merasa dirinya sangat hampa. Kekosongan bahkan terasa pada ruang yang sangat jarang Win kunjungi. Kamarnya sendiri tiba-tiba terasa dingin bagai tak pernah ditempati. Meski pada beberapa konotasi memang jarang dia huni. Kini dia hanya duduk termangu pada tepi tempat tidurnya yang tiba-tiba terasa berdebu. 

 

Ingin rasanya dia berlari menuju kamar Win. Naik satu lantai rasanya tak begitu sulit. Tapi saat dia menyadari realita dan rasionalitasnya berjalan, semua itu terasa tak mungkin. Kamar Win bukan lagi kamar Win. Kamar itu telah berubah menjadi kamar kosong yang menunggu penghuni baru untuk menempati.

 

Team menghela napas dengan kelewat keras. Seakan berharap sesaknya ikut terhempas. Sungguh demi apapun, Hia -nya bahkan belum mendarat, tapi dia sudah kelewat rindu. Entah harus bagaimana dia menghadapi hubungan tanpa temu. 

 

Mengusap wajah dengan kedua tangan adalah gestur yang sudah bosan dia lakukan. Team merasa tak memiliki semangat untuk melakukan apapun. Satu-satunya rencana yang terlintas saat ini adalah tidur. Berharap dengan tidur dia bisa memangkas waktu. Namun mengingat kebiasaan saat tidur, Team meragu. Untuk kesekian kali, bisakah dia melakukan hal tanpa Hia?

 

Ponselnya berdering. Nyaring, seakan menolak untuk diabaikan. 

 

Sudah pasti bukan Hia . Jadi untuk apa dia menerima panggilan itu?

 

Kecuali itu Mannow, yang tentu saja tak terima untuk diabaikan. 

 

“TEAAM!! AYO MAKAN!!” dengan ketukan pintu yang mampu menyegarkan jiwa penghuni satu lantai. 

 

Hari pertama, alih-alih Pharm dan Mannow, bayang kehadiran Win justru lebih menjadi fokus utama Team.

 


 

Tidurnya tak jauh dari yang Team duga. Mimpi buruknya tak datang. Yang ada hanya hitam dan hampa. Itu justru membuatnya lebih gelisah.

 

Team merasa seperti tengah melayang pada ketidakpastian. Ini sangat mengganggu.

 

Saat kelopak matanya terbuka, tak ada kicau burung yang menyambut. Ahh, lupakan. Bahkan sayup deru kendaraan pun nihil dari pendengaran.

 

Team disambut oleh rasa dingin yang asing. Lebih dingin dari suhu AC yang dia pasang pada suhu terendah.

 

Sembari menggeliat dalam gelisah, Team berbisik lirih, “Hia,”

 

Tangannya meraba sisi lain kasur. Tak didapati raga yang biasa menemani. Mengerjap, Team coba pastikan sekali lagi. Mungkin saja Hia sedang di kamar mandi. Tapi saat mendapati lampu kamar mandi pun sama gelapnya, Team baru menyadari.

 

Win tak lagi ada disisinya.

 

Lalu saat Team coba untuk melihat jam di ponsel, dia sadar bahwa butuh dua jam lagi untuk memperoleh kabar dari Win.

 

Percuma, Team tak mungkin lagi bisa tertidur. Dia putuskan untuk bangkit dan mungkin ambil sedikit lari pagi.

 

Hari kedua, Team kesulitan menerima fakta absennya Win dari tiap detik pertama matanya terbuka.

 


 

Rutinitasnya hari ini sangat melelahkan. Dua kelas untuk pagi dan siang, lalu selepas makan siang dia harus menghabiskan waktu di perpustakaan bersama teman sekelompok yang tak begitu berguna, belum lagi latihan renang yang benar-benar menguras tenaga.

 

Team menyeret langkah dengan tampang lesu yang kentara. Ingin sekali dia cepat-cepat berbaring di kamar. Namun dia harus berkendara dulu sebelum bisa mewujudkan inginnya.

 

Pintu mobil dia tutup dengan keras. Seakan dia tengah coba untuk lampiaskan emosi.

 

Team menyandarkan badannya pada kursi mobil, kedua tangan dia bawa untuk meremas rambut. Emosinya terasa tak menentu beberapa hari kebelakang. Pun tak membaik selepas kepergian Win.

 

Soal Win, kekasihnya itu telah meneleponnya kemarin sore. Berkata bahwa badannya terasa tak nyaman, kemungkinan besar karena jet lag . Team sebagai kekasih yang baik akhirnya membiarkannya untuk beristirahat secara penuh. Menunggu dengan sabar hingga Win yang lebih dulu mengabari.

