Actions

Work Header

To Your Eternity

Summary:

Ratusan tahun lalu, setelah Mu Qing memilih meninggalkan Xie Lian dan Feng Xin ia tidak pernah 'naik'. Mu Qing hilang begitu saja, Xie Lian pikir Mu Qing mungkin saja sudah mati.

Namun setelah surga hancur, segala hal tentang Mu Qing kembali digali. Kenyataan bahwa Mu Qing memang mati itu benar, namun Mu Qing masih tetap 'hidup' sebagai salah satu Golongan Tertinggi yang sangat misterius.

Feng Xin awalnya tidak ingin memikirkan hal ini, namun rasa penasaran mendorongnya mencaritahu tentang Mu Qing.

"800 ratus tahun, 1000 tahun, atau 10.000 tahun aku selalu menyukaimu, Feng Xin."

Notes:

Ini adalah salah satu karya yang pengen aku tulis sejak lama, baru terealisasikan sekarang. Ff ini sepenuhnya kubuat untuk hiburan dan menunjukkan cintaku pada Mu Qing❤️

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: 5 Golongan tertinggi

Chapter Text

All the memories I cannot leave are like a lonely dream.

 

Ibukota Surgawi kembali dibangun, lebih megah dari sebelumnya. Pejabat Surgawi tampak sibuk seperti biasanya, pasca kejadian mencengangkan yang mereka alami beberapa waktu lalu, mereka mulai berusaha mengubah sifat buruk sedikit demi sedikit. Menyadari bahwa mereka terlalu tenggelam dalam madu dan tidak menganggap serius dunia yang semakin lama semakin kejam ini.

Istana Nan Yang dibangun dengan megah seperti sebelumnya, beberapa pejabat junior tampak sibuk berlalu lalang membawa gulungan dokumen atau busur serta anak panah untuk turun ke alam fana. Susunan komunikasi masih ramai seperti biasanya, setelah Ling Wen kembali dari pelariannya ia disuguhi tumpukan gulungan untuk diselesaikan. Semua mengeluh dan menyadari bahwa tidak ada yang sebaik Ling Wen dalam mengatasi hal-hal ini.

Jendral Nan Yang, memasukkan anak panah terakhir kedalam tas panahannya. Mata emas kemudian bergulir menatap Yang Mulia Putra Mahkota yang duduk dihadapannya, menyesap teh dengan hati-hati sembari menikmati pemandangan taman buatan yang dibangun sebaik dan sedetail mungkin. Mereka menikmati waktu bersantai setelah sekian lama berkutat dengan kekacauan alam surgawi, juga menikmati waktu setelah semua kesalahpahaman dimasalalu selesai. 800 tahun Feng Xin seorang Dewa Beladiri terbaik yang selalu tampak kuat tak tersentuh menyimpan beban didalam hatinya, rasa bersalahnya pada Xie Lian karena meninggalkan Putra Mahkota itu dimasa tersulitnya. Kini beban itu sudah dilepaskan, ia sudah berani menatap Xie Lian seperti dulu.

"Feng Xin." Xie Lian memanggil.

"Ya, Yang Mulia?" Xie Lian menoleh, menatap Feng Xin lekat. Mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi tertuju pada angsa-angsa berbulu putih bersih yang berenang diatas kolam.

"Apakah setelah kau pergi, kau tidak pernah bertemu Mu Qing?" Xie Lian bertanya hati-hati. Ia tahu bahwa Feng Xin dan Mu Qing memiliki sejarah kelam dimasalalu, ia tahu bahwa mereka tidak pernah akur meski hanya satu detik dan semua kebencian itu lepas begitu saja ketika Mu Qing memilih meninggalkan Xie Lian dengan tiba-tiba.

Alis Feng Xin berkerut dalam, kenapa Xie Lian tiba-tiba membahas bajingan tak tahu terima kasih itu?

"Kenapa kita harus membahasnya? Dia sudah menghianatimu dengan pergi begitu saja." Suara Feng Xin menahan gejolak perasaan tidak nyaman, sudah 800 tahun berlalu namun bayangan ekspresi dingin Mu Qing ketika ia pergi masih terbayang jelas didalam kepala Feng Xin. Seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

"Tidak, hanya saja. Aku berpikir apakah dia masih hidup atau tidak."

"Sudah 800 tahun, manusia mana yang akan tetap hidup lebih dari 100 tahun?" Feng Xin bertanya skeptis, ia tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah menyangkut tentang Mu Qing. Karena Mu Qing, ia mengetahui dengan jelas apa itu sebuah pengkhianatan.

Xie Lian mendesah kecil. "Saat Jun Wu menyanderaku hari itu, dia sempat menyinggung tentang Mu Qing. Aku khawatir jika memang dia mati, mungkin saja kematiannya tidak sesederhana itu."

Feng Xin menatap lekat Xie Lian, bertanya-tanya apa yang Xie Lian maksud. Kenapa Jun Wu membahas tentang Mu Qing?

"Apa yang dia katakan?"

Xie Lian memijit pelipisnya pelan. "Tidak banyak." Suaranya goyah. "Hanya dia mengatakan bahwa mungkin seseorang lagi-lagi mati karenaku."

Bai Wuxiang selalu menjadi teror bagi Xie Lian, tekanan secara psikologis yang Iblis itu berikan menghancurkan Xie Lian menjadi debu. Ketika ia mengingatnya kembali, serta kata-kata yang Jun Wu ucapkan tentang Mu Qing maka Xie Lian takut bahwa Mu Qing mengalami hal yang sama seperti dirinya.

"Dia hanya bicara omong kosong." Feng Xin mencoba menghibur Xie Lian. "Jika Mu Qing mati maka dia pantas mendapatkannya, memang dia siapa hingga Jun Wu harus repot-repot membereskannya!" Feng Xin menghibur Xie Lian, kata-katanya penuh dengan cacian yang ditunjukkan untuk Mu Qing. Namun Feng Xin sadar bahwa jauh didalam dasar hatinya, ia merasa tidak nyaman mengatakan hal ini.

Xie Lian kembali menyesap tehnya. "Semoga saja."

Mata emas Feng Xin tertuju pada pohon ceri yang kini berbunga dengan cantik, satu-satunya bunga yanga ada ditaman buatannya. Ceri yang mengingatkannya pada seseorang.

"Oh, apa kau akan kembali mencari Nyonya Jian Lan dan Cuo Cuo?" Tanya Xie Lian mengalihkan topik pembicaraan.

Feng Xin mengangguk. "Aku akan mencarinya, bagaimanapun Cuo Cuo adalah putraku."

"Semoga berhasil, jika membutuhkan bantuan kau bisa menghubungiku."

"Terima kasih, Yang Mulia."

 

.

Jendral Nan Yang membuka matanya, menatap langit-langit tinggi dan megah diatasnya. Selimut sutera menutupi tubuh besarnya, ia meremat selimutnya perkataan Xie Lian beberapa waktu lalu membayangi Feng Xin dengan kejam. 

Apakah Mu Qing sudah mati? Jika Mu Qing sudah mati bagaimana caranya dia mati? Apakah dia mati dengan tenang?

Namun selama 800 tahun ini Feng Xin selalu beranggapan bahwa Mu Qing masih hidup entah dimana. Ketika ia naik, hal pertama yang dicarinya adalah Mu Qing. Ketika tahu bahwa Mu Qing tidak pernah naik, ia merasa sangat kecewa namun hal itu dipendamnya dalam ketika mengingat kembali bagaimana perlakuan Mu Qing selama ini.

Lagipula, mereka bukanlah teman dan tidak akan pernah menjadi seperti itu.

Feng Xin bergegas bangkit, ia mengikat rambutnya dengan rapi dan turun dari atas ranjang luasnya. Melintasi lorong demi lorong Istana megahnya, berusaha membuang jauh-jauh gagasan bahwa ia memikirkan Mu Qing bahwa ia memikirkan bagaimana pria itu mati. Ia tidak akan memikirkan bahwa Mu Qing barangkali mati dengan tragis ditangan Jun Wu atau Bai Wuxiang. Bukankah Mu Qing sangat takut pada kematian? Bukankah Mu Qing menghargai hidupnya dengan baik? Lantas atas dorongan apa Mu Qing bersedia mati untuk Xie Lian?

Jawabannya adalah tidak ada. Kesetiaan dan pengabdian tidak pernah ada didalam diri Mu Qing, ia hanyalah bajingan brengsek yang hanya ingin hidup nyaman dan mencampakkan Xie Lian juga dirinya ketika mereka sudah tidak memiliki apa-apa. Mu Qing selalu begitu. Berkata dengan ringan bahwa ia ingin pergi, memalingkan muka darinya, membuangnya dengan kejam seperti Feng Xin hanyalah sampah tak berguna.

Kemudian Mu Qing lenyap begitu saja. Tidak pernah kembali. Tidak pernah sekalipun menengok Xie Lian. Tidak pernah menanyakan kabar. Mereka ada dibawah langit yang sama, tetapi mereka seolah terpisah antara dasar neraka dan surga.

Mu Qing memberi mereka punggung yang dingin, bersikap brengsek hingga akhir, hanya hidup untuk dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan oranglain. Hanya memikirkan dirinya. Jika dia berakhir dengan tragis maka tidak seharusnya Feng Xin merasa sesedih ini bukan?

Karena pada kenyataannya Mu Qing tidak pernah menginginkannya.

.

.

Bunga haitang bermekaran, pohonnya tumbuh berjejer disepanjang jalanan tandus yang ketika tertiup debu maka akan terbang dengan liar hingga menyebabkan batuk. Matahari mulai kembali ke peraduan, nyanyian anak-anak menyambut senja terdengar. Beberapa kelopak bunga haitang gugur, jatuh keatas tanah. Pohon-pohon itu terus tumbuh seakan menunjukkan satu tempat.

Sebuah bangunan megah berdiri jauh dari permukiman, bangunan kayu kokoh yang tampak tidak tersentuh. Tanaman-tanaman mati, hanya menyisakan ruang gersang dengan bangkai pohon yang terlihat memprihatinkan. Awan tebal menutupi atas bangunan megah itu, burung-burung gagak berterbangan bebas disekitar bangunan. Tampak suram dan mengerikan, seolah tempat ini dibangun diatas kesedihan yang menumpuk.

Namun anehnya, bunga-bunga haitang bermekaran cantik berbagaimacam warna. Tampak begitu kontras dengan 'kematian' yang membayangi tempat ini. 

Salah satu burung gagak terbang rendah, hinggap diatas jendela yang memperlihatkan langsung isi didalamnya. Sebuah kamar dengan beberapa lilin yang menyala redup, tirai manik-manik tampak menutupi ranjang luas yang dingin. Dibalik tirai samar-samar bayangan pria berkulit pucat tampak, pria yang mengenakan pakaian dengan jubah hitam bersulam pola bunga haitang yang menyebar disepanjang bahunya. Rambut hitam legam yang terlihat halus tergerai mengalir di tulang punggungnya. Ketika pria itu membuka mata, sepasang mata cantik berbentuk bak buah persik dengan bulumata panjang melengkapi kepingan kelabu yang tampak tidak hidup. Sebuah tanda merah berbetuk tiga kelopak bunga terlihat mencolok didahi putihnya.

Jari lentik terulur, burung gagak itu terbang hinggap dijarinya. Ia menggerakkan tubuhnya gelisah, paruhnya terbuka lebar dan memuntahkan secarik kertas kecil keatas telapak tangan sang pria.

"Pergilah." Suara yang lembut dan tenang, burung gagak menggepakkan sayapnya dan segera terbang keluar dari jendela kembali bersatu dengan kawanannya.

Pria itu mulai membaca tulisan yang terlihat samar diatas kertas tersebut.

Jun Wu berhasil dikalahkan. Pembangunan Ibu Kota Surgawi. Hua Cheng menghilang. Yang Mulia Putra Mahkota selamat. Feng Xin bertemu dengan Jian Lan dan putranya.

Bibir tipis sedikit terbuka, alis rapi sedikit berkerut namun matanya tetap lekat menatap tulisan yang tertera. 

Pria itu kemudian bangkit, berjalan menuju kaca besar yang berada disudut ruangan. Menatap pantulan dirinya dicermin. Kulitnya masih putih seperti dulu, namun tidak ada jejak kehidupan didalam dirinya.

Salah satu pelayan Putra Mahkota Xian Le, Mu Qing yang mati delapan ratus tahun yang lalu kini menjadi iblis golongan tertinggi. Sebenarnya, ada 5 Iblis Golongan Tertinggi bukan 4. Namun Mu Qing adalah iblis yang sangat misterius, ia tidak pernah tampil atau terlalu menonjol. Sebutan untuk Iblis Haitang mungkin terdengar lucu, namun eksistensi Mu Qing tidak boleh dianggap remeh. Pada awal kemunculannya, Mu Qing memusnahkan sebuah Kota dalam semalam. Dengan jutaan kelopak haitangnya, ia memotong-motong tubuh manusia yang tinggal di kota itu. Itu sebabnya meski Iblis Haitang begitu misterius namun tidak ada yang berani menganggunya. Tempat tinggalnya juga sangat tersembunyi.

