Chapter Text
"Sebutkan permohonanmu, maka akan dikabulkan. Namun, akan ada bayaran yang diambil,"
Kalim mengucek matanya, memastikan apakah yang ia alami barusan hanyalah mimpi atau kenyataan. Tak peduli berapa kali ia mencubit pipinya, sosok misterius yang menawarkan permohonan tersebut tidak kunjung hilang.
"Permohonan... Apa saja?" Tanya Kalim dengan sedikit gemetaran.
"Benar, sebutkan saja permohonanmu,"
Ekspresi sang pemuda berambut putih langsung berubah serius, raut yang jarang terlihat dari seorang Kalim Al-Asim.
"Apakah mungkin kalau aku meminta kehidupan yang baru...?" Ia bertanya lagi, kali ini dengan tekad yang mengganjal.
"Ooh, tentu saja bisa. Selama kau tidak meminta permohonan tiada batas, maka akan dikabulkan," jawab sosok tersebut, "Sebenarnya lucu juga permohonanmu itu. Sedunia berharap mereka terlahir sebagai anak konglomerat seperti dirimu. Kau juga dikelilingi teman-teman yang baik. Kurang apa lagi kehidupan yang sekarang?"
Kalim menggeleng pelan. "Aku sendiri tidak tahu... Tapi sejak kejadian hari itu... Makanan-makanan enak dan perhiasan mewah tak bisa menyembuhkan perasaan sesak saat aku ingat dia membenciku..."
Benar.
Di dunia yang sekarang, rasanya tak mungkin memperbaiki hubungannya dengan orang itu.
Jamil Viper telah membencinya, dan selama kenyataan dimana status mereka tak sejajar dan insiden itu telah terjadi tetap ada, tidak mungkin impian "bahagia bersama selamanya" itu tercapai.
"Karena itu, tolong... Berikan aku kesempatan untuk hidup di dunia dimana aku dan Jamil dapat bertemu dengan normal... Aku tidak peduli bagaimana latarku disana... Aku hanya ingin bisa berteman dengan Jamil tanpa harus menyakiti Jamil!" Kalim memohon dengan penuh emosi, tanpa sadar tubuhnya membungkuk.
"Hmm, sungguh menarik. Baiklah, tapi ingat, ada hal yang harus dikorbankan. Jangan pikirkan itu dulu, nikmatilah dulu permohonanmu yang akan segera terkabul saat kau membuka matamu lagi," sosok itu berkata, tepat sebelum seluruh pandangan Kalim menjadi gelap dan ia kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Rasanya seperti sebuah mimpi, namun kejadian itu nyata. Kalim terbangun di sebuah kamar yang asing, dimana ia segera bercermin dan mendapati fisiknya masih "Kalim". Namun, kehidupannya di realita ini sudah jelas berbeda. Kamar itu tidaklah mewah. Perabotnya sederhana, tidak ada secercah pun emas murni. Pakaian-pakaian di lemarinya sebagian lusuh atau berlubang. Semuanya adalah bukti bahwa permohonan Kalim telah terkabul.
Tidak apa-apa, disaat ia mengajukan permohonannya, Kalim sudah rela meninggalkan harta dan kekuasaan yang ia miliki.
Selama beberapa hari, Kalim kebingungan akan kehidupan barunya. Namun, lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan ritme baru itu. Semakin banyak yang ia ketahui tentang latarnya di kehidupan barunya.
Ia bukan anak keluarga kaya raya, melainkan rumah tangga yang pas-pasan, bahkan berekonomi sulit. Orangtuanya yang baru penuh kasih sayang, namun harus bekerja keras untuk membiayai Kalim dan saudara-saudaranya.
Selain itu, waktu di dunia itu 3 tahun lebih awal, dimana Kalim masih menduduki akhir bangku SMP. Kalim menyadari bahwa ada kemungkinan besar di dunia itu Jamil juga diterima di Night Raven College, dan ia pun bertekad untuk memasuki sekolah itu. Kali ini, ia harus berjuang dengan segala keterbatasan yang ada agar dianggap layak untuk dijemput kereta kuda ajaib.
Sungguh, sebenarnya Kalim nyaris menyerah di kehidupan barunya. Dibandingkan dahulu, dimana ia selalu disuapi dan dimanjakan, kehidupan ini sangat keras! Ia belajar mati-matian, dan terkadang diganggu oleh murid lain. Tak ada nama belakang Asim yang melindunginya. Tak boleh bergantung pada orangtuanya yang sudah kelelahan bekerja membanting tulang setiap hari. Di kala liburan, ia harus bekerja paruh waktu untuk membantu ekonomi keluarganya. Tak ada makanan mewah. Tak ada baju satin mahal. Tak ditemui gemilang emas dan permata. Tapi, tak apa-apa. Untuk bisa bertemu dengan Jamil lagi... Kalim rela melakukan apapun.
.
.
.
Satu tahun berlalu. Kalim yang sedang beristirahat dari kerja paruh waktunya tiba-tiba dikagetkan oleh kereta kuda yang membuatnya terlonjak kesenangan.
"Jamil... Kau disana, kan? Aku akan segera menemuimu!"