 

Dan itu telah lewat 24 jam. Win masih belum memberinya kabar apapun, bahkan sebuah pesan kecil sekalipun.

 

Mungkin Win masih coba beradaptasi dengan kondisi London. Biarkan.

 

Sedang Team di sini, duduk termangu pada mobilnya sendiri, dan membayangkan akan lebih baik bila ada Win yang mau menggantikannya mengemudi pulang.

 

Bukan sekali dua kali mereka bergantian mengemudikan mobil Team. Kegiatan itu bahkan sudah masuk dalam rutinitas mereka.

 

Biasanya Win akan menyender malas pada kursi samping kemudi. Satu kaki menumpu pada kaki yang lain. Sesekali jarinya sibuk menggulir pada layar ponsel. Gestur kelewat nyaman yang kadang buat Team terpana dalam pandang.

 

Win itu, mau bertingkah seperti apapun akan selalu terlihat menarik. Wajahnya benar-benar mendukung untuk buat orang-orang menengok dua kali. Tak beda dengan Team yang bahkan masih sering tak sangka punya kekasih seindah itu.

 

Huuuh .. Win dengan segala pesonanya memang sebuah hal yang memabukkan.

 

Mungkin harinya akan lebih baik bila Win ada di sini untuk sekadar menyeka keringatnya.

 

Hari ketiga, Team berharap Win mau untuk mengantarnya pulang.

 


 

Begitu tiba di kamar, hal pertama yang dilakukan Team adalah membersihkan badan. Lalu memeriksa beberapa tugas yang mungkin sudah mendekati waktu pengumpulan.

 

Saat dia tenggelam dalam tumpukan tugas, ponselnya berdering mengganggu. Sebagai mahasiswa yang tak begitu suka pada tugas, Team teralihkan seketika.

 

Apalagi begitu tahu nama yang tertera dengan kamera yang menyala.

 

Win, dari seberang sana, tengah mencoba melakukan video call dengannya.

 

Team mengangkat pada dering kesekian. Pun dengan kamera yang dia ubah menjadi mode belakang. Tentu saja memancing dengus dari Win.

 

“Apa ini sebuah kode bahwa aku mengganggu?”

 

Team menyadari bahwa kamera ponselnya menghadap pada buku yang bertebaran.

 

“Uhh, tidak,”

 

“Okay. Sekarang bisakah kau gunakan kamera depan? Aku ingin melihat kekasihku,”

 

Merinding. Team merasa geli dengan cara Win menyebut kata kekasih

 

“Diam kau, Hia . Bagaimana dengan keadaanmu?”

 

“Akan kujawab saat wajahmu bisa kulihat secara jelas,”

 

Team seharusnya tahu, Win tak akan diam saat keinginannya belum terwujud. Terlebih itu menyakut Team. Jadi Team hanya bisa menuruti Win, daripada pemuda itu semakin berisik.

 

Bohong, Team hanya tengah menghindar dari sipu malu yang mengganggu.

 

Puas dengan wajah Team yang memenuhi layar ponsel, Win membuka sesi bercerita perkara adaptasi yang tak mudah dia lakukan.

 

“Jauh lebih baik dari hari pertama. Aku benar-benar buruk begitu sampai di sini. Badanku terkejut dengan perubahan waktu yang mendadak. Aku tertidur seharian penuh. Maaf aku mengabaikanmu kemarin-kemarin,”

 

Senyum Team nampak pada layar.

 

“Itu bukan masalah. Utamakan dulu kesehatanmu. Aku bisa menunggu,”

 

“Tapi mungkin rindu kita tidak,”

 

Benar. Rindu yang keduanya miliki tak mungkin bisa dihindari. Team merasa senang menyadari bahwa dia tak merindu sendiri. Win pada belahan dunia lain pun memiliki hal yang sama.

 

“Jadi, Team. Bagaimana harimu?”

 

Itu adalah awal dari panjangnya cerita keduanya. Team menumpahkan segala kegelisahan yang dia rasakan. Menceritakan semua kekonyolan yang teman-teman mereka lakukan. Pun mengenai rasa ganjil dari absennya Win dari setiap aktifitas Team.

 

Malam itu, atau pagi bagi Win , keduanya saling berbagi kisah. Coba untuk mengisi kosong yang hadir pada tiga hari kebelakang.

 

Pula berharap ratusan hari kedepan menjadi tak sebegitu berat. Setidaknya ada temu yang dijanjikan.


END


 

Notes:

Terimakasih sudah baca sampai sini. Jangan lupa tinggalkan kudos, Phay-Phay.

Series this work belongs to: