Actions

Work Header

Ajax, Hidup Berjalan seperti di Dufan

Summary:

Terkadang Ajax mempertanyakan dirinya di masa lalu ketika ia dengan senang hati menerima lamaran Zhongli.

[domestic zhongchi dengan kearifan lokal.]

Notes:

disclaimer aja ya: ini fanfic zhongchi domestic indo!AU (no one asking for). aku sebenernya cuma mau childe manggil zhongli "mas" so jadilah fic absurd ini. dan fyi humorku kering kerontang jadi yaaaa... maafkan:)

btw ini basically pwp tapi gapake skidipapap nya

anyway enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari itu, sang surya tengah bersinar terang, tersenyum dengan bahagia terhadap dunia. Hari itu juga, Kaeya dan Bennett memutuskan untuk duduk-duduk santai di pos ronda RT mereka ditemani sepiring kacang dan pisang rebus. Tak lama, suara clepak-clepok sandal jepit shallow menggema di kawasan Gang Stone Gate. Kaeya yang mulanya fokus menyusun strategi dalam permainan kartu melawan Bennett, seketika menengadahkan kepala menuju sumber suara. Cangkir kopi yang sebelumnya hendak diseruput juga ikut ditaruh kembali. Di pertigaan ujung gang, nampak Zhongli yang berjalan dengan gagah berani lengkap dengan sarung kotak-kotak coklat dan baju koko—atribut khas seusai salat jumat. Kaeya meringis, sangat berbanding terbalik dengan outfit kuli bangunan yang saat ini sedang ia gunakan: celana training bekas SMA lengkap dengan kaos partai.

“Waduh, ada Mas Kaeya sama Mas Bennett. Siang, Mas-mas, hehe,” sapa Zhongli yang telah berdiri tepat di samping pos ronda tempat Kaeya dan Bennett sedang nongkrong bareng. “Saya boleh gabung, ndak? Saya juga pingin tahu rasanya bergaul dengan kawula muda, haha.”

Bennett dengan penuh rasa hormat dan menjunjung tinggi norma sopan santun terhadap yang lebih tua, segera menjawab, “wah, monggo, pak!” Remaja bersurai putih tersebut menggeser tempat duduknya, memberi ruang kepada yang lebih tua untuk duduk.

“Terima kasih, Mas Bennett,” jawab lelaki berhelai coklat tersebut seraya mendudukkan diri di samping sang remaja laki-laki dan di hadapan Kaeya. Dikarenakan luas pos ronda yang tidak begitu besar, alhasil kedua lelaki dewasa dan seorang remaja tersebut harus duduk berdempet-dempetan. Ketiganya duduk bersila dengan lutut yang saling menyenggol satu sama lain.

Udah kaya duduk waktu pengajian 1000 hari Pak Crepus aja, batin Kaeya diam-diam. Namun, Kaeya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ada hal lain yang mengganjal di hati.

“Em… Pak Zhongli? Mohon maaf, nih, pak, sebelumnya, tapi bapak sudah izin suami bapak, belum? Kan, suami bapak…” Kaeya terdiam sejenak untuk memilih kata yang tepat untuk mendeskripsikan pasangan hidup dari lelaki yang tengah duduk di hadapannya ini. “…ganas, begitu, pak,” lanjutnya.

Zhongli yang hendak menyeruput kopi (milik Bennett dan yang bersangkutan hanya bisa buka-tutup mulut, maju-mundur untuk mengingatkan Zhongli) segera mengurungkannya. Kemudian, lelaki tersebut tertawa renyah, renyaaah banget seperti kerupuk rambak yang dijual di warungnya Xiangling. “Ajax? Ah, masa dia ganas. Justru, ya, Mas Kaeya, dia jinak banget, kok. Mungkin agak liar aja kalau di ranjang, pak, hahaha.”

Kaeya hanya dapat ikut tertawa sebagai tanggapan. Jauh di dalam hati, perasaannya makin tidak enak. Ia memiliki firasat akan terjadi hal yang buruk dalam hitungan detik. Dan benar saja, seketika terdengar suara teriakan menggelegar dari ujung gang.

“Mas Zhongliiii!”

Teriakan tersebut diikuti munculnya sebuah sandal melayang yang dengan sigap dapat dihindari oleh Zhongli dan Kaeya sehingga telak mengenai dahi Bennett. Remaja tersebut seketika jatuh menggeblak. Selanjutnya, tanpa ampun, datang serangan susulan. Sandal kembali dilemparkan dengan sekuat tenaga dan presisi yang tinggi. Kali ini, sandal tersebut melaju kencang dan berhasil mengenai puncak kepala Zhongli, tetapi memantul dan lagi-lagi menampar wajah Bennett. Kaeya meringis, mengasihani nasib nahas remaja tersebut diakibatkan adegan kekerasan rumah tangga yang paling berumur di antara ketiganya. Kasihan, ya, mana masih muda lagi, batinnya.

Sosok bersurai jingga menyala diterpa sinar mentari siang tersebut berjalan menuju pos ronda tanpa alas kaki. Sosok lelaki tersebut masih mengenakan kaos I love Jogja lengkap dengan celana batik panjang yang dibeli di Pasar Beringharjo. Tak ketinggalan, lelaki tersebut juga mengenakan celemek hadiah dari mamacuka yang nampaknya sudah berbulan-bulan belum merasakan rengkuhan mesin cuci. Raut wajahnya penuh amarah dan nampaknya siap untuk memakan orang. Orang tersebut kemungkinan besar adalah Zhongli. “Dasar suami kurang ajar! Suami gak tau diri! Bisa-bisanya dulu aku terima lamaran kamu!” amuknya.

“Waduh, waduh.” Takut aibnya terbuka lebih banyak lagi, Zhongli cepat-cepat berdiri dan meletakkan tangannya di pundak sosok tersebut, sebuah gestur berusaha menenangkan. Pundak tersebut dielus-elus perlahan sebagai upaya untuk meredam amarah. “Jangan marah-marah, dong, Dek Ajax. Ayo, ayo, tarik napas, buang napas, tarik napas, buang napas….”

Lelaki tersebut, Ajax, cepat-cepat menepis tangan Zhongli dari pundaknya. Wajahnya memerah karena amarah yang meluap-luap. Dahinya mengernyit, alisnya menyatu. Tatapannya tajam setajam pisau dapur yang baru saja dibeli Ajax di toko kelontong Mbak Marjorie. Napas ditarik dalam-dalam, kemudian, “mas, tuh, ya, gak tahu diri banget. Aku sudah masak buat makan kamu, bersihin rumah, terus masih mengurus keuangan juga! Terus kamu malah asik-asikan nongkrong hahahehe di pos ronda gini!”

Seusai lelaki bersurai jingga tersebut mengabseni satu-satu aib dan kesalahan suaminya, Zhongli kembali mengambil upaya untuk meredam api amarah sosok tercintanya tersebut. “Sayang, sayang, dengarkan aku dulu–“

“Halah, bacot!”

Kaeya bersiul diam-diam. Mulut Ajax memang pedas tiada lawan. Seblak buatan Xiangling saja juga kalah saing.

Mantap, sih, ini buat bahan gosip besok waktu belanja sayur di Kang Dongsheng, niat busuk Kaeya dalam hati.

Nampaknya, tidak hanya Kaeya yang sedang menikmati tontonan sinetron live gratis yang dibintangi oleh pasutri Zhongli-Ajax. Terlihat Lisa, yang sebelumnya sedang menjemur pakaian, kini tengah dengan syahdu menyimak pertengkaran tersebut dari balkon kamar kosnya. Nampak juga Jean dan Barbara yang sedang lesehan memakan lalapan di teras rumah hanya demi menyaksikan secara langsung drama antara Zhongli dan Ajax. Tak mau ketinggalan, Diluc yang sedang menyiram tanaman di kebunnya juga ikut mengintip sumber keributan di siang bolong tersebut melalui pagar rumahnya.

