Actions

Work Header

Endless tears

Summary:

Air mata tanpa akhir. Itu yang Albert rasakan ketika mengingat semua penyesalannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

matahari sudah bersinar di luar sana, burung-burung sudah berkicau di luar sana, tipikal hari yang sama ketika Albert membuka matanya. Albert merenggangkan tubuhnya bersiap dengan hari biasanya.

Albert melangkahkan kakinya pada sisi dinding yang setiap harinya tak lupa ia isi dengan guratan-guratan yang menjadi pengingatnya akan hari yang terlalui di menara ini, sekaligus pengingatnya akan hari penuh penyesalan lainnya.

972 goresan. 972 hari yang telah ia lalui di menara ini. Tiada hari tanpa meratapi kesalahannya, kesalahan yang menurutnya tak terampuni karna sampai harus mengorbankan salah satu adik tercintanya.

Adik yang tak terhubung darah tapi entah kenapa begitu berharga baginya bahkan lebih berharga dari adik kandunya sendiri.

Albert mendudukan dirinya tepat disamping jendela yang ada di kamarnya itu. Tanpa sadar syirik air mata turun dan dilanjutkan titik-titik air mata lainnya yang terus mengalir seakan tak ada kata berhenti, padahal Albert setiap harinya menangis seperti ini.

Semua air mata tanpa akhir yang Albert rasakan ini bermula dari kepengecutannya, kepengecutan yang menarik sang adik angkat yang begitu suci hatinya dan memiliki tekad yang kuat untuk merubah keadaan.

Dan dari kepengecutannya bukan hanya satu adik berjiwa suci yang ia tarik bersamanya, tetapi dua. Dua anak yang sama memiliki hati suci dan jiwa yang kuat, meski salah satunya tak diberkati dengan tubuh yang sehat seperti saudaranya.

dua anak itu telah hidup dalam ketidak beruntungan dan Albert berharap setidaknya dua anak yang telah dianggap sebagai adik-adiknya akan memiliki kehidupan yang lebih beruntung, hitung-hitung sebagai rasa terima kasihnya karna telah menemaninya dari rasa kepengecutan yang selalu menghantuinya.

Nyatanya tak semudah itu, semua anggota keluarga dan pelayan-pelayannya, memperlakukan kedua adik angkatnya sangat tidak baik, dan itu membangkitkan rasa muak terhadap anggota keluarganya lagi, tapi kembali lagi kepengecutannya menghalanginya untuk setidaknya demi menyelamatkan kedua adik kesayangannya.

Dan pada malam itu meski kepengecutannya menguasai dirinya tapi karna kemuakan dirinya melihat kedua adik kesayangnnya tersiksa ia pun dapat menyingkirkan, walau sedikit kepengecutannya.

Dan malam itu pun terjadi dengan keberanian yang Albert pinjam dari adiknya, malam berdarah itu pun terjadi. Semua anggota keluarganya termasuk para pelayan, hangus terbakar bersama mansion besar keluarga moriarty.

Dan pada malam itu juga resmi di mata publik bahwa salah satu adik angkatnya menempati posisi adik kandungnya william yang sebenarnya sudah mati terbakar di dalam.

"Albert, Albert James moriarty. Dan ini saudara laki-laki ku, William dan Louis"

Setelah malam itu dosa mereka pun mulai mengalir atau bisa dikatakan Albert dosa yang ia ajak kepada kedua adik tersayangnya.

Air mata semakin mengalir deras di pipi Albert setiap mengingat kesalahannya, mulai dari awal, sampai detik terakhir rencana mereka, rencana yang mengorbankan adiknya. Semua membuat air matanya tak hentinya mengalir seakan tidak ada cara untuk menghentikannya dan seakan air mata ini tak akan berhenti sampai kapanpun.

Sebanyak apapun air mata yang mengalir, setak berujung tangisan ini, rasa bersalah Albert tak akan pernah hilang menghantuinya.

Notes:

I hope you like it^^