Work Text:
Tomo hanya mampu menatap nanar jatah makan siangnya yang berhamburan ke udara.
Tak jauh dari lokasinya, seekor Samachurl kecil menari-nari seraya merapalkan mantera, menciptakan sebuah pusaran angin yang bergerak ganas ke arahnya.
"Yoyo hanha minmi movo mima moheー"
Akan tetapi, konsentrasi Tomo masih terkunci sepenuhnya pada semangkuk sup rumput laut yang kini sudah terbuang sia-sia di atas tanah.
(Ah, makan siang yang sudah susah payah ia buat dengan sepenuh hati...)
Usai meratapi nasibnya yang naas dalam hati, Tomo segera mencabut senjatanya, bermaksud untuk memberi pelajaran pada Samachurl nakal yang sudah menumpahkan makan siangnya. Namun tiba-tiba saja seluruh pandangannya menjadi gelap. Sekujur tubuhnya mati rasa, sebelum akhirnya kesadarannya perlahan mulai meninggalkannya.
'Sial. Aku...... lapar...... '
Saat tersadar, Tomo menemukan dirinya sedang terbaring di sebuah bekas perkemahan milik Treasure Hoarders yang sudah tak lagi digunakan. Tak jauh tempatnya, terdapat sesosok pemuda asing yang sedang sibuk meniup-niup tumpukan daun kering. Kelihatannya pemuda itu sedang berusaha membuat api unggun.
Oh ya, ngomong-ngomong soal api unggun. Sepertinya Tomo jadi teringat pada sesuatu.
"Kruyuuuukkkkkkk~~!"
Tiba-tiba saja suara perut lapar milik Tomo merobek keheningan yang ada laksana sambaran petir di siang bolong, seolah-olah mencoba menjawab pertanyaan yang terbersit dalam benaknya.
Ah, benar juga. Sudah dua hari belakangan ini dia tidak makan apa-apa.
"...Rupanya kau masih hidup," celetuk sang pemuda asing, wajahnya menoleh sepenuhnya ke arah Tomo. "Padahal aku baru saja mau menyalakan api untuk mengkremasi tubuhmu."
Kedua bola mata Tomo terbelalak lebar.
"AKU MASIH HIDUP!!!" pekiknya secepat kilat. Untung saja ia sudah siuman. Kalau tidak, bisa-bisa pemuda asing ini benar-benar akan membakarnya hidup-hidup. Membayangkannya saja sudah membuat sekujur tubuhnya jadi merinding ketakutan.
"Begitukah?" Gumam sang pemuda seraya memiringkan kepalanya. "Kalau begitu, aku tidak perlu lagi menyalakan api ini."
Pemuda itu bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati Tomo dan menyodorkan bungkusan berisi nasi kepal padanya. "Makanlah. Kau lapar, kan?"
Sebetulnya Tomo masih belum mempercayai pemuda ini, namun rasa laparnya mengalahkan pikiran skeptisnya. Ia pun langsung menerima pemberian tersebut tanpa pikir panjang.
"Kalau begitu... selamat makan." Ucapnya seraya membuka bungkusan yang melapisi nasi kepal tersebut. Sang pemuda tidak berkata apa-apa sampai Tomo benar-benar memasukkan nasi kepal tersebut ke dalam mulutnya.
"!!!" Adalah satu-satunya reaksi yang dapat diberikan oleh Tomo. Ia terlihat sangat lahap menikmati makanannya, sampai-sampai tidak sadar jika sepasang mata bewarna semerah senja terus memperhatikannya sejak tadi.
Sang pemuda asing tersenyum puas melihat raut wajah Tomo yang terlihat sangat menikmati hidanganya.
"Ngomong-ngomong."
"Mha?" Sahut Tomo dengan mulut penuh.
"Harganya 100.000 Mora."
Tomo langsung menyemburkan nasi kepal dalam mulutnya.
"...Sudah lama sekali aku tidak tertawa seperti ini," tutur sang pemuda asing seraya menyeka sudut matanya yang basah. "Terima kasih banyak, ya."
"Hmh." Respon Tomo singkat. Kedua pipinya membulat, masih merasa dongkol karena sudah dikerjai.
Sang pemuda tersenyum tipis melihat reaksi Tomo. "Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kaedehara Kazuha. Aku adalah seorang samurai pengembara yang bisa ditemui di manapun."
Kaedehara Kazuha? Rasanya seperti pernah dengar. Tapi di mana?
"Aku tidak punya nama, tapi paman yang merawatku sejak kecil memanggilku Tomo. Jadi kurasa kau juga bisa memanggilku begitu." Ujar Tomo balas memperkenalkan diri.
"Tomo..." Kazuha meggumamkan nama tersebut dengan nada suara yang terdengar lembut. "Senang sekali bisa berkenalan denganmu, Tomo."
Tomo menyeringai lebar. "Aku juga! Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Kalau tidak ada kau, mungkin aku benar-benar sudah tinggal nama."
Kazuha menggelengkan kepalanya. "Aku hanya melakukan hal yang sewajarnya saat ada orang yang sedang kesulitan. Itu saja."
Hee. Meski sedikit usil, ternyata pemuda bernama Kaedehara Kazuha adalah orang yang baik. Syukurlah.
"Ngomong-ngomong, kau ingin pergi ke mana? Kalau tujuan kita sama, mungkin kita bisa berkelana bersama-sama."
Kazuha mengedipkan kedua matanya. Sekilas ia terlihat seperti sedang menimbang sesuatu, sampai akhirnya ia membuka mulutnya dan berkata, "Aku... ingin pergi ke Pulau Narukami. Kebetulan ada tempat yang ingin kukunjungi sebelum aku pergi berkelana ke tempat yang jauh."
Pulau Narukami? Jangan-jangan...
"Biar Kutebak. Restoran Uyuu?"
Kazuha terlihat cukup terkejut. "B-bagaimana kau bisa tahu...?"
Loh, ternyata benar? Padahal jelas-jelas barusan Tomo cuma asal sebut saja.
"Heheheh, sudah kuduga." Tutur Tomo (bohong) seraya menggosok bagian bawah hidungnya. "Kalau begitu, izinkan aku mentraktirmu di sana sebagai tanda terima kasih untuk hari ini!"
Kazuha memiringkan kepalanya. "...Bukannya kau tidak punya Mora?"
Ah, ya. Mora. Alat tukar keparat itu. Siapa, sih, Dewa yang menciptakan benda merepotkan seperti itu?
"Kalau begitu..." Tanpa peringatan, tiba-tiba saja Tomo melesat berlari meninggalkan Kazuha yang masih terpaku di tempatnya. "YANG TERAKHIR SAMPAI DI POHON ELECTRO SAKURA, HARUS MEMBAYAR SEMUA TAGIHAN DI RESTORAN NANTI...!"
Saat ini Tomo dan Kazuha sedang beristirahat di salah satu rumah warga di Desa Konda. Meski baru saling kenal, keduanya langsung menjadi akrab dengan satu sama lain.
"Akhirnya besok kita akan tiba di tempat tujuan kita."
"Iya."
"Jangan lupa kalau kau yang bayar tagihan restorannya, ya."
Kazuha tersenyum kecil. "Iya, iya."
Setelah itu keduanya kembali terdiam untuk cukup lama.
"Anu, Tomo."
"Hm?"
"Kenapa kau memutuskan untuk jadi pengembara?" Tanya Kazuha tiba-tiba.
Tomo memutar bola matanya, sebelum akhirnya ia bergerak untuk meraih kantung yang selalu ia bawa. Ia merogohkan tangannya untuk mengambil sesuatu dari dalam sana.
Tangannya menggenggam sebuah kulit keong yang berukuran sebesar telapak tangan.
"Kau tahu benda ini?"
Kazuha hanya menunjukkan gestur tubuh tak yakin.
"Ini adalah keong bergema. Keong ini satu-satunya benda peninggalan dari orang tuaku." Tomo menghela napas sebelum kembali membuka mulutnya. "Dalam Keong ini, ada rekaman suara orang tuaku. Tapi, aku sama sekali belum pernah mencoba mendengarnya, karena aku... selalu merasa takut."
Sebuah senyum sedih tersirat pada wajah Kazuha. "...Kalau boleh tau, apa yang membuatmu takut?" Tanyanya secara hati-hati. Entah kenapa suaranya terdengar begitu lembut dan menenangkan di kedua telinga Tomo.
Tomo menundukkan kepalanya. "Entahlah. Mungkin karena sejak kecil aku tidak tahu seperti apa orang tuaku, aku jadi merasa takut untuk mencari tahunya." Tomo memandang keong di tangannya dengan tatapan penuh kerinduan. "...Tapi, aku yakin kalau orang tuaku menyayangiku. Paman yang merawatku bilang, kedua orang tuaku adalah pengembara. Katanya, aku lahir saat Inazuma sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit. Jadi, pasti mereka meninggalkanku karena mereka punya alasan sendiri."
Tomo kembali melanjutkan ceritanya. "Aku memutuskan pergi mengembara karena aku ingin tahu dunia seperti apa yang disaksikan oleh orang tuaku. Aku ingin mencoba mengenal mereka dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, ketika aku sudah berhasil mengenal mereka lebih dekat... mungkin, mungkinーpada saat itulah, aku akan punya keberanian untuk mendengar suara dalam keong bergema ini."
Kazuha berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air matanya. "Tomo..."
Tomo memamerkan senyum terlebar miliknya pada Kazuha. "Lagipula, tidak ada yang benar-benar tahu takdir manusia itu seperti apa. Siapa tahu aku tidak sengaja bertemu dengan mereka di tengah perjalananku, kan?"
Jawaban penuh optimis milik Tomo membuat Kazuha tersenyum lega. "Aku yakin, suatu saat kau pasti akan bertemu dengan orang tuamu, Tomo."
Entah kenapa jawaban dari Kazuha membuat hati Tomo berbunga-bunga karena merasa gembira. "Hehe, terima kasih! Nah, sekarang, giliranmu yang cerita soalー"
"Zzzz..." Kazuha sengaja mengeraskan suara dengkurannya.
"Oi, jangan terang-terangan pura-pura tidur di depanku seperti itu!" protes Tomo merasa dikerjai. Namun ujaran protes tersebut tak digubris oleh Kazuha.
Akumulasi rasa gemas dan hasrat ingin balas dendam atas perbuatan jahil Kazuha selama ini akhirnya mendorong Tomo melakukan sebuah aksi nyata. Tanpa aba-aba, ia langsung menerjang Kazuha dan menggelitik sekujur tubuhnya. "Rasakan ini! Kitik-kitik-kitik~!"
Serangan mendadak tersebut membuat Kazuha bertekuk lutut seketika. Kedua kakinya menendang-nendang ke arah udara sebagai bentuk upaya perlawanan diri. "T-Tomo, hentikanーgeli, ah-ahhahaha!I"
"BERISIK...!!!!" teriak sang pemilik rumah dari arah seberang ruangan.
"M-maafkan kami," Bisik keduanya secara bersamaan. Dapat dipastikan kalau besok pagi nama mereka akan masuk ke dalam blacklist penduduk Desa Konda.
Keesokan harinya, Tomo dan Kazuha menghabiskan waktu kebersamaan terakhir mereka dengan berjalan-jalan di Kota Inazuma. Pertemuan keduanya memang tergolong singkat, namun kenangan yang mereka buat bersama akan terukir untuk selama-lamanya.
Sebelum berpisah, Kazuha mengajak Tomo ke suatu tempat.
"Terima kasih karena sudah mau menemaniku sampai sini, Tomo." Ujar Kazuha penuh rasa terima kasih, kemudian meletakkan sekuntum dendrobium yang ia bawa di dekat sebuah makam yang terletak di bagian utara Pulau Narukami. Usai meletakkannya, Kazuha merajut sebuah tatapan penuh nostalgia, lalu menyatukan kedua tangannya dan memanjatkan doa di depan makam tersebut.
Melihat hal tersebut, Tomo memutuskan untuk berdiri di samping Kazuha, lalu ikut memanjatkan doa kepada arwah yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka. 'Semoga arwahmu tenang di sana...' panjat Tomo dalam hati. Usai berdoa, Tomo tak sengaja membaca tulisan yang terukir pada pedang yang tertancap di atas makam tersebut.
"Sambut petir musim semi penghangus raga, dari abu kesudahan menjadi hara kehidupan."
Tomo tidak tahu siapa pemilik makam tersebut. Tapi Tomo bisa langsung tahu kalau pemilik makam ini adalah sosok yang berharga bagi Kazuha hanya dengan melihat ukiran tersebut.
Usai mengheningkan cipta, perhatian Kazuha kembali tertuju pada Tomo. "Setelah ini, aku akan kembali melanjutkan perjalananku ke Liyue. Bagaimana denganmu?"
Tomo mengangkat kedua bahunya. "Kurasa aku juga akan kembali berkelana setelah ini. Tapi, melihat kapal yang membawamu pergi dari Patung the Seven di Ritou kedengarannya bukan ide yang buruk."
Bibir Kazuha menyunggingkan sebuah senyum. "Kedengarannya bagus juga."
"Kazuha! Syukurlah, kau masih belum pergi dari Inazuma..." Tiba-tiba saja seorang pria paruh baya menghampiri mereka berdua. "Kamu sama sekali tidak berubah, ya. Tetap sama seperti saat terakhir kali kita bertemu."
"...Paman Thoma?" Tomo mengedipkan kedua matanya, terkejut. "Paman kenal dengan Kazuha?"
"Tomo??!" Thoma pun merasa tak kalah terkejutnya dengan Tomo. "Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau sedang pergi berkelana?"
"Umm, aku yang mengajaknya ke mari, Thoma..." Kazuha mengaku sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Mendengar jawaban tersebut, Thoma hanya mampu menghela napas lelah. "Ya sudah kalau memang itu maumu..."
Tomo memandang Kazuha dan Thoma secara bergantian. "Kalian berdua saling kenal?"
Thoma mengangguk kecil. "Tomo, sebetulnya Kazuha adalahーouw!"
"Kami berdua adalah teman lama," timpal Kazuha seraya memperlihatkan senyum terbaiknya pada Tomo. Sebetulnya Tomo punya banyak pertanyaan, tapi ia memutuskan untuk menanyakannya nanti-nanti.
"Thoma, terima kasih karena sudah selalu menjaga tempat ini." Lanjut Kazuha kemudian, mengangkat pijakan kakinya dari kaki Thoma. "Kau pasti sudah banyak kerepotan."
Thoma menggelengkan kepalanya. "Ini bukan apa-apa. Sebagai teman, aku hanya melakukan hal yang sejawarnya saja," balasnya sambil meringis kesakitan. "Lagipula, ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan penderitaanku setiap kali aku memergoki kalian berdua saat sedang kencal total."
Kazuha otomatis tersipu malu. "A-aku benar-benar minta maaf soal itu."
Setelah itu Kazuha dan Thoma tertawa lepas bersama-sama. Kelihatannya mereka berdua sedang mengenang sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Sebetulnya Tomo jadi merasa penasaran, tapi ia memutuskan untuk menanyakannya nanti-nanti (2).
Sayup-sayup terdengar suara nyanyian burung di udara. Kazuha memejamkan kedua matanya, membiarkan semilir angin yang sejuk membelai lembut rambut dan pipinya. "...Kelihatannya aku sudah harus pergi. Thoma, maaf karena aku sudah selalu merepotkanmu. Tapi, kali ini pun aku minta tolong padamu, ya. "
Thoma mengagguk kecil. "Serahkan saja padaku."
Kazuha meraih sesuatu dari dalam kantungnya, dan menyerahkannya pada Thoma. "Ini ada sedikit buah tangan dari Mondstat. Semoga Dewa Angin Barbatos senantiasa menyertaimu."
Sebuah senyum melankolis mengambang di wajah Thoma. "Terima kasih, Kazuha. Semoga Dewa Angin Barbatos juga senantiasa menyertaimu."
Semilir angin yang kemudian bertiup seolah-olah menjawab doa mereka. Setelah itu...
"Tomo,"
"Ya?"
Kazuha terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya. "Mungkin kita baru bertemu sebentar. Tapi, tidak ada yang namanya perpisahan yang abadi. Suatu saat, kita pasti akan bertemu lagi."
Tomo hanya mampu diam terhenyak saat mendengarnya. Kazuha lalu bergerak mendekati Tomo, kedua kakinya berjinjit agar ia bisa melihat wajahnya dari dekat secara seksama.
Sekilas, tatapan tersebut mengingatkan Tomo pada saat pertama kali mereka bertemu. Samar-samar Tomo ingat Kazuha menghampirinya sebelum kesadarannya benar-benar hilang seutuhnya. Saat itu Kazuha juga memandangnya dengan tatapan penuh rindu seperti ini.
Akan tetapi secara tiba-tiba, Kazuha mencubit kedua pipinya dan bergegas berlari menjauh darinya. Tomo menarik kata-katanya. Ternyata pemuda bernama Kaedehara Kazuha ini sangat jahil dan meresahkan seperti Paman Ayato.
"Kazuhaaa....!" raung Tomo geram sambil berlari menerjang Kazuha.
Kazuha tertawa puas sambil berlari menjauh dari kejaran Tomo. "Ini balasan untuk yang di Desa Kondo!"
Tomo berdiri di dekat patung The Seven seraya menatap kapal besar yang membawa pergi Kazuha. Ia sengaja tidak mengucapkan salam perpisahan, sebab Tomo yakin jika suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu kembali. Selain itu, Kazuha sendiri juga sempat berkata, "Sampai jumpa lagi, Tomo!" sebelum ia pergi meninggalkannya.
Tanpa sadar, Tomo mendekatkan permukaan kulit keong tersebut pada daun telinganya. Entah apa yang membuat tubuhnya secara refleks bergerak, padahal selama ini ia selalu merasa takut untuk mendengarnya.
Tomo memejamkan kedua matanya, agar indera pendengarannya jadi lebih tajam dari biasanya.
"Bagaimana kalau kita namai anak kita Tomokazu saja?" Sebuah suara yang asing terdengar dari dalam keong. Apakah ini suara ayahnya? "Menamai anak kita dengan menggabungkan nama kita berdua. Kedengarannya bukan ide yang buruk, kan?"
"Kedengarannya bagus juga." Balas seseorang, "Kalau begitu, kita beri nama anak ini Tomokazu."
"Semoga dia jadi anak yang pintar dan kuat sepertimu, Kazuha."
"Kuharap saat dewasa nanti, dia juga mirip denganmu, Tomoー"
Setelah itu, tak ada lagi suara yang terdengar dari dalam keong bergema tersebut.
Tomo terhenyak lama di tempatnya. Suara yang barusan ia dengar, tidak salah lagi, adalah suara milik Kazuha.
...Tunggu sebentar. Kazuha. Kaedehara Kazuha.
Akhirnya Tomoーtidak, ternyata ia punya nama, dan namanya adalah Tomokazuーingat di mana ia pernah mendengar nama itu. Saat kecil, ia pernah tak sengaja mendengar percakapan antara Thoma dan Ayato mengenai orang tuanya.
(Flashback)
"Sebetulnya aku merasa tidak enak pada anak itu. Tapi, Kazuha memintaku untuk merahasiakan hal ini... bahkan pada darah dagingnya sendiri."
"...Apa boleh buat. Kazuha pasti mencemaskan nasib anak itu, karena bagaimanapun juga, ada darah Kaedehara yang mengalir dalam tubuhnya."
"Yeah. Kau benar."
"Sekarang, yang bisa kita lakukan adalah merawat dan menjaga Tomokazuー"
"Tomo."
"Ah, ya... benar. Tomo. Aah, aku masih belum terbisa memanggil anak itu dengan nama ayahnya sendiri."
"Kalau tidak begitu, semua orang di Inazuma pasti bakal langsung tahu kalau dia adalah anak Tomo dan Kazuha! Kau tahu sendiri, kan, seperti apa image orang-orang soal mereka berdua."
"Ah... ya, kau benar..."
"Kasihan sekali anak ini kalau sampai jadi bahan pembicaraan orang-orang karena kelakuan mesum kedua orang tuanyaー"
"Thoma, perhatikan ucapanmu. Bagaimana kalau anak itu sampai dengar?"
"Huft. Maaf, lagi-lagi aku kelepasan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, mentalmu pasti sudah sangat lelah karena selalu tidak sengaja memergoki mereka berdua sedang berbuat asusila, kan?"
"Ayato, hati-hati dengan ucapanmu juga."
"...Ups?"
(End Of Flashback)
Seketika, segalanya jadi terasa masuk akal bagi Tomokazu.
Kazuha yang diam-diam selalu memperhatikannya secara seksama. Kazuha yang selalu menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Kazuha yang selalu memanggilnya dengan suara yang merdu lagi menyejukkan hati. Kazuha yang senantiasa mendoakannya dalam diam di tengah kesunyian malam.
Semua itu karena Kazuha adalah sosok yang mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.
Tomokazu tak kuasa lagi membendung air mata yang sudah ia tahan sejak tadi. Rasa haru, sedih, lega, dan senang bercampur menjadi satu. Ternyata orang tuanya benar-benar menyayanginya. Mereka tidak pernah menelantarkannya.
Tomokazu terlalu larut dalam lautan emosi, sehingga ia tidak sadar jika ada seseorang yang berjalan mendekatinya.
"Kau butuh ini?" tanya orang itu sambil menyodorkan sebuah sapu tangan padanya.
"Hiks, terima kasih." Tomokazu menerima sapu tangan tersebut, lalu menyeka wajah dan hidungnya yang basah karena air mata dan ingus.
Lalu ada jeda selama beberapa saat, hingga Tomokazu terperanjat si tempatnya seperti habis melihat hantu. "K-Ka-Kazuha??!"
"Hehehe." Kazuha memamerkan senyum jahil andalannya. "Apa kabar, Tomo?"
Tomokazu menelan ludahnya. "Kazuha, kenapa kau ada di sini? Kau tidak jadi pergi ke Liyue?"
"Hmm. Begitulah."
"Kenapa?"
"Menurutmu, kenapa?"
Ugh. Lagi-lagi begini. Sepertinya Tomokazu memang tidak pernah bisa menang dari Kazuha.
Seolah bisa membaca isi kepala Tomokazu, Kazuha membuka mulutnya. "Setelah melakukan perjalanan singkat denganmu, aku baru sadar. Ternyata, berkelana bersamamu itu terasa menyenangkan. Jadi, aku memutuskan untuk kembali lagi ke sini."
Tomokazu otomatis mengernyitkan keningnya. "Maksudmu, menjahiliku itu terasa menyenangkan?"
Kazuha terbatuk karena tidak mampu menyangkal pertanyaan tersebut. "Ahem. Jadi, kalau kau berkenan, apa kau mau kembali berkelana bersamaku?"
"Sebagai orang tua dan anak, atau sebagai teman?"
"Bagaimana kalau sebagai keduanya sekaligus?"
"Oke, deal." Tomokazu mengulurkan tangannya pada Kazuha. Kazuha menyambut uluran tangan tersebut, namun seketika itu juga raut wajahnya berubah.
Tomokazu tampak sangat puas karena akhirnya bisa balas menjahili Kazuha. Sambil memamerkan cengiran terlebar miliknya, ia berkata, "Ini balasan untuk kedua pipiku yang tak berdosa!"
Usai mengatakannya, Tomokazu berlari (sambil tertawa) untuk menyelamatkan diri dari Kazuha. Namun, alih-alih mengerjarnya, Kazuha hanya menghela napas, membungkukkan badannya, lalu melepas salah satu alas kakinya.
Kedua mata Tomokazu terbelalak.
"Oh tidakー"
(Setelah itu, Tomokazu tidak ingat apa-apa lagi.)
Saat tersadar, Tomokazu menemukan dirinya sedang terbaring di sebuah bekas perkemahan milik Treasure Hoarders yang sudah tak lagi digunakan. Tak jauh tempatnya, terdapat sesosok pemuda yang sedang sibuk meniup-niup tumpukan daun kering. Kelihatannya pemuda itu sedang berusaha membuat api unggun.
"Oh, rupanya kau masih hidup? Padahal, aku baru saja mau menyalakan api untuk mengkremasi tubuhmu." Celetuk pemuda tersebut sambil tersenyum hangat pada Tomokazu.
Tomokazu balas tersenyum padanya. "Sayang sekali, aku masih hidup! Hahahaha!" ujarnya sambil mengelus benjolan di kepalanya.