Memang, ya. Pertengkaran tetangga lebih seru dari ftv-ftv yang sering tayang di televisi.

“Kamu nanti malam tidur di ruang tamu! Fix, no debat, no kecot,” sabda Ajax tiba-tiba memecah keheningan. Ia membalikkan badan dan menyilangkan tangan di depan dada, enggan bertatapan lebih lama lagi dengan suaminya.

Kaeya dan Bennett seketika terkesiap berjamaah. Lisa tiba-tiba secara tidak sengaja menjatuhkan jemurannya. Jean dan Barbara yang hendak menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulut juga seketika mematung. Bahkan, Diluc yang sebelumnya khidmad menyiram tanaman juga ikut terdiam.

Kala itu, bumi serasa terdiam, menyimak pasangan yang sedang tidak akur tersebut. Hening tanpa suara. Hanya suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin yang menjadi original soundtrack sinetron ini. Suasana makin tegang, tegang, tegang, dan–

Kemudian, masih dengan tampang tanpa dosanya, Zhongli justru bertanya, membuka mulut memecah keheningan, “dek, maksudnya no kecot itu apa, ya–“

Bogem mentah dari Ajax mendarat di wajah tampan suaminya seketika itu juga.

 


 

Ajax yang suntuk setelah pulang kerja dari Bank Northland seketika segar kembali ketika melihat suaminya sedang menyapu teras. Rasa 5L (lesu, lemah, letih, lelah, dan lah-anjing-capek-banget) seketika hilang, menguap di dara. Masih mengamati dari jauh, lelaki bersurai jingga tersebut dalam hening tersenyum simpul, bahagia rasanya melihat suaminya menuruti perkataan Ajax. Jadi makin cinta, deh, batin lelaki tersebut dalam hati. Sepertinya ancaman untuk tidak tidur satu ranjang dengannya memang cukup efektif.

“Loh, Dek Ajax sudah pulang,” sapa Zhongli ketika mendapati suami tercintanya telah kembali dari tempat kerjanya. “Ayo sini. Ngapain kamu berdiri di luar, nanti masuk angin.”

Dikarenakan mood Ajax yang sedang baik-baiknya, ia tersenyum manis, maniiis banget seperti gulali kesukaan Klee. Selanjutnya, lelaki tersebut berjalan mendekati suaminya dan bergelayutan manja padanya. “Hehe, Mas Zhongli makin ganteng aja, apalagi kalau bantu aku beres-beres rumah gini,” goda Ajax seraya mengecup mesra pipi suaminya.

Tangan kiri Zhongli seketika merangkul pinggang ramping Ajax seraya mengklaim bibir suaminya tersebut. “Dek Ajax juga makin manis aja, hehe. Oh, iya, omong-omong soal beres-beres rumah, barusan aku menemukan barang bagus banget di shofie,” ucap lelaki bernetra emas tersebut seraya tangannya merogoh handphone dari saku celananya. “Ini namanya vacuum cleaner otomatis. Jadi, kamu ndak perlu lagi capek-capek menyapu rumah begitu.”

Ajax menjawab dengan tawa canggung tetapi tetap menatap sepasang manik suaminya dengan tajam. “Barangnya cuma kamu masukin keranjang aja, kan? Kamu gak check out barangnya, kan?”

“….”

“Mas Zhongli, kamu masukin ke keranjang aja, kan, barangnya?”

“…barusan aja aku check out, Dek….”

“….”

Ajax kemudian men-smack down Zhongli di tempat. Terkadang Ajax mempertanyakan dirinya di masa lalu ketika ia dengan senang hati menerima lamaran Zhongli.

Notes:

yes, i made a new ao3 acc just because. it has been a reaaalllyyy long time since the last time i write a fanfic so excuse my tata bahasa yang sangad asdfghjkl. sebenarnya aku pingin buat semacam series fic dari indo!AU ini tapi tau lah kehidupan kuliah keras brow :""")

btw kalian yang sesama All x Childe enjoyer, yuk temenan!