Delapan ratus tahun Mu Qing bersembunyi, ia berusaha agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun terlebih lagi Feng Xin atau Xie Lian. Mu Qing hanya terus mengirim gagak-gagaknya untuk mencari berita tentang dua dewa itu, namun untuk Xie Lian hasilnya selalu nihil. Karena kemalangan yang menimpa Xie Lian, sulit bagi Mu Qing untuk mencarinya.

Mu Qing hanya mendengar kabar Xie Lian belakangan ini, ketika Hujan Darah Mencapai Bunga menemukan Xie Lian setelah ratusan tahun. Baik, sebagai salah satu golongan tertinggi Mu Qing dan Hua Cheng memiliki hubungan yang cenderung baik meski tidak bisa dianggap 'terlalu baik'. Namun setidaknya mereka tidak berusaha menghancurkan satu sama lain itu sudah cukup.

Sekarang Hua Cheng sudah menghilang, mungkin ini waktunya bagi Mu Qing untuk muncul. Untuk menuntaskan segala hal yang terjadi dimasalalu, ia tidak bisa terus bersembunyi seperti tikus kecil yang ketakutan.

Mu Qing mengikat rambut hitamnya menjadi satu, sebuah pita abu-abu mengikat kuat rambutnya. Mu Qing bersiul kecil, seekor kucing gemuk berbulu putih muncul. Terlihat menguap malas dan memamerkan cakarnya ke udara.

"Kau bermalas-malasan lagi, kucing jelek?!" Mu Qing bertanya dengan nada kesal.

Mendengar sebutan 'kucing jelek' buntalan bulu itu mengeong keras tidak terima, mata sewarna jade menyipit geram. Xiaoxiao nama kucing itu, seharusnya berarti 'kecil' namun karena ia adalah kucing spiritual yang keren dan sangat suka makan maka tubuhnya kini sebesar bola dan bisa ditendang kemanapun.

Mu Qing berjalan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga pelayan iblis terlihat sibuk membersihkan tempat tinggalnya. Ketika melihat Mu Qing, mereka segera menyapanya dengan hormat. Mu Qing masih dingin seperti biasa, ia mengabaikan sapaan pelayannya.

"Ayo pergi." Mu Qing berucap pada Xiaoxiao. Kucing gemuk mengeong kecil, dalam sekejab tubuhnya berubah menjadi serigala putih yang begitu besar dengan tanda merah seperti milik Mu Qing didahinya. Mu Qing segera naik keatas tubuh Xiaoxiao dalam waktu singkat serigala raksasa terbang melintasi langit.

 

.

.

Feng Xin membaca gulungan yang menumpuk diatas meja kerjanya, kerutan diantara alis Dewa Beladiri bagian tenggara itu semakin dalam. Tangannya mengenggam kuas, tulisan tangan yang begitu buruk tertera pada beberapa gulungan. Dimasalalu, Mu Qing sering mengejek tulisan tangannya yang mirip seperti cakaran ayam yang sama sekali tidak menyenangkan untuk dibaca. Tentu saja setelah itu mereka akan bertukar pukulan dan Xie Lian akan menghukum keduanya menyebutkan kereta Idiom.

Feng Xin adalah putra bangsawan, tentu rasanya memalukan diejek oleh Mu Qing.

Ling Wen menghubunginya melalui susun komunikasi.

"Selamat malam, Jendral Nan Yang." 

"Ada apa?"

"Ada doa yang datang padaku beberapa waktu yang lalu, berasal dari seorang Jendral. Dikatakan bahwa dikampung halamannya terjadi kasus 'Hantu Pencuri Nyawa'. Situasinya cukup serius, anda harus turun untuk mengatasi ini."

Feng Xin menghembuskan napasnya. Menjadi Dewa itu juga melelahkan, kadang-kadang.

"Baiklah, kirim gulungan rincian kasus padaku. Aku akan segera mengatasinya."

"Baik Jendral Nan Yang."

Komunikasi kemudian terputus, Feng Xin bergegas mengambil busur dan anak panahnya. Ia keluar dari ruang kerjanya dan disambut oleh pejabat junior yang memberinya gulungan kasus kali ini, harus Feng Xin akui bahwa Ling Wen sangat efektif dari waktu ke waktu. Tanpa membuang waktu, Feng Xin segera melompat kebawah menuju desa yang dimaksud.