Actions

Work Header

Hold You Thight

Summary:

Kadang Team kesal tapi kadang Team sayang. Ini hanya persoalan mengenai Team yang mudah beralih fokus hanya karena Win.

Notes:

Day 2 from #WinTeamWeek2021

The Prompt: "This isn't your fault"

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Oh, sialan,”

 

“Ya, sialan,”

 

Team melirik sebal. Ingin sekali dia melempar Win keujung jurang yang sekiranya dalam. Biarkan saja dia hilang ditelan apapun yang ada diujung sana.

 

Atau singkatnya Team sedikit kesal. Satu jamnya terlewat begitu saja. Janji kencan mulur dari jadwal. Sedang saat ini keduanya hanya bisa mematung meratapi antrean panjang pada restoran yang diinginkan Team.

 

“Mengapa semua orang tiba-tiba di sini?”

 

Team memutar mata dengan jengah. Tak habis pikir dengan Win yang seakan menyalahkan sekitar.

 

“Ya tentu saja mereka di sini. Mereka juga ingin makan di tempat yang baru buka,”

 

Win mengangguk. Melihat sekitar seakan menilai perkiraan jam antre. Sambil menggembung-kempiskan pipi, dia merangkul Team. Berpikir ayo berpikir , ucap otak Win yang saat ini mulai takut dengan Team.

 

“Haruskah kita lihat tempat lain?”

 

Setidaknya Win menawarkan. Mencoba peruntungan siapa tahu Team mau langsung menyahuti opsi kedua yang ada dipikirannya.

 

Tapi melihat reaksi Team yang semakin menatapnya tajam, Win tahu bahwa satu-satunya harapan adalah inisiatifnya sendiri.

 

Berpikir ayo berpikir.

 

Antreannya terlalu panjang. Butuh sekiranya dua jam hingga mereka bisa duduk. Itu pun bila pelanggan lain punya perasaan untuk segera bergantian.

 

Pupus sudah bila memaksakan antre. Team akan berubah menjadi musuhnya sebelum mereka memperoleh meja. Tidak, Win tidak akan merelakan itu terjadi.

 

“Okay, ayo kita cari tempat baru,”

 

Team mengikuti. Masuk ke mobil dengan muka berlipat. Team yang merajuk karena makanan lebih menyeramkan dari Team yang malas pergi ke kolam renang.

 

Berkali-kali Team menyapukan jarinya ke helai rambut yang sudah terlalu panjang hingga menusuk mata. Mungkin besok Win bisa ajak dia untuk memangkasnya.

 

Kakinya pun tak ingin diam. Naik-turun membuat pola seperti bergetar. Win tahu Team tengah gelisah karena lapar. Kekasihnya itu memang tak bisa dibiarkan telat makan.

 

“Bagaimana dengan ramen?”

 

Win coba peruntungan. Lampu merah menghentikan laju mobilnya. Satu tangan dia lepas dari kemudi dan lari ke tangan Team yang tengah menganggur. Menggenggam dan mengusap sebagai usaha untuk menenangkan.

 

“Aku mau bento,”

 

Win tersenyum lega. Setidaknya saat ini dia sudah mengantongi kunci. Hanya tinggal berkendara dan Team akan kembali seperti semula.

 

Ketika lampu hijau menyala, mobil mulai merayap perlahan, tangan Win masih belum meninggalkan tangan Team. Genggaman itu masih sehangat kali pertama keduanya berjabat.

 

Team bisa merasakan keringat yang samar hadir di telapak tangan kekasihnya. 

 

Seminggu kebelakang, Win sangatlah sibuk. Mulai dari mengerjakan jurnal yang menumpuk, memberi tutor kepada beberapa adik tingkat yang membutuhkan, hingga tanggung jawab sebagai wakil ketua klub renang.

 

Win melakukannya secara berturut-turut. Tak jarang Win melewatkan beberapa kali jam makannya. Tentu saja itu membuat Team merasa khawatir dan berakhir dengan menyeret Win untuk ikut makan bersamanya.

 

Lalu pada satu sore yang seharusnya Win gunakan untuk beristirahat, Team justru mengajaknya untuk mencoba restoran yang baru saja buka. 

 

Pun setelah semua yang Win lakukan padanya, Team masih saja merajuk hanya karena terlambat datang ke restoran. Bukankah seharusnya Team merasa senang karena Win sudah mau meluangkan waktu untuk berkencan dengannya?

 

“Hey, Hia,”

 

“Hm?”

 

Win masih menatap lurus pada jalan, Team meneliti setiap gurat yang hadir di wajah kekasihnya.

 

“Berhenti mengerut. Ini bukan salahmu,”

 

Win melirik sebentar, senyum kecil dia sajikan sebagai jawaban dari pernyataan Team. 

 

“Tentu saja bukan. Karena ini salah kita berdua,”

 

Ingatkan Team bahwa Win bukanlah tipikal kekasih yang bisa dia manis-manisi . Win akan menyeret Team bagaimanapun caranya.

 

Sama seperti sejam yang lalu saat semuanya bermula hingga berujung ke terlambat pergi.

 

Team hanya berbaring menunggu Win yang tengah mandi dan bersiap untuk kencan. Dia sendiri sudah siap dengan jeans dan hoodienya. Tak ada hal menarik yang bisa dia lakukan. Jadi Team hanya berbaring dan bermain dengan ponselnya.

 

Samar musik memenuhi kamar Win. Playlist milik Team jadi latar belakang kegiatan keduanya. Lama-kelamaan, Team jadi mengantuk. Ponsel dia biarkan tergeletak sedangkan dia sendiri memilih untuk menatap Win yang sibuk dengan pakaiannya.

 

Kemudian saat Win berbalik sembari mengenakan pakaiannya, Team tampak nyaman dengan mata setengah terbuka.

 

Team, berbaring, setengah mata terbuka, adalah sebuah kelemahan tersendiri bagi Win. Bukan salahnya saat dia memutuskan untuk bergabung berbaring dan mendekap Team. Mengabaikan segala gerutuan kekasihnya dan menyamankan diri di ceruk leher Team.

 

Janji soal restoran seakan diabaikan. Keduanya terlalu nyaman dalam dekap masing-masing. Sayup percakapan ringan bersaing dengan sayup musik yang mendayu lirih. Entah kapan terakhir kali keduanya menghabiskan waktu hanya untuk percakapan remeh seperti soal keranjang pakaian kotor yang sudah minta diganti dan wangi parfum yang mulai membosankan.

 

Belai jari Team yang menari di helai rambut Win menambah kenyamanan. Pun dengan tangan Win yang masuk ke balik hoodie Team untuk mengusap permukaan perutnya. Afeksi yang diberi masing-masing membuat mereka semakin lupa perihal rencana awal.

 

Baru saat playlist Team memutar lagu yang sama, Team menjadi satu yang sadar bahwa waktu telah sejam berlalu. Begitu sadar, Win juga jadi yang terburu-buru.

 

Tanpa bertanya lebih dulu, Win berusaha untuk tetap pergi ke rencana awal. Team hanya mengikuti tanpa banyak berkomentar. Hingga melihat antrean yang begitu panjang, barulah Team mulai merasa tak seharusnya mereka memaksakan untuk makan di tempat tersebut. Pikirnya tak masalah di manapun mereka makan, hal terpenting adalah Win hadir di sana untuk menemani.

 

Jadi tak ada hal yang bisa Team salahkan saat ini. Saat keduanya menikmati dan menerima saja, maka tak ada hal yang seharusnya dipermasalahkan.

 

Sekarang hanya biarkan dia untuk berkencan dengan Hia kesayangannya.


END


 

Notes:

Thankyu udah baca sampai sini. Jangan lupa ya tinggalkan kudos.
Sampai jumpa di prompt lainnya, phay-phay.

Series this work belongs to